Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Mama is The Best


__ADS_3

Pagi ini kuhabiskan waktu dengan perasaan yang campur aduk, ada rasa kesal, marah, kecewa, sedih, bingung setelah mengetahui arti mimpi semalam dan pagi tadi.


Kesal dan marah adalah kenapa harus saya yang menjadi istri Pak Reza, laki-laki yang tidak pernah ia kenal dan sampai saat ini tidak memberikannya rasa aman dan nyaman. Bukan soal umur, tapi soal sikapnya yang suka memaksa dan merasa benar sendiri yang membuat aku tidak suka berada di dekatnya.


Sedih karena mimpi itu benar-benar membuat emosiku mencapai titik terendah. Aku kehilangan selera makanku. Setelah makan 5 suap nasi dan beberapa suapan sayur aku minum obat dan membaringkan tubuhku di kasur, keinginan untuk menangis masih saja terus terasa sehingga air mata mengalir tanpa aku sadari.


Bingung aku harus berbuat apa, menerima kenyataan ini atau berusaha melupakan semua mimpi yang kualami semalam. Mama menelponku saat aku menangis tadi, Ia panik mendengar aku menangis keras di telepon, sampai kemudian terdengar suara ayah yang berteriak “Hasna tarik nafas…. Kalau kamu terluka bilang ya… kalau tidak terluka bilang tidak sekarang”


Dengan bersusah payah aku bilang tidak… hingga akhirnya ayah bilang untuk teruskan saja menangis, jangan diputus teleponnya. Hampir 5 menit aku menangis terus tidak berhenti sampai Mama berkata agar aku minum dulu. Dari suaranya aku tahu Mama jadi ikutan menangis.


Setelah minum aku akhirnya bisa berkata-kata kalau aku sudah baikan. Mama kemudian bilang kalau sekarang dia bersiap untuk berangkat ke Jakarta, dan aku disuruh untuk tidur dulu sekarang. Nanti pas bangun Mama sudah ada di Jakarta kata mama. Aku cuma bisa bilang ya dan meminta maaf.


Aku menghabiskan nasi yang dibeli dan kemudian mencoba membaringkan diri kembali dan mencoba untuk tidur. Badan terasa lemas dan lemah, kepala kembali terasa pusing dan berat. Tidak sampai 10 menit aku sudah tertidur.


Jam 11 aku terbangun, badan terasa sudah membaik, sakit kepala sudah hilang hanya mata terasa berat karena tadi kebanyakan menangis. Ku ambil handphone untuk membaca pesan-pesan. Ada pesan dari Mama yang memberitahu sedang dalam perjalanan di kereta dan akan sampai jam 12.35.


Ada juga beberapa miss call dari Mbak Maytha, Mas Arya dan Darth Vader. Kenapa lagi ini pada ramai-ramai miss call. Ah aku malas untuk berbicara dengan orang lain, energi lagi tipis gak siap untuk dapat kejutan apapun hari ini.


Kulihat lagi pesan-pesan yang masuk, Mbak Maytha menanyakan kondisi dan berita bahwa Bu Rika tadi pagi ribut dengan Bu Arcy karena tidak terima mendapatkan laporan pengaduan dari Divisi kita. Katanya dia mengancam akan menyampaikan keberatan pada dewan direksi. Hmm ternyata dia perempuan yang punya nyali.. Aku cuma tersenyum “ah tidak peduli mau apapun keputusannya dikeluarkan pun tidak masalah mungkin lebih baik”


Mas Arya seperti biasa hanya menanyakan kondisi apakah baik dan menawarkan bantuan kalau membutuhkan sesuatu. Dia bukan tipe gibah yang mengompori suatu masalah, baguslah tidak menambah drama.


Darth Vader menanyakan kondisi apakah masih terasa sakit dan menawarkan kiriman makanan. Dia kemudian menanyakan ingin makan apa? Dan karena tidak ada jawaban dia menyampaikan pesan mengirimkan sup iga dari cafetaria dan dikirimkan oleh Pak Agus untuk dititipkan di satpam.


Aku menjawab semua pesan dan mengatakan aku baik-baik saja hanya perlu istirahat dan menenangkan pikiran. Pada Pak Reza aku hanya menjawab terima kasih, terus terang aku masih syok. Perasaanku masih merasa tertekan akibat dari mimpi semalam.


Lamaran dari Pak Reza tidak memiliki dampak yang berarti pada pikiran dan perasaanku, cenderung tidak terlalu memperdulikan. Tapi permintaan dari wanita itu yang menyorongkan Raina ke tanganku dengan ucapan “tolong Raina… tolong Raina” membuatku merasa tidak berdaya untuk tidak berkata tidak.. seperti permintaan orang yang putus asa.


Melihatnya menangis berupaya mencapai anaknya selalu membuatku berkaca-kaca dan mengalirkan air mata. Betapa sedihnya saat kita tidak bisa menggapai orang yang kita cintai dan kita tidak bisa melakukan apapun. Mimpi macam apa ini…


Kuputuskan untuk turun mengambil makanan yang dititipkan di satpam, ternyata Pak Tono Satpam sudah tahu dan langsung menyerahkannya kepadaku. Ia juga mengucapkan terima kasih karena diberikan jatah makan siang juga bersama dengan titipan makan siang untukku.


“How thoughtful he is” pikirku. Dia sering berpikir egois hanya untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan dampaknya pada orang lain, tapi seringkali dia melakukan suatu kebaikan untuk orang lain yang jarang dilakukan oleh orang kebanyakan.


Ternyata kiriman makan siangnya banyak, ada sup iga, gado-gado dan rempeyek juga. Hmm kayaknya ini yang memesan Pak Aswin karena kalau dia yang pesan tidak mungkin ditambah gado-gado dan rempeyek, dia sudah tahu kalau aku biasanya hanya makan 1 jenis makanan saja. Lumayan bisa dimakan bareng mama, sekarang mama pasti sudah sampai di stasiun.


Bener saja mama mengirimkan pesan untuk share loc supaya bisa pesan ojek online.  Bahagianya hati bisa memeluk Mama.


Tidak sampai 30 menit saat kudengar ketukan di pintu dan Mama langsung masuk. Ekspresinya tampak penuh dengan kekhawatiran tapi masih bisa tersenyum.


Aku langsung memeluk Mama dan kembali menangis tersedu-sedu. Heran ini air mata kok gak habis-habis padahal dari tadi pagi sudah menangis terus. Rekor yang perlu dicatat kayaknya menangis selama berjam-jam.


Mama langsung melihat mukaku dan mengkrenyit melihat plester di pelipis.


“Ini kenapa” ucapnya sambil menekan pelipis


“Aduuuuh.. Jangan ditekan atuh Ma.. sakit” ucapku meringis.


Akhirnya aku ceritakan semua yang terjadi, dimulai dari Pak Reza yang menarikku masuk ke mobilnya, gunjingan dari staff di kantor dan terakhir pertikaian dengan Bu Arcy.


Mama memandangku dengan tatapan yang sulit aku jelaskan.


“Kamu kok seperti ikutan drama di tv teh, ini bukan acara prank-prank an kaya Atta Halilintar gitu” ucap Mama

__ADS_1


Aku langsung bengong, mama kok update sekali acara tv sampai tahu acara prank segala.


“Mama aku tuh cerita serius… gimana sih, masa teteh sampai dilempar sama tempat pulpen besi dianggap prank… coba kalau teteh gak ngehindar kepalanya.. Udah  geger otak kali” ucapku kesal


“Jadi kamu nangis gara-gara inih? Waktu kamu di SD kelahi sama anak lelaki gak nangis walaupun sampai jontor malahan anak lakinya yang nangis” sambung Mama


“Bukaaaaan… aku mah gak apa-apa cuma kesal aja gak bisa ngebalas perempuan gila itu” jawabku … ih Mama tuh gak ada rasa empati-empati nya gitu ngeliat anaknya dianiaya.


“Aku nangis gegara mimpi setelah aku solat istiqarah, Pak Reza terus meminta aku mempertimbangkan soal lamarannya kemarin, akhirnya aku solat istiqarah minta petunjuk sama Allah” ucapku


Kemudian aku ceritakan soal semua mimpi-mimpi itu, dan tentu saja kalau menceritakan tentang wanita itu yang menangis aku jadi ikutan menangis menceritakannya dan sudah kuduga Mama jadi ikut menangis melihatku menangis.


“Akuuuuu takuuuut Mamaaaaa whaaaaaaaa… aku tuh gak siaap nikah sama diaaa… aku tuh gak kenaaal…. Tapi aku kasiaan sama perempuan itu dan sama anak yang nangis di lemariiiii…” aku menangis sambil memeluk Mama


“Kenapa anak itu menangis di belakang lemari… whaaaaaaaa……. Kenapa gak ada orang lain yang nemenin diaaaa…...whaaaaaaa…. Kenapa juga musti nutupin mulutnya saat nangiss…. Bukannya anak kecil kalau nangis itu berisikkkkkk”


“Aku tuuuuuh seeeediiiiiihhhhh…… Maaamaaaaaaaa” dan aku kembali menangis keras. Tidak terbayang tetangga kamar mendengarku menangis sekeras itu.


Mama hanya mengusap-usap punggung dan sesekali mengusap air mataku. Matanya pun basah oleh air mata. Aku tidak tahu apakah Mama menangis karena mendengar ceritaku atau karena aku menangis sampai cegukan.


Mama mengambil air dan meminumnya sendiri, ia tampak termenung dan kemudian melihatku yang masih terisak-isak duduk di karpet.


“Minum… jangan nangis terus ah… mata kamu nanti gak bisa dibuka lagi bengkak”


“Tadi aja udah bengkak, sekarang nangisnya keras lagi… nanti satpam yang bawah nyangkanya kamu disiksa lagi sama Mama”


“Biarin… aku gak kenal kok sama orang-orang yang sebelah” jawabku sambil terisak..


“Iya memang tapi kan gak bagus juga buat Teteh, sedih tuh boleh tapi sewajarnya… tadi pagi udah nangis keras sekarang masih nangis keras juga…. Teteh udah makin gede ternyata makin cengeng… lebih jagoan waktu SD” ucap Mama sambil tersenyum


“Teteh musti gimana Maaaa” tanyaku dengan bingung


“Makan kue dulu yuk, Mama beli kue tadi pas di stasiun beli kroket kentang kesukaan Teteh, sama Bakwan udang meni gede banget… ukuran jumbo teteh pasti suka”


Mama tuh paling hapal mengalihkan pikiranku pasti pada makanan, melihat kroket kesukaan langsung aku lupa perasaan sedih tadi. Duh musti sedih dulu ternyata untuk bisa makan makanan kesukaan.


“Minum teh anget yah? Jangan minum yang dingin kalau lagi kondisi badan jelek kaya gini.. Udah minum obat belum?” tanya Mama


Aku menggelengkan kepala, mulutku penuh dengan kroket.


“Ma… itu ada sop iga, gado-gado sama rempeyek… nasinya banyak ada 2 bungkus… Mama kan belum makan” ucapku menunjukkan bekal makan siang kiriman Pak Reza.


“Ini kamu beli dimana? Mata kamu bengkak begitu.. Gak malu keluar rumah tadi” Mama melihat makan siang di meja


“Dikirim sama Pak Reza, tadi dititipin ke satpam di bawah” ucapku sambil mengunyah bakwan


Mama memandang ke makanan di meja dan melihat ke arahku, Ia menghela nafas dan kemudian duduk di depanku.


“Teteh udah tenang sekarang? Mama mau ngomong kalau teteh udah tenang”


“Teteh mendapatkan mimpi itu setelah solat istiqarah, tau artinya apa?”


Aku diam saja sambil mengais-ngais kue kiriman Mama.

__ADS_1


“Itu artinya Allah telah memberikan jawaban dari pertanyaan yang Teteh tanyakan kepadaNya”


“Teteh minta apa sama Allah saat solat Istiqarah?” tanya Mama


“Yah minta diberikan petunjuk untuk masalah yang dihadapi teteh” jawabku


“Apa masalahnya?”


“Bingung musti jawab apa soal lamaran Pak Reza” jawabku


“Trus jawaban dari mimpi apa?” tanya mama lagi


“Teteh nolongin anaknya Pak Reza, ngebawa dia naik perahu” jawabku


“Itu artinya apa?” tanya Mama


Aku hanya diam, malas rasanya menjawabnya, masih tidak siap untuk menjawab pertanyaan itu.


“Teteh kan sudah tahu Allah itu Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui”


“Kan ada ayatnya dalam Al Qur’an “ Bisa jadi kamu membenci sesuatu yang baik untuk kamu dan kamu menyukai sesuatu yang sesungguh tidak baik untukmu, Allah itu Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui”


“Saat ini mungkin Teteh membenci Pak Reza tapi kalau Allah sudah memberikan petunjuk untuk Teteh agar menerima Pak Reza artinya ada kebaikan yang akan dibawa Pak Reza untuk Teteh”


“Mungkin karena keberadaan teteh akan membawa kebaikan untuk keluarganya… untuk anak-anaknya…. Untuk dirinya Pak Reza… bahkan untuk Teteh sendiri dan keluarga kita, mungkin juga malah kebaikannya untuk perusahaan Pak Reza  yang juga perusahaan tempat teteh bekerja kan” sambung Mama panjang lebar.


“Teh kita musti ingat.. Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya”


“Mama kira Teteh sudah paham dan sering melakukan itu, Teteh aktif dalam banyak kegiatan dan pasti sudah merasakan kebahagian memberikan kontribusi bagi orang lain”


Aku hanya menghela nafas, sebetulnya aku sudah tahu apa yang Mama jelaskan tapi ada rasa ketidakadilan harus menerima kenyataan ini.


“Wajar teh kalau teteh merasa kesal dan kecewa harus menikah dengan lelaki yang sudah pernah berkeluarga dan usianya jauh di atas teteh. Itu juga yang Mama rasakan waktu teteh cerita dulu sebelum ke Bandung”


“Tapi waktu Mama melihat Maura yang sangat nempel sama teteh, melihat Hujan yang sangat senang belajar gitar dengan Teteh, Mama merasa telah melakukan tugas Mama sebagai ibu, untuk mendidik Teteh menjadi perempuan yang baik, Mama merasa bahagia melihat anak-anak itu senang dan kelihatan bahagia bersama teteh.


“Pak Reza juga kelihatan senang melihat teteh, beberapa kali Mama melihat dia terus melirik-lirik teteh, tapi masih terlihat canggung dan tidak berani bersikap bebas. Mungkin dia sadar akan kekurangannya dalam usia dan statusnya” lanjut Mama


“Iyaaa… aku ngerti... aku ngerti .” jawabku


“Aku ngerti kok, aku cuma butuh Mama aja buat nguatin aku…”


“Kalau Mama merasa itu jalan yang terbaik aku ikutin aja…. Aku mau belajar ikhlas… gak tau gimana caranya… nanti juga suka kepikir dan kelewatin”


"Makasih yaa Mama" ucapku sambil memeluk Mama


 


“Nahhh gitu dong … baru ini anak Mama… “  Mama memelukku sangat erat dan mengusap-usap rambutku…. Mama emang the best deh …. Peeeyuuuukkkkk


 


*******************************

__ADS_1


Episode ini saya dedikasikan untuk semua Mama, Ibu, Bunda, Umi, Ema, Mamih dan Maknyak yang menghabiskan waktunya untuk mengurus anak-anaknya agar menjadi orang yang berguna. Semoga semua doa-doa yang dicurahkan setiap hari untuk anak dan keluarganya di kabulkan oleh Allah swt, semua rasa lelahnya menjadi lillah sehingga menjadi amal kebaikan yang menjadi bekal di akhirat nanti. Tetap menjadi ibu yang berbahagia denganberikan penghargaan kepada diri kita sendiri. Karena ibu yang bahagia akan membawa kebahagian kepada keluarganya. Jadi jangan lupa untuk bahagiaa yaaaa.... Jangan lupa juga kasih vote, like dan komen... Masa ini peringkat gak naik-naik.... Atulaaaah... Love u all pokokna


**********************************


__ADS_2