Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Tabungan Kebaikan


__ADS_3

Perjalanan pulang Reza memilih menggunakan MRT, lebih cepat dan mudah pula. Hasna tidak pernah menggunakan moda transportasi ini ternyata sangat simple, ia hanya mengikuti apa yang dilakukan Reza. Berbeda dengan Hujan yang sudah sering pulang pergi ke Singapura karena menemani Granny dan berlibur bersama Isyana. Di mata Hasna Reza terlihat sangat keren karena bisa melakukan sesuatu yang tidak biasa ia lakukan.


“Cape?” Reza melirik Hasna yang terlihat duduk bersender di bangku MRT. “Hehehe iya sedikit, kerasanya baru sekarang tadi sih gak kerasa cape, seneng aja yang ada” Hasna mengusap-usap bahu Hujan yang menyender kepadanya. “Kaka capek ga?” diusapnya pipi Hujan yang terasa dingin. “Capek… pengen tidur tadi bangunnya kepagian soalnya Buna berisik banget sih” Hujan cemberut tadi pagi Hasna sudah ribut dari pagi saking bersemangatnya akan berangkat hari ini.


“Maaf atuhhh… sekarang kan tidur di apartemen sama Granny yah, atau mau sama Buna?” tanya Hasna. “Sudah disiapkan sama Syana, dia sudah punya kamar di sana” Reza langsung menjawab dengan cepat, Hasna langsung melengos dia sudah tahu kalau Reza modus ingin berduaan dengannya. “Besok mau main kemana?” Hasna belum membuat rencana apapun pasca konser. Sebetulnya ia ingin melihat banyak tempat wisata yang terkenal di Singapura. Terakhir sudah lebih dari 5 tahun yang lalu pasti banyak perubahan.


“Gak tahu, palingan ngajakin ade ke Universal Studio.. Tapi kayanya ade masih terlalu kecil, kalau gak liat ke Jurong Bird Park pasti ade suka. Aku pengen ke Art Science Museum sama Trick Eye Museum katanya bagus disana. Dulu Mami suka banget ngajak aku ke Museum” Hujan bersender sambil mengenang saat ia diajak Mitha saat ia kecil dulu. “Uwh...pantesan kakak pinter gini anaknya soalnya dari kecil sama Mami Mitha diajakin ke museum jadi dari kecil udah mikir heheheheh” Hasna ingat museum yang pernah ia kunjungi hanya Museum Geologi dan Museum Asia Afrika di Bandung saat SD selain itu ia tidak pernah lagi berkunjung ke Museum.


“Kalau Mami Mitha masih ada mau gak yah ngajakin Buna ke museum?” Hasna melamun membayangkan kalau dia mengenal Mitha saat masih hidup. “Yah gak akan, soalnya pasti Buna gak akan kenal sama Papi kecuali kalau Buna mau jadi pelakor kaya Tante Arcy” jawab Hujan asal. Hasna langsung menutup mulut Hujan dengan tangannya, “Ishhhh kamu tuh mulutnya kok gak dikondisikan… anak kecil pake ngomong pelakor-pelakor segala...istigfar..kumur-kumur biar bersih” Hasna langsung menyuruh Hujan minum, dia tidak ingin anaknya terbiasa berbicara tidak sopan.


“Lah emmanpppphhh…” Hujan sudah akan menjawab lagi tapi sudah ditutup mulutnya oleh Hasna yang sudah melotot ia tidak ingin Reza mendengar ucapan anaknya. “Minum…. Atau Buna gak akan temanin jalan-jalan nanti” Hasna langsung mengancam, ia melirik Reza yang tampak sibuk melihat hapenya. Hujan hanya merengut dan minum air mineral yang diberikan Hasna.


Ternyata untuk sampai ke apartemen Isyana hanya berpindah 2 kali MRT dan mereka sudah sampai. Saat sampai ke lobby Reza melarang Hasna naik ke atas, “Jangan ikut ke atas, Maura kalau melihat kamu pasti ngamuk ingin ikut. Sekarang sudah malam, dia suka manja kalau mau tidur, kasian nanti Mama dan Isyana harus menenangkan dia” jelas Reza, Hasna mengangguk, ia tidak ingin membuat Mama dan Isyana jadi repot apalagi ada bayi. Kalau boleh memilih sebetulnya ia ingin mengajak Maura tinggal di hotel bersamanya tapi dia sadar kalau ia juga harus adil pada Reza yang ingin memiliki waktu bersama dengannya.


“Ayo…” Reza menggamit tangan Hasna yang duduk menunggunya di Lobby Apartemen saat ia turun, “Maura sudah tidur?” masih saja penasaran dengan anak koala asuhannya. “Belum masih main sama Mikail, tadi juga sudah pengen ikut tapi dibilangin kalau aku lagi ada kerjaan dia langsung gak mau ikut” Reza tersenyum karena sudah berhasil membohongi anaknya, “Gak nanyain aku?” Hasna masih berharap. “Engga sudah dilupakan kalau ada Isyana” jawab Reza cepat, kebohongan yang kedua padahal Maura terus menanyakan keberadaan Hasna tadi.


Reza berjalan cepat menuju stasiun MRT yang dekat apartemen, digenggamnya tangan Hasna dan dimasukan ke dalam saku jaketnya. Hasna melihat apa yang dilakukan Reza dengan tersenyum. “Mas Reza suka nonton drama korea yah?” Reza melirik dengan dahi berkerut “Drama korea?...hmm gak pernah..mana ada waktu. Nonton tv palingan melihat berita CNN.. kenapa?” Hasna langsung mencebik, “Ini kok tahu menggandeng perempuan dengan cara seperti ini cuma ada di drama korea...hahahha” Reza berkerut “Aku memang seperti ini dari dulu kalau menggandeng Mitha… Udara di Inggris kan dingin” jawabnya.


“Masalahnya Singapura panas Bang… keringetan” Hasna menarik tangannya dari genggaman Reza, tangan sudah basah karena keringat. “Kamu tuh gak bisa diajak romantis-romantisan” keluh Reza, susah sekali membuat Hasna terkesan dengan sikapnya. “Hehehehe gak musti kaya drama-drama Korea Mas… boong itu sebetulnya” ucap Hasna sambil berpegangan di MRT walaupun sudah agak malam tapi karena malam minggu dan mereka di pusat kota ternyata masih penuh dengan penumpang.


“Tahu bohong dari mana memangnya kamu pernah bertemu dengan pria Korea” tanya Reza sambil mereka berjalan ke hotel, suasana di jalan cukup ramai. Akhirnya Hasna meraih tangan Reza supaya bisa berjalan beriringan tanpa terganggu orang lain, dipegangnya lengan suami, ternyata seperti ini rasanya gandengan dengan pacar itu, Hasna jadi tersenyum. “Kok malah senyum? Kamu pernah pacaran sama orang Korea” Reza berkerut, seingatnya Hasna tidak pernah punya pacar.


“Hahahha boro-boro punya pacar orang Korea, orang Indonesia aja gak pernah. Aku tuh senyum soalnya baru ngerasain kaya gini rasanya gandengan sama pacar itu… seneng juga rupanya… kita di Indonesia gak pernah gandengan kaya gini yah… riweuuh terus sama anak-anak” Hasna memandang daerah yang sangat ramai ini. “Ini daerah apa Mas?” ia melihat banyak tempat makan yang menarik.

__ADS_1


“Clarke Quay.. kita cari makanan halal dulu ..aku lihat tadi ada beberapa restorant Halal disini” Reza melihat ke hapenya untuk googling tempat makan yang enak, dari siang ia belum sempat makan makanan yang layak. “Ini sudah hampir jam 10 malam, kita beli makanan yang simple saja.. Besok kita cari restoran yang bagus… hmm ada kebab.. Kamu mau kebab?” Hasna langsung mengangguk antusias, perutnya terasa lapar sekarang. Bayangan memakan kebab langsung membuat air liurnya keluar. Reza tertawa melihat muka Hasna yang langsung bersemangat. “Kenapa gak bilang dari tadi kamu lapar” ucapnya sambil mengusap-usap rambut istrinya.


Mereka bergegas mendekati tempat makan yang berbeda tampilannya dengan yang lain, rupanya kokinya melakukan atraksi saat membuat makanan. “Two Kebab” ucap Reza, untuk tempat makan di restoran sudah tutup karena sudah lewat jam 9 malam. Mata Hasna langsung berbinar saat diberikan Kebab yang terbungkus hangat, mereka makan berdua sambil berjalan menuju hotel. “Hmmmm heheheheh…”Hasna tersenyum dengan mulut penuh kebab, saus menempel di sisi mulutnya, berantakan.


Diusapnya saus di bibir istrinya, ternyata membuat perempuan ini bahagia sangat mudah. “Buat aku yang kaya gini itu udah romantis banget… beyond my expectation” Reza tersenyum “Bukannya perempuan musti makan di restoran mahal dan memakai perhiasan cantik dengan lilin di meja.. Candle light Dinner” jawab Reza, Hasna memandang kepadanya dan terlihat berpikir. “Nah itu juga aku belum pernah mengalami… nanti aku bandingkan lebih menyenangkan mana kalau sama ini”


“Sebentar mendingan kita duduk makannya.. Tidak boleh makan dan minum sambil berdiri” Hasna langsung duduk di bangku taman yang tersedia di sepanjang sisi sungai… pemandangan malam yang menakjubkan. Pantulan lampu di air membuat suasana sungguh indah. “Ahhhhh aku kayanya akan selalu ingat malam ini dalam memori aku…. Jekrek”  Hasna menirukan suara kamera dengan kedipan di matanya.


“Terima kasih sudah memberikan aku pengalaman yang menyenangkan malam ini… aku akan ingat selalu”


“Kenangan ini aku akan simpan di saku dalam hatiku … kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh Mas Reza yang membuatku merasa menjadi orang yang bahagia”


“Seperti tabungan kebaikan” ucap Hasna sambil tersenyum.


“Kalau Mas Reza melakukan kesalahan dan membuatku marah dan kesal aku suka mengambil tabungan kebaikan yang sudah disimpan di hati aku”


“Hari ini tabungan kebaikannya banyak banget, sampai berlimpah dari saku aku … sampai aku musti buka saku yang lain hihihihihihihi” Hasna terkikik membayangkan saku-saku dalam hatinya yang harus ia buka.


“Ehmmm apa saja” Reza tersenyum, ia jadi penasaran.


“Hmmm aku bisa naik pesawat dengan kelas Bisnis..hehehe aku belum pernah membayangkan duduk di kelas bisnis” jawab Hasna sambil tersenyum malu, dihabiskannya gigitan kebab yang terakhir.


“Masih ada lagi” tanya Reza sambil tersenyum, ia tidak menyangka kalau Hasna akan seterkesan itu naik pesawat dengan kelas Bisnis. Ia sudah terbiasa menggunakan kelas itu jadi merasa itu bukanlah hal yang istimewa, ternyata sesuatu yang mungkin biasa bagi kita bisa menjadi hal yang istimewa untuk orang lain.

__ADS_1


“Hmm hotel yang bagus dan mewah, aku belum pernah menginap di hotel semewah itu, niat banget Mas nyewa kamar yang mahal kaya gitu. Aku googling harganya minimal 6 juta loh semalam” Reza tersenyum, rupanya saking terkesannya sampai googling mengecek harga hotel. “Masih ada lagi tabungan kebaikan aku?” tanya Reza.


“Ya tentu saja memberikan kebaikan dengan membelikan tiket konser BigBang.. Ini nilainya di doublekan karena memberikan kesempatan nonton plus dapat tiket nonton kelas VIP… aku yakin tadi GD Oppa bisa lihat aku pas teriak.. Kalau aku sampai bisa beli tiketpun gak akan bisa ngeliat muka dia langsung palingan di kelas yang di podium di atas cuma liat layar aja” jawab Hasna dengan penuh semangat. “Hmmm.. masih ada lagi tabungannya atau udah habis?” tanya Reza dengan senyum ditahan.


“Ini yang terakhir.. Ngasih aku makanan yang enak saat aku laper banget trus liat pemandangan ini… Alhamdulillah banget aku bersyukur bisa mengalami ini semua” Hasna tersenyum, ia menatap Reza dengan tatapan penuh cinta. Reza tersenyum perempuan ini terlalu mudah untuk dibuat bahagia.


“Kamu senang menikah sama saya?” tanya Reza cepat. Hasna tampak berpikir “Hmmm ada senengnya ada susahnya… awalnya banyak susahnya dan sering membingungkan sama mengesalkan” Hasna mengangguk-angguk memikirkan perjalanannya selama 3 bulan kebelakang bersama Reza. “Kalau sekarang?” tanya Reza penuh harap.


“Yaah kan aku sudah bilang kalau sekarang banyak tabungan kebahagiaannya” Hasna cemberut karena Reza seperti yang tidak mengerti dan harus dijelaskan berulang-ulang. “Kalau sudah merasa bahagia kamu mau menjadi istri saya yang sesungguhnya?” tanya Reza pelan. Hasna berpaling melihat ke arah Reza dengan dahi berkerut “maksudnya? Aku kan memang sudah jadi istri Mas Reza musti gimana lagi?” Reza hanya mengela nafas.


“Maksudnya bisakah kita memulai hubungan seperti suami istri yang lain, memiliki hubungan tidak hanya keterikatan karena anak-anak tapi juga keterikatan sebagai laki-laki dan perempuan. Memenuhi kebutuhan lahir dan bathin” segala sesuatu harus diucapkan dengan jelas. Hasna menunduk malu ia sudah memperkirakan kalau Reza akan mengajaknya untuk melangkah pada hubungan ini.


“Hmm memang sudah kewajiban aku sih memenuhi kebutuhan suami, cuma dulu kan Mas Reza janji kalau kita akan melangkah kearah itu kalau masing-masing dari kita sudah nyaman”


“Pertanyaannya adalah apakah Mas Reza sudah nyaman sama aku?” Hasna balik bertanya. “Apakah Mas Reza sudah siap untuk memulai hubungan dengan aku, sudah tidak ada lagi perasaan bersalah sama Mbak Mitha” tanya Hasna sambil menatap Reza. Reza terdiam dan memandang air yang bergerak di depannya.


“Sejak aku menikah dengan kamu, aku sudah memutuskan untuk maju melangkah ke depan, walaupun sangat sulit, aku takut melakukan kesalahan yang sama tidak bisa menjaga istri dengan baik.. Apa kamu bisa membantu aku supaya bisa menjadi suami yang bisa membahagiakan istri supaya bisa punya tabungan kebaikan di hatinya?” Reza menggenggam tangan Hasna. Hasna mengangguk sambil tersenyum, ditariknya tangan suami untuk berdiri.


“Ayok kita pulang.. Capeee... anginnya mulai terasa dingin, baju aku masih agak basah karena keringat’ Hasna berjalan cepat di depan Reza.. “Raraaaa Humaira… kamu berjalan ke arah yang salah” teriak Reza, Hasna langsung berbalik sambil tertawa….”Hahahahah aku dari dulu suka gak hapal wilayah..” Reza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dibukanya jaket dan disampirkan pada bahu istrinya. “Tuuuh lihat tulisan Fullerton Hotel.. Jangan asal jalan saja, gimana nanti kamu bawa mobil tersesat melulu kayanya” Reza menggeleng-gelengkan kepalanya.


**********************


Hmmmm...sabar dong... jangan suka minta MP MP terus... kenapa sih otak tuh putarannya selalu ke arah situ terus,  saya jadi malas membaca komentar yang selalu membicarakan MP. Sesuatu yang pribadi itu tidak baik terlalu diumbar ...  Untungnya masih banyak komentar yang baik juga jadi berimbang deh. Terima kasih atas semua dukungannya, mohon maaf kalau sesekali tidak up story... saya juga manusia yang suka lelah dan jenuh. Mari kita mendoakan dalam kebaikan... supaya punya tabungan kebaikan yang banyak yang bisa dipakai saat ilfil....hehheeheh Lope u all

__ADS_1


**********************


__ADS_2