Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Pulang


__ADS_3

Mereka memasuki parkiran RS besar di Jakarta Selatan, rupanya Reza memilih agar Hasna diperiksa di RS ini.


“Nanti melahirkan disini juga jadi lebih mudah” ucap Reza, Hasna langsung menimpali, “aku mau melahirkan di Bandung” Reza hanya diam jangan sampai mood Hasna berubah di saat terakhir.


“Ade lahir disini.. Aku ingat naik ambulan, duduk di depan sama petugasnya, Iyang duduk di belakang sama Mami, sampai sekarang aku gak suka denger suara ambulan” Reza terdiam, selama ini Hujan tidak pernah menceritakan tentang perasaannya saat Mitha dibawa ke RS dalam keadaan tidak sadar. Reza baru datang dimalam hari dari Surabaya dan saat itu Mitha sudah koma.


“Sekarang ingatannya Kakak ada dua, menemani Mami ke rumah sakit dan menemani Buna ke rumah sakit juga diperiksa sama dokter. Kalau dipikir-pikir Kakak itu hebat banget, kedua adiknya ditemani terus sama Kakak..kalau bahasa gaulnya Kakak Siaga” Hasna langsung menggoda Hujan supaya tidak sedih.


Hujan langsung cemberut tangannya langsung memeluk lengan Hasna menyembunyikan mukanya, rupanya kejadian empat tahun yang lalu masih terpatri jelas di ingatannya. “Kalau Buna pikir dalam ingatan Mami Mitha adalah betapa beraninya Kakak Hujan duduk di ambulance sendiri dengan supir menemani Mami melahirkan” Hasna menatap Hujan dengan penuh haru. Hujan hanya cemberut sambil mengusap air mata yang menetes di matanya. Hasna bisa melihat di spion muka Reza yang tampak dingin dan mengeras, ia tahu kalau kenangan itu juga menyakitkan untuk suaminya.


“Hmm bagaimana kalau mengganti kenangan yang sedih itu dengan kenangan yang menyenangkan. Hari ini kita akan melihat adiknya Kakak, sudah berapa bulan yaa di perut Buna?, bentuknya seperti apa? Apakah bisa kelihatan laki-laki atau perempuan” Hasna berusaha menghibur dua manusia yang ada di mobil.


“Aku mau adik laki-laki. Adik perempuan sudah punya, cerewet suka nangis lagi” keluh Hujan, selama Hasna pergi Maura sangat tergantung pada kakaknya malah seringkali pindah tidur ke tempat tidur Hujan kalau malam-malam. “Siapa bilang punya adik laki-laki lebih menyenangkan, mengesalkan juga apalagi hobinya ngikutin kita sambil suka mengadu ..euuuh pengen di jitak” Hasna membayangkan Emran yang sangat mengesalkan saat kecil dulu.


“Papi mau anak laki-laki atau perempuan?” tanya Hujan, Reza langsung menatap ke spion. Dilihat istrinya menatap keluar jendela seakan-akan tidak peduli, tapi ia yakin menunggu jawab darinya. “Apa aja ..mau laki-laki atau perempuan sama saja. Kalau perempuan artinya Papi punya banyak bidadari di rumah, kalau laki-laki Papi punya teman main bola” Hujan langsung protes “Perasaan Papi gak pernah main bola” langsung dijawab Reza “Gak pernah main soalnya gak ada temen” Hasna langsung menahan senyum mendengarnya.


Saat sampai di tempat praktek dokter rupanya sudah ada Aswin yang menunggu.


“Apa kabar Bu Hasna, selamat sudah mau punya baby sekarang...pantesan dulu makannya waktu di restaurant banyak...heheheh” Hasna tersenyum malu.


“Makasih Mas… aku belikan oleh-oleh buat Mas Aswin loh.. Bagus pokoknya” Hasna mengacungkan jempol, ia akan selalu ingat akan jasa Aswin yang menemaninya saat ribut dengan Reza, pelaku keributannya hanya memalingkan muka pura-pura tidak mendengar.


“Sudah dipanggil win?” tanya Reza sambil menatap ke arah tempat praktek dokter. “Belum Pak.. pas kebetulan setelah ini, Ibu bisa masuk” Reza mengangguk, “Ada berkas yang perlu saya tanda tangani?” Aswin langsung menunjuk meja yang kosong. Mereka berdua kemudian sibuk berdiskusi.


“Sudah berapa hari Papi kamu gak ngantor?” tanya Hasna sambil melirik ke arah dua laki-laki yang tengah sibuk mengamati dokumen di sebrangnya.


“Hampir dua minggu ini Papi kayanya gak kerja bener deh, soalnya sering jemput aku ke sekolah, trus pas aku pulang udah ada di rumah. Liat aja mukanya gak klimis sekarang banyak kumis sama jenggot-jenggotnya… udah gitu kalau pagi-pagi gak makan cuma minum kopi aja”


“Heran aku tuh kalau kangen sama Buna gak usah menyiksa diri gitu.. Makan aja biasa, kan kalau sakit rugi sendiri gak bisa ngapa-ngapain” Hujan terus mengoceh sambil menceritakan kalau setiap malam Reza harus menidurkan Maura sampai harus digendong-gendong karena menangis ingin bertemu Hasna.


“Maafin Buna…” ucap Hasna dengan lirih


“Kakak kemarin pasti menderita karena harus mengurus ade” Hasna mengusap lembut rambut Hujan. Yang diusap hanya tersenyum pasrah.


“Papi emang suka marah-marah apalagi kalau banyak kerjaan, pasti Buna kesel sama Papi sampai ninggalin rumah gini” Hasna tersenyum murung, cerita sebenarnya tidak mungkin ia ceritakan pada Hujan.


“Ibu Hasna Humaira Putri” terdengar perawat memanggil dari ruang periksa dokter. Hasna langsung berdiri diikuti oleh Hujan yang menatap Reza yang tengah asyik berbicara serius dengan Aswin.


“Papi… mau ditinggalin lagi” Hasna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, terkadang sikap Hujan juga tidak sabaran dan keras seperti Reza bicara tidak difilter. “Kakak gak boleh bicara seperti itu".


“Habisnya kalau udah urusan sama kerjaan gak pernah ingat sama kita” Hujan menggerutu. “Papi kamu kerja buat masa depan kita, jadi harus didukung” Hujan langsung melirik sambil menggoda. “Adeuu Buna jadi sekarang udah gak marah lagi sama Papi udah nyebut masa depan kita hihihihi” Hasna langsung mendelik dan meninggalkan Hujan “nyebelin kamu mirip bapak kamu dasar….”


Di ruang periksa Hasna duduk dengan penuh rasa cemas, tangannya mendadak menjadi dingin. Ini adalah kali pertama ia diperiksa kehamilan bersama keluarga, khawatir ada yang salah dengan kandungannya karena selama ini dia menyembunyikan kondisinya.

__ADS_1


“Bu Hasna usia 25 tahun yaa, kehamilan keberapa bu?”


“Pertama dok” jawab Hasna.


“Ini adiknya? gak sabar ingin melihat keponakan yah” dokter tampak tersenyum, Hujan langsung cemberut. “Saya kakaknya” jawabnya langsung. Sekarang giliran dahi dokter yang mengkerut, usia 25 tahun tidak mungkin memiliki anak sebesar ini.


“Ini anak sambung saya Dokter sudah SMP” dokter langsung melirik Reza yang tampak serius memperhatikan dan tidak berkomentar apapun.


“Wahh gak sabar pengen lihat adiknya yaa jauh juga jaraknya dengan adiknya” Reza mulai tidak sabar melihat kepenasaranan dokter.


“Ini anak saya yang pertama SMP, yang kedua masih TK dan sekarang yang ketiga. Sebelumnya kami belum memeriksakan kehamilan karena saya tidak tahu istri saya hamil, kemarin dia melakukan perjalanan jauh ke Jepang selama seminggu. Kami baru tahu kehamilan lewat test pack. Tadi sore istri saya mengeluh perutnya sakit, jadi sekarang kami ingin memastikan kondisi janinnya” Hasna dan Hujan langsung melongo mendengar penjelasan Reza yang panjang lebar


“Tadi pagi istri saya tabrakan dengan anak kecil yang bermain sepatu roda kemudian berlari-lari saya khawatir kalau itu berakibat buruk juga” Reza menambahkan penjelasan yang langsung dipelototi oleh Hasna, kalau tidak ada dokter di depannya mungkin ia sudah kembali berargumentasi.


“Hmm kita periksa dulu yaah sekarang sudah berapa minggu kehamilannya, silahkan ibu berbaring di ranjang” Hasna langsung berpindah dan membaringkan dirinya dibantu oleh perawat. Saat perutnya diolesi gel Reza bisa melihat kalau perut istrinya sudah membuncit sedikit.


“Waaahh ini sudah hampir 14 minggu janinnya, hebat sekali sampai tidak ketahuan sudah sebesar ini. Tidak ada keluhan memangnya selama ini” dokter tampak cermat memperhatikan layar komputer.


“Tidak dokter, saya tidak mengalami mual hanya suka merasa lemas dan mengantuk saja. Saya kira karena saya kurang sibuk dan banyak tugas” jelas Hasna.


“Dia sedang kuliah S2 dokter jadi sibuk sehingga tidak memperhatikan kondisi badannya” jelas Reza dengan gamblang, Hasna langsung melirik tajam ingin rasanya membekap mulut suaminya. Dokter tampak tidak memperhatikan penjelasan Reza ia seperti tertarik dengan gambar di layar.


“Sebentar ini kok kayanya….” dokter sibuk memindah-mindahkan tuas monitor usg di perut Hasna mencari posisi yang pas. Hasna langsung merasa cemas, kekhawatirannya kalau ada sesuatu dengan janin di perutnya.


“Waaaa…. Hahahhahaahha betulan kembar…. Hahahhahaah” Hujan langsung berdiri dan memandang dekat ke arah layar komputer.


“Mana bayinya dokter?” ia tampak bingung melihat bentuk di layar USG yang tidak terlalu jelas.


“Ini kepalanya, ini tangannya dan ini kakinya.. “ Hujan tampak memperhatikan dengan serius, Reza tersenyum melihat gambaran di layar tv yang tampak jelas di depan ranjang pemeriksaan, tangannya mengusap-usap tangan istrinya dengan lembut. Mukanya tampak bahagia, Hasna tidak tega melihat ekspresi kebahagiaan Reza dibiarkannya tangannya digenggam dengan erat oleh Reza.


“Bagaimana kondisi keduanya dok..apakah sehat?” ia tampak tidak sabar mendengar kondisi bayi yang dikandung Hasna.


“Disini terlihat berkembang dengan baik semuanya, berat badannya juga cukup untuk janin usia 14 minggu, sebelumnya memang belum pernah diperiksa sama sekali?”


“Sudah dokter tapi tidak di USG karena alatnya waktu itu sedang dikalibrasi” jelas Hasna, Reza langsung memandang istrinya dengan tajam, tapi Hasna pura-pura tidak melihat ia enggan menjelaskan pada Reza kalau ia juga berhati-hati saat akan berangkat ke Jepang.


“Jenis kelaminnya apakah sudah terlihat dokter?” tanya Reza, Hasna langsung mendelik, waktu di mobil ia mendengar kalau Reza tidak mempermasalahkan laki-laki atau perempuan tapi ternyata penasaran juga. Dokter tampak memperhatikan dengan seksama, ia mencari-cari posisi yang pak.


“Ini sepertinya laki-laki belum jelas karena baru 14 minggu baru terlihat seperti titik gelap. Bayi yang satu ini tidak mau diam, yang satu lagi lebih kalem hehehehe” dokter tertawa melihat aktivitas di layar monitor.


“Hahahaha kayanya bayi yang satu mirip Om Emran yang satu lagi mirip sama Papi jaim” Hujan tertawa melihat layar monitor. Hasna langsung ingin pingsyan mendengar bayi mirip Emran, terbayang kelakuan Emran saat kecil dulu. Perawat kemudian membersihkan gel di perut Hasna setelah dokter selesai memeriksanya. Reza tidak mau melepaskan pegangan saat Hasna turun dari tempat tidur, pemikiran ada dua bayi di perut Hasna membuatnya nervous.


“Artinya sudah minum vitamin yaa, tinggal dilanjutkan saja minum vitamin dan jangan lupa minum susu juga. Selain itu asupan makanannya dijaga dengan baik ya Bu, karena ternyata konsumsinya untuk bertiga, jadi kalau terasa lapar artinya tubuhnya membutuhkan asupan, sedikit-sedikit tapi sering lebih baik daripada banyak makan tapi hanya sesekali” dokter menuliskan resep vitamin.

__ADS_1


“Apakah harus banyak istirahat atau bagaimana dok?” Reza langsung mencari alasan agar Hasna lebih banyak diam di rumah. Dokter hanya tersenyum.


“Ini anak ketiga kan, mustinya Bapak sudah gak nervous lagi hehehe. Ibu hamil itu bukan orang sakit Pak harus tetap bergerak agar kondisi tubuhnya kuat dan sehat, beraktivitas seperti biasa tapi lebih berhati-hati. Jangan lari-lari cukup berjalan saja, hindari area yang licin dan curam karena keseimbangannya lebih lemah apalagi kalau kandungannya nanti semakin besar”


“Usahakan tidak melakukan hubungan suami istri terlalu sering” Hasna langsung menutup telinga Hujan, dokter langsung tertawa “Saya lupa ada anak-anak” Hujan langsung menatap Hasna dengan cemberut.


“Apaan sih Buna kaya aku anak kecil aja… udah tau yang kaya gituan sih di sekolah aku ada pendidikannya” Hujan langsung menepis tangan Hasna dari telinganya. Dokter hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, anak sekarang memang lebih ekspresif dalam mengungkapkan pemikirannya.


Reza hanya diam, baginya sekarang jangankan hubungan diatas ranjang, hubungan di luar ranjang perlu diperbaiki dahulu. Ia menatap Hasna dengan lekat, yang dipandang tampak tidak peduli dan sibuk memperhatikan dokter.


“Hingga trisemester kedua pemeriksaan sebaiknya dilakukan rutin minimal satu bulan sekali, nanti menjelang trisemester ketiga, karena bayinya kembar dilakukan sebulan dua kali. Bayi kembar biasanya lahir pada minggu ke 34-36 dan dipengaruhi faktor genetik orangtuanya juga, untuk bayi yang normal biasanya hingga usia 38-40 minggu” Hasna langsung mengangguk angguk.


“Di keluarga saya biasanya lahirnya pada tua dok… kami bersaudara lahir di minggu ke 41” jelas Hasna. “Apalagi adik saya 41 minggu masih belum ada tanda-tanda mulas sampai akhirnya ibu saya diinduksi” Hujan langsung tersenyum lebar “Om Emran kayanya susah menghadapi kenyataan musti lahir ke dunia...hahahah” Hasna menjadi terhibur membayangkan kerepotan saat Emran akan lahir dulu.


Akhirnya mereka keluar dari ruang periksa dokter jam lima, dan baru bisa keluar dari rumah sakit jam enam karena harus mengambil resep dari dokter. Di perjalanan pulang Hasna tampak melamun, Reza hanya memperhatikan dari spion, Hujan tampak tertidur sepanjang perjalanan, rupanya menunggu Hasna di apartemen dan mengikuti pemeriksaan dokter membuatnya lelah.


“Kamu tidak tidur? Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai” akhirnya Reza memecah kesunyian. Ia melihat Hasna beberapa kali menarik nafas.


“Jangan khawatir merawat bayi satu dan dua sama saja repotnya nanti kita siapkan dua orang baby sitter jadi kamu tinggal mengawasi saja” Hasna masih tetap diam tidak bergeming. Pikirannya seperti melayang entah kemana. Akhirnya Reza menyerah untuk tidak lagi mengajak istrinya berbicara.


“Jangan bilang pada Maura kalau sudah pulang lama ke Indonesia, biarkan dia mengira kalau aku baru pulang sekarang” ucap Hasna tiba-tiba. Reza mendongak melihat di spion tampak muka Hasna yang muram.


“Ya aku ikuti semua keinginanmu… apa lagi?” tanya Reza


“Jangan menyentuh saya seperti tadi… saya masih belum siap.. beri saya waktu” Reza mengangguk, ia tahu kalau kejadian kemarin membuat mereka butuh waktu untuk kembali bisa berhubungan normal seperti semula.


“Ya… terserah kamu saya tidak akan memaksa apapun” jawab Reza pelan.


“Nanti malam setelah anak-anak tidur saya akan kembali ke apartemen, pagi hari setelah subuh saya akan langsung kembali ke rumah menyiapkan anak-anak sekolah. Selama anak-anak sekolah saya akan tinggal di apartemen, dan nanti akan kembali saat Maura pulang ke rumah. Anak-anak tidak akan kehilangan apapun” ucap Hasna pelan, tidak ingin Hujan terbangun dan mendengar ucapannya. Reza tercekat, ia tidak menyangka Hasna akan tetap tidak mau tinggal dengannya.


“Kenapa Ra… ini kan rumah kamu” mereka telah sampai di depan rumah, Hasna menatap Reza melalui spion.


“Ini rumahnya Mbak Mitha bukan rumah aku, aku selalu merasa seperti tamu disini, itu sebabnya aku sulit tidur dengan nyenyak… sekarang aku butuh istirahat yang cukup untuk janin di dalam perut ku… jangan khawatir anak-anak akan kurawat dengan baik” Hasna menjawab tenang, Reza menunduk pikirannya menjadi kalut.


“Kaka bangun… sudah sampai di rumah” Hasna membangunkan Hujan yang tertidur dengan nyenyak, dipangkuannya, Hujan menggeliat dan terbangun. “Cepet banget” ucapnya.


“Kaka jangan bilang sama ade kalau Buna sudah pulang lama dari Jepang lama, biar ade tahu kalau Buna baru pulang sekarang yaaa...please. Kasian ade masih kecil belum mengerti” Hujan mengangguk-angguk diam ia sudah cukup mengerti kalau orangtuanya sedang mengalami masalah. Saat mobil berhenti di garasi Hasna melihat kalau Maura keluar dari rumah..


“Papiiii … Kaka Ujan belon pulan syekolah ...Mola syendilian di lumaaah” ia langsung mendekat ke pintu depan mobil. Tapi begitu pintu belakang terbuka ia langsung berteriak….


“Bunaaaa puyaaaang…..whaaaaaaaaa……” anak koala itu langsung berlari dan memeluk Hasna dengan cepat. Hasna tersenyum sedih… selama ini memendam kerinduan pada anak ini.


“Bunaaa lamaaaa pelginya….Mola kesyepian di lumaaah….whaaaaa” anak itu langsung menangis di pelukan Hasna….

__ADS_1


Mau gimana atuh Hasna ….ini anak yang dirumah udah nemplok gak bisa ditinggalin


__ADS_2