
Sepanjang perjalanan menuju rumah Hasna memikirkan berbagai kemungkinan pertanyaan dari Mama, musti mulai menjawab dari mana dan sampai mana. Akhirnya Hasna memutuskan untuk menjelaskan semuanya.
Sesampainya di rumah, Mama tampak sedang menyiapkan makan siang, tidak tampak ekspresi apapun dari Mama, malah itu terlihat lebih menakutkan untuk Hasna. Saat akan membantu di dapur, Mama menyuruh Hasna untuk istirahat padahal biasanya suka menyuruh ini itu dengan alasan kapan lagi ada di rumah.
Akhirnya Hasna memutuskan untuk tiduran di sofa sambil menonton TV lebih baik menghemat energi menyimpan tenaga untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk. Ayah datang tak lama kemudian, langsung duduk di dekat Hasna sibuk bercerita tentang tetangga yang anaknya minta dibantu untuk bisa masuk jadi mahasiswa di universitas tempat Ayah mengajar, padahal kata Ayah ketiga anaknya sendiri bisa masuk tanpa bantuan siapapun.
Hasna tersenyum mendengarkan Ayahnya bercerita, tumben ayah banyak bicara biasanya lebih ke mendengarkan Hasna, seperti sedang bertukar peran dengan Mama, atau lagi berusaha menghibur Hasna supaya tidak resah dengan perlakuan Mama.
Tak lama Mama memanggil untuk makan siang, Emran yang sudah bersiap makan langsung menghampiri Hasna.
“Teh… Mama masaknya banyak, lauk sampai ada 3 macam, sayuran ada 2 macam, ditambah ada puding juga langsung. Pengalaman ade ini bakalan ada sidang setelah makan”
“Ingat gak dulu waktu Mama dipanggil ke BK gara-gara Ade sering kesiangan ke sekolah”
“Pulangnya ade dimasakin banyak makanan, sampai dibuatin kolek padahal bukan bulan puasa”
“Ternyata ade setelah itu diceramahin sampai hampir 2 jam, ditambah setelah itu Ade disiksa gak boleh tidur lagi setelah solat Subuh”
“Ade jadi inget cerita Hanzel and Gratel yang dulu Teteh suka cerita, waktu Ade masih kecil, sebelum direbus dan dimasak mereka dikasih banyak cokelat dan makanan manis”
“Teteh siap-siap aja… kemungkinan setelah ini Teteh bakalan dicoret dari Kartu Keluarga” Emran berbisik-bisik sambil terus memandang Mama yang masih terus membawa makanan ke ruang makan
“Tuuuuh masih nambah lagi lauknya…. Ini sih Teteh kemungkinan bisa dicoret dari daftar waris”
Hasna bengong, dia sudah sampai tidak bisa berbicara mendengarkan omongan Emran, ternyata kadar kewarasan dalam urutan anak semakin kebawah semakin menurun. Kak Angga sebagai anak pertama, dianggap paling bisa waras dan bertanggungjawab dalam segala hal. Mama sangat mengandalkan Kak Angga saat dalam mengambil keputusan besar
Apa yang menjadikan Emran memiliki imaginasi sampai sejauh ini, apakah gara-gara dulu Hasna sering mendongeng cerita pada adiknya. Tapi dampaknya memang signifikan Emran paling pintar dibandingkan mereka bertiga, nilai akhir sekolahnya hampir mencapai rata 9.5 tapi ya itulah imaginasinya terkadang membingungkan dan malasnya luar biasa.
Ayah langsung mengajak mereka berdua makan. Minggu ini Kak Angga masih ada tugas ke Bali, projectnya masih berlanjut disana, sudah lebih dari 1 bulan dia tidak pulang ke rumah.
“Kalau sudah selesai makannya kamu ke kamar De” ucap Mama singkat, saat Emran duduk di kursi setelah mengambil puding.
“Eh… emang kenapa kalau aku duduk disini, masih pengen ngobrol sama Teteh” balas Emran, tidak mungkin dia ketinggalan gosip terkini.
“Mama sama Ayah ada yang mau dibicarakan sama Teteh” jawab Mama singkat.
“Ade juga pengen ikut ngobrol… janji gak akan bilang-bilang sama siapa-siapa” ucap Emran gak mau kalah.
“De.. ke kamar” Ayah cuma bicara singkat, Emran langsung berdiri. Dia membawa sepiring penuh puding, hampir ⅓ dari puding dipindahkan ke piringnya. Mama hanya melirik tapi tidak bicara apapun. Hmmm gawat inih.. Sudah mencapai titik penghematan makan tidak menjadi isyu sentral.
Sambil beranjang dari meja makan Emran membuat lambang memotong leher sambil menunjuk ke arah Hasna, dalam hati Hasna berjanji sebulan kedepan tidak akan ada lagi subsidi jajan untuk Emran, bocah ini musti mulai dididik, biasanya uang akan berpengaruh besar pada tingkat kesopanan.
“Sekarang cerita sama Mama dan Ayah, gimana sampai laki-laki itu mengajak kamu menikah?” tanya Mama dengan suara yang lurus… huffftt
“Ya begitu kemarin di kantor tiba-tiba bilang ..mau gak jadi ibu dari anak-anaknya” jawab Hasna singkat
__ADS_1
‘Yang jelas ceritanya, gak mungkin dia tiba-tiba minta kamu jadi ibu anak-anaknya, pasti ada alasannya” potong mama cepat dan keras
“Jangan emosi Ma… tenang aja… biarin dulu dia cerita” Ayah menengahi pembicaraan, dia melihat Hasna sudah mulai kembang kempis hidungnya mendengar suara Mama
“Iya Mama ih.. Sampe galak gitu.. Kan Hasna gak salah, nyesel cerita ke Mama.. tau gitu mendingan diem-diem aja” Hasna sudah mulai mau menangis, matanya sudah mulai berkaca-kaca
Hufffttt… Mama akhirnya menarik nafas..
“Ya maaf… Mama semalaman gak bisa tidur kepikiran kamu, takut kamu ada apa-apa atau diapa-apain sampai tiba-iba dilamar mendadak diajak nikah”
“Soalnya kan sebulan kemarin Teteh bilang gak ada apa-apa” ucap Mama lemah
“Iya memang Ma gak pernah ada hubungan apa-apa Teteh sama dia, makanya Hasna juga bingung musti gimana”
“Hasna cuma suka membantu dia aja saat kesulitan sama anaknya” akhirnya Hasna menceritakan semua kejadian, dimulai dari membuatkan cerita, membantu menjaga saat Maura sakit, sampai akhirnya kejadian saat di ruangan kantor kemarin.
Mama dan Ayah saling berpandangan, akhirnya mereka mulai memahami mengapa Hasna ada dalam kondisi ini.
“Menikah itu bukan perkara mudah Teh, kamu harus hidup dengan orang yang tidak kamu kenal, punya kebiasaan yang berbeda sehingga kita harus menyesuaikan diri. Dan itu tidak hanya terjadi sebentar tapi seumur hidup”
“Menyesuaikan dengan 1 orang saja sudah terasa berat apalagi nanti kamu harus menyesuaikan dengan tambahan 2 orang anak, Mama gak bisa membayangnya”
“Aku sih suka sama anak-anaknya Ma.. mereka baik dan lucu” jawab Hasna
“Kamu suka sama Bapaknya?” tanya Ayah “Siapa namanya?”
“Reza”
“Berapa umurnya?” tanya Ayah lagi
“Ga tau?”
“Siapa nama ibunya? Ayahnya? Adiknya atau Kakaknya?” tanya Ayah lanjut
“Itu juga gak tau, cuma Teteh pernah ketemu sama ibunya cantik… kelihatan seperti orang berada, bajunya bagus dan bicaranya sangat tertata… kaya pemain sinetron ...hihihi” jawab Hasna
“Oya Hasna baru ingat...Ayah tau gak .. kmarin teman Hasna bilang kalau keluarganya tuh punya saham 40% dari perusahaan yang sekarang tempat Teteh kerja… heheheh daeebaak” Hasna sudah melupakan rasa kekhawatiran dimarahi Mama
Mama dan Ayah saling berpandangan, mereka menghela nafas, anaknya perempuan satu-satunya memang harus disadarkan dari kehaluan dunia yang haqiqi.
“Jadi Teteh suka dia karena kaya?” tanya Mama dengan dingin
“Ehh… engga dong Mah… Hasna gak melihat itu.. Hasna gak tau mereka orang kaya atau bukan, tidak pernah melihat rumahnya, pernah makan bersama pun di restoran biasa, pakaiannya pun standar lah baju kerja”
“Teteh sebelumnya cuma suka berpikir kasian sama anaknya, ibunya tuh meninggal saat melahirkan anak yang kedua, nah anak ini yang nempel sama Hasna kaya perangko,Hasna suka terharu aja ngeliat Pak Reza itu mengurus anaknya yang masih kecil, sampai nyuapin, ngebajuin trus suka dibawa ke kantor… totalitas banget… koq bisa yah”
__ADS_1
“Kamu juga sama Ayah dulu waktu kecil suka ayah bawa ke kantor teh… masa gak inget” Ayah langsung nyahut gak mau kalah.
“Owh iya yaaa… pantesan teteh ngerasa familiar banget sikapnya… mirip ayah yah”
“Ganteng kaya ayah gak?” Ayah langsung pasang pose foto model.
“Hmmm yang pasti tinggian dia sih, trus perutnya gak gendut kaya Ayah, kalau pakai kemeja trus tangannya digulung kesannya gimana yah… keren gitu yah” jawab Hasna sambil membayangkan saat Reza di counter makanan siap saji.
Mama dan Ayah saling berpandangan lagi, belum pernah sebelumnya Hasna memuji-muji seorang laki-laki dihadapan mereka.
“Ayah waktu dulu ganteng teh, perutnya gak gendut makanya dulu Mama ngejar-ngejar ayah, sampai kirim-kirim surat segala” Ayah gak mau kalah
“Tapi kan ayah mukanya jadul, kalau Pak Reza itu mukanya ganteng modern yah?”
“Yah setiap masa ada jamannya teh, kalau ayah ditarik ke jaman sekarang lahirnya… weuuuh Reno Barrak mah lewat” Ayah masih keukeuh.
“Ini apaan sih malah jadi ngomongin hal yang gak jelas” Mama langsung memotong. Ia kesal karena ayah malah tidak fokus membahas tentang Hasna
“Sudahlah Ma.. gak usah terlalu dipikirkan, biarkan saja dulu Hasna belajar mengenal lawan jenis.. Belum tentu juga mereka akan jadi menikah”
“Ucapannya untuk mengajak Hasna menikah mungkin karena dia merasa sangat terbantu oleh Hasna.. Jangan dipikir terlalu jauh dulu, kita lihat saja dalam beberapa waktu kedepan”
“Dia tidak pernah mengganggu kamu kan di kantor?” tanya Ayah
“Engga yah.. “ jawab Hasna
“Kalau dia memaksa kamu atau membuat kamu merasa tidak nyaman, jangan ragu untuk berhenti bekerja… ayah juga masih sanggup nyekolahin kamu S2… kamu lanjutin kuliah saja” lanjut ayah.
“Gimana mau berhenti bekerja saja atau masih terus bekerja disana?”tawar Ayah
“Aku lebih setuju Hasna berhenti bekerja disana.. “ tiba-tiba ada suara laki-laki dari pintu belakang
Kak Angga datang dengan membawa tas besar, tampaknya ia langsung datang ke Bandung dari Bali… Beuh ini mah gak jauh… Mama pasti laporan sama Kakak.. Duo maut ini memang paling kompak kalau soal ngurusin masalah Hasna
“Panjang lagi ini mah urusannya” Akhirnya Hasna mengambil puding, butuh energi tambahan buat ngadepin laki satu ini. Gampang emosian kaya Mama, makanya cocok banget mereka berdua frekuensinya sama.
****************************
Lagi gak ada tenaga buat pesan-pesan... Jaga kesehatan aja semuanya... Gak komen, like and vote juga gak apa-asal ... yang penting sehat dan bahagia semuanya.
****************************
__ADS_1