
Tanpa terasa 3 bulan telah berlalu saat Hasna menjalani kehidupan ganda sebagai seorang ibu dan mahasiswa pasca sarjana. Setiap hari ia lalui dengan jungkir balik walaupun pada akhirnya ia mulai terbiasa. Sebetulnya hari-hari akan berjalan dengan baik kalau tidak ada faktor pemicu seperti drama tidak mau sekolah Maura karena masih mengantuk, drama harus memakai dasi tertentu agar match dengan jas dipakai atau bahkan drama baju olahraga Kaka Hujan yang menyelip entah kemana.
Terkadang Hasna ingin menyerah saja, bayangan keindahan kuliah S2 langsung lenyap dari benaknya kalau malam hari saat dunia sudah mulai melambat berputar ia mulai bisa bernafas. Dalam satu minggu memang ia harus mengikuti 4 hari perkuliahan, karena mahasiswa dimungkinkan untuk menyelesaikan perkuliahan hanya 3 semester saja untuk program magister. Dengan 2 semester untuk perkuliahan tatap muka dan 1 semester penulisan tugas akhir, sehingga hari-hari dalam seminggu terasa sangat kurang.
Pagi ini contohnya, Maura kembali merajuk tidak mau sekolah tapi ingin pergi kerumah Granny karena saat bangun tidur sambil sarapan ia menonton dunia binatang yang menceritakan tentang kura-kura. Ia langsung teringat pada kura-kura peliharaannya di rumah Granny.
“Mola ndaa akan ke syekolah hali ini mau ke lumah Glanny” tiba-tiba ia menghentikan makannya. Hasna langsung berhenti sejenak, kemarin Pak Agus pulang ke rumah keluarganya di Bogor karena ada acara keluarga sehingga Maura harus ia antarkan ke sekolah sedangkan Kakak Hujan diantarkan oleh Reza.
“Boleh ke rumah Granny tapi nanti weekend yah, soalnya today Buna has to go to school” Hasna harus sering mencampur kata dengan Bahasa Inggris untuk membiasakan Maura dengan bahasa asing sebagai program dari sekolah. Asalkan bukan bahasa Korea bagi Hasna tidak jadi masalah karena bahasa korea yang ia hapal hanya lagu-lagu dari GD Oppa.
“Buna go to school Mola go to Glanny” Maura sudah mulai bersikukuh, mukanya sudah terlihat keras kepala menunjukkan keinginan tak terbantahkan. Hasna melirik pada Reza yang terlihat kalem saja tidak terpengaruh. Ini berarti Reza tidak tertarik untuk membujuk Maura. “Mas tolong bantu bujuk” ucap Hasna sambil mengisi wadah makan siang Hujan, hari ini anak petir ingin bekal onigiri.
“Yah antarkan saja ke rumah Mama, sesekali gak sekolah gak jadi masalah” jawab Reza sambil asyik membaca koran. Hasna menarik nafas, sekarang ini Reza semakin susah diajak kerjasama sama seperti anaknya malah lebih parah kalau sudah ada maunya. “Kenapa Maura mau ke rumah Granny?” Hasna akhirnya mendekati Maura. Dilihatnya jam sudah hampir jam 6 pagi, artinya ia harus segera menyiapkan Maura mandi.
“Maura want to see tutle” ia menunjukkan anak kura-kura yang sedang dilepas ke pantai oleh para pelindung hewan yang menangkar telur kura-kura agar bisa selamat dari pemangsa sehingga jumlah kura-kura yang dilindungi akan bertambah. “Owh Maura rupanya kangen sama Benny?” Hasna teringat pada kura-kura yang ada di rumah Mama Bertha, Maura mengangguk pelan.
“Ok… boleh nanti kita menengok Benny, tapi karena Buna harus go to school today, kita bertemu Benny on Saturday..bagaimana?” Hasna langsung menawarkan solusi cepat. “Nda mahu… want to see Benny today” Maura langsung melipat tangannya di dada. “Hmmm ok… bagaimana kalau today Buna bercerita tentang kura-kura yang tinggal di sungai tapi dia suka mencuri ketimun Pak Tani” Maura langsung menoleh mendengar soal cerita.
“Kula-kula tidak syuka sayull… kula-kula syukanya fish” dia langsung berdiri di kursi agar sejajar dengan Hasna sambil menjelaskan dengan tangan teracung-acung seperti seorang guru. Hasna menahan senyum sambil menunjukkan muka penuh kaget. “Haaaahhh… Maura you dont know… Ini cerita tentang kura-kura yang sangat pintar… ia adalah raja kura-kura itu sebabnya ia disebut Sakadang Kuya” Hasna langsung berpura-pura menutup kepalanya seperti seorang yang kaget karena Maura seperti kehilangan info.
“Mola mau dengar celitanya..boyeeeh?” ia langsung duduk di pangkuan Hasna. Eitsssss… umpan mulai dimakan oleh sang Ikan… “Tentu saja boleh…. Tapi cerita ini sangaaaaaaat panjang… hadeuuuh Buna takut nanti Mola kesiangan sekolah, Buna harus membuka buku catatan cerita supaya bisa ingat lagi saking panjangnya.. Jadi nanti Buna ceritakan malam waktu kita mau tidur saja yaaaahh”
“Maura nanti bilang sama teman-teman kalau Maura punya kura-kura namanya Benny… Benny is Sakadang Kuya” Hasna langsung membuka baju Maura saat ia lengah. “Ok...ok… Mola mau biyang kalo Mola nanti ketemu Beni” ucapnya sambil meloncat-loncat di sofa. Huffft… problem solved ..sama anak-anak memang dilarang pakai emosi… walaupun sama bapaknya bikin emosi karena gak mau bantuin.
Terus terang saja Hasna merasa lelah secara fisik dan mental semenjak tiga bulan ke belakang. Kalau fisik jangan ditanya, semenjak subuh menyiapkan diri dan anak-anak serta suami untuk ke kantor, sekolah dan kuliah, dilanjutkan siangnya kuliah dan malam hari setelah menemani Maura belajar dan mengaji baru ia bisa mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Untung saja ia punya teman seperti Ammera yang dengan waktunya yang masih luang akan membackup bahan-bahan tugas sehingga ia tinggal meramunya dan akhirnya semua tugas bisa terselesaikan dengan baik.
Yang paling mengesalkan sebetulnya adalah sikap Reza yang semakin posesif. Setiap hari ia akan memastikan jadwal Hasna kuliah dan akan terus memantau seharian apakah Hasna akan segera pulang setelah kuliah, apakah ia menggunakan mobil atau kembali meninggalkan mobilnya disuatu tempat karena tidak mau menghadapi kemacetan Jakarta. Ya… itulah Hasna saat terlambat dan terkena macet ia akan masuk ke daerah perkantoran, memarkirkan mobilnya disana dan melanjutkan perjalanan ke kampus dengan menggunakan motor online.
Ia akan menelpon Pak Agus agar membawa mobilnya di tempat tersebut sehingga akhirnya Pak Agus selalu membawa kunci mobil cadangan Hasna kemana-mana karena hal itu tidak terjadi sekali dua kali.
Awalnya Reza tidak mengetahui itu tapi yang namanya apes pasti saja ketahuan akhirnya. Suatu hari Hasna meninggalkan mobil di daerah perkantoran dan meminta Pak Agus membawanya. Reza mengetahui itu karena saat ia mencari Pak Agus ternyata sedang membawa mobil Hasna. Ia langsung marah karena hari itu kondisinya cuaca sedang buruk berangin dan hujan.
__ADS_1
Sikap Reza lain yang mengganggu Hasna adalah kebiasaannya untuk membaca dan mengecek semua pesan di handphonenya. Alasan Reza selalu saja sama, khawatir ada yang mengirimkan pesan gelap tanpa pengirim lagi dan Hasna tidak mau jujur lagi kepadanya. Tapi Hasna tahu bahwa bukan itu alasan sesungguhnya. Lebih tepatnya Reza ingin tahu tentang apa yang diobrolkan dengan teman-temannya yang baru, karena seringkali Reza meminta konfirmasi tentang berbagai hal yang ia diskusikan dengan teman-temannya di pesan grup.
Hari ini setelah sukses bernegosiasi dengan Maura di pagi hari akhirnya Hasna bisa berangkat kuliah tepat waktu. Tadi pagi ia sampai lupa sarapan saking ingin segera menyelesaikan semuanya dengan baik sehingga mengorbankan dirinya sendiri. Untunglah tadi dia membawa bekal makan siang, sehingga saat sela waktu pergantian mata kuliah ia bisa segera menyantap makan siangnya menjadi brunch breakfast and lunch.
“Kasian amat kaya yang lapar gitu” Ammera melihat Hasna yang makan dengan kecepatan penuh, karena pergantian kuliah hanya 10 menit, sedangkan dosen mata kuliah kedua biasanya tepat waktu.
“Aku gak sempat sarapan, tadi waktu habis buat negosiasi sama Maura” Ammera sudah tahu sejak awal kalau Hasna sudah menikah dan memiliki anak sambung dua orang, itu sebabnya ia merasa kasihan dan membantu Hasna yang seperti jungkir balik setiap hari. “Memangnya kamu gak ada yang bantuin Na.. suami kamu kan bisa bantuin handle anak supaya kamu bisa sarapan” Hasna cuma bisa menarik nafas. Ternyata sikap penuh atensi Reza pada anak-anak menghilang bersamaan dengan kehadiran Hasna di rumah. Malah Hasna merasa kalau Reza bersikap seperti anak paling besar yang harus dibantu dalam segala urusan.
“Aku cuma bisa mendoakan supaya kamu mendapatkan pasangan yang bisa menghargai istrinya dan membantu sebagaimana kita melihat di drama-drama Korea selama ini… yang ternyata itu semuanya hanya mimpi belaka” ucap Hasna sinis. Ammera memang belum menikah dan bahkan belum punya pacar saat ini. Pengakuannya adalah sampai saat ini belum menemukan sosok laki-laki yang bisa mendukung dan punya pola pikir yang sama. Padahal kalau dilihat secara fisik Ammera cantik, dengan kerudung syari modern yang dikenakannya dan muka campuran Arab menjadikan mukanya layak menjadi model.
Hanya satu kekurangan Ammera, mulutnya pedas lebih pedas dari Ban Cabecabean Level 13. Laki-laki yang ada di kelas semuanya pernah kena semprot sehingga mereka tidak berani macam-macam dengan dua perempuan itu. Ada yang pernah satu kelompok kemudian tidak membantu mengerjakan tugas langsung disemprot “Laki-laki model kamu baru ngerjain tugas kaya gini gak mampu apalagi jadi imam rumah tangga” Hasna langsung cekikikan di belakang, soalnya Mark adalah laki-laki yang paling banyak ngegombalin Ammera soal ajakan berumah tangga tapi langsung mentok karena kemalasannya mengerjakan tugas.
Jangan tanyakan soal Ferdi yang banyak gaya tapi gak ada isi dalam memberikan pendapat. Dalam hampir semua kegiatan diskusi di kelas Ferdi akan memberikan pendapat dengan semangat, tapi hanya saat tampilan kelompok Ammera dan Hasna ia suka malas memberikan pendapat. Terakhir kali Ferdi memberikan ulasan atas tugas presentasi mereka berdua, memang tidak jelas maksudnya apa sampai Ammera harus memotong karena hampir 5 menit berbicara seperti lingkaran setan yang tidak berujung.
“Maaf Ferdi bukan saya tidak ingin mendengarkan pendapat anda, tapi kalau dalam struktur kalimat yang benar itu ada SPOK Subjek Predikat Objek Keterangan… yang kamu bicarakan dari tadi hanya keterangan semua tidak jelas SPO nya apa, kalau memang belum tahu konten yang harus dibicarakan kasih kesempatan pada yang lain” Hasna saat itu berusaha menahan tawa dengan mencoba berhenti bernafas tapi ia tidak kuat saat ia mendengar suara tertawa di sampingnya, ternyata dosen pengampu mata kuliah yang terdengar cekikikan dan berkata “ mulai sekarang saya akan menyebut kamu Ferdi Keterangan tanpa SPO”
Hal lain yang menjadikan laki-laki di kelas malas mendekati Hasna dan Ammera adalah saat mereka akhirnya mengetahui kalau Hasna ternyata sudah menikah saat Reza menjemput Hasna dengan membawa Maura bersamanya, saat itu Maura tidak mau pulang ke rumah saat dijemput oleh Pak Agus dan meminta untuk pergi ke kantor Reza. Karena sudah lama tidak membawa anak ke kantor, akhirnya pekerjaan Reza jadi berantakan penyebabnya adalah Maura yang tidak mau diam dan meminta perhatian Reza untuk bertemu dengan Buna.
“Jam berapa hari ini pulang?” pesan Reza satu jam menjelang kepulangannya.
“Seperti biasa 4.30” balas Hasna cepat, kalau tidak segera dijawab Reza suka langsung telepon, bahaya menerima telepon saat kuliah.
“Kamu tidak bawa mobil terus, sampai kapan mobil mau dititip di parkiran” Reza sudah mulai menggerutu panjang.
“Heehe maaf, tadi terlambat jadi lebih cepat pake motor online..aku nanti langsung pulang kok, sebelum Mas Reza sampai rumah insya allah sudah ada di rumah” jawaban seperti itu biasanya akan langsung memuaskan suaminya dan tidak ada lagi gerutuan di handphone. Hasna hanya menarik nafas dan tersenyum sendu pada Ammera yang langsung membisikkan “sabaaaar… yang penting kayaaaa” selalu saja itu yang menjadi ledekan Ammera kepadanya. Ia sangat kaget mendengar maskawin Hasna yang satu milyar.
Hasna ingat saat Ammera mengetahui ia telah menikahi duda yang sudah punya anak dua, langsung meledeknya…”Waaah hahahahah loe kok mau sih kawin sama duda anak dua, kaya yang gak laku aja...secara gw liat loe cantik Na..sekarang aja banyak teman-teman yang suka sama elu… hahaha pasti maskawinnya semilyar” ucapnya iseng dan langsung dijawab Hasna “Iyaa emang semilyar” Ammera langsung terjengkang …
Dan saat itu Hasna berjalan di koridor kelas bersama dengan Ammera dan teman laki-laki yang masih banyak lagak menggoda-goda Hasna untuk pulang bersama mereka. Hasna berjalan santai dengan Ammera kearah parkiran, ia bermaksud menumpang motor Ammera sampai gerbang karena disana lebih mudah mendapatkan motor online. Tiba-tiba saja ada teriakan yang sangat ia kenal.
“Bunaaaaaaa….. Bunaaaaaaa” Maura berlari-lari dengan menggunakan seragam playgroup dan rambut yang dikuncir sudah acak-acakan. Hasna kaget ia tidak menyangka akan dijemput.
__ADS_1
“Siapa na..” Ammera langsung kepo melihat Hasna yang langsung menyambut Maura dan menggendongnya.
“Anak gw.. Maura Anak Koala yang jatuh dari pohon” ucap Hasna sambil menggelitiki perut Maura, dan seperti biasa anak koala ini langsung kecentilan pura-pura geli manja.
“Yaa ampun lucu banget, pantesan loe mau jadi ibunya.. Gw minta satu dong anak koala” Ammera langsung mencoba mengambil alih Maura dari gendongan Hasna.
“Ndaaa boyeeeh Mola gaa mau… Mola cuma mau Bunaaa” Maura langsung galak, mencoba menepis tangan Ammera.
“Ehhhh gak boleh galak-galak sama temen Buna, salim ayo salim” Hasna langsung meminta Maura tapi Maura yang sudah dalam mode mengantuk langsung menyembunyikan mukanya di pelukan Hasna.
“Hahahah sorry sorry dia udah ngantuk” ucap Hasna, dan baru saja lepas satu gangguan, datanglah Gerombolan si Berat Ferdi Keterangan tanpa SPO dan Mark si Cowo ingin Taaruf dan kawan-kawan.
‘Wuiiiih ada yang jemput Tantenya ke kampus… sini sama Om.. Gimana kita udah cocok belum” tiba-tiba Ferdi menarik Hasna mendekatinya dan bergaya seperti sepasang suami istri.
“Apaan sih loe Fer..kurang kerjaan banget” Hasna langsung kaget ditepiskannya tangan Ferdi dipundaknya, ia belum tahu kalau Maura diantar Pak Agus atau Reza.
“Maura kesini sama siapa?” Hasna mencari-cari mobil yang biasa dipakai Pak Agus mengantarnya.
"Sama Papi tuuuh Papi disyanaah” Maura menunjuk Reza yang berdiri bersender di mobil.. Ya Allah dia parkir di tempat parkir Dekan.. Hadeuuh Hasna langsung panik. Ammera yang mengikuti tunjukan arah Maura langsung melotot melihat Reza…
“Pantesan loe mau kawin Naaa…. Udah kaya ganteng anaknya lucu...gw juga mau kalau gini sih” Ammera langsung tidak berkedip melihat tampilan Reza yang selalu maksimal dengan jas yang sudah tidak memakai dasi dan hari ini sepertinya ia sudah meniatkan diri dengan memakai sepatu tanpa kaoskaki kembali. Hasna tahu kalau suaminya memang berniat bergaya di depan teman-temannya.
Yang Hasna takutkan adalah pandangan Reza yang terlihat dingin melihat kearahnya, pasti marah karena Ferdi dengan isengnya menarik ia dan bergaya amatiran. Pandangan Ferdi dan kawan-kawan langsung mengarah pada Reza saat mendengar Maura mengatakan Papi ada di sana.
“Aku pamit pulang duluan yaaa, SUAMI udah jemput” sengaja Hasna ucapkan suami dengan jelas supaya mereka semua mendengar dan mengerti kalau dia adalah perempuan yang sudah tidak single lagi.
Hasna langsung berjalan dengan cepat, agak terengah-engah karena membawa karung berisi anak koala yang beratnya hampir 20kg. Untuk ukuran anak umur 4 tahun Maura hampir mencapai berat maksimal untuk usianya sehingga semakin Ia besar dibutuhkan otot yang seperti besi dan tulang sekuat baja untuk menggendongnya.
Reza hanya melihat sekilas teman-teman Hasna dan bergegas masuk setelah Hasna salim dan masuk ke mobil, jangankan tersenyum pada teman-teman istrinya untuk menunjukkan muka ramah pun tampaknya enggan. Hasna tidak banyak bicara ia hanya bisa melihat Ferdi yang didorong-dorong dan ditertawakan oleh teman-temannya.
“Hahahahahha kalah set loe Fer… mukanya gantengan dia…. Mobilnya juga mahalan dia...hahahahha”
__ADS_1
Ferdi...Ferdi… nasib loe Fer.. level kamu sekarang memang minyak... Reza mah biar aja jadi santan...Guriih