Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
BonCab: Harta Tahta dan Hasna


__ADS_3

Tok..tok..tok… terdengar ketukan yang berderap seperti tidak sabar, dan ternyata memang tidak menunggu hingga ada jawaban, karena langsung saja terbuka.


Reza memalingkan wajahnya dan tersenyum lebar melihat wanita yang masuk dengan membawa stroller ganda yang penuh dengan tas dan menyandang ransel di punggungnya.


“Kenapa sendiri, kemana Risma?” ia langsung berdiri dan menyambut perempuan yang tampak bergegas masuk dan tidak memperhatikan orang yang ada di ruangan.


“Tadi makanan mpasi nya ketinggalan di apartemen jadi Risma kembali lagi” ia langsung mengeluarkan perlengkapan dari dalam tas dan ranselnya.


Laki-laki yang duduk di sebelah Reza tampak kaget dan tercenung melihat Hansa yang seperti tidak menyadari keberadaannya, ia bergantian menatap stroller bayi dan Hasna.


“Heheheh aku lupa ngenalin.. Ini istriku Hasna.. Dan ini bayi kembar yang gak mau diam ini ..anaknya Papi Reza yang gembul dan gak mau berenti nyusu…. Ay.. dan Bu…. Pikebuuu” Reza menggendong Bu yang meronta-ronta dari stroller ingin digendongnya. Melihat kakaknya di gendong Ay yang awalnya duduk diam langsung merengek ingin di gendong juga…


“Baaabaaaa …. Baaa...baaaa” panggilnya ia langsung duduk dan tengadah sambil melonjak-lonjak meminta di gendong juga.


“Woaaa Ay juga mau digendong… wuiiih sebentar dicopot dulu seat bealth nya... Ok… wuiiiiiiing” Reza langsung menggendong keduanya dengan tangkas.


“Lu mau pegang ? Eitss…. Sorry  aku lupa kamu tidak terlatih“ Reza memamerkan kedua bayinya kedepan temannya yang hanya bisa cemberut.


“Ruth sudah menyerah ikut terapi hormon, dua kali mencoba bayi tabung tapi masih gagal…” dia menarik nafas. Hasna yang mendengar percakapan keduanya jadi melirik pada pada laki-laki yang duduk di sofa bersama Reza, sedih sekali mendengarnya saat ia dan suaminya malah langsung diberi anak kembar.


“Lu kurang kali tarikannya, jangan dikasih rem.. Hajar terus biar penuh...hahahhaha” Reza meledek temannya yang langsung mendapatkan tatapan maut Hasna.


“Mass… bicaranya coba dijaga kalau depan bayi” ucap Hasna sambil menyimpan piring kue di meja. Danny menatap kue yang disajikan, hanya marble cake atau orang sering menyebut bolu jadul tapi tampaknya baru dibuat karena masih tercium aroma harum yang hangat dihidungnya.


“Aku lagi ngomongin ganti olie rem… kamu aja pikirannya suka kejauhan” Reza ingin mencomot kue buatan istrinya tapi tangannya yang memegang dua bayi sulit untuk bergerak bebas, kepalanya menunjuk-nunjuk pada kue minta disuapi. Hasna menarik nafas bayi besarnya suka tidak lihat tempat sering minta disuapi dengan berbagai alasan.


Diambilnya sepotong kue dan menyuapi suaminya perlahan “hmmm aku udah bayang-bayangin ini dari malam…. Makasih sayang kamu mewujudkan impianku” Reza langsung nyosor mengejar Hasna bermaksud mencium pipi istrinya di depan Danny.


“Ishh… kamu tuh di depan orang juga” Hasna berusaha menghindar, tapi semakin menghindar semakin bersemangat Reza untuk menciumnya, sampai melupakan sedang menggendong dua orang bayi hingga terguncang-guncang dan terhimpit diantara badan orangtuanya.


“Buuuuubuuu...bubuuuu” Bu yang terhimpit di tengah memegang badan ibunya sambil menarik pakaian..


“Papiiii ihhh… ini anak kasian kejepit” Hasna berteriak sambil menutupi muka Reza yang terlihat gemas melihat istrinya.


“Hahahaha Buna suka jual mahal yaa Bu.. padahal kalau malam-malam suka ngejar-ngejar Papi” ujarnya puas. Hasna hanya bisa menggelengkan kepala, ia beranjak ke pantry untuk membaca piring kecil untuk kue. Danny hanya bisa melongo melihat tingkah temannya. Kemana Reza yang selalu dingin dan pendiam, kenapa ia jadi berubah menjadi lelaki yang pecicilan dengan perempuan yang disebut istrinya.


Danny masih ingat kabar di grup hampir tujuh tahun yang lalu kalau istrinya Reza meninggal, ia tidak bisa berkunjung ke rumah duka karena saat itu ia masih di Australia masih melanjutkan studi dan kemudian menemani Ruth istrinya menyelesaikan studi juga disana. Kabar pernikahan Reza yang kedua ia tidak mendengar, sehingga agak kaget saat melihat perempuan yang disebut Reza sebagai istri barunya. Walaupun memakai kerudung tapi terlihat modern dan casual, sungguh gayanya berbeda dengan istri pertamanya Reza yang terlihat anggun dan klasik. Yang ini tampak sradak sruduk dan sering berteriak.


“Maaf yaa Maas… siapa namanya, tadi kok belum disebutin sama Mas Reza” Hasna menyimpan piring kecil untuk marble cake yang masih mengeluarkan aroma hangat.

__ADS_1


“Danny..” jawabnya singkat.


“Maaf ya Mas Danny…. Mas Reza sekarang suka geje, mungkin agak stress gara-gara punya anak banyak” Hasna menghela nafas.


“Belum disuguhi minum yaa .. saya buatkan supaya bisa dinikmati dengan makan cake.. Coffe or Tea?” tanya Hasna.


“Coffee….. Pikkeeebuuuuu….. Wing wing winggggggg” malah Reza yang menjawab sambil terus mengajak main si kembar.


“Aduuh kalian mulai berat begini, tangan Papi jadi pegal” Reza akhirnya mendudukan kembali bayi kembar ke sofa, yang tidak mau diam berusaha menggapai maju ke arah meja, sehingga harus terus dipegang agar tidak jatuh dari sofa. Tangannya terasa mulai kebas menggendong kembar yang tampak menikmati suasana bermain di siang hari bersama Papinya.


“Mas Danny mau coffe or tea?” Hasna kembali bertanya kepada pihak tamu.


“Kopi saja… “ Danny tampak bingung menghadapi situasi baru di depannya, Reza yang sibuk dengan bayi kembarnya dan istrinya Reza yang ramah menyapanya.


“Hmm… Za.. lu beda jauh ya umurnya sama istri?” Danny berbisik sambil menatap Hasna yang pergi ke pantry di ruangan Reza. Sang suami tampak terganggu dengan pertanyaan temannya, ia melirik istrinya yang tidak sadar sedang menjadi pusat perhatian dua orang laki-laki.


Reza menatap lekat, dalam waktu 7 bulan berat badan Hasna sudah hampir kembali ke normal. Masih lebih berat 5kg tapi itu jadi menambah tampilannya lebih mantap berisi menurut Reza.


Hasna sekarang sudah mulai kembali ke kampus, setelah cuti dua semester, sekarang ia mulai melanjutkan kuliah di semester kedua. Walapun sempat tidak yakin akan mampu membagi tugas dengan pekerjaan di rumah, akhirnya diputuskan untuk dicoba dulu kalau sekiranya tidak terhandle dan harus mengulang mata kuliah, ia akan akan menambah semester, yang penting berproses saja, Saat ia meminta ijin pada Reza untuk kembali ke kampus, mumpung masih tinggal di Jakarta belum pindah ke Bintaro.


“Beda sepuluh tahun…” jawab Reza pendek, dan Danny langsung melongo.


“Jaga mulut lu… lagi ngomongin bini gw” Reza langsung mendelik kesal. Disimpannya kedua anaknya di stroller agar bisa menyiapkan karpet untuk bermain anak.


“Sayang gak usah dibuatkan kopi. Nanti kita mau ngopi diluar” Reza  menggelar arena bermain anaknya di sudut kantor, memasang pembatas agar anak kembarnya yang aktif tidak merangkak kemana-mana. Ia terlihat masih kesal oleh ucapan Danny sehingga tidak rela kalau Hasna membuatkan kopi untuk temannya. Hasna menengok ke arah Reza, tidak biasanya suaminya memanggil sayang.


“Nanggung udah bikin… masa dibuang… mubazir dong. Mas Reza tapinya makan siang dulu yah, aku siapkan…” Hasna membawa kopi ke sofa dan menghidangkannya. Tatapan Danny melekat menatap Hasna, yang ditatap tidak sadar dan terus saja bicara.


“Kalau kopi dibikinin sama yang cantik pasti enak” Danny tampak tidak peduli dengan kekesalan Reza. Mendengar ucapan Danny yang sudah nyerempet-nyerempet fisik, Hasna langsung waspada dan melihat ke arah suaminya, betul saja gunung berapi sudah mulai terlihat lavanya. Ia bergegas mendekati Reza untuk membantu memindahkan anak-anak ke tempat bermain di karpet


“Hehehe… kopi mau dibuatkan oleh siapapun orangnya akan tetap hitam dan pahit. Tergantung yang minumnya Mas Dan… Semakin orang itu sudah terbiasa dengan suatu jenis kopi maka kopi tersebut akan terasa lebih enak dan sulit pindah ke jenis lain” Hasna berusaha menetralisir suasana.


“Silahkan diminum… ini kopi kesukaannya Mas Reza… selalu dibilang enak dan ga mau ganti merk lain… terutama kalau dibuatkan sama istrinya” Hasna mencoba sopan, ia menatap suaminya sambil tersenyum. Tapi rupanya Danny masih belum peka.


“Hmmm… pantas Reza suka … rasanya pas” Danny langsung meminum kopi yang dibuatkan Hasna. Ia terus menikmati marble cake yang dibuat Hasna.


‘Waaah ini kok semuanya pas… beruntung banget Reza….ehhh” Danny baru menyadari ketidaknyaman Reza saat ia melihat temannya yang sedang menatap ia tajam.


“Ruth gak suka bikin cake Za… aku baru nyobain kue rumahan kaya gini…muka lu tuh auto default balik ke casing lama sih” Danny langsung salah tingkah melihat Reza yang mukanya tampak kembali dingin dan pemarah.

__ADS_1


“Gak apa-apa Mas Danny, nanti bawa aja sisanya kalau mau. Mas Reza bisa makan yang di rumah dan nanti bisa saya buatkan lagi. Ini memang bawaannya kalau mau menjelang makan siang Mas Reza suka cranky kurang gula…. Jadi Gumuussssshh liatnya… makan dulu yah, tadi kan cuma sarapan roti selembar?” Hasna menangkup muka Reza yang cemberut dan tampak tidak ingin menyentuh kopi dan cake kesukaannya yang baru dimakan satu potong.


Hasna menangkup pipi Reza dan diberikan senyuman lembut langsung menurunkan suhu kawah yang awalnya Siaga 1 menjadi Waspada, Reza mengangguk malas, ia mengikuti Hasna yang menyiapkan makan siang. Seleranya untuk memakan kudapan menghilang, padahal sudah ia idam-idamkan sejak kemarin tapi malah dihabiskan oleh Danny.


“Habiskan saja kuenya aku mau makan siang” Ia duduk di meja yang biasa dipakai rapat,  Hasna membuka bekal makan siang untuk Reza.


“Maaf ya Mas Danny saya tidak membawa bekal lebih, saya tidak tahu ada tamu, tapi kenyang kan makan cake” Hasna tertawa.


“Gak usah sopan-sopan sama dia… tamu ngabisin jatah tuan rumah” gerutunya sambul menyantap hidangan yang disiapkan Hasna. Setelah mengamankan Bos 1 Hasna beralih kepada bayi kembar dan mengecek permainan yang sudah digelar, Ay dan Bu sudah mulai bisa bergerak merangkak mendekati objek yang disukainya. Usia anak kembar ini sudah mau 8 bulan sehingga mulai sulit menjaga mereka untuk diam. Untunglah kondisi aman terkendali, keduanya sibuk mengacak-acak mainan dan buku-buku kain yang dibawa.


“Aku siap-siap yah, kelasnya mulai jam 13.30, sekarang sholat dulu. Mas Reza sambil makan tolong awasi anak-anak” Hasna bergegas ke toilet untuk mengambil wudhu dan sholat di ruangan Reza.


“Za.. lu tiap hari ngasuh anak gini?” Danny mendekat ke meja rapat sambil melongok menu makan siang Reza.


“Buset deh lengkap bener menu makan siang lu… istri lu yang masak sendiri?” Danny menghempaskan dirinya di meja rapat sambil menatap si kembar yang sedang asyik bermain di karpet.


“Hmm… napa emang? Laper? Nanti gw pesenin makan siang dari cafetaria” Reza tampak menikmati makan siangnya sambil sesekali menengok ke arah anak-anak.


“Gak masih kenyang makan 4 potong kue” Danny tampak sedih.


“Napa lu… jadi gak semanget gitu, ntar proposalnya gw baca lagi. Lapar nih” Reza melihat perubahan ekspresi Danny, dilihatnya pandangan Danny yang melihat Hasna yang sedang sholat di sudut ruangan dekat anak-anak.


“Lu dapat paket lengkap banget, anak lucu, istri baik dan rajin masak, suka sholat juga…. Huft…” Reza tersenyum sinis.


“Seleksi bro… gak asal pilih.. Semuanya udah gw dapetin sekarang… Harta ..Tahta dan Hasna…” Reza tertawa geli sendiri...


************************************************


Halo.... kaget yah tetiba ada bon cabe-cabean... hahahahha kebetulan mampir ke kantor Mas Reza ehh papasan sama Hasna yang sibuk bawa stroller ganda. Seneng yah kalau lihat Mamah Muda satsitset begini, jadi pengen jadi mahmud lagi segala dibawa, semangat 45 ingin segala diberesin.


Saya senang sebetulnya menceritakan semua story tapi supaya tidak bosan kita ganti suasana dulu sama novel baru. REMBULAN..... Ehhh belum tau yaah. Novel kedua ini masih menceritakan tentang perempuan muda yang berjuang mencari identitas diri menuju perempuan dewasa yang bertanggung jawab. Ceritanya beda atau sama? Hmmmm kalau kata saya sih beda, gak ada dude dude milyader disini. Cuma ada pemuda yang berjuang mencari kemampanan hidup dengan ilmu yang dimilikinya. Ada laki-laki yang berusaha bertanggungjawab dengan apa yang telah diperbuatnya. Ada juga perempuan yang mencari eksistensi diri demi pengakuan dan ambisi diri pribadi. Trus bakalan banyak konflik dong.... yaa begitulah hidup kalau gak ada konflik gak rame ...hehehhe, yang penting konfliknya gak bikin lelah yang baca.



Walaupun covernya gelap tapi ini bukan cerita horor...hehehe. Jangan minta ganti cover yah, nanti saja kalau dikontrak dan diminta perbaiki cover baru saya mencari lagi.


Untuk itu selamat menikmati cerita baru dengan perempuan inspiratif baru. Jangan membandingkan B dengan H karena mereka tidak bisa bersatu kecuali kalau jadi pakaian dalam....hehehhehe..geje. Setiap cerita memiliki moral story yang berbeda. Dinikmati saja ceritanya dan jangan terus membanding-bandingkan. Kita juga kan gak suka kalau dibanding-bandingkan dengan orang lain.


Terima kasih atas semua dukungan teman-teman deterjen semuanya, komentar, like, vote, poin, koin , makanan dan hadiah-hadiahnya sampai ke tangan dan hati saya. Semua saya terima tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lainnya. Tetap menjadi pembaca yang santun yang saling mendukung satu dengan yang lain. Kalau semuanya baik dan gak ribut, nanti dikasih update an lagi Hasna Family....Heheheheh. Ok…. See you all in REMBULAN… Love u all as always.

__ADS_1


ShanTi


__ADS_2