
Author POV
Akhirnya hari yang dinanti Hasna datang juga kegiatan TOT Tahap 2, Hasna betul-betul menikmati kesibukan yang dirancangnya ini di kantor. Muncul dalam pikirannya mungkin ini adalah kegiatan terakhir yang dilakukannya sebelum ia harus resign dari kantor.
Hasna tidak ingin berandai-andai dulu, tapi kalau memang minggu depan dia harus bertunangan dan bulan depan dia harus menikah, maka dalam waktu dekat dia harus sudah mempersiapkan surat pengunduran diri.
Memang dia tidak akan dirugikan karena akan langsung kuliah S2 seperti yang sudah direncanakannya tapi sebetulnya Hasna masih menikmati kesibukannya bekerja di kantor ini. Untuk itu Hasna akan betul-betul mengingat dan menikmati semua aktivitasnya sekarang.
Pagi ini hari Senin Hasna langsung berangkat pagi ke kantor, jam 9 dia bersama Arya akan berangkat ke Pabrik di Tangerang untuk mempersiapkan kegiatan TOT besok hari, jumlah pesertanya lumayan banyak karena dibuat sistem kerja kelompok untuk setiap unit kerja. Untuk itu perlu dicek daya tampung ruangan, kesediaan sarana dan prasarana pelatihan, dan kelengkapan kit untuk seluruh peserta.
Pas jam 8, Hasna baru ingat tidak mengajukan permintaan untuk dinas luar ke bagian SDM, itu artinya mereka tidak akan menyiapkan kendaraan untuk dinas luar. Segera dikontaknya Arya apakah dia mengajukan kendaraan dinas untuk ke Tangerang
“Mas, saya lupa tidak mengajukan kendaraan dinas untuk hari ini”
“Ehhh kirain kamu sudah masukan permohonan, kan waktu TOT 1 kamu yang masukan Na”
“Iya .. lupa ...gimana yah apakah masih ada?” Hasna langsung telepon ke bagian Umum sambil menunggu Arya datang.
Dan ternyata semua mobil perusahaan, dipakai dinas luar semua, ada kosong setelah jam 1 itu artinya tidak mungkin.
“”Outstation semua mobilnya Mas” ucap Hasna sambil menghela nafas, saat Arya datang di kantor.
“Ya sudah gak apa-apa, bikin surat saja untuk besok sampai ke jumat, hari ini kita naik motor aku aja, mumpung masih pagi” usul Arya
“Tapi kan kita mau ke 2 pabrik mas hari ini, kebayang nanti siang kan panas banget di Tangerang”
“Ya trus mau gimana lagi, pakai masker aja biar ga terlalu kena debu”
Akhirnya Hasna menyerah, segera dia mengajukan permohonan untuk kendaraan dinas selama seminggu. Sebetulnya ada 1 kendaraan yang stay tapi karena harus masuk waktu servis Hasna tidak berani memaksakan diri.
Jam 9 mereka langsung berangkat, karena jam 10 sudah harus terjadwalkan di kantor cabang Pabrik 1.
Ternyata naik motor itu menyenangkan juga, untung saja tadi pagi-pagi memakai jaket, walaupun bukan jaket untuk menahan angin tapi paling tidak tidak akan menggigil kena angin selama di perjalanan, dan lebih cepat sampai hanya 40 menit perjalanan.
Koordinasi dengan SDM dikantor cabang 1 selesai dengan cepat, mereka rupanya sudah mempersiapkan sejak Jumat kemarin, tadi hanya mengecek ruangan dan kelengkapan bahan buku panduan yang sudah dikirim sejak Jumat oleh percetakan. Jam 11.45 segala urusan bisa diselesaikan dengan baik, tingga ke kantor cabang 2 yang letaknya di ujung Tangerang berseberangan dengan Kantor Cabang ke 1.
“Makan siang dulu sebelum ke kantor cabang 2” ucap Arya
“Cari yang ada mushola nya Mas, biar bisa sholat sekalian disana” Udara panas Tangerang terasa menggigit ke kulit, memakai masker pun masih terasa sengatannya.
Mereka memilih restoran di perjalanan, tempatnya terlihat bersih dan banyak mobil yang parkir disana, indikator tempat makan ini lumayan bagus.
Setelah memesan makanan, mereka sepakat untuk gantian sholat supaya bisa saling menjaga barang di meja.
Sambil menunggu pesanan, Hasna mengecek pesan di hp. Dan ternyata ada 2 panggilan dari Reza dan 3 pesan yang dikirimkan.
“Hari ini jadi ke Tangerang, jam berapa berangkat” ini dikirim jam 9.20 artinya pas Hasna lagi diperjalanan.
“Kenapa gak bilang kalau kamu gak bisa pakai kendaraan kantor? Berangkat pakai apa kesana?” Ini dikirim jam 10 tadi, kebetulan karena sibuknya Hasna tidak sempat mengecek telepon sama sekali.
“Nanti pulang dijemput sama Pak Agus, segera kabari kalau sudah sampai”
Hasna langsung menjawab pesan, ini rasanya seperti punya duplikat Kak Angga tapi lebih galak.
“Maaf Pak, tadi sibuk sampai tdk sempat buka Hp, saya akhirnya pakai motor barengan Mas Arya, gak apa-apa Pak tidak usah dijemput Pak Agus, besok saya sudah pesan kendaraan dinas kok” tulis Hasna
Tidak berapa langsung Darth Vader telepon.
“Sesibuk apa sih sampai tidak bisa melihat handphone” ini orang main langsung nyambar aja, gak pake salam pembuka
“Halo, assalamualaikum, selamat siang Pak”
“Waalaikum salam, kamu tunggu saja nanti disana, jangan pulang dengan Arya lagi, Pak Agus sudah dalam perjalanan”
“Gak usah Pak jauh, ini Pabrik yang Tangerang Utara Pak”
“Makanya karena jauh kamu pulang dijemput Pak Agus, tadi berangkat pakai apa?
“Motor Mas Arya Pak, jadi lebih cepat gak kena macet”
“Apaaaa… naik motor, gila kamu itu perjalanan kesana kan memakan waktu 1 jam lebih, naik motor lagi”
__ADS_1
“1 jam itu kalau pakai mobil Pak, kalau pakai motor kan hanya 45 menitan, sekarang kami lagi istirahat makan siang dulu Pak”
“Saya tidak mau tahu, nanti pulang harus bareng Pak Agus. titik.. Tidak ada diskusi lagi...Tuttttttttt”
Hasna memandang ke handphone nya,
“Ini orang pas lahiran kayanya keselek air ketuban, sampai segitunya sikapnya… apa memang jadi pimpinan musti kaya gini yah… gak pernah kompromi sama pikiran orang lain” pikir Hasna
“Siapa Na..” tanya Arya yang baru datang dari Mushola
“Sampai dipandang terus hpnya”
“Pak Reza Mas, sampai marah-marah begitu tahu aku naik motor ke Tangerang, padahal kan ini dalam rangka menjalankan tugas kantor bukan main ke Mall”
“Aneh aku tuh sama dia, kalau aku gak usaha minta kendaraan dinas wajar dimarahin, tapi kan meman mobilnya pada dipakai semua”
“Gak ngedengerin dulu gitu alasan aku, kan kasian supirnya jauh-jauh jemput aku kesini”
“Lah nanti dia pulang pakai apa kalau supirnya menjemput aku”
“Gak praktis banget pikirannya tuh” Hasna mengerutkan dahinya.
Arya tersenyum sinis,
“Bukan soal praktis atau tidak praktis Na”
“Dia itu gak suka kamu jalan bareng sama aku naik motor”
“Lah emang kenapa? Kan kita tim di bagian Training, ngerjain project yang sama, wajarlah berangkat bareng sama Mas Arya”
Arya tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya, sekarang dia baru mengerti ucapan Maytha kalau Hasna itu dimensinya berbeda dengan manusia normal kebanyakan.
“Dia tuh cemburu Na sama aku karena ngebonceng kamu”
“Hah ngapain cemburu.. Istrinya juga bukan, tunangan juga baru mau minggu depan” Hasna mengoceh tanpa menyadari membeberkan rencana pertunangannya dengan Reza.
“Uhuuuk….” Arya langsung menyemburkan minumnya.
“Hehe iya Mas… aku mau dilamar resmi hehehehe rencana gak akan bilang-bilang dulu soalnya belum pasti juga, baru rencana orangtuanya Pak Reza” Hasna hanya bisa cengar cengir.
“Aku solat dulu yah, Mas Arya makan aja duluan” Hasna langsung meninggalkan meja, tanpa menyadari perubahan wajah Arya mendengar ucapannya.
Arya tidak menyangka kalau Hasna akan benar-benar menikah dengan GM di perusahaannya, kedatangan Hasna di perusahaan baru menginjak bulan ketiga, tapi dia sudah mampu menarik perhatian orang dengan posisi tertinggi di perusahaannya untuk level management.
Kalau sekiranya Hasna ada di bagian sekretariat yang posisi kantornya satu lantai dengan General Manager, bisa dimengerti kalau dia akan menarik perhatian Pak Reza, tapi selama ini Hasna tidak pernah terlibat secara langsung dengan pimpinan, tapi ternyata ada jalan yang menjadikan mereka bertemu tanpa sengaja.
Sebetulnya Arya ingin mengenal Hasna lebih dekat, tapi ternyata takdir berkata lain, apakah ini karma yang harus ia terima karena selama ini ia cenderung tidak menghiraukan perempuan-perempuan yang tampak menyukai dirinya. Kenapa malah dia menyukai Hasna yang tidak menyadari bahwa Arya menyukai dirinya.
Tak lama kemudian Hasna selesai sholat dan langsung bergabung makan, Arya berpikir ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menyatakan perasaannya pada Hasna. Selama janur kuning belum melengkung masih bisa disalip di tikungan pikirnya.
“Na… apa yang kamu suka dari Pak GM sampai mau menikah sama dia?”
“Hmm .. apa yah?” Hasna tampak berpikir sambil mengunyah, Arya mulai merasa mendapatkan celah, kalau untuk mengenali rasa suka saja butuh waktu artinya perasaannya belum terlalu kuat.
“Beliau orang yang baik pada anak-anaknya, jarang menemukan laki-laki yang totalitas pada keluarganya begitu tinggi” Hasna menjawab setelah berpikir beberapa saat.
“Cuman itu?” desak Arya
“Dia kan sudah tua Na beda umurnya jauh sama kamu.. Suka banyak gap kalau beda umurnya jauh”
“Kamu bakalan susah berkomunikasi sama dia, beda kesukaan, beda aliran musik.. Jenis musik angkatannya dia sama kita tuh beda jauh”
“Aku tau kok jenis lagu kesukaan dia… lumayan lah agak familiar”
“Yah tapi bukan cuma musik aja Na .. cara berpikir juga beda, dia bakalan mikirnya jauh diatas kamu”
“Mas Arya maksud umur masehi?”
“Maksudnya?” Arya bingung,
“Kalau umur manusia yah umur masehi lah dihitungnya masa umur Hijriah, emangnya jaman nabi dihitung pakai umur Hijriyah”
__ADS_1
“Iya umur masehi kan dia tuh 35… Mas Arya umurnya berapa?”
“Aku 28”
“Hmmm beda 3 tahun sama aku”
“Yah kan jadi kita masih bisa saling ngerti karena generasi kita cenderung sama”
“Kalau aku sih melihat orang dari 3 karakteristik umur, kesatu umur kronologis atau kita sering sebut masehi, kedua umur biologis ketiga umur mental”
“Hahahahaha macem-macam aja ada umur biologis sama umur mental segala” Arya langsung mentertawakan pikiran Hasna.
“Iya contohnya Mas Arya, umur masehinya kan 28 tahun, untuk umur biologisnya kayanya masih sehat dan bugar suka olahraga gak?”
“Suka dong, aku seminggu sekali sabtu main badminton sama teman-teman di klub, trus minggunya aku biasa joging atau touring sepeda sama teman-teman SMA ku”
“Weiiis keren, pantesan badannya bagus mukanya seger terus… kayanya umur biologis Mas Arya bisa sekitar 20 atau 23 tahunan lah”
“Trus kalau usia mentalnya gimana” Arya langsung bersemangat mendengar penjelasan Hasna yang memuji penampilannya.
“Nah ini yang jadi masalah, Mas Arya itu suka gampang pundungan dan emosian jadi agak-agak gak stabil gitu, walaupun sering juga dewasa banget tahu musti bagaimana bersikap sama orang lain, kaya waktu aku nangis dimarahin Pak Reza itu… weiiiis Mas Arya keren banget… tapi kalau Mas Arya ada keinginan trus gak dipenuhin suka marah lama, dan gak mau ngomong”
“Udah ah banyak omong kasih kesimpulan aja, umur mental ku berapa?”
“Sabar atuh… tuh kan ini jadi indikator umur mental juga, kalau berdasarkan pengalaman aku bergaul sama teman-teman laki-laki Mas Arya itu umur mentalnya masih 20 tahunan, kaya anak kuliah tingkat akhir, gampang emosian gegara skripsi tapi bisa sabar juga kalau ketemuan sama pembimbing hehehehe…. “ Hasna langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Arya yang langsung melotot mendengar penjelasan Hasna.
“Ahhh kamu sok teu dasar, analisis gak jelas kamu tuh” Arya langsung marah-marah..
“Nih sekarang bandingkan sama Pak Reza kalau begitu dia umur mental sama biologisnya berapa”
“Pak Reza hmmmm musti mikir nih… aku gak pernah mikiran dia secara khusus”
“Umur biologis dia kayanya masih sekitar 30 an karena aku lihat sebagai laki-laki yang sudah punya 2 anak, dia masih terlihat muda, terlepas dari mukanya yang serius jadi keliatan tua kalau di kantor, tapi kalau pakai baju kaos sih hampir 11/12 sama Mas Arya”
“Umur mentalnya?” Arya gak sabar
“Umur mentalnya juga kadang naik dan turun, dia itu gampang emosian tapi cepat menyadari kesalahannya, dan gak segan untuk minta maaf, gak pakai berhari-hari trus dia berpikir dari sisi kepentingan orang lain daripada untuk dirinya, menikah sama aku bukan karena keinginan untuk dia pribadi tapi untuk anak-anaknya.. Itu buat anaknya tapi pada saat dia berhubungan dengan orang lain dia tuh egois pengen menang sendiri jadi yahhh kayanya terkadang 40 tahun terkadang 25 tahun”
“Perlu banyak berkomunikasi sama dia baru bisa memastikan umur mentalnya dia” Hasna menyerah menebak secara pasti
“Kalau umur mental dan biologis kamu gimana” Arya langsung ngetes analisa Hasna soal dirinya pribadi
“Aku?”
“Aku sih umur biologis masih 23 tahunan lah, gak sebugar dulu waktu masuk kuliah, sekarang kalau malam suka gampang capek pengen tidur, udah gak kuat ngelembur kaya ngerjain tugas kuliah… jarang olahraga kali yah.. Kebanyakan tidur kalau wiken”
‘Umur mentalnya?” tanya Arya cepat
“Nah ini kelebihan aku, aku tuh orangnya bijak banget suka berpikir dari berbagai sisi, gak cuma dari pikiran aku aja tapi bisa berempati sama pikiran orang lain dalam memikirkan suatu hal. Trus aku gak egois, selama gak merugikan aku pribadi aku mah hayuk wae. Contohnya soal menikah sama Pak Reza, aku gak masalah menikah sama dia walaupun belum tahu cinta atau enggak, yang penting aku bisa memberikan peran yang baik dalam keluarganya. Kalau memang dia itu jodoh aku, aku orangnya ikhlas aja walaupun umurnya lebih tua, orangnya kaya, tampangnya lumayan cakep juga, anak-anaknya baik, rumahnya gede, mobilnya bagus trus orangtua baik… jadi aku sabar menerima takdirku…. Jadi perkiraan aku umur mentalku sekitar 30 an” jawab Hasna setelah panjang lebar menggembar gemborkan kualitas dirinya.
Arya langsung mendengus
“Salaah…. Umur mental bukan 30 tahun contohnya dekatnya sama anak kecil, jenis obrolannya sama kaya anak kecil, suka melakukan sesuatu tanpa dipikir dulu, gak pernah sadar perasaan orang lain sama dia, gampang nangis kalau ada masalah.. Memutuskan nikah bukan karena perasaaan tapi karena suka sama anaknya… jadi kesimpulan aku umur mental kamu tuh baru 5 tahun… mana ada orang kawin karena pengen deketan sama anak kecil, emang mau kemping tinggal dirumah orang”
Hasna langsung tertawa terbahak-bahak, ide pikiran Arya betul-betul diluar perkiraannya.
“Hahahahaha iya bener juga Mas… itu yang aku pikirin kalau nanti nikah bakalan tidur sama anaknya bukan sama bapaknya” Hasna masih terkekeh-kekeh….
Ampun deh Hasna disindir tapi gak mikir-mikir juga…. Ampun deh apa beneran umur mentalnya masih 5 tahun
********************************
Hai... hai maap baru bisa up malem-malem seperti biasa... jangan marah-marah yaaah nanti ketauan umur mentalnya berapa gkgkgkgkgk.... Ada yang bisa nebak umur mental author gak berapa tahun... yang benar nanti bisa dikasih hadiah khusus kalau novelnya udah beres...wqwqwqwq... yang udah tau dilarang kasih contekan atau langsung dieliminasi dari list pembaca...hahahahaha... Tebak-tebak buah manggis deh... Terima kasih yah atas semua apresiasinya... Semua like, vote dan commentnya semoga menjadi amal soleh deterjen semua... Selamat melanjutkan istirahat wikennya, mudah-mudahan besok gak banyak tamu jadi bisa double up.. gak janji yaaa... sing penting produktif bae lah... Love u all
********************************
__ADS_1