
Mereka sampai ke Pameran Buku Terbesar itu jam 10.30 ternyata memang agak jauh dan Hasna tidak terlalu familiar dengan tempatnya, beberapa kali dia melihat GPS untuk memastikan arah karena Reza masih terlihat mengira-ngira arah tempat pameran itu berlangsung.
Begitu sampai disana, wuaaah ternyata tempatnya besar sekali dan kalau tidak salah sering dijadikan tempat konser musik. Wah tidak terbayangkan sebanyak apa buku yang ada disana, tempatnya sangat luas.
Begitu memasuki venue Hasna langsung berpikir panjang, mereka tidak mungkin bersama-sama berempat pasti akan ada perbedaan selera buku terutama Hujan.
“Kita tidak bisa bersama-sama terus Pak, harus dibagi 2, bagaimana kalau saya dengan Maura dan Bapak dengan Hujan?” usul Hasna
“Aku gak usah ditemenin tidak akan hilang, bukan anak kecil lagi” ucapnya sambil mengarahkan pandangan ke bagian buku-buku.
“Kakak Hujan minta no Hp nya biar kalau nanti kalau cari tinggal telepon, hp nya on kan baterainya?” Hasna langsung mendekati Hujan, kekhawatirannya akan kehilangan Hujan di tempat yang luas ini sangat kentara.
Reza tersenyum melihat usaha Hasna untuk melindungi anak-anaknya, dia memang terlihat lebih dewasa dari perempuan yang biasa ditemuinya. Biasanya mereka sibuk dengan keinginan dan kebutuhannya sendiri.
Hujan langsung melesat meninggalkan mereka saat Reza sudah mengizinkan ia berpetualang mencari buku-buku.
“Kamu kok kayanya khawatir banget Hujan hilang” ucap Reza
“Saya pernah kehilangan Emran dulu Pak, saya sampai nangis takut dia hilang betulan. Pas ada pasar malam di dekat rumah. Tiba-tiba saja pas saya sedang melihat Komedi Putar, dia tidak ada, saya sampai muter-muter 3 kali di Pasar Malam itu tapi Emran gak ketemu” Hasna mulai berkaca-kaca mengingat kejadian 8 tahun yang lalu.
“Sampai akhirnya saya nangis Pak, trus dibantuin sama bapak penjaga disana. Kata bapak itu coba cari di tempat pemancingan biasanya anak-anak suka kesana… eh ternyata anak kuya itu betulan lagi main mancing ikan-ikanan sambil jongkok..”
“Badan dia itu dulu kecil pak kurus jadi ketutup sama anak-anak lain yang udah gede… Aduuh pas saya nemu dia sampai nangis keras.. Diketawain sama Bapak penjaganya” Hasna mengusap matanya yang berair mengingat kejadian itu
Reza langsung tertawa melihat ekspresi Hasna yang terlihat betulan sedih.
“Kamu sayang banget sama adik kamu itu rupanya”
“Ya sayang dong Pak sama adik sendiri masa gak sayang, cuma suka nyebelin aja sekarang makin gede makin banyak maunya” Hasna sambil berjalan ke arah buku bacaan anak-anak.
“Maura lihat ini ada buku cerita mirip sama Oscar...whahahahaha” Hasna langsung mencari kumpulan buku-buku yang menarik, ternyata memang buku-buku yang dipamerkan adalah buku dari luar negeri sehingga berbeda tampilannya dengan yang biasa dicetak di Indonesia.
Mereka menghabiskan waktu hampir 1 jam ditempat pameran itu sampai akhirnya Maura mengeluh kakinya pegal. Reza menggendong Maura dan mulai mencari-cari Hujan tapi anak itu tidak terlihat.
“Bapak ajak Maura ke area rekreasi yang di depan saja Pak, saya yang mencari Hujan, saya telepon sekarang, Maura kayaknya sudah mengantuk Pak” ucap Hasna
Diteleponnya Hujan sampai akhirnya diangkat setelah hampir 5 kali panggilan, ternyata dia masih asyik mencari buku-buku. Ya ampun sudah lebih dari 10 buku yang dibawanya.
“Ini buku apa saja Ka.. tebel-tebel gini, memangnya akan kebaca?” tanya Hasna. Ini semua novel luar negeri dan upssss... ini novel dewasa.
“Kak jangan baca novel ini, kategorinya dewasa” Hasna langsung memisahkan beberapa novel yang masuk kategori dewasa.
“Tahu dari mana itu novel dewasa, emangnya Tante udah baca? Udah deh jangan ngatur-ngatur” Hujan langsung memotong dan cemberut, teman-temannya sudah membaca novel dengan judul itu.
“Sudah, makanya tahu juga. Hmmm yah kalau Kakak mau baca silahkan saja, cuman nanti bakalan gak ngerti aja, bahasanya terlalu vulgar dan banyak istilah yang tidak akan kita mengerti karena itu dilakukan oleh orang yang sudah menikah.. “
“Maksudnya apa..”
“Yah you know istilah-istilah seks”
“What…. Ewwwww” Hujan langsung mengambil buku-buku itu dan mengembalikan kembali
“Hahahahah kamu takut dimarahin Papi yah… hahahah”
“Papi suka marah kalau nemu buku yang kaya ada istilah kaya gitu-gituan, pernah aku dipinjemin buku dari teman trus sama Papi dirobek… aku kan bingung gimana ngembaliinnya.. Akhirnya aku beli buku pengganti dari online” jawab Hujan.
“Hahahaha bagus Papi kamu reaktif… daripada terjerumus lah, banyak anak sekarang terlalu banyak membaca novel-novel yang menceritakan adegan-adegan yang “aneh-aneh” jadinya bayangannya kemana mana. Padahal kenyataan tidak seindah yang dibayangkan”
__ADS_1
“Maksudnya…” Hujan bingung
“Hmmmm jadi kaya ngasih pendidikan **** nih sama Kaka”
“Yah gak apa-apa… aku susah ngobrolin kaya gini sama Papi” ucap Hujan
“Yah kalau dalam cerita disebutkan kalau hubungan **** itu seperti indah dan mudah padahal tidak… terutama hubungan **** diluar pernikahan itu sangat merugikan terutama bagi perempuan, jangan ditanya kalau dalam kacamata agama jelass dilarang mendekati zinah.. haram”
“Banyak perempuan yang masih umuran ABG pengen menyangka kalau **** itu adalah sebuah gaya hidup modern dari laki-laki dan perempuan padahal itu salah”
“Banyak pemicu pemikiran seperti itu, dari mulai bacaan yang mengajarkan hedonisme yaitu kesenangan dunia sampai ke bayangan-bayangan kalau hubungan intim itu menyenangkan, padahal bohong itu”
“Emang Tante tahu?”
“Yah enggak lahhh… Tante masih original bukan barang KW KW an… hahahaha”
“Trus itu tahu kalau hubungan intim itu tidak menyenangkan gimana” Hujan tampak bingung, ini adalah pembahasan yang menarik yang tidak bisa ia lakukan dengan Papinya dan Oma.
“Yah analogi seperti ini, buah kalau belum matang tapi sering dipegang-pegang dia akan cepat masak tapi akhirnya seperti rasanya tidak manis dan cepat busuk… tapi kalau buah yang sudah matang kalau dia dipegang akan terasa empuk dan harum begitu dibuka dia akan terasa manis”
“Begitu pula manusia, kalau masih muda sering dipegang-pegang nanti akan cepat matang padahal sebetulnya dia belum siap, akhirnya banyak terjadi kehamilan diluar pernikahan yang pada akhirnya merugikan mereka sendiri baik perempuan maupun laki-lakinya… makanya kalau masih remaja perbanyaklah berteman dengan siapa pun supaya bisa mengenal banyak orang dan banyak karakter… Tante dulu juga begitu”
“Tante gak pernah pacaran?” Hujan tampak mengerutkan keningnya, dia merasa aneh kenapa ada perempuan yang belum pernah pacaran.
“Enggak karena merasa lebih senang saja berteman” jawab Hasna singkat.
“Sekarang Tante sudah merasa matang?” tanya Hujan cepat.
“Hmmm kalau secara umur sih sudah? Ehmm….” Hasna tiba-tiba melihat ke arah Hujan. Apakah tepat bertanya pada Hujan sekarang, baginya yang terpenting adalah kenyamanan dari anak-anak Pak Reza kalau sekiranya ia menyanggupi untuk menikah dengan Reza. Antrian di kasir masih panjang
“Hujan, kemarin Papi kamu bertanya sama Tante untuk mau menjadi ibu kalian… masih belum menjawab karena sebelumnya tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Papi kalian, tapi Papi kamu terus bertanya dan meminta memikirkannya” Hasna menghela nafas, dilihatnya Hujan untuk melihat reaksinya, aneh anak itu tampak seperti biasa saja.
“Ya aku sudah tahu… Papi pasti akan meminta untuk menikah dengan Tante karena sebelumnya Papi tidak pernah dekat dengan perempuan siapapun” jawabnya singkat.
“Terus bagaimana pendapat kamu?” Hasna langsung ingin mendapatkan pemikiran Hujan
“Yah kenapa bertanya sama aku, kan yang akan menikah Tante dengan Papi.. mestinya aku yang bertanya pada Tante… Bagaimana pendapat Tante mau menikah dengan Papi?… sudah punya anak dan umurnya sudah tua.. Kalau aku sih selama Tante tidak berkeberatan silahkan saja” Hujan langsung berbalik menatap Hasna dengan tajam
“Hahahahah kamu benar-benar anak Papi kamu, tegas dan langsung pada intinya” Hasna tertawa kemudian dia menghela nafas.
“Awalnya tidak mau berpikir ke arah sana, tapi kemudian kalau melihat kalian dan Papi kalian terus bertanya hingga akhirnya berpikir untuk berdoa pada Tuhan meminta jawaban yang terbaik” Hasna menerawang.
Pembicaraan mereka terhenti karena sudah sampai di bagian Kasir.
“Trus apa jawaban dari doanya?”
“Sebentar ini to be continued… kamu bayar dulu” ucap Hasna
“Aku gak bawa uang… Tante yang bayar” ucap Hujan…
“Ehhh… kamu tuh untung aja bukunya tadi sudah dikurangi” Hasna langsung mengeluarkan dompet. Busettt ini buku sampai 700ribu semuanya… Mak anak konglomerat kalau belanja buku santai gini sampai habis 700 ribu.
“Nanti diganti sama Papi jangan khawatir” ucap Hujan…
“Ya iyalah sama Papi pasti diganti, ini menghabiskan jatah makan aku seminggu lebih” ucap Hasna
“Apa jawaban doanya Tante” tanya Hujan
__ADS_1
“Hmmmm kasih tau jangan yaaaah… mau tahu atau mau tahu banget” Hasna menggoda Hujan sambil berjalan cepat, dia merasa senang bisa mengganggu anak petir yang suka menyebalkan ini komentarnya.
“Aku kasih tau aja sama Papi kalau Tante mau nikah sama Papi” ucap Hujan cepat.
“Eh… kamu dasar… awas siapa bilang Tante mau…. Sini kamu” Hasna tidak sadar merubah panggilannya saking paniknya melihat Hujan berlari ke arah Papinya..
“Papiiiiiii… Tante Hasna mau menikah...belebeppp beeep menikh...beepppp menikaaaah sama Papi” Hasna berusaha menutup mulut Hujan, tapi anak ini ternyata betul-betul kaya belut badannya meliuk-liuk…
“Kamuuu tuuuh awaassss…. Bilangin tadi mau beli buku belepeppp belepepppp” Hasna dibekap balik oleh Hujan saat akan berbicara
“Bilangin aja sama Papi kalau berani.. Kasian Papi anaknya malah nambah jadi 1” Hujan langsung cekikikan melihat Hasna langsung menggap-menggap karena gak bisa nafas.
Maura langsung terbangun mendengar keributan antara Hujan dan Hasna.
“Papi kenapa Kakak sama Kak Hasna kok… malah kelahi tapi ketawa-ketawa” Maura menggesek-gesek matanya dengan bingung. Reza melihat tingkah laku keduanya, dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba dua perempuan itu tampak akrab.
“Maura kamu mau punya ibu lagi… jadi gak usah beli buku, ini bukunya sudah hidup dan berjalan” Hujan menunjuk-nunjuk Hasna sambil tertawa-tawa.
“Ingat yah Tante… kalau Maura boleh manggil apa aja sama Tante kecuali Mami soalnya Mami kita cuma 1 Mami Mitha… terus aku gak ganti panggilan tetap manggil Tante… selain itu silahkan saja atur semua urusan sama Papi” Hujan kemudian langsung beranjak pergi dari kursi tempat Reza dan Maura duduk.
“Ayuk De.. kita main ke Playground… Papi bayar buku-buku aku sama Tante Hasna tadi habis 730.000 katanya kalau Papi gak bayar Tante Hasna gak bisa makan selama seminggu” teriaknya sambil menarik adiknya ke arena bermain anak.
Hasna langsung ingin menggali tanah tapi lantai di bawahnya terbuat dari keramik jadi dia cuma bisa memukul-mukul kepalanya. Reza tersenyum melihat kelakuan absurd perempuan di depannya.
“Kenapa kamu malah membahas lamaran saya dengan Hujan bukan dengan saya terlebih dahulu”
“Bapak kan mengajak saya menikah untuk menjadi ibu anak-anak Bapak, saya harus memastikan dulu kalau anak Bapak memang menginginkan saya untuk jadi ibunya” jawab Hasna sambil menopang dagunya dengan tangan.
“Pintar kamu… terus jawaban Hujan apa?”
“Yah tadi kan Bapak sudah dengar” Hasna malas-malas menjawab
“Ok kalau begitu kita tinggal tetapkan waktu, mau kapan? Minggu depan?”
“Ehhhhh…. Tidak secepat itu Fulgoso” ucap Hasna cepat
“Siapa Fulgoso” Reza bingung
“Hehehehe pemain drama spanyol yang suka melolong seperti Bapak”
“Saya memang mau menjadi ibu dari anak-anak Bapak tapi kan saya belum mengenal Bapak”
“Paling tidak berikan saya waktu untuk lebih mengenal Bapak”
“Kamu bisa mengenal saya saat kita sudah menikah… sekarang mulai siapkan saja apa yang harus saya sediakan untuk pernikahan”
“Minggu depan saya akan ke Bandung dengan Keluarga Besar”
‘Eh… aku kok kaya yang taaruf giniiiih… pacaran setelah menikah”
Hasna sih salah sendiri bilang pengen mengenal Pak Reza kan ada istilahnya “Tak kenal maka Taaruf saja”
*********************
__ADS_1
Ayo siapa yang mau taaruf sama Aswin atau Arya… Saya kasih bonus episode buat kalian supaya semangat untuk menjemput rezeki di hari Senin… Terima kasih atas dukungan vote, like dan komennya yah… Bisa juga donk sekarang rekomend sama teman-teman untuk novel ini, supaya bisa ketahuan ada apa di pernikahan mereka… Love u alll….
*********************