
Malam itu Hasna agak susah untuk tidur, sudah biasa ia alami kalau pindah ke tempat baru, baru sekitar jam 2 malam Hasna terlelap dalam tidurnya. Subuh ia terbangun oleh aktivitas yang dilakukan Hujan, dilihat jam sudah menunjukkan jam 4.30.
“Sudah lama bangun Ka?” dilihatnya Hujan sedang menyiapkan perlengkapan sekolah.
“Baru saja” jawabnya pendek
“Kenapa tadi tidur dengan Maura?” dilihatnya Hasna sekilas.
“Hmmm kenapa memang? Tadi malam Maura mau ditemani terus jadinya ketiduran” Hasna menjawab pendek, ia tahu kalau Hujan merasa heran mengapa Hasna memilih tidur dengan adiknya bukan dengan Reza. Hujan sudah cukup besar untuk mengetahui tentang hubungan laki-laki dan perempuan.
“Kakak mau sarapan apa?” lebih baik mengalihkan pembicaraan daripada harus menjelaskan sesuatu yang sulit dimengerti oleh anak-anak. Tidak mungkin menjelaskan kepada Hujan tentang kesepakatan Reza dan Hasna tentang kesiapan mereka untuk tinggal bersama.
“Sarapan sereal saja, makanan berat aku bekal saja” Hujan sudah beranjak pergi ke kamar mandi.
Hasna kembali ke kamar untuk menunaikan sholat subuh. Masih terasa sedikit mengantuk tapi akan hilang kalau sudah sholat biasanya. Setelah sholat Hasna langsung turun ke ruang makan. Dilihatnya di dapur Mbak Jumi sudah menyiapkan sarapan untuk pagi ini.
“Assmlkm Mbak Jum, gimana tidurnya semalam nyenyak?” Hasna menyapa Mbak Jumi yang tampak sibuk dengan peralatan masak.
“Ehhhh Neng Hasna, mbak kaget, gak biasanya ada yang ke dapur pagi-pagi. Alhamdulillah selalu nyenyak gak pernah gak nyenyak. Gusti Allah Maha Adil dikasih rezeki bisa tidur dengan enak”
“Waaah benar-benar rezeki itu, saya semalam gak bisa tidur baru tidur jam 2, belum kenal dengan rumahnya, musti kenalan dulu kali heheheh” ucap Hasna sambil menuangkan air putih hangat ke gelas.
“Oalaaah manten baru yo pastinya gak akan banyak tidur too.. “ Mbak Jumi langsung cengengesan, yang disambung senyum simpul oleh Hasna. Belum tau dia pikir Hasna aku tidur sama anaknya bukan sama bapaknya.
“Saya bantu apa buat sarapan, Hujan katanya cuma mau makan sereal saja” Hasna langsung melongok ke dalam kulkas melihat isi kulkas sekiranya bisa menyiapkan bekal makanan untuk Hujan.
“Ini ada nasi dan daging buat bekalnya tapi terkadang suka tidak habis Non Hujan itu sukanya daging pakai bumbu seperti dibuat oleh Nyonya” Mbak Jum memperlihatkan daging yang dibuatnya, rupanya daging yang dibumbui dengan bumbu rendang.
“Saya olah saja menjadi nasi kepal isi” Hasna langsung mengambil plastik wrap dan memberikan sedikit garam pada nasi tadi ia melihat ada minyak wijen di bagian bumbu. Hasna kemudian memotong-motong bumbu rendang supaya mudah memasukan ke dalam nasi. Dibuatnya 5 kepalan besar dan dibungkus dengan plastik wrap supaya tidak ambyar.
Dipotong-potongnya apel tapi tidak sampai terpotong habis dan kemudian disatukan kembali. Apel kalau kena oksigen suka menjadi kekuningan dan anak paling tidak suka buah yang berubah warna.
Ternyata banyak yang harus ia beli nanti, perlengkapan bumbu untuk bekal Hujan terutama. Saat Hasna keluar ke ruang makan dilihatnya Reza sudah siap dengan pakaian kerja.
“Mas mau sarapan apa?” Seingat Hasna Mbak Jum bilang kalau Reza hanya sarapan roti bakar dan kopi.
“Roti bakar saja, Mbak jum sudah tahu” Reza melirik pada bekal yang dibuat Hasna untuk Hujan.
“Itu untuk siapa?”
“Oww ini untuk Kaka, katanya mau sarapan sereal saja, makanan beratnya mau dibekal saja” Hasna memasukan bekal Hujan dalam kantung kertas
“Mas Reza mau bekal makanan berat juga?”
“Gak.. nanti saya makan di cafetaria saja, atau mungkin di tempat rapat. Hari ini jadwal rapat di kantor rekanan siang” Reza langsung meraih gelas yang berisi kopi yang sudah dibuatkan oleh Mbak Jum.
“Waah saya lupa mau menyiapkan kopi untuk Mas Reza” Hasna langsung sadar ia terlalu fokus menyiapkan bekal untuk Hujan.
“Gak usah repot-repot. Urus saja anak-anak” Reza langsung meraih roti gandum yang dimeja dan membakarnya di pembakaran roti sendiri. Hasna hanya melihat saja apa yang dilakukan Reza.
“Hmm.. ya sudah mau bagaimana lagi jangan berkesan terlalu memaksa, kalau sudah nyaman juga nanti pasti akan meminta” pikir Hasna melihat Reza tampak sibuk sendiri menyiapkan sarapannya. Di rumah Hasna terbiasa melihat Mama menyiapkan semua kelengkapan ayah dari A sampai Z. Walaupun Mama seringkali mengeluh karena ayah jadi terkesan manja tapi yang seringkali omelan Mama terkesan menjadi bumbu dalam suasana di rumah.
Jam 6.15 Reza dan Hujan sudah berangkat dari rumah, ternyata setiap pagi Reza selalu mengantarkan Hujan, arah sekolahnya memang bersebrangan dengan kantor Reza sehingga memakan waktu hampir 1.5 jam kalau dari rumah ke sekolah Hujan dan langsung ke kantor Reza.
Jam 7 pagi Maura baru bangun dan turun mencari Hasna.
“Mola kila mola ditinggalin di lumah sendilian” anak koala itu duduk cemberut di sofa.
“Hahahaha kenapa memang? Karna Buna sudah bangun duluan?” Hasna menghampiri sambil membawa susu.
“Buna kan dari pagi subuh bangunnya, nyiapin sarapan buat Kaka Hujan”
“Nanti Mola juga mau banun subuh soalnya mau sekolah” ternyata dia ingat janji tadi malam untuk mencari sekolah hari ini.
“Iya mulai besok Buna bangunkan yaah pagi-pagi, tapi tidurnya tidak boleh terlalu malam”
__ADS_1
“Sekarang susunya dihabiskan, kemudian mandi”
“Kita kerumah Iyang trus ke makamnya Mama Mitha” Hasna menjelaskan agenda hari ini kepada Maura. Pikir Hasna kalau anak dijelaskan tentang kegiatan yang harus dilaluinya hari itu maka mereka akan lebih siap dan tidak akan merengek.
“Mola mau pelgi ke makam Mami, tapi mola ga tau musti beli bunganya dimana, papi selalu bawa bunga” Maura tampak sangat serius saat bicara tentang maminya.
“Papi sering ngajak Mola ketemu sama Mami” tanya Hasna penasaran.
“Iya papi selalu pelgi kesana bawa bunga putih, kata Papi ini bunga kesukaan Mami, papi disana suka duduk lama sambil celita-celita tlus berdoa”
“Papi suka cerita apa sama Mami?” Hasna jadi penasaran apa yang biasanya dilakukan Reza di makam istrinya.
“Papi suka celita kakak Hujan yang suka malah-malah, Mola suka disuluh nyanyi, papi juga suka kasih minum mami silam-silam”
“Kata papi bial maminya segel minum ail banak-banak”
“Owww nanti kita bawa bunga sama air yang banyak yah” Hasna tersenyum, hatinya sedih membayangkan perasaan Reza.
“Sekarang kita mandi dulu biar gak terlalu siang, kita minta dianterin sama Iyang soalnya Buna gak hapal, makamnya Mami Mitha dimana” Hasna tadi malam mengirimkan pesan kepada Mama Isna soal rencananya untuk silaturahmi dan minta diantar ke makam Mitha. Mama Isna sangat senang dan mengatakan ia sangat terharu saat Hasna berniat untuk pergi berziarah.
Saat akan berangkat, ternyata Pak Agus sudah menunggu di depan rumah.
“Eh Pak Agus kok ada disini?” Hasna kaget, ia akan memesan mobil online tapi ternyata ada Pak Agus sudah menunggu di depan.
“Saya disuruh Pak Reza untuk mengantar ibu ke rumah Bu Isna, kemudian ke makam almarhum Bu Mitha dan kemudian mencari sekolah untuk Non Maura”
“Pak Reza katanya hari ini ada agenda rapat keluar, nanti siapa yang menemani beliau?” Hasna tidak mau malah nanti jadi mengganggu agenda Reza karena dia bisa memakai mobil online lebih mudah dan ringkas.
“Sudah ada supir dari kantor bu katanya, Pak Reza khawatir nanti ibu capek kalau turun naik ganti-ganti kendaraan”
“Mau berangkat sekarang bu?” Pa Agus langsung berdiri, ia akan mengeluarkan mobil Alphard dari garasi.
“Ayok, saya sudah siap, ehh sebentar saya lupa, belum membawa susu Maura khawatir nanti siang minta susu kalau mengantuk” Hasna teringat kalau Maura selalu minum susu kalau sudah mengantuk. Pak Agus tersenyum melihat kesibukan Hasna menyiapkan kelengkapan Maura, ia masih ingat kalau Hasna belum lama dekat dengan Reza tapi kedekatannya dengan Maura seperti sudah mengenal anak itu sejak lama.
Ternyata rumah Mama Isna tidak terlalu jauh dari rumah Reza, hanya 35 menit perjalanan. Dan beliau sudah menunggu kedatangan Hasna.
“Hahahaha kaya yang gak ketemu Iyang bertahun-tahun aja, kan kemarin waktu nikahan papi ketemu” Mama Isna langsung memeluk Maura.
“Gimana seneng ada Buna sekarang dirumah?” beliau langsung menanyakan perasaan Maura. Hasna tersenyum melihatnya.
“Mola seneng soalnya Buna ngajalin Mola nyanyi belwudu, sekarang Mola udah hapal”
“Iyang mau dengel gak?” Maura langsung ingin unjuk kabisa didepan iyangnya.
“Mau dong, ayo kita masuk dulu, kasian Bunanya berdiri terus” Mama Isna langsung memeluk Hasna yang tampak masih sungkan.
“Terima kasih yah sudah nengok Mama kesini, mama suka khawatir nanti anak-anak melupakan Mama” Mama Isna tampak terharu dan memeluk Hasna lama.
“Iii Mama tuh apaan sih, masa sampai lupa sama Iyang nya yang cantik ini, aku malahan yang bakalan bulak balik nanti kesini ngerepotin Mama deh kayanya, soalnya banyak banget yang musti aku pelajari soal anak-anak”
“Makasih ya sayang, Mama lega Reza bisa menemukan ibu untuk Hujan dan Maura sebaik kamu, mama sudah khawatir sebetulnya…. “ Mama Isna malah kemudian menangis.
“Mama udah jangan nangis lihat Maura nanti bingung liat mama nangis, nanti lapor sama Mas Reza kalau aku bikin Mama nangis...hehehe” Hasna mengusap punggung Mama Isna dengan penuh perasaan.
“Tadi malam Maura belajar lagu Iyang, sampai bersemangat mau ke rumah Iyang katanya, mau pamer kabisa” Hasna berusaha menghibur Mama Isna melalui Maura.
“Mola juga mau syekolah Iyang, sekalang mau liat liat sekolah sama Buna, sekolahnya yang anaknya baik nda suka dolong dolong” ternyata anak koala ini juga ingin lapor mau sekolah.
“Waaaah Iyang senang kalau Maura mau sekolah”
“Maura nanti akan semakin pintar, untung ada Buna yang bisa temani Maura, Iyang sekarang sudah tua gampang cape” Mama Isna langsung menggandeng Maura masuk.
“Mola juja mau belajal mengaji.. Alip ba ta sa sama Buna kalau nanti pulang syekolah” semuanya dilaporin sama anak koala ini. Hadeuuuuh pikir Hasna untung yang ia lakukan bukan keisengan.
“Waaaaa Iyang seneng nanti Maura bisa ngaji bareng” Mama Isna menatap Hasna
__ADS_1
“Mauranya mau belajar ngaji di rumah?”
“Mau Ma.. aku juga belajar ngaji di rumah kok, nanti pas tajwid panggil guru ngaji khusus”
“Soalnya aku juga ga terlalu menguasai kalau tajwid” Hasna langsung cengegesan sambil menggaruk garuk kepalanya. Dari dulu dia paling payah soal tajwid.
“Waa jangankan Hasna, Mama aja yang sudah tua sekarang belajar lagi sama ustadzah di pengajian Mama”
“Kalau begitu kita belajar ngaji bareng-bareng aja sama anak koala ini” ucap Hasna sambil menggeltiki Maura.
“Anak koala?” Mama Isna tampak bingung.
“Iya Ma… ini anak koala yang kalau minum susu nempok di dada trus dilanjut bikin pulau” sambil menguyel-uyel pipi dan perut Maura.
“Ihihihihi… Buna geyiiiii...geyiii” Maura langsung menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan.
“Salah kamu sendiri kenapa pipinya kaya bapau begini, perutnya udah kaya balon bisa dihisap sama Buna...huffftttttt” Hasna langsung menyedot perut Maura.
Mama Isna hanya bisa menatap mereka dengan senyuman bahagia, ia tidak menyangka doanya untuk bisa melihat kedua cucunya mendapatkan ibu yang menyayangi akan terkabul dengan cepat saat ia sudah merasa kewalahan untuk mengurus Maura karena kondisi fisiknya yang sudah tidak muda lagi.
Hasna sangat berbeda dalam cara mengasuh anak dengan Mitha, Mama Isna ingat saat Hujan kecil Mitha lebih banyak mengajak Hujan untuk berlatih membaca dan tidak terlalu banyak bicara. Memang karakter Mitha lebih pendiam jika dibandingkan dengan Hasna yang banyak bercerita dan tertawa tawa, sehingga selama hampir 2 jam di rumah Mama Isna suasana ramai terasa sangat ramai oleh tawa mereka bertiga.
Mama Isna banyak menceritakan soal kebiasaan dan keperluan yang biasanya disiapkan untuk anak, kebutuhan bulanan dan biaya yang harus dibayarkan oleh Hasna setiap bulannya. Ternyata hampir semua keperluan di urus oleh Mama Isna, pantas saja kalau beliau merasa lelah dalam mengurus 2 rumah yaitu rumah Reza dan rumahnya sendiri.
Mereka baru berangkat ke makam saat jam 11 kurang, ternyata jaraknya tidak jauh hanya 15 menit perjalanan. Maura mendahului masuk ke dalam makan, rupanya ada gerbang yang terpisah sehingga memudahkan pelayat untuk berjalan menuju makam. Saat berjalan kaki menuju makan, Mama Isna tampak sedih.
“Hasna… Diantara banyak kejadian dalam hidup Mama. Hal yang paling menyakitkan untuk dilalui orangtua adalah saat harus memakamkan anaknya” Mama Isna berpegangan pada tangan Hasna seakan mencari kekuatan.
“Melihat anak harus dimandikan… sakit rasanya… mengingat saat kecil ia kita mandikan dan kemudian kita harus memandikan dia …. Owh…. sakittt sekali hati mama saat itu” Mama Isna tampak berurai air mata. Maura tampak melambai-lambai di depan makam Mitha. Hasna tidak kuat untuk tidak menangis melihat kesedihan yang tampak pada Mama Isna.
“Kalau tidak ingat pada Maura yang masih bayi, mama rasanya mau gila, tapi ada bayi yang masih merah dan butuh perhatian. Mama akhirnya menguatkan diri”
“Kita semua tidak sempat untuk larut dalam duka”
“Reza juga lebih banyak diam dan berusaha untuk membantu Mama, kami tidak pernah saling bercerita tentang kehilangan Mitha, hanya selama 3 bulan lebih Mama tahu kalau Reza sangat terpukul”
“Hampir 3 bulan dia tidak bisa bekerja, perasaan bersalahnya terlalu besar karena tidak berada di samping Mitha saat serangan eklampsia itu terjadi”
“Kalau saja tidak ada Hujan di rumah dan mencari bantuan, mungkin Maura juga tidak bisa diselamatkan”
“Kejadiannya bagaimana dulu Ma” Hasna sebetulnya tidak ingin mengungkit luka lama, tapi tidak mungkin dia bertanya pada Reza. Tapi ia betul-betul ingin tahu kejadian sehingga Mitha meninggal saat melahirkan Maura.
“Sebetulnya Maura belum saatnya dilahirkan, tapi tiba-tiba saja Mitha mendapatkan serangan eklampsia sehingga kejang. Saat itu tidak ada orang di rumah, Mbak Jum sedang pulang kampung, Reza sedang di Surabaya karena ada urusan kantor yang mendesak harus diselesaikan. Mama sebetulnya yang menemani Mitha selama Reza pergi, tapi waktu Mama tinggalkan Mitha terlihat baik-baik saja. Mama bermaksud mengecek rumah yang sudah ditinggal selama 2 hari”
“Hujan yang pulang sekolah menemukan Mitha pingsan di kamar, entah sudah berapa jam Mitha terbaring di lantai hanya saja saat itu Mitha sudah hilang kesadaran”
“Hujan menelpon Mama waktu itu berteriak kalau Maminya pingsan di lantai. Mama langsung telepon ambulan untuk menuju rumah, Reza tidak bisa dihubungi saat itu”
“Saat sampai di rumah sakit dokter langsung mengambil tindakan untuk dilakukan operasi Caesar karena kondisi Mitha yang sudah tidak sadarkan diri, dikhawatirkan akan meracuni bayi yang di dalam kandungan, Mama waktu itu yang memberikan surat persetujuan untuk operasi karena sampai saat itu pun Reza masih belum bisa dihubungi”
“Ternyata Mitha tidak pernah sadar lagi, selama 2 hari Mitha mengalami koma, dan di hari ke 2 dokter menyatakan kalau Mitha sudah meninggal. Otaknya sudah mati, ia tampak hidup karena alat bantu yang selama ini menunjang kehidupannya.
“Awalnya Reza tidak menerima kalau alat bantu untuk dicabut, Ia baru bisa menerima saat Maura didekatkan pada Mitha tapi terus menangis. Maura berhenti menangis saat alat bantu dihentikan, saat itulah Reza menerima untuk melepaskan alat bantu yang terpasang pada tubuh Mitha” Mama Isna kembali terisak.
“Mama sudah jangan bercerita lagi, nanti Mama jadi sedih, maafkan Hasna” Hasna akhirnya tidak kuat melihat tangisan Mama, Maura tampak sibuk mencabuti rumput di makam Mitha.
“Tidak apa-apa, Mama tahu kamu pasti ingin tahu kejadian kenapa Mitha sampai meninggal” Mama Isna menghapus air matanya dan mengusap Maura yang masih asyik merapihkan makam Maminya.
“Saat itu Hujan bagaimana Ma” dengan hati-hati Hasna mencoba menanyakan bagaimana kondisi Hujan saat itu.
“Mama tidak ingat, perhatian kita saat itu adalah kondisi Mitha yang sedang koma dan Maura yang baru lahir”
“Hmmm Hujan dengan siapa yahh, mungkin dengan Mamanya Reza karena saat itu begitu Mitha dioperasi malamnya semua datang ke rumah sakit. Reza datang dengan menggunakan pesawat sore harinya, dia baru membuka hape jam 3 katanya. Ternyata hp nya dipegang oleh sekretarisnya dan dimatikan… Mama sangat marah saat itu”
“Seharusnya saat istri hamil besar dan mengalami pre-eclampsia dia tidak pergi keluar kota, kalaupun pergi dia harusnya selalu siaga, tapi akhirnya Mama menerima ini sebagai takdir Mitha”
__ADS_1
“Kenapa Hasna menanyakan Hujan” Mama Isna tampak heran.
Hasna hanya menunduk rasanya bingung untuk menceritakan mimpinya kepada Mama Isna.