
Siang itu Hasna mengikuti dua ujian langsung berisikan materi umum dan bahasa inggris, untungnya tadi pagi dia tidak kesiangan. Sampai di kampus jam 8 pagi dan langsung mencari ruangan tempat ujian. Ternyata banyak juga peserta ujiannya, kebanyakan usianya hampir sama dengannya. Ternyata sekarang banyak orang lebih memilih melanjutkan S2 setelah menyelesaikan studi S1 nya.
Setelah ujian peserta diminta berkumpul di program studi sesuai dengan prodi pilihan mahasiswa, ternyata program studi manajemen sumberdaya manusia peminatnya cukup banyak hampir 50 orang sedangkan yang akan diterima hanya 20 orang saja. Hasna perhatian 60% dari peserta ujian adalah laki-laki dan hampir 80% dari mereka adalah usia yang masih muda sama dengannya.
“Hai… masuk prodi psdm juga yah?” seorang pria mendekati Hasna yang celingukan saat akan masuk ke ruangan.
“Ehh iya.. Katanya disuruh kumpul disini?” Hasna melihat ke sekitar ruangan sudah lumayan penuh.
“Ya kita masuk saja nanti gak kebagian tempat duduk” laki-laki itu mendahului masuk dan Hasna kemudian mengikutinya. Dilihatnya ada bangku kosong disebelah seorang perempuan yang berkerudung ia langsung memilih duduk dengannya. Hasna memberikan isyarat kalau dia duduk disana. Sekarang dia adalah perempuan yang sudah menikah harus menjaga jarak dan jangan terlalu akrab dengan lawan jenis apalagi punya suami posesif.
“Assalamualaikum.. Maaf kursinya kosong?” Hasna langsung menyapa perempuan yang telah duduk.
“Waalaikum salam...silahkan kosong kok..sengaja saya simpan tas kalau laki-laki yang nanya saya bilang penuh heheheh” perempuan itu berbisik-bisik sambil tertawa. Cerdas juga pikir Hasna jadi menemukan teman sealiran nih.
“Saya Hasna…”
“Ameera”
Tidak butuh waktu lama kedua perempuan itu langsung akrab satu sama lain, dan saling berjanji apabila nanti lulus akan saling mengabari. Hasna tidak memperhatikan laki-laki yang tadi masuk bersamanya lebih sedikit kenal dengan lawan jenis lebih baik, suaminya alergi dengan teman laki-lakinya.
Pertemuan hari itu hanya membahas tentang kuota penerimaan mahasiswa dan tindak lanjut yang harus dilakukan oleh calon mahasiswa apabila nanti diterima dan bagi yang tidak diterima dipersilahkan untuk mengikuti ujian gelombang kedua yang diselenggarakan 2 bulan sesudahnya. Hasna merasakan semangat untuk bisa segera belajar dalam lingkungan dan suasana yang baru.
Saat selesai acara jam sudah menunjukkan 11.30 siang, ia berjanji pada Mama Isna akan pulang paling lambat jam 2 siang, masih ada waktu baginya untuk bisa jalan-jalan dulu. Hal pertama yang terpikir olehnya adalah ke kantornya dulu, ia bisa makan siang dengan suami atau dengan teman-temannya. Ia pernah berjanji pada Mbak Maytha akan main ke kantor setelah menikah dan sekarang setelah sebulan lebih dia baru memiliki waktu luang.
Saat Hasna tiba di lobby kantor, suasana masih belum berubah, ada rasa haru dan sedih meilhat kantor tempatnya dulu bekerja. Tidak terbayang dalam pikirannya kalau dia akan melepaskan posisi pekerjaanya dan menikah dengan salah satu pemilik perusahaan. Hasna bingung saat akan memijat tombol lift, apakah akan ke lantai 7 atau langsung lantai 9. Nalurinya akan memijat lantai 7 namun ia ingat kalau dia sekarang perempuan yang sudah memiliki suami, segala hal yang dilakukan harus atas izin suaminya dulu. Maka dipijitnya lantai 9, padahal dia tidak memberitahu Reza kalau ia akan datang ke kantor.
Ting…..
Pintu lift terbuka dan aroma yang masih diingatnya kembali semerbak, sekarang yang tercium adalah harum kayu cendana. Hasna keluar dari lift dengan perlahan, jiwa waspadanya kembali muncul begitu melihat ruangan Arcy. Perempuan itu tidak datang pada pesta pernikahannya, entah tidak diundang atau tidak datang tapi dia tidak peduli, siapa yang membutuhkan doa restu dari perempuan penyihir itu, kalaupun datang khawatir malah membacakan jampi-jampi lagi.
Hasna melewati ruangan Sekretariat dan melihat Prita yang sedang duduk di mejanya, perempuan itu terlihat kaget melihatnya, tapi Hasna tidak ingin menyapa dia, salah satu anggota penyihir muda yang tidak perlu diajak berteman dan dianggap kehadirannya. Ia langsung melangkah menuju ruang Reza dan dilihatnya Aswin sedang serius menatap layar komputer.
“Assalamualaikum… Mas Aswin..” Hasna menyembunyikan badannya di belakang pintu dan hanya memperlihatkan kepala sambil tersenyum.
“Ahhhh panjang umur banget ini Nyonya Muda….” Aswin langsung berteriak melihat Hasna. Ia sedang bingung memilih posisi duduk untuk pembelian tiket konser.
“Saya lagi memilih seat buat konser tinggal beberapa yang tersisa jadi mau pilih yang mana” tanya Aswin tanpa berpikir panjang apakah Reza sudah memberitahu Hasna atau belum.
“Konser apaan?” Hasna terlihat bingung, baru datang tiba-tiba di todong soal milih mau duduk dimana. Ia mendekati Aswin dan melihat layar komputer dan terlihat lah BigBang World Tour. Seketika nafasnya terasa sesak…
__ADS_1
“Aaapaaa inih…. BigBang World Tour.. bagaimaaana bisa?” Hasna langsung menguncang-guncangkan tangan Aswin.
“Ehhheee… Pak Reza belum cerita yaaah… hehehe jangan bilang-bilang dulu nanti dia marah” Aswin langsung kaget melihat reaksi Hasna, dia belum tahu secinta apa Hasna pada G Dragon.
“Mass… ini seriuss… hahahahah… seriusss… Mas Reza ada di dalam?” Hasna langsung mengguncang-guncangkan tubuh Aswin hingga hampir oleng, ini tenaga perempuan kaya hulk pikir Aswin.
“Aaaadaa… sedang diskusi dengan Bu Arcy soal program koordinasi antar ….” belum sempat Aswin menyelesaikan ucapannya Hasna langsung menerobos masuk ke dalam ruangan, ia tidak perduli soal Arcy, baginya perempuan itu dianggap tidak ada.
“Maasssss…. Beneran? Beneraaaan mau nonton konser BigBang di Singapurrr?” Hasna langsung menjerit di pintu masuk. Reza yang sedang duduk di kursi sofa berseberangan dengan Arcy tampak terlonjak kaget mendengar ada teriakan Hasna yang tiba-tiba masuk. Arcy yang duduk dengan menumpang kaki di depannya dan memperlihatkan setengah pahanya nampak melotot melihat Hasna yang masuk dan berteriak.
“Maaaasss beneran?” Hasna duduk di samping Reza dan mengguncang-guncangkan tangannya Reza seperti yang ia lakukan pada Aswin tadi. Baju Reza sampai menjadi kusut ditarik oleh Hasna.
“Apaa sih ribut datang-datang ahh… kamu tuh bukannya ketok dulu pintu salam malah teriak-teriak” Reza antara ingin tertawa melihat ekspresi Hasna yang panik dan bahagia.
“Itu tadiii kata Mas Asswin, katanya aku disuruh milih seat buat tiket Konser BigBang di Singapura” Hasna berbicara hampir dengan tergagap saking kaget dan gembiranya.
“Si Aswin itu mulutnya ember memang, belum juga pasti sudah dibilang-bilang” Reza pura-pura tidak perduli dengan kondisi Hasna yang sudah mau pingsan saking bahagianya.
“Maassss… bener gak? Aku janji nanti aku akan jadi istri yang baik… gak akan marah-marah lagi sama Mas Reza tapi kalau Mas Rezanya gak nyebelin…. Yah bener yah bener aku mau nonton konser BigBang”
“Kita lanjutkan diskusinya setelah makan siang Cy… aku ngurusin anak Kpop dulu ini” Reza menatap Arcy yang tampak tidak nyaman dengan kehadiran Hasna.
“Sudah jam istirahat Bu Arcy.. sudah masuk waktu pribadi” Hasna menunjukkan jam di tangannya 12.05 untung saja dia datang jam makan siang jadi bisa dijadikan alasan. Arcy mendengus dan beranjak pergi dari ruangan Reza, beuuh gaya jalan seperti peragawati berlenggak lenggok pikir Hasna yang langsung pengen muntah melihatnya.
“Setiap hari mata Mas Reza ngeliat yang kaya dia?” Hasna jadi terlupa akan Konser BigBang nya, ancaman di depan mata memenuhi pikirannya, dia tidak pernah memikirkan Arcy selama ini, fokus pikirannya hanya pada anak-anak dan mengurus Reza agar bisa sedikit demi sedikit melupakan Mitha, tapi kalau begini caranya ada hal lain yang harus ia pikirkan.
“Memangnya kenapa dia? Dari dulu juga seperti itu” Reza beranjak dari sofa dilihatnya jam sudah menunjukkan 12.10 sedangkan jam 2 ia harus rapat dengan Dewan Direksi.
“Bagaimana tadi ujiannya lancar?” tanya Reza sambil mengambil hape, ia masih bisa makan siang dulu sebelum rapat, ditariknya tangan Hasna untuk mengikutinya, dengan perempuan ini jangan banyak diskusi suka panjang jawabannya.
“Lancar alhamdulillah aku gak kesiangan, untung tadi pakai motor, si Aanya langsung nyelap nyelip diantara mobil… syuuut syeeet...kaki aku udah gemeteran aja..sampai aku bilang..santuy a santuy… nanti nyampe enggak bonyok iya..hahahah” Hasna tertawa memikirkan ucapannya pada pengemudi ojek online tadi.
"Nanti kalau mobil sudah datang dan lengkap surat-suratnya kamu jangan naik motor online lagi bahaya" potong Reza.
“Win.. mau makan bareng?” Reza mengajak Aswin yang masih sibuk dengan pemilihan posisi duduk di konser BigBang.
“Jadi bagaimana mau duduk di posisi apa Mbak Hasna...eh Bu” Aswin lupa kalau sudah bertatapan dengan Hasna harus memanggil ibu karena sudah menjadi istri pimpinan.
“Ambil posisi yang paling strategis dekat ke panggung... ini VIP” ucap Reza sambil melihat ke layar komputer.
__ADS_1
“Yesss...yesss….” Hasna langsung meloncat loncat, dipeluknya tangan Reza dengan penuh rasa syukur.
“Berapa seat pak, karena ini sudah terisi sebagaian besar” Aswin menunjukkan posisi seat yang masih kosong.
“Aku mau pergi sama Kaka Hujan, dia pasti belum pernah liat pertunjukan konser yang besar, aku cuma pernah lihat festival dan konser artis lokal aja udah bagus…. Aku mau pergi sama Hujan pasti asyik...hihihihihihi” Hasna langsung menarik narik tangan Reza dengan penuh permohonan. Reza tampak berpikir ia harus memastikan dulu keamanannya.
“Ada batasan usia tidak untuk peserta konser?” tanya Reza pada Aswin untuk mengecek persyaratan penonton konser.
“Tidak ada sih pak” ucap Aswin setelah mengecek beberapa item persyaratan tentang pembelian tiket.
“Ok beli tiga tiket kalau begitu” Reza langsung menujuk jajaran seat yang masih kosong di sisi kiri sehingga memudahkan untuk keluar masuk.
“Tiga? Memangnya Mas Reza mau nonton? Kan gak hapal lagu BigBang nya juga” Hasna merasa heran melihat Reza yang menyatakan akan ikut nonton konser.
“Terus nanti yang jaga kalian siapa? Memangnya di Jakarta .. ini di Singapura kamu sudah sering kesana?” Reza mendengus ia merasa kesal karena Hasna seperti tidak ingin dirinya ikut bersama.
“Ehhhh iya… aduh Mas Reza gak apa-apa dengerin lagu Kpop gak akan bosen kan?” Hasna memegang tangan Reza dengan penuh harap. Reza melihat adanya peluang mempermainkan Hasna kalau seperti ini.
“Huffttt… nanti saya pikirkan… Aswin saya makan siang dulu, kamu mau makan sekarang?” tanya Reza
“Nanti saja Pak… saya selesaikan pesanan tiketnya dulu nanti takut keburu habis, saya pesan dikirim ke sini saja nanti” Aswin tahu diri, kalau GM nya ingin makan siang berdua dengan istrinya dan ia juga masih menyelesaikan pemesanan tiket.
“Mas seriusan yah nanti bisa kan ikut nonton konser, aku gak hapal soalnya kalau di Singapura, dulu pernah ke sana waktu SMP sama Ayah diajak wisata 3 negara SIngapura, Thailand dan Malaysia itupun cuma sebentar, udah lama banget” Hasna langsung merasa bingung.
“Hmmm boleh saja ..asal kamu baik pasti aku temani tapi kalau kamunya galak kaya tadi malam.. Yah aku pikir-pikir dulu” Reza tersenyum ia merasa di atas angin, tidak biasanya dia memegang kendali atas diri Hasna.
“Tadi malam kan aku mau belajar Mas, aku malam tidur sampai jam 1 soalnya aku udah lama banget gak update materi-materi umum, trus aku lanjut baca-baca latihan soal toefl. Makanya alhamdulillah banget tadi aku bisa ngerjain soalnya” Hasna mencoba memberikan alasan yang masuk akal.
“Iya tapi gak usah pakai melotot juga, kan aku juga ngerti kamu lagi belajar, gayanya seperti mau ujian sidang aja” Reza mendengus dia masih kesal karena tadi malam diasinin.
“Iya atuh maaf…. Uwhhh kalau merajuk ginih mirip banget sama Maura deh” Hasna langsung menjembel pipi Reza saking gemesnya. Reza melotot mereka ada di dalam lift kalau ada orang yang masuk akan jadi pergunjingan karena tidak semua orang diundang dalam pernikahannya. Dan saat itu pintu terdengar terbuka saat di lantai 6. Tingg…..
Ternyata gedung ini masih senang memperolok Hasna, saat pintu lift terbuka tampak Arya dan Maytha berdiri di depan beberapa karyawan tampaknya mereka juga akan makan siang.
“Mas Aryaaaa…. Mbak Maythaaa….” Hasna langsung berteriak dan maju kedepan, dan seperti biasa terjadi lagi peristiwa kerah leher di cekal dari belakang sehingga Hasna tersentak tidak bisa maju.
“Mau kemana kamu….” bisik Reza keras.
Ehhh… nasib memang
__ADS_1