
Hasna PoV
Sudah dua hari Mas Reza mendiamkan aku sejak kejadian di Mall. Setiap aku tanya di hanya menggumam atau bahkan sama sekali tidak menjawab. Terus terang aku sudah mulai lelah dengan permainan ini, sikapnya kekanak-kanakan sekali. Untung ujian akhir sudah selesai sehingga pikiranku sudah mulai tenang.
Aku berusaha mengajaknya bicara dengan menawarinya makan dan hal-hal lain yang harus dilakukan oleh seorang istri, tapi dia tidak pernah merespon. Ya sudah ini namanya ngajak perang dingin, permainan psikologis ngajak latihan sabar. Dia gak tahu berhadapan sama siapa, disangkanya aku bakalan kelepek-kelepek pingsan di acuhkan seperti ini. Dua puluh lima tahun hidup tanpa dia aku baik-baik saja, kenapa sekarang musti jadi menderita. Ok.. mari kita bermain kita lihat siapa yang akan tersenyum di akhir.
Pagi ini Mas Reza keluar dari kamar sudah siap dengan pakaian kerja lengkap. Anak-anak sudah berangkat, Maura sudah mulai mau diantar sama Pak Agus sehingga aku bisa menarik nafas kalau anak-anak sudah berangkat sekolah. Ia kembali menghilang ke ruang kerja, hari ini aku akan ke kampus setelah dua hari kemarin diam di rumah karena berpikir untuk cooling down dulu, tapi ternyata kompor masih tetap saja panas.
“Mas aku mau ke kampus hari ini mau mengembalikan buku ke perpustakaan sambil sekalian ketemu sama teman-teman untuk diskusi buat bahan presentasi nanti di Tohoku Uni” walaupun ia seperti tidak perduli, paling tidak aku sudah minta ijin dulu.
“Hmmm….” masih bunyi seperti sapi. Ok… no problem, jangan kebawa emosi jangan sama gilanya.
“Mau berangkat sekarang? Aku ikut yaa sampai kantor nanti dari sana aku pakai motor online” dia tidak menjawab malah melengos pergi keluar. Aku cuma bisa narik nafas ya sudahlah… nasib diasinin… akhirnya aku duduk di meja makan. Jangankan menjawab melihat juga seperti sudah tidak berkenan, akhirnya aku membuat bekal saja buat makan siang, paling tidak nanti di kampus gak usah kelayapan ke kantin.
Akhir-akhir ini aku gak suka makanan berkuah, rasanya seperti susah ditelan. Makan makanan yang digoreng juga terasa seperti kesat dan nyangkut di tenggorokan, mungkin efek dari minyak yang dipakai sudah berulang kali. Membuat beberapa tangkup roti sandiwich isi telor dan ayam menjadi solusi cepat, diberi sedikit mayonies dan sambal tomat. Jangan pakai sambal terasa menyengat sekarang.
Hmmm ini memang agak aneh, kemarin gegara panik ada Mas Reza di Mall rencana untuk membeli test pack jadi lupa. Tampaknya nanti sepulang dari kampus aku mampir saja ke apotik, tadi malam googling ternyata ada beberapa jenis test pack dari yang dibawah harga sepuluh ribu sampai diatas lima puluh ribu dengan tingkat akurasi yang berbeda tentu saja.
“Mau ikut atau tidak ….lama banget sih” aku langsung terlonjak kaget, mayonies yang kupegang sampai loncat karena terpijit terlalu keras.
“Astagfirullah… nungguin aku kira tadi gak mau aku ikut soalnya pergi gak jawab” aku langsung panik melihat mukanya yang kesal. Hampir sepuluh menit aku membuat sandwich, yah kukira memang dia gak nungguin dan pergi ke kantor. Melihat mukanya yang dingin dan tidak menjawab saat aku meminta ikut membuatku berpikir dia tidak suka aku ikuti.
Langsung berlari membawa tas, dan bekal mengikutinya masuk ke mobil, ya Allah mukanya asem gitu gak ada manis-manisnya. Siapa bilang dia ganteng, mukanya nyebelin gitu, aura di mobil terasa tidak nyaman dan sesak. Parfumnya juga terasa seperti parfum murahan, aku langsung merasa mual, tahu gini mendingan berangkat sendiri saja.
“Ini pake parfum apa sih kok baunya bikin enek ginih”. Aku langsung ngipas-ngipas di depan hidung, kepala jadi pusing menghirup udara di mobil. Dia langsung melirik kesal “jangan banyak protes.. Aku lagi gak mood ngomong” aseli ini mendingan turun aja naik mobil online daripada bikin emosi, yang dilihat, di dengar dan dicium udara semuanya bikin nyesek.
“Aku turun aja Mas di depan.. Kepala aku pusing nyium parfumnya...pengen muntah” aku menunjuk Mart yang di depan. “Kamu makin kesini makin banyak tingkah bicara suka sembarangan nyebut aku bikin pengen muntah segala” suaranya mulai keras dan dia melewati Mart dan terus saja maju. Ini gak main-main kepala aku pusing dan pengen muntah, akhirnya aku terpaksa membuka jendela, narik nafaaas panjang kaya nyambung nyawa banget alhamdulillah berkurang mualnya.
“Kamu gimana sih malah buka jendela udaranya panas” Mas Reza marah-marah karena aku membuka jendela lebar-lebar. “Aku bilang aku mual nyium bau parfum Mas Reza, aku beneran bukan sentimen.. Kalau gak kuat panasnya aku turunin aja di depan gak apa-apa” aku kembali menunjukkan ada parkiran yang bisa berhenti di depan. Ia langsung mendengus kesal, benar-benar suasana akward.
Sepanjang perjalanan akhirnya kita hanya berdiam diri, aku sudah malas berbicara lagi dengannya, orang ini kalau sudah mengesalkan benar-benar membuat aku merasa terjebak dalam lingkaran setan hubungan pernikahan.
“Ehhh kok gak belok ke kantor” aku langsung kaget, kenapa malah lurus terus, ini sudah jam 9 pagi artinya nanti kalau dia mengantarkan aku bakalan kesiangan ke kantornya. Dia masih diam saja tidak menyahut, akhirnya aku hanya melihat keluar. Setiap berhenti di lampu lalu lintas aku langsung menutup jendela, khawatir ada orang iseng melempar atau berniat jahat kalau jendela mobil terbuka.
Begitu sampai di kampus aku merasa lega, rupanya walaupun dia kesal tapi dia masih punya kesadaran dan keingin baik untuk mengantarkan aku ke kampus. Sebetulnya tadi bisa membawa mobil sendiri tapi akhir-akhir ini aku memilih diantar Pak Agus kalau sedang tidak sibuk rasanya suka terasa lebih lelah kalau membawa mobil sendiri.
“Terima kasih Mas… maaf jadi merepotkan, Mas Reza jadi terlambat ke kantor” aku meraih tangannya untuk salim. Begitu mencium tangannya tercium bau parfum itu, langsung terasa tekanan dari dalam perut, tangannya langsung aku hempaskan. “Bau banget.. Aku …hmmmmpppp” belum sempat aku menjelasan kenapa aku melemparkan tangannya dia sudah main mencium bibirku.. Gilaaaa dasar gilaaa di parkiran mobil, siang-siang lagi… aku langsung mendorongnya.
“Masss gila apa… ihhh ini di kampus siang-siang” aku langsung melotot kemudian melirik kanan dan kiri khawatir ada yang melihat. Ada sekelompok mahasiswa laki-laki di ujung parkiran mudah-mudahan saja mereka tidak melihat. Mas Reza mendengus kesal “Kenapa kamu malu ketahuan sudah menikah? Bilang aku bau seenaknya saja… memangnya aku makanan basi.. Sudah sana turun!” Ia langsung membentak
__ADS_1
“Nyesel ikut sama Mas Reza… aku gak mau lagi dianterin.. Bau Sinyongnyong” ucapku sambil membuka seatbealt. Dia langsung melotot entalah dia tahu atau tidak minyak sinyongnyong kalau tidak salah itu minyak yang suka dipakai oleh jenazah agar tidak tercium aroma tidak sedap setelah dikafani. “Aku juga gak mau dekat-dekat kamu… menyebalkan banyak omong” balasnya.
“Emang gw pikirin” pikirku dalam hati sambil berjalan menjauh dari mobil, dasar manusia batu gak punya perasaan bikin ilfill, aku cairkan semua deposito belikan makanan yang enak. Ehhhh ya ampun bekal makan siangnya ketinggalan di mobil. Aku langsung berbalik tapi mobil Mas Reza sudah bergerak keluar gerbang kampus. Apeees deh gagal makan sandwichnya, padahal tadi sudah memakai potongan ayam tomat dan selada yang segar. Gara-gara manusia batu menyebalkan bau sinyongnyong. Awas nanti sore kalau pulang, gak akan ditanya mau dibiarin biar dia tersiksa.
Reza PoV
Hari ini memang jadwal tidak terlalu penuh baru ada jadwal rapat siang hari, sudah beberapa hari ini aku sengaja tidak berbicara dengan Hasna walaupun dia sudah beberapa kali menyapa dan menanyakan segala sesuatu padaku tapi aku masih ingin menghukumnya karena sudah berbohong menutupi bahwa ia sedang dengan Arkhan di Mall. Walaupun kata temannya hanya kebetulan bertemu tetap saja ia sudah berusaha menutupi kebenaran.
Sebetulnya aku kasihan melihatnya seperti kebingungan aku diamkan tapi daripada aku marah dan kemudian dia menangis lagi aku rasa cara ini paling efektif untuk menghukumnya, yah walaupun jadinya aku jadi tidak bisa berdekatan dengannya. Dua hari ini aku putuskan untuk tidur di kamar bawah sendiri, aku ingin tahu apakah dia akan memohon supaya aku mau tidur dengannya lagi, karena dari kejadian minggu kemarin aku baru tahu kalau ternyata dia anak yang penakut sebetulnya.
Pagi ini aku lihat dia bersiap-siap untuk pergi keluar, mau kemana dia, jadwal ujian sudah selesai artinya sudah tidak ada kegiatan lagi di kampus.
“Mas aku mau ke kampus hari ini mau mengembalikan buku ke perpustakaan sambil sekalian ketemu sama teman-teman untuk diskusi buat bahan presentasi nanti di Tohoku Uni” dia ternyata mau ke kampus, pasti janjian sama anak songong dan teman-temannya. Membayangkannya sudah menyebalkan, makanya aku malas menjawabnya juga. Saat aku keluar dari ruang kerja dia tampak sudah menunggu duduk di sofa.
“Mau berangkat sekarang? Aku ikut yaa sampai kantor nanti dari sana aku pakai motor online” masih berupaya untuk mendekatkan diri rupanya, huhhh dasar perempuan licik supaya diijinkan bertemu sama anak itu dia berusaha mengambil hati dengan ikut mobil bersama-sama. Aku langsung pergi ke mobil, malas menjawabnya dia terlihat bersemangat untuk pergi bersama-sama. Ehhh… kemana lagi perempuan itu katanya mau ikut, sudah lebih dari lima menit aku menunggu di mobil masih belum keluar juga… apa sih maunya.
Dan ternyata dia malah membuat bekal, mengesalkan sekali. Saat aku bentak dia seperti kaget kasihan sebetulnya, tapi dia tidak berpikir kalau aku sudah menunggu dia sepuluh menit di mobil. Sepanjang jalan terus saja merengek bau lah, sesak lah sampai menghina kalau parfum aku murahan sampai membuka jendela karena gak kuat mencium baunya, ya ampun perempuan ini benar-benar mengesalkan. Apa dia janjian dengan laki-laki itu supaya menjemputnya di pinggir jalan dan sekarang berakting mual mencium aroma parfum. Haaah gak akan aku beri kesempatan untuk pergi berduaan aku antar langsung saja ke kampusnya.
Saat di kampus tidak tampak anak laki-laki itu, dia tampak tidak terlalu bersemangat mukanya terlihat agak pucat. Mungkin gara-gara gak jadi diturunkan di jalan, jadi terlihat kesal. Saat akan mencium tangan dia terlihat mual berdekatan denganku, apa-apaan ini mengesalkan apa dia ingin menunjukkan pada orang-orang kalau dia tidak suka denganku hingga melemparkan tanganku. Langsung aku tarik dan cium saja dia di dalam mobil biar orang-orang melihat kalau dia sudah ada yang memiliki.
Aku langsung ingin tertawa melihat ekspresi kesalnya, sekarang adalah permainan mental siapa yang kuat bertahan dan paling menyebalkan dia yang menang. Dia tampak bersungut-sungut saat keluar dari mobil. Sebetulnya aku melihat kotak bekalnya tertinggal, tapi aku biarkan saja biar dia semakin kesal lagipula lumayan jadi aku bisa sarapan di kantor karena tadi belum sempat di rumah. Ternyata sandwich buatannya lumayan enak langsung aku habiskan semuanya.
Sore harinya aku berhasil pulang lebih cepat, jam tujuh kurang aku sudah sampai di rumah. Sudah beberapa hari ini sebetulnya aku pulang setiap hari sampai jam sembilan malam. Setiba di rumah saat makan malam ternyata perempuan ini sudah menaikan level permainan ke tingkat yang lebih tinggi. Dia memakai baju Hello Kitty yang dipakai saat liburan bulan madu ke Singapura dulu… Shiiiitsss… dia mengajak aku untuk adu kekuatan mental. Baju Hello Kitty yang dipakainya kompakan dengan Maura. Kalau Maura memakai baju hello kitty memang sesuai dengan umurnya terlihat lucu, tapi..tapi dia kan jadi terlihat shiiitss...shitttsss.. Baju itu mustinya dibuang waktu di Singapur dulu.. Dia terlihat sexy dan menggoda dengan celana pendek.. Kurang ajar dia sengaja berniat menggoda.
Author PoV
Hasna langsung terlihat kesal saat menerima pesan Reza yang menyebutkan kalau sandwichnya tidak enak dan Reza khawatir kalau diberikan ke OB bisa mati, artinya dia memakan sandwich itu dan bukannya berterima kasih tapi malah menghina menyebutnya tidak enak. Hasna memikirkan bagaimana caranya membalas perlakuan Reza tadi sampai ia mendengarkan percakapan anak laki-laki di sebelahnya.
“Pokoknya aku pengen beli komik-komik s*** selama di sana” terdengar suara Randi dibelakang
“Lu mau belinya yang gimana? Banyak pilihan mau yang straight atau bisa juga penyuka sesama” balas Mark
“Ahhh serius lu yang buat penyuka sesama ada juga komiknya?” Randi terdengar kaget
‘Hahahaha lu gak tau di Jepang malah lebih bebas berkreasi, mereka keliatannya aja kalem di luar Bro padahal di dalam pikiran mereka fantasinya liar...hahahhahaha” Ferdi terdengar tertawa dengan puas.
Ammera langsung melirik sinis, “Laki-laki otaknya gak akan jauh dari itu saja… gak bisa lihat cewe bohai dikit langsung antene nya jalan, mau ke Jepang bukannya nyari bahan referensi buat tesis malah mau cari komik aneh-aneh” Hasna langsung tersenyum ia sudah menemukan cara pembalasan yang paling indah untuk suaminya.
Segera setelah pulang ia langsung membongkar lemari mencari piyama andalannya, malam ini dia akan memberikan mimpi buruk untuk suaminya, kalau perlu dia akan membuat Reza untuk menggelesor memohon kepadanya. Jangan main-main dengan Hasna Humaira, kalau dulu mungkin ia perempuan polos sekarang ia sudah tahu apa kelemahan suaminya.
__ADS_1
Sore itu Hasna langsung memandikan Maura, disiapkannya baju ganti untuk kedua anaknya.
“Kakak sesekali kita pakai baju tematik yuks” Hujan menoleh, sepulang dari sekolah ia merasa lelah karena harus langsung mengikuti bimbingan belajar dan baru sampai ke rumah menjelang magrib. Hasna mengacungkan baju piyama Hello Kitty untuk dipakainya, Hujan hanya menaikan alis tanda setuju, setelah makan malam ia ingin langsung tidur.
“Punya Mola mana? Mola juga mau pake Hellow Kitty” Maura langsung menarik-narik baju Hasna. “Ini sudah Buna siapkan” Hasna langsung mengacungkan baju piyama Hello Kitty Maura.
“Ayiiik ayiikk Buna juda pake Hellow Kitty” Maura langsung menagih janji untuk memakai piyama barengan, karena dulu saat belanja online mereka bertiga memilih bersamaan. Ada tiga model yang bisa dipakai dan Hasna kebagian yang model girly karena Hujan memilih model yang sporty. Malam itu saat sedang menyiapkan makan malam Reza pulang dari kantor, asalnya ia tidak memperhatikan karena langsung masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
Reza baru sadar saat ia duduk di meja makan Maura berkata:
“Papiiii… hali ini aku, kaka, buna pakai bajunya syama syama… Papi nanti mau dibeliin baju Hello Kitty” Reza langsung mengangkat kepala dan memperhatikan ketiganya, pandangannya langsung tercekat pada Hasna yang tampak seksi dengan memakai lengan pendek dan potongan dada yang rendah. “Ehmmm… Papi laki-laki gak pakai baju perempuan” jawabnya pendek. Ia langsung melirik tajam Hasna yang melewatinya untuk mengambil air minum, betul saja celana piyamanya pendek. Reza hanya bisa mendengus, sudah tiga malam ia tidak tidur bersama Hasna sungguh perjuangan yang sangat berat.
“Kaka mau sayur bayam” Hasna mengambilkan sayur untuk Hujan, dengan sedikit membungkuk memperlihatkan semua pemandangan dibawah potongan baju itu… shitsss dia tidak memakai dalaman. Reza langsung terbatuk.. Sambil memberikan mangkuk sayur Hasna tersenyum puas kepada Hujan. “Papi juga mau sayur?” sebelum Reza sempat menjawab kembali Hasna membungkuk badannya mengisi mangkok sayur, ia menyodorkan mangkuk kepada Reza sambil membungkuk lebih bawah karena jarak kursi yang berjauhan , “sayurnya Masss” mata Reza tentu saja tidak akan fokus pada sayur tapi pada pemandangan lain yang menggantung dengan indah.
Insiden sayur berhasil membuat Reza jumpalitan, ini adalah makan malam yang terasa sangat panjang baginya. Setelah makan ia langsung masuk ke ruang kerja, Hasna tersenyum ia sudah menyiapkan serangkaian serangan lanjutan.
“Maura kita main Ludo yuks… kita belajar berhitung sambil bermain” Maura langsung mau dan berteriak kegirangan.
“Kaka kita main dudo... “ Hujan langsung menggeleng, “Kaka mau tidur cape.. Kamu main berdua sama Buna” Hujan langsung naik ke atas dan bersiap tidur. Hasna langsung tersenyum kalau dengan Maura lebih mudah untuk memanipulirnya. Ia sengaja mengosongkan meja dan membuat kotak permainan ada di tengah sehingga harus bertumpu pada dengkul. Posisi ini kalau dilihat dari ruang kerja akan sangat menggoda, tinggal membuat Maura berisik sekarang.
Maura terus tertawa gembira karena menang, teriakannya membuat Reza keluar dari kamar dan langsung berkata.
“Maura… Papi lagi kerja jangan bermain terus kamu sudah waktunya tidur” Hasna langsung menjawab “Maura sedang belajar berhitung bukan bermain” jawabnya pendek sambil memindahkan poin sehingga terjatuh dadunya dan harus memungutnya dengan elegan membelakangi Reza yang hanya bisa melongo melihat pemandangan di depannya.
“Ayo Maura kita tidur saja” Hasna membereskan permainan dengan gaya yang sensual. Terdengar pintu ruang kerja di tutup dan Hasna bisa mendengar teriakan Reza di dalam ruang kerja.. Shitsss..shittss…. Racun sudah mulai di bekerja.
Maura tidur tidak lama setelah Hasna menceritakan kisah tentang Hello Kitty, sebuah boneka yang dibuat oleh seorang ibu yang ingin anaknya sembuh dari sakit. Diakhir cerita Maura meminta Hasna untuk membuatkan boneka untuknya. Maura memang seorang anak yang cepat berpikir sebab dan akibat, Hasna mengatakan kalau Hello Kitty adalah boneka untuk anak yang sakit karena Maura sehat maka mereka berdua yang akan membuat boneka untuk anak-anak yang sakit.
Setelah Maura tidur, Hasna kembali ke kamar, ia merasa sudah puas melihat Reza yang tersiksa. Sekarang dia harus memakan harga dirinya yang digembar gemborkan tadi siang. “Aku tidak mau dekat-dekat kamu… menyebalkan banyak omong” kalau sekarang dia datang akan langsung diucapkan kata-kata itu supaya dia berpikir dua kali.
Belum sampai sepuluh menit Hasna memikirkan itu, saat sedang membereskan tempat tidur tiba-tiba saja pintu terbuka dengan keras hingga ia terlonjak.
“Berengssek kamu sengaja memakai baju itu untuk mengganggu aku” Reza langsung mengunci pintu dan merangsek menarik dan menyeretnya ke dinding. Hasna yang kaget dan tidak mempersiapkan diri hanya bengong. Tidak pernah Reza terdengar kasar dalam berbicara kepadanya.
“Apaan sih Mas” Hasna langsung berusaha melepaskan diri, tangannya ditahan ke belakang oleh Reza. “Jangan dekat-dekat tadi siang bilang gak mau dekat-dekat aku...lepas.. Aku orang menyebalkan banyak omong” akhirnya keinginannya untuk membalas ucapan Reza terbalas sudah.
"Aku sudah gak peduli kamu banyak omong atau enggak, Otak atas sama otak bawah gak pernah singkron” jawabnya pendek dan langsung menyeret istrinya ke tempat tidur.
Makanya Mas… otak musti singkron atas dan bawah… kalau belum singkron mah jangan banyak sesumbar... Ga nyangka kan kalau perempuan juga bisa licik heheheheh
__ADS_1