
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit, tapi tidak ada tanda-tanda Hasna keluar dari kamar. Pak Agus sudah terlihat mengantuk di sofa tempat menunggu. Akhirnya Aswin memutuskan untuk mengetuk kamar Hasna.
“Mbak Hasna…” tok...tok..tok Aswin mengetok kamar Hasna, terlebih dahulu ia meminta ijin pada Pak Tono. “Mbak Hasna….” tok.. tok... tok Aswin kembali mengetuk. Hinggi tiga kali Aswin mengetuk sampai akhirnya terdengar pintu dibuka.
“Ada apa Mas? Kenapa gak pulang?” Hasna terlihat masih mengenakan pakaian tadi siang blus dan celana panjang hitam.
“Saya dan Pak Agus gak bisa pulang kalau Mbak Hasna belum kembali ke rumah, saya khawatir kalau kami pulang nanti Pak Reza datang kesini dan membuat keributan” Aswin mencoba mengingatkan Hasna kemungkinan yang terjadi.
“Saya sudah tidak peduli sama dia” Hasna kemudian menutupkan pintu, Aswin segera menahan. “Maaf Mbak Hasna tapi ini kost an banyak penghuni yang lain khawatir jadi nanti membuat masalah dengan yang lain, sebetulnya...sebetulnya saya kasihan juga dengan Pak Agus dia tidak mau pulang juga kalau Mbak Hasna belum pulang” Hasna melihat ke arah ruang tunggu, Pak Agus terlihat terkantuk-kantuk di sofa. Diliriknya Aswin yang juga tampak lelah dan masih memakai baju kantor.
“Saya tidak akan pergi kemana-mana, saya tidak akan pulang ke Bandung juga kasihan Mama dan Ayah kalau saya pulang seperti ini, Mas Aswin dan Pak Agus pulang saja” Hasna mencoba menutup pintu kembali. Aswin langsung menahan dengan kakinya, “Masalahnya mba.. masalahnya Pak Reza dari tadi menelepon terus ia mau kesini, saya menahannya karena saya bilang saya yang menunggu disini, kalau saya pulang pasti Pak Reza akan kesini, kasian Pak Tono dan penghuni lain karena Pak Reza orangnya keras kepala pasti membuat ribut” Aswin menghela nafas.
Hasna termenung dan menunduk, “saya gak mau bertemu dia” ucapnya lirih.
“Hmm bagaimana kalau Mbak Hasna pulang ke rumah, tapi tidak akan bertemu dengan Pak Reza yang penting Mbak Hasna pulang, kasian Maura pasti nanti mencari-cari juga”
“Saya berjanji nanti Mbak Hasna tidak akan bertemu Pak Reza, asal Mbak Hasna pulang ke rumah dulu yaaa?” Aswin kembali mencoba membujuk Hasna yang lama kemudian terdiam sambil bersender ke dinding.
“Saya sudah cape Mas..” ucapnya lirih.
“Iya saya janji nanti akan membujuk Pak Reza supaya tidak mengganggu Mbak Hasna sampai Mbak bisa berpikir jernih.. Dalam agama juga bukannya disebutkan kalau perempuan jangan pernah meninggalkan rumah kalau ada masalah” Aswin mencoba mengingatkan, Hasna kemudian menatap lemah dan tersenyum.
“Laki-laki kalau pada saat seperti ini suka membawa-bawa agama, dimana semua aturan dan petunjuk saat mereka melakukan kesalahan pada istrinya?” Hasna tersenyum sinis.
“Iya ya Mbak...kami laki-laki suka berlindung dibalik aturan agama, tapi aturan itu dibuat untuk melindungi perempuan Mbak Hasna, supaya tidak terkena fitnah. Saya yakin Mbak Hasna perempuan yang baik tidak akan melakukan perbuatan yang tercela” Aswin terus berusaha membujuk Hasna. Hasna menghela nafas ia tidak ingin jadi mengganggu orang lain karena masalahnya dengan Reza.
“Ya saya akan turun, tapi tolong pastikan kalau saya tidak akan bertemu dia dirumah” Hasna kemudian menutup pintu.
Aswin segera membangunkan Pak Agus, akhirnya drama hari ini selesai. Ia bisa pulang mandi dan istirahat, ternyata jadi asisten bos sampai harus mengurus masalah drama rumah tangga juga. Pertama kalinya setelah hampir empat tahun ia bekerja dengan Reza.
Sepanjang perjalanan pulang hampir tidak ada suara di mobil kecuali suara lagu yang mengalun pelan dari radio.
“Pak Agus saya meninggalkan mobil di kantor. Ini kuncinya” Hasna menyodorkan kunci dari bangku belakang, “Ohh iya Bu...besok saya ambilkan mobilnya” jawab Pak Agus cepat, ia melirik Hasna lewat spion tapi muka Hasna yang tertutup dengan frame kacamata yang tebal membuat tidak terlihat dengan jelas.
Sesampainya di rumah Hasna diam di dalam mobil, ia seperti tidak ingin turun.
“Pak jangan dulu dimasukan ke dalam” ucap Hasna, ia sama sekali tidak ingin bertemu Reza, sekarang sudah jam 10 malam anak-anak pasti sudah tidur tapi Reza pasti belum, Hasna melihat mobil Reza di dalam garasi. Pak Agus tampak bingung dilihatnya Aswin rupanya tertidur sehingga tidak sadar sudah sampai ke rumah Reza.
“Pak Aswin… Pak… kita sudah sampai..Bu Hasna tidak mau masuk” Pak Agus mengguncang-guncang badan Aswin yang langsung terbangun kaget.
“Waah sudah sampai? Maaf saya ketiduran” Aswin langsung mengusap mukanya. “Bu Hasna nya gak mau turun” Pa Agus melirik ke arah Hasna, Aswin langsung mengerti.
“Sebentar ya Mbak saya cek dulu ke dalam rumah supaya Mbak Hasna bisa langsung masuk ke kamar. Ia langsung meloncat keluar dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Di dalam rumah Reza sedang duduk di ruang kerja, menatap komputer tapi tidak mengerjakan apapun, selepas menidurkan Maura ia masuk ke ruang kerja mencoba menenangkan diri. Tadi ia hampir kehilangan kesabaran saat menidurkan Maura karena anak itu terus saja merengek meminta untuk menelepon Hasna dan kemudian menolak tidur mau menunggu hingga Hasna pulang. Reza berbohong dan mengatakan kalau Hasna ada kuliah malam hari sehingga pulang terlambat. Hujan hanya menatapnya dan tidak berkata apa-apa. Maura baru mau tidur setelah Hujan memperlihatkan saat menghubungi Hasna mengatakan kalau handphonenya tidak bisa dihubungi karena habis baterei.
“Pak.. “ tampak Aswin sudah berdiri di depan pintu ruang kerja, pintu depan memang sengaja tidak dikunci.
“Bu Hasna sudah mau pulang, tapi ia tidak mau melihat Bapak, saya mohon Bapak diam di dalam ruangan jangan keluar sampai masuk ke kamar” Aswin tampak memohon dengan sangat, drama hari ini sudah hampir selesai. Jangan sampai gagal gara-gara Reza bersikeras dengan sikapnya.
“Dimana dia sekarang?” Reza langsung berdiri.
“Ada di mobil dengan Pak Agus, tapi saya mohon Bapak jangan keluar dulu sampai nanti saya beritahu” Aswin menangkupkan tangannya ke dada memohon agar Reza mengikuti perintahnya. Reza menggangguk pelan, ia tahu hari ini sudah banyak melakukan kebodohan sehingga tidak bisa banyak melakukan tawar menawar. Aswin segera menutup pintu ruang kerja Reza.
Saat Aswin mengatakan bahwa Reza sudah ada di dalam ruang kerjanya, Hasna dengan lambat keluar dari mobil, sebetulnya ia tidak untuk kembali ke rumah ini tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak ingin pulang ke Bandung dengan kondisi kacau seperti ini, ke kostan Kak Angga belum tentu ada di Jakarta dan pasti Kak Angga akan lebih emosional daripada dirinya, diam di kosan miliknya membuat Aswin dan Pak Agus harus menungguinya, akhirnya kembali Hansa mengalah tidak mengikuti ego hatinya.
Ia berjalan lambat di belakang Aswin, kalau tiba-tiba Reza muncul di depannya ia akan langsung berbalik, sebelum turun ia sudah mewanti-wanti agar Pak Agus tidak pulang dulu dan menunggu di mobil sampai 10 menit ke depan. Ternyata janji Aswin memang bisa dipenuhi, sampai Hasna masuk ke kamar ia tidak bertemu dengan siapapun. Begitu melihat Hasna masuk ke kamar Aswin langsung mengetuk pintu ruang kerja.
“Bu Hasna sudah di kamar Pak, saya pamit pulang” badannya terasa sangat lengket dan lelah. Kalau tidak khawatir dengan kondisi perempuan yang dikenalnya sebagai istri atasannya ia sebetulnya sudah ingin pulang dari tadi. Reza mengangguk dan mengikuti Aswin ke depan rumah.
“Terima kasih Win… semua pengeluaran untuk hari ini nanti aku ganti” Aswin tersenyum sumir, “Bapak kok tahu kalau ibu sudah tidak mau memakai uang dari bapak?” Reza hanya menarik nafas. “Selamat istirahat, maaf jadi merepotkan kamu” Reza menepuk pundak Aswin dan kembali masuk ke rumah.
Di kamar Reza merasa tidak tenang, hari ini pertemuan terakhir dengan Hasna adalah saat mereka berdua bertengkar dengan hebat. Di saat tenang seperti ini ia jadi ingat Hasna yang menangis dan marah karena ia menyebut istrinya piala bergilir. Ingin rasanya memukuli diri sendiri karena tidak bisa mengendalikan ucapannya hanya karena melihat Hasna terlihat tertawa lepas dan asyik mengobrol dengan Arya. Rasa kesal pada dua laki-laki yang berbicara dengan akrab dengan istrinya membuat Reza lepas omongan.
Semalaman ia jadi tidak bisa tidur, perasaannya campur aduk antara perasaan bersalah, khawatir, merasa malu dan kerinduan ingin melihat istrinya. Hingga saat pagi hari ia segera bangun berharap bisa melihat Hasna bangun dan menyiapkan Maura untuk berangkat sekolah. Tapi harapan Reza sia-sia belaka, hingga jam menunjukkan 6.30 pagi Hasna tidak ada tampak keluar dari kamar hingga Maura akhirnya turun karena dibangunkan oleh Hujan.
“Papiiiiii Buna manaaa?” suara Maura di tangga mengalihkan perhatian Reza dari laptop. Dari subuh ia mencoba menunggu Hasna di meja makan.
“Hmm ada di kamar, coba sama Maura dibangunkan mungkin ketiduran soalnya tadi malam Buna pulangnya malam” Reza mencoba memanfaatkan Maura yang langsung naik kembali keatas menuju kamar Hasna.
“Bunaaa...bunaaa pintunya kanapa di kunti mola mau masyuk” Maura terus memukul-mukul pintu kamar.
“Mauraa…. Buna sakit flu berat jadi gak bisa keluar kamar… Maura mulai hari ini dibantu sama kakak dan Mbak Jumi yaaa siap-siap ke sekolahnya” terdengar suara Hasna dibalik pintu.
“Buna syakit apah? Mola mau liat” Maura memaksa mau masuk dan melihat ke lubang kunci.
“Buna kena virus, kalau virusnya kena ke Maura nanti badan Maura sakit semua” ucap Hasna, “Sekarang Maura mandi yaaa, kemudian sarapan jangan sampai terlambat nanti Maura harus membereskan sepatu teman-teman lagi dihukum sama Teacher” Hasna mencoba mengalihkan perhatian Maura.
“Iyaaa… tapi nanti siapa yang bitinin Mola bekal syekolah” Maura ingat kalau ia selalu dibuatkan bekal oleh Hasna. Lama terdiam baru kemudian Hasna bicara.
“Maura buat bekal sendiri yaaa… nanti lapor sama teacher kalau Maura membuat bekal sendiri karena Buna sakit” ucap Hasna, “Maura nanti buat bekalnya yang banyak yaaah, sekalian tolong buatkan untuk Buna juga soalnya Buna belum makan”
“Buna mau Mola buatkan lotiiii?” Maura terdengar bersemangat.
“Iya mau mau… sama minum susu coklat juga” sekarnag terdengar Hasna yang bersemangat.
“Iya nanti Mola bikinin syusyu coklat sama loti buat Buna” Maura langsung beranjak dari pintu kamar Hasna.
__ADS_1
“Tapi sekarang Mola mandi dulu yaah, balu nanti bikin syusyu sama loti coklat” ia kembali berbalik dan berteriak sebelum masuk ke kamar.
Pagi itu diisi kesibukan yang tidak biasa, Mbak Jumi tampak sibuk menyiapkan bekal untuk keduanya, Reza sesekali melihat ke kamar atas, tapi Hasna tak kunjung turun. Hingga akhirnya Maura dan Hujan turun sudah lengkap mengenakan seragam. Hujan tampak cemberut.
“Aku jadi kesiangan nyiapin ade, musti dipakein baju seragam sekarang belum sarapan lagi. Buna sakit apa sih Papi sampai gak bisa keluar kamar khawatir menular” Hujan langsung menuangkan sereal ke dalam mangkuk yang sudah diisi susu.
Reza gelagapan ia tidak tahu kalau Hasna membuat alasan itu,
“Hmmm kmarin kecapekan mungkin flu” jawabnya singkat, Ini berarti harapannya untuk bisa melihat Hasna pupus sudah.
“Mola mau buat bekal syekolah sendili, Papi mau bekal loti? Mola mau buat yang banak sama buat Buna” Maura asyik mengolesi roti dengan selai. “Kaka bisa buatin susu buat Buna? Mola nda bisa bikin syusyu?” Maura menatap Hujan dengan penuh harap.
“Kaka mau berangkat sekarang sudah kesiangan, sarapannya dimobil aja, susunya dibuatin sama Papi aja… Papi aku pamit berangkat sekolah bilangin sama Buna nanti aku tengok kalau pulang sekolah…. Dah Adeeee” Hujan langsung berangkat pergi ke sekolah. Untunglah bekal makan siangnya sudah disiapkan oleh Mbak Jumi, rupanya saat Hasna tidak turun di pagi hari Mbak Jumi langsung sigap membuat bekal sendiri.
“Papi buatkan susu sekarang” Reza langsung membuat susu untuk Hasna, besar harapannya bisa bertemu dengan istrinya kalau nanti mengantarkan susu.
“Papi pegangin gelas syusyu nya Mola mau bawa loti” Maura meminta Reza membawakan gelas susu saat ia naik ke atas.
“Bunaaa ini lotiii sama syusyu nya… katanya Buna lapeell” Maura berteriak-teriak di depan kamar Hasna.
“Bunaaaaa… bunaaaa ini loti sama syusyu nyaaaa” Maura memukul mukul pintu dengan tangannya yang mungil. Tak berapa lama kemudian terdengar suara Hasna.
“Iya terima kasih sayang… Simpan di depan pintu nanti Buna ambil...Maura sekarang siap-siap berangkat kesekolah yaaa, jangan lupa doakan Buna supaya cepat sembuh” suara Hasna memang terdengar bindeng.
“Syusyunya diminum yaa bial Buna cepat syembuh” Maura berteriak dengan sepenuh hati.
“Iyaaa.. Maura sekarang cepat turun, supaya Buna bisa ambil susunya, kalau Mola liat Buna nanti kena virus” Hasna seperti ingin memastikan agar Maura tidak berada di depan pintu.
“Iyaaaa… ayo Papi kita tulun… kata Buna nda boleh dedat nanti ketulalalan” Maura menarik Reza yang bersender di dindin seberang kamar Hasna. Hasna pasti mendengar itu, karena hingga ia baru mengambil susu dan roti lama setelah Reza dan Maura turun.
Reza hanya bisa menatap ke pintu kamar Hasna, ia harus berangkat ke kantor sekalian mengantar Maura sekolah. Susu dan roti sudah tidak nampak di pintu kamar artinya Hasna sudah mengambilnya, ia sama sekali tidak bisa melihat istrinya, ingin rasanya mengetuk pintu dan menanyakan kabar Hasna. Apakah benar ia sakit atau hanya sekedar alasan supaya tidak usah bertemu dengannya tapi ia tidak memiliki keberanian untuk membuka pintu kamar istrinya. Jangan membuka pintu untuk mengetuk pintupun rasanya ia malu.
“Buna… Mola pelgi syekolah dulu… Buna bobo istilahat yaa, nanti kalo Mola pulang syekolah ditemanin lagi…. Assalamualaikum” Maura pamit di pintu kamar Hasna.
“Iya walaikumsalam…. Selamat belajar yaaa solehahnya Buna.” terdengar sahutan di belakang pintu.
“Papi pamit dulu sama Buna!” Maura langsung memerintahkan Reza untuk pamit ke depan pintu. Reza tercekat, ia sama sekali tidak menyangka harus berbicara juga oleh Maura.
“Papi tepetan pamit dulu… bial Buna tepet syembuh” Maura mendorong Reza ke depan pintu.
“Aku berangkat dulu… kamu istirahat” pelan Reza mengucapkan dengan ragu dan pelan, tidak terdengar jawaban apapun dari dalam kamar. Reza menghela nafas, apa yang bisa diharapkan dari perempuan yang sedang marah pada suaminya, kecuali menunggunya reda dari kemarahan.
“Papi ayo tepetan nanti Mola mesyti belesin syepatu kalau telambat” Maura sudah berlari turun. Reza menatap kamar Hasna sekali lagi, berharap ada jawaban atas ucapannya, tapi tidak terdengar suara apapun dari kamar.
__ADS_1
“Mbak… nanti siang tanyakan Bu Hasna mau makan apa? Kalau gak mau turun nanti siapkan saja makanan di depan pintu kamarnya, dia lagi sakit jadi gak mau turun” Reza memerintahkan Mbak Jumi untuk bisa menyiapkan makan untuk Hasna. Hari ini perasaannya dilputi oleh kegamangan dan hatinya terasa kelabu, tidak hujan tapi terasa gelap dan berat dalam menjalani pagi ini.
Masa Karantina dimulai…….