Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Update Status itu Penting


__ADS_3

Reza menggenggam erat surat Hasna, bibirnya terkatup rapat,


“HASSSSNAAAAAA…” Ia hanya bisa berteriak tertahan, hatinya diliputi perasaan bersalah. Terbayang saat istrinya muntah-muntah dipinggir jalan karena merasa tidak kuat dengan bau parfumenya. Saat itu ia merasa tersinggung, seadainya ia tahu kalau saat itu Hasna hamil ia tidak akan marah.


Muncul dalam ingatannya wajah Hasna yang tampak pucat dan lemas, masih memaksakan diri untuk mengurus anak-anaknya. Saat pertengkaran mereka terakhir dia datang ke kantor untuk mengabarinya tentang kehamilan tapi mereka berdua malah bertengkar hebat. Reza menangis tergugu, dadanya sesak oleh penyesalan yang mendalam. Hampir satu jam ia menangis dalam diam, suasana rumah yang sepi membuatnya semakin merasa sunyi.


Ditariknya nafas, ia harus bisa berpikir jernih jangan sampai terbawa lagi oleh emosi sehingga membuat semua lebih berantakan. Ia turun dari tempat tidur, diusapnya air mata yang masih membasahi pipinya, kemudian mengusap mata untuk meluruhkan air matanya, melangkah keluar dari kamar dan melihat suasana di ruang tengah.


Terbayang Hasna yang menggodanya dengan pakaian piyama Hello Kitty, bercerita tentang Jurig Bala-bala, menemani anak-anak bermain dan belajar di ruang tengah. Pandangannya beralih ke meja makan seperti melihat bayangan Hasna yang tampak berlari-lari dari ruang makan ke dapur, membawa bekal makanan anak-anak sambil sesekali menyuapi Maura. Duduk di meja makan menemaninya sambil bercerita tentang kegiatannya hari ini dengan penuh semangat.


Terakhir yang terekam dalam ingatannya adalah muka Hasna yang sedang makan dengan lahap. Rupanya ia mengantarkan Maura sampai terlupa sarapan dan begitu sampai ke rumah ia langsung makan dengan lahap, ibu hamil pasti akan mudah merasa lapar karena harus mengisi energi bersama dengan janin di perutnya. Hasna tidak pernah memintanya membawakan makanan apapun padahal ia sedang hamil. Pasti istrinya sangat kecewa padanya sampai menyembunyikan kehamilan selama berhari-hari darinya.


Reza naik ke lantai dua, matanya tertuju ke kamar istrinya. Saat masuk di kamar  Reza merasa terasa sangat kosong, ia mengerutkan dahi. Terlalu rapi tidak ada pakaian yang tergantung ataupun terlipat seperti biasanya, ia rupanya membereskan kamarnya dulu sebelum pergi sehingga tampak seperti kamar yang tak berpenghuni. Hanya ada tambahan meja belajar yang sering dipergunakan Hasna untuk mengerjakan tugas-tugas, bayangan istrinya yang sedang duduk mengerjakan tugas muncul dalam ingatannya.


Ia ingat betapa Hasna sangat berterima kasih karena sudah membantu mengerjakan sebagian dari tugasnya. Memeluknya lama di pagi itu dan berterima kasih dengan memberikan banyak ciuman ke mukanya. Reza tersenyum dengan kenangan itu, kenapa ia tidak bisa mengingat banyak senyuman di muka istrinya saat mereka sedang berduaan. Saat Reza membuka lemari pakaian ia terhenyak.


Lemari itu kosong, hanya ada 3 pakaian yang terlipat disana, dibukanya pintu lemari yang satu lagi tempat menggantungkan pakaian. Sama hanya ada satu jaket tergantung di lemari, ia menarik nafas. Reza ingat Hasna beberapa kali membawa tas besar saat mengantarkan Maura, rupanya ia sudah merencanakan pergi dari rumah ini sejak lama.


Reza terduduk di kursi, mengapa ia sampai tidak mencurigai ini ia tidak berpikir sampai sejauh ini. Ia tidak berpikir kalau Hasna sampai senekad dan sebenci itu pada dirinya. Perlahan dibukanya laci meja belajar ada beberapa barang di dalamnya, Reza mengerutkan kening ada handphone di dalam laci itu. Ditariknya keluar sehingga handphone itu semakin nampak, ia merasa mengenali handphone ini. Ini handphone Mitha...kenapa ada di laci kamar Hasna.


Dicobanya dihidupkan handphone itu tapi tidak bisa hidup… hmm kenapa Hasna menyimpan handphone Mitha, diusapnya handphone itu dengan senyuman sedih.


“Mitha… aku mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu… kebodohan yang sama. Kenapa kamu menikah dengan aku lelaki bodoh Mith” Reza berbicara sendiri sambil mengusap handphone mitha dengan tangan kanannya. “Mith… kamu kan yang meminta Hasna untuk menjaga anak-anak… suruh dia pulang lagi kesini Mith…” Reza duduk dan menghela nafas, selama ini ia tidak pernah mencoba berkomunikasi dengan Mitha tentang Hasna.


“Mith.. aku musti gimana sekarang?” Reza menghela nafas akhirnya dia membaringkan tubuhnya di kasur Hasna. Tercium aroma Hasna di bantal, ia tersenyum terbayang istrinya yang suka tidur ngiler di kasur. “Rara kamu sekarang jangan ngiler di kamar hotel..nanti disangkanya orang Indonesia jorok” ia tersenyum, ingat saat Hasna sedang tertidur di mobil dan selalu mangap.


“Ra ke Jepang itu perjalanannya lama… kamu harus banyak bergerak supaya tidak pegal” ia menghela nafas, mencium bantal yang ditidurinya, ada aroma tubuh Hasna disana. Tubuhnya yang lelah mulai terasa rileks dan tenang. “Ra kamu jangan pergi terlalu lama… “ Reza terlelap oleh rasa lelah fisik dan perasaan yang dialaminya hari ini.


Keesokan harinya, Reza terbangun dengan perasaan yang lebih tenang. Matanya menatap ke sudut kanan kamar, biasanya Hasna sholat disana, ia sering menolak sholat berjamaah dengan Hasna, alasannya lelah atau mau istirahat dulu, tapi sebetulnya Reza sudah lupa surat-surat pendek kalau ia harus mengimami istrinya. Beberapa kali ia harus mengulang surat dan akhirnya hanya membacakan surat pendek yang ia hapal saja.


“Kamu kenapa gak pernah protes kalau aku salah baca surat sih Ra… mustinya kamu tuh protes biar aku ngapalin lagi surat-surat pendek biar bisa jadi imam yang bener” Reza tersenyum sinis dan kemudian bangun dan mengambil air wudhu. Setelah menjalankan sholat subuh dia melihat Al Quran yang biasa Hasna simpan di dekat tempat sholat, dilihatnya sudah lama sekali ia tidak pernah mengaji, ia sudah lupa bagaimana membaca Al Quran ternyata banyak sekali hal yang ia lupakan selama ini.


“Mas… jangan lupa ngaji… kalau tidak dibiasakan nanti lupa dan semakin kaku.. Maura sekarang sudah Iqro 3, nanti bisa-bisa lebih jagoan Maura mengajinya” Reza tersenyum ia ingat saat Hasna mengingatnya untuk mengaji, waktu itu ia hanya mengangkat alisnya sebagai isyarat mengerti. Tapi sampai sekarang ia tidak pernah melakukannya, disimpannya Al Quran dan kemudian beranjak keluar dari kamar.


“Tuan mau sarapan sekarang?” Mbak Jumi langsung menawari sarapan saat melihat Reza turun dari atas.


“Nanti saja Mbak… ada yang mau saya urus dulu” Reza bergegas ke ruang kerja, jam sudah menunjukkan 5.30 pagi. Tadi malam ia mendapatkan pesan kalau Aswin pulang dengan pesawat terakhir dari Surabaya.


“Win sudah bangun? Kalau sudah tolong telpon aku ada perlu” Reza mengirimkan pesan singkat.


Reza berusaha mengingat-ingat nama Universitas yang akan dikunjungi Hasna untuk studi banding tapi tetap saja tidak ingat. Tak lama terdengar handphone nya berbunyi.

__ADS_1


“Selamat pagi Pak. Bagaimana apakah sudah ada kabarnya Bu Hasna?” suara Aswin terdengar masih serak, tampaknya ia baru bangun.


“Sampai jam berapa kamu di rumah? Bagaimana apakah ada pertanyaan atau keinginan dari pihak investor sekaitan dengan rencana kedepan” kemarin Reza langsung berangkat setelah mereka selesai menyepakati poin-poin kerjasama.


“Malam jam 11 pak sudah sampai di rumah. Tidak ada masalah apapun pak alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik. Kemarin saya sempat menemani mereka melihat lokasi  rekreasi di Surabaya sebentar. Rencananya siang ini mereka kembali ke Jepang” Aswin memang asisten yang bisa diandalkan.


“Win coba kamu cek kalau pengurusan visa ke Jepang sekarang berapa hari? Kalau hanya dua atau tiga hari saya akan berangkat” Reza langsung menginformasikan soal rencananya untuk menjemput Hasna.


“Ada masalah pak? Bukankah memang rencananya Bu Hasna akan mengikuti studi banding ke Jepang dulu bapak cerita, sehingga saya diminta untuk mentransfer untuk temannya juga” Aswin merasa heran kenapa Reza sampai tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.


“Ada hal yang harus saya urus, lagipula semua urusan dengan investor kan sudah selesai” Reza tidak ingin masalah rumah tangganya menjadi masalah umum, terlalu memalukan.


“Oya.. saya minta tolong carikan charger untuk iphone 5S..” Aswin langsung berkerut dahinya, itu tipe handphone lama, tapi ia memilih untuk tidak banyak bertanya.


“Baik pak nanti akan segera saya urus, nanti Bapak sampai ke kantor saya siapkan informasi dan chargernya” Reza tersenyum ia memiliki orang yang dapat diandalkan disaat dirinya sedang mengalami kesulitan.


Reza sampai di kantor jam sepuluh pagi, setelah menelpon Aswin ia memutuskan untuk kembali tidur, beristirahat supaya bisa mengumpulkan energi. Sesampainya di kantor dilihatnya Aswin sudah duduk di meja kerjanya.


“Jam berapa kamu sampai ke kantor? Gak istirahat dulu” Reza melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya.


“Sudah cukup Pak tadi saya tidur enam jam..di pesawat juga kan sempat tidur Pak” Aswin tersenyum dan memberikan dokumen yang perlu ditandatangani Reza. Diberikannya charger handphone yang diminta Reza.


“Pak ini saya temukan tas berisi kue dalam toples, kayanya dibawa ibu waktu dulu ke kantor, kmarin saya tidak lihat. Tadi Office Boy menemukannya di bawah meja sudut” Aswin memberikan kantung kertas berisikan kue cookies buatan Hasna. Reza termangu, ia ingat isi surat Hasna yang bermaksud memberikan kejutan di hari itu.


“Dan soal visa ke Jepang saya tadi cek di websitenya tujuh hari kerja pak pengurusannya, paling cepat lima hari” Reza menghela nafas, kalau sekiranya Hasna tetap pada schedule awal hanya seminggu artinya begitu visa selesai istrinya sudah pulang. Ia hanya mengkhawatirkan kalau Hasna benar-benar memperpanjang waktu kunjungannya seperti yang diceritakan kepada keluarganya.


“Ya sudah saya tunggu saja” jawab Reza pendek, ia hanya harus bersabar selama satu minggu. Saat Aswin keluar, Reza segera membuka kantung kertas yang berisi kue buatan Hasna. Ia tersenyum melihat kue kesukaannya yang dibuatkan oleh Hasna, perlahan diambilnya satu dan dimakan dengan penuh perasaan. Tiba-tiba ia merasa hatinya terasa sakit, terbayang saat Hasna membuat kue dengan penuh suka cita untuk memberi tahu tentang kehamilan dan berakhir dengan pertengkaran.


Saat ia mengambil kue yang kedua ia melihat ada kotak kecil yang diikatkan pada tutup jar.. Seperti hiasan tapi bukan apa ini pikirnya, dibuka dan Reza langsung tercekat hasil test pack. Matanya langsung berair, Hasna bermaksud memberikannya kejutan dengan kue yang dikalungi hasil test pack, dilihatnya ada kertas kecil di dalamnya. Surat kecil kedua dari istrinya.


“Boy or Girl?”


“No matter its a boy or girl I know you will be a great father” air mata Reza langsung jatuh membacanya. Hasnaa…. Saya mungkin bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak tapi kenapa saya tidak bisa menjadi suami yang baik. Reza menarik nafas, kue yang ada di tenggorokannya terasa sulit ditelan.


Saat Reza menatap jar kue dengan perasaan sendu Aswin masuk ke ruangan, ia langsung berhenti dan memandang Reza dengan bingung. “Maaf pak… saya mengganggu” Aswin langsung menutup pintu kembali. Reza menoleh dan memanggilnya “Win masuk aku butuh pertimbangan kamu”


Reza merasa kalau Aswin sudah tahu kalau ia dan Hasna mengalami masalah semenjak pertengkaran kemarin, akhirnya Reza menjelaskan pada Aswin  semenjak pertengkaran itu hingga Hasna pergi ke Jepang ia tidak bisa melakukan kontak dengannya karena Hasna meninggalkan handphonenya di mobil dengan sengaja.


“Bu Hasna sengaja meninggalkan handphone supaya Bapak tidak melakukan kontak” Aswin menggelengkan kepalanya. “Nekad yaa Pak … itu seperti memutus komunikasi tidak ingin lagi berbicara dengan siapapun ”  Reza menarik nafas panjang. “Dia sedang hamil Win… aku khawatir terjadi sesuatu dengannya… kemarin kondisinya terlihat lemah” Mata Aswin langsung membulat, wah lain ceritanya kalau sedang hamil harus segera diketahui keadaannya.


“Handphone nya dibawa Pak?” Aswin tampak bersemangat, ia sudah bosan mengurusi proyek investasi. Cerita Reza tentang Hasna membuatnya merasa ingin memecahkan masalah menemukan cara berkomunikasi dengan perempuan yang ia kenal baik itu.

__ADS_1


Reza mengangguk, ia mengambil dan diserahkan kepada Aswin.


“Tidak memakai pasword Pak?” Reza menggelengkan kepalanya, semalam ia menghidupkan handphone baru disadari kalau tidak ada pesan yang masuk karena sim card nya tidak ada.  “Sim card nya dicabut” ucapnya.


Aswin menghidupkan handphone dan melihat kalau sim card sudah diambil, tapi berdasarkan pengalamannya selama bisa terkoneksi ke internet beberapa aplikasi selama tidak log out masih akan tetap bisa hidup dan update beritanya. Aswin langsung menghubungkan perangkat hp dengan wifi di ruangan Reza, dan begitu tersambung langsung notifikasi pesan masuk bertubi-tubi masuk.


“Hebat kamu kepikir kesana, saya tadi malam tidak berpikir kesana” Reza langsung membuka aplikasi pesan dan ia langsung terhenyak saat melihat foto-foto yang ada di grup kelas Hasna.


“Dia memakai kerudung sekarang” ucapnya pelan, matanya tampak berair, istrinya terlihat tidak ceria, mencoba tersenyum tapi tatapan matanya terlihat sendu, tidak ceria seperti biasanya.


“Wahh Bu Hasna hebat, meninggalkan rumah langsung menutup aurat supaya tidak mengundang fitnah mungkin Pak” Aswin mendekat dan melihat handphone Hasna yang digenggam Reza.


“Banyakan yah Pak ada 1,2,3,4,5,6,7,8 orang yang ikut. Kalau kita mau tahu aktivitas mereka bisa lewat sosial media, biasanya mereka ada yang update di instagr*m atau sosial media lainnya. Bu Hasna punya sosial media kan Pak?” Aswin memandang ke arah Reza yang langsung menggeleng lemah.


“Saya tidak tahu, dia pernah meminta saya membuka sosial media tapi saya menolak. Tapi kayanya dia punya” Aswin langsung membuka aplikasi yang ada di handphone. Ia langsung tersenyum


“Bu Hasna punya banyak sosial media Pak.. ini” Aswin menunjukkan beberapa aplikasi yang terinstal di handphone Hasna.


“Biasanya orang yang aktif di sosial media akan rajin mengupdate aktivitasnya disana..mungkin Bu Hasna update selama di Jepang” Aswin kemudian membuka aplikasi faceb**k dan ternyata postingan terakhir Hasna bulan lalu, kemudian membuka instagr*m juga sama bulan lalu. Sedangkan twit**r lebih lama lagi setahun yang lalu.


“Bu Hasna rupanya tidak terlalu aktif sosial medianya, ini postingan bulan lalu, mudah-mudahan temannya yang ikut sekarang aktif bersosial media” Aswin langsung mencari postingan teratas dan aktivitas sosial media.


“Hahhahaah ketemu Pak” Aswin langsung berteriak gembira, ia merasa menemukan jackpot. Ada story yang update tadi malam, untung saja belum terhapus. Ia langsung menyerahkannya pada Reza.


“Ini postingan saat tiba di Jepang tampaknya” Reza memperhatikan instagr*m yang ditunjukkan Aswin. Akunnya bernama Call_me_Dy sungguh nama yang aneh. Disana ia melihat beberapa aktivitas di bandara, Hasna yang berjalan bersama teman perempuannya, mereka sedang mengambil bagasi dan kemudian didekati oleh laki-laki itu. Reza tersenyum ia merasakan kerinduan yang teramat sangat melihat wajah istrinya. Dia memakai kerudung, terlihat berbeda lebih cantik dengan hidungnya yang kecil dan matanya yang bulat. Walaupun terlihat lelah tapi masih tersenyum.


Reza bersyukur kalau Hasna terlihat lebih baik dalam video itu, perasaan sesak mulai menghilang dan digantikan dengan kelegaan, ia tidak ingin istrinya menderita saat sedang mengandung sekarang.


“Bisakah kita menyimpan video ini?” Reza memberikan handphone kepada Aswin yang langsung mengangguk.


“Saya download dulu aplikasi untuk memindahkan status supaya bisa di save Pak sebentar” Aswin langsung mengutak ngutik handphone Hasna.


Saat Aswin mengurus handphone Hasna, Reza meraih handphone Mitha dan melihat kalau sudah hidup setelah di charger. Dihidupkannya handphone Mitha dalam hatinya ia mengingat kalau dulu ia tidak pernah tahu banyak tentang handphone istrinya, Mitha jarang beraktivitas keluar sehingga ia tidak terlalu ingin tahu kegiatan istrinya apa. Setelah menikah dengan Hasna sekarang ia jadi ingin tahu apa yang Mitha lakukan disaat terakhir dulu, kenapa dia sampai tidak ingat pada handphone ini saat Mitha meninggal.


Reza membuka aplikasi pesan dan dahinya berkerut, semua pesan sudah terbuka padahal ditanggal istrinya telah meninggal. Rupanya Hasna sudah membuka semua pesan-pesan yang ada di dalamnya, kenapa dia berani membuka handphone Mitha dan tidak memberitahunya,  empat tahun kebelakang ada dimana handphone ini sampai ia tidak pernah melihatnya.


Reza melihat pesan dari nomor yang tak bernama, langsung menarik perhatiannya karena ini artinya ada orang yang tidak dikenal Mitha mengirimkan pesan dan Reza langsung terhenyak. Ia langsung terduduk di kursi melihat foto yang ada di pesan itu. Aswin langsung menoleh  melihat Reza yang terlihat kaget.


“Ada apa Pak..”


Apa cobaaaa? Kageeet kan... makanya jangan suka curigaan sama orang lain, sendirinya mencurigakan.

__ADS_1


__ADS_2