Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Kena Smack Down


__ADS_3

Acara makan makan siang berlangsung penuh dengan tawa sampaikan tidak terasa waktu sudah lewat jam istirahat siang.  Baru sadar jam lewat jam 13 saat Pak Aswin menghampiri dan berpamitan terlebih dahulu dengan memberikan penekanan pada kata-katanya.


“Walaupun Pak Reza meminta saya untuk tidak mengganggu, saya hanya ingin mengingatkan kalau sekarang sudah melewati jam 13 khawatir ada agenda rapat dengan pihak lain” ucapnya sambil menatap Bu Rika.


Bu Rika langsung tersentak ia baru ingat kalau jam 3 ada jadwal pertemuan dengan Manager dari Pabrik Cabang.


“Hasna, kamu tidak usah menunggu sampai jam 5 kalau sudah selesai semua urusan file kerjaan. Sudah bebas jangan terbebani sama jam kerja”


“Okidoki” jawab Hasna.


Akhirnya mereka berempat bergegas meninggalkan restaurant. Hasna memisahkan diri karena akan sholat di mushola lantai dasar. Kemarin semua perlengkapan pribadi sudah diangkut ke kost an, tidak ada lagi mukena di kubikelnya


Sebelum sholat terdengar notifikasi pesan masuk. Ting-ting


Darth Vader


“Kamu pulang sekarang! kita jalan dulu beli perlengkapan seserahan”


“Iya, tadi juga Bu Rika bilang kalau aku bisa pulang sekarang”


“Mau sholat dulu, nanti kalau Mas Reza sudah siap aku ke basement”


“Kalau sudah siap, kamu ke lantai 9 saja, nanti kita barengan ke basement”


“Hadeuh apa bedanya, meni gak mau nunggu di basement sampai musti dijemput ke lantai 9 segala” pikir Hasna


“Kemarin katanya jangan ke lantai 9 dulu, sekarang malah nyuruh ke lantai 9. Amnesia kayanya”


Akhirnya setelah Hasna selesai sholat dan membawa sisa perlengkapan pribadi yang tertinggal, ia naik ke lantai 9.


Ting. Lantai 9


Tidak tampak siapapun disana, syukurlah pikir Hasna, tampaknyanya gedung ini untuk saat terakhir ingin meninggalkan kenangan yang baik.


Dihampirinya ruangan Reza, tidak dampak Aswin disana, mungkin sedang di dalam dengan Reza pikir Hasna.


Diketuknya pintu dengan perlahan.. Tok tok tok.. Terdengar suara percakapan di dalam.. Tok tok tok… Hasna kembali mengetuk pintu tapi lebih keras.


“Masuk” terdengar suara Reza


Hasna membuka pintu dengan perlahan dan terlihat Arcy sedang berbicara di samping meja Reza sambil berdiri dan Reza duduk di kursinya, mereka berdua sedang membahas sesuatu.


“Sudah siap, ok tunggu sebentar yah, saya selesaikan dulu pekerjaanku”


“Kalau masih sibuk saya tunggu di ruangan Pak Aswin saja Mas” ucap Hasna kembali mengulang kata andalan panggilannya kalau di depan Arcy.


Arcy tampak mendengus melihat kedatangan Hasna, serta merta sikap tubuh berubah dan tampak merapat mendekat ke arah kursi Reza.


“Tunggu di sofa sebentar ya Na.. kalau mau minum ambil saja sendiri sudah hapal kan” kemudian Reza melanjutkan diskusi dengan Arcy. Terdengar beberapa kali Arcy tertawa disela-sela percakapan, entah apa yang ditertawakan rasanya tidak ada yang lucu dan menarik menurut pikiran Hasna. Hampir 10 menit Hasna menjadi nyamuk di ruangan itu, Reza tampak masih asyik berdiskusi … kalau sekiranya masih kerja ngapain juga ngajak pulang bareng pikir Hasna.


Tak lama terdengar ketukan pintu dan Aswin langsung masuk, ia tampak kaget melihat Hasna ada duduk di sofa dengan tampang bete sedangkan Arcy dan Reza sedang sibuk mendiskusikan bahan pekerjaan di meja Reza.


“Eh ada Mbak Hasna, sudah lama?” tanya Aswin sambil melirik ke arah Reza dan Arcy.


“Sudah 10 menit lebih” jawab Hasna agak keras maksudnya supaya Reza mendengar dan paham kalau dia sudah menunggu cukup lama.


“Terima kasih tadi jurnalnya, kebetulan agenda punya saya sudah hampir habis jadi sangat bermanfaat nanti” Aswin tersenyum cerah, ia sangat senang dengan jurnal pemberian Hasna.


“Syukurlah kalau Mas Aswin suka sama jurnalnya” Hasna sengaja agak keras bicara untuk mengimbangi suara tertawa Arcy yang terdengar overacting.


“Mas kebetulan ketemu dulu, saya mau minta tolong kalau ada sekiranya ada lowongan untuk tenaga finance atau administrasi, saya punya teman yang sedang mencari pekerjaan” Hasna tiba-tiba teringat temannya Gina yang mencari pekerjaan,


“Dulu CV dan surat lamaran sudah saya masukan ke HRD tapi katanya sampai sekarang belum mendapatkan panggilan” Hasna masih ingat dia yang memasukan CV Gina ke HRD.


“Owh berikan pada saya nanti kalau saya ketemu Manager HRD akan langsung saya minta panggil kalau ada posisi kosong, kan di tim TnD sekarang kosong, kalau Rika setuju bisa menggantikan Mbak Hasna” Aswin berpikir cepat untuk dimasukan ke bagian training and development.


“Anaknya rajin Mas dan fokus kalau bekerja, hanya dia suka gak pede sama pekerjaan dia jadi musti dipahami kalau awal-awal kerjaannya agak loading, tapi kalau sudah paham kerjaan dia sangat bisa diandalkan” Hasna bersemangat mempromosikan Gina.


“Eh saya ikut ngeprint di komputer Mas Aswin boleh? CV dia ada di email saya.” tanya Hasna.


“Boleh silahkan” mereka langsung berdiri dan berjalan keluar.


“Hasna …. Mau kemana kamu?” Reza langsung berteriak melihat Hasna berjalan keluar bersama Aswin.


“Ngeprint diruangannya Mas Aswin” jawabnya sambil berjalan keluar.


“Ngeprint apa? Disini juga bisa… kesini kamu” ucapnya keras.


“Gak ah… diruangan Mas Reza berisik!” Hasna keluar dari pintu dan kemudian mendekati meja Aswin.


“Eh kamu…” brak pintu ruangan  ditutup oleh Hasna, rasa kesalnya dengan sikap Reza dan Arcy yang tidak memperdulikan kehadirannya, membuatnya merasa muak.

__ADS_1


Tak berapa lama, pintu kembali terbuka. Reza keluar dengan muka kesal.


“Di meja saya juga ada komputer dan printer, kamu bisa memakai komputer saya”


“Kenapa sih kamu susah sekali diatur kalau saya kasih tahu” tangan Hasna langsung ditarik masuk kembali ke ruangan.


“Mas kalau masih sibuk bekerja lanjutkan saja jangan terganggu”


‘Saya mau pulang saja”


“Tunggu sebentar ini, hanya tinggal sedikit lagi koordinasi pekerjaannya”


“Sudah kamu ngeprint di ruangan saya, begitu selesai ngeprint saya sudah selesai” sambungnya sambil menarik Hasna ke meja kerjanya.


Reza mendorong Hasna duduk di mejanya melewati Arcy yang tampak berdiri cemberut dengan melipat tangannya di dada.


“Jangan meninggalkan kantor kalau sekiranya pekerjaan belum selesai” ucapnya sambil tersenyum sinis.


“Jangan suka nimbrung kalau tidak tahu duduk permasalahan” jawab Hasna sambil mencebik


“Kamu berani sama saya” Arcy langsung bergerak maju


“Siapa takut memangnya kamu Malaikat Izrail” jawab Hasna


“Malaikat apa? Perempuan ini kurang ajar” Arcy langsung maju merangsek ke arah Hasna


“Hahahahha nama malaikat aja gak tau.. Bisa langsung mati dicabut nyawa gak pake kenalan dulu.. Langsung Hekkkk” Hasna menirukan gerakan disambit leher oleh tangannya.


Reza yang berada di tengah-tengah kedua perempuan itu langsung memposisikan menutupi Hasna oleh tubuhnya.


“Arcy, sudaaaah… jangan sampai keluar surat peringatan ke2. Kamu nanti yang akan menyesal” ucapnya


“Aku gak perduli, selama perempuan ini mati duluan” Arcy langsung maju tangannya sudah merangsek untuk meraih Hasna.


“Hahahhahaha sini kalau berani… nenek nenek kaya kamu yang sudah dipastikan mati duluan” Hasna mentertawakan tangannya langsung membuat tanda V yang digerakan seperti kelinci untuk mengejek Arcy.


“Hasna… kamu diam.. Jangan memprovokasi” Reza melirik ke arah Hasna yang berlindung di belakang punggungnya sambil mengejek Arcy


Aswin yang ada di seberang meja hanya bisa melongo melihat kelakuan Hasna yang tampak tidak takut dengan sikap Arcy.


“Aswin kamu malah diam saja.. Ajak Arcy keluar” teriak Reza.


“Bu Arcy… ini saya sudah foto kan sedang mendorong Pak Reza dan Bu Hasna, apakah perlu saya kirimkan ke Dewan Direksi” ucap Aswin tenang.


Aswin langsung menutup pintu begitu Arcy keluar, padahal tadi dia hanya menggertak saja soal foto, mana sempat dia mengcapture momen tadi yang ada dia hanya bisa bengong melihat Hasna yang santai saja mengejek Arcy dan Arcy yang mengamuk-ngamuk berusaha meraih Hasna yang ditahan oleh Reza.


“Kamu kenapa sih malah memprovokasi dia, sudah tahu dia seperti itu” Reza membentak dengan keras, ia kaget melihat Arcy yang tampak sangat emosional.


“Maksud Bapak itu tadi salah saya?”


“Siapa yang menyuruh saya untuk mengeprint di ruangan ini?”


“Siapa juga yang menyuruh saya datang ke ruangan ini untuk menjemput Bapak"


“Maaf itu bukan kesalahan saya”


Hasna langsung berdiri. Kekesalannya mulai memuncak melihat tatapan Reza yang marah dan menuduhnya.


“Saya tidak pernah meminta untuk pulang bareng dengan Bapak”


“Silahkan lanjutkan saja diskusinya dengan sekertaris kesayangan, tidak usah repot-repot memperdulikan soal pembelian apapun”


“Saya gak butuh”


Hasna berdiri berusaha melewati Reza karena sempitnya ruang di belakang meja. Di dorongnya ke samping tapi badan laki-laki itu terlalu besar untuk bisa digerakkan.


“Hasna… Hasna… “ Reza berusaha menahan tangan Hasna yang berusaha mendorong badannya.


“Lepas...jangan sentuh saya” Hasna langsung meronta saat tangannya di pegang erat oleh Reza.


“Maaf...maaf saya tidak bermaksud membentak kamu… maaf” Reza langsung memeluk Hasna dengan paksa.


“Lepaaaaaas….” Hasna terus berusaha mendorong tubuh Reza yang memeluknya.


“Shutsss… maaf… maaf… tadi saya betul-betul berusaha menyelesaikan pekerjaan dulu supaya bisa menemani kamu belanja”


“Saya bilang saya tidak butuh apapun…. Lepaasssss”  Hasna langsung menginjak kaki Reza dengan keras.


“Arghhhhh… Hasna please jangan pergi… jangan ...jangan” sambil merunduk kesakitan pada kakinya Reza tidak melepaskan pelukannya.


Hasna berusaha menginjak kaki Reza yang satu lagi tapi sekarang Reza sudah waspada, dia berusaha meloncat-loncat menghindari injakan Hasna, tapi tangannya masih terus memeluk badan Hasna.

__ADS_1


“Hasna ampun...ampuuun aku minta maaf… nanti tidak akan membentak lagi… please ampun..ampun” Reza berteriak-teriak berusaha menghindari kaki Hasna.


Sesaat terdengar pintu terbuka dan terdengar suara Aswin.


“Maaf mobilnya sudah siap Pak jadi tariannya bisa dihentikan” ucap Aswin, sekilas memang Reza seperti sedang melakukan tarian loncat berkeliling dengan berpegangan tangan pada Hasna.


Hasna menyudulkan kepalanya dan “Buug”


“Awwww” Reza langsung terjatuh ke karpet, pelipisnya kena sundulan kepala Hasna


“Kepala kamu keras banget… kamu gak sakit… awwww” Reza mengusap-usap pelipisnya, dilihatnya Hasna yang juga mengusap-usap kepalanya dengan satu tangan karena tangan yang satunya lagi masih dipegang Reza.


“Udah puas? Cukup marahnya?”


“Hadeuuh kamu ganas gini kalau marah” Reza masih mengusap-usap pelipisnya.


Hasna masih cemberut tapi sebetulnya dalam hati dia kasih melihat Reza yang tampak meringis kesakitan. Sebetulnya kepalanya juga terasa sakit tapi gengsi untuk mengakuinya.


Aswin tampak kaget melihat gerakan Hasna yang cepat dalam mengakhiri cengkraman Reza. Ruaaarrr biaza pikirnya ini seperti melihat Kingkong versi perempuan jadi QuenKong.


“Kita bisa pergi sekarang sayang….” ucap Reza dengan lembut, ia berusaha berdiri sambil sedikit terpincang-pincang menahan sakit di kakinya.


“Sayang-sayang … sebel dengernya juga” jawab Hasna


“Lepasin tangan” katanya


“Engga, nanti kamu kabur lagi, ayo kita berangkat sekarang” ucap Reza sambil menarik tangan Hasna.


“Bawain kotak kalau begitu” Hasna menggerakan dagunya menunjukkan dus kecil yang tadi dibawanya.


“”Boleh-boleh… asal kamunya jangan marah lagi” Reza segera mengambil dus kecil dan berjalan menarik Hasna keluar dari ruangan.


Aswin tersenyum melihat Reza yang tampak kelimpungan membawa dus dan memegang tangan Hasna satunya lagi. Biasanya kalau bersama dengan Aswin, ia yang selalu membawa barang-barangnya Reza.


Hasna berjalan di sebelah Reza sambil cemberut, di depan ruangan Sekretariat tampak Prita yang baru  keluar membawa berkas surat untuk ditandatangan Reza.


“Pak ini berkas yang harus ditandatangan” matanya melihat tangan Reza yang menggengam erat tangan Hasna sedangkan tangan satunya lagi sibuk membawa kotak kecil berisi barang Hasna.


“Berikan pada Aswin untuk disortir, besok pagi saya tanda tangan, kalau ada yang sangat penting nanti Aswin akan menyusulkan malam ke rumah”


“Sekarang saya ada urusan dulu”


Prita bengong melihat sikap Reza seperti tidak perduli dengan urusan kantor. Tidak seperti biasanya ia seperti itu.


Begitu di dalam lift Hasna menarik tangannya.


“Lepasin dulu, pegal dipegang terus, saya gak bisa kemana-mana kalau di dalam lift” Hasna tahu kalau Reza memegang tangannya karena takut Hasna pergi meninggalkannya.


Begitu tangannnya lepas, Hasna langsung mengusap-usap pergelangan tangannya, genggaman Reza sangat keras membuat tangannya terasa sakit.


“Kenapa sakit tangannya, perasaan gak keras kok aku pegangnya” Reza melihat pergelangan tangan Hasna dan ternyata memang tampak merah. Ditiup-tiupnya tangan Hasna ..


“Jangan ditiup-tiup geli…” ucap Hasna sambil menarik tangannya.


“Lebih keras tadi sundulan kepala kamu tadi, sampai keleyeng-keleyeng saya..coba liat biru gak” Reza mendekatkan kepalanya ke Hasna.


“Sedikit… maaf.. Kalau terlalu keras.. Saya juga sama sakit tadi kepala”


“Ternyata keras kepalanya bukan cuma sikapnya aja.. Fisik kepala Bapak juga keras” Hasna menggosok-gosok kepalanya yang masih terasa sakit.


“Kamu kok bisa melawan dengan cepat seperti itu sih, perempuan bukannya kalau kelahi tarik-tarikan rambut” Reza merasa heran.


“Yah itu kalau latihannya melawan perempuan” ucap Hasna


“Memangnya kamu suka berlatih kelahi dengan siapa?” Reza bingung


“Emran… Smack down”


Alamaaaak pantesan…. Mantan pegulat kok dilawan.


 


 


*************************


Saya tidak mengajarkan kekerasan di sini lebih kepada self defense atau pertahan diri yah... maksudnya kalau ada yang menyudutkan kita dan kemudian memaksa secara fisik tanpa persetujuan kita, jangan ragu untuk melakukan perlawanan. Senggol ... Bacok... Hahahahah no..no...no... segala hal harus diselesaikan dengan musyarawah dan mufakat. Jangan suka kebawa emosi kecuali memang ngajak ribut... tah eta kudu perang angkat senjata ... mumpung masih 17 an.... Terima kasih atas semua dukungan vote, like dan komennya. Besok longgggggg wiken. Selamat Tahun Baru Hijriah ... Semoga tahun depan kita semua dberikan kesehatan, kebahagiaan, keberkahan dan bencana pandemi bisa segera teratasi. Tetap sehat dan produktif yaaa... Love u all


 


*************************

__ADS_1


 


 


__ADS_2