Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Bang Syamsul dan Kang Udin


__ADS_3

Maura tidak bisa lepas dari Hasna, waktu melihat Hasna di mobil ia langsung menangis minta digendong. Reza langsung melarang Hasna untuk menggendong.


“Maura di gendong nya sama Papi, Buna sekarang tidak boleh menggendong Maura lagi” Hasna langsung mencubit punggung Reza. Yang dicubit hanya meringis dan menatap bingung. Maura masih menangis


“Buna lagi sakit perut jadi gak bisa gendong Maura, kemarin di Jepang kebanyakan makan wasabi” Hasna bergaya sakit perutnya. Maura yang masih memeluk kaki Hasna melihat ke arah perut.


“Buna pelutnya takit? Banak makan?” ia memegang perut Hasna yang mulai menonjol karena bayi. Hasna tersenyum “iya banyak makan ikan, ongiri, sashimi...hmmm enaak” Maura mengerutkan dahinya.


“Mola mau makan onigili...mola lapel” Hasna langsung tertawa,.


“Buna bikinin yaah” sambil menggandeng Maura masuk ke rumah.


“Buna pake keludung sama kaya Kaka Ujan ke syekolah, Mola juda mau pake keludung ke syekolah bial sama sama syemuanyah” Maura memandang Hasna dengan penuh kekaguman, “boleh nanti kita lihat kalau Maura pake kerudung mirip siapa yaa” keduanya asyik melepas rindu.


Reza memandang ketiganya yang asyik mengobrol di meja makan, selama ini ia tidak menyadari bahwa pemandangan yang ada di depannya adalah pemandangan berharga, ia terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor sehingga sering melewatkan waktu bersama keluarga. Mbak Jumi tampak bulak balik sambil tak henti-hentinya tersenyum, ia merasa bahagia dengan kepulangan Hasna.


“Gerah ih Buna lupa belum buka kerudung dari tadi” Hasna langsung membuka kerudung, dan Maura langsung menjerit. “Buna potong lambutnya jadi mendek” Reza langsung menoleh dia tersentak Hasna memotong rambutnya yang sebahu lebih menjadi potongan bob pendek dengan poni panjang… mirip seperti polisi wanita.


“Taraaa” Hasna bergaya seperti foto model dengan melenggak lenggok dan mengibaskan rambutnya.


“Daebaaak… aku selalu pengen potong rambut pendek tapi takut gak cocok dimuka aku” Hujan tadi tidak melihat potongan rambut Hasna saat berganti pakaian karena memakai dalaman kerudung.


“Buna sering merasa gerah jadi rambutnya dipendekin aja. Gimana cocok?” Hasna menaikan alisnya ke atas sambil memandang Hujan dan Maura.


“Syoocok… Buna keliatan tantik” bagi Maura itu Hasna selalu terlihat cantik. Hujan memandang Hasna dengan seksama. “Buna keliatan kaya anak kuliahan… gak keliatan kaya ibu hamil” Hasna langsung melotot pada Hujan ia belum mempersiapkan Maura untuk menerima kehamilannya. Beberapa kali Maura menolak ide memiliki adik bayi, ia hanya ingin memiliki Hasna untuknya sendiri.Untungnya Maura masih tidak memperhatikan ucapan Hujan, ia sibuk memilih makanan yang dibuatkan Hasna.


“Maura.. Buna punya baaanak banak hadiah buat Maura” Hasna langsung tersenyum senang, ia sudah membayang membuka oleh-oleh bersama anak-anak. “Mahu-mahuuu… Kakak Ujan bilang kalau Buna nanti beliin Hello Kitty, dolaemon, pololo, pokemon ehmmm….ehmmmm” Maura tampak berusaha mengingat-ingat semua hadiah yang ingin ia dapatkan.


Dan sore itu ketiganya asyik menikmati kebersamaan dengan mengomentari oleh-oleh yang dibawa Hasna.


“Tikelnya banak-banak Mola boleh kasih sama temen-temen?” Maura memperhatikan stiker yang dibawakan Hasna. “Boleh sengaja Buna beli banyak supaya Maura bisa ngasih temen-temen” ia langsung sibuk memilih stiker yang disukainya dan mana yang untuk temannya “ ini buwat Molin, ini buwat syeli, ini buwat azzka, ini buat … eh ini buwat Mola aja.. Mola syuka… ini buat… ini juga Mola syuka” Hasna tersenyum melihat ekspresi Maura yang kesulitan memilih.


“Hadiah buat Papi mana?” tanya Hujan, Maura langsung melihat pada Hasna “Iya Papi belom dikasih hadiah… kata Papi nanti kalo Buna pulang banak-banak bawa hadiahnya” Hasna langsung tercenung, antara perasaan gengsi dan kesal pada Reza masih bersatu pada dirinya. “Papi gak dibeliin hadiah, Papinya udah gede” jawab Hasna pendek. Reza hanya menatap dan tersenyum ia tidak banyak berharap Hasna ingat membelikan sesuatu untuknya.

__ADS_1


Maura tampak tercenung dia kemudian melihat pada stiker yang dimilikinya dan langsung berlari ke arah Reza. “Papiii.. Mola kasih tikel aja…. Nanti bisa tempel-tempel di hp Papi” melihat sikap Maura, Hasna akhirnya menyerah, rasa kesalnya pada Reza langsung luluh melihat betapa sayang Maura pada Reza, ia tidak ingin memberikan contoh yang buruk pada anak-anaknya.


Dibukanya koper dan dikeluarkannya kantong kain yang agak besar. Diberikannya pada Hujan, “berikan sama Papi… ini oleh-oleh buat Papi” Hujan langsung tersenyum diraihnya kantong kain itu dan dibawanya ke sofa.


“Cieee Papi dapat hadiah juga.. Pantesan dari tadi nungguin terus di sofa udah feeling dapat hadiah bagus kayanya” Hasna langsung pura-pura membereskan oleh-oleh dan mengambil untuk Mbak Jumi. “Buna kasihkan oleh-oleh untuk Mba Jum” ia langsung pergi menghilang ke dapur, tidak ingin melihat ekspresi Reza saat menerima oleh-oleh darinya. Reza hanya melihat Hasna dan menatap benda di tangannya. Ini bukan kaos seperti yang biasa orang-orang belikan sebagai cendramata.


Ternyata tas.. Tas selempang ukuran middle yang bisa masuk tab dan beberapa barang kecil lainnya, tas buatan dari Jepang memang berbeda, laki-laki Jepang suka memakai tas yang cenderung terlihat feminim untuk ukuran orang Indonesia, tas ini warnanya hitam masih terlihat maskulin. Reza tersenyum bukan karena melihat barang yang dibelikan Hasna ini terlihat bagus dan keren tapi karena ia senang istrinya masih ingat membelikan sesuatu untuknya walaupun sedang membencinya.


“Terima kasih… aku suka tasnya… bagus keren” ucap Reza saat Hasna masuk ke ruang makan. Hasna tidak menjawab ia pura-pura tidak mendengar, sibuk membereskan meja makan. “Hari ini kamu belum minum susu” sambung Reza, Hasna langsung melirik ia memang sampai lupa belum minum susu. “Buna mau minum syusyu… ada susu Mola” Maura langsung membawa kaleng susunya pada Hasna.  Hasna tersenyum, “Iya nanti saja ...ini susu buat Maura bukan buat Buna.. Buna gak suka susu vanila… sukanya yang coklat”


Malam itu Hasna banyak bercerita tentang aktivitasnya selama di Jepang kepada Maura dan Hujan, mereka di kamar menikmati quality time bersama. Walaupun hanya dua minggu berpisah tapi begitu banyak cerita yang ingin disampaikan, hingga akhirnya hampir jam 10 malam Maura baru bisa tertidur dalam pelukan Hasna.


Hasna mendekat pada Hujan yang masih mendengarkan lagu di earphone nya dan kemudian berbisik.


“Kaka… Buna mau pulang ke apartemen, besok subuh Buna sudah kembali lagi kesini menyiapkan kalian, pakaian Buna tadi lupa belum dibawa” Hasna mengusap Hujan yang menatapnya dengan tatapan sedih. “Tapi besok pagi-pagi Buna pulang yah?” ucapnya lirih. Hasna mengangguk dengan senyum penuh optimis dan mengangkat jempol. Dipeluknya anak petir itu dengan penuh kehangatan dan mencium pipinya dengan penuh. “Kamu udah gede lagi ihhh perasaan kemarin masih jadi anak galak… sekarang jadi anak melow” Hujan langsung mendorong Hasna,”udah sana pulang nanti kemalaman lagi”


Hasna perlahan turun dari tangga, ruang tengah terlihat sepi ia tidak melihat Reza disana, saat mempertimbangkan untuk pamit dan mengetuk kamar Reza tiba-tiba pintu kamar kerjanya terbuka.


“Mau kemana?” tanya Reza cepat ia melihat Hasna sudah menyelendang tas di bahunya. “Pulang..aku sudah bilang aku sudah gak bisa tidur disini” Hasna yang awalnya menunduk dan kemudian menatap Reza dengan tegas “aku pulang dulu besok setelah adzan subuh aku langsung kesini” ucapnya sambil menyodorkan tangan bersalaman. Reza menatap Hasna dengan dahi berkerut “perempuan ini benar-benar keras pendiriannya” pikirnya.


“Jangan repot, ini sudah malam, aku bisa pulang pake taksi” Hasna berdiri dan langsung ditahan oleh Reza “benar-benar keras kepala” gumamnya. “Duduk aku bilang” Reza langsung berbalik menuju ruang kerja tapi kemudian ia berbalik lagi dan menarik tangan Hasna masuk ke ruang kerja. “Aku gak bisa percaya sama kamu bisa tiba-tiba kabur” Hasna ditarik masuk ke ruang kerja, Reza rupanya khawatir Hasna pergi saat ia masuk ke kamar untuk membawa kunci dan jaket.


“Apaan sih..”Hasna hanya bisa cemberut, ia tidak boleh beradu kekuatan fisik dengan suaminya kalau dalam kondisi seperti ini, ia tahu kalau ia sudah salah memilih pulang ke apartemen tapi perasaan sesak saat ada di rumah ini terasa kembali menyergapnya saat anak-anak sudah tidur. Ada muncul perasaan kesepian hanya menjadi pelengkap bukan sebagai pemilik dari rumah yang besar ini. Ia hanya menunduk, Reza menghela nafas melihat Hasna yang terpaksa mengikutinya ke kamar sambil menunduk.


“Aku cuma khawatir kamu tiba-tiba pergi menghilang lagi, aku udah ga bisa kehilangan kamu lagi. Tunggu sebentar cuma ambil jaket saja” Reza mengambil jaket yang tergantung dan memasukan kunci dan dompet serta tab nya ke dalam tas yang dibelikan Hasna. “Aku suka tas pemberian kamu, pas banget buat aku” ucapnya sambil menggamit tangan Hasna dan mengajaknya keluar.


“Kalau Mas Reza nganterin aku gimana nanti kalau Maura bangun dan mencari-cari” Hasna melihat ke kamar atas ia khawatir Maura bangun. “Ada Hujan, tadi dia yang ngasih tau kalau kamu akan pergi” jawab Reza pendek. Hasna tercenung rupanya anak petir itu sangat mengkhawatirkan dirinya dan langsung memberitahu Reza.


Hasna merasa bersalah sepanjang perjalanan ia bisa melihat kalau Reza berupaya menahan kantuk,  dengan mengusap mukanya berkali-kali saat menguap. Perasaan itu semakin menderanya saat melihat muka Reza yang terlihat kusut dan berantakan, baru sekarang ia menyadari kalau Reza tidak merawat dirinya. Tidak lagi terlihat laki-laki yang bergaya tampan dan klimis sekarang pikirannya menjadi sesak betapa ia menjadi perempuan yang egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Air matanya mulai mengalir dan akhirnya meledak.


“Ahwaa...hhhhha...hwaaa….” Hasna menangis dengan menutup mukanya dengan tangan, ia menangis terisak-isak. Reza langsung kaget, selama perjalanan mereka tidak berbicara sama sekali. Dalam pikirannya ia takut Hasna marah karena dia memaksa mengantarkan pulang ke apartemen. “Ehhh….ehhh… kenapa menangis, aku cuma khawatir kamu pulang malam-malam sendiri.. Nanti kalau di jalan ada apa-apa” Reza tampak bingung antara menyetir dan melihat istrinya.


“Maaf….hwaaa….maaf… aku juga gak pengen seperti ini….hwaaa…..” Hasna terus menangis tersedu-sedu. Dihatinya ia tahu kalau apa yang diperbuatnya salah, mengikuti ego hati meninggalkan rumah dan anak-anak hanya demi kenyamanan diri.

__ADS_1


“Tapi aku gak bisa diem di rumah...hwaaa… kalau sepi aku suka ngerasa kalau aku cuma pelengkap aja disana… aku ngerasa kaya gak berarti apa-apa...aku gak mau ngerasa seperti itu… awhaaaa haaaa….” Hasna terus menangis tersedu-sedu. Saat akan pulang tadi ke rumah, ia berusaha menguatkan dirinya supaya bisa bersikap normal, tapi ternyata saat anak-anak tertidur ia merasakan kembali rasa kesepian.


“Aaaku...aku merasa takut… perasaan aku gak tenang kaya akhu..aku melakukan kesalahan. Aku aku udah mencoba melakukan yang aku bisaaaa…. Tapi akuuu gak merasa berarrrtiiiiii..akuuu tuhh salaah apaahwaaaaa...hwaaaa” Hasna terus menangis. Pertengkaran dengan Reza yang diakhiri dengan Hasna menutup diri selama berhari-hari di kamar menyisakan trauma dalam pikiran Hasna.


Reza mengeratkan tangannya pada stir mobil, perasaannya langsung membeku, semua ucapannya yang membandingkan Hasna dengan Mitha menjadikan istrinya terluka dalam. Ia tidak menyangka kalau sampai sejauh itu ia sudah melukai perempuan yang dinikahinya karena telah memberikan kebahagian pada anak-anaknya dan pada akhirnya membuat dirinya terikat dan tanpa sadar luluh akan kebaikannya dan kecantikannya.


Dihentikannya kendaraan dipinggir jalan di daerah pertokoan yang sudah mulai tutup, dilihatnya istrinya yang masih menangis sambil menutup muka, mencoba meraih bahu Hasna untuk menarik dan memeluknya tapi ia ragu takut Hasna menolak dan kemudian marah.


“Aku...aku minta maaf… aku cuma pengen merasa tenang aja ...aku cuma kasian sama bayi dalam perutku...aku sudah menangis terlalu lama kemarin… aku aku gak pengen menangis lagi… jadi izinkan aku tinggal dulu di apartemen… sampai perasaanku membaik” Hasna mengusap mukanya yang penuh dengan air mata, kerudungnya berantakan hidungnya merah dan berair. Reza tidak tahan lagi diraihnya istrinya dan ditarik dalam pelukannya.


“Kamu tidak usah meminta maaf, mustinya aku yang meminta maaf… tidak semestinya aku berbicara seperti itu sama kamu… sampai seumur hidup aku meminta maaf pun aku tidak akan pernah bisa mendapatkan maaf dari kamuu” Reza terisak… “Seharusnya kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik… yang bisa membahagiakan kamu… bukannya memberikan beban pada kamu terus menghina kamu dengan ucapan ucapan-ucapan bodoh”


“Jangan tinggalkan aku lagi Rara… please aku minta jangan tinggalkan aku….aku rela minta maaf seumur hidup aku… tapi jangan tinggalkan aku, aku gak bisa hidup tanpa kamu” Reza memeluk Hasna erat, semenjak melihat istrinya, hal pertama yang ingin ia lakukan hanya memeluknya.


“Kamu mau pergi kemana saja boleh, aku akan antarkan tapi jangan sampai aku tidak bisa melihat kamu sehari pun… aku sudah tidak bisa kehilangan kamu lagi. Kamu mau tidur di apartemen atau dimana pun boleh tapi aku yang harus mengantarkan….aku tidak mau kehilangan kamu lagi” Reza menangkup wajah Hasna dengan kedua tangannya air matanya mengalir melihat kesedihan di mata istrinya.


Hasna mengangguk lemah, hari ini adalah hari yang terasa sangat panjang bagi dirinya, ia tidak mengira akan bertemu dengan Reza dan anak-anak. Sehingga tidak menyiapkan mentalnya untuk bertemu mereka. Tiba-tiba ia merasa ada yang aneh dengan perutnya..


“Ehhh….” ucapnya sambil memegang perut. Reza langsung tersentak “kenapa sakit lagi” ia melepaskan genggamannya pada muka Hasna.


“Ini kok kaya ada bergerak kaya ada aiiir di dalam perut...glubuk glubuk gituh...srekks” mengusap ingus pada hidungnya dengan lengan bajunya. Reza hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kejorokan istrinya. Diambilnya tissue dan diusapnya air mata yang masih menggenang di pipi dan mengusap hidung.


“Kamu nanti kalau bayi sudah lahir jangan dibiasakan menyusut ingus dengan lengan baju” kemudian ia memegang perut Hasna, tidak terasa apapun. “Masih kecil belum terasa pergerakannya kalau dari luar” ucapnya sambil memindahkan tangannya pada beberapa sisi perut Hasna. “Udahhh ihhh jangan pegang-pegang geliii…” Hasna langsung cemberut memindahkan tangan Reza.


“Heheheh kali aja yang gerak sebelah sini” Reza mencoba beralasan sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. “Usap itu ingusnya ...aku gak mau ngusap ingus orang lain geuleuhh..” ucap Hasna sambil menyorongkan tissue ke depan Reza yang langsung tersenyum bahagia. “Yang bergerak tadi sisi kiri atau kanan yah?” ucapnya sambil mengusap air mata di mukanya dan menatap lekat perut Hasna. Hasna menunjuk sisi kanan perut sambil cemberut “yang sebelah sini kanan… kanan Samsul… yang sebelah kiri Udin” Reza langsung terbelalak.


“Sa...samsul… U..Udin… nama siapa itu?” Reza kaget…


”Panggilan bayinya supaya gampang… Samsul… Udin” ucap Hasna santai sambil menunjukkan posisi perut di sisi kanan dan kiri. Reza langsung melotot.


“Kalau kasih nama yang bagus kasian kalau dikasih nama Samsul dan Udin ...itu kan nama jaman dulu” Reza tidak terima anaknya diberi nama tanpa sepengatahuannya.


“Nanti setelah lahir baru dikasih nama yang bagus, sekarang supaya memudahkan saja nama panggilan di perut ...kanan Samsul...kiri Udin” ucap Hasna keukeuh. “Mumpung masih diperut, aku yang berhak kasih nama”

__ADS_1


Reza hanya bisa menatap pasrah… semua kesedihannya sirna berganti dengan rasa bingung Samsul dan Udin… untuk 6 bulan kedepan ia harus sering-sering mendengar nama itu.


__ADS_2