
Begitu pintu lift terbuka Hasna melihat Mas Arya dan Mbak Maytha ada di barisan depan karyawan yang menunggu lift untuk turun. Ini memang jam makan siang, tidak heran kalau lift akan penuh.
“Mas Arya … Mbak Maytha” Hasna langsung berteriak melihat dua orang mantan teman kerjanya, saat ia akan menggeser langkah kedepan, terasa olehnya cekalan di kerah belakangnya seperti dulu.
“Mau kemana kamu” bisik Reza ke telinganya, Hasna langsung tersadar saat ini dia adalah istri dari Reza, tidak lagi bisa bersikap seperti dulu, apalagi sekarang ada banyak karyawan di belakang Arya dan Maytha. Akhirnya Hasna kemudian berdiri diam dan tersenyum kepada kedua temannya.
Maytha yang melihat perubahan muka Hasna langsung mengerti dan melambai-lambai kecil sambil menunduk hormat pada Reza, Arya hanya tersenyum tipis pada Hasna dan Reza. Hasna hanya bisa menahan diri untuk tidak sekedar bersapa tanya pada temannya, ia tidak ingin Reza mengalami perubahan mood gara-gara ini. Terlalu besar pertaruhannya GD Oppa sudah di depan mata.
Sambil menunggu lift berjalan Hasna mengirimkan pesan.
“Maaf gak bisa say Hi dengan bebas...hehehe Pak Suaminya agak sensitif” Hasna menahan senyum sambil menulis. Ia tidak sadar kalau mata Reza bisa melihat apa yang ia tulis. Reza membalas dengan menulis pesan pada Hasna.
“Bukan suami yang sensitif tapi istrinya yang tidak peka” Hasna yang membaca pesan dari Reza langsung kaget dan nyengir sambil menatap Reza yang hanya lurus tanpa ekspresi. Ia lupa kalau tinggi badan Reza membuatnya bisa melihat tulisan Hasna dengan jelas. Saat pintu lift terbuka Hasna hanya bisa mengangguk saat Maytha menyatakan kalau mereka keluar lebih dahulu, ia bisa menatap saja. Akhirnya Hasna mengikuti Reza yang makan di tempat khusus ruang pimpinan, ada beberapa orang yang sudah makan di ruang itu, tidak ia kenali secara khusus.
“Mau makan apa?” tanya Reza
“Hmm menu biasa saja” jawab Hasna lemah, ia terbayang ayam bakar komplit yang dulu dimakan disini.
“Kenapa pengen bergabung dengan teman-teman lama?” Reza tersenyum sinis.
“Kayanya puas banget kalau aku gak bisa duduk sama mereka” jawab Hasna sambil menunduk, semua kegembiraan karena menonton konser hilang karena tekanan sosial yang dirasakannya kini.
“Ada banyak hal yang saya pelajari dari pernikahan, ternyata tidak hanya berdampak perubahan pada diri sendiri tapi juga dampak sosial” lanjut Hasna.
“Pada saat saya memutuskan menikah aku pikir hanya akan berpengaruh bertambahnya anggota keluarga tapi ternyata pernikahan tidak hanya berbicara soal peran dalam rumah saja tapi juga peran sosial”
“Bersikap sebagai perempuan yang sudah menikah itu perlu waktu rupanya untuk saya”
“Tadi waktu ujian saya seperti paranoid waktu disapa sama laki-laki, duduk langsung mencari perempuan, masuk kembali ke sini awalnya aku berpikir bertemu dengan teman-teman tapi sekali lagi aku berpikir sekarang saya berbeda posisinya bukan karyawan tapi istri dari Pak GM jadi saya harus menemui suami dulu, sekarang pun saat bertemu teman kerja dulu saya tidak bisa berbicara dengan bebas karena status ini”
“Disatu sisi perempuan menikah itu sering dipandang sebagai the ultimate status, dianggap belum lengkap kalau jadi perempuan kalau belum menikah...hehehehhe mereka gak tau kalau status ini memiliki banyak konsekuensi” Hasna tertawa sumir, Reza hanya diam mendengarkan ia bicara, selama ini Hasna tidak pernah berbicara soal pandangannya tentang pernikahan ini.
“Kenapa menyesal menikah dengan saya?” tanya Reza pendek.
“Haaah engga menyesal.. Kenapa mesti menyesal, memiliki dua anak yang cantik, suami yang sudah lumayan membaik, bisa melanjutkan sekolah ke S2… aku bersyukur banget” Hasna tiba-tiba tersenyum lebar.
“Dan nanti akan bertemu dengan GD Oppa….. Hihihihihi” Hasna tersenyum bahagia.
“Sebahagia itu kamu mau bertemu dengan idola kamu? Waktu dikasih uang mahar 1 milyar kamu kok biasa saja?” Reza tersenyum menggoda.
“Uang 1 milyar itu seperti benda yang tidak berwujud dan tidak memiliki dampak psikologis buat aku, aku jarang membutuhkan uang saat ini, tapi bertemu dengan GD Oppa seperti mimpi yang terwujud nyata”
“Jadi uang 1 Milyarnya tidak dibutuhkan… perlu aku ambil lagi?” goda Reza. Hasna langsung mendelik
“Uang Mahar itu menjadi milik perempuan saat menikah...gak malu kalau diambil lagi? Kenapa butuh pinjaman uang?” Hasna langsung mentertawakan.
“Aku masih bisa ngasih kamu beberapa kali lipat kalau kamu mau” Reza tertawa sinis.
“Kaya harta belum tentu kaya hati, lebih banyak murungnya daripada bahagiannya.. Musti banyak tersenyum dan kurangi marah dan kesalnya” ucap Hasna sambil meraih Sup Iga kesukaannya. Ditatapnya teman sekantornya yang makan tak jauh darinya, dilambaikannya tangannya.
“Meskipun aku istri GM bukan berarti aku mesti berubah menjadi orang yang kaku, menyapa dan tersenyum adalah nilai-nilai kemanusian”
__ADS_1
“Nanti akan lebih banyak bikin cerita lucu.. Supaya Pak Suami lebih banyak tersenyum dan tertawa”
“Cabenya Mas… biar gak ada yang ngetok kamar” Hasna menyendok sambal cabe dan memasukkannya ke dalam Sup Iga Reza.
“Kamuuu gilaaa apa … aku gak kuat pedas” Reza langsung kaget melihatnya…
“Latihan perutnya biar kuat, kalau perut sudah kuat nanti hatinya kuat buat move on” Hasna tertawa-tawa melihat Reza yang kepedesan. Ternyata melihat suaminya tersiksa seperti itu cukup menghibur hatinya.
Tingting.. Ada pesan masuk.
“Bahagianya hati yang sudah menikah sampai tertawa lepas” pesan dari Arya masuk ke hape Hasna. Hasna langsung tersenyum dan melihat ke arah Arya dan Maytha.
“Dibawa senang aja Mas.. kalau dibawa pusing ntar stress” tulis Hasna.
“Apa urusan dia kamu bahagia atau tidak” ucap Reza dingin,
“Dari tadi hobi banget nyontek pesan orang lain” sambung Hasna.
“Habis makan siang kamu langsung pulang, kasian Maura” ucap Reza pendek.
“Iya, sekarang juga mau pulang”
“Mas kalau betulan nanti mau nonton konser BigBang di Singapura aku mesti cek masa berlaku paspor aku masih valid gak, soalnya terakhir aku cek pas SMA, trus apalagi yang mesti aku siapin?”
“Buat paspor untuk Maura juga karena dia belum pernah pergi keluar negeri, cek masa berlaku paspor Hujan juga itu saja yang penting. Singapura kita tidak perlu visa”
“Menginap dimana?” tanya Hasna
“Kamu pulang dengan Pak Agus jangan pakai motor online lagi.. Dia sudah tunggu di lobby” Reza memijit tombol lift turun.
“Mas Reza aja naik duluan aku gak apa-apa gak usah dianterin” Hasna ingat kalau Reza ada jadwal rapat.
“Kamu mesti dipastikan masuk ke mobil, kalau tidak nanti belok-belok ke lantai 7” gerutu Reza.
“Weeeeh meni gak percayaan sama aku tuh.. Indikator kepercayaan diri rendah itu kalau gak percaya sama orang lain” Hasna mencibir. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk bertemu dengan Arya dan Maytha.
“Sudah sana naik duluan, percaya sama aku..gih… salim dulu atuh Kakang ganteng teh… ihh meni makin kesini gantengnya mulai mendekati GD Oppa” rayu Hasna supaya Reza mau naik duluan.
“Semakin kamu bersikeras merayu semakin aku curiga” ucap Reza tenang. Akhirnya Hasna menyerah, ngapain ribut untuk hal tidak penting. Ternyata betul saja Pak Agus sudah menunggu di lobby. Segera setelah Hasa masuk ke mobil barulah Reza kembali ke kantor. Di mobil Hasna mencatat semua hal yang harus ia persiapkan untuk keberangkatan bulan depan.
Sesampainya di rumah ternyata Maura sudah tidur siang, Mama Isna menceritakan kalau dari tadi Maura menanyakan terus, ia senang Maura sudah sangat dekat dengan Hasna. Tak lama setelah kepulangan Hasna, ia langsung pulang alasannya sekarang beliau mudah lelah kalau terlalu lama di luar. Hasna sangat berterima kasih, ternyata untuk bisa mengembangkan diri seorang perempuan membutuhkan bantuan dari orang terdekat, untunglah walaupun Mama Merin jauh di Bandung, ia masih memiliki orangtua yang membantunya di Jakarta saat dibutuhkan.
Sambil menunggu Maura tidur, Hasna ingat ia harus mencari paspor Hujan, apakah ada dalam kumpulan dokumen Reza di kamarnya, tapi ia tidak mungkin mencari ke kamar Reza tanpa ijin pemilik kamar. Akhirnya Hasna memutuskan untuk mencari terlebih dahulu di lemari Hujan. Hasna melihat ada banyak tumpukan tas dan kotak-kotak di dalam lemari Hujan, ia baru tahu ternyata Hujan anak yang sangat rapi dalam menyimpan barang.
Satu persatu barang ia keluarkan ternyata banyak barang yang baru ia lihat, kebanyakan adalah barang-barang lama yang suka dipakai Hujan saat kecil rupanya. Setiap tas Hasna buka siapa tahu disana ada dokumen penting yang ia cari. Sampai Hasna menemukan 1 kotak yang cukup besar terbuat dari kayu seperti berat tapi ternyata ringan, ada kaitan di setiap pinggirannya, dicoba nya dibuka dan ternyata hanya kaitan simple.
Begitu tutup kotak terbuka Hasna langsung senang, ada paspor di dalamnya, rupanya disini Hujan menyimpan dokumen itu. Ada banyak barang juga disini, foto, handphone dan hiasan-hiasan perempuan. Rupanya ini adalah barang berharga milik Hujan, kalau melihat modelnya ini seperti milik perempuan dewasa, mungkinkan ini milik Mbak Mitha. Hasna melihat handphone yang ada di dalamnya.
DIcobanya untuk dihidupkan… Bodoh pikirnya kalau benar ini barang milik Mbak Mitha tidak akan mungkin handphone ini hidup. Sayang sekali handphone ini terlihat masih bagus, karena tidak terpakai selama 3 tahun casingnya saja terlihat sudah kusam. Kalau dibersihkan pasti akan bagus kembali. Maura pasti akan senang kalau melihat ada handphone milik Maminya, pasti ada foto-foto saat Mbak Mitha hamil disini, dan Maura bisa melihat dirinya ada dalam perut Maminya.
Hasna kemudian mengambil pasport dan handphone yang ada di dalam kotak. Segera ia merapikan barang-barang milik Hujan kembali, anak itu kalau sampai pulang barang-barangnya berantakan pasti akan menyambarkan petirnya. Ihhhhh terkadang Hasna suka merasa seram melihat tatapan Hujan kalau sudah kesal persis mirip Papinya.
__ADS_1
Dilihatnya masa berlaku paspor Hujan ternyata sudah kadaluarsa dua tahun yang lalu, hmm artinya harus diperpanjang, kalau Hasna menghitung masa kadaluarsa paspor miliknya pun pasti sudah habis karena ia terakhir pergi keluar negeri saat menemani Ayah mengikuti Conference di University of Malaysia. Hasna ingat saat itu ia sedang libur setelah Ujian Nasional dan ayah mengajaknya jalan-jalan sebagai hadiah karena nilai ujian Hasna yang bagus.
Kalau seperti itu artinya nanti mereka bertiga akan ke kantor imigrasi bersama-sama. Hasna membuat checklist untuk membuat surat izin ke sekolah Hujan agar bisa membuat paspor nanti. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke handphone yang baru diambilnya tadi, sayang ia tidak memiliki colokan charger dengan model ini. Modelnya masih berbentuk pipih jadi harus dicari di toko online untuk charger ini.
Baru saja ia akan mencari di toko online, tiba-tiba pintu terbuka, rupanya Nona Petir sudah pulang.
“Assalamualaikum… “ wajah lelahnya tampak diantara senyuman tipis yang menghiasi wajah cantik Hujan.
“Kakaaaaaaaa…..hihihihihihihihihi…” Hasna langsung memeluk Hujan dengan penuh semangat tapi tidak bersuara.
“Apaaa sih Buna suka lebay…. Biasa aja deh aku pulang sekolah kaya yang seneng banget liat aku” Hujan langsung mencibir ingin tertawa melihat sikap Hasna yang berlebihan.
“Kita bakalaaan ke Singapuraaaaaaa…..xixixixixixiixxii” Hasna langsung menggoyang-goyangkan badan Hujan dengan sepenuh hati.
“Ngapain… liat Aunty? Biasa aja deh… emang belum pernah keluar negeri… hadeeeuh udik banget punya ibu tiri” ucap Hujan sambil mencibir.
“Kamu tuh yaaah… suka bikin Buna ilfil… nyebut-nyebut ibu tiri… trus udik lagi...tau gak itu tuh bikin gak enak didenger” Hasna langsung membalik kesal, semangatnya menceritakan soal konser BigBang musnah mendengar ucapan Hujan yang suka seenaknya bicara.
“Ehhhh Buna kok marah sihhhh… kan emang udah biasa kalau ibu sambung disebut ibu tiri… aku kan cuma main-main nyebut udik” Hujan langsung merasa bersalah melihat Hasna yang berbalik membelakangi dirinya sambil menunduk.
“Aaaaahhh Buna jangan marah…. Aku minta maaf…. “ Hujan langsung berkaca-kaca melihat Hasna yang duduk di sisi tempat tidur Maura sambil menunduk kesal.
“Maaf yaaaah… maaf ...aku gak ngejaga ucapan aku” Hujan langsung berjongkok di depan Hasna sambil meminta maaf.
“Masih ingat waktu Papi kamu marah-marah sama Buna, itu juga sama karena tidak menjaga ucapannya… Buna bilang ucapan yang buruk itu kalau keluar dari mulut kita kepada orang lain seperti paku yang ditancapkan ke dinding… dengan meminta maaf kita mencabut paku itu tapi dinding itu masih menyimpan bekas paku sehingga bolong”
“Kamu harus hati-hati dalam bicara jangan sampai melukai perasaan orang lain, seperti paku yang membolongi dinding” ucap Hasna pelan.
“Iya aku minta maaf… gak akan bicara seperti itu lagi” Hujan langsung memeluk Hasna, saat ini orang terdekat yang paling mengerti dirinya hanya Hasna.
“Jadi tadi kenapa Buna mau ke Singapura? Mau jalan-jalan sama Papi honeymoon?” Hujan tertawa sinis.
“Ihhhh apaan honeymoon, kita mau nonton konser BigBang….xxixixixixixixixi” Hasna langsung memeluk Hujan sambil menggoyang-goyangkan badannya.
“Haaaaaah serius? Kapan? Aku ikut gak?” Hujan langsung merasa senang, walaupun bukan konser BoyBand favoritnya tapi BigBang adalah grup musik yang paling top saat ini di Korea.
“Ikut dong, kita berdua akan dikawal sama Papi nonton konser, Maura kayanya akan ditinggal sama Aunty soalnya masih kecil… konsernya bulan depan, tadi Mas Aswin sudah booking tiketnya… kita nonton kelas VIP… yesssss… aku kan VIP nonton di kelas VIP ...cucoook meong...hahahahahha” Hasna menggoyang-goyangkan badannya saking gembiranya.
“Yessss… aku bisa jalan-jalan lagi deh keluar negeri” Hujan langsung merasa senang.
“Ehhh tapi kita musti memperpanjang paspor dulu, kamu udah habis masa berlakunya dua tahun yang lalu, Buna juga sudah habis pastinya kalau Maura musti bikin” Hasna memperlihatkan paspor milik Hujan.
“Buna nemu darimana paspor aku?” tanya Hujan. Hasna langsung cengengesan,
“Heheheheh… dari lemari kamu maaf yaaah, tadi Buna ngoprek kesana”
“Ehhhh sama Buna nemu ini ..Handphone Mami Mitha yaaah” Hasna memperlihatkan handphone yang ditemukannya.
“Iyaa, aku sampai lupa .. masih hidup ga?” Hujan mencoba menghidupkan hape itu. Hasna langsung tersenyum rupanya kebodohannya menular pada anak petir.
“Yaah ga bisa lagi.. Udah off selama tiga tahun pasti mati… musti cari chargernya”
__ADS_1
Ada yang punya charger?