Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Bisik Bisik Tetangga


__ADS_3

Setelah shalat subuh Hasna kembali membaringkan tubuhnya di kasur, masih ada waktu sebelum bersiap ke kantor. Diingat-ingatnya mimpi tadi malam, ia tidak menyangka akan langsung diberikan mimpi yang berbeda setelah sebelumnya shalat Istiqarah.


Dalam mimpinya ia melihat seorang wanita dan anak perempuan kecil sedang berjalan di taman, di gendongan perempuan ada bayi perempuan mereka tampak jalan bertiga dengan senang dan gembira, terdengar dari tawa anak perempuan yang berlari-lari mengintari wanita muda itu.


Hasna merasa melihat dari kejauhan dan kemudian tiba-tiba ia merasa ada di dekat mereka, siapa wanita itu, itu bukan dirinya dan ia tidak mengenalinya. Hasna ingin memanggil mereka tapi tidak ada suara apapun yang bisa keluar.


Sesaat ia melihat wanita itu menjauh seperti pergi dan anak perempuannya tertinggal, Hasna ingin memberitahu kalau anaknya tertinggal, tapi tetap saja suaranya tidak keluar. Sampai anak perempuannya seperti mencari-cari dan menangis. Hasna mencoba berteriak tapi ia langsung terbangun dan merasa keluar suara tertahan saat terbangun.


Ia sampai berkeringat saat terbangun, mimpi kok bikin cape sih, kenapa ia tak bisa mengeluarkan suara apapun. Siapa perempuan itu dan anaknya. Ia tidak mengenal mereka semua, kok malah tidak ada hubungannya dengan doanya tadi malam.


“Akh sudahlah… semua yang terjadi pasti atas kehendakNya” pikirnya “nanti malam shalat lagi saja sampai merasa yakin dan memahami petunjuk dariNya…”


Hasna akhirnya bersiap untuk berangkat bekerja. Butuh kesiapan mental hari ini, menghadapi  segala kemungkinan, menjelaskan pada Mas Arya dan mungkin Mbak Prita sudah menyebarkan cerita kemarin malam pada yang lain.


Sesampainya Hasna di kantor, dia sudah merasakan suasana yang berbeda, entah perasaannya saja atau memang seperti itu adanya. Dimulai saat ia masuk, ada beberapa perempuan yang langsung berbisik-bisik. Karyawan laki-laki sih relatif lurus-lurus saja, terutama saat ini menunggu masuk di lift. Terdengar bisikan “yang ini perempuannya”.... “Ya ampun biasa banget mukanya”.... “Gak akan jauh pasti dipake maen”


“Ya Allah… cobaan apa lagi ini” pikir Hasna. Seumur hidupnya dia tidak pernah menjadi pergunjingan dalam urusan dengan laki-laki. Hasna berusaha menahan ekspresi mukanya supaya tetap tenang. Tiba-tiba ada tepukan di bahunya.


“Hei tadi malam jadinya gimana?’ tanya Arya


“Eh Mas maaf tadi malam tidak sempat pamit dulu, Pak GM ternyata disuruh sama Kakak aku supaya mengawasiku selama dia Surabaya” Hasna sengaja mengeraskan suaranya. Daripada disangka jadi perempuan simpanan mendingan disangka orang yang dekat dengan pimpinan, yaitu pencinta kolusi dan nepotisme tapi jangan sampai korupsi itu sih udah deket sama KPK.


“Wowwww… Kakak kamu temannya Pak GM, pantesan kamu sering disuruh-suruh ngurusin Maura…. Hahahahahah” Arya seperti paham musti ngomong keras-keras. Ini abang satu emang the best man of the year.


Di dalam lift Arya cerita panjang tentang pameran buku yang didatanginya, dia seakan-akan ingin menutupi bisik-bisik orang yang ada di dekatnya dengan Hasna. Hasna tersenyum lemah menatap Arya tidak seperti biasanya Arya bersikap seperti itu pasti ada alasannya.


Begitu keluar dan pintu lift dan masuk ke dalam ruangan, Arya langsung menutup pintu dan berkata:


“Kamu berhutang penjelasan soal kemarin, semalam aku dapat kiriman beberapa foto dari teman yang minta konfirmasi soal kamu sama Pak GM” ucap Arya


“Maaf Mas.. hidup aku tuh sekarang kenapa jadi complicated ginih yah. Nyesel aku terima kerjaan di Jakarta” Hasna menyenderkan tubuhnya di dinding samping kubikelnya. Dilihatnya foto yang memperlihatkan dia masuk ke mobil Reza, foto yang kedua walaupun tidak jelas terlihat dirinya duduk di samping Reza.


“Kakak aku tuh kemarin ngomong sama Pak Reza kalau selama dia di Bali, dia titip aku sama Pak Reza” Hasna mengingat alibi yang dibuat oleh Reza untuknya, tapi memang masuk akal dan memang terjadi.


“Kapan Pak Reza ketemu kakak kamu” tanya Arya


“Kemarin pas ketemu di Bandung, mereka ngobrol” Hasna menjawab polos


“Kenapa Pak Reza main ke rumah kamu, sebelumnya kamu gak pernah cerita soal hubungan dia sama kakak kamu” desak Arya


“Waaah koq aku bodoh sih.. Ini ujung jawabannya gimana? Masa aku musti bilang kalau Pak Reza ke Bandung mau ketemu keluarga gara-gara soal lamaran” Hasna langsung bingung dia sama sekali tidak mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan ini.


“Sudahlah Na.. kamu jujur saja sama Arya, kita satu ruangan dan gak ada yang bisa saling kita tutupi harus saling membantu” Maytha tiba-tiba menyambung percakapan dari kubikelnya. Rupanya Maytha sudah datang dari pagi, dia memutuskan datang lebih pagi saat menerima foto yang sama dari teman-temannya di bagian FO.


“Ehhh… Mbak Maytha koq gitu sih.. Aku kan gak siap bilang ke orang lain” Hasna langsung mengkerut


“Ada apa ini, apa yang saya tidak tahu” Arya langsung bersuara keras, dia merasa ditinggalkan akan suatu masalah.


“Mbak… aku masih gak ngerti ini musti gimana?” Hasna sudah ingin menangis, ia tidak ingin Arya tahu lebih banyak, terutama karena kemari Mbak Maytha yang bilang kalau Arya suka padanya, Hasna khawatir akan menyakiti banyak orang.


“Hasna dilamar sama Pak GM” Maytha langsung mengatakannya saat melihat Hasna seperti kebingungan.


“Apaaa… kok bisa… kapan?” Arya langsung teriak, dilihatnya Hasna yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


“Kamu gak diapa-apain kan sama dia Na” Arya mengguncang-guncangkan bahu Hasna


“Engga Mas… aduuuuh sakit mas” Hasna langsung mengkerut mendengar teriakan Arya.


“Trus kamu bilang apa sama dia? Kamu bilang mau?” tanya Arya lagi, tangannya masih belum melepaskan cengkraman dari bahu Hasna.


“Sakit mas…” Mata Hasna sudah mula berkaca-kaca, ia tidak menyangka drama pagi ini akan sampai sehebat ini.


“Lepasiiin Mas… sakit bahu akunya” keluh Hasna, air matanya mulai mengalir, bukan sakit di bahu yang membuatnya menangis tapi rasa bingung dan tekanan dari semua orang di kantor menjadikannya seperti objek yang berdosa.


Bersamaan dengan itu pintu masuk tiba-tiba terbuka dan masuklah pelaku yang menjadikan semua keonaran ini terjadi.


Reza terkejut melihat muka Hasna yang mulai menangis dan tangan Arya yang mencengkram bahu Hasna.


“Kamu apakan dia… Lepas!” teriak Reza sambil menarik tangan Arya dari bahu Hasna.


“Brengsek kamu.. Kalau mau tau soal masalah dia jangan memaksa” tangan Reza langsung mencengkram baju Arya.


Hasna kaget melihat Reza masuk dan mendorong Arya ke dinding.


“Pak… jangan Pak Mas Arya gak salah apa-apa, saya gak diapa-apain sama Mas Arya.. Pak lepasin Mas Arya” Hasna menarik-narik tangan Reza yang mencengkram baju Arya.


Aswin langsung menahan Reza untuk bertindak lebih jauh.


“Pak ini di kantor, nanti yang jadi pergunjingan jadi Mbak Hasna lagi, kasian dia akan lebih malu lagi.. Sebaiknya nanti kita bicarakan di ruangan” Aswin tahu kalau Reza sudah emosi akan susah untuk menurunkan temperamennya, dia gampang sekali terpicu emosi pada hal yang sifatnya pribadi.


Reza menarik nafas, dia sadar kalau sampai terdengar keluar maka Hasna yang akan semakin terseret pada pergunjingan di kantor.


“Kamu ikut saya ke ruangan” Reza menarik tangan Hasna untuk ikut dengannya.


“Kamu selalu membantah…” teriak Reza


“Saya kira Hasna lebih baik bekerja seperti biasa Pak” tiba-tiba terdengar suara Rika di pintu. Ternyata ia sudah lama ada disana.


“Kami bisa melindungi Hasna, dan lagipula tidak ada yang harus diluruskan lagi kan… Foto-foto kemarin disebar oleh orang yang tidak bertanggung jawab seakan-akan Hasna melakukan suatu dosa padahal dia hanya menjadi korban”


“Bukankah seharusnya sekarang kita mencari tahu siapa yang menyebarkan foto itu?” sambung Rika.


Reza menghela nafas, dia sudah tahu siapa yang menyebarkan foto itu. Dari sudut pengambilan foto, ada 2 orang yang berada pada posisi disebelah mobilnya dari sisi pengemudi. Mobil Arcy Sekretaris Direksi dan 1 orang stafnya yang bersamanya saat itu.


Dilihatnya Hasna yang berurai air mata di belakang Arya, sedangkan laki-laku itu menatapnya dengan penuh kekesalan. Dia tidak mungkin memaksa Hasna, ia tidak bisa mengikut kata hatinya seperti laki-laki muda yang didepannya.


“Saya titip Hasna Bu.. kalau ada apa-apa tolong bilang sama saya” Reza langsung beranjak keluar dari ruangan diikuti oleh Aswin.


Semuanya menarik nafas lega saat Reza meninggalkan ruangan. Hasna langsung masuk ke kubikelnya. Dia sudah tidak tahan ingin menangis, akhirnya dia menangis tertahan. Berusaha untuk terus mengendalikan diri, menarik nafas dan memikirkan hal-hal lain yang bisa mengalihkan pikirannya dari rasa sedih yang menderanya.


“Minum… “ Maytha menyodorkan segelas air yang langsung diteguk habis oleh Hasna.


“Udah gak usah dipikirin, nanti juga bakalan hilang sendiri… gak usah over thingking ok” sambungnya lagi.


“Ya Mbak makasih…” ucap Hasna pelan


“Nih makan cokelat… biasanya perempuan kalau galaw perlu yang manis-manis… sorry cokelatnya sudah gak berbentuk… itu cokelat cadangan di dalam tas jadi udah leyur.. Tapi rasanya masih tetap sama kok… heheheh” Arya menyodorkan cokelat yang sudah gepeng

__ADS_1


“Ini kadaluwarsa gak Mas?” Hasna menatap cokelat yang masih terbungkus tapi tidak berbentuk


“Ya sudah kalau gak mau” Arya kesal


“Ehhhhh… mau ..mau” Hasna langsung menarik cokelat ke dadanya.


“Cuci muka sana, jelek keliatannya kaya ondel-ondel” ucap Arya sambil kembali ke kubikelnya.


“Masa sih.. pada hal udah pake eyeliner yang waterprof” Hasna mengambil kaca di dalam tasnya. Ah ternyata biasa saja hanya sedikit meleber dan mukanya saja terlihat sembab dan merah.


Hasna sempat ragu sewaktu akan pergi ke toilet, tapi setelah dipikir-pikir dia tidak melakukan kesalahan apapun, mengapa harus terintimidasi oleh pikiran orang lain yang tidak benar adanya. Mengapa harus tersiksa oleh pikiran orang lain yang salah, apa hak mereka membuat dirinya harus menderita. Ok … Angkat dagu tegapkan bahu.. Aku anak Ayah yang bisa menjaga kehormatan keluarga, jangan sampai mereka meremehkan.


Dan ternyata … tidak ada siapa-siapa di toilet “ heheheheh untung saja memberanikan diri untuk keluar dari ruangan… its ok Hasna … everthing gonna be okay… Badai pasti akan berlalu”


Saat makan siang, Divisi Training and Development pergi makan dengan kekuatan penuh, Rika yang selama ini jarang makan dengan anak buahnya memilih makan bersama-sama. Entah memang saat itu Arya dan Maytha bisa bercerita dengan lucu selama makan atau memang mereka berusaha untuk tampak gembira. Melupakan dan tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang masih berusaha mencuri pandang melihat ke arah Hasna.


Reza POV


Siang ini rasanya berjalan sangat lambat, semua yang dikerjakan rasanya salah dan terasa sulit untuk memfokuskan diri. Beberapa kali tangan ini rasanya ingin mengirimkan pesan kepada Hasna bahkan ingin menelepon dia, menanyakan apakah dia baik-baik saja.


Mengesalkan sekali melihat ia menyembunyikan diri di balik tubuh laki-laki itu, ada hubungan khusus kah mereka, kenapa dia seperti merasa aman bersama laki-laki itu. Semakin dipikir semakin merasa kesal, kalau disebut cemburu rasanya tidak juga, secara fisik perempuan itu terlihat biasa saja, menarik memang dan menyenangkan saat bersamanya, tidak jelek dan tidak membosankan.


Saat makan siang akhirnya aku memutuskan untuk makan di cafetaria, paling tidak aku bisa mengecek apakah dia makan siang atau tidak. Kalau dia sampai tidak berani makan di cafetaria artinya dia tidak makan siang karena merasa terlalu malu, mungkin aku bisa mengirimnya makan siang.


Sebetulnya mengapa harus malu untuk pergi bersama denganku. Aku sudah tidak memiliki istri, bukankah seharusnya itu menjadi kehormatan bagi seorang perempuan untuk bisa mendapatkan perhatian dari atasannya. Aneh sekali pola pikir perempuan, bukankah di dalam cerita perempuan banyak mengejar perhatian dari atasannya supaya bisa menjadi pasangannya dan langsung mendapatkan harta yang berlimpah.


Dan ternyata mereka makan siang bersama-sama, seperti tidak ada masalah saja tadi pagi. Tertawa-tawa dan sama sekali tidak memperdulikan aku dan Aswin yang sedari tadi memperhatikan mereka. Mengesalkan sekali, sedangkan aku dari pagi memikirkan bagaimana kondisinya yang tampak menyedihkan dengan muka penuh dengan air mata.


Akhirnya aku tidak tahan untuk tidak mengirimkan pesan.


“Bagaimana kondisimu sekarang sudah baikan?


Kulihat dia meraih hp dan hanya menatap dan menyimpannya kembali. Kurang ajar perempuan ini, mengabaikan pesan yang ku kirimkan.


“Nanti sore pulang kita bersama-sama, saya tunggu nanti di Basement jam 7”


Kulihat dia kembali mengambil hp dan membacanya, kali ini dia membalas dan mengetik jawaban tampaknya. Hahaha akhirnya mau diajak pulang bersama.


“Tidak perlu, saya tidak akan bertemu kembali dengan Bapak sampai saya menemukan jawabannya”


“Tolong jangan mengirimkan pesan lagi pada saya”


Whaaaat… apa-apaan ini. Aku langsung memijit tombol telepon untuk bicara dengannya, peduli amat dengan teman-temannya.


Hp nya dimatikan. Perempuan ini benar-benar menyebalkan.


Saat aku melihat dia dan teman-temannya akan beranjak pergi meninggalkan meja, aku langsung berdiri untuk menghampirinya. Aswin tiba-tiba menahanku.


“Pak ini di cafetaria, kalau sampai terjadi cekcok dan keributan kasian Mbak Hasna nya Pak... Saya mohon Bapak bisa menahan diri” Aswin memegang tanganku.


Perempuan ini terlalu banyak yang membela.


**************************

__ADS_1


Dalam episode ini mengucapkan selamat untuk perempuan hebat yang sudah menyelesaikan ujiannya terbuka S3 nya. Semoga selalu menjadi perempuan hebat yang menginspirasi keluarga dan masyarakat ... bisa menularkan kehebatannya pada Hasna-Hasna yang lain... Keep the spirit on ya Sisy... jangan lupa untuk terus kirim vote nya ... hahahaha ujung-ujungnya jadi vote, like and comment.... LOve you all pokoknya.... Doakan bisa menulis 2 episode yah malam ini... Hehehehe ngarep.com semoga bukan PHP.


****************************


__ADS_2