
Seminggu setelah acara Employee Gathering kondisi di kantor berjalan sangat kondusif. Hasna sudah memulai persiapan kegiatan TOT di Tangerang dibantu dengan Arya. Setiap pabrik mengikuti kegiatan TOT selama 1 hari penuh dan dilakukan selang 1 hari. Menyenangkan sekali untuk Hasna yang belum pernah dapat tugas ke lapangan, walaupun harus bangun lebih pagi.
Pagi ini ia tinggal membuat laporan kegiatan TOT tahap 1, badan lumayan pegal-pegal karena kemarin ia sampai ke kost an malam hari. Untung saja menggunakan kendaraan kantor karena dikategorikan perjalanan dinas luar. Tidak terbayang kalau harus naik motor dengan Arya, walaupun awalnya Arya menawarkan supaya lebih cepat. Tapi membayangkan daerah Tangerang yang panas dan berdebu di sekitaran pabrik Hasna memilih memakai mobil kantor walaupun harus berangkat lebih pagi.
Sekitar jam 11 ketika Hasna sedang mengerjakan laporan terdengar suara notifikasi pesan di Hp.. ting..ting.. saat dibuka terlihat nama Darth Vader.
"Maaf ini kondisi urgent bisakan membantu menemani Maura di rumah sakit, saya sedang rapat dengan Direksi tidak bisa ditinggalkan. Kalau bisa Aswin akan segera kesana"
Maura sakit apa pikir Hasna, kemarin tampak baik-baik saja.
"Ya pak, saya bisa kebetulan sedang menyusun laporan saja, bisa saya lakukan nanti" balas Hasna
"Terima kasih, Aswin akan segera keruangan untuk mengurus ijin"
Hasna segera membereskan laptop dan tas untuk bisa berangkat. Kurang dari 5 menit Pak Aswin sudah datang dan langsung masuk ke kubikel Hasna
"Sudah siap?" tanyanya singkat
"Ya Pak sudah" Hasna langsung berdiri dan mengikuti Aswin
"Sebentar saya lapor dulu pada Bu Rika" Aswin masuk ke ruangannya Bu Rika diikuti Hasna.
Bu Rika langsung memberikan persetujuan dan mereka langsung masuk ke lift untuk turun ke Lobby.
"Maaf saya tidak bisa menemani ke rumah sakit karena harus mendampingi Pak Reza, Mbak Hasna akan ditemani oleh supir kesana. Gak apa-apa kan?" tanya Aswin
"Gak apa-apa Pak, hanya Maura sakit apa pak dan dirawat dikamar berapa?" tanya Hasna
"Ya barusan sih masih di observasi hasil laboratoriumnya belum keluar, tapi demamnya tinggi dan yang menjadi masalah adalah tidak mau diinfus, menangis terus dan Omanya sulit untuk membujuknya karena mengamuk sampai harus diikat tangannya, kasian" Aswin menarik nafas.
Di dalam lift Aswin bercerita kalau kalau dari kemarin Maura sudah demam tapi tidak terlalu parah, hanya mengeluh sakit dan lebih manja. Tadi pagi saat akan pergi dibawa ke dokter menolak karena ingin ditemani Reza, tapi karena jadwal untuk rapat dengan Dewan Direksi sudah ditetapkan jauh hari sulit untuk Reza menemani sehingga Maura hanya ditemani oleh Oma-nya. Tapi ternyata saat di rumah sakit diputuskan harus dirawat dulu karena demamnya sudah 39.5 dan dikhawatirkan kejang karena Maura terus menangis.
Hasna diantarkan ke rumah sakit oleh supir perusahaan, begitu sampai disana ia langsung menuju kamar perawatan Maura, dari luar sudah terdengar suara tangisan Maura.
"Ndaa mahuuuu.... nda mahuuuuu" duh hati Hasna langsung tercekat mendengarnya, ia langsung mengetok pintu kamar
"Permisi... Selamat siang Ibu" dilihatnya ada Oma Maura dan beberapa orang suster yang berusaha memasangkan alat infus kepada Maura. Tangan Maura dipegangi oleh 2 orang suster sedangkan yang 1 lagi sedang sibuk menyiapkan alat.
Melihat Hasna datang, Maura langsung menjerit dan menangis keras
"Ka Asnaaaa.... wuaaaawww... nda maaahuuu... Mola ga mau disyuntik... wuaaahh" tangisan Maura terdengar keras
Hasna langsung menyimpan tas dan mengangguk hormat pada Oma Maura.
"Gak apa sini sama Kak Hasna dipeluk ... mau dengar cerita Kak Hasna gak?" Hasna langsung naik ke atas kasur dan mengangkat Maura ke dalam pelukannya.
"Minum dulu yahhh, Maura tau tidak kalau Gajah kurang minum badannya suka langsung kempes ..." Hasna langsung mengambil air yang di dekat tempat tidur, pasti sudah menangis lama akan haus Mauranya, terasa badannya panas saat menempel di tubuh Hasna
"Meman nya kalo kenpees khenaphaaa... " Maura sambil terisak minum mulai teralihkan perhatian dari para suster.
"Kalau badan Gajah kempes nanti telinga gajahnya kegedeaan jadinya dia bisa ketiup sama angin" jawab Hasna sambil memberikan isyarat kepada suster untuk menunda dulu.
"Kan ada ceritanya Gajah yang kempes trus sakit panas sampai telinganya gak bisa digerakin lurus ke atas"
"Cakit khayaa Mola ghiniii" tanyanya sambil terus terisak
"Iya makanya harus dikasih obat, obatnya masuk dari air yang mengalir dari atas itu... wuiiih lucu kaya air terjun turun kebawah" Hasna menunjukan botol infus yang akan dipakai Maura.
__ADS_1
"Nda mahuuuu Mola atuut satittt" tangan Maura ditarik kedalam tubuhnya disembunyikan.
"Engga akan sakit... Kak Hasna janji sambil dipeluk dan cerita Semut yang Suka Mencubit.. sekarang tangannya dikasih sama suster yahh.. Maura lihat sama Kak Hasna"
"Mola atuuuut..." masih menangis tapi sudah memberikan tangannya untuk dipasang infus.
"Yah sudah kita lihat susternya pasang Obat Air Terjun sambil cerita..." ucap Hasna daripada nanti menjerit lebih baik Maura melihat tapi diberikan pengertian.
"Suster mau cubit yaaah ... Mauranya ditahan tangannya jangan bergerak" ucap Suster yang akan memasangkan jarum untuk memasukan infus.
"Tuhhhh itu seperti semut yang suka mencubittt.... dulu ada seekor semut yang senang mencubit untuk memberikan obat pada temannya yang sakit"
"Dia akan mencubit dulu badan temannya, kalau badannya jadi memerah itu artinya temannya sehat tapi kalau dicubit tidak merah artinya sakit"
"Coba Kak Hasna cubit hidung Maura... cubittt ehhh merah gak sakit artinya, pipi nya cubit ehhhh merah gak sakit... perutnya dicubitt ehhhh merah juga, tangannya dicubit ehhhh koq gak merah... coba suster yang tangan bawahnya dicubit merah gak yaaah... " Hasna memberikan aba-aba untuk memasukan jarum infus sambil memeluk Maura
"Awwww syaaakittt...wawww... " Maura langsung menangis saat suster menyuntikkan jarum infus..
"Eh Maura lihat dikasih obat sama semut pencubit... Air terjun nya sudah mengalir... Maura tangannya ditahan dulu biar air terjunnya gak jatuh ke lantai" Hasna langsung menahan tangan Maura supaya tidak bergerak
"Waaaah air terjunnya sudah mulai mengalir, telinga Maura tidak akan keras seperti gajah lagi, bisa digerak-gerakin... coba Kak Hasna pegangg... waaah iya udah bisa digerak-gerakin sekarang telinganya"
Maura memegang telinganya dan memang bisa bergerak.
"Waaaaaaa telinga mola gelak gelak..." ucap Maura dengan muka penuh dengan linangan air mata
"Iyaaaa ini gara-gara obat air terjunnya sudah masuk ke badan Maura... jadi gak panas lagi nanti" ucap Hasna sambil mengusap-usap kepala Maura.
"Maura sudah makan belum?.... itu suster bawa makanan buat Maura disuapin yaaah sama Kak Hasna" bujuk Hasna
"Beyuum tapi mola ga lapel ga mau makan itu ... maunya makan ayam" Maura menyembunyikan mukanya di dada Hasna
Ternyata saat masuk bubur hanya masuk sedikit, gak enak katanya. Hasna ingat saat dulu ia sakit panas karena DBD makanan terasa tidak enak dan seluruh badan sakit. Akhirnya tidak dipaksakan tapi saat ditawari minum susu Maura mau minum dari dot, akhirnya Maura mulai tenang dan diam dipelukan Hasna.
"Maura sayangggg... bagaimana?" terdengar suara seorang perempuan di pintu. Hasna melihat ada seorang wanita setengah baya yang cantik dan berpakaian anggun. Dari gayanya Hasna tahu kalau ia adalah salah satu keluarga dari Maura.
“Ehh Mbak Berta.. kapan datang ke Jakarta?" Oma Maura berdiri di sofa, sedari tadi ia duduk mengawasi Hasna yang duduk di kasur memegang Maura. Usianya yang sudah tidak muda lagi menjadikan ia cukup lelah menemani Maura dari pagi, untung Hasna datang sehingga bisa mengurus Maura.
"Baru datang tadi jam 10 Jeng, langsung dapat kabar kalau Maura masuk rumah sakit, saya langsung mandi dan lari kesini, bagaimana sakit apa sampai harus dirawat?" Ia menatap kearah Hasna yang sedang memangku Maura di kasur. Maura tampak sudah terlelap tidur karena kecapekan menangis dari pagi.
" Selamat siang ibu, maaf saya tidak bisa berdiri. Perkenalkan saya Hasna.. stafnya Pak Reza yang ditugaskan untuk menemani Maura" ucap Hasna sambil mengganggukan kepala.
"Owh stafnya Reza.. koq bisa disuruh mengurus Maura? Sudah tidur Mauranya mbak? ditidurkan saja" ucapnya sambil mendekat ke tempat tidur.
"Iya bu sudah saya coba tapi mungkin belum lelap jadi masih menolak" jawab Hasna
Dicobanya dilepaskan Maura dari badannya dan kembali Maura merengek sambil tertidur, tangan Maura memegang erat ke badan Hasna, akhirnya kembali Hasna memeluk Maura
"Gak apa-apa Bu... kasian kayanya kecapekan karena menangis terus" ucap Hasna, punggungnya lumayan pegal tapi ia sulit untuk bergerak apalagi dengan infus yang menempel di tangan Maura.
"Kalau begitu mbaknya senderan saja di kasur, sebentar saya atur kasurnya supaya bisa disenderi" Ibu tersebut dengan cekatan mengatur kasur sehingga terangkat bagian kepala dan Hasna bisa bersender.
"Angkat kakinya mbak ke atas biar gak pegal, naaah begitu gak apa-apa .. kasian pasti pegal yah dari tadi" ia kembali membenahi posisi kasur dengan memberikan sandaran bantal di punggung Hasna
"Iya Mbak Berta kalau tidak ada nak Hasna ini saya sudah kewalahan tadi, Maura menangisnya sampai keras, susah untuk diinfus, panasnya sudah 39.5 saya sampai takut step tadi. Untung bisa dibujuk sama Nak Hasna.. suster disini juga sampai bingung sudah mau diikat tadi Maura.
"Waaah cucu Granny mau diikat.. coba-coba menyiksa cucu saya tak bawa ke pengadilan... terima kasih yah mbak...namanya Hasna yah... hadeuuh sudah cantik baik lagi"
__ADS_1
"Saya ibunya Reza, kemarin saya menemani adiknya Reza yang baru melahirkan di Singapura.. untung ada Jeng Isna menemani Maura"
"Kalau sudah tua seperti sekarang kita hidup hanya untuk menjaga cucu yah Jeng" ucapnya sambil mendekati Oma Maura
"Iya Mbak... saya juga kalau tidak menemani Maura dan Hujan kayanya sepi hidup di Jakarta, cucu yang lain jauh di Surabaya. Cuma yaaa saya sudah tua gampang lelah, khawatir nanti gak bisa mendampingi Maura terus, kasian masih kecil" ucap Oma Maura sedih.
"Kita doakan saja segera ada yang pengganti Maminya Maura yah jeng... mohon keikhlasannya" ucap Nenek Maura
"Saya sudah ikhlas dari dulu juga Mbak... saya sayang pada cucu-cucu saya ingin mereka ada yang mengurus dengan baik, umur saya sudah tidak panjang lagi. Saya ingin melihat mereka semua bahagia" terdengar suara yang dalam dan sedih.
Hasna mendengarkan obrolan kedua nenek Maura dengan senyuman lemah, suara mereka mulai terdengar sayup-sayup di telinganya. Udara ac di kamar ditambah lelah karena memegang Maura menjadikan tenaga Hasna menipis dan membutuhkan tambahan energi. Ia belum sempat makan siang dari tadi, dan Hasna pun tertidur, bantal yang empuk dipunggung, udara sejuk dari AC dan obrolan yang ramah seperti suara Mama menjadikan matanya sulit untuk dikondisikan.
Entah berapa lama ia tertidur hanya samar-samar terdengar suara laki-laki
"Sudah lama mereka tertidur?"
"Sudah lebih dari 2 jam keduanya sama-sama lelap"
"Rezaaa... Mama pikir sudah waktunya kamu memikirkan untuk menikah lagi. Oma nya Maura sudah tua. Mama pun sulit membagi perhatian antara kamu dan adikmu"
"Aku belum berpikir kesana"
"Kamu mungkin tidak berpikir kesana tapi anak-anakmu membutuhkan ibu lihat Maura sekarang... pikirkan itu"
Suara keras itu membangunkan Hasna dari tidurnya...
"Ehh Pak maaf... saya ketiduran" Hasna langsung kaget di depannya ada Pak Reza yang memandangnya dengan diam. Kemudian Hasna mencoba bangun dan turun dari kasur tapi,
"Aawwwwww.... hadeuuuuh" Hasna menjerit lemaahh.. Kakinya kram, diduduki anak koala yang ukuran XL rupaya membuatnya tidak bisa bergerak.
"Ehhh kenapa" Reza langsung kaget melihat Hasna meringis kesakitan
"Kaki saya kram pak... haduuh gak bisa digerakkan" Hasna terus meringis
"Waaah musti bagaimana ini" Reza bingung
"Maaf pak ini Mauranya tolong dipangku dulu saya tidak bisa bergerak" Hasna mendorong Maura ke arah Reza
Dan Maura masih menempel seperti perangko, "Ini anak kalau tidur bisa kaya lem beginih" Hasna langsung keringet dingin kaki nya sakit.
"Maaf pak tolong dipukul-pukul kakinya supaya jalan darahnya" ucap Hasna
"Ehh... bagaimana ini" Reza seperti bingung.. ia kemudian mencoba memegang kaki Hasna
‘Ehhhh.. jangan langsung pak ditutupi pakai selimut.. saya gak pernah dipegang kaki sama orang lain... maaf pak"
Oma dan Nenek Maura tertawa-tawa berdua di sofa... mereka melihat Reza sangat kikuk dan Hasna terlihat menderita, tapi mereka berdua tampak membiarkan keduanya.
"Ehhh..." Reza semakin bingung selimutnya diduduki Hasna jadi sulit untuk dibuka. Akhirnya dibukanya jas dan ditutupkan pada kaki Hasna, dipijitnya kaki Hasna..
Tiba-tiba terdengar suara
“Papi lagi apaaa?"
Eng Ing Eng.... Satpam datang
***************
__ADS_1
Terima kasih sudah sabar menunggu ya Mas Bro dan Mba Sis... Kulo banyak gawean jadi gak bisa crazy up.. hidup itu dijalani dengan ikhlas dan penuh kesabaran, mau up sampai 10 episode juga tetap aja gak akan cukup. Wis sing sabar wae kalau mau baca. Ojo lali vote, like dan komen yaaa sampeyan.. supaya saya semangat nulisnya yoo.. Maturnuwun sanget loh...
***************