
Sepeninggal Reza, Hasna langsung membuka laptop dan mulai bekerja. Mumpung anak koala tidur, kita manfaatkan waktu. Maura baru terbangun saat suster datang untuk memeriksanya. Dia langsung tersenyum melihat Hasna ada di sampingnya.
“suster periksa dulu ya” suster tersenyum sambil meraih tangan Maura untuk diukur tekanan darahnya.
“katanya sekarang bisa pulang ya Sus? tanya Hasna
“Iya Bu tapi harus menunggu dokter visit terlebih dahulu” jawab suster
“Mola pengen lepasin syuntikan ini” Maura kembali merengek
“Boleh tapi mau makan yang banyak supaya sehat, jadi Maura tidak sakit lagi” jawab Hasna sambil mengusap kepalanya.
“ Wah bagus ya sekarang kondisinya sudah tidak tidak panas lagi dan tekanan darahnya juga sudah stabil kayaknya bisa pulang” suster menjawab sambil tersenyum.
“Terima kasih suster” ucap Hasna
“Kita tunggu dokter visit ya Bu sebentar lagi” suster membereskan peralatan dan kemudian beranjak dari tempat tidur
“baik terima kasih suster” jawab Hasna
Suster keluar dari ruangan dan kemudian Hasna mengajak Maura untuk makan kue dan minum susu yang dibawa suster tadi pagi.
“kuenya dihabiskan ya susunya juga… wah Maura sekarang sudah tidak usah pakai dot minum susunya keren”
“Ternyata… gara-gara Maura sakit sekarang Maura minum susu tidak pakai dot lagi” Hasna menggoda Maura
“ Bye-bye Dot” Hasna melambaikan tangan pada dot yang ada di meja di samping tempat tidur.
“Mola jadi boleh pulang” Maura keukeuh bertanya soal kepulangan
“Iya kayaknya bisa kita pulang hari ini” jawab Hasna tersenyum.
“Hore Mola senang Mola sudah bosyan” Maura kembali merajuk
“Sambil nunggu dokter kita main game yuk” Hasna mencoba mengalihkan perhatian Maura.
“Hasna punya permainan hujan huruf loh. Maura tinggal memijit huruf yang jatuh dan sebutkan namanya” Hasna memperlihatkan permainan di handphonenya
“mau mau mau mola main itu” maura langsung bersemangat.
Tidak terasa selama bermain game mereka telah menghabiskan waktu selama 1 jam, rencana Hasna untuk mengerjakan pekerjaan kantor, sama sekali terlupakan.
“Selamat pagi wah anak cantik lagi bermain ya…” terdengar suara seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan. Ternyata dokter yang merawat Naura selama ini datang untuk melakukan visit.
“wah Maura dengan siapa ini…. mamanya?” dokter tersenyum pada Hasna
“Bukan Dok saya …… ?” Hasna terdiam dia bingung apa ya, masa menyebutkan sebagai stafnya Pak Reza, keluarganya juga bukan.
“Saya keluarganya dok”... Akhirnya Hasna membuat satu alasan yang paling aman dan masuk akal.
“Saya kira calon mamanya Maura… “ Dokter tersenyum sambil menggoda.
“Hehehe … “ Hasna hanya bisa nyengir. “Terserah dokter deh mau pikir apa yang penting. Maura bisa pulang hari ini”
“Coba dokter periksa dulu ya katanya sudah mau pulang….Hmmmm hasil tes darahnya bagus ya sudah grafiknya sudah naik ke atas dan stabil”
__ADS_1
“Oke semuanya sudah baik sudah bisa pulang, dirumah harus makan yang bagus ya jangan lupa minum susunya”
“Oya nanti obatnya dihabiskan ya mbak terutama antibiotiknya” sambung dokter
“Iya dok terima kasih kalau makanan apakah ada yang harus dipantang supaya tidak dimakan” tanya Hasna
“Tidak ada yang penting anak harus makan yang baik sayurannya cukup dan susunya juga, saya lihat berat badannya sudah sesuai dengan usianya” jawab dokter
“Sehat selalu ya Maura” dokter mengusap kepala Maura
“Terima kasih Dokter, ayo bilang terima kasih sama Pak dokter” Hasna menyuruh Maura untuk mengucapkan terima kasih
“telima kasih Doktelll” Kata Maura sambil memeluk Hasna
“Salam kepada ayahnya Maura ya Bu”
“Iya dok terima kasih”. Jawab Hasna.
Hasna tersenyum dan kemudian memandang Maura
“Kita bisa pulang …. tapi kita harus tunggu dulu papi datang ya… sekarang Kak Hasna bereskan dulu pakaiannya, Maura bisa bermain game sendiri kan”
Tak lama kemudian suster datang untuk mencabut selang infus Naura. Anak koala ini mulai meringis dan seperti akan menangis begitu tahu jarum infus akan dicabut.
“Mauranya lihat ke Kak Hasna kita nyanyi lagu pisang… “ Hasna bernyanyi mencoba mengalihkan perhatian Maura sampai Maura tidak sadar kalau jarum infus sudah dicabut dari tangannya.
“Wah Mamanya Maura jagoan nyanyinya ya sampai tidak sadar sudah dicabut” suster menggoda goda Hasna. Mereka tahu kalau Maura tidak mempunyai ibu, malahan sebetulnya para suster sibuk bergosip di belakang, tentang siapa yang mau menjadi mamanya Maura maklum Pak Reza masih muda dan ganteng.
“Tangan Mola sudah bisa lambay-lambay” Maura melambaikan tangannya yang terbebas dari selang infus
Dan seperti sudah diperkirakan hari itu Hasna tidak bisa melakukan pekerjaan apapun di rumah sakit, sampai jam makan siang Pak Reza masih belum datang juga akhirnya Maura tertidur setelah makannya habis karena lama menunggu Papinya.
Hasna mengirimkan pesan kepada Pak Reza bahwa Maura sudah boleh pulang dan pakaiannya sudah dibereskan. Ia hanya mendapatkan balasan “Ya”. Tampaknya Pak Reza masih sibuk dalam rapat. Oma Maura tidak jadi datang karena beliau mengeluh kondisinya masih belum stabil kepalanya masih pusing sehingga tidak bisa turun dari tempat tidur. Hasna membalas jangan mengkhawatirkan Maura karena semuanya sudah beres dan Maura sudah bisa pulang .
Selama Maura tidur akhirnya Hasna pergi keluar untuk membeli roti perutnya belum diisi apapun saat makan siang tidak lupa dia menitipkan Maura pada suster.
Saat kembali kamar ternyata Maura masih tidur ini kesempatan Hasna untuk bisa mengetik dan mengerjakan pekerjaan kantor. Hasna mulai mengerjakan semua pekerjaan yang harus dibuatnya. Email dari Mas Arya tentang hasil rapat sudah diterimanya, permintaan untuk membuat perbaikan bahan pelatihan segera ia kerjakan. Mudah karena hanya membagi bahan kepada beberapa bagian sehingga menjadi buku saku. Tinggal membuat layout menambahkan gambar dalam setiap buku saku.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 4.30. masih tidur ternyata ternyata anak koala ini, masih ada efek dari obat sehingga tidurnya lebih lama. Hasna langsung salat, mumpung anak kecil ini masih tidur. Saat salat terdengar suara orang masuk ke dalam ruangan, bukan suster karena dia diam saja.
Setelah berdoa Hasna melihat kearah tempat tidur Maura, tampak Pak Reza sedang duduk dan memandangi putrinya.
“Bapak sudah datang.. Maura masih tidur Pak, tapi tadi sebelum tidur sudah makan dulu” ucap Hasna sambil membereskan mukena.
“Terima kasih maaf tadi saya tidak bisa membalas pesan karena masih rapat” Reza menghela nafas. Hari ini agenda rapat sangat penuh, sampai saat makan siapun dipakai untuk membahas pekerjaan.
“ Tidak apa-apa Pak, pakaian Maura sudah saya bereskan” jawab Hasna
“Baik saya selesaikan dulu administrasi.. Hanya tinggal membawa surat dari Susternya, tadi sebelum kesini saya sudah membayar biaya rumah sakitnya” Reza keluar dari kamar.
Hasna membangun Maura.
“ Maura ayo bangun katanya mau pulang..” Anak koala ini lambat-lambat membuka matanya dan tersenyum.
“Puyang sekalang?” tanya nya lemah
__ADS_1
“Iya… ayo kita cuci muka dan ganti pakaian”
Hasna segera merapihkan Maura, dilap nya badan Maura dan diajaknya ke toilet untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Digantinya pakaian Maura dan dikepang rambutnya menjadi 2. Hmm rambutnya sangat tebal.. Sudah seminggu tidak keramas jadi agak berminyak, harus dikasih talk dulu supaya tidak terlalu lengket.
Saat Hasna merapihkan Maura Reza datang, Maura langsung tertawa melihat Papinya
“Mola boyeh pulang kan Papi?” tanyanya berharap
“Iya kita pulang sekarang, rambutnya disisir dulu supaya rapi. Mauranya diam yah” Hasna menjawab, ia sulit merapihkan rambut Maura karena anak koala ini tidak mau diam.
Reza duduk dan tersenyum melihat Hasna sibuk merapikan rambut Maura. Entah apa yang ada dipikirannya. Dilihatnya di meja laptop Hasna terbuka dan ada beberapa dokumen diatasnya, ternyata anak berotak setengah ini masih semangat untuk bekerja.
Begitu Hasna selesai merapihkan Maura, Reza meraih tas pakaian Maura.
“Ayo kita pulang katanya” sambil memegang tangan Maura.
“Holeeeeeee…. Mola pulaaanggg” Maura meloncat-loncat…
“Wiiih bantrenya udah keiisi full nih bocah… tidur 2 jam langsung on …” Hasna langsung membereskan laptop dan dokumen yang dibawanya dari kantor. Beban hidup ini dibawa kemana-mana, kalau gak bawa laptop rasanya gak afdol ada sesuatu yang tertinggal.
Hasna mengikuti Pak Reza dan Maura dari belakang, entah kenapa dia merasa lega Maura sudah bisa pulang. Akhirnya aktivitasnya bisa kembali seperti semula, seminggu ini pikirannya jadi bercabang memikirkan Maura dan pekerjaan di kantor. “Padahal aku tuh emaknya juga bukan...hihihi dasar bocah”
Begitu sampai di mobil ternyata Pak Reza tidak membawa supir, Hasna segera mendudukan Maura di depan disamping Papinya, saat Maura merengek ingin duduk di pangkuan Hasna, langsung diberikan alasan dilarang oleh polisi jadi Maura harus duduk sendiri. Hasna langsung duduk di belakang, hmmm jangan sampai nanti ada gibah gegara duduk bersama Pak Reza terus pikirnya.
Sudah hampir menjelang magrib saat keluar dari rumah sakit, Maura sibuk bercerita tentang apa yang dilihatnya kepada Reza. Mata Hasna sudah mulai kehabisan energi, semalam ia tidur hampir lewat tengah malam untuk menyelesaikan laporan dan editing pekerjaan, saat duduk di mobil yang nyaman dan sejuk, tuntutan untuk menempelkan bulu mata terasa sangat menggoda dan akhirnya dia tertidur.
Reza tersenyum melihat Hasna yang tertidur di belakang, dia kemudian menjawab semua pertanyaan dari Maura jangan sampai teralihkan dan mengganggu Hasna di belakang. Hatinya terasa hangat, ada rasa haru melihat perempuan setengah otak itu tertidur dengan posisi tidur yang seperti itu, terlihat rapuh dan lemah.
Hasna terbangun saat merasakan suara mobil berhenti. “Ehhh… koq tertidur” pikirnya, sampai tidak terasa. Ehhh dimana ini, tampak seperti parkiran mobil.
“Kaka syudah bangun, ayoooo Mola mau makan ayam duyuuu… kata Papi kita makan sebeyum pulang” Maura menengok dari balik kursi mobil di depan.
“Kita makan dulu… tadi siang kamu belum makan kan?” ucap Reza, ia langsung keluar dari mobil.
“Ehh… jam berapa ini” wahh jam 6.30 .. tidur lelap amat Hasna langsung merapihkan pakaiannya.
“Ayo Maura… mau makan ayam? Kamu cocok jadi anak ayam sekarang yah… tok tok petoook” Hasna langsung mematuki perut Maura dengan tangannya…
“Hihihihihi…” Maura langsung menggeliat kegelian. Tangannya langsung memegang Hasna
“Papi tunguuu…” Maura mengejar Reza yang sudah berjalan lebih dahulu sambil menarik Hasna
“Aku mau loncat-loncat” Maura memegang tangan keduanya sambil bergelayut..
Hadeuuuh ini anak gak mau diem langsung. Hasna tersenyum melihat Maura asyik bergelayut di tangannya dan Reza… “mudah-mudahan gak ada yang lihat” pikir Hasna.. Maaf Hasna doamu tidak akan terkabul
“Hasnaaa…..’’
Terdengar suara perempuan dari samping
Hadeeeeeuuuh siapaa lagi iniiiiiiih.
**********************
Terima nasib saja Hasna, setiap keluar sama Pak Reza selalu saja ada yang mergoki.... Selamat digibahi. Lumayan mengurangi dosa..... Terima kasih atas dukungan votenya yah... saya senang sama komen kalian... Stay safe and keep productive... Love u all...
__ADS_1
**********************