Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Surprise!


__ADS_3

Hasna memandang dua test pack yang ada di tangannya, berpikir bagaimana reaksi suami dan anak-anaknya. Maura sudah dengan jelas menolak ide memiliki bayi, Mas Reza masih abu-abu tidak terlihat senang ataupun bersemangat hanya pernah mengungkapkan keheranan kenapa ia belum hamil. Sedangkan Hujan dia cenderung lurus tidak terlalu mempermasalahkan apapun, fokusnya hanya melewati ujian dengan nilai terbaik itu saja.


“How to make your husband know about your pregnancy” Hasna mencari ide untuk memberi tahu Reza tentang kehamilannya, hmm .... kebanyakan membuat surprise atau membuat kode-kodean pada sang suami. Ada yang memberi kode sepatu bayi, ada yang memberikan empeng, Hasna tersenyum suaminya adalah mahluk yang lempeng pasti tidak akan mengerti kode.


Ok... kita berikan saja kejutan dengan memberikan kado test pack, mudah-mudahan reaksinya bagus.  Ia pasti senang soalnya sama sekali tidak pernah ada diskusi untuk menunda kehamilan. Hasna kemudian mencari kotak kecil yang ada di kamar dan bisa memuat test pack, hmmm gak bisa masuk dua duanya, salah satu saja… oya kita kasih hiasan pita dan beri tulisan.


“Boy or Girl? ..hmmm apalagi yaa pendek amat pikir Hasna, aahhh kita kasih gambar saja topi baseball, bola, hmmm apalagi yaaa kalau perempuan bagaimana? Hasna langsung tertawa terbayang kalau bayinya perempuan, Mas Reza akan repot musti mengurus 4 perempuan di rumah, mudah-mudahan saja laki-laki tapi kalaupun perempuan pasti akan menyenangkan juga.


Hasna kemudian menuliskan kata harapan di belakang kertas, “No matter its a boy or girl I know you will be a great father” Love u always Your Rara. Hasna tersenyum ia tidak pernah menyatakan perasaan cinta pada suaminya, ternyata mudah dan tidak sulit. Tapi betulkah ini yang dinamakan cinta? Hmmm apalagi sih perasaan keterikatan antara laki-laki dan perempuan kalau bukan cinta pikir Hasna. Its ok sekali-sekali menyatakan perasaan harus ada yang memulai, karena sampai sekarang Hasna tidak pernah mendengar Reza mengungkapkan perasaannya.


Ia hanya sering mendengar kalau suaminya tidak bisa hidup tanpanya, kalau Reza tidak akan pernah melepaskannya. Well Hasna tahu karena sejak ia menikah dengan Reza ia sudah memberikan banyak kontribusi di rumah ini, sehingga suaminya bisa fokus untuk bekerja mencari nafkah. Ternyata memang benar kalau kita memberi dan membahagiakan orang lain, kita akan ikut bahagia. Walaupun ia sering menangis dan merasa lelah tapi selama enam bulan ini Hasna merasa hidupnya sangat berarti.


Terbayang olehnya muka Reza yang tampak kesal tadi pagi saat ia menggodanya mencibir saat pergi ke kantor. Pantas saja gampang marah, mungkin dampak bawaan bayi, hehehehe Hasna tertawa sendiri, aneh masa dia yang hamil mood swingnya malah Reza yang merasakan. Ah itu sih sudah bawaan aja emosian pikir Hasna. Supaya tidak marah bagaimana kalau memberikan kejutan ke kantor, membawakan kue dan di dalamnya disimpan kotak test pack. Hasna langsung tersenyum ide yang cemerlang.


Ia langsung membuat cokelat cookies kesukaan Reza, terakhir ia membuat biskuit ini hampir sebulan yang lalu pasti sudah habis. Hampir tiga jam Hasna membuatnya hingga terisi hampir 1 jar penuh kue, Mas Reza pasti senang dikirim kue dan mendapat kejutan ini. Ia langsung berganti pakaian, tiba-tiba terpikir kalau ke kantor pasti bertemu Arcy.. ah malas rasanya bertemu Medusa itu, yaaah sudahlah berdoa semoga saja dia sibuk sehingga tidak bertemu, lagi pula ia tidak akan lama hanya memberikan kue dan kejutan test pack.


Hasna tiba di kantor Reza jam sebelas siang, sebentar lagi makan siang jadi dia bisa bertemu dan tidak akan mengganggu jadwal Reza di kantor. Ia langsung memijit tombol ke lantai 9, hmm terasa dejavu setiap kembali ke kantor. Hasna merindukan masa-masa dia mengantri di lift dan makan siang bersama teman-temannya. Yah takdir tidak ada yang tahu ternyata ia hanya tiga bulan kurang bekerja disini.


Sampai di lantai sembilan aroma lavender kembali tercium, aroma yang mengingatkannya pada masa penuh tekanan saat dia masuk ke lantai ini. Sekarang dia bisa melangkah dengan bebas masuk ke lantai ini selama tidak bertemu dengan Medusa. Hasna langsung menuju ruangan Reza, sekilas ia melihat Prita sedang duduk di mejanya tapi ia tidak menghiraukan, merasa tidak ada urusan dengan perempuan itu dan Hasna tidak akan pernah melupakan kalau Prita adalah orang yang mengambil fotonya dengan Reza dan menyebarkan isyu yang jelek.


Saat tiba di ruangan Reza, tidak ada Mas Aswin, kemudian ia mengetuk pintu hmmm sepi, kemudian dibukanya pintu dan ternyata memang kosong.


“Mau bertemu dengan siapa” terdengar suara perempuan di belakangnya… pasti Prita. Hasna berbalik dan tersenyum basa-basi.


“Tentu saja bertemu dengan SUAMI SAYA siapa lagi… tidak ada urusan saya kesini kalau bukan dengan SUAMI SAYA” Hasna menekankan kata suami saya untuk mengintimidasi Prita dan tampaknya cukup berhasil.


“Maaf Pak Reza dan Pak Aswin sedang rapat.. Kalau ka… ibu mau menunggu silahkan” Prita hampir saja menyebut kamu, tapi ia sadar kalau perempuan yang ada di depannya sudah menjadi istri dari bosnya.


“Terima kasih.. Saya tunggu saja di dalam” Hasna langsung mengeloyor masuk, paling tidak ia tidak usah melihat muka perempuan yang menyebalkan itu kalau di dalam ruangan suaminya. Sebetulnya didepan ruang sekretariat direksi dan ruangan GM ada sofa yang diperuntukan untuk tamu yang menunggu giliran masuk, tapi Hasna tidak ingin bertemu Medusa.


Setelah hampir tiga puluh menit menunggu Hasna mulai merasa mengantuk, menunggu memang membosankan. Ia mengirimkan pesan kepada Reza kalau ia ada dikantornya saat ini, tapi tidak ada jawaban, mungkin suaminya sedang sibuk sehingga tidak melihat pesan. Tiba-tiba Hasna teringat kalau ia tidak pernah bertemu dengan Bu Rika, Mbak Maytha dan Mas Arya. Ya ampun kenapa tidak terpikir dari tadi, padahal ia seharusnya langsung saja ke lantai tujuh tadi paling tidak bisa mengganggu mereka yang sedang bekerja. Otak jail Hasna langsung jalan, hmmmm kue bonus untuk Mas Aswin terpaksa harus dialihkan untuk mereka saja, nanti ia akan membuatkan lagi untuk asisten suaminya itu, atau kalau tidak ia akan meminta Reza untuk berbagi dengan Aswin.


Saat tiba di lantai tujuh Hasna langsung tersenyum lebar, sudah enam bulan lebih ia tidak kesini, ya ampun rasanya seperti sudah tidak kenal. Seperti datang ke kantor orang lain, betapa dulu hidupnya sangat sederhana, berangkat jam 7.30, jalan kaki ke kantor kemudian mengantri di lift bekerja sampai jam dua belas siang. Ramai-ramai pergi ke kantin, bikin kopi buat seniornya… ahhh rasanya kangen dengan kehidupan itu.


Hasna mendekati ruangannya, diketuknya pintu yang terbuka, Tok..tok...tok


“Permisi” kenapa ruangan terasa sepi tidak terdengar suara orang yang bekerja. Hasna kembali mengetuk pintu..tok..tok. Apakah sedang ikut rapat juga semuanya.

__ADS_1


“Siapa? Masuk saja” terdengar suara yang sudah sangat ia kenal Mas Arya. Tapi kenapa ada di ruangan Bu Rika. Hasna langsung berjalan ke ruangan Bu Rika ternyata memang Mas Arya dan ia sekarang duduk di meja Bu Rika…. OMG Mas Arya naik pangkat…. Wow nobody tells me pikir Hasna.


“Hasnaaa…. Hahahhaha serius itu kamu” Arya langsung berdiri melihat Hasna yang tampak bengong di pintu ruangannya.


“Mass…. Naik jabatan hahahhahaah kereen meni gak bilang-bilang selamat..selamat” Hasna langsung menyalami Arya.


“Ada angin apa Nyonya Bos datang ke kantor, biasanya lu gak pernah ingat sama kita” Arya langsung tersenyum sinis, ia suka mendengar kalau Hasna datang ke kantor dari Prita tapi tidak sekalipun ia mampir.


“Hehehehhe maapkeun.. Aku riweuh eung, kalau kesini suka dikawal disuruh langsung pulang sama Pak Boz jadi gak bisa belok-belok dulu” Hasna langsung duduk di kursi depan meja Arya.


“Bu Rika kemana? Pindah bagian atau Resign?” Hasna langsung menduga kalau Rika dipindahkan atau berhenti, karena tidak mungkin posisinya langsung digantikan Arya.


“Dipindahkan ke Pabrik Cabang.. Ada posisi Senior Supervisor..lebih tinggi posisinya daripada disini, jadi pas ditawarin dia langsung mau soalnya gajinya lebih gede trus kali-kali aja disana ada yang bisa dihunting katanya. Semenjak lu kawin dia jadi resah pengen kawin juga” Arya langsung panjang lebar bercerita, kangen rupanya bertemu dengan anak binaannya.


“Ehhh Bu Rika udah pengen nikah Mas Arya kapan?” Hasna langsung nembak. Arya langsung menggaruk-garuk kepalanya.


“Kalau gw kawin sekarang kasian cewe-cewe yang ada di kantor ini, bakalan ada Hari Patah Hati Sekantor ..ntar deh kalau nemu yang cocok...lu sih pake kawin sama Boz jadi aja gw kehilangan gebetan” Arya langsung curcol pada pelaku yang membuatnya patah hati.


“Enaknya aja… aku gak sudi jadi gebetan Buaya Air Tawar kaya Mas Arya...hidup bakalan gak tenang” jawab Hasna cemberut. Ia langsung ingat kalau sekarang ia berduaan dengan Arya bisa-bisa suaminya cemburu lagi.


“Mbak Maytha mana? Kok gak keliatan?” Hasna langsung berdiri, tidak terdengar seorangpun di kubikel.


“Mas ngobrolnya sambil makan siang yuks… biar enak di cafetaria bawah sekalian makan siang. Aku juga nungguin Mas Reza istirahat siang” Hasna merasa tidak nyaman berduaan dengan laki-laki sekarang, sikap posesif Reza harus ia jaga supaya tidak ada pemancing dan mengundang kemarahannya.


“Hmm jam 12 kurang 15 yah ...ok lah gak apa-apa, aku kirim pesan sama Maytha buat nyusul kita ke bawah. Kita pesankan saja supaya bisa langsung makan gak pakai ngantri” Arya tampak bersemangat, mengingat masa lalu mereka selalu bertiga makan siang ke cafetaria. “Pak Boz masih rapat yaa?” Arya mengingat tadi ada schedule rapat, tapi diwakili Maytha karena ada dirinya ada agenda rapat yg lain tadi.


“Iya ga jawab aku kirim pesan juga, nanti aku kabari kalau aku mau makan siang di lt. 2 kalau beliau masih rapat” Hasna langsung mengirimkan pesan. Baginya hidup sesimple itu tanpa harus terlalu memikirkan apapun. Mereka sibuk bercerita tentang aktivitas selama 6 bulan terakhir, ternyata banyak hal yang terjadi di kantor, Hasna merasa banyak kehilangan cerita, ia benar-benar merasa seperti menjadi ibu rumah tangga biasa.


Lantai dua masih sama seperti terakhir ia tinggalkan, bangku makan masih sama, masih ada ruang khusus untuk pimpinan kalau makan. Hasna tersenyum ia masih ingat melihat suaminya duduk dan dia sebagai staf melihat betapa jauh jarak antara mereka berdua. Tidak pernah terbayangkan kalau laki-laki itu menjadi suaminya.


“Na lu mau makan apa?” sikap Arya tidak berubah walaupun Hasna sudah menjadi istri pimpinannya. Mungkin karena Hasna tidak pernah muncul dan memposisikan diri sebagai istri pimpinan. Dia masih menyapa tanpa menggunakan nama sapaan formal.


“Biasa aja Mas… Ayam Bakar Komplit...eh biar aku pesan sendiri” Hasna jadi merasa sungkan, biasanya dia yang junior yang memesankan untuk staf yang lebih senior di ruangannya.


“Hahahah gila lu masa gw nyuruh elu sih.. Ntar gw dipecat nyuruh-nyuruh istri bos. Ehhh serius kamu gak akan apa-apa makan disini” Arya langsung menyadari kalau posisi Hasna berbeda sekarang.


“Gak apa-apa nanti klw Mas Reza sudah beres rapat pasti ngabarin … ini dari tadi ga dibalas terus pesannya” Hasna mengecek kembali pesan di hapenya masih belum ada balasan dari suaminya. Akhirnya sambil menunggu mereka menghabiskan waktu dengan bercerita tentang kejadian heboh dan gosip-gosip terkini di kantor.

__ADS_1


Ada staf yang memergoki Arcy pulang dari kantor dijemput sama orang Korea sehingga membuat semua staff bergosip, kemudian keributan antara Bu Rika dan Manager di bagian HRD yang menginginkan posisi yang ditawarkan kepada Bu Rika, sampai terjadi acara labrak melabrak ke ruangan. Dan untungnya kata Arya ada Maytha yang pasang badan dan membela Bu Rika karena yang bersangkutan tampak tidak peduli.


Hasna sampai melotot mendengarnya, ia tidak membayangkan kalau Mbak Maytha akan menjadi pasukan berani mati. Dia hanya sibuk bertanya trus ..trus… sampai tidak sadar yang mendekat dan memukul bahunya dengan keras.


“Elu tuh yaa janji-janji aja mau nengok ke sini...ternyata boong udah mau setahun baru datang” panjang umur serta mulia ternyata pasukan berani mati sudah selesai rapatnya.


“Mbaak Maythaaaaa…. Aku kangennnn…” Hasna langsung berdiri dan memeluk seniornya itu, enam bulan itu ternyata lama, dan mengapa ia sangat merasa kehilangan mereka padahal ia hanya tiga bulan di kantor itu.


“Dasar lu tuh kerja disini cuma mau nyari jodoh doang, begitu udah nyabet langsung kabur gak berbekas” Maytha cemberut sambil duduk di sebelah Hasna karena pelukannya tidak dilepaskan.


“Maaf senior...aku tuh riweuh jadi emak-emak milenial jadi gak bisa nengok ke lantai 7, ini juga bisa kesini soalnya udah beres perkuliahan jadi punya waktu lenggang” Hasna tersenyum kangen sekali bisa berbicara dengan manusia dewasa yang tidak memiliki beban seperti mereka.


“Aduuuuh aku tuh pengen banget ngantor lagi kaya dulu, pengen barengan lagi di kubikel ngegosip, ngantri naik lift, makan siang rame-rame” Hasna menghela nafas.


“Ahhh gak mau kalau lu istri GM jadi staf gw ntar malah kita dimarahin terus… tadi suami lu tuh marah-marah aja selama di rapat… lu kenapa sih gak ngasih servis yang bener sama suami lu.. Bawaannya esmosi mulu… tadi gw kena semprot juga disebut ga bisa bikin program training development yang bener” Maytha cemberut dan memandang Hasna dengan kesal.


“Haaah serius masih marah? Padahal tadi malam aku kasih sampe dua kali malahan” Hasna dengan polos menjawab. Maytha langsung melotot.


“Lu gak usah sebutin jumlahnya napa sih Na… bikin si Arya mupeng” Maytha tertawa-tawa melihat ekspresi Arya yang cuma senyum kecut dan menggeleng-gelengkan kepala.


“Ehhh rapatnya udahan yah kenapa laki gw gak jawab pesan… masih emosian? Aku tinggal dulu aja yah.. Ntar kesini lagi… gw suka dimarahin terus kalau ngobrol sama laki-laki...bahaya punya bos posesif” Hasna langsung membereskan tempat makannya.


“Laaah kamu belum makan gimana sih” Arya langsung merenggut kesal. “Dikasihkan ke OB aja Mas… ini aku ganti ongkos traktirnya sama kue cookies bikinan aku… buat Mas Arya and Mba Maytha teman minum kopi pagi” Hasna mengangsurkan toples kecil berisi kue cookies cokelat buatannya yang awalnya akan diberikan kepada Aswin.


“Weiiis bener-bener udah jadi emak-emak lu Na… Bikin kue...makasih yaaa, ntar tengokin kita lagi….kali aja pas nanti lu datang lagi si Maytha naik levelnya ke lantar 9” balas Arya yang langsung disambit oleh pukulan Maytha…”Gak sudi gw seruangan sama Madam Lampir..ih amit-amit deh mendingan pindah kantor” Hasna tertawa mendengar lelucon seniornya, ah menyenangkan sekali kalau bisa kembali mengantor.


Di dalam lift Hasna merasa tidak enak perasaan, kenapa Mas Reza tidak menjawab pesan darinya, dilihatnya sekali lagi memang tidak ada jawaban pesan apapun. Jam sudah menunjukkan 12.30 pasti rapatnya sudah selesai, soalnya Mbak Maytha bilang kena semprot artinya rapatnya ikut bersama dengan suaminya. Hmmm apa hp nya tertinggal di ruangankah?


Sesampainya di lantai sembilan Hasna tidak melihat Aswin duduk di mejanya, apakah ia sudah makan siang? Akhirnya Hasna memberanikan diri mengetuk pintu terdengar suara di dalam, hmmm suara perempuan Hasna langsung mencoba membuka pintu. Kleeek… kenapa dikunci tadi dia masuk saat tidak ada orang malahan tidak dikunci kenapa sekarang malahan dikunci. Hasna mulai merasa kesal, apa-apaan sih kok malah mengunci diri di dalam ruangan dengan perempuan.


Terdengar suara perempuan yang tertawa dan ada suara laki-laki … itu seperti suara Mas Reza. Hasna kemudian mengetuk-ngetuk pintu… tok..tok..tok… klek….klekk… Hasna mencoba kembali membuka pintu.


“Mas ini aku… Hasna” tok...tok… sekitar 2 menit tidak terdengar suara baru kemudian kunci pintu terdengar dibuka, dan perempuan itu membuka pintu dan memperlihatkan ekspresi kaget yang dibuat-buat. Kancing bajunya yang bagian atas terlihat terbuka, lipstiknya seperti terhapus sebagian dan melebar hingga sisi luar seperti terhapus dengan paksa. Hasna langsung merasakan kekesalan yang amat sangat. Apa-apaan ini.


“Ohhh…. Maaf saya kira tadi bukan BU HASNA… saya baru rapat dengan Pak Reza” Arcy tersenyum dan berjalan keluar dari pintu. Saat di dekat Hasna ia berbisik


“Surprise…” ucapnya sambil tersenyum mengejek. Hasna sudah ingin menangis karena kesal.

__ADS_1


Sebetulnya hari ini yang mau membuat kejutan siapa?


__ADS_2