
Author POV
Hari Jumat berlalu dengan cepat, tidak terasa hari sudah sore lagi. Hasna merasa waktu seperti berlari dalam kecepatan penuh untuk mengakhiri minggu ini.
Kata orang setiap yang akan menjalani masa pernikahan akan mengalami kegalauan dan kebimbingan. Artinya bukan menjadi alasan utama karena dia baru mengenal Reza tapi orang yang sudah lama berpacaran pun banyak yang kemudian putus menjelang rencana pernikahan.
Tadi malam Hasna tidak kuasa untuk banyak bertanya tentang Istrinya Reza Mitha, melihat tatapan mata dan kesedihan yang terpancar membuatnya tak kuasa untuk banyak bertanya.
Bingung mau mulai bertanya dari mana dan takut mendengar jawaban dari Reza. Akhirnya mereka makan tanpa membicarakan apapun.
“Sebelum pulang kita perlu bicara dulu” Reza menghela nafas
“Sekarang adalah waktu terakhir yang bisa gunakan sebelum Sabtu nanti kita melangkah lebih jauh”
“Kamu tidak apa-apa pulang agak malam?” ucap Reza sambil memandang jam tangannya
Hasna menggelengkan kepalanya, paling tidak mereka bisa membicarakan banyak hal sebelum mengambil keputusan besar dalam hidup.
“Kita pindah ke cafe depan, disana lebih nyaman untuk dipakai ngobrol” Reza beranjak dari kursinya.
Hasna hanya mengikuti dari belakang, dalam kepalanya dirancang berbagai pertanyaan yang ingin ia ungkapkan.
Ternyata di depan restaurant terdapat cafe kecil yang cantik, ada tampak beberapa pasang orang di dalamnya tapi tidak terlalu penuh.
“Kita cari ruangan non smoking ya supaya kamu nyaman” ucap Reza, ia mengedarkan pandangan mencari tempat yang nyaman
“Sebelah sana kayanya enak Pak tidak terlalu crowded” ucap Hasna menunjuk tempat yang agak diujung tapi masih dekat pintu.
“Boleh.. Kamu mau minum apa sekalian saya pesankan saja sekarang” ucap Reza sambil beranjak ke area pantry
“Hot chocolate saja pak” tak terbayang oleh Hasna kalau minum kopi jam segini, bisa-bisa melek sampai pagi.
Hasna ingat dulu saat kuliah pergi ke cafe supaya bisa mengerjakan tugas dengan teman-temannya, minum paling banyak hanya 2 cangkir kopi dan coklat tapi bisa diam disana ngadem sampai berjam-jam. Dasar mahasiswa ingin murah tapi nyaman.
“Saya sudah lama sekali gak ke cafe malam-malam Pak dulu biasanya kalau ada tugas kelompok, suka ngumpul sama teman-teman. Kok rasanya sudah lama banget yah kaya 10 tahun yang lalu padahal baru 2 tahun yang lalu paling lama” ucap Hasna saat Reza mendekat dan duduk disebelahnya.
“Gak pernah ke cafe sama pacar?” tanya Reza
“Gak pernah punya pacar Pak… hehehe biasanya banyakan sama teman-teman paling sedikit bertiga lah” Hasna berpikir mengingat-ingat temannya yang dulu dekat dengannya.
“Memang tidak ingin atau tidak ada yang mendekat?” Reza tersenyum
“Hmmm… kalau yang bisa suka sih banyak Pak tapi saya tidak terlalu tertarik punya pacar, senang rame-rame aja berteman, kalau punya pacar jadi kaya dibatasi dalam berteman, gak boleh sama ini, gak boleh kesana kalau sendiri… ribet jadinya. Kak Angga aja udah banyak larangannya ehhh ini nanti ditambah lagi sama pacar… gak deh” Hasna menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu senang berteman dengan banyak orang rupanya” Reza tersenyum melihat Hasna
“Ya teman saya banyak laki-laki, lebih mudah berteman sama laki-laki gak gampang baper Pak, bisa ledek-ledekan, teman-teman laki-laki saya bilang saya orangnya asik ga ribet. Cuman kakaknya aja galak..heheheh mereka suka dimarahin sama Kak Angga soalnya” Hasna tertawa mengingat teman-temannya dulu yang suka dimarahi karena terlambat mengantarkan Hasna pulang.
Reza tersenyum melihat Hasna, begitu mudahnya perempuan ini tertawa setelah sebelumnya tampak marah karena Reza mengabaikannya.
“Apa yang ingin kamu tau tentang Mitha?” tanya Reza langsung.
“Ehhh… boleh saya bertanya sekarang Pak” Hasna langsung kaget, dia tidak menyangka kalau Reza langsung terbuka untuk bisa menceritakan tentang Mitha
“Bu Mitha sakit apa? Apakah meninggal waktu melahirkan Maura atau setelah Maura lahir?”
__ADS_1
Reza terdiam dan kemudian menceritakan kronologis meninggalnya Mitha karena preeclampsia dan kondisi Maura ditinggalkan oleh ibunya.
“Bapak ada dimana saat itu?”
“Saya kebetulan sedang ada pertemuan di Surabaya selama 3 hari, waktu itu perkiraan dokter masih 2 minggu lahir untuk jadwal kelahiran Maura”
“Jadi bapak tidak sempat bertemu dulu dengan Bu Mitha sampai beliau meninggal” tanya Hasna cepat
“Tidak” Reza termenung melihat cangkir di depannya, rasa bersalahnya mengingat telepon terakhir dari Mitha terus terngiang di kepalanya.
“Saya dan Mitha pacaran semenjak SMA, memang tidak pernah ada kata khusus diantara kami, hanya saling mengerti perasaan saja. Mungkin karena karakter kami sama, tidak terlalu banyak bicara. Dia selalu mendukung semua ambisi dan keinginan saya, termasuk melepaskan mimpinya untuk menjadi Guru TK dengan meninggalkan kuliahnya demi untuk menemani saya kuliah S2 di Inggris, saya menjanjikan dia akan bisa melanjutkan kuliahnya nanti setelah pulang ke Indonesia, tapi ternyata kesibukan dengan memiliki Hujan menjadikan dia melupakan mimpinya itu” Reza menghela nafas dan kemudian kembali meminum kopinya.
“Sepeninggal Mitha saya berusaha untuk bisa mengurus anak-anak dengan baik, tidak berpikir untuk menikah lagi, terlalu menguras energi untuk bisa berhubungan kembali dengan perempuan lain, Mama sering mempertemukan saya dengan banyak wanita tapi saya tidak merasa tertarik. Saya tidak membutuhkan istri untuk saya sendiri tapi saya juga membutuhkan ibu untuk anak-anak saya dan kebanyakan wanita yang diperkenalkan Mama adalah wanita yang ingin menjadi istri tapi tidak menjadi ibu untuk anak-anak saya”
“Tapi itu berbeda dengan kamu” ucapnya sambil melihat Hasna
“Saat bertemu dengan kamu, yang menjadi pusat perhatian kamu adalah Maura bukan saya, padahal biasanya perempuan akan langsung berusaha menarik perhatian saya baru kemudian melihat Maura atau Hujan… kenapa” tanya Reza tiba-tiba
“Eh… kenapa apa?” tanya Hasna bingung tidak siap ditanya oleh Reza
“Kenapa kamu lebih memperhatikan Maura dan mempertimbangkan untuk menikah dengan saya karena anak-anak”
“Ya karena anak-anak Bapak lucu dan menyenangkan tidak seperti Bapak mudah marah dan mengesalkan” jawab Hasna
“Saya kasihan saat mendengar Maura bilang kalau ibunya sudah pergi ke Surga menemani adiknya yang kesepian, saya suka sedih kalau Maura memeluk saya sambil menggosok-gosokan hidungnya ke dada saya kalau mengantuk, mungkin naluri perempuan Pak”
“Itu yang menjadikan saya memilih kamu untuk menjadi ibu dari anak-anak saya, karena saya melihat kamu tulus mencintai Maura dan berusaha untuk dekat dengan Hujan”
“Kemarin Mas Arya bilang kalau saya orang yang aneh, menikah dengan laki-laki karena suka pada anaknya bukan pada ayahnya, seaneh itukah saya Pak”
“Apa urusannya dia bilang seperti itu” Reza langsung naik 1 oktaf suaranya mendengar ucapan Hasna
“Setelah pertunangan besok Sabtu saya minta kamu untuk mengajukan surat pengunduran diri, jadi kamu bisa lebih fokus untuk mempersiapkan acara pernikahan dan mendaftar untuk kuliah S2”
“Pengunduran diri itu kan tidak bisa langsung Pak musti berproses minimal 2 minggu, lagi pula saya masih ingin menikmati masa-masa saya bekerja sebelum nanti menikah” tungkas Hasna cepat.
“Bapak itu harus belajar memberikan kepercayaan kepada orang lain, jangan gampang terprovokasi pikiran dan orang lain”
“Saya juga ada permintaan Pak, dulu Bapak berjanji untuk memberikan kesempatan bagi kita untuk saling mengenal dulu lebih baik. Jadi saya tidak ingin kita ada hubungan suami istri dulu sebelum kita saling mengenal lebih baik, agak aneh buat saya soalnya deket-deket sama laki-laki yang tidak saya kenal”
“Maksudnya hubungan suami istri bagaimana? Kan kalau sudah menikah pasti jadi suami istri?” Reza bingung
“Itu pak.. Hubungan suami istri kalau malam-malam” Hasna manyun sambil bingung agak sungkan menjelaskan hal seperti ini kepada orang asing.
“Malam-malam?” Reza masih bingung
“Ehhhh Bapak udah kelamaan "nganggurnya"… itu Pak hubungan “intim”... hadeuh musti sampai dijelaskan sampai ABC emang… Kak Angga aja langsung ngerti yang belum nikah.. Ampun ih” Hasna kesal
“Owh….hahahahhaa… yah bilang saja langsung kok sampai bingung seperti itu” Reza tertawa,
“Pasti nanti disuruh masuk kamar berdua Pak, saya gak mau sekamar berduaan sama Bapak kayanya membingungkan nantinya”
“Jadi tolong pikirkan sama Bapak supaya nanti tidak ada acara sekamar berdua dengan Bapak, saya takut Bapaknya khilaf”
“Ya ya nanti saya pikirkan” jawab Reza sambil tersenyum.
“Saya berjanji akan menjadi suami yang baik untuk kamu, walaupun kita memulai pernikahan bukan atas dasar saling mencintai seperti pasangan lain” ucap Reza
__ADS_1
“Jangan berjanji Pak, khawatir tidak bisa ditepati nantinya” tungkas Hasna.
“Ada ungkapan bahwa apabila kita boleh memilih dicintai atau mencintai maka akan lebih baik kita dicintai oleh pasangan kita, tapi kalau sekiranya kita bisa mendapatkan pasangan yang kita mencintai kita dan kita mencintai dia maka kita adalah orang yang sangat beruntung dimuka bumi ini… masalahnya adalah kita berdua sama-sama tidak saling mencintai dan dicintai…” ucap Hasna
“Apakah kita masuk pada kategori pasangan yang buruk pak?”
“Tidak juga kita adalah pasangan yang unik, mencintai pihak ketiga yaitu anak-anak, dan saya kira itu adalah awal yang baik, indikator bahwa kita bukan orang yang egois, berpikir dari sisi keuntungan diri pribadi saja”
“Saya akan berusaha kalau begitu bukan berjanji untuk menjadi suami yang baik untuk kamu, memenuhi semua kebutuhan dan keinginan kamu, sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anak saya.”
“Tapi saya juga meminta waktu untuk bisa mencintai kamu sebagai seorang pasangan, berikan saya kesempatan untuk bisa terbiasa dan melupakan semua perasaan bersalah saya pada Mitha hingga saya bisa mencintai kamu secara utuh”
Hasna terdiam, ucapan Reza terdengar tulus di telinganya.
“Saya bukan orang yang dengan mudah mengungkapkan perasaan kepada orang lain, mungkin itu agak sulit bagi kamu yang selalu mudah untuk bercerita dan mencurahkan semua perasaannya kepada orang, tapi saya akan berusaha untuk lebih terbuka kedepan.
“Kalau kamu sanggup untuk menerima kekurangan saya ini, kita bisa mencoba untuk melanjutkan rencana kita kedepannya”
Hasna diam, dia perlu waktu untuk mencerna apa yang dikatakan Reza kepadanya barusan.
“Baik… saya kira, kita adalah dua orang dewasa yang bisa saling berkomunikasi dengan baik. Dan saya merasa itu adalah awal yang baik”
“Saya juga tidak bisa berjanji untuk bisa mencintai Bapak tapi akan berusaha menerima Bapak sebagai jodoh yang dipilihkan Tuhan untuk saya, hanya saja apabila kedepan saya merasa Bapak bersikap tidak baik dan membuat saya tidak nyaman sebagai seorang perempuan maka saya meminta izin pada Bapak untuk bisa melupakan saya”
“Maksudnya melepaskan bagaimana?” Reza bingung, perempuan ini memiliki banyak pola pikir yang tidak ia mengerti.
“Kalau sampai pada waktunya yang merasa diperlakukan dengan baik dan membuat saya berpikir bahwa Bapak adalah laki-laki yang terbaik untuk saya maka saya akan memberikan hak Bapak sebagai suami dengan penuh kerelaan, tapi kalau kemudian saya merasa Bapak tidak memperlakukan saya dengan baik, maka Bapak harus melepaskan saya walaupun saya belum memenuhi kewajiban saya sebagai seorang istri”
Reza tersenyum perempuan ini memiliki standar untuk dirinya dan menetapkan nilai tawar berdasarkan pemikirannya bukan atas dasar kesepakatan bersama atau nilai umum.
“Bukankah kewajiban istri itu adalah memenuhi haknya suami?” goda Reza
“Itu kalau suami istri normal… kita kan bukan suami istri normal Pak… kita suami istri karena orang ketiga yaitu anak-anak” jawab Hasna cepat.
“Ok boleh, saya akan berusaha untuk bisa memenuhi standar yang kamu inginkan sehingga saya bisa mendapatkan hak saya sebagai suami kedepan” goda Reza.
“Saya kira Bapak akan menghadapi jalanan yang sulit dan terjal, terus terang standar saya tinggi Pak, itu sebabnya saya sulit mendapatkan pasangan” Hasna tersenyum simpul, jangan suka meremehkan kemampuan daya tawar menawar dengan Hasna pikirnya.
“Ok… deal… bisa kita bersalaman untuk menyepakati ini” ucap Reza
“OK…” Hasna mengulurkan tangannya.
Reza menyambut tangan Hasna, dan kemudian membalikkan tangannya, dan dengan gerakan cepat mengecup punggung tangan Hasna.
Hasna langsung kaget, ditariknya tangannya tapi genggaman tangan Reza lebih kuat.
“Anggap ini adalah langkah permulaan untuk mendapatkan keridhoan pasangan, rupanya kamu benar-benar belum pernah tersentuh… baru dipegang saja sudah gemetaran begini” Reza tertawa sambil meninggalkan Hasna yang terpaku melihat punggung tangannya.
Hasna…. Skor berubah 1 - 1
***************************
Terima kasih atas kesabarannya, mohon maaf penulis sedang sibuk dengan pekerjaan, jadi melembur trus, begitu selesai malam hari tenaganya sudah habis, harus jaga kesehatan dengan tidur yang cukup. Begitu ada waktu luang saya langsung lanjutkan tulisan saya. Tetap berikan dukungan yang terbaik yah dengan vote, like dan komentnya supaya bisa tetap berkarya.... Stay safe and keep productive.... Lope lope buat semuanya
__ADS_1
*****************************