Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Dilarang Bias Gender


__ADS_3

Hasna POV


Hari ini aku harus menyerahkan surat pengunduran diri, terhitung baru 3 bulan bekerja di kantor ini, dan harus mundur. Bukan karena kinerja yang kurang tapi naik kelas jadi istri GM. Mimpi apa aku tuh sebetulnya, gak kepikiran sama sekali. Aneh memang takdir itu.


Suka sih kepikir waktu dulu, bakalan ketemu gak yah, sama laki-laki yang bisa jadi pacar kalau di Jakarta, soalnya waktu di kantor project dulu kebanyakan bapak-bapak semua. Eh ternyata di Jakarta tetep aja ketemunya sama bapak-bapak beranak dua emang udah nasib.


Pas pagi-pagi datang langsung googling nyari contoh surat pengunduran diri, ternyata mirip seperti surat permohonan cuti kuliah, heheheh dulu kebanyakan bikinin surat permohonan izin cuti teman-teman.


Duh meni sedih begini bikin surat pengunduran diri gak pernah mimpi bikin surat ini, alasan pengunduran diri ...hmmm akan menikah dengan GM...qiqiqiqi… terbayang bagian HRD kalau baca alasannya seperti ini, mungkin si ibu lipstik merah Manager HRD  itu akan langsung pingsan.


Ok alasan pengunduran diri ini diajukan karena akan menikah dan ikut suami.hahahahaha… jujur ah. Yang nyuruh aku berhenti kan dia. Kebayang deh kayanya yang ada dalam pikiran orang HRD aku ikut suami yang militer pindah pulau. Hahahahaha.


Tak berapa lama terdengar suara Mas Arya masuk ke ruangan, langsung aku berdiri.


“Mas...hehehehe mau minum kopi gak” kataku


“Tauk ah… bete aku sama kamu” jawab Mas Arya sambil melengos pergi, ehhh kok ngambek sih.


“Kok marah, katanya gak akan marah sama aku… Mas Arya kan gak beneran suka sama aku kan” tanyaku, mengikuti dia masuk ke pantry


“Siapa lagi yang suka anak gak peka kaya kamu, bikin makan hati tau gak” Mas Arya tampak sibuk mencari-cari sesuatu di lemari.


“Kopi dimana sih? Abis?” tanya dia padaku


“Hmm gak tau, aku punya persediaan yang coffee drip bag kalau mau” kataku. “Bentar aku ambilin”


“Nih..” aku berikan 1 sache drip bag.


“Kamu kok nyimpen persediaan kopi kaya gini sih Na.. biasanya laki-laki yang punya kaya gini”


“Kopi aja pakai jenis kelamin Mas” ucapku


“Maksudmu” tanya Mas Arya


“Iya kita tinggal di masyarakat yang membuat pengkelasan gender dalam segala hal” ucapku


“Warna contohnya. Laki-laki kalau pakai baju pink disebut kemayu lah, melambai lah. Pink kan warna perempuan.. Lah siapa bilang pink warna perempuan terus hitam warna laki-laki, mungkin asal muasalnya karena laki-laki sering kerja diluaran jadi bajunya kotor jadi hitam supaya gak keliatan hitam ya sudah pakai warna hitam kemudian seterusnya disebutlah kalau warna hitam itu warna laki-laki dan pink karena terlihat lembut jadi warna perempuan” ucapku


“Tapi aku punya kok kemeja warna pink” ucap Mas Arya


“Bagus itu artinya Mas Arya sudah gak bias gender” ucapku


“Maksudnya” Mas Arya kembali bertanya


“Iya artinya Mas Arya itu tidak mengkategorikan suatu hal karena berdasarkan anggapan jenis kelamin ...Ehh aku pagi-pagi jadi ceramah ginih”


“Gak apa-apa anggap aja kuliah tujuh menit… coba jelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana” Mas Arya sambil nyender mulai menyesap kopi yang dibuatnya.


“Jadi Bias gender itu membuat suatu pengkategorian pada lelaki dan perempuan bukan pada hal yang sifatnya kondrati. Contoh kodrati perempuan tuh hamil, melahirkan, laki-laki kodratinya otot yang lebih kuat, struktur tulang dan dada yang lebih bidang. Nah pengkategorian warna pink sebagai warna perempuan kan tidak berhubungan dengan kodrati perempuan.


“Contoh bias gender yang lain tuh yah, permainan bola itu olahraga lelaki trus kalau sekolah dahulukan laki-laki daripada perempuan. Kalau jaman dulu aku bisa mengerti karena secara tingkat sosial ekonomi kita masih lemah, sehingga untuk membiayai sekolah anak mungkin orangtua harus memilih anak yang harus menanggung beban keluarga dan laki-laki yang memiliki fisik yang kuat dipilih untuk mewakili keluarga untuk sekolah, maklum jaman dulu sekolah itu kaya ke medan perang gitu.


“Kalau jaman sekarang, dimana kesempatan sudah banyak, sekolah gak bayar, masih mendahulukan anak laki-laki yang pemalesan trus malah uang sekolah dipakai gaya-gayaan pacaran sedangkan adiknya perempuan yang pinter disuruh dirumah karena ada anggapan nanti juga bakalan nikah gak usah tinggi-tinggi belajar…. Gemes aku kalau denger kaya gitu”


“Lah kamu juga kan kaya gitu sekarang” ucap Arya


“Aku… maksudnya” tanyaku


“Sekarang kan berenti kerja gara-gara mau nikah, orangtua kamu udah nyekolahin kamu sampai lulus kuliah, lulus cum laude… endingnya malah nikah sama GM.. belum juga tiga bulan kamu kerja disini. Belum BOP tuh ortu kamu antara nyekolahin sama pendapatan yang sekarang didapatkan dari bekerja” Mas Arya langsung nyerang gegara masalah nikah sama Pak Reza…. Hmmm ngajak ribut ini mah.


“Eitsss sebentar.. Ini kembali lagi pada masalah kodrati Mas. Ada beberapa alasan aku menerima pernikahan ini, pertama secara kodrati memang laki-laki dan perempuan harus menikah kalau mendapatkan kecocokan untuk berumah tangga ingat yah laki-laki dan perempuan, kedua walaupun aku menikah bukan berarti aku berhenti untuk berkembang dan memberikan kontribusi pada keluarga. Aku sudah membuat keputusan kalau aku nikah aku mau lanjut S2 supaya nanti aku bisa memilih pekerjaan yang sesuai dengan kodrat aku yaitu menjadi ibu”

__ADS_1


“Emang kamu memilih pekerjaan apa nanti?” tanya Mas Arya dingin.


“Yah pekerjaan yang gak ngabisin waktu kaya sekarang kalau bisa, ngajar lah atau pekerjaan yang bisa menyeimbangkan antara kerjaan n tugas di rumah, supaya tetap bisa mengurus keluarga dan mendidik anak. Bukan berarti aku nyebut perempuan yang kerja di kantor menyalahi kodrat yah, tapi mungkin saja gak ada pilihan jadi mereka harus bekerja yah selama disepakati dengan suaminya gak masalah” jawabku


“Apaan ini pagi-pagi udah ngomongin kesepakatan sama suami” tiba-tiba Mbak Maytha nimbung di Pantry


“Ini calon Ny GM baru ceramah soal bias gender gegara aku nyebut dia suka minum kopi... ternyata minum kopi juga tidak boleh bias gender” sambungnya sambil keluar dari Pantry


“Loh kok aku disebut ceramah… kan tadi Mas Arya yang suruh jelasin soal bias gender” protesku. Dasar kalau kalah debat suka jadi pundungan.


“Kenapa Na?” tanya Mbak Maytha.


“Tauk tuh Mas Arya” jawabku.


“Udah gak usah dipikirin dia masih kesel aja ngedenger kamu udah dilamar. Selamat yah.. Hebat kamu belum tiga bulan sudah bisa dapetin GM. Kalau setahun disini bisa dapat VP kayanya” Mbak Maytha langsung ketawa-ketawa.


“Enaknya aja Mbak tuh, emang aku cewe apaan masuk kantor buat dapetin boz, amit-amit deh. Ini juga aku masih rasa mimpi beneran gak mau nikah. Aneh banget datang ke Jakarta malah diajak nikah.. Nasib-nasib mau jadi wanita karir gak kesampaian” Aku tertawa nyengir.


“Kamu musti jaga jarak sama Madam di Lantai 9 pasti dia bakalan nyasar kamu sekarang, kalau bisa jangan naik ke atas tanpa pengawalan, khawatir kejadian kemarin terjadi lagi”


“Ok mbak.. Doakan aku yah, bisa melewati masa akhir kerja aku dengan baik. Aku bakalan kangen banget sama Mbak Maytha…. Peluuuuk” ucapku sambil memeluk Mbak Maytha dengan erat.


“Udah ahhhh… aku jadi sedih...syuh-syuhhh… entar kamu bakalan sering kesini juga, sebagai istri Pak GM pasti bakalan nengok suami. Jangan lupa nanti mampir ke divisi kita” Mbak Maytha mendorongku menjauh, matanya sudah berkaca-kaca.


“Siap Senior, kalau aku datang akan membawa sesajen dan makanan buat senpai-senpai aku yang baik ini” akhirnya kami masuk ke dalam ruangan sampai berpelukan kaya teletubies.


Surat pengunduran diri setelah mendapatkan acc dari Bu Rika, aku serahkan ke bagian HRD. Mereka tidak banyak bertanya secara mereka tidak tahu aku akan menikah dengan siapa. Lagipula siapa juga aku ini.


Surat pengunduran diri sebelumnya aku foto terlebih dahulu dan aku kirimkan kepada Pak Reza. Disertai dengan tulisan pesan.


“Surat pengunduran diri secara resmi sudah dibuat. Kalau gak jadi nikah sama Bapak, aku mesti pindah cari kerja lain...hehehehe”


Jam 3 kurang aku mendengar telepon berbunyi ternyata pesan dari Pak Reza. “Maksudnya apa gak jadi nikah, jangan suka membuat kalimat yang tidak perlu”


“Main-main pak….” ehhhhh salah typo “Main-main Mas… jangan terlalu serius dong, segala sesuatu kan belum pasti… hehe maaf” tulisku


“Aku bisa minta no telepon Ka Isyana, mau diskusi soal persiapan pernikahan” sambungku. Aku lupa Bapak satu itu kalau lagi serius di kerjaannya gak akan bisa diajak bercanda dan relax-relax mikirnya.


“Ini No Hp Syana.. +65-67998XXXX aku kmarin sudah bicara sama dia dan dia mau bantu”


“Ok boz… silahkan lanjutkan rapatnya, jangan lupa makan kudapan manis biar gak turun gula darahnya dan tetap maniez… uhuuk :)”


“:)” balasan emotion doang.


Mehhh dikasih simbol smile aja pengen senyam-senyum gini.. Hadeuuuh aku bucin sama om-om … anjay… Aurel aku butuh ilmu darurat bucin begini. No bucin-bucin in my life… bukan anak SMA rehe banget.


Aku langsung mengirim pesan kepada Kak Isyana. Hufft manggilnya apa yah, jelas umurnya lebih tua dari aku, tapi masalahnya dia adiknya Pak Reza masa aku manggilnya kakak, mau manggil nama rasanya kok gak sopan juga. Ya sudah dicoba aja manggil kakak daripada dianggap gak sopan.


“Kak Isyana ini aku Hasna, aku mau minta tolong untuk ngasih masukan soal rencana pernikahan… asking for opinion from the expert.. Kak Isyana kan udah nikah jadi tahu apa saja yang harus disiapkan”


Lama tidak ada jawaban sampai 30 menit kemudian ada balasan.


“Halo Sisi.. aku panggil sisi yah supaya gampang, ih aku pengen banget punya sodara perempuan lagi. Ok kapan kita bisa ketemu, sore ini aku free loh, sekarang lagi sama Maura nih”


“Boleh kalau Kak Isyana gak gak capek n gak ada acara”


“Ok aku jemput yah nanti ke kantor, bawa Mikail sama Maura gak apa-apa kan?”


“Tentu saja dengan senang hati, aku mau ketemu sama Maura juga, Baby Mikail boleh dibawa keluar malam-malam kah?”


“Don't worry my baby is very strong and healthy. He enjoy in public area”

__ADS_1


Hmmm… kalau ngomong sama yang punya suami orang asing nulis pesan juga dicampur-campur sama Bahasa Inggris” pikirku


“Ok aku tunggu ya Kak, terima kasih” balasku


“Ok see you soon” balasnya.


Beres rebes deh. Sekarang tinggal fokus beresin pengantar laporan. Benar-benar harus dinikmati moment ini pikirku.


Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat hingga jam sudah menunjukkan jam 5 sore. Mbak Maytha sudah pulang duluan dengan Mas Arya karena besok harus ada rapat dengan tim dari Kantor Cabang untuk koordinasi pengembangan SDM.


“Ahh… bisa lurusin punggung dulu nih bentar” pikirku setelah sholat Ashar, sambil bisa cek pesan di hp. Pas lagi posisi wuenak rebahan terdengar suara.


“Ini disyinih Mola tau kok.. Seling kesinih bebelapa kali” ehhh itu suara anak koala, kenceng banget.


Aku langsung berdiri dan jrenggg… Anak koala dan Aunty Koala sudah datang dengan membawa stoler baby berisi Baby Koala.


“Waaaahhh cepat sekali sudah datang, kirain Kak Isyana nanti datangnya setelah magrib”


“Ini nih princes udah gak sabar pengen ketemu Buna”


“Tadi mola kasih tau aonty kantolnya buna… masya kata aonty mola nda tau”


“Mola kan hapal kalau kantolnya Buna itu namber wan tu tri for faif siks”


“Iya keponakan Aunty very- very smart.. Like your Papi”


“Bunaaaa… udah soyat.. Hali ini Mola nda soyat kalna mola ikut sama Aonty… tidak boleh soyat”


“Hah kenapa emang Aunty nya”


Isyana langsung tertawa-tawa mendengar alasan Maura. “Bilang sama Buna kenapa Aunty gak solat”


“Aonty lagi red lights… kalau red lights mobil halus belenti… solat juga belenti”


Isyana tertawa cekikikan mendengarkan Maura menjelaskan kepada Hasna kenapa gak solat.


“Hahhh… pikirku.. Hadeuuuh dasar ini mah Tantenya aliran sesat juga kaya si Aurel” Aku cuma bisa mengangguk angguk pasrah aja.


“Ok… kita nanti nunggu Magrib aja kalau gitu biasanya buat anak-anak boleh ikut numpang sama yang Green Lights… Buna lagi green lights jadi nanti Maura ikut sama Buna yah” ucapku


Isyana langsung mengacungkan jempol dan langsung diikuti Maura… hadeuuh dasar anak koala. Tergantung nempel di pohon yang mana ikutan bae.


“Kita ke lantai atas dulu ketemu Abang, supaya bisa ngambil kartu akses” ucap Kak Isyana.


“Ok Kak…” jawabku


“Oya jangan panggil aku Kak Isyana.. Aku jadi ngerasa tua.. Panggil aja Syana.. Its more simple and people use to call me that” ucapnya sambil tersenyum manis… Ok deh kaka jawabku dalam hati.


“Waaaa Baby Mikail sudah bangun...boleh gendong yah” ucapku ngeliat bayi lucu gemesin gini.


“No..no...no… Buna nda boleh gendong-gendong baby mikail” Maura langsung protes dan memegang kakiku…


Weeeeh gak bapak gak anak posesif kabeh…. Hufffttt


***************************


Terima kasih atas saran-saran buat seserahannya, ternyata banyak banget sampai ada yang nyuruh bawa wajik segala, itu sih kesukaan si Ema ... Emas batangan buat seserahan ... hmmm jangan terlalu halu.. khawatir nanti ada yang gak jadi nikah gegara pengen dibawain emas batangan... udah dapat Mas Reza juga udah cukup... hehehe lumayan banget dapat hiburan baca komentarnya. Ok deh next episode adalah giliran nona dan nyonya muda belanja... Dilarang mupeng soalnya mereka sama kita beda dimensi... Hahahaha Love u all


ps: BOP \= Break Event Point alias balik modal


****************************

__ADS_1


__ADS_2