
Minggu ini Hasna mulai mempersiapkan program kuliah S2 nya.. Pemberitahuan untuk mengikuti ujian seleksi dan tes bahasa Inggris sudah datang. Ada semangat yang dirasakan oleh Hasna, ia sudah bisa mulai melakukan pengembangan diri lagi. Kondisi rumah sudah mulai kondusif ia sudah bisa melakukan pekerjaan dengan baik, Hujan sudah terbiasa membawa bekal yang dibuatkan Hasna ke sekolah. Hanya untuk memasak masih dilakukan oleh Mbak Jumi yang sudah hapal kesukaan setiap orang di rumah.
Aktivitas Maura sudah mulai terpolakan sehingga lebih mudah untuk membiasakannya. Maura baru akan mulai belajar sekolah di Taman Bermain minggu depan, beruntung jadi Hasna bisa menemani Maura dulu di sekolah sebelum ia bisa ditinggal sesekali saat Hasna harus sudah mulai kuliah.
Sudah dua hari kebelakang Hasna memberanikan diri untuk merapikan kamar Reza saat suaminya berangkat ke kantor. Ia yang berinisiatif saat melihat Mbak Jumi masuk ke kamar Reza. Awalnya Mbak Jumi berkeberatan dengan alasan takut dimarahi oleh Reza, tapi Hasna meyakinkan kalau Reza tidak akan marah, mungkin karena foto-foto dan pakaian Mitha yang sudah tidak ada, menjadikan Mbak Jumi membiarkan Hasna masuk ke kamar Reza.
Hasna mulai menata pakaian Reza sesuai gaya berpakaian yang sudah biasa dilihatnya. Ternyata pakaian Reza tidak macam-macam cenderung monoton, Hasna hanya memastikan kalau pakaian dalam kondisi baik dan layak pakai tidak ada kancing yang copot atau jahitan yang lepas. Kamar itu memang terlihat kosong karena foto-foto yang dulu menghiasi dinding sudah diambil. Yang tersisa hanya paku-paku yang menempel di dinding, akhirnya ia berinisiatif mencabuti paku-paku itu dan menutupi lubang-lubangnya dengan semen. Untung ayah selalu mengajarkan beberapa hal tentang pertukangan.
Reza awalnya tidak menyadari kalau paku-paku yang menancap di dindingnya sudah tidak ada. Baru kemarin malam dia bertanya pada Hasna.
“Kamu yang mencabuti paku di dinding kamar?” tanya Reza saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga setelah makan.
“Hmmm… iya besok rencananya mau di cat supaya warna dindingnya sama, tadi baru menemukan cat yang sama warnanya” Hasna sedang asyik memotong buah-buahan untuk anak-anak.
“Kamu bisa mengecat dinding?” Reza seperti heran.
“Bisa lah gampang.. Memang Mas Reza gak bisa?” Hasna merasa heran, mengecat adalah hal yang paling mudah di dunia, tinggal mengukur konsistensi cat.. Kalau terlalu kental tinggal ditambah air tapi jangan terlalu encer karena menjadikan cat terlalu tipis untuk diaplikasikan.
“Saya tidak pernah mengecat, sudah ada orang yang ahli di bidangnya” Reza menjawab singkat.
“Ya tidak heran, you born with a silver spoon in your mouth” ucap Hasna. Reza hanya mendelik mendengar ledekan Hasna.
“Aku didik untuk bisa melakukan banyak hal, sebetulnya aku suka melakukan kerajinan kayu hanya saja butuh peralatan dan ruang yang luas untuk bisa menghasilkan produk kayu yang bagus” Hasna pernah melihat video pertukangan, sampai sekarang keinginannya belum tercapai.
Esok harinya adalah waktu ujian seleksi masuk. Malamnya Hasna menyiapkan segala kelengkapan supaya tidak terlambat dan berantakan semua agenda. Dimulai dari bekal untuk Hujan, sudah ia siapkan sehingga besok tinggal diolah, perjanjian dengan Maura agar besok tidak menangis saat ditinggalkan. Ternyata Mama Isna mau menemani Maura saat Hasna mengikuti ujian jadi aman terkendali. Pakaian untuk Pak Suami sudah berjejer rapi di lemari jadi tidak menjadi beban pikiran. Tinggal menyiapkan diri untuk belajar dan mengulang beberapa materi umum yang mungkin akan keluar.
Setelah Maura tidur yang dibius oleh dongeng cepat dan menenangkan Hasna segera kembali ke kamar. Hujan masih asyik dengan tugasnya tapi anak itu sudah besar jadi tidak usah ditemani secara khusus.
Saat Hasna tengah membuka tabnya untuk mengupgrade konsep-konsep tentang manajemen sumber daya manusia, ia mendengar pintu diketuk dan terbuka. Reza melongokkan kepalanya kedalam.
“Sedang apa? Tumben gak ngumpul di ruang keluarga?” ucapnya sambil masuk ke kamar Hasna. Dan matanya langsung terpaku pada poster G Dragon yang telah terpasang dengan manis di dinding kamar.
“Sejak kapan kamu memasang poster itu?” Reza langsung menunjuk poster GD dengan tatapan kesal.
“Haaah… owh GD Oppa… belum kenalan yah” Hasna langsung berdiri di depan poster.
“Oppa perkenalkan ini Reza Hyung” ucap Hasna sambil tersenyum
“Kamu gak ngedengar kalau aku bilang jangan ada poster disini” ucap Reza keras. Hasna hanya tersenyum.
“Hmm aku ini pesan poster waktu kemarin sepulang dari acara Reuni Papa” saat di Mall Hasna menemukan toko yang dapat mencetak Poster dalam ukuran besar, rasa marahnya disalurkan dengan memesan barang yang dilarang dipasang oleh Reza yaitu poster GD.
Mendengar alasan Hasna Reza langsung diam, dia ingat saat itu Hasna marah padanya karena ia terbawa emosi saat melihat Arkhan di pesta Reuni. Dilihatnya poster yang berukuran besar itu, berwarna hitam putih monochrome dan tampak klasik dengan wajah G Dragon yang tertutup topi. Yah sudahlah paling tidak mukanya tidak terlalu jelas.
“Ganteng yah?” ucap Hasna sambil memandang poster dengan penuh kekaguman.
“Vitamin mata hati aku” sambungnya. Reza mendengus dan membaringkan tubuhnya di kasur.
“Ada apa Mas? Aku lagi belajar besok mau ujian” ucap Hasna sambil kembali ke meja belajar dan mulai membaca kembali bahan-bahan yang tadi dia googling.
“Di bawah sepi…” ucapnya sambil mengeluarkan hapenya dan membaca pesan-pesan yang ada.
“Kamu mau pasang TV gak dikamar? Nanti kita beli” sambung Reza karena asyik membaca
__ADS_1
“Hmmm..” jawab Hasna
“Hmm gimana mau atau tidak?” rupanya Reza sedang ingin berbicara.
“Aku gak suka nonton TV, kalau ada waktu mendingan nonton drama atau tidur” jawab Hasna singkat tanpa mengalihkan pandangan dari tabnya.
“Baca apa sih serius banget” Reza merasa kesal karena tidak seperti biasanya dia diacuhkan.
“Besok kan ujian… diem atuh aku lagi konsentrasi baca lagi bahan, kaya Maura aja ngajak ngobrol” Hasna mulai mengerutkan dahinya karena diajak bicara.
“Gak usah belajar, berpikir secara logika aja lagipula kan belum mulai kuliahnya, palingan soal yang ditanyakan juga yang umum” ucap Reza sambil asyik berselancar.
“Kecuali kalau kamu gak pernah nonton berita atau kemampuan pengetahuan umumnya rendah bakalan sulit menjawab pertanyaan”
“Itu sebabnya S2 hanya bisa diikuti oleh yang punya kemampuan berpikir logis tinggi” Reza tidak berhenti bicara
“Braaak….” Hasna menyimpan tabnya di meja dengan keras. Matanya mendelik ke arah Reza.
“Kalau Maura ngomong terus aku bisa mengerti, namanya juga anak kecil. Tapi kalau Mas Reza itu orang dewasa bisa paham kalau dikasih peringatan 1 kali” Hasna langsung berkata keras, ia merasa kesal karena Reza malah banyak bicara padahal biasanya juga jarang bicara.
“Aku tuh orangnya akan lebih secure kalau sudah menyiapkan dengan baik. Mau bisa atau tidak itu sudah nasib tapi paling tidak aku berusaha”
“Aku tahu kalau aku bukan lulusan luar negeri yang CERDAS seperti Mas Reza tapi aku bisa berpikir secara logis”
“Ehhh kok malah jadi marah” Reza jadi kaget, padahal pikirannya hanya sekedar mengemukakan pendapat saja.
“Sekarang kalau mau banyak komentar lebih baik Mas Reza keluar, karena saya butuh ketenangan” Hasna berbalik dan menghadap ke Reza.
“Tapi kalau mau diem di kamar ini, lebih baik tidur atau lakukan apapun yang disukai asal tidak bersuara dan mengganggu konsentrasi aku” ancam Hasna sambil melanjutkan belajar.
“Iya-iya aku diem….sttttt jangan marah-marah nanti gak masuk pelajarannya” ucap Reza sambil melambaikan tangannya meminta Hasna melanjutkan belajar.
Akhirnya Reza tertidur saat menunggu Hasna belajar, melihat istrinya fokus belajar mengingatkan pada masa lalu saat ia harus melanjutkan kuliah. Entah sampai jam berapa Hasna belajar hanya saat ia terbangun jam 2 malam Hasna sudah tidur di sebelahnya dengan dibatasi oleh guling seperti biasa. Ternyata kalau tidur di kasur tidak membuatnya tidur dengan mangap tapi tertutup sempurna dengan mata yang sedikit terbuka… hehehe lucu sekali. Kata orang kalau tidur matanya sedikit terbuka maka orang tersebut gak bisa diem. Reza menghilangkan pembatas guling diantara mereka berdua dan memeluk perempuan yang telah menjadi istrinya itu hingga ia kembali tertidur.
Pagi harinya ternyata ia terbangun kesiangan, saat dilihat jam ternyata sudah jam 5.20 dilihatnya Hasna masih tertidur dengan lelap. Padahal ia sudah harus mengikuti ujian seleksi jam 8 pagi.
“Naaa…. Hasna bangun … sudah siang” Reza menepuk-nepuk pipi istrinya
“Uaaaahhh… bentar lagiii… bilangin sama Mama aku gak ada kuliah” Hasna menepis tangan Reza di pipinya dan berbalik membelakanginya.
“Kamu bukan mahasiswa lagi… kamu sudah menikah dan sudah punya anak dua sekarang” ucap Reza sambil tersenyum, rupanya perempuan ini masih bermimpi di rumah Bandung.
“Kamu mau bangun jam berapa sekarang sudah jam setengah enam” ucap Reza
“Haaaaah…… Haaaaaah….. Ya Allah…. Kesiangaaaan…. Argghhhhhhh” Hasna tiba-tiba terbangun dan melihat ke jam dinding. Ia langsung bangun dan meloncati Reza tanpa berpikir panjang. Reza hanya tertawa melihat kelakukan istrinya, untung saja tidak terjatuh.
“Kenapa gak dibangunin dari tadi… aku musti berangkat jam 6.30 soalnya jam 7.30 aku harus sudah siap di ruangan” Hasna berteriak sambil berlari ke kamar mandi. Ia belum menyiapkan bekal Hujan pula.
Walaupun kesiangan ternyata semuanya berjalan lancar. Hasna tidak mau diantar oleh Reza walaupun Reza sudah bersiap, dengan alasan Mama Isna belum datang kalau Maura melihat dirinya ditinggal oleh Reza dan Hasna bersamaan pasti akan menangis. Dia memilih untuk naik motor online supaya lebih cepat. Reza hanya bisa melihat istrinya yang bergegas pergi duluan meninggalkan rumah.
Ia seperti melihat rumahtangga orang lain, yang mana suami istri bekerja dan anak yang kecil ditinggalkan di rumah. Saat dulu dengan Mitha ia selalu yang pergi meninggalkan rumah, dan berangkat kerja diiringi lambaian anak dan istri. Namun sekarang dia melihat Hasna pergi keluar rumah dengan menggendong Maura… istrinya naik motor dibonceng laki-laki lain sambil melambai pergi meninggalkannya. Benar-benar tidak ada dalam skenario kehidupannya dulu.
Sepanjang perjalanan menuju kantor Reza berpikir, saat ini ia merasakan kedamaian dan ketenangan di rumah. Tidak ada lagi kebingungan dan kekhawatiran untuk meninggalkan anak-anak di rumah. Hasna memang sudah menunjukkan kemampuannya untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Sekarang tinggal memantaskan hubungan diantara mereka berdua.
__ADS_1
Reza merasakan kalau Hasna masih tidak merasa yakin kepada dirinya, ia tidak merasa heran karena ia sendiri tidak tahu apa yang dirasakannya. Ia tidak menyukai kalau Hasna terlalu dekat dengan laki-laki lain, mungkin karena merasa berhubungan dengan harga dirinya, ia merasa kalau perempuan itu miliknya sehingga ia tidak mau kalau ada orang lain dekat dengannya. Seperti halnya sekarang Hasna akan kuliah lagi maka ia akan bertemu lagi dengan orang-orang baru dan sudah pasti akan ada banyak teman laki-laki lagi.
Sepanjang pagi itu Reza berpikir dengan keras, apakah tepat membiarkan Hasna untuk kuliah lagi. Tapi kalau dia melarang maka itu sama saja dengan melanggar janji yang sudah ia ucapkan dulu untuk memberinya kesempatan melanjutkan kuliah selama masa pengenalan antara dirinya dengan Hasna. Tapi dia merasa tidak tenang, semenjak melihat Hasna pergi dengan menggunakan kendaraan online ia merasa tidak memiliki banyak pengaruh yang bisa membuat perempuan itu tunduk padanya.
Mitha dulu selalu mengikuti apa yang sarankan, termasuk soal kuliah, saat Mitha meminta untuk melanjutkan lagi kuliah saat kembali ke Indonesia, ia hanya bilang siapa nanti yang akan mengurus Hujan dan menyiapkan keperluannya kalau Mitha kuliah. Mitha langsung menyerah dan memilih untuk tinggal di rumah. Tapi perempuan ini memilih jungkir balik demi mengejar mimpinya tanpa meninggalkan rumah.
“Pak… jadi bagaimana?” suara Aswin memutuskan lamunan Reza.
“Haaah.. Bagaimana tentang apa?” Reza tersentak, ia tidak memperhatikan ucapan Aswin.
“Saya sudah dua kali menjelaskan Pak… kenapa Pak ada masalah?” Aswin akhirnya menyerah.
“Tidak ada masalah...semuanya baik-baik saja” jawab Reza cepat
“Yakin pak? Soalnya seminggu belakangan ini Bapak banyak melamun, mungkin karena ingin selalu pulang ke rumah ingin ketemu istri pak..hehehhehe” Aswin terkekeh oleh jawabannya sendiri.
“Jangan suka sok tau kamu.. Punya pacar juga engga” cemooh Reza, hingga saat ini Aswin belum menunjukkan tanda-tanda memiliki pasangan.
“Hahahah Bapak juga baru sekarang punya istri lebih muda, kata orang generasi beda pula cara berpikir dan kesukaannya. Saya jamin Bapak pasti banyak menemukan perbedaan sikap dengan istri bapak yang dulu” Aswin tersenyum membayangkan Hasna yang juga memiliki sikap yang berbeda yang berbeda dengan teman seangkatanya.
“Generasi sekarang kan disebut dengan generasi Z mereka disebut generasi yang kreatif, sangat menyukai multi tasking dan sangat handal dalam menggunakan teknologi” Aswin tampak serius menjelaskan. Reza melihat kepadanya, tumben Aswin memiliki perhatian yang lebih pada hal yang tidak dia ketahui.
“Kelemahan generasi ini adalah mereka cenderung tidak setia, mudah berpindah pada bidang lain yang dianggap menarik dan menantang kemampuan berpikir mereka”
“Kita generasi apa kalau begitu?” Reza merasa dirinya tidak masuk pada kategori yang dijelaskan oleh Aswin.
“Saya kira kita masuk di Generasi Y, mengenal teknologi dengan baik dan memiliki komitmen yang sangat tinggi pada pekerjaan, tidak menyukai birokrasi yang berbelit dan kita menyukai tantangan yang menekan kita pada hingga batas akhir” Aswin tersenyum karena memang bersama Reza ia seringkali bekerja hingga mencapai titik yang sangat melelahkan tapi memuaskan.
“Saya kira generasi kita lebih baik” jawab Reza.
“Mungkin saja, tapi kemampuan berpikir cepat dari generari Z menjadikan kemampuan perkembangan dunia lebih hebat lagi, yah hanya sayang mereka gampang pindah kelain hati kalau sekiranya tempat yang mereka tinggali sekarang tidak lagi membuatnya nyaman”
“Jadi Bapak harus berhati-hati karena istri bapak masuk pada Generasi Z yang sangat mudah tertantang tapi mudah juga berpindah kalau tidak nyaman” Aswin langsung tertawa senang melihat perubahan muka Reza.
“Sok tau kamu… apa kesukaan generasi itu memangnya?” tanya Reza ia benar-benar merasa ketinggalan informasi.
“Yah saya tidak tahu kesukaan istri Bapak… selama sebulan ini bersama dengan Bapak.. Masa tidak tahu apa yang dia sukai” Aswin tersenyum ternyata memang yang menjadi kegalauan hati atasannya adalah istri barunya.
“Ingat Pak saat dia menyukai tempatnya yang baru dan merasa secure Bapak tinggal mendapatkan keuntungan dengan kemampuan multi taskingnya” Aswin semakin manas-manasin Reza yang semakin terlihat bingung.
“Saya hanya tahu dia menyukai artis korea GD Oppa dia bilang” Reza mengucapkan dengan cemberut.
“Hahahahhaha jangan menyebut oppa itu panggilan sayang dari perempuan kepada laki-laki yang lebih tua, Bapak kalau menyebut oppa pada sesama laki-laki itu seperti mehong” Aswin tertawa-tawa melihat ekspresi Reza yang terlihat kesal.
“G Dragon mungkin Pak… vokalis BigBang ...waaah selera Bu Hasna memang luar biasa, menyukai laki-laki yang unik” Aswin tersenyum.
“Oya mereka akan konser di Singapura Pak bulan depan, kenapa tidak mengajak Bu Hasna kesana… lagipula Bapak kan belum honeymoon” Aswin langsung teringat iklan konser yang diterimanya dari email travel agent perusahaan.
“Honeymoon? Hmmmmm…. Tampaknya ide yang bagus, setidaknya dengan honeymoon dia punya kesempatan lebih banyak untuk mengenal Hasna” pikir Reza.
“Ok coba cek kapan konsernya akan berlangsung, dan sesuaikan dengan schedule pekerjaan kita” ucap Reza
“Maksud Bapak saya ikut juga?” Aswin langsung tersenyum gembira.
__ADS_1
“Saya yang mau honeymoon ngapain kamu ikut… kamu jaga gawang saja disini” ….. Aaaalahhh giliran mau senang-senang aja gak pernah ajak-ajak… pas susah banyak kerjaan yang dicari gw pikir Aswin…
Honeymoon…. Akankah semanis madu dan membuatmu terbang ke bulan…..