
Menjelang dini hari Hasna terbangun karena sinar lampu yang terang di kamar, sejenak ia mengumpulkan kesadaran untuk menyadari dimana ia saat ini. Butuh hampir 5 menit sampai ia menyadari kalau ia tidur di kamar hotel dan ada anak kecil yang menyusup ke tubuhnya.
Maura ternyata kalau tidur ngempeng tangannya. Kepalanya menyelusup ke dada Hasna, ternyata seperti ini perasaan memiliki seorang anak, tidak butuh waktu tahunan bagi Hasna untuk memiliki seorang anak, hanya butuh 2 bulan langsung memiliki dua orang anak usia smp dan balita.
Dilihatnya Reza tampak sedang sibuk mengetik di laptopnya. Hasna kemudian turun dan tempat tidur. Reza menoleh kearahnya dan melihat ke arah jam.
"Sudah biasa bangun jam segini?" tanya Reza.
"Ya.. kalau tidak terlalu cape biasanya suka terbangun tapi kalau capek gak juga. Kmarin sore kan sempat tidur jadi lebih segar" jawab Hasna sambil beranjak ke toilet. Hasna terbiasa sholat malam, salah satu kebiasaan yang dicoba terus dilatih untuk menjaganya tetap dalam kewarasan hingga kini.
Reza hanya memperhatikan saat Hasna melakukan sholat malam dan mengaji sampai menunggu shubuh. Saat sholat subuh Hasna memanggilnya.
"Mas mau sholat berjamaah sekarang?" ucap Hasna sambil berdiri bersiap untuk sholat sunnah.
"Masih nanggung, kamu sholat aja duluan" jawabnya tanpa memalingkan mukanya dari laptop.
"Gak lama kok kalau sholat hanya 10 menit kalau dengan berdoa" ajak Hasna lagi, tapi Reza masih tetap tidak mengalihkan pandangannya. Akhirnya Hasna menunaikan sholat subuh terlebih dahulu.
Saat sholat subuh Hasna kembali memandang Reza yang masih asyik dengan pekerjaannya. Ia baru satu hari menikah dengan laki-laki itu tapi ternyata baru ia tahu kalau untuk Reza agama belum menjadi prioritas. Akhirnya Hasna menjalankan sholat subuh sendirian, setelah sholat biasanya Hasna mengaji tapi ia ingat sekarang kondisinya berbeda. Akan lebih baik ia menyiapkan sesuatu untuk bisa diminum Reza.
Hasna beranjak ke Pantry, dibuatnya air panas dan diseduhnya teh yang ada di pantry. Masih ada biskuit yang ia simpan di dalam tas, paling tidak ada makanan yang bisa dipakai mengganjal perut sebelum sarapan.
Disimpannya teh dan biskuit di meja tempat Reza bekerja.
"Sholat subuh dulu sebentar lagi matahari terbit, pekerjaan tidak akan ada akhirnya. Malaikat subuhnya akan segera pulang membawa catatan amalan kita" ucap Hasna. Reza hanya melirik ke jam duduk yang ada di meja sudut kamar. Diminumnya teh yang dibuat Hasna kemudian berdiri dan pergi ke toilet.
Hasna menarik nafas, syukurlah ia masih mau menjalankan sholat subuh. Terbayang kalau di rumah, saat ini Mama pasti sedang gerilya dari kamar ke kamar untuk mengecek apakah anak-anaknya sudah sholat atau belum.
"Hmm apa yang harus aku kerjakan sekarang" pikirnya.
"Owh iya bukankah Hujan akan pulang pagi ini" Hasna bergegas mengambil HP dan mengirimkan pesan kepada Hujan.
"Kaka sudah berangkat belum? Kalau belum Tante akan turun ke lobby" tulis Hasna
tak berapa lama terdengar notifikasi pesan di Hp.
"Sudah berangkat tadi jam 4.30 sholat subuh di rest area" tulis Hujan
"Maaf tadi gak mengantar, salam pada Granny and Babab. Sampai jumpa nanti sore di Jakarta"
"Ya makasih, salam kembali dari Granny and Baba" anak petir ini selalu irit dalam berbicara ataupun teks.
Setelah Reza selesai sholat subuh jam menunjukkan 5.30. Hasna segera membangunkan Maura.
"Mola ... Molaaaa.... Assalamualaikum.... " Hasna mengepok-epok pantat Maura.
Maura terbangun dan menatap Hasna dengan pandangan bingung..
"Hayoooo siapa coba ini... " Hasna langsung menjulurkan lidahnya.
"Bunaaaaa..." Maura langsung tersenyum begitu tersadar dengan lingkungan.
"Ayo bangun, kita setor dulu ke toilet" ucap Hasna sambil membuka celana piyama Maura.
"Setoy apa Buna?" Maura menggosok-gosok matanya.
"Setor pipis....hiihihihi" langsung Maura dipanggul seperti membawa karung beras. Maura tertawa-tawa saat dirinya digendong dengan cara seperti itu.
"Takdung dung tak dungdung... takdung dung tak dungdung... bangbang bangbang dut...bangbang bangbang dut" sambil berjalan ke toilet Hasna menepuk pantat Maura dengan irama dangdut.
"Ahahahaha...hahahahaha pantat mola geyiii..." Maura tertawa-tawa saat pantatnya jadi alat musik oleh Hasna.
Reza tersenyum melihat interaksi keduanya, tidak salah dia memilih Hasna, perempuan itu sudah tahu apa yang harus dilakukan saat berhubungan dengan anak-anak.
Ternyata acara pipis dilanjutkan dengan mandi bersama, begitu keluar dari kamar mandi mereka berdua sudah tampak segar habis mandi. Hasna langsung mencari pakaian Maura.
__ADS_1
"Mas baju Maura dimana?" tanya Hasna, Reza masih fokus saja melihat layar laptop, dahinya tampak berkerut.
"Mas baju Maura?" Hasna mengulangi pertanyaannya. Maura langsung tidak sabar
"Papiiii... baju aku disyimpen dimana?" Hasna langsung kaget suara Maura yang cempreng kalau berteriak seperti mendenging di telinganya.
"Ulu-uluuuu... ini anak koala kalau teriak kaya suara klakson kereta api keras banget" Hasna langsung menggosok-gosok telinganya yang terasa berdenging.
"Jangan teriak sama Papinya... deketin aja" Hasna jadi teringat teguran Reza saat ia berteriak di rumah memanggil Ayah.
"Hmmm...hmmmm apa?" Reza tampak kaget dan bingung.
"Bajunya Maura dimana?" tanya Hasna lagi.
"Di koper aku di kamar ambil aja" jawab Reza sambil terus melanjutkan pekerjaanya. Hmm memang sudah kembali nyawa ngantornya.. kalau orang lain I dont like Monday maka Reza adalah I like Monday So Much
Hasna membuka koper hitam di kamar yang tidak ditiduri, tadi malam malah umplek-umplekan di kasur bertiga. Ternyata dalam koper ini baju Maura dan Reza disatukan, Hasna agak bingung saat akan membuka dan memilah pakaian Maura, ternyata gegara Hujan mencari pakaian untuk ganti Hasna kemarin sore, pakaian dalam koper Reza jadi acak-acakan.
"Mas baju dalam kopernya berantakan, aku beresin aja yah sekalian" ucap Hasna sambil mengambil pakaian Maura, dan tidak ada jawaban.. jangankan lewat dari telinga kiri ke telinga kanan rupanya, masuk telinga kiri aja kagak boro-boro lewat.
Setelah menyelesaikan Maura dengan pakaian lengkap, Hasna langsung menawarkan minum susu. Ternyata pola balita dimana-mana sama, setelah mandi minum susu sambil memperhatikan emaknya beraktivitas. Hasna kemudian memilah pakaian yang ada di koper, pakaian Reza dipisahkan atasan dan bawahan, pakaian dalam juga. Agak sedikit tidak canggung tapi setelah dipikir sama dengan pakaian dalam Angga dan Emran kemudian Hasna menjadi terbiasa.
Pas jam 6.30 koper sudah rapi dan Hasna kemudian kembali menyapa Reza.
"Mas pakaian untuk hari ini mau disiapkan? Kopernya sudah aku rapikan"
"Haaah.... engga usah... nanti aku ambil sendiri saja" ucapnya kemudian kembali memandang laptop.
"Hmmm ini mah alamat mendingan sarapan sendiri saja, daripada garing nungguin yang sibuk kerja" Hasna langsung mendekati Maura yang asyik bermain game di Hpnya.
"Maura kita sarapan dulu yuk, nanti Papi akan menyusul kayanya masih sibuk kerja, trus kita jalan-jalan di play ground hotel" ajak Hasna, anak koala ini harus segera sarapan.
"Mahu..mahu... Mola mau main di playglon.. kemarin Kaka gak mau main disyana" Maura langsung loncat-loncat bahagia.
"Ya Bunanya ganti baju dulu yah" Hasna langsung bergegas ke kamar untuk berganti pakaian.
"Aku sarapan duluan yaaaahh" Reza langsung meloncat kaget, kepalanya membentur bibir Hasna yang berada dekat di kepalanya.
"Awwww....aaaaa sakiiiit" Hasna langsung menjerit dan menutup bibir dan hidungnya yang tersundul kepala Reza.
"Kamuuu tuuuh aduuuh dibilangin jangan suka berbisik di telingaaa... kan kamu sendiri yang jadinya celaka" Reza langsung menghampiri Hasna yang berjongkok di depannya sambil memegang bibir dan hidungnya.
"Sini coba liat" Reza berusaha menarik tangan Hasna.
"Ashh kayanya berdarah inihh... aaahhh sakiiit" Hasna meringis matanya sudah berkaca-kaca keisengannya membuahkan kesialan.
"Waah kok sampai berdarah gini yaa, coba kumur-kumur dulu sini" Reza langsung menarik tangan Hasna ke wastafel, diambilnya air mineral.
"Gak bisa negak air... bibirnya ga bisa ditutupin.... aaarhh bengkak" Hasna sudah meringis, air matanya sudah mulai berjatuhan. Bibirnya terasa pedih hidungnya terasa sakit.
"Maaf tadi gak sengaja, kamu tuh kan aku udah bilang jangan suka bisik-bisik di telinga, aku tuh paling gak kuat geli" Reza berusaha menahan tawa melihat bibir Hasna yang bengkak karena kejeduk kepala.
"Malah ketawaaaa.... aarrghhhh..." Hasna semakin berurai air mata, kesal karena sakit tapi malah ditertawakan.
"Maaf yaa maaf...hehehehe" Reza akhirnya tidak kuat tertawa melihat Hasna.
"Buna kenapa buna menanis" Maura mendekati Buna dan Papinya yang tampak sibuk.
"Molaa... bibil Buna keliatan jelek gak" Hasna langsung jongkok di depan Maura.
"Bibil Buna kenapa jadi kaya vevek" Maura dengan serius melihat ke bibir Hasna
"Ahhhhhhh.... aku gak mau keluar maluuuu" Hasna langsung duduk di lantai dan menutup mukanya.
"Hahaha... maaf... aku gak sengaja. Sini coba dilihat lagi" Reza menahan ketawa sambil memegang wajah Hasna.
__ADS_1
"Hidungnya sakit juga?" tanyanya. Hasna mengangguk.
"Ini bibir belum diapa-apain udah bengkak... jadi kasian liatnya" ucap Reza sambil tersenyum.
"Maksudnya diapa-apain apa?" Hasna langsung menarik mukanya dari tangan Reza.
"Engga... engga apa-apa" ucapnya sambil tersenyum menggoda.
"Ini bengkaknya lama gak? aku udah lapar tadi malam gak makan bener" Hasna mengeluh sambil mengusap-usap perutnya.
"Dikompres pake es yah.. sebentar" Reza bergegas mengambil es yang ada di kulkas hotel. Dibungkusnya dengan handuk kecil. Dipegangnya tengkuk Hasna dan ditempelkan balutan es di bibirnya. Hasna langsung merasa canggung, ia belum pernah dipegang sekian intens oleh laki-laki, apalagi seluruh tubuhnya seperti dikuasai oleh Reza.
"Euuuhhh... haaamma aakhuu ajhaa ngompleesnya Mazz" Hasna berusaha menjauh sambil mengambil alih es.
"Sssttt diamm... katanya mau cepat sarapan.. jangan ngomong dulu biar hilang bengkaknya" nafas Reza terasa berhembus di muka Hasna.
Hampir 5 menit mereka diam dalam posisi seperti itu, Hasna matanya hanya berani melirik-lirik melihat ke arah Reza, tapi Reza tampak fokus mengobati Hasna, sampai akhirnya mata mereka bertatapan. Dugggg...duuuug….dugg…. Terasa sepersekian detik Hasna merasakan detak jantung Reza.
Tiba-tiba Reza melepaskan pegangannya di tengkuk Hasna, dia tampak kaget dan terkesima. Hasna hampir terjengkang kebelakang karena kepalanya masih lemas bersandar di tangan Reza.
“Ehhmmm… kamu kompres sendiri sekarang.. Aku mau mandi” ucap Reza sambil memberikan balutan es ke tangan Hasna, kemudian ia langsung bergegas berdiri dan masuk ke kamarnya.
“Dari tadi juga aku mau ngompres sendiri” omel Hasna sambil terus menekan-nekan bibirnya yang bengkak. Lama-lama tidak terasa sakit, dilihatnya di cermin tidak sebengkak tadi sudah lumayan, hanya sedikit menyendul di satu bagian ujung bibirnya… baguslah jadi mirip Kyle Jenner.
“Bunaaa mola lapeeelll” Maura akhirnya merengek, permainan game sudah tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Sekarang sudah jam 7 lebih hampir 30 menit mengurusi bibir yang jontor kena sundulan kepala Reza.
“Ayo kita sarapan sekarang, biar nanti Papi menyusul saja” Hasna kemudian ke kamar Reza dan mengetuk pintunya.
“Mas aku turun duluan yah, kasian Maura udah lapar” tidak terdengar jawaban. Akhirnya Hasna membuka pintu sedikit dan memasukan kepalanya.
“Masss aku duluan Maura udah pengen sarap…” dan terpangpanglah saudara Reza Ardiansyah yang hanya memakai celana tanpa memakai baju.
“Astagfirullah…” Hasna langsung menutup pintu. Di rumah ia sudah biasa melihat Angga dan Emran tidak memakai baju hanya memakai celana boxer tapi biasa saja, tapi kenapa melihat Reza tanpa baju seperti melihat bintang film porno.
“Apaaa… ngomong apa” tiba-tiba Reza membuka pintu dengan santainya tanpa memakai baju.
“Ya allah malah keluar lagi” Hasna langsung berlari ke arah Maura, dan menggendong anak koala itu.
“Kita duluaaan Massssss” Reza langsung tertawa melihat perempuan setengah otak itu kabur dari kamar dengan terbirit-birit seperti melihat hantu.
“Haduuuh hp ketinggalan lagi” pikir Hasna … tapi mau kembali lagi tidak mungkin. Akhirnya Hasna memilih untuk turun ke lantai 6 dan sarapan. Masuk kembali ke kamar serasa masuk ke kandang buaya.
Begitu di lantai 6 ternyata belum banyak pengunjung hotel yang datang, mungkin karena masih pagi dan Hari Senin. Hasna langsung memilihkan menu yang akan dimakan oleh Maura, ternyata anak koala ini ingin makan sereal.
Saat sedang memilih menu sarapan untuk dirinya terasa pundaknya ditepuk oleh seseorang, ternyata Isyana.
“Sisi… aku kira akan bangun siang kalau pengantin baru, ternyata sudah sarapan pagi-pagi” ucapnya sambil memeluk pundak Hasna.
“Sisi… kenapa bibirnya?” Isyana langsung menatap bibir Hasna yang terlihat bengkak.
“Hmmm inih… ini .. Mas Reza tadi..” belum sempat Hasna menyelesaikan kalimatnya Isyana langsung tertawa…
“Oww… hahahahahah… Oh My God sorry Sisi … i forget… pengantin baru pasti bersemangat apalagi Abang sudah lama banget… hahahahaha sampai jontor begitu” Isyana langsung tertawa-tawa.
“Ehhhhh bukan ituuu… gimana sih malah salah paham” Hasna langsung panik, pasti disangkanya Reza sudah melakukan sesuatu dengannya.
Belum sempat Hasna melakukan klarifikasi terdengar suara Maura yang memanggil Reza.
“Papi duduknya disini” teriak Maura, Hasna langsung melihat Reza yang baru datang.
“Abang … way to go… langsung tancap gas… hahahahaha” Isyana mengacungkan jempolnya sambil cekikikan kembali ke mejanya.
Hadeuuuuh Hasna sudah tidak ingin berkomentar lagi.. Ternyata pengen punya bibir seksi kaya Kyle Jenner cukup disundul saja bibirnya.
*****************************
__ADS_1
Akhirnya bisa upload story juga... mudah-mudahan bisa memenuhi target kejar setoran sebelum memasuki akhir bulan Agustus... apakah diantara deterjen ada yang pernah kesundul bibir juga.... saya sih pernah tapi bukan sama Reza yah hahahahaha.... yang pasti kesundul dari 10 besar nih... qiqiqiqiqi... kasih semangat teyus yahhh.. biar September nya Ceria.... Jangan lupa besok Monday... I like Monday so much terutama kalau mau gajian hahahahah... Saranghae...
****************************