Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Turbulensi Emosi


__ADS_3

Selama proses diskusi dengan wedding planner, Reza lebih banyak menulis dan fokus melakukan komunikasi telepon dengan pihak luar. Hasna hanya bisa menarik nafas, karena setiap ditanya Reza hanya bilang


“Atur saja”


“Terserah kamu”


“Aku ikutan aja”


“Pak..” ucap Hasna


“Pak….” Hasna mengulangi ucapannya


“Bapak Reza Ardiansyah Bratadireja”


Barulah Reza memalingkan mukanya dan menghadap Hasna


“Kalau Bapak sibuk, jangan memaksakan diri.. Bapak silahkan saja rapat” ucap Hasna singkat. Terus terang ia merasa kesal lama-lama, dia sudah memaksakan diri untuk melakukan koordinasi dengan pihak WO tapi yang membuat rencana malah sibuk sendiri.


“Bagaimana kalau begini saja, saya berikan list tempat pernikahan, design undangan, tema dekorasi gedung, vendor catering dan MUA yang bisa dipilih, kalau sudah ada gambaran bisa kontak saya” Angel menengahi kebuntuan komunikasi.


Hasna hanya diam, pikirannya sangat penuh. Ia sama sekali tidak memiliki orang untuk diajak berdiskusi, ditambah dengan beban telah meninggalkan pekerjaan yang belum diselesaikannya.


“Ya mungkin itu lebih baik” ucap Reza.


“Baiklah, ini sebagian brosur dan bahan yang bisa Mbak Hasna dan Mbak Reza pilih, sebagian lagi nanti saya akan emailkan ke Mas Reza supaya bisa didiskusikan dengan Mbak Hasna” sambung Angel.


Akhirnya diskusi dengan pihak WO bisa diakhiri jam 2 siang, Hasna tahu bahwa Reza ada jadwal rapat jam 3.


Di dalam lift Hasna hanya diam saja, tangannya penuh dengan bahan dan brosur dari pihak WO tidak ada usaha dari Reza untuk membantu meringankan beban bawaannya. Dia hanya asyik dan sibuk mengirimkan pesan di hpnya.


Ting. Lantai 7


“Mas Reza…”


Hasna tiba-tiba memanggil Reza yang sedang asyik menulis pesan di HP nya. Reza mengangkat mukanya dan...


“Silahkan rancang pernikahan yang ingin anda lakukan.. SAYA IKUTAN SAJA” Hasna memberikan semua bahan dan brosur yang ditangannya dengan paksa ke tangan Reza sambil sedikit di dorongkan hingga sebagian terjatuh di dalam lift.


Ditinggalkannya lift dengan tergesa-gesa dan langsung masuk ke dalam toilet. Dari tadi yang terasa di dadanya hanya sesak dan ingin menangis tapi ditahan karena tidak ingin terlihat lemah.


Begitu masuk toilet Hasna langsung menangis dengan menahan suara sekuat mungkin.


“Siapa yang ingin menikah secepat ini”


“Kalau dia ingin menikah cepat-cepat yah sudah dia saja yang merancang semuanya”


“Kenapa malah aku yang musti memikul beban yang dia rancang”


“Apa memang harus seperti ini kalau pasangan akan menikah itu”


“Kenapa orang lain tampak bahagia kalau merancang acara pernikahan”


“Ini salahnya dimana”


“Kenapa aku bingung sendiri”


Semua pikiran-pikiran itu melintas dalam benak Hasna. Ia kemudian berusaha mengendalikan dirinya, kalau mau diikuti bisa 1 jam dia menangis dan akhirnya malah bengkak matanya. Memalukan nanti dilihat teman sekantor.


Dengan cepat dicucinya mukanya, agak sedikit merah matanya terlihat seperti baru menangis memang. Diambilnya air keran dan dikompreskan ke matanya pelan-pelan. Akhirnya diputuskan untuk turun ke lantai dasar, dia baru ingat kalau tadi dia belum sempat sholat Duhur.  Untung mushola sudah kosong,  dan saat ia keluar dari Mushola jam sudah menunjukkan 2.45, dimatikannya handphone nya dengan segera, ia tidak ingin melakukan percakapan dengan siapapun saat ini.


Segera masuk ke dalam ruangan, dan kemudian melapor ke Bu Rika.


“Maaf bu, agak lama tadi pertemuan dengan Pak Rezanya” ia hanya menampakan sedikit kepala di pintu ruangan Bu Rika, yang memandang sebentar dan kemudian terdiam, ia seperti hendak bicara tapi kemudian ditahan dan hanya menganggukan kepalanya. Ia memang mendapatkan pemberitahuan kalau rapat dengan GM diundur menjadi jam 3 artinya memang Hasna barusan bersama Pak Reza.


Hasna kembali melanjutkan membuat laporan evaluasi saat terdengar suara Mas Arya dan Mbak Maytha masuk ke dalam ruangan, tapi dia hanya diam dan berusaha untuk tidak menarik perhatian.


Pas jam 5 Hasna sudah menyelesaikan sebagian laporan, ia belum solat ashar. Segera dibereskannya meja, Bu Rika belum keluar dari ruang rapat, Mas Arya dan Mbak Maytha masih tampak sibuk. Tanpa memunculkan muka ke kubikel mereka Hasna langsung pamit pulang duluan.

__ADS_1


“Mas Arya… Mbak Hasna aku pulang duluan yah, agak gak enak badan nih. Mau sekalian solat ashar dulu di bawah.”


“Yow”


“Ya ttdj”


Hanya itu yang terdengar. Syukurlah pikir Hasna dia tidak usah memperlihatkan mukanya yang kusut kepada mereka. Ia tidak khawatir akan bertemu Reza di dalam lift karena meeting dengan para manager belum selesai.


Sesampainya di kamar Hasna langsung merebahkan badannya di kasur, kepalanya terasa berdenyut.  Perlu menenangkan dirinya setelah meluapkan emosinya tadi pada Reza, sebetulnya ia sudah berusaha merubah suasana hati dengan membuat joke-joke receh tapi ternyata memang sangat sulit untuk menghadapi Reza.


Setelah sholat Magrib Hasna langsung memutuskan untuk tidur, ia tidak ingin memikirkan apapun. Kapasitas otaknya mungkin sudah mencapai limit dalam memikirkan hal-hal yang baru yang tidak pernah ia alami. Seperti turbulensi emosi, naik turun naik turun benar-benar menguras energi. Dan tak berapa lama ia pun langsung tertidur.


Jam 11.30 Hasna terbangun, kepalanya terasa sedikit lebih ringan, hanya matanya terasa berat. Dirasakannya perutnya terasa sangat lapar, ia tadi melewatkan makan malam, perutnya harus diisi sesuatu supaya kondisinya membaik.


Dan ternyata hanya ada sereal dan susu di dalam kulkas, semua makanan instant sudah habis, tak apalah yang penting perutnya bisa diisi. Sambil makan dengan pelan Hasna ingat bahwa ia mematikan handphonenya bagaimana kalau Mama telepon atau Kak Angga, pasti nanti ribut.


Dibukanya tas dan dihidupkanya handphone , ternyata langsung berbunyi seperti suara tembakan terrererererererere…. Hehehe banyak juga fans club yang mengirimkan pesan.


Dan yang paling banyak miss call adalah Pak Reza ada 10 miss call, kemudian Mama dua kali. Dibukanya jendela pesan dan rekor terbanyak untuk  kiriman pesan  masih Pak Reza, kemudian ada pesan dari Mama, dan sisanya adalah grup teman-teman yang isinya hanya postingan gak jelas.


Dibukanya pesan dari Mama yang menanyakan apakah sehat, sudah makan dan akhirnya menyimpulkan kalau Hasna pasti sudah tidur karena hapenya tidak diangkat. Langsung Hasna membalas dan menceritakan kalau ia langsung tidur dan baru bangun, mengucapkan selamat tidur dan bilang semuanya baik-baik saja. Padahal kalau boleh Hasna ingin bilang kalau ia sedang tidak baik.


Dilihatnya pesan dari Pak Reza, dibuka jangan dibuka jangan, akhirnya diputuskan untuk membaca pesannya ada 7 pesan.


“Dimana kamu? Lagi apa”


“Saya mau bicara dulu, tunggu saya setelah rapat”


“Sudah pulang?


“Angkat telepon saya mau bicara”


“Saya di depan kostan, turun saya mau bicara”


“Jangan kekanak-kanakan, selesaikan permasalahan dengan baik”


Hasna sama sekali tidak berminat untuk membalas dan berbicara dengan Reza, perasaannya masih campur aduk. Baru ia menyimpan handphone nya di kasur, langsung berbunyi. Dilihatnya sudah jam 12.15 siapa yang menelepon malam-malam begini.


Dan ternyata manusia keras kepala itu kembali menelepon.


“Ya ampun Hasna” pikirnya "kalau kamu membaca pesan notifikasi terbaca akan terlihat oleh dia, pantas saja dia langsung telepon".


Dilihatnya layar handphone dengan tatapan hampa, ia benar-benar tidak ingin berbicara dengan orang ini. Tidak ada energi untuk bisa berargumentasi dan tidak ingin mendengar ucapan apapun darinya. Semua pesan yang dikirimkan Reza sifatnya perintah dan bernada komando. Dipijitnya tombol reject dan disimpannya kembali handphone di meja samping tempat tidur.


Terdengar notifikasi pesan masuk. Dilihatnya dari Pak Reza kembali, benar-benar pantang menyerah manusia satu ini.


“Saya ingin bicara dengan kamu, tapi kalau memang tidak ingin bicara tak apa. Besok kita bicara, sekarang tidur yang baik supaya besok segar”


Hasna tersenyum sinis, kenapa dalam pesan yang dikirimkannya sifatnya hanya satu arah, tidak menanyakan apapun tentang dirinya, dan bagaimana dia menyikapi kejadian tadi. Tampaknya memang dia sudah biasa seperti itu, berpikir dari sisi dirinya tanpa memikirkan sisi orang lain.


Setelah sholat Isya, Hasna memutuskan untuk langsung tidur lagi. Besok dia tidak akan masuk kantor dulu, lebih baik menyelesaikan laporan dari kost an agar pikirannya lebih tenang. Lagipula ini adalah pekerjaan yang terakhir. Ia harus membuat analisa dalam laporannya sehingga membutuhkan konsentrasi dan fokus dalam pengerjaannya.


Keesokannya Hasna langsung mengirimkan pesan kepada Bu Rika meminta ijin untuk tidak masuk karena kurang sehat tapi berjanji akan mengerjakan laporan. Bu Rika meminta Hasna tidak terlalu memikirkan laporan dan fokus untuk beristirahat. Hasna hanya tersenyum, ia tidak tahu kalau alasannya itu hanya akal-akalan saja supaya bisa lebih tenang dalam bekerja. Peduli apa dengan potongan gaji, lagipula ini akan menjadi gaji terakhir yang dimilikinya.


Selama bekerja dimatikannya HP, ia tidak peduli kalau Reza akan menelepon atau mengirim pesan, toh laporan yang ia buat untuk kemajuan kantornya juga. Paling tidak keuntungan Hasna adalah menstabilkan kondisi emosinya.


Jam 12 sesuai dengan jam kantor untuk istirahat, Hasna berhenti bekerja, tadi pagi dia hanya sarapan sereal lagi dan sudah habis semuanya. Mau tidak mau ia harus keluar untuk membeli makan siang atau pesan di aplikasi online. Udara Jakarta terlalu panas kalau siang-siang keluar membeli makan lebih baik ia memesan online saja.


Dihidupkannya Hp dan kembali banyak notifikasi pesan masuk, Darth Vader, Mbak Maytha, Mas Arya, dan Bu Rika. Pertama-tama dibukanya pesan dari Bu Rika khawatir ada yang penting.


Rika : “Saya tadi dipanggil Pak Reza, ternyata kamu akan menikah bulan depan. Selamat ya Hasna, kenapa tidak mengabari saya? Atau masih dirahasiakan? Pak GM meminta saya untuk mulai mengurangi penugasan pada kamu karena kamu harus mulai mempersiapkan untuk pernikahan, kamu mau berhenti? Sayang sekali padahal sulit mencari staf TnD seperti kamu. Tapi its your choice anyway. Selamat ya, saya ikut berbahagia.”


“Orang ini, seenaknya saja membuat keputusan”. Hasna kembali mengeleng-gelengkan kepalanya. Sulit sekali melakukan komunikasi dua arah dengan Reza, caranya mengambil keputusan masih saja otoriter.


Mbak Maytha “ Hasnaaaa… gilak loe mau kawin ngeduluin gw… sialaaan banget gw kesalip lagi… pantesan loe gak masuk, takut kena semprot gw yah...hahahhaa anyway congrats ya beib… I’m happy for you. fyi : Arya sedih banget katanya gak ada lagi yang bikinin kopi buat dia..hahaha suruh dia kawin sama barista”


Hasna tertawa dia akan banyak kehilangan suasana kerja dengan Mbak Maytha nyablak tapi sangat supportive.

__ADS_1


Mas Arya “Gak usah pake sakit segala kali buat ngasih tau mau kawin, bilang aja terus terang, gw juga gak akan sakit hati. Btw sebelum kamu kawin, aku minta barang pelangkah coffe dripper yang bagus, biar gak kehilangan kopi buatan kamu yang enak. Congrats ya”


Simple but elegan, babang yang satu ini memang cocok jadi idola kaum remaja. Sayang Hasna gak punya rasa, coba aja kalau ada getaran sama dia kayanya hidup gak akan serumit ini, pikir Hasna.


Darth Vader, ada 3 pesan dari dia.


“Sakit apa”


“Semenyebalkan itukah saya sampai membuat kamu sakit dan tidak ingin berbicara”


“Makan yang baik, saya kirim makanan kesukaan kamu”


Hasna tersenyum kecut, antara merasa kasihan dan masih merasa kesal bercampur aduk dalam pikirannya. Ada 3 misscall kembali dari Reza di Hp nya, jam 9, 10 dan 11.30 rupanya dia orang yang teguh pendirian kalau dalam menelepon. Kirim makanan yah, baguslah untung saja belum pesan di aplikasi.


Hasna turun ke lantai 1, dan ada Pak Tono satpam sudah senyam senyum, hmm kayanya makanan sudah datang.


“Sakit katanya yah Non Hasna, saya jadi kebagian jatah terus kalau Non Hasna makan dirumah. Terima kasih yah, ini titipan makanannya” ucapnya sambil memberikan pelastik berisi dus makanan.


“Iya pak gak enak badan, Pak Tono sudah dapat jatah juga kan? Makasih yaa Pak” ucap Hasna, diambilnya pelastik makanan itu dilihatnya ada beberapa kotak. Banyak amat ngirim apa dia.


“Hmmm ini sup iga, ini nasi, ini gado-gado, ini rujak… weiiis ada rujak segala tumben, ini apa… owh puding” saat membuka kotak makanan di kamar, Hasna langsung tersenyum bahagia. Ternyata dia tahu aja kalau Hasna paling gampang meleleh kalau dikasih makanan.


Dan siang inipun dilalui dengan riang dan bahagia, ternyata mood jelek efek dari kurang gula dan PMS. Hasna baru menyadarinya siang ini, pantesan kemarin dia pengen ngamuk dan nangis melulu PMS toh… hadeuuuuh.


Sore akhirnya laporan selesai dengan sempurna di mata Hasna, lengkap komplit dan perfect. Paling gak tidak memalukan lah kalau dia nanti menyerahkan pada Bu Rika. Hufft legaaa rasanya sebagian dari beban dunia seperti sudah terangkat.


Karena tidak solat akhirnya Hasna memutuskan untuk rebahan sebentar yang berujung pada tertutupnya mata. Ternyata hayati lelah…


Hasna terbangun saat telepon berdering, dilihatnya jam … Ow My God sudah jam 6.30 lama juga ia tertidur hampir 2 jam, efek kurang tidur dari tadi malam. Dilihatnya telepon yang dari tadi berbunyi, Darth Vader hadeuuuh apa lagi sih Om masih keukeuh aja neleponin trus.


“Halo Assalamualaikum” Hasna menjawab dengan singkat.


“Waalaikum salam. Akhirnya diangkat juga… lama amat marahnya”


“Mau apa Pak”


“Turun saya ada di depan kost an”


“Saya baru bangun tidur”


“Yah turunlah lah mau bangun tidur atau baru mimpi juga terserah, saya gak akan pulang sebelum kamu turun”


Hasna menghela nafas.


“Ya terserah, saya mau bersihkan muka dulu, kalau Bapak kuat nunggu.. Tunggu aja” Efek PMS ternyata masih ada, rasa kesal ini belum hilang.


Hasna langsung mengambil handuk dan mandi kilat, pakai baju santai dan menguncir rambut, kemudian mengambil jaket, udara terasa dingin kalau sudah mandi tapi paling tidak terasa segar.


Saat diluar dilihatnya mobil Reza terparkir di depan kost an, didekatinya mobil dan dilihatnya Pak Reza duduk di bangku pengemudi, tumben gak pake supir pikirnya. Diketuknya jendela mobil.


“Masuk” ucap Reza saat membuka jendela.


Hasna mengintari mobil dan membuka sisi samping penumpang. Masuk dan duduk dengan diam.


“Pakai seatbealt” ucap Reza singkat.


“Eh.. mau kemana inih, saya gak bawa dompet” Hasna langsung kaget, dia hanya memakai sandal rumah dan pakaian santai, tidak terpikir akan pergi keluar jauh dari kost an.


“Kita makan malam trus mencari cincin pernikahan” ucap Reza.


“Aaaaaahhhhh…. Aku gak pakai baju yang bener Pakkk…. Ini pakai sandal rumah pula, ini bajunya  cuma pakai baju rumahan, aaakuuu gak mau.... malu kalau pergi luar”


Reza hanya melirik Hasna


“Ah rapi kok… ngapain musti cantik-cantik amat, nanti banyak yang lirik lagi, lagian kamu kan mau cari cincin nikah, orang gak akan banyak protes liat dandanan kamu… kamunya udah laku”


“Oraaaang ini menyebalkaaaaan Ya Allah arrrggggggghhhhhh”

__ADS_1


__ADS_2