Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Bayi Besar


__ADS_3

Malam itu Hasna berpikir bisa tidur lebih cepat, terutama karena malam sebelumnya ia kurang tidur karena harus belajar. Tapi ternyata salah, Reza pulang dengan muka pucat,


“Kenapa Mas?” Reza tampak terlihat pucat, bibirnya terlihat menahan sakit.


“Gara-gara kamu ngasih sambal sama sup iga tadi sekarang aku diare” ucapnya lemah.


“Hahh… aku juga tadi pakai sambel segitu tapi gak apa-apa?” Hasna langsung berdiri, dilihatnya keringat mengucur di pelipis Reza.


“Dari jam berapa terasanya?” Hasna jadi merasa bersalah ia tidak tahu kalau Reza sesitif terhadap pedas, coba sensitif pada perasaan pikir Hasna pasti lebih menyenangkan.


“Tadi pas jam 5 menjelang rapat berakhir aku udah merasa gak nyaman, perut sakit kaya diaduk-aduk, untung saja sudah selesai agenda pembahasannya” Reza melemparkan tas dan jas dan berjalan tertatih ke kamar.


Hasna melihat Reza yang masuk ke kamar dengan perlahan, ada perasaan bersalah dalam hatinya keisengan tadi rupanya berakibat buruk. Maura masih asyik mewarnai, ia kemudian beranjak ke dapur untuk membuat air teh manis hangat. Diketuknya pintu kamar, tidak terdengar suara apapun, Hasna perlahan membuka pintu dilihatnya Reza berbaring di kasur masih memakai baju kantor dan sepatu yang terpasang di kaki.


“Mas…” Hasna perlahan mendekat, dilihatnya muka Reza yang tampak pucat.


“Kita ke dokter aja yuk” Hasna bingung dia belum pernah melihat Reza sepucat itu.


“Arghh… nanti juga membaik tadi sudah minum obat, beberapa jam biasanya akan seperti ini” Reza berbicara sambil bergumam.


“Ganti baju dulu atuh yaa” Hasna mencopot sepatu dan kaos kaki ia meluruskan kakinya supaya lurus dan berbaring dengan benar, ditariknya badan Reza supaya tidur dengan benar di atas bantal. Ternyata badannya berat juga kalau lemas seperti ini.


Hasna mencari pakaian santai Reza di lemari, ia kemarin membereskan pakaian Reza jadi sudah hapal posisi pakaiannya ada dimana. Saat menyerahkan pakaian dilihat suaminya masih tertelungkup lemah.


“Ganti bajunya dulu biar nyaman” Reza hanya diam saja, matanya terpejam, keringat masih keluar dari pelipisnya. Akhirnya dengan memberanikan diri Hasna membuka kancing kemeja, tidak ada perlawanan entah memang ingin diganti atau terlalu lemah untuk menolak akhirnya semua kancing kemeja terbuka. Melepaskan kemeja secara perlahan, ternyata kemejanya sudah basah oleh keringat, dipegangnya badan Reza terasa dingin.


“Mas keringat dingin yah.. Aku gosok dulu dengan kayu putih yah” Hasna bergegas mengambil kayu putih di kamar Maura. Maura yang melihat kesibukan Hasna mengikutinya ke kamar Reza.


“Papi sakit Buna?” Maura melihat ayahnya yang dilumuri kayu putih seluruh badannya, Hasna tidak sempat berpikir canggung atau malu melihat Reza tanpa pakaian, ia lebih merasa gugup karena tubuh Reza yang terasa dingin.


“Iya tadi Papi makan makanan pedas, ternyata Papi gak kuat makanan pedas” Hasna merasa bersalah.


“Mola nda syuka makanan pedasy pedasy mulutnya syuka kebakal” Maura mengipas-ngipas mulutnya seperti sedang terbakar. Hasna tersenyum anak ini selalu saja tahu cara menghibur. Dipasangkannya kaos rumah sekarang tinggal celana...hhmmm ini agak berat. Berat di malu sebetulnya.


“Celanannya mau diganti Mas?” Hasna berharap Reza menggeleng tapi ternyata mengangguk, ya sudahlah mau gimana lagi, toh ia sudah biasa melihat saudara laki-lakinya hanya memakai boxer dirumah, jangan berpikir terlalu jauh ada Maura di kamar jadi aman.


Hasna membuka ikat pinggang Reza, hadeuhhh jadi inget film iya-iya yang ditonton dengan Aurel dan Ghina ada adegan membuka ikat pinggang, Hasna jadi ingin ketawa sendiri.


“Kenapa kamu tersenyum.. Jangan mikir yang aneh-aneh” Reza rupanya diam-diam melihat ekspresi Hasna yang membuka celananya. Maura duduk di tempat tidur disebelah Reza sibuk mengusap kepala Reza dengan handuk kecil yang Hasna bawa.


“Hehehe gak apa-apa ada cerita lucu waktu dulu SMA sama Aurel dan Ghina, nanti aku ceritain.. Bonus track karena kesalahan aku tadi siang ngasih sambel” Hasna langsung memasukan kemeja dan celana panjang keranjang baju kotor.


“Ini celananya mau kan pakai sendiri?” Hasna menyodorkan celana panjang katun, kalau untuk urusan memasangkan celana Hasna masih merasa malu. Sedari tadi matanya berusaha tidak melihat kearah kaki Reza, apalagi melihat ke arah pusat tubuh walaupun ada rasa ingin tahu di kepalanya.


Reza menggelengkan kepalanya tanda merasa tidak sanggup memakai celana, entah betul tidak sanggup atau memang ingin mengerjai Hasna, saat tersentuh telapak kakinya terasa dingin.


“Waah kakinya dingin banget Mas, bentar aku balurin dulu sama kayuputih” Hasna langsung menggosok telapak kaki Reza dengan minyak kayuputih sampai ke betis, ternyata betulan sakit. Dipasangkannya celana dengan hati-hati.


“Punggungnya aku balurin dulu sini bentar, coba ngebalik” Hasna memegang bahunya dan memutarkan badan Reza, belum lama diganti kaosnya sudah terasa lembab.


“Maaf ya.. Aku gak tahu kalau Mas Reza sensitif banget sama pedas, kenapa atuh dimakan terus kalau pedas sih” sambil merapihkan pakaiannya kemudian memegang dahi, tidak terasa demam tapinya.


“Papi sakit panas Buna?” tanya Maura seperti yang bingung, tampaknya Reza jarang sakit anaknya jadi ikutan panik.


“Papinya atit pelut, gara-gara sama Buna dikasih makan sambel..Bunanya nakal” sambil menjewer diri sendiri Hasna meringis, Maura tertawa melihat gaya Hasna menghukum diri sendiri, dengan seperti ini Maura tidak akan terlalu khawatir dan panik.


“Maura temani Papi dulu yah disini, Buna mau ke dapur dulu” Hasna memutuskan membuat bubur dan air perasan kunyit untuk Reza.


“Maau kemana?” ucap Reza lemah.


“Bikin bubur sama perasan kunyit biar menutup luka di lambungnya” baru kali ini ia melihat Reza terlihat lemah, mumpung ada Maura yang menemani Hasna segera ke dapur dan membuat bubur gandum dicampur cream sup supaya enak dan cepat, dicari nya di tempat bumbu dapur kunyit, salah satu keuntungan memiliki Mbak Jumi adalah kelengkapan bumbu dapur. Hanya 15 menit Hasna membuatnya dan langsung kembali ke kamar. Dilihatnya Maura sedang bercerita kepada Reza.


“Waah Maura cerita apa sama Papi?” Hasna mengaduk aduk bubur supaya cepat dingin. Punya anak koala memang menyenangkan bisa menghibur dikala sedih seperti ini.


“Mola celita kula-kula yang bisa teljun ke ail” Maura melihat Hasna membetulkan posisi bantal Reza supaya bisa duduk nyaman, langsung ikut sibuk ikutan membetulkan bantal Papinya, sibuknya sampai membuat Reza tersenyum.

__ADS_1


“Papi mau disuwapin sama Buna?” Ia melihat Hasna yang meniup dan mencicipi panasnya bubur gandum.


“Iya Papi kalau sakit kaya anak kecil yaa… Buna mau denger dong cerita kura-kuranya” Hasna mencoba memancing Maura untuk terus bercerita supaya sibuk dan tidak meminta perhatian darinya saat mengurus Reza.


“Minum dulu air kunyit sambil menunggu buburnya dingin mas” Hasna menyodorkan kunyit madu yang dibuatnya, Reza mengkerutkan keningnya ia tidak pernah meminum cairan berwarna kuning pekat seperti ini.


“Bukan racun mass… ya allah kamu tuh, aku tuh istri kamu.. Udah dkasih madu juga”


“Liat tangan aku sampai kuning-kuning beginih ga sempat pakai sarung tangan tadi” Hasna memperlihatkan tangannya yang kekuningan gegara mengupas kunyit.


“Ini gak bikin komplikasi kan?” Reza masih tidak percaya, ternyata selama ini ia selalu hanya mengandalkan obat medis, khawatir nanti kontra dengan obat yang diminumnya tadi siang.


“Gak apa-apa beda waktunya juga.. nih aku minum dulu sedikit biar percaya” Hasna langsung meneguknya sedikit. Langsung diserahkan lagi sama Reza… tiba-tiba Hasna langsung terduduk…


“Ohoookk...ohooooook…. Weeeekssss” ia menjatuhkan dirinya di kasur pura-pura pingsan…. Maura langsung menjerit…


“Bunaaaaa……” Maura langsung meloncat dan mendekati Hasna ...dipukul-pukulnya muka Hasna yang tampak terpejam.. Plakkk….plaaakkkk...plaakkk…


“Hadeuuuuh hahahahahha jangan keras-keras atuh mukulnyaa…..hahahahhaha” Hasna akhirnya membuka mata karena sakit pipinya dipukul Maura dengan keras.


“Buna gak apa-apa … itu abisnya Papi gak percaya sama Buna dibuatin obat” Hasna langsung memeluk Maura yang terlihat seperti mau menangis. Reza hanya tampak melotot kesal melihat kelakuan absurd istrinya.


“Uwaaaaaaaawww……” ternyata menangis beneran Mauranya… waaahh hehehehe Hasna langsung merasa bersalah.


“Maaf...maaf...hahaha Buna ngeselin yaahh… hadeuuuh Buna hari ini udah jahat sama Papi dan Maura…. Maaf yaaaah” Hasna langsung menggendong Maura dan memeluknya.


“Diminum Mas… bagus minum perasan kunyit buat menutupi luka di lambung, aku dirumah kalau maagh nya kambuh suka dibuatin itu sama si Ema” Hasna langsung menyerahkan kembali gelas berisi air kunyit madu kepada Reza. Dengan enggan diminumnya secara perlahan.


“Jangan dirasa-rasa...glek aja langsung… anggap obat kuat” ucap Hasna sambil cekikikan.


“Kaya yang tau aja obat kuat apaan” gerutu Reza, rasa getir dan manis bersatu.


“Tau dong kuat kerja ...kuat menghadapi tekanan hidup...hahahhaha” Hasna menurunkan Maura.


“Minum susu yah… tidur sebelah Papi … Buna mau nyuapin Papi dulu biar cepet sehat” ternyata mengurus keluarga kecil itu seperti ini, menyenangkan juga pikir Hasna. Reza menghabiskan bubur dengan cepat, keringatnya sudah tidak mengucur lagi dan mukanya sudah tidak terlalu pucat, terlihat lebih baik.


“Mau kemana?” tanya Reza cepat.


“Ini nyimpen bekas makan.. Sekarang Mas Reza tidur biar cepat pulih”


“Temani disini” ucap Reza pendek, tatapannya seperti anak kecil yang memandang ibunya. Hasna tercenung, ini adalah kamar yang ditempati oleh Mitha dulu, ada rasa canggung tinggal di kamar yang pernah ditinggali oleh perempuan lain.


“Hmmmm…. Iya sebentar mau ke dapur dulu” melihat kondisi Reza sekarang bukan waktu yang tepat untuk berargumen soal perasaan layak atau tidak layak. Sambil berjalan ke dapur ia mencoba mengingat kalau Mitha yang datang ke dalam mimpinya, artinya secara tidak langsung ia dianggap sebagai perempuan yang dipilih Mitha menggantikan posisinya. Tapi kan waktu serah terima tidak ada Reza disana pikir Hasna. Tapi masa dalam mimpi Reza harus didorong masuk ke perahu, atau tukang perahunya Mas Reza pikir Hasna...hahahah namanya juga mimpi gak musti masuk akal semuanya.


Ia kemudian ke kamar untuk berganti pakaian terlebih dahulu, saat melewati meja belajar ia baru ingat charger handphone yang ia cari untuk bisa menghidupkan kembali handphone Mitha. Ternyata Hujan tidak tahu charger yang dimiliki Mami nya dimana dan seperti apa, yaa sudah 3 tahun berlalu dan saat itu ia masih SD pula.


Hasna memutuskan mencari di toko online, ternyata masih banyak dan ada yang bisa kirim cepat satu hari. Hmm jaman sekarang memang segalanya menjadi mudah. Setelah berganti pakaian dilihatnya Hujan sudah tidur di kamarnya, anak ini memang lebih mandiri selama tiga tahun kebelakang tidak ada yang secara khusus menjaganya tapi dia bisa menyelesaikan segalanya dengan baik.


Hasna berpikir apakah Reza perlu diberi tahu soal handphone milik Mitha, dengan kondisinya saat ini yang sedang sakit rasanya tidak tepat. Khawatir malah jadi sedih lagi seperti kemarin pikir Hasna. Akhirnya ia putuskan untuk tidak memberitahu Reza soal handphone Mitha, nanti saja kalau sudah hidup dan jelas masih bisa jalan baru ia beri tahu.


Saat masuk ke kamar dilihatnya Reza sudah berbaring miring mengadap Maura, ahh.. Sudah tidur rupanya jadi bisa ditinggal pikir Hasna saat mematikan lampu kamar.


“Mau kemana?” ehhh rupanya belum tidur si Abang.


“Hehe aku kira sudah tidur, jadi bisa ditinggal” jawab Hasna singkat, didekatinya Reza yang terbaring di sisi tempat tidur.


“Masih sakit?”


“Sudah mendingan hanya terasa perih saja” keluhnya sambil merubah posisi tidur menjadi berbaring.


“Sini dibalurin lagi, katanya kalau sakit gak nyaman diperut, beri jarak satu tangan dari pusat kemudian dipijat pelan searah jarum jam, sambil tarik nafas…” Hasna kemudian memperagakan cara memijat supaya rasa tidak nyaman di perut mereda. Reza hanya menatap dan membiarkan istrinya mengurus dirinya.


“Tadi mau cerita apa soal Aurel dan Ghina?” tagih Reza saat melihat Hasna asyik menuangkan minyak ke perutnya.


“Owhh hahaha cerita masa lalu.. Dulu nonton film yang ada adegannya terus disitu ada perempuan yang membuka ikat pinggang laki-lakinya… dulu bayangan kita tuh gimana gitu… hehehe pas kejadian buka ikat pinggang laki-laki ternyata biasa aja tuh” Hasna tertawa nyengir. Reza tersenyum masam.

__ADS_1


"Yah beda lagi keadaannya, aku kan sekarang sakit" tungkas Reza.


“Sama kaya ngebajuin si Emran dulu pas waktu udah sunatan, dia dulu disunat pas kelas tiga SD soalnya gak mau terus takut”


“Haaah kelas 3 SD sudah besar dong?” perasaan Reza sudah mulai tenang, ternyata betul diusap perut dengan gerakan melingkar menjadi lebih nyaman.


“Iya pas di tempat disunatnya sih berani masuk tapi pas di dalam ruangan sunat dia ngamuk gak mau.. Sampai ayah musti masuk ke dalam”


“Ternyata dia gak mau lepasin bangku duduk dia waktu gilirannya tiba.. Kata ayah sampai harus dipegangin sama 3 orang sakit kuatnya tenaga Emran” Hasna tertawa-tawa.


“Yang parah pas udah di rumah… cengengnya parah… setiap mau pipis dan setelah pipis sampai nangisnya tuh melolong lolong kaya serigala… Mama dulu sampai ga bisa tidur 3 hari”


“Hihihi malu-maluin pokoknya…” Reza tertawa mendengar cerita Hasna.


“Manjanya luar biasa, pakai baju dan celana ada pakai acara drama segala ...hadeuuuh aselinya pengen nimpuk kalau gak liat kondisi sih”


“Orang lain kan ada yang langsung bisa lari-lari atau jalan sorenya… si Emran mah jalan kaya pengantin baru sampai tiga hari”


“Maksudnya?”


“Iya kan kalau pengantin katanya gak bisa jalan, si Emran jalannya kaya gini nih” Hasna memperagakan jalan Emran yang tertatih tatih seperti sulit berjalan sambil cekikiran.


“Kamu pengantin baru kenapa jalannya gak kaya Emran” Reza menggoda Hasna yang langsung menyadari kesalahannya mengundang bahaya.


“Yaaaahhhh… beda beda kasus setiap pasangan… itu kalau pengantin yang normal, kita kan gak normal” kilah Hasna sambil berpura pura merapihkan barang di meja samping tempat tidur. Di meja itu hanya ada 1 foto dari Mitha Reza dan Hujan.


“Ini waktu Kaka Hujan usia berapa yah? Kayanya belum setahun?” ucap Hasna sambil menunjuk foto. Reza diam termenung, Hasna tampak seperti biasa saja membahas tentang Mitha.


“Ya.. sekitar usia 8 bulan menjelang kepulangan ke Indonesia” jawabnya pendek.


“Muka kakak itu sangat mirip sama Mbak Mitha tapi karakternya Mas Reza banget, kalau Maura mukanya Mas Reza tapi sikapnya lebih periang kayanya karakter Mba Mitha yah?” tanya Hasna.


“Mitha lebih tenang sifatnya tidak terlalu periang seperti Maura, dia lebih mirip seperti kamu berisik” ucap Reza sambil cemberut.


“Kalau aku gak berisik rumah ini sepi Mas, coba deh dengerin suara jangkrik, kaya yang berisik tapi kalau gak ada ngangenin … duh syahdu-syahdu gimana gituh” Hasna kembali tertawa membayangkan dirinya seperti jangkrik terlalu indah.


“Sudah kamu jangan ribut sekarang tidur sini” Reza menarik Hasna untuk tidur disebelahnya.


“Sempit Mas, aku tidur sebelah Maura saja” Hasna langsung beranjang untuk pindah ke sisi satu lagi.


“Sudah tidur disini, Mauranya digeser” Reza langsung bergerak memindahkan Maura, Hasna tersenyum kalau dari kecepatan gerakannya sudah membaik kondisinya. Hasna akhirnya mengalah tidur di sebelah Reza beberapa kali tidur bersama suaminya menjadikan ia tidak lagi terlalu panik saat harus tidur bersama.


“Kenapa kamu tampak seperti biasa membicarakan Mitha?” Reza berbicara sambil tidur terlentang. Hasna yang terbaring membelakangi Reza berbalik dan menatapnya.


“Hmmm kenapa yah walaupun aku gak kenal ..aku tuh kaya sama kakak sendiri”


“Mungkin karena pertemuan pertama kali lewat mimpi jadi merasa lebih personal” jawab Hasna sambil membayang muka Mitha.


“Mbak Mitha yang dimimpi itu sama, cuma rambutnya aja lebih pendek, kaya sebahu gitu”


“Cuma aku gak nyaman tidur di kamar ini, apa yaaa… kaya gak enak aja… ada perasaan bersalah gituh” ucap Hasna sambil menatap ke kiri dan kanan. Reza hanya diam dan menoleh  menatap Hasna.


“Sudahlah sekarang kita tidur… saya perlu ditemani sekarang”


“Jangan khawatir saya tidak akan membuat kamu berjalan seperti pengantin baru besok”


“Tolong usap lagi perutnya terasa pedih lagi” diambilnya tangan Hasna untuk mengusap-usap kembali perutnya.


“Yaah ini sih Maura versi Giant ...:” keluh Hasna. Malam ini ia habiskan untuk menebus keisengannya dengan mengurus bayi besar.


 


***********************


Sabar... sabar... nyari charger handphone lama tuh susah, lebih susah lagi mikirin isi handphone... untuk membuat cerita dibutuhkan energi dan kekuatan super terutama dengan sisa energi setelah bekerja seharian. Seperti yang pernah saya sampaikan dahulu.. selama masih sehat akan menyelesaikan cerita hingga selesai, jadi mohon pengertian kalau delay sehari dua hari mah.. anggap saja latihan mental nungguin delay pesawat hahahaha... tidak boleh buruk sangke yah lagi masa pandemi... nanti jelek sama imunitas... doakan bisa up lagi yaaaa biar mirip tetangga sebelah... #yangsukabandingbandingsamatetanggasebelahsiapahayooooo :)

__ADS_1


************************


 


__ADS_2