Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Emran Pawang Anak


__ADS_3

Suasana langsung menjadi cair saat Emran datang, dia itu memang menyebalkan tapi sangat dibutuhkan kalau suasana lagi canggung.


“Mobilnya menghalangi?” tanya Reza.


“Gak apa-apa Om.. aman koq disimpan di depan ada satpam di gerbang” jawab Emran asal.


“Kamu tuh jangan manggil Om gimana sih, dia atasan Teteh tau.. Panggil Bapak aja” bisik Hasna sambil mencubit pinggang Emran


“Ya itu kan atasannya Teteh kan bukan atasan Emran, gak apa-apa panggil Om yaa kali aja jadi mertua aku” ucapnya sambil melirik manis ke arah Hujan… Hadeuuh si Emran dasar gak tau gosip terkini.


Hujan hanya senyam senyum lucu melihat kedatangan Emran, gayanya yang tengil dan santai membuat suasana jadi menyenangkan.


“Silahkan duduk nak… Mamanya Hasna lagi masak buat makan siang nih sebentar lagi” Ayah langsung mempersilahkan Reza untuk duduk.


“Waah ayah sampai lupa belum membereskan berkas dokumen, sampai berantakan begini mejanya” ucap Ayah sambil membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja.


“Biar pak tidak apa-apa” ucap Reza sungkan..


“Iya ih… Ayah itu meja kerja mah kosong, malah sukanya ngeberantakin meja ruang tamu” Mama langsung sibuk membawa kertas-kertas kedalam.


“Ibu tinggal dulu yah Nak Reza nanggung sedang masak” Mama langsung masuk ke dalam.


Hasna mengajak Maura dan Hujan masuk ke dalam, dia merasa sungkan duduk berdekatan dengan Reza dan Ayah, biarlah ayah yang menemani Pak Reza.


Emran langsung mengajak Hujan main Nintendo Wii… untung sebenarnya ada Emran, Hasna tidak terlalu hapal kesukaan anak sekarang apa.Ternyata mereka langsung battle musik, rupanya Hujan sangat jago bermain game itu. Emran sampai emosi karena dikalahkan terus, selama ini dirumah tidak ada yang bisa mengalahkan dia.


Kalau Maura begitu melihat kura-kura langsung heboh. Bertanya kenapa kura-kuranya tidak berkumis, waah ternyata cerita itu sangat berkesan bagi Maura. Mendengar Maura terus bertanya tentang kumis Emran yang sudah kesal karena kalah terus langsung merasa mendapat alasan untuk kabur.


“Maura pengen lihat mahluk berkumis?” tanya Emran


“Iya mau… Mola mau liat limau” jawab Maura…


“Owhhhh ada Limau di rumah ini, tapi limaunya udah di bonsai” ucap Emran sambil senyam senyum jail


“Kamuu… saya tantang main game musik yang sesungguhnya dijamin gak bisa” ucap Emran sambil menunjuk Hujan


“Mana?… kalau kalah lagi aku minta ditraktir makan” tantang Hujan


“Haaaah cingcay.. Aku traktir Cilok segerobak” Emran langsung naik ke atas.


Apalagi nih si Emran, ampun deh terserah yang penting anak-anak pada senang. Hasna kemudian membantu Mama menyiapkan hidangan di meja.


Emran turun dengan membawa kucing kesayangan dia Taiyo dan gitar …  Mau apalagi ini anak.


“Nihhhhh Limaunya udah jadi kecil…. Ada kumisnya… Limau ukuran bonsai”


Maura langsung terlihat senang melihat kucing gendut peliharaan Emran. Kayanya Taiyo sedang tidur di kamar Emran karena terlihat seperti bingung dan mengantuk.


“Namanya capa limaunya” tanya Maura sambil mengusap-usap Taiyo yang masih mengantuk


“Taiyo…” jawab Emran cepat


“Haaaah… itu kan nama kaltun biz masanya namanya biz” Maura langsung ingin memangku kucing pemalas itu, persis seperti pemiliknya pemalas.


“Ehhhh… Taiyo itu altinya mataali Molaaa.. Disebut Taiyo soalnya walnanya tuning cepelti mataali” Emran langsung menirukan ucapan Maura yang cadel.


“Tuningggg bukan tuning… teluss maolaaa bukan molaa” Maura langsung ngambek karena gaya bicaranya dimainkan oleh Emran


‘Iya tuning tuning…” jawab Emran keukeuh mengganggu Maura


“Tuniiiiing” kata Maura lagi


“Adeeeee… kamu tuh iseng aja.. Udah sana jangan ganggu Maura terus” Hasna langsung memelototi Emran


“Heheheheh… Sini neng kita main gitar sama Aa” ajak Emran pada Hujan


“Deuuuh Aa … muka masih kinyis-kinyis gitu pengen dipanggil Aa” ucap Hasna


“Dipanggilnya mustinya Om” jawab Hujan.. sambil tertawa-tawa


“Wuiiiiih dipanggil Om kaya udah tua amat”

__ADS_1


“Ya kan Om Emran kan adiknya Tante Hasna” jawabnya singkat


“Ya udah sini kita main gitar saja sama Om...kamu bisa gak main gitar” tanya Emran


“Engga.... aku bisanya piano aja” jawab Hujan cepat


“Naaah musti bisa main gitar… gak mungkin kamu ke gunung bawa piano, nyanyinya gimana bagus gak? Coba nyanyikan doremifasolasido” Emran langsung unjuk kabisa, padahal dulu dia belajar gitar diajarkan sama Hasna tapi ternyata dia lumayan berkembang banyak.


Anehnya Hujan langsung menurut, Emran ternyata punya kemampuan jadi pawang abg. Tak lama Ayah dan Reza bergabung di ruang tengah rupanya makan siang sudah siap.


“Ehhhh kamu tuh yaaa… udah cantik suaranya bagus juga.. Diborong semuanya” gombalnya Emran keluar lagi, Hujan langsung senyam senyum malu, hadeuuh ini mah alamat bakalan jadi korban gombalan Emran.


“Teh panggil Kakak di kamar, dari tadi ngerjain gambar terus gak keluar-keluar Mama liat” Mama langsung menyuruh Hasna


Sambil menggendong Maura yang memegang kucing Hasna berdiri dan mengetuk kamar Kak Angga sambil dibuka


“Kak… kata Mama makan dulu..jangan ngegambar terus dong, kan sekarang minggu.. Istirahat dulu” ajak Hasna, dilihatnya Kakaknya masih asyik di depan meja gambar.


“Sebentar ini masih nanggung..”ucapnya sambil melirik Hasna dan langsung menatap Maura.


“Ini anak siapa?” tanya Kak Angga langsung heran.


“Anaknya Pak Reza.. itu udah datang dari tadi, nungguin Kakak mau makan” jawab Hasna


“Ade sini sama Kaka, kata Papi disuruh makan” terdengar suara Hujan menyusul Hasna dia disuruh Reza untuk membawa Maura untuk makan.


“Ini juga anaknya” Angga mengerutkan dahinya, ternyata anaknya Pak Reza ternyata sudah besar tapi dia tidak terlihat sudah tua.


“Ini meja gambar?... wuiiiih keren… aku pengen bisa bikin gambar kaya gini” Hujan tiba-tiba berkomentar melihat gambaran Angga


“Kamu suka gambar?” tanya Angga, tidak biasanya Angga berkomunikasi dengan anak perempuan.


“Ya.. aku suka bikin sketsa di rumah.. Tapi aku paling suka main game design, aku baru liat gambar design di meja gambar kaya gini… ini pakainya gimana?” Hujan langsung tertarik melihat Kak Angga menggambar


“Ehhhh malah pada ngegambar… cepatan itu ditunggu sama Ayah” ucap Hasna, sambil keluar membawa Maura


“Mana Kakaknya… ditungguin dari tadi malah gak keluar-keluar” ucap Mama kesal


“Ya sudah kita makan duluan aja, nanti mereka nyusul” Ayah langsung mengambil nasi


“Waaah Mama masaknya banyak banget ini, biar keliatan jago masak yah depan Nak Reza, biasanya ayah cuma dikasih ceplok telor aja sama Mamanya Hasna” ucap ayah sambil mengeluarkan kuda-kuda menunggu sambal melayang ke atas meja.


“Apaan sih Yah, suka bikin Mama malu, masa ada tamu cuman dikasih ceplok telor, menghormati tamu dong.. Apalagi atasannya Hasna, ya sudah.. Ayah dibikinin ceplok telor saja sekarang” Mama langsung pundung.


“Iya ayah musti diet… ini biar aku aja yang makan mumpung perbaikan gizi.. Pak Boz sering-sering aja main ke rumah yah, biar Mama masaknya enak terus kaya gini” Emran langsung nyela disetiap ada celah.


“De.. sekali lagi kamu ngomong gak jelas, makan di dapur bareng si Taiyo” Mama langsung keluar ancaman.


“Wiiih ampun Yang Mulia, aku gak mau makan makanan kucing lagi.. enek “ jawab Emran


“Haaahhh emang kamu pernah De” tanya Hasna


“Iya waktu ke gunung kemarin kan aku bagian perbekalan, pas berangkat, ke lemari makanan langsung ambil-ambil gitu, gak taunya si Ema masukin makanan basah si Taiyo ke lemari makanan, disangkanya Tuna kalengan yang biasa Mama beli.. Pas di gunung, untung aku yang bagian masaknya.. Aku liat loooh ini koq makanan kucing, untungnya yang lain bawa juga Sarden kalengan ya udah aku campurin aja, toh bentuknya sama” jawab Emran kalem


“Ewwww… kamu geleuh ih.. Enak emang?” tanya Hasna sambil mengernyit


“Yaaah agak asin dikit lah tapi masih dimakan yang penting yang lain gak tau mereka makan makanan kucing, sayang kan mubazir udah jauh-jauh dibawa ke gunung” jawab Emran kalem


Reza hanya senyum-senyum mendengarkan obrolan kakak beradik itu, obrolan yang tidak pernah terjadi di meja makan keluarganya. Biasanya selalu tertib dan tidak banyak obrolan yang aneh-aneh. Disini dia mendengar hal yang tidak pernah terjadi di dunianya.


Tak lama Kak Angga dan Hujan keluar dari kamar, Hujan terlihat sangat senang


“Papi nanti aku kalau kuliah mau jadi Arsitek” katanya singkat


“Wahahahaha Kak Angga dapat pengikut, disini gak ada yang suka gambar, makanya dia gak ada teman” ucap Emran


Reza hanya tersenyum tipis, dia sibuk mengambil makanan untuk Maura, kemudian menoleh pada Hujan


“Kamu mau makan sama apa?” tanyanya pada Hujan


“Aku ngambil sendiri aja… De kamu makan sendiri jangan disuapin Papi terus” ucap Hujan kepada Maura tegas.

__ADS_1


“Wuiiiihiihi… galak kayak Kak Angga..pantesan cocok” Emran kembali menyela saat melihat celah untuk meledek kakaknya.


“Kalau adik model kamu gak digalakin… bisa-bisa kumis ayah rontok semua” jawab Angga, dia lempeng saja tidak menyapa Reza. Hmmmm ini mah masih kesal gak jelas.


“Kakak tamunya disapa dong… kamu tuh tuan rumah tapi gak sopan” Mama langsung nembak


“Ehhh maaf ini soalnya si ade ngajak ribut aja… sudah lama Mas?”  Kak Angga langsung pasang muka berbasa basi..


“Sudah dari tadi… maaf menggangu waktu istirahatnya.. Lagi sibuk yah” ucap Reza sambil memilah-milah makanan untuk Maura


Mama dan Ayah hanya melihat saja aktivitas Reza dan kemudian saling berpandangan, mereka belum pernah melihat laki-laki yang telaten mengurus makanan anaknya.


“Engga.... ada pekerjaan yang harus diselesaikan.. Kalau belum beres suka kepikiran jadi gak bisa istirahat”  Angga langsung duduk di sebelah Ayah


Mereka bertiga langsung terlibat obrolan hangat seputaran pekerjaan proyek. Mama sibuk mengantarkan sejumlah makanan ke meja sofa karena Hasna, Emran dan Hujan memilih makan di atas karpet tengah sambil nonton. Sesekali Hasna menyuapi Maura makan, rupanya Maura benar-benar menurut saat disuruh kakaknya untuk makan sendiri.


Setelah makan, Ayah dan Reza kembali ke ruang tamu sedangkan Kak Angga kembali ke kamar, tak lama Mama menyuruh Emran untuk membeli buah ke Mart yang dekat rumah.


“Neng Rintik-rintik mau ikut sama Om beli buah.. Ayok.. nanti dibeliin cilok satu gerobak” ajak Emran pada Hujan..


“Apaan rintik-rintik” Hujan langsung mengerutkan dahinya


“Hujan rintik rintik.. Turun rintik rintik” ucap  Emran sambil nyanyi… anak ini memang ada aja idenya.


“Ini juga neng Bakpau mau ikut Om Emran naik odong-odong?” tanya Emran


“Mahu...mahuuu.. Tapi sama kaka Ujan” jawab Maura rupanya dia masih inget saat diajak Emran untuk berputar-putar di Hotel saat di Lembang.


“Pakai helm kalau mau ikut sama Emran” ucap Mama sambil menyodorkan helm


“Eh ijin dulu sama Bapaknya, emang kamu suka naik motor?” tanya Hasna


“Suka pakai ojeg online… tapi jangan dibilangin sama Papi, suka marah” bisik Hujan


Reza mengijinkan Hujan untuk pergi dengan Emran, tapi Maura asalnya dilarang dengan alasan sebentar lagi jamnya tidur siang, tapi Maura malah menangis karena ingin ikut akhirnya diijinkan dengan banyak pesan oleh Reza.


“Tenang Pak Boz jangan khawatir akan dijaga baik-baik… silahkan saja dinikmati waktunya dengan Teteh… tapi awas itu satpam berkumis mengawasi terus” ucap Emran pada Reza sambil matanya melirik ke arah Ayah.


“Apaan sih Ade..”... Keplaaak helm Emran langsung ditoyor oleh Hasna.


Emran memang anak yang penuh pengertian kalau soal yang kaya ginian… wqwqwqwq


 


***************************


Ini saya siapkan menu up story buat mata saat bangun bobo. Jadi keingetan bulan puasa kemarin. Paling susah kalau bangun buat sahur apalagi kalau malamnya udah begadang jadinya kurang tidur. Ternyata kesadaran itu paling cepet kalau baca cerita di Noveltoon, hehehe alhamdulillah gak pernah kesiangan bangun. Terima kasih noveltoon sudah membantu saya bangun sahur... Semangat yaaa semuanya.. Love u all.


 


 


***************************


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2