Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Perkelahian 2 Kucing Garong


__ADS_3

Hasna POV


Aku akan mengingat kejadian hari ini di kantor, seperti ini ternyata menjadi bahan pergunjingan. Orang memandang kita dengan tatapan yang berbeda, kalau selama ini kita seperti bubuk regginang di dalam kaleng Kong Guan. Mungkin ini yang dirasakan oleh Cheese Cake di dalam etalase kue. Biarpun cuma sepotong tetap aja keliatan.


Sekarang aku jadi mengetahui.. "owh seperti ini rasanya diperhatikan oleh lawan jenis". Dulu saat SMA dan kuliah juga sering mendengar ucapan teman-teman kalau si ini suka sama kamu, si itu kayanya naksir kamu tapi hanya sebatas itu karena tidak pernah berkembang lebih lanjut alias lempeng-lempeng bae.


Melihat Pak Reza yang berteriak dan mendorong Mas Arya ke dinding membuatku kaget seakan-akan aku telah menjadi bagian dari dirinya. Sepenting itukah aku pada dirinya? Disaat aku sendiri tidak pernah merasakan ada hubungan yang khusus diantara kami berdua. Mengapa dia bersikap seakan-akan aku adalah miliknya.


Berbeda dengan reaksi Arya yang begitu tahu kalau Pak Reza melamarku, reaksinya adalah apakah aku tidak apa-apa? Apakah aku baik-baik saja? Lebih kepada kekhawatiran yang ia rasakan mendengar aku dilamar oleh Pak Reza. Sehingga reaksiku saat Pak Reza memaksaku untuk pergi dengannya adalah berlindung di belakang Mas Arya, terutama ia yang telah membantuku saat aku dipojokkan oleh gunjingan orang-orang saat tadi datang ke kantor.


Dukungan dari Mbak Maytha, Mas Arya dan bahkan Bu Rika membuatku yakin kalau semua akan baik-baik saja, selama aku tidak muncul di permukaan dan mengundang reaksi orang lain. Aku tahu kalau foto itu diambil oleh Bu Arcy atau Mbak Prita, apa maksudnya mereka mengirimkan foto-foto itu pada orang-orang yang ada di kantor. Apakah mereka tahu kalau aku tidak memilih untuk bisa satu mobil dengan Pak Reza, sebetulnya aku diseret untuk masuk ke mobilnya atas nama wewenang yang dilimpahkan Kak Angga.


Apakah betul niatannya Pak Reza untuk melindungi aku seperti halnya Kak Angga melindungiku sebagai kakaknya?. Atau mungkin ada niat lain yang kemudian berlindung dengan kata-kata seakan-akan ditugasi oleh Kakak.


Apakah Pak Reza tidak berpikir dari sisi aku saat dia menarik aku di depan orang banyak dan memaksa aku masuk ke mobilnya. Apakah sisi arogansi dia sebagai pimpinan menjadikan dia merasa berhak untuk melakukan pemaksaan kepada orang lain yang dianggap sebagai bawahannya. Aku merasa itu TIDAK BENAR.


Setelah sesi menangis selesai dan merasakan ketenangan setelah membasuh muka dan makan cokelat, aku mulai memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu. Pak Reza mungkin memang benar atasanku tapi dia tidak berhak untuk memaksaku pada ranah pribadi. Dengan siapa aku pergi dan bagaimana aku bersikap aku sudah bisa memilah dan memilih dengan baik. Seperti saat aku meminta Kak Angga untuk mempercayaiku, aku pikir saatnya aku menentukan sikap juga kepada lelaki ini.


Atasan langsungku adalah Bu Rika, artinya kalau ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sesuai dengan tugasku, aku cukup fokus berdiskusi dengan ia. Harus segera diberikan batasan mana urusan pribadi dan mana urusan kantor.


Selama makan siang aku tahu kalau Pak Reza dan Pak Aswin ada di ruang makan VIP, dan dari sudut pandanganku mereka tampak memperhatikanku. Untungnya Mbak Maytha dan Mas Arya banyak menceritakan hal-hal lucu yang terjadi saat dulu ada gosip yang aneh di kantor ditimpali oleh Bu Rika, dan ternyata dari cerita mereka tidak semua berakhir dramatis dan menyedihkan.


Pak Reza kemudian mengirimkan pesan selama makan siang, aku mencoba tidak memperhatikan dan melupakan apa yang terjadi dengan tidak membalasnya, tapi ternyata dia orang yang keras kepala. Kalau dia menyebut aku sebagai ikan lele aku merasa dia seperti hyena yang terus berbunyi mengganggu mangsa dan lawannya dengan suara yang menyebalkan.


Akhirnya aku menulis untuk memintanya tidak mengganggu lagi sampai aku tahu bagaimana bersikap atas permintaannya. Paling tidak ini akan membuatku lebih tenang dan tidak lagi dirisaukan oleh hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.


Handphone terpaksa aku matikan dari semenjak makan siang. Aku sampaikan pada Bu Rika kalau sekiranya ada hal yang perlu dikonfirmasi tolong dikontak melalui email saja, begitu juga dengan Mas Arya dan Mbak Maytha, mereka tampaknya menghargai upaya yang aku lakukan dan tidak mempertanyakan alasanku.


Sore hari saat pulang aku memilih pulang cepat dengan Mbak Maytha, kekhawatiran untuk bertemu dengan Pak Reza saat pulang dan bertemu di lift agak menghantuiku sehingga aku memilih menunggu di pinggir pintu lift dan meminta Mbak Maytha yang memantau isi lift. Gedung ini seperti gedung kutukan selalu membuat kondisi ketidaksengajaan yang selalu merugikanku.


Sampai di rumah aku langsung menghidupkan handphone dan syukurnya tidak ada pesan lagi dari Pak Reza, syukurlah dia bukan laki-laki impulsif yang tidak tahu diri. Yang pertama kali aku lakukan adalah mendengar suara dari orang-orang yang aku sayangi, bikin video call keluarga. Jam 8 malam kayaknya Kak Angga sudah pulang dan Emran sudah ada di rumah, dan ternyata tidak juga. Mama ada di kamar katanya sedang membereskan meja rias, ayah ada di ruang tengah sedang nonton TV, Emran saat mengangkat video call sedang ada di depan Mart, sedangkan Kak Angga tampak masih di kantor mukanya seperti biasa tampak berminyak.


Hampir 15 menit kami habiskan untuk melakukan video call, padahal baru 3 hari yang lalu aku bertemu dengan mereka. Saat mama bertanya apakah aku baik-baik saja aku jawab ya padahal rasanya ingin sekali untuk curhat tapi khawatir nanti malah membuat suasana jadi tidak lagi menyenangkan. Obrolan dihentikan saat terdengar Kak Angga harus kembali diskusi dengan teman-temannya dan Emran sudah mulai goyang-goyang ke kiri dan kekanan kameranya bikin pusing. Ahhh lumayan membuat mood jadi lebih baik.


Setelah shalat Isya aku kembali melakukan shalat istiqarah, aku ingin segera mengakhir konflik ini, menentukan sikap pada lelaki keras kepala dan egois itu.


Esok pagi nya saat aku bangun solat subuh aku bingung, koq gak mimpi apa-apa yah. Hmmm aneh juga, apa karena terlalu lelah sampai tidurnya dalam banget, ya sudahlah tak apa belum waktunya mungkin. Yang penting diberikan kesehatan dan semangat untuk bangun dan bekerja hari ini… Berikan yang terbaik Hasna… Fighting.


Hari ini adalah penentuan untuk perijinan kegiatan TOT Tahap 2, kalau sekiranya surat dan rekomendasi dari sekretariat selesai. Besok atau lusa kegiatan TOT tahap 2 bisa langsung dilakukan dan tinggal dilakukan pendampingan sebagai kegiatan tindak lanjutnya.


Saat datang ke kantor aku sudah tidak lagi memperdulikan orang-orang yang ada di sekitarku. Mau meihat aku sebagai bubuk rengginang atau cheese cake silahkan saja, aku adalah Hasna yang akan bekerja dengan penuh semangat dan rasa syukur telah diberikan kehidupan pagi ini oleh Yang Maha Kuasa.


Jam 10 suara telepon di ruangan Bu Rika berdering berulang kali sehingga terpaksa masuk dan  mengangkatnya. Bu Rika keluar ruangan dari jam 9 tadi kalau ku dengar saat bicara dengan Mbak Maytha perlu koordinasi dengan Divisi SDM terkait personal di pabrik cabang.


“Halo ini dari Sekretaris Direksi Bu Rika saya diminta oleh Bu Arcy untuk meminta Hasna ke ruangan beliau untuk menjelaskan kegiatan TOT yang akan dilaksanakan” terdengar suara perempuan di telepon, ini kayanya suara Mbak Prita.


“Halo Mbak maaf Bu Rikanya sedang keluar, saya Hasna ada yang bisa saya bantu?” ucapku


“Owh kebetulan Mbak Hasna ditunggu oleh Bu Arcy sekarang di ruangannya” dan telepon langsung ditutup. Hmmm tidak ada sopan santun sama sekali. Mungkin saat masuk jadi pegawai tidak ikut pelatihan kode etik perusahaan pikirku.


Hmmm.. aku paling malas kalau musti ke ruangan Bu Arcy, terutama setelah kejadian kemarin itu, masih kuingat teriakan Bu Arcy yang mempertanyakan soal hubungan Pak Reza denganku. Akhirnya aku ke kubikelnya Mbak Maytha untuk minta pertimbangan, karena ternyata Mas Arya juga ikut dengan Bu Rika pertemuan dengan Divisi SDM.


“Waah aku gak terlalu hapal juga ‘Na tapi kali aja dia cuma pengen tahu teknis kegiatannya” jawab Mbak Maytha.


“Baiknya aku nunggu Bu Rika dulu gak yah?” aku agak bingung juga khawatir salah kalau pergi tanpa memberitahu Bu Rika.


“Hmm tadi bilangnya kan mau ketemu sama kamu kan? Atau kamu wa Bu Rika deh biar pastinya” saran Maytha, iya juga yah kok gak kepikir sih.

__ADS_1


Lima menit setelah aku kirim pesan, tapi Bu Rika tidak menjawab juga tampaknya ia sedang rapat, akhirnya aku putusan untuk menemui Bu Arcy, aku titip pesan pada Mbak Maytha kalau Bu Rika datang untuk menyampaikan pesan dari Bu Arcy lewat telepon. Huffft… semua akan baik-baik saja.


Saat masuk ke ruangan Sekretariat Direksi terlihat Mbak Prita duduk di depan mejanya, mukanya langsung ketus begitu melihat kedatanganku.


“Tunggu duduk dulu disitu saya tanya dulu ibunya” Mehhhhh… kaya nyuruh kambing aja main nyuruh duduk nunjuk pakai gerakan kepala. Sabar Hasna kalau orang gak sopan itu perlu dikasihani artinya dia kurang didikan jadi kita musti pulang maklum.


“Masuk” ucapnya, tanpa memandang kearahku. Ya ampun ini orang kayanya kebanyakan makan cabe kering, pedes tapi gak ngangenin.


“Selamat siang Bu” ucapku saat masuk ke ruangannya.


“Siang… nama kamu Hasna yah”


“Iya Bu … saya yang menjadi penanggung jawab kegiatan TOT Tahap ke 2” jawabku


“Sudah berapa lama kamu masuk kesini?”


“Sekarang masuk bulan ke 3 bu” jawabku


“Belum selesai masa percobaan dong yah, tapi koq sudah banyak tingkah” ucapnya lagi dan mulai berdiri menghampiri ku


“Maksudnya bagaimana bu? Ada yang salah terkait dengan bahan pelatihan yang susun” tanyaku, aku sudah mulai mencium aroma permusuhan dari gerak badannya. Ini kayanya musti jaga jarak dari Nenek Sihir.


“Kelakuan kamu tuh yang salah” ucapnya sambil mendorong bahuku dengan jarinya.


Aku langsung menahan badanku supaya tidak oleng, kalau mundur malahan dia akan makin maju merangsek dan merasa diatas angin.


Kalau seperti ini aku langsung ingat teknik berkelahi kucing garong, posisi badan harus tegap di atas, posisi kucing yang berbaring di bawah adalah indikator dia kalah. Kucing garong badannya akan melengkung meninggikan diri supaya terlihat menakutkan. Heeeehhh jangan main-main sama aku… gak percuma punya kucing si Ogut peranakan yang bisa mengusir semua garong di rumah. Kalau si Taiyo cuma bisa makan dan tidur. Ogut adalah kucing peliharaan yang bisa jadi satpam dan mengusir semua ucing liar yang menggangu.


Badan Bu Arcy yang lebih tinggi menjadikan posisi dia jauh di atasku, dorongan jarinya terasa menusuk di bahuku. Kukunya beud tajam ginih, kok bisa kuku sepanjang itu, apa gak susah kalau dipakai garuk-garuk kan bisa bikin luka. Tidak terbayang memiliki kuku sepanjang itu kaya jari diperpanjang sama sendok. Gimana dia kalau mau ngupil atau ngorek telinga yah.


“Kamu berengsek… “ ucapnya.


“Maksud ibu apa dengan menusuk bahu saya dengan jari ibu, kalau ibu ingin menanyakan bahan pelatihan saya akan jawab dengan baik-baik, tapi jangan menyakiti fisik orang lain” jawabku, kayanya bahuku terluka karena kurasakan pedih di dalam.


“Aku gak perduli dengan TOT bodohmu, jangan kamu kira saya akan memberikan ijin untuk melakukan kegiatan itu”


“Apa hubungan kamu dengan Reza, kenapa kamu pergi berduaan dengannya.. Jangan kira saya akan diam kalau kamu mendekati dia” Bu Arcy maju kedepanku dan tangannya bergerak untuk menarik bajuku


Aku langsung menangkis tangannya, jangan main-main aku dulu belajar silat. Yang terpenting saat akan mendapatkan serangan adalah kuda-kuda atau posisi kaki kita yang stabil dan mengamati gerakan lawan.


“Kamu melawan… perempuan berengsek” dia langsung mengarahkan tangannya ke rambutku. Langsung aku tepis dan bergerak ke samping. DIa semakin kesal dan merangsak ke arahku untuk memegang badanku. Disinilah aku sangat bersyukur tidak suka memakai sepatu high heels, walaupun memakai rok aku bisa bergerak bebas dengan menggunakan sepatu pantofel.


Dia terhunyung karena dorongan tenaganya sendiri, aku berhasil menangkis serangan dengan mendorong badannya kesamping.


“Bangsaddd… awas kamu” perempuan itu meraih tempat pulpen dan akan melemparkan ke arahku.


Disaat yang bersamaan pintu ruangan terbuka dan terlihat Prita dan Bu Rika di pintu masuk.


“Arcy kendalikan dirimu” teriakan Bu Rika membuatku mengalihkan pandangan dan menjadi tidak fokus, aku kira dia tidak akan melemparkan benda itu tapi ternyata perempuan gila itu tidak main-main.


Terasa hembusan keras melayang di sisi kepalaku dan ada benda tajam melewati sisi kepalaku dan terasa pedih. Braaaak suara keras terdengar di belakangku dan teriakan Prita menjadikan suasana langsung ramai.


Bu Rika langsung berlari ke arahku dan melihatku, mukanya tampak cemas.


“Hasna… kamu tidak apa-apa? Mau duduk?” tanya Bu Rika.


“Tidak apa-apa bu hanya agak pedih saja” jawabku sambil mengusap sisi dahi, ehh kok berdarah. Hmmmmm ini perempuan perlu dikasih jampi-jampi rupanya.

__ADS_1


“Saya akan mengajukan pengaduan terkait masalah ini” teriak Bu Rika sambil memandang Bu Arcy.


Terdengar suara orang masuk dan Pak Aswin diikuti oleh Pak Reza masuk ke dalam ruangan.


“Ada apa ini ?” ucap Reza sambil melihat ke arah Bu Arcy dan pandangannya terhenti padaku


Terasa ada air yang mengalir di pipiku dan ternyata  menetes ke bajuku yang berwarna krem sehingga  terlihat sangat jelas.


“Kamu… kamu kenapa” Reza terkejut melihat pelipisku yang terasa pedih, langsung mengeluarkan sapu tangan dan tangannya menekan luka pelipis. Ku ambil alih sapu tangannya dan untuk menahan darah.


“Terima kasih pak, saya gak apa-apa” jawabku lemah.


“Saya akan mengajukan pengaduan  kepada pihak Manajemen.. Ini sudah masuk kategori ranah kekerasan, saya yang melihat sendiri apa yang dilakukan oleh Arcy pada Hasna” ucap Bu Rika


“Kamu kira kamu akan bisa melakukan kegiatan di Pabrik Cabang kalau saya tidak mengeluarkan ijinnya” jawab Arcy


“Saya tidak akan memberikan surat rekomendasi untuk kegiatan itu” teriaknya mukanya masih diliputi oleh perasaan kebencian dan amarah pada saat melihatku.


“Semua kegiatan TOT sudah mendapatkan acc dan disepakati pada rapat kemarin, mengapa harus dibatalkan oleh bagian sekretariat direksi yang tidak memiliki kewenangan untuk itu” Bu Rika terlihat sangat kesal


“Saya kira sekarang lebih baik mengurus kondisi Mbak Hasna dulu Pak” ucap Aswin yang melihat aku mulai merasa tidak nyaman.


“Saya mau ke ruangan saya dulu Pak” ucapku


“Sekarang kita ke rumah sakit, lukamu harus diperiksa” dia menarik tanganku, aku sudah tidak mempunyai tenaga untuk melawan.


“Saya akan membuat pengaduan sekarang” Bu Rika keluar dari ruangan bersamaku.


“Saya tidak apa-apa pak, mau saya pasang plester saja” ucapku.


“Hasna kamu ikut sama Pak Reza ke rumah sakit sekarang sekalian membuat laporan visum, saya akan mengajukan pengajuan sekarang. Perempuan itu harus dikasih pelajaran.. Kamu masih jalan?” ucap Bu Rika


Aku menggangguk lemah… Drama ini koq masih berlanjut sihhhhh…


 


 


***************************


Kesel aku tuh pengen nendang dan mukul kalau ketemu sama perempuan kayak dia, salah itu kalau perempuan kelahi itu ceritanya jambak-jambakan ... musti adu jotos aja kalau ada perempuan kayak gini. Banting ....hhhhhhh puas... Hahahahahah emosih jiwah.... jangan diikuti yah.... mendingan vote, komen yang penting-penting aja dan like kalau suka perempuan musti bisa bela diri.... Haaaaaaaahhh... bentar narik nafas masih emosi...


 


***************************


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2