Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Jangan Suka Memancing kalau Gak Mau Ditanduk


__ADS_3

Sudah lima hari mereka pindah ke apartemen, perubahan suasananya sangat signifikan. Anak-anak jangan ditanya, mereka sangat bahagia dan senang dengan suasana baru. Mungkin karena lingkungan yang berbeda dengan rumah yang selama ini ditempati. Hasna pada mulanya khawatir mereka akan merasa tidak nyaman karena apartemen lebih kecil dan sempit daripada rumah yang mereka tempati, tapi ternyata tidak juga, mereka baik-baik saja.


Mungkin karena unit yang disewa ukurannya cukup luas, ada tiga kamar dengan 2 kamar yang lumayan luas. Satu kamar dengan ukuran bed besar dan satu lagi kamar dengan dua bed kecil, sedangkan kamar satunya lagi tampaknya diperuntuk bagi asisten keluarga. Ada ruang makan dan ruang keluarga bersatu tanpa sekat. Di Sebelah ruang makan ada mini bar yang langsung berhadapan dengan kitchen yang lengkap. Hasna bisa membayangkan harga sewa apartemen ini, apartemennya dengan type studio saja perbulannya sudah tiga setengah juta. Itu apartemen lama sedangkan ini apartemen baru dan ukurannya besar. Hasna langsung merasa bersalah.


“Mas..ini mahal ya sewanya?” tanya Hasna saat malam pertama  di apartemen. Seharian mereka menata pakaian dan beberapa barang penting yang sering dipergunakan. Reza hanya tersenyum, semakin Hasna penasaran ia terlihat semakin puas. Sejak malam itu mereka hanya tinggal berempat di apartemen, walaupun Reza menginginkan keponakan Mbak Jumi untuk datang membantu, Hasna merasa masih bisa melakukannya sendiri. Sesekali saja sih boleh, tapi sisanya bisa ia lakukan sendiri.


Malam ini Reza kembali pulang terlambat, sudah dua hari ini Reza pulang lewat dari jam sembilan malam. Ia tampak sudah kembali disibukkan dengan pekerjaan di kantor, untung saja apartemen posisinya di tengah kota sehingga hanya lima belas menit atau paling lama tiga puluh menit perjalanan dari kantor ke apartemen.


Besok adalah ujian hari terakhir Hujan, rencananya ia ingin mengajak anak-anak pulang ke Bandung. Kemarin ia sudah mengabari Mama soal kehamilannya, bukan teriakan gembira yang ia dengar pertama kali tapi malah kesunyian di seberang telepon dan itu adalah hal yang mengerikan untuk Hasna karena bukan sifat Mama menjadi perempuan pendiam.


“Teteh kamu tega pisan sama Mama meni  baru ngasih tau sekarang… apa susahnya kamu ngasih tau kalau kamu hamil. Kalaupun gak bisa pulang kan bisa lewat telepon. Sesibuk apa sih kamu sampai tidak bisa mengabari Mama” mata Hasna langsung berkaca-kaca. Ia bukannya tidak ingin mengabari Mama, tapi Hasna tahu kalau ia telepon Mama pasti semua cerita akan jebol tanpa ada yang bisa menghalangi.

__ADS_1


“Maaf…..teteh juga baru tahu pas udah lewat tiga bulan” jawab Hasna pelan. “Iya sekarang udah mau empat bulan… Mama gak mau tahu, setelah Hujan selesai ujian kamu harus pulang ke Bandung. Pengajian empat bulanan harus di rumah… Titik” Hasna langsung terhenyak, ia belum pernah mendengar Mama memberikan ultimatum. Pembicaraan selanjutnya adalah serangkaian petuah dan larangan yang harus diingat Hasna selama hamil.


Saat Reza pulang dari kantor ia melihat Hasna yang termenung dengan muka sedih, air mata tampak menggenang di matanya. Reza langsung kaget, ia memang pulang agak malam karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


“Ehhh… kenapa menangis, kan aku tadi sudah telepon kalau aku pulang terlambat” Reza menakup wajah Hasna yang tampak masih berurai air mata, Hasna cemberut disangkanya menangis karena menunggu Reza.


“Aku bukan menangis karena nungguin Mas Reza iihhh..suka geer. Aku juga udah tahu kalau Mas Reza kerja sampai malam” Hasna mengusap air mata, ia jadi sedih membayangkan perasaan Mama yang merasa terabaikan. Ia lalu menceritakan kesedihan Mama karena ia jarang pulang dan tidak meneleponnya.


“Jangan… jangan cerita sama Mama… sekarang kan aku sudah baik. Insya allah ke depan akan lebih baik lagi...Janji” ucap Reza sambil mengacungkan jari kelingking. Hasna langsung mendengus… “Janjinya di sambut dong… “ Reza bersikukuh mengacungkan kelingkingnya. Dengan malas Hasna menyambut mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Reza. “Kaya Maura aja… pake pinky promise segala”  Reza langsung tersenyum “Aku juga diajarin Maura kemarin..heheheh sudah yaah jangan sedih lagi minggu ini setelah Hujan selesai ujian kita pulang ke Bandung” Hasna mengangguk, ia sudah tidak sabar ingin pulang ke Bandung bisa jajan cilok dan cireng lagi.


Lamunan Hasna terpotong saat mendengar pintu apartemen terbuka rupanya Reza sudah pulang.

__ADS_1


“Assalamualaikum….” Hasna langsung tersenyum, perubahan Reza sudah sangat terlihat jelas, sekarang lebih terlihat religius. Kalau datang dan pergi tidak pernah lupa untuk mengucap salam. Dulu hanya menjawab saja tapi tidak pernah mengucap terlebih dahulu, sholat pun sekarang tampak lebih rajin, terlihat berusaha untuk tepat waktu. Hanya mengaji yang masih belum dilakukan, Hasna tidak ingin terlihat memaksa. Suaminya adalah orang dewasa yang sudah memiliki pendirian dan pola berpikir sendiri, ia hanya bisa mengingatkan. Akhirnya Hasna menginstalkan aplikasi murotal di hpnya.


“Mas… nanti supaya hapalan suratnya makin yahud, latihan hapalan surat dari murotal quran ini aja yaaa” Hasna menunjukkan aplikasi di hp suaminya, Reza hanya melirik dan mengangguk. Hasna langsung tersenyum, paling mudah untuk membujuk si Om adalah dengan merayunya lebih dulu. “Duhhh kalau melirik sambil mengangguk dingin kaya gitu jadi keliatan lebih seksi gimana gitu” Reza langsung mendengus.


“Apalagi kalau mendengus kaya gitu… jadi kaya mirip banteng” Reza tampak diam, hmm ini adalah tanda-tanda rayuan sudah mulai masuk. “Banteng itu kata aku binatang paling cool… nyeremin, gak pamer taring atau suka makan daging… dia tuh makannya rumput. Kalau harimau kan jelas nakutin soalnya suka makan daging. Tapi banteng itu makan rumput tapi kharismatik banget” Reza tampak menahan senyum… mantap neng...goyang terus biar pertahanannya runtuh.


“Cuma yaa itu Banteng sekalinya marah widiiiih nyeremin, musti hati-hati jangan sampai menyinggung… emosi jiwa dianya susah diberhentikan” Reza langsung melirik Hasna merasa disindir soal marahnya kemarin yang meleber kemana-mana.


“Kamu tahu gak kalau Banteng paling gak suka sama warna apa?” tanya Reza, Hasna langsung menjawab, “Merah…. Makanya matador suka melambai-lambaikan kain berwarna merah supaya menarik perhatian banteng” Reza langsung menggelengkan kepala. “Salah… Banteng itu sebetulnya buta warna, ia tertarik menyerang matador karena gerakan kain yang dilambaikan”


“Seperti kamu sekarang, sudah memancing-mancing aku menyebut Banteng… kamu tahu kalau aku terpancing… aku suka menanduk” ucap Reza sambil langsung terus menerkam Hasna. Yah kalau sudah diterkam mau gimana lagi pasrah saja, gak mungkin juga lari-lari ditengah rumah dikejar Banteng Papi… malu ketauan sama anak-anak. Salah sendiri mancing-mancing Banteng.

__ADS_1


Banteng kok menerkam... ini sih Banteng rasa Harimau ...hehe


__ADS_2