Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Raina


__ADS_3

Diperjalanan Hasna memilih untuk diam, ia sudah malas untuk berbicara, sekarang kepalanya agak berdenyut terasa sakit kepala.


“Kamu gak apa-apa?” tanya Reza


“Cuma pedih saja pak, dan terasa sakit kepala” jawab Hasna singkat


Tadi Reza langsung mengambil kendaraan dan menyetir sendiri, entah kemana Pak Agus, tapi dia tampak agak panik melihat tetesan darah yang ada di bajuku.


Begitu di rumah sakit, Hasna langsung masuk UGD, dokter memeriksa lukanya tidak dalam bisa tidak dijahit hanya saja sembuhnya agak lama. Hasna langsung memilih itu, membayangkan jahitan di pelipis rasanya seperti melihat jarum di pelupuk mata, terlalu mengerikan.


Sambil dokter menempelkan plester ajaib, dia yang bilang katanya plester yang cepat merapatkan luka. Hasna juga mengeluhkan luka di bahu yang ditusuk kuku Arcy, saat dibuka kancing terlihat ternyata ada luka yang mengelupas walaupun tidak besar. Dan itu semua masuk pada laporan visum.


Setelah diobati Reza masuk ke ruangan rawat, dia melihat saat bahu Hasna ditutup dan di pasangkan kancing oleh perawat.


“Kenapa bahunya?” tanya Reza


“Ada luka juga di bahunya pak, katanya tusukan dari kuku” jawab perawat yang sambil membereskan peralatan.


“Perempuan itu benar-benar gila” umpat Reza.


Hasna cuma diam, disandarkan badannya di kasur dan kemudian ia mencoba memejamkan mata, tadi ia dikasih obat penahan sakit tapi malah terasa mengantuk.


Ia sama sekali tidak ingin berbicara dengan Reza, semua masalah ini berawal dari laki-laki itu.


“Kamu mau makan sesuatu?”


Hasna menggelengkan kepalanya sekarang ia hanya ingin berbaring dan tidur. Ia sudah tidak peduli dengan apapun.


Selama Hasna tidur Reza hanya duduk diam di kursi sebelahnya, ia merasa bersalah sehingga membuat Hasna berada dalam kondisi ini.


Ia tahu bahwa Arcy menyukainya, telah lama sejak Mitha masih ada. Arcy adalah putri dari salah seorang Direksi di perusahaan, mungkin itu yang menyebabkan ia begitu percaya diri dan merasa sangat berkuasa di kantor. Sejak dia mengenal Reza, secara terang-terangan ia berusaha terus memperlihatkan kalau Reza adalah miliknya.


Semenjak Mitha meninggal, Reza tidak terlalu memusingkan pemikiran orang tentang sikap Arcy kepadanya, selama performa kerjanya bagus, peduli amat dengan sikap posesif Arcy kepadanya selama tidak mengganggu diri dan anaknya. Tapi kalau seperti ini Reza mulai memikirkan apakah memang dia harus membuat batasan yang jelas kepada perempuan itu.


Dilihatnya Hasna yang tampak lelah dan sedih, betapa sangat berbeda saat perempuan ini ada di rumahnya, tampak ceria dan penuh dengan energi. Selama hampir 2 jam Reza menunggu Hasna tidur, untunglah hari ini tidak ada agenda rapat. Dia mengirimkan pesan kepada Aswin untuk membawa tas Hasna ke rumah kostan nya. Pak Agus sudah hapal kost an Hasna dan diminta untuk dititipkan di satpam.


Hasna membuka matanya dan melihat Reza sedang membaca sesuatu di hpnya, pelipisnya terasa berdenyut tapi tidak lagi terasa perih.


“Sudah bangun, bagaimana perasaanmu sekarang?” Reza meraba dahi Hasna.


Hasna mengelenggkan kepalanya berusaha untuk melepaskan kepalanya dari tangan Reza.


“Aku mau pulang sekarang” ucapnya sambil menurunkan kakinya ke lantai.


“Ya tunggu sebentar, tadi dokter membolehkan pulang, aku panggil suster supaya menyiapkan kursi roda. Obat-obatan yang harus kamu minum sudah ada” Reza menunjukkan obat yang harus diminum Hasna.


Hasna hanya mengangguk diam. Sebetulnya dia bisa berjalan tapi hari ini dia sudah malas untuk berbicara dan berargumentasi dengan Reza.


Dalam perjalanan pulang Hasna memilih melihat pemandangan di luar dari mobil, beberapa kali ia mendengar Reza menghela nafas panjang. Ia tidak merasa perlu untuk memulai percakapan dengan laki-laki itu.


Mobil kemudian berbelok di sebuah restoran di daerah Senayan, sekarang sudah hampir jam 4, tadi Hasna melewatkan makan siang. Pantas saja perutnya terasa perih dan lapar tapi rasa malasnya untuk berbicara dengan Reza membuat Hasna memilih untuk menekan perutnya supaya tidak terlalu lapar.


“Kita makan dulu supaya nanti kamu bisa minum obat” ucapannya bukan ajakan tapi memerintahkan Hasna untuk turun dan makan.


Hasna turun dan mengikuti Reza dari belakang, mereka memilih duduk di sisi luar restoran di dekat taman di area smoking area. Tidak ada lagi yang makan di jam ini, jadi bebas asap rokok.


Saat memesan makanan ternyata selera mereka masih sama. Sup Iga, Hasna tidak ingin mengomentari apapun, terserah mau makan apa yang penting dia butuh mengisi perutnya dengan cepat.


“Maafkan saya sudah membuat kamu dalam situasi ini, kemarin saya bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu akibatnya pada kamu” ucap Reza saat mereka diam hanya memandang ke arah taman.


Hasna masih diam, dia takut kalau sekarang dia bicara, air matanya akan mengalir keluar. Ia tidak mau dianggap cengeng hanya karena kejadian ini.


“Kalau kamu memang tidak ingin melihat dan berbicara dengan saya lagi kedepan tidak apa-apa” ucapnya “saya tidak akan memaksa kamu”

__ADS_1


“Bukan berarti karena saya atasan, kamu harus mengikuti apa yang saya katakan” sambungnya


“Bu Arcy tampaknya menyukai Bapak” ucap Hasna sambil memandang ke arah playground, ada beberapa anak tampak bermain bersama pengasuhnya.


“Kenapa bapak tidak menikah saja dengan dia, paling tidak Bapak akan menikah dengan orang yang menyukai bapak dan anak-anak akan memiliki ibu” sambung Hasna.


“Saya tidak membutuhkan orang yang mencintai saya, saya sudah pernah dicintai oleh seorang perempuan dan saya menyia-nyiakannya” jawab Reza cepat, mukanya tampak getir.


“Saya hanya membutuhkan perempuan yang mencintai dan menyayangi anak-anak saya, itu sudah cukup untuk saya” sambungnya lagi.


“Saya hanya menginginkan kamu untuk menjadi ibu dari anak-anak saya”


Hasna terdiam, laki-laki ini masih saja menyatakan keinginannya untuk menjadikan ia sebagai ibu dari anak-anaknya.


“Tapi kalau kamu tidak mau, saya tidak memaksa, saya hanya ingin kamu memikirkan itu” ucap Reza.


“Apakah bapak pernah berpikir kalau saya menjadi ibu dari anak-anak Bapak itu berarti saya menikah dengan Bapak?” tanya Hasna cepat.


“Iya tentu saja saya tahu, saya tidak akan meminta hak saya sebagai suami kalau kamu memang tidak menginginkan saya. Saya membutuhkan kamu untuk menjadi ibu dari anak-anak selama kamu bisa, saya tidak akan mengikat kamu, saya tahu kamu akan menjadi ibu yang baik untuk mereka”


“Bapak gila apa?”


“Lalu apa untungnya bagi saya menikah dengan laki-laki yang tidak menginginkan saya tapi hanya unuk mengurus anak-anaknya, saya juga manusia normal yang memiliki keinginan untuk dicintai dan mencintai seseorang” Hasna memandang Reza dengan kesal, pola pikir laki-laki di depannya benar-benar gila.


“Seiring waktu….. Seiring waktu pasti kita akan saling menyukai dan mencintai” jawab Reza cepat.


“Kalau kamu membolehkan saya untuk mencintai kamu, saya akan berupaya sekuat diri saya untuk mencintai kamu, apapun permintaanmu akan saya turuti, kamu pun akan melakukan hal yang sama” ucapnya lagi


“Tapi kalau ternyata kemudian kamu tidak bisa mencintai saya, saya akan melepaskan kamu pergi, kalau memang itu pilihan kamu, saya tidak akan menahannya… tapi paling tidak kita coba dulu untuk belajar saling mencintai setelah kita menikah”


“Saya yakin kita bisa” Reza berusaha meyakinkan Hasna


“Tapi untuk saat ini saya membutuhkan seorang perempuan yang disukai dan dicintai oleh anak-anak saya, jangan tanyakan soal Maura karena  dia jelas sangat mengagumi dan memujamu… saya hanya mengkhawatirkan Hujan tapi ternyata dia pun menyukaimu walaupun tidak pernah mengakuinya, Hujan yang paling sulit untuk ditaklukan selama ini”


“Saya sudah sangat lelah, sulit bagi saya untuk membagi perhatian antara pekerjaan di kantor dan di rumah” Reza menarik nafas, semua rencana project merger dan lainnya dalam kondisi stagnan karena ia kurang fokus menanganinya.


“Saya akan dicap sebagai seorang janda dan orang yang gagal dalam berumah tangga”


“Kita tidak akan gagal, saya yakin itu” jawab Reza cepat.


Hasna menggelengkan kepalanya, laki-laki ini sangat percaya diri.


Makanan yang dipesan datang dan mereka menghentikan percakapan itu untuk kemudian mengisi energi untuk bisa melanjutkan lagi sisa perjalanan hari ini.


Saat di depan kost an Reza berkata kepada Hasna untuk tidak usah masuk ke kantor besok. Sudah ada surat dokter yang menyatakan Hasna untuk beristirahat selama 2 hari. Kegiatan TOT Tahap 2 akan dilanjutkan di minggu depan sehingga Hasna bisa menyiapkan diri terlebih dahulu. Reza meyakinkan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik.


Surat keterangan visum akan diberikan kepada Rika sebagai lampiran dan laporan yang dibuat untuk menjadi bahan Surat Peringatan kepada Arcy. Reza memaksa mengantarkan Hasna hingga masuk ke dalam kost-kostan.


Tas Hasna sudah dititipkan oleh Pak Agus di satpam penjaga kost-an. Hari ini benar-benar hari yang luar biasa.


Setelah melaksanakan solat Ashar dan menjama solat Dhuhur. Hasna membaringkan tubuhnya di kasur, efek minum obat ternyata langsung terasa dirinya kembali merasa mengantuk. Obat ini bagus sekali bisa dipakai sebagai obat insomnia kalau dia susah tidur pikir Hasna.


Menjelang Isha Hasna terbangun, tubuhnya terasa lebih segar, ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menunaikan shalat Magrib, dilanjutkan dengan mengaji membuatnya merasa lebih tenang.


Dibukanya hp ternyata ada banyak pesan dari Mbak Maytha, Mas Arya dan Bu Rika juga, semuanya menanyakan keadaannya. Bu Rika menyampaikan kalau surat keterangan visum sudah diterimanya dan pengaduan sudah langsung dimasukkan ke HRD untuk ditindaklanjuti oleh pihak Labor Practice.


Mbak Maytha menyampaikan penyesalannya karena menyarankan Hasna untuk pergi menemui Arcy sendiri, sedangkan Mas Arya menanyakan kondisinya dan apakah membutuhkan bantuan atau tidak. Hasna menjawab semua pesan dan kemudian merasa nyaman untuk melanjutkan aktivitas yang selalu membuatnya senang. Menonton video musik GD Oppa, mood booster banget pokoknya.


Sebelum tidur Hasna kembali melakukan solat Istiqarah, awalnya dia sempat berpikir untuk tidak melakukan solat ini lagi, karena sudah berketetapan untuk menolak dan berhenti saja dari kantor ini. Tapi kemudian dipikirnya bahwa ini bukan salahnya kenapa dia harus menghindar kemudian ucapan Reza yang merasa bersalah dan menyesali sikap arogannya meluluhkan kekesalan Hasna. Ditambah dengan permintaan maaf yang diucapkan Reza dinilai tulus dari lubuk hatinya.


Hasna tidur dengan perasaan damai, komedi situasi dalam tv show Korea membuatnya terhibur apalagi dengan tamu Big Bang membuatnya merasa semakin mengenal karakter dan personilnya terutama GD Oppa, selalu tampak malu-malu saat diwawancara padahal dia terkenal sebagai bad boy.


Hasna terbangun dini hari jam 3 dengan kaget, ia baru saja melalui mimpi yang sangat aneh. Wanita itu lagi, kali ini mimpinya lebih aneh, Hasna membawa perahu dan menepi pada suatu tempat, wanita itu datang lagi dan memberikannya bayi perempuan yang dipegangnya.

__ADS_1


Wanita itu rambutnya sebahu lurus, entah seperti apa mukanya hanya dalam hati Hasna merasa dia sangat cantik dan lembut, memakai dress hijau bunga-bunga kecil dan mukanya terlihat sedih.


Dia tersenyum melihat Hasna dan memberikan bayinya, dengan tersenyum tapi sedih. Hasna merasa sedih melihatnya tapi dia tersenyum terus kepada Hasna dan kemudian dia berbalik seperti ketinggalan sesuatu.


“Raina… Rainaaa…” ucap wanita itu, kemudian tiba-tiba dia datang bersama anak perempuan kecil yang dalam mimpinya kemarin ia tinggalkan.


Hasna merasa dalam mimpinya ia bingung, dia harus mendayung dan memegang bayi, bagaimana mungkin dia membawa lagi anak perempuan itu, tapi wanita itu terus memaksa mengangkat anak perempuan meminta Hasna untuk mengambilnya


“Tolong Raina….” ucapnya, dia mengangkat anak perempuannya dan kembali berkata dengan sedih “Tolong Raina….” dia tampak sedih dan menangis… Hasna jadi ikut menangis dan membawa anak perempuan itu.. Dia memegang kedua anak wanita itu dan perahu menjauh padahal Hasna tidak mendayungnya… menjauh terus dengan tatapan wanita itu.


Hasna terbangun dengan airmata menggenang di pipinya, kenapa perasaannya sangat sedih dan tertekan. Wanita itu tampak sedih tapi kenapa dia terus tersenyum kepadaku membuatku merasa ingin menangis terus, pikir Hasna.


Hasna akhirnya bangun dan mengambil wudhu, ditunaikannya solat tahajud untuk meminta kepada sang Maha Pencipta, memberikan solusi atas semua permasalahan yang dihadapinya. Ditunggunya waktu hingga solat subuh, untuk kemudian ia tidur lagi.


Dan ternyata mimpi itu masih berlanjut.. Tapi tidak lagi ditaman ataupun di atas perahu.


Ia melihat wanita itu berdiri di sebuah kamar dan menangis melihat anak perempuan yang bersembunyi di belakang lemari. Wanita itu terus menangis dengan tersedu-sedu dan berkata “ Rainaaaaa…. Rainaaaaa…. Maafkan Mami….. Maafkaaan Mamiiii sayang… Rainaaa…… Rainaaaa”


Wanita itu terus menangis tangannya menggapai-gapai tapi tidak pernah mencapai anak perempuan itu. Hasna merasa sangat sesak, nafasnya seperti tercekat oleh tangisan yang ingin keluar, ia berusaha melihat dan menggapai anak perempuan itu, anak itu diam meringkuk dibelakang lemari …. Ia ternyata sedang menangis tapi mulutnya ditutup oleh tangannya kenapa ditahan seperti itu … Owh Ya Allah kenapa ini terasa sangat menyesakkan sampai akhirnya Hasna terbangun.


Matanya penuh dengan air mata, bantal pun terasa basah. Hasna langsung duduk dan menarik nafas sebanyak-banyaknya, diambilnya air minum dan segera menghabiskan 1 gelas penuh.


Kepalanya terasa berdenyut lagi. Ternyata sudah jam 7.30 pagi, untung hari ini ia tidak usah masuk kantor. Sebelum minum obat ia harus makan dulu, tidak mungkin ia makan sereal karena susu tidak bisa diminum bersamaan dengan obat. Akhirnya Hasna memutuskan memesan lewat aplikasi.


Sambil menunggu pesanan datang, Hasna memikirkan mimpinya lagi, mengapa sampai berturut-turut, memimpikan wanita dan anak-anak itu. Raina… Rainaa… kenapa nama itu rasanya ia pernah mengenalnya. Huffft…. Sudahlah nanti juga ingat daripada nanti jadi semakin sakit kepala.


Tak lama pesanan makannya datang, untung saja dia hari ini tidak keluar dan tidak membeli makanan keluar, udara sudah mendung dan sudah turun hujan rintik-rintik.


“Hujan rintik-rintik...hahahaha Emran Emran ada saja pikiran anak itu… Hujan pun sampai takluk dengannya” pikir Hasna setelah mengambil makanan pesannya.


Tak lama terdengar suara hujan yang cukup deras, rupanya musim hujan tahun ini sudah mulai.


Saat Hasna membuka makanan yang dipesan nasi dan sayur capcay yang dulu dimakannya dengan Hujan, ia teringat ucapannya dulu


“Namanya Hujan pasti dulu lahir pas musim hujan yah…...”


“Namanya lengkapnya apa?”


“Raina Safira Raffa”


Hasna tercekat…. Rainaa…. Rainaaaa…. Maafkan Mami….. Rainaaa….


Raina itu artinya Hujan..... Owh Ya Allah......


“Mamaaaaaaaa ….. Mamaaaaaa… “ Dalam pikiran Hasna hanya ingin menangis dan mendengar suara Mama


Dipijitnya telepon dan terus menangis sambil menunggu nada tersambung


“Kalau anak perempuan itu adalah Hujan artinya wanita itu adalah Maminya HUjan dan Maura… mengapa dia memberikan kedua anakknya kepadaku” Hasna tidak bisa berpikir, kepalanya terasa sakit


Begitu tersambung terdengar suara Mama


“Ada apa teh…. Tumben telepon pagi-pagi” suara Mama terdengar sangat ceria


“Maaamaaaaaaaaaa…..” hanya suara tangisan Hasna yang terdengar dan tidak bisa lagi untuk berkata-kata


“Mamaaaaaaaaaaaa…..”


“Teteh…..teteh……. Teteh…… AYAAAAAAAAAH” suara teriakan Mama memutus telepon


*************************


Maaf yaaaah…. Sudah emosi jiwa sekarang dilanjut sama tangisan jiwa, aku teh sambil ngetik juga mewek….. Ah… udahlah pokokna mah sedih… Males ngabodornya juga… Sedih pokokna mah……….

__ADS_1


*************************


Ps: Tapi jangan lupa nge vote yah sedih-sedih juga…. Ini teh tengah malam ngetik demi kalian… hikssss….


__ADS_2