
Sepanjang perjalanan Hujan asyik menonton tutorial gitar di Youtube sedangkan Maura bermain game di tab Papinya. Dan seperti biasa 5 menit setelah mobil berjalan, Hasna merasakan tekanan yang sangat berat di matanya.
Diam-diam dia melirik ke arah Reza yang sedang asyik melihat hp,
“Mumpung dia lagi sibuk aku bisa tidur sekarang” pikir Hasna, dipasangnya masker yang diberikan Reza dengan gerakan penuh kehati-hatian jangan sampai disadari oleh Reza
“Nih…” Reza menyodorkan bantal kecil tanpa melepaskan matanya dari hp
“Eh hehehehe… makasih Pak” ucap Hasna
“Matanya pake spion kali koq tahu sih aku mw tidur.. Padahal dia lagi main hape” Hasna cemberut.
“Kalian mau makan di sekarang atau nanti di Jakarta?.. Soalnya Tante Hasna mau tidur nanti susah di bangunin” tanya Reza pada anak-anaknya
“Hadeuuuh ini pake diumumin segala” pikir Hasna
“Aku mau makan sekarang aja, kata teman ada tempat makan enak di PVJ Pi.. pastanya enak banget katanya” ucap Hujan
“Mola juga mau makan celakang” ucap Maura
“Ok.. kita makan dulu saja supaya nanti begitu sampai di Jakarta kalian langsung tidur” ucap Reza
“Hadeuuuh aku tuh ngantuk bukan laper… nasib numpang di mobil orang” pikir Hasna sambil melepaskan masker.
Reza tersenyum sambil melihat hp, dia berusaha menahan tawanya melihat Hasna yang dengan malas-malas membuka maskernya. Pasti tadi siang dia tidak tidur dan sudah mengantuk.
“Kamu tahu tempat makan yang enak di PVJ?” tanya Reza
“Gak tau Pak, saya jarang ke PVJ, kuliah di Nangor, cuma ada Jatos, kalau datang ke PVJ saya suka silau lihat lampu.. Maklum orang kampung” jawab Hasna malas-malas
“Memangnya kamu kalau pulang gak pernah ke Mall?” tanya Reza
“Gak pak suka tersesat.. Jalan masuk dan jalan keluarnya banyak.. Bingung saya” Hasna berusaha menahan kelompak matanya untuk tidak segera bersalaman antara atas dan bawah.
“Pak Agus butuh teman gak nungguin mobil” saya temani di mobil yaaa… katanya kalau parkiran underground banyak hantunya” ucap Hasna berusaha mencari cari supaya tidak usah turun dari mobil saat sedang parkir.
“Saya gak suka di mobil Non.. pengap..takut keracunan” jawab Pak Agus sambil tersenyum.
“Sudah kamu turun, nanti kalau kena lampu juga langsung segar” Hujan dan Maura sudah turun terlebih dahulu, dengan malas Hasna mengikuti Reza.
“Mau makan apa sih Pak… perasaan dari tadi udah makan melulu, gak kenyang apa” ucap Hasna malas.
“Mumpung anak-anak mau jalan” jawab Reza singkat
Akhirnya mereka berdua berjalan mengikuti Hujan dan Maura dari belakang.
“Kenapa kamu malu jalan sama saya, gak mau deketan di belakang terus” Reza merasa tidak nyaman karena Hasna seperti menjaga jarak dengan berjalan di belakangnya.
“Hehehehe engga Pak, takut Bapak gak nyaman saja jalan sama saya” jawab Hasna cepat, terus terang sebetulnya dia merasa sungkan
“Gak ada yang akan mengenali kita disini, jangan khawatir.. Ayo cepat” Reza menarik tangan Hasna yang berjalan berjarak 2 langkah darinya.
“Ehhh…. “ Hasna langsung ditarik berjalan dekat Reza
Dan memang sudah menjadi nasib Hasna, pasti saja ada yang memergoki. Nasib memang sudah waktunya melepas masa di jomblo di mata orang lain.
“Hasnaaaa...anjaaaay boga kabogoh”
“Hasnaaaa... anjaaaay punya pacar” teriakan seorang perempuan dan cekikikannya langsung membuat Hasna lemas.
“Ghina… Aurel….kalian” ternyata sahabat Hasna di SMA yang asyik cekikikan dan langsung menghampiri Hasna
“Hahahahaha… diem-diem lu yah… “ ucap Aurel sambil menyambitkan tasnya
Reza langsung melepaskan pegangan tangannya dari Hasna, selalu saja ada yang menemukan mereka saat bersama.
__ADS_1
“Anjaaay ‘Na… kamu yaaah .. seneng yang matang-matang” ucap Ghina sambil melihat Reza.
Hadeuuuh diantara semua orang yang musti bertemu hari ini, kenapa musti mereka yang memergokinya saat dengan Reza, mulut mereka paling susah dibungkam dan menyebalkan. Pasti ini endingnya memalukan.
“Pak maaf silahkan duluan nanti saya menyusul, ini teman yang agak susah “dikondisikan” ucap Hasna
“Anjiiiiir manggil Bapak…. “ Aurel langsung cekikikan bersama dengan Ghina.
Hasna langsung membekap mulut Aurel dan menyeret mereka menjauh dari Reza
“Kalian plis jangan banyak ngomong atau aku sebarin aib kamu sama si Steven waktu di belakang kelas… sampai sekarang aku masih nyimpen foto barang bukti” ucap Hasna
“Wkwkwkwkwkwkw…. Gak perduli… yang ini lebih hot daripada Steven” balas Aurel sambil cekikikan
“Kamu mungkin gak peduli tapi Tante Nina bakalan pingsan kalau ngeliat foto itu” ucap Hasna
“Na.. jaman sekarang udah gak aneh peluk-peluk sama anak cowo.. Kamunya aja terlalu konservatif” jawab Aurel cemberut.
“Tetap aja rel.. Kalau aku yang ngirimin Tante Nina bakalan ngamuk, kamu tau kan Ibumu paling percaya sama aku”
“Sekarang kalian dengar, itu atasan aku di kantor Jakarta, gak ada apa-apa, aku cuma nemenin dia sama anaknya ada urusan di Bandung” jelas Hasna
“Kalau gak ada apa-apa masa sampai pegangan tangan gitu Na’ balas Ghina
“Ghin.. kmarin kamu minta info kerjaan kan sama aku, mau aku kasih info atau mau bikin kesel?” terpaksa berbagai ancaman dikeluarkan supaya menyudahi obrolan gak penting ini
“Ok..ok jangan marah dong, kita udah lama gak ketemu.. Gih sana kamunya.. Kasian tuh si Bapak nungguin” ucap Ghina melerai..
“Ya udah nanti wa yah” ucap Hasna sambil meninggalkan dua sahabatnya. Tidak akan cukup waktu 10 menit untuk bicara dengan mereka.
“Sudah? Teman dimana? Kayanya akrab” tanya Reza
“Sahabat SMA pak.. Makanya agak susah dikendalikan” jawab Hasna pelan.
“Makan dimana pak..” rasa ngantuk Hasna hilang sama sekali gara-gara kelakuan mereka.
Dilihatnya Hujan sedang memesan makanan, Maura tampak berdiri diatas kursi dan melambai-lambaikan tangannya, anak koala ini selalu terlihat menggemaskan.
“Tante Hasna dan Papi mau pesan apa?” tanya Hujan
“Ikut pilihan Kakak aja yang penting kenyang dan bikin kuat menghadapi kenyataan” jawab Hasna pasrah. Dalam bayangannya pasti akan panjang pesan-pesan yang membahas tentang dirinya dengan lelaki yang lebih tua.
Hasna duduk dengan lemas, dibukanya wa dan benar saja sudah ada kiriman pesan dalam grup gank sma nya.
“Apa ini foto… ya allah” langsung mengalihkan pandangan ke arah depannya dan disana kedua cecunguk sedang melambai-lambaikan tangannya.
“Kenapa?” Reza heran melihat Hasna yang tampak kaget melihat hpnya
“Ya Allah ngapain juga mereka ikutan makan disini” Hasna langsung berdiri.
“Maaf pak ini harus segera dibereskan” ucap Hasna. Reza melihat ke arah pandangan Hasna dan terlihat muka Hasna yang gemas dan penuh rasa kesal.
“Atulah kalian ngapain makan disini, aku bilang nanti aku jelaskan” ucap Hasna di meja teman-temannya.
“Ehhh… ngapain juga kamu kegeeran, kita emang mau makan malam yaa Ghin” ucap Aurel sambil membuka-buka daftar menu
“Ghin pliiizzz kendalikan si Aurel … demi semua utang-utang jajan dan peer yang kalian contek dari aku, aku mohon jangan gangguin aku depan orang itu” ucap Hasna memelas.
“Kak Asna Mola mau pipis” Maura mendekati Hasna sambil memegang-megang bawah perutnya.
“Hadeuuuhhh… awas yaaa kalian.. “ Hasna langsung menyambar Maura.. Bahaya kalau pipis di sini, toilet jauh lagi.
“Wqwqwqwq….. Na… loe udah pantes jadi emak-emak” Aurel langsung nyambar sambil mentertawakan Hasna.
Reza melihat ketidaknyaman Hasna, merasa bersalah menempatkan Hasna dalam posisi ini, kemudian ia berdiri dan mendekati kedua teman Hasna.
__ADS_1
“Teman Hasna di SMA ya katanya, ayok mari makan bergabung bersama kami, supaya Hasna bisa ngobrol juga mumpung pulang ke Bandung”
Reza kemudian meminta waiter untuk menggabungkan 2 meja sehingga mereka bisa makan bersama-sama.
“Sudah pesan makanan kan? Kebetulan bisa bertemu dengan temannya Hasna, saya ingin tahu bagaimana Hasna waktu masih sekolah”
“Perkenalkan saya Reza atasannya Hasna, ini Hujan putri saya dan tadi yang kecil sedang ke toilet bersama Hasna itu Maura, dia yang paling nempel dengan Hasna”
“Om pacarnya Hasna?’ Aurel langsung nyambar
“Saya atasannya Hasna sekarang” ucap Reza “entah kalau nanti” sambungnya dalam hati.
“Masa sih… “ Aurel masih mencoba menyelidik. “Eh ini putrinya koq udah gede, bapaknya masih muda” ucapnya sambil menatap Hujan. Hujan langsung mengangkat pandangannya dari Hp dan melihat kearah Aurel.
“Tante teman seangkatan Tante Hasna? Kiraian kakak kelasnya … keliatan lebih tua banget efek rambut diwarnain kali yaaa… ga cocok sama warna kulit” ucap Hujan kalem
“Whahahahahaha…. “Ghina langsung tertawa, Aurel paling membanggakan rambutnya yang dicat warna cokelat itu.
“Eh… kalian koq duduk disini” Hasna baru datang dari toilet bersama Maura. Ia kemudian duduk disamping Ghina.
“Saya ajak bergabung supaya kamu bisa ngobrol sama teman-teman kamu sambil makan” ucap Reza bijak.
“Eh… gak apa-apa Pak.. mereka suka rame kalau bicara nanti malah mengganggu” Hasna langsung menyikut Ghina yang mengangkat bahunya.
“Gak apa-apa Tante.. Asyik malah” ucap Hujan, dia masih kesal mendengar ucapan Aurel.
Obrolan mereka terpotong saat waiters membawa makanan pesanan. Ternyata makanan pesanan Hujan cocok dengan selera Hasna, yang makan langsung dengan lahap sambil sesekali menyuapi Maura, musti banyak energi ini kalau duduk barengan semuanya.
Ghina memperhatikan interaksi Hasna dan Maura juga bagaimana ketelatenan Reza dalam mengurus Maura yang tidak mau diam di kursi.
“Hasna waktu SMA apakah bandel?” tanya Reza
“Owh dia siswa yang aktif Pak, semua kegiatan diikuti, asal terdengar ada rame-rame diluar kelas pasti dia yang duluan keluar, kepoan orangnya” ucap Ghina. Dia masih ingat kalau Hasna selalu paling kepo dalam mencari berita keramaian di kelas.
“Pernah saking keponya dia ribut sama kakak kelas yang lagi nge bully adik kelas, eh dia kebawa di bully untung ada Aurel, dia langsung ngamuk.. Ternyata dengan muka tua bawaan dia bikin kakak kelas ngeper juga”
“Maneh mah muji tapi ngabeubeutkeun batur”
“Kamu tuh muji tapi ngejatuhin orang” ucap Aurel pada Ghina dengan sinis.
“Maksudnya apa?” Hujan tertarik melihat ekspresi Aurel yang tampak kesal pada temannya, dia tidak terlalu familiar dengan bahasa sunda.
Hasna tertawa-tawa melihat ekspresi Aurel yang kesal, karena disebut tua, dimulai dari Hujan sekarang temannya sendiri. Hasna menjelaskan arti ucapan Aurel kepada Hujan, yang langsung tertawa-tawa.
“Kan omongan aku bener, Tantenya udah tua mukanya” ucapnya sambil tertawa-tawa
“Kamu tuh anak kecil jangan manggil aku Tante, mau aku pacaran sama bapak kamu?” ucap Aurel sambil melirik ke Reza.
“Papi gak akan mau. Dia sukanya sama Tante Hasna, gak akan mau sama model Tante kaya ibu tiri di sinetron”
Hasna langsung keselek mendengar ucapan Hujan, batuk-batuk sampai Pak Reza memberikan minum kepadanya.
“Rel.. dah .. kamu kaya anak kecil… udah habisin makannya.. Nanti aku bantuin bikinin skripsinya.. Pliz udah jangan ribut lagi” Hasna harus segera mengakhiri keributan ini khawatir malah jadi Perang Bintang antara Hujan dan Aurel. Kelemahan Aurel adalah di skripsi, hingga saat ini dia masih belum menyelesaikannya dan meminta bantuan Hasna.
Akhirnya semua makan dengan tenang, Reza hanya tersenyum melihat ekspresi Hasna yang tampak serba salah di depan teman-temannya.
Mereka berpisah dengan segala janji untuk dibahas di grup chat, semua janji terpaksa diluarkan Hasna supaya semua bisa pulang dengan tenang.
Sampai di mobil Maura dan Hujan sudah tampak mengantuk, akhirnya perjalanan bisa dilanjutkan pikir Hasna. Tubuh dan pikirannya sudah sangat lelah, dia hanya menulis di grup chat bahwa semua akan dibahas esok hari.
Begitu naik ke mobil langsung Hasna mendahului Hujan, jangan sampai keduluan musti duduk lagi sebelah Pak Reza, digendongnya Maura dan langsung duduk di belakang untuk mengambil posisi wuenak… Haaaaahhh… bantal mana bantal… Masker mana masker…
*****************************
__ADS_1
Demi kalian aku ngetik nerusin story.. lain kali kalau sabtu minggu cari novel lain yang update di wiken yaaa.. hehehe.. Selamat beristirahat bobo yang bener biar syantiek besok Minggu. Gak usah tidur pake masker kalau di kasur... kecuali masker buat muka supaya kinclong... #hanyadimengertiolehpencintamakeupkorea hehehe. Love u all.... Oya terima kasih like vote and comment nya. Muach-muach
****************************