Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Hujan


__ADS_3

Hasna PoV


Efek perjalanan jauh adalah rasa lelah yang berkepanjangan, kemarin seharian aku tidur, untung saja menyimpan bahan makanan daging dan pasta. Jadi kebutuhan protein dan karbohidrat tetap terpenuhi, hanya saja sayuran yang tidak ada tinggal tersisa apel yang aku beli seminggu kemarin sebelum berangkat ke Jepang. Kalau hari ini tidak makan sayur dan buah-buahan aku khawatir janin dalam kandungan akan kekurangan vitamin dan mineral.


Menjadi perempuan hamil artinya harus menyadari kalau badan kita bukan milik kita lagi, ada mahluk lain yang kehidupannya akan sangat tergantung dari asupan kita. Kalau selama ini aku paling malas makan sayur, tapi sekarang aku harus memaksakan diri kalau tidak ia akan mengalami defisiensi zat pembangun di dalam organnya. Tubuhku bukan milikku lagi.


Trisemester pertama adalah proses pembentukan organ inti dari tubuh manusia kalau aku baca, otak, organ tubuh, dan tulang belakang. Kalau kita diperiksa ke dokter kandungan kita sudah bisa mendengar detak jantung bayi. Sayang saat kemarin bersama dengan Ammera diperiksa ke dokter kandungan alat-alatnya sedang di kalibrasi. Tapi kalau aku ingat-ingat dan hitung ulang rasanya kehamilan ini sudah mendekati akhir trisemester pertama, karena flek yang muncul itu adalah tiga bulan yang lalu, sedangkan keluarnya flek yang aku baca adalah tanda kehamilan awal bagi sebagian perempuan.


Tring..tring..tring… Ada telepon masuk. Kulihat Ammera..siapa lagi yang akan telpon kalau bukan dia, nomor ini hanya dia yang tahu.


“Assalamualaikum… ada apa Merra?”


“Na… laki lu telp nyariin .. Gw kaget banget dia bisa tahu nomor gw dari mana?” terdengar suara Ammera yang panik.


“Hmmm kayanya dari hp lama yang aku tinggalin di mobil, kamu jawab apa?” rupanya Mas Reza sudah tahu kalau aku mustinya pulang hari ini.


“Aku pura-pura gak tahu kalau kamu gak pulang, aku cuma bilangin kalau kamu kemarin pulang kok..trus ngeles deh lagi nyetir” suaranya terdengar tidak tenang.


“Maaf yaa Merra kamu jadi kebawa-bawa sama masalah aku. Nanti kalau dia telepon bilangin aja kalau aku sehat dan butuh waktu buat berpikir” aku lupa kalau dalam handphone ada nomor Ammera.


Terus terang aku masih ragu-ragu untuk pulang. Mas Reza selalu mengulangi kesalahan yang sama, mencurigai aku saat bersama dengan orang lain. Kalau saja itu ia lakukan karena kecemburuan atas dasar cinta mungkin aku bisa mengerti. Tapi kalau hanya atas dasar klaim rasa kepemilikan karena ia merasa sebagai suami dan aku istrinya terasa menyakitkan, diklaim  seperti  barang yang telah dibeli. Salahku memang menikahi laki-laki yang ditinggal mati, rasa cintanya mungkin tidak akan pernah selesai. Tapi semenjak aku hamil, kenapa perasaan ego yang muncul sangat besar,  ingin merasa dicintai dan didambakan seperti perempuan lainnya. Sampai melupakan kalau aku juga meninggalkan dua orang anak yang dititipi Mbak Mitha... maafkan Buna yaah Hujan dan Maura


Satu minggu... aku hanya butuh waktu tambahan satu minggu lagi udah bisa bersiap. Supaya bisa bertemu dengan Mas Reza dengan kepala terangkat dan tanpa ada air mata lagi. Satu minggu lagi untuk mematikan semua perasaan kepadanya, supaya bisa menerima laki-laki itu walaupun dia tidak pernah menyimpan aku di dalam hatinya. Aku tidak tahu apakah semua janji yang yang ia kirimkan dalam email hanyalah sekedar bujukan agar aku pulang kembali ke rumah. Dalam surat itu dia juga tidak pernah mengutarakan perasaannya, hanyalah janji untuk tetap memperdulikan aku, tetap ada untukku, dan tetap menunggu aku untuk kembali.


 


Hujan PoV


Hari ini adalah hari kedua aku tidak masuk sekolah, aku sudah tidak tahan dengan semua yang terjadi di rumah, Papi sudah seperti mayat hidup matanya kosong dan bingung. Beberapa kali kalau diajak bicara seperti tidak mendengar pasti karena pikirannya melayang entah kemana. Hanya Maura yang masih bisa bersikap biasa saja, hanya tetap saja selalu merengek dan menangis pengen ke Buna katanya. aku jadi sulit berkonsentrasi untuk belajar. Kemarin malam Papi sampai harus menggendongnya hingga tidur.


“Pi.. hari ini di sekolah masih libur, persiapan minggu  depan ujian, sekarang kita coba tunggu di apartemen yang aku pilih."

__ADS_1


“Apartemen kemarin memang bagus, tapi gak mungkin Buna mau disana. Terlalu modern” aku tahu Buna tidak suka suasana terlalu modern,  bahasanya Buna adalah dia suka merasa “insecure”. Waktu aku tanya alasannya kenapa Buna juga gak mengerti mungkin karena tidak terbiasa dia bilang. Dia juga bilang tidak suka main ke mall besar di Bandung “Paris Van J*v*” katanya suka panik lihat lampunya banyak..hahahha aku jadi suka pengen ketawa mengingatnya.


“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri” Papi terlihat penasaran, kasian liat Papi sekarang mukanya terlihat tidak terurus mungkin karena sudah 2 hari tidak masuk kantor.


“Aku ingat dulu Buna bilang gak suka sama suasana yang modern, katanya suka insecure. Untungnya Buna gak insecure sama kita” Papi malah keliatan diem bukannya nimpalin.


“Atau Papi yang insecure sama Buna?” eh malah senyum lagi.


“Iya kayanya Papi yang insecure sama Buna kamu, terlihat terlalu sempurna buat Papi” muka Papi terlihat sedih.


“Hahahahah Papi kaya orang baru diputusin sama pacar.. Papi emang gak tahu kalau Buna itu kayanya cinta banget sama Papi, kalau liatin Papi tuh kaya liat idola. Kalau Papi lagi makan suka ngeliatin terus nanya mau ini mau itu, Papinya aja ga pernah merhatiin” aku tuh heran sama Papi bener-bener gak sadar.


“Kalau malam Papi belum pulang, kerjaanya liatin jam terus suka ngomong kenapa yah Papi belum pulang, kasian sama Papi cape kayaknya, trus suka tanya sama aku bagusnya telpon jangan hahahah kaya temen aku yang nanya pengen nelpon gebetan dia… malu-malu gitu, bentar-bentar liat jendela padahal kan kalau Papi datang bakalan kedengeran suara gerbang dibuka” Papi terlihat kaget.


“Kok Papi gak tahu, kenapa kamu gak pernah cerita” Papi emang bener-bener laki-laki yang udah tua dan gak gaul.


“Ngapain juga aku musti cerita yang kaya gituan, mana aku tau Papi kepo., kan aneh kalau tiba-tiba aku cerita kalau Buna tuh ngefans sama Papi… udah nikah juga ngapain ribet ceritain yang kaya gitu” aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Kayanya dulu Papi sama Mami pacarannya baik-baik gak pernah ribut.


“Papi dulu pacaran dari kelas dua SMA sama Mami kamu, waktu kuliah kita jauhan, Mami kamu kuliah di Jakarta, Papi di Singapura tapi Mami kamu orangnya pendiam gak banyak bicara kaya Buna, teman laki-lakinya juga gak banyak, malah gak ada kalau Papi bilang” Papi tampak berpikir mengingat-ingat dulu.


"Mami kamu orangnya penurut, bisa mengerti apa maunya Papi" tatapan Papi kaya yang jauh banget, mukanya kaya penuh kenangan.


"Papi gak pernah cemburu sama Mami?" Papi keliatan seperti berpikir kemudian menggeleng. Aku langsung pengen ketawa ngeliatnya. "Temen aku aja anak SMP suka cemburu-cemburuan sama pacarnya kalau ngobrol sama cewe lain. Masa Papi gak pernah cemburu sama Mami" aku yakin Papi cuma jaga gengsi aja.


"Yang ada Mami kamu yang suka cemburu sama Papi soalnya banyak temen perempuan Papi yang suka, trus ngajak ngobrol Papi terus" Papi keliatan bangga banget. "Trus kalau Mami cemburu suka gimana?" aku jadi penasaran.


"Mami kamu suka ngambek gak mau ngomong atau ketemu kalau Papi datangin ke rumah, ya udah Papi diem aja di rumah, lama-lama juga keluar dari kamar" Papi tersenyum puas, sudah lama Papi gak pernah terlihat tersenyum.


“Hmmmm makanya Papi gak terbiasa sama Buna kamu teman laki-lakinya banyak… ah sudahlah, kamu mau ikut lagi sekarang? Gak akan belajar aja di rumah.. Biar Papi saja yang cari Buna” Papi tuh gak bisa aja dibawa curhat langsung aja memotong cerita, aku langsung menggeleng.


“Gak...aku ikut lagi sekarang.. Nanti aku belajar aja disana” aku langsung bangkit dari meja makan. Papi hanya minum kopi saja dari tadi. “Papi gak makan dulu” Papi cuma menggelengkan kepala… Bunaaa musti segera pulang kalau tidak Papi bakalan semakin kacau.

__ADS_1


Apartemen kedua yang kita datangi adalah model apartemen lama cuma sampai lantai lima, banyak orangtua yang duduk-duduk di taman sedang berjemur. Ada taman bermainnya juga, banyak anak kecil bermain ditemani sama baby sitternya.


“Papi.. aku yakin Buna sewa apartemen disini” aku melihat situasi di sekitar lobby nya juga nyaman, kalau yang kemarin banyak perempuan muda yang berpakaian minim, seliweran di lobby yang memang terlihat seperti di hotel bintang 4, karena disewakan juga untuk umum.


“Papi kita tunggu disini saja kalau ada yang turun dari lift akan keliatan” aku langsung menarik Papi duduk di sofa yang disudut tapi posisinya strategis, lucu melihat Papi sekarang kaya bapak-bapak yang bingung ikutan aja sama anaknya. Gak keliatan galak kaya dulu lagi.


“Kamu yakin mau menunggu disini? Papi hari ini masih bisa handle” Papi malah keliatan khawatir sama aku.


“Papi kalau kita berdua bisa gantian liat lift, tapi kalau sendiri bisa terlewat. Sekarang aku dulu yang liatin lift, Papi next.. Papi sekarang bisa kerja duluan  dari sini” aku langsung ngambil posisi wenak. Satpam yang keliatan mundar mandir memperhatikan langsung aku tatap, ehh dia  buang muka dia..hihihi jangan kalah serem… satpam paling males sama tamu rese.


Pas jam 10 aku mulai ngerasa pegal, sudah satu jam setengah kita duduk tapi masih belum terlihat jejaknya Buna. Satpam sudah mendekati kami langsung aku berdiri soalnya Papi lagi asyik sama kerjaanya di laptop.


“Selamat siang Mbak..Maaf mbak dari tadi duduk menunggu siapa?” masih sopan ok.. Jadi ingat sama Buna gak boleh jahat sama orang yang cuma menjalankan tugasnya.


“Saya menunggu Kakak  saya, dia ternyata belum datang Pak, kunci kamarnya di dia” aku langsung pake gerakan stretching supaya dia ngeliat kalau aku juga pegel duduk nungguin. Bapak satpam langsung mangguk-mangguk, yang penting muka musti meyakinkan gak keliatan lemah takut sama Satpam.. Aku cuma takut sama Allah dan Papi heheheh..


“Pi… mau aku belikan makanan?” Papi mukanya gak gerak sama sekali masih asyik melototin laptop.


“Papiiii… mau aku belikan makanan?” musti diteriakin di kuping biar kedengeran. Papi langsung kaget trus ngeliat.


“Eh… iya-iya boleh sama kopi satu” aku cuma geleng-geleng kepala, emang ini cafe minta makanan sama kopi.


“Papi aku tinggalin sebentar beli makanan, Papi gak boleh kerja dulu, liatin lift. Tutup laptopnya” Papi kalau gak dikasih ultimatum kayanya gak akan ngerti. Untung aku ikut, percuma memantau kalau matanya gak awas nyari sasaran. Papi cuma ngangguk-ngangguk sambil terus liatin laptop.


“Papi…. Tutup laptop aku bilang” aku mulai kesel, kalau kaya gini bisa-bisa perut kosong emosi aku jadi anak durhaka.


“Iyaa-iyaaa…” akhirnya ngerti juga Bapakke. Aku tadi melihat cafe di dekat taman bermain di area apartemen pasti ada pilihan pastry yang enak dan bisa dimakan daripada membeli di mart.


Ternyata ada croissant kesukaan Papi, hmm Papi paling suka yang crossant with butter aja kemudian untuk kopinya aku langsung memesan satu americano dan latte. Ternyata pilihan pastry nya banyak banget ada red velvet kesukaan aku, dan apa ini wuiih matca cake nya enak kayanya aku langsung seneng udah lama banget gak makan cake seperti ini. Nanggung sama cheese cake kesukaan Buna siapa tahu hari ini ketemu.


Membayangkan makan matcha cake bikin aku pengen cepet-cepet nyampe ke lobby. Ehh itu kenapa Papi kaya lari-lari ngejar siapa?. Whaaats… Bunaaa we got you….

__ADS_1


__ADS_2