Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Menunda Mimpi bukan Berarti Gagal


__ADS_3

Sudah seminggu semenjak kepulangan dari Bandung Hasna tampak banyak melamun, sebetulnya Hasna masih ingin tinggal di Bandung tapi karena Hujan masih harus ke sekolah akhirnya Hasna menunda rencana tinggal lebih lama. Mereka baru tinggal seminggu di apartemen sehingga masih membutuhkan bimbingan dan pembiasaan. Akhirnya setelah acara pengajian empat bulanan, mereka semua pulang kembali ke Jakarta. Mama tidak menuntut Hasna untuk tinggal lebih lama, ia sudah tahu kalau kewajiban Hasna sekarang adalah bersama keluarga suaminya. Melihat Hasna sudah memakai kerudung dan sikapnya lebih tenang dan tidak mudah terbawa emosi membuat Mama lebih yakin melepas anaknya kembali ke Jakarta.


“Kenapa kamu jadi pendiam sekarang?” malam itu sepulang Reza dari kantor, ia kembali melihat Hasna tampak termenung melihat keluar jendela apartemen. Hasna menoleh dan menggeleng lemah.


“Ada apa cerita saja, jangan disembunyikan. Aku tahu kamu memikirkan sesuatu” Reza akhirnya menutup laptopnya dan duduk dipinggiran tempat tidur melihat istrinya yang berdiri bersandar di jendela memandang keluar kota Jakarta. Dipandang istrinya lekat, dengan memakai baju daster selutut perut Hasna nampak mulai membuncit sedikit, dadanya juga tampak lebih membesar. Reza tersenyum melihatnya, baginya Hasna jadi terlihat lebih menarik dengan penampilan seperti ini.


“Apaan sih senyam senyum gitu… gak akan jauh mikirnya pasti kesitu” Hasna langsung menyadarinya begitu melihat senyuman Reza yang sudah lain dari yang lain. Reza langsung berdiri dan memeluk istrinya erat. “Senyam senyum sama istri sendiri gak ada yang larang, yang tidak boleh itu senyum-senyum sama perempuan lain...bahaya nanti disangka naksir lagi” Hasna langsung melengos, punya suami ganteng suka bikin was-was apalagi dengan badannya yang mulai membulat sekarang.


“Mikirin apa? Cerita saja jangan dipikirkan sendiri” Hasna menarik nafas, akhirnya ia menceritakan pada Reza bahwa kemarin Ammera mengingatkan bahwa minggu ini adalah waktu untuk pembayaran spp dan dua minggu lagi mereka sudah harus melakukan kontrak kredit mata kuliah semester depan. Bulan Februari itu baru dimulai semester dua dan itu berarti ia sudah masuk ke bulan keenam. Hasna perkirakan di bulan April ia sudah melahirkan artinya di pertengahan kuliah. Sangat sulit baginya untuk mengikuti perkuliahan di semester ini, dan itu berarti ia harus mengambil cuti kuliah.


Reza termenung sebetulnya kemarin ia sudah memperkirakan kalau Hasna harus mengambil cuti kuliah semester ini, tapi ia tidak ingin membahasnya sebelum yakin akan pemikiran Hasna terlebih dahulu. Ia senang kalau Hasna ternyata lebih memprioritaskan kehamilannya daripada kuliah walaupun ia tahu kalau Hasna sangat menikmati perkuliahannnya di S2 sekarang.


“Kamu gak masalah mengambil cuti dulu kan? Fokuskan pada kehamilan dulu, supaya kondisi kamu sehat dan bisa maksimal dalam menghadapi kehamilan kembar ini. Tidak semua perempuan mengalami kehamilan seperti kamu” Reza mengusap perut Hasna dengan lembut, Hasna mengangguk, ia tidak boleh egois hamil adalah fitrah yang hanya bisa dialami oleh perempuan dan anugrah ini harus ia jaga dalam menyiapkan generasi yang hebat saat dilahirkan nanti.


“Kamu bisa ambil kesibukan yang lain yang tidak memberatkan selama kehamilan, aku tahu kamu gak bisa duduk diam dan menikmati aktivitas sebagai ibu rumah tangga biasa. Sudah ada bayangan belum mau mengerjakan apa?” Hasna tampak berpikir kemudian menghela nafas.


“Aku mau terusin bikin video-video pembelajaran aja buat anak. Dulu kan bikin buat Maura waktu ditinggalin ke Jepang, viewernya ternyata lumayan banyak juga. Padahal aku niatnya bikin buat Maura aja” Reza tersenyum “Aku juga nonton terus video-video yang kamu bikin, salah satu yang bikin aku bertahan selama beberapa minggu menahan rindu itu yah karena ngeliat video yang kamu bikin. Aku senang kamu terlihat sehat kadang ceritanya gak terlalu nyimak.. Fokus liatin muka kamu dan mendengar suaranya… ughh kalau ingat masa itu aku jadi suka pengen meluk takut kamu hilang lagi” Reza langsung memeluk Hasna dengan erat.

__ADS_1


“Apaan sih… eungap ih Mas..” Hasna langsung mendorong Reza menjauh, sekarang punya suami bucin jadi repot sendiri, kerjanya peluk-peluk dan mengusap-usap saja. Mendingan kalau cuma sampai situ seringnya jadi keterusan. Reza tertawa melihat Hasna yang cemberut, terlihat semakin menggemaskan.


“Aku mau tanya dari dulu ingin tahu tapi selalu lupa menanyakan.. Kenapa tiba-tiba kamu memutuskan memakai kerudung?” Hasna melirik pelan kemudian duduk disisi tempat tidur.


“Hmm sebetulnya dari dulu udah kepikiran mau pakai kerudung cuma suka mencari momen yang pas aja. Nah waktu ke Jepang itu aku kan pergi jauh, perempuan yang bersuami harus bisa menjaga dirinya supaya tidak terkena fitnah. Memakai kerudung selain wajib hukumnya juga bisa menjaga diri kita supaya tidak mengundang fitnah. Dengan pakai kerudung, aku tuh kaya yang disadarin untuk menjaga sikap, ga dekat-dekat dengan yang bukan muhrim, begitu juga laki-laki akan lebih menjaga jarak dengan melihat aku sebagai perempuan muslim sehingga tidak bisa berdekatan seenaknya”


“Ternyata pake kerudung itu ngaruh banget  Mas, aku jadi lebih berhati-hati lagi dalam bersikap sama teman laki-laki, dan mereka pun lebih bisa menjaga jarak saat aku udah pakai kerudung jadi terasa lebih aman lah” Reza tersenyum samar ia tidak menyangka kalau istrinya sedewasa itu dalam berpikir. Padahal perjalanan ke Jepang itu merupakan upaya Hasna untuk menghindari dirinya tapi masih tetap menghargai dan menghormatinya dirinya sebagai suami.


“Aku senang kamu yang sekarang terlihat lebih tenang dan tidak terlalu menggebu-gebu, kadang dulu merasa seperti berbeda kutub. Sulit untuk mengejar kamu, karena lompatan-lompatannya terasa jauh. Sekarang aku sudah mulai bisa jalan beriringan walaupun kadang masih tertinggal di belakang” Reza tertawa melihat Hasna yang terlihat bingung.


“Iya kalau aku tertinggal di belakang kamu, aku akan menarik kamu supaya sejajar” ucap Reza, Hasna mengangguk “iya tarik aja aku gak apa-apa kok ditarik ke belakang, aku memang suka terlalu bersemangat sampai kadang lupa kalau sekarang udah banyak buntut yang musti dipikirin” Hasna menarik nafas.


Reza menghela nafas, walaupun begitu ia tidak bisa melarang Hasna untuk mengembangkan dirinya, itu janji yang harus ia penuhi saat dulu mereka akan menikah. “Ya tentu saja boleh, selama kamu bisa mengatur waktu antara kuliah dengan mengurus anak-anak. Tidak usah memikirkan yang lain, aku bisa mengurus diriku sendiri. Yang penting jangan sampai anak-anak terabaikan” Hasna langsung cemberut.


“Trus kalau bukan aku yang mengurus, Mas Reza bakalan diurus sama perempuan lain gitu?” ia langsung melengos. Reza langsung berkerut keningnya, perasaaan dia tidak menyebutkan akan diurus oleh orang lain, hanya akan mengurus dirinya sendiri.


“Kamu tuh gimana sih, aku bilang akan mengurus diri sendiri supaya tidak menambah beban” Reza sampai harus mengucapkan dengan lambat supaya istrinya mengerti.

__ADS_1


“Yah sama aja ngurus sendiri itu kan artinya baju disiapkan oleh orang lain yaitu Mbak Jumi, sarapan disiapkan oleh orang lain juga, trus nanti kalau tidur mau sama orang lain juga?” Reza membelalak semenjak hamil emosi Hasna masih suka turun naik, ia harus banyak-banyak menarik nafas untuk lebih sabar.


“Ya sudah aku maunya cuma diurus sama kamu aja, gak mau ngurus diri sendiri atau diurus orang lain” akhirnya mengambil kesimpulan yang paling mudah. Namun Hasna kembali mendelik, masih salah rupanya.


“Yah...gak mungkin lah sama aku semuanya, nanti musti ngurus bayi dua, Maura sama Hujan, trus sambil kuliah susah kan” Reza cuma bisa menunduk, jadi maunya apa pikir Reza. “Kalau pagi-pagi pasti repot aku bakalan gak bisa nyiapin sarapan, jadi kopi disiapkan sama Mbak Jumi aja. Kalau ngebakar roti masih bisa dilakukan, sambil lari-lari juga bisa tinggal masukin roaster. Makan malam aku temani, kalau baju  aku siapkan kalau udah gak repot. Jadi nanti Mas Reza tinggal ambil dari lemari, trus kalau malam, tidurnya sama aku yah, walaupun nanti ada bayi juga, aku pasti pegel-pegel butuh dipijitin seharian udah akrobat” ternyata Hasna sudah merancang semua aktivitas yang mungkin nanti akan dilewatinya.


Reza tersenyum dan mengangguk. “Iya siap nanti aku ikuti permintaan ibu komandan. Pagi-pagi kalau perlu ngebakar roti bisa aku lakukan sendiri, sekaligus membuatkan sarapan untuk ibu komandan supaya bisa menghasilkan ASI yang berkualitas. Malamnya akan menyisakan tenaga untuk memberikan pijat plus supaya segar kembali” Hasna langsung melotot istilah pijat plus memiliki konotasi lain.


“Pasukan juga kan butuh hadiah supaya bisa bertempur mencari uang yang banyak, yang bisa kasih hadiah disini kan cuma komandan saja” Hasna langsung melengos, suaminya memang banyak alasan.


“Eh Mas dari kemarin lupa mau nanyain… gimana kerjanya Kang Arkhan di kantor” mendengar ucapan Reza bertempur mencari uang Hasna jadi teringat pada kakak kelasnya yang sekarang bekerja sebagai asisten Reza. Hasna sempat khawatir karena ia tahu kalau keduanya tidak saling menyukai kalau mereka bertemu. Senyum Reza langsung menghilang, ia terlihat berpikir untuk menjawabnya. Hasna semakin was-was, baginya Arkhan adalah kakak kelas terbaik yang dimilikinya, tempat berdiskusi dan memberikan pandangan pengembangan diri yang sangat objektif...


************************


Dilema yang paling dihadapi perempuan adalah setelah menikah, apakah melepaskan semua mimpi dan membuat mimpi baru dengan keluarga, masih bisakah seorang perempuan tetap memiliki mimpi pribadi tapi tetap bisa mengurus keluarga. Kalau saya pribadi sih jangan pernah melepaskan mimpi, membuat penyesuaian ok tapi tidak dilepaskan hanya demi alasan keluarga. Karena keluarga pada akhirnya akan memberikan dukungan untuk kebahagiaan kita. Bukankah ibu yang bahagia akan membuat keluarga juga bahagia, jadi jangan lupa untuk mencari kebahagian tanpa melupakan semua tanggungjawab kita. Karena kita juga berhak untuk bahagia....


Love u Gurlz....

__ADS_1


*************************


__ADS_2