
Sudah 2 hari Hasna tidak keluar dari kamar dan ini adalah malam ke 3 ia mengunci diri di kamar, alasannya masih tetap sama sakit takut menulari virus. Tentu saja yang percaya hanya Maura sedangkan Reza dan Hujan tahu itu hanya alasan Hasna untuk menghindari bertemu dengan Reza.
“Papi melakukan kesalahan apa sampai Buna sama sekali tidak mau keluar dari kamar?” Hujan langsung menembak dengan pertanyaan yang membuat Reza langsung tersekat. Hujan melihat Maura yang dengan setia membawa makanan ke depan pintu Hasna. Anak koala itu dengan setia membawakan beragam makanan dan minuman kedepan pintu kamar Hasna.
“Hmmm..” hanya itu jawaban Reza, Hujan langsung mendelik. “Kenapa sih Papi gampang sekali marah sama Buna?” anak itu masih saja tidak puas dengan jawaban Reza.
“Teman aku yang ayahnya marah-marah terus di rumah ternyata punya selingkuhan dan sekarang orangtuanya mulai berpisah...katanya ibunya meminta cerai.. Papi punya selingkuhan?” Reza langsung tersedak ia melihat pada Hujan dengan mata melotot.
“Jangan dibiasakan bicara sembarangan seperti itu” Reza langsung berkata dengan tegas, disimpannya sendok dan garpu ia merasa kehilangan selera makan.
“Lalu kenapa Buna selalu dimarahi sama Papi, padahal kalau aku lihat Buna gak pernah aneh-aneh. Gak pernah main keluar malam sama teman-temannya atau apalah yang aneh-aneh kata aku sih” Hujan memandang Reza dengan tatapan kesal.
“Ada urusan orang dewasa yang tidak dimengerti sama anak-anak” Reza menjawab pendek.
“Kalau kata aku orang dewasa terlalu mempersulit diri, segala sesuatu dibuat jadi masalah” Hujan beranjak pergi meninggalkan Reza di meja makan. Reza tidak menjawab percuma berselisih pendapat dengan anaknya.
“Papi… lihat sini” Hujan memanggil Reza naik ke atas, ia menunjukkan adiknya Maura yang tertidur di depan kamar Hasna dengan memeluk bantal. Rupanya ia ketiduran, samar-samar terdengar suara Hasna dari belakang pintu.
“Sang putri kemudian perlahan keluar dari tempat persembunyiannya…. Hah...dimana kurcaci-kurcaci itu… rupanya mereka sudah pergi bekerja… Mengapa mereka tidak membangunkan aku Putri Salju merasa sedih ditinggalkan oleh para kurcaci kesayangannya” ternyata Hasna sedang menceritakan tentang dongeng Putri Salju kepada Maura.
Reza menghela nafas, tentu saja Hasna tidak tahu kalau Maura sudah tidur. Reza duduk di sisi Maura yang sedang tidur. Ia mendengarkan suara Hasna yang masih terus mendongengkan cerita untuk putrinya, Hujan sudah masuk ke kamar.
“Ahhhh aku akan membuatkan makanan untuk kurcaci-kurcaci kesayanganku… aku tahu aku akan memasak makanan kesukaan mereka. Maura tahu apa makanan kesukaan mereka? Coba tebak apa yang mereka suka…. Maura…..Maura?” terdengar Hasna memanggil-manggil Maura.
“Dia sudah tidur” jawab Reza pendek. Ia mengusap rambut anak bungsu kesayanggnya. Suara dibelakang pintu langsung senyap tidak terdengar suara apapun.
“Ra.. sampai kapan kamu akan mengunci diri di dalam sana? Kamu tidak kasian sama Maura, setiap hari dia hanya diam saja di depan pintu kalau sudah pulang sekolah” Reza mencoba membujuk Hasna, tidak ada suara apapun dari belakang pintu. Reza mencoba membuka pintu tapi terkunci. “Ra….. buka pintunya” tetap tidak ada suara apapun. Upaya Reza untuk berkomunikasi dengan Hasna terhenti saat Maura terbangun dari tidur dan menangis.
“Euuuhmmm… bunaaaaa” Maura terbangun dan mengigau, Reza akhirnya menggendong Maura dan memindahkannya ke kamar, ia hanya melihat ke arah pintu kamar istrinya. Ingin rasanya mendobrak pintu itu, tapi ia sadar sudah terlalu banyak drama dalam rumah tangganya belakangan ini, dirasakan oleh ia dan Hasna, terlalu memalukan sampai terlihat oleh anak-anaknya apalagi Hujan yang sudah mencium ketidakberesan semenjak kemarin.
Sepanjang malam Reza memikirkan cara untuk bisa membujuk Hasna supaya keluar dari kamar. Akhirnya ia memutuskan kalau sampai besok Hasna tidak keluar kamar juga ia akan menelpon Mama di Bandung, lupakan rasa malu ia hanya merasa khawatir dengan kondisi istrinya. Tidak melihat Hasna lebih dari 2 hari tapi ada dalam tempat yang sama membuat dadanya terasa sakit.
Pagi hari saat semua sudah bangun dan beraktivitas, Reza hanya bisa melirik ke kamar Hasna di atas, pagi ini Maura tampak tidak bersemangat dan hanya duduk di meja tidak lagi bersemangat membuatkan sarapan untuk Hasna.
“Maura kenapa kok dari tadi cemberut terus?” Reza tersenyum melihat anaknya yang hanya memainkan sendok di meja.
“Buna sakitnya lamaa...mola kangen...buna kenapa gak ke doktel bial cepet syembuh” Maura memainkan sendok sambil menyenderkan wajahnya di meja.
“Iya nanti Papi ajak Buna ke dokter, sekarang Maura sarapan dulu biar bisa nganterin Buna ke dokter” saat Reza berusaha membujuk Maura untuk mau sarapan, terdengar suara pintu kamar Hasna terbuka. Maura langsung terlonjak dan bangun. “BUNA buka pintu …” ia langsung turun dari kursi dan berlari menuju tangga.
“Bunaaaa...syudah syembuh” ia melihat Hasna yang turun dari tangga. “Buna kenapa pake kacamata sama mukanya ditutupin?” ia heran melihat Hasna yang memakai kacamata kotak besar menutupi sebagian mukanya dan masker yang menutupi hidung dan mulutnya, tampak seperti memakai pelindung.
“Hmm Buna masih ada virus tapi sudah baikan.. Tapi gak boleh buka masker supaya virusnya ga loncat sama Maura” Hasna menjawab pelan, suaranya terdengar serak.
“Muka Buna jadi gak teliatan sama Mola” Maura terus memperhatikan Hasna dengan seksama
__ADS_1
“Hmmm tapi kepalanya masih keliatan kan?” terdengar suara Hasna pelan yang menggoda Maura.
“Teliatan… Buna kan bukan antu” Maura menggandeng tangan Hasna ke meja makan. Hujan yang memperhatikan Hasna tampak seperti penasaran.
“Buna sakit apa, kenapa kok sampai keliatan berat gitu? Mau ditemenin sama aku ke dokter?” Hujan tampak memperhatikan wajah Hasna dengan seksama, “kenapa sekarang pakai kacamata? Itu kacamata minus” Hasna menggeleng, “nda… matanya agak pedih kalau kena sinar matahari… kamu mau bekal apa hari ini?” Hasna mengalihkan perhatian kepada bekal.
“Kamu sarapan dulu jangan mikirin bekal anak-anak” Reza mencoba memulai pembicaraan, tapi Hasna seperti tidak mendengarnya, ia langsung pergi ke dapur diikuti buntut yang terus mengikutinya di belakang. “Mola mau makan sama omyet bikinan Buna” Maura memegang rok Hasna dari belakang.
Reza hanya menatap Hasna yang menghilang ke dapur, Hujan tampak tersenyum sinis melihat Reza. “Papi diasinin lagi sama Buna…” ia langsung menyusul Hasna ke dapur. Reza hanya bisa menarik nafas. Tidak masalah kalau ia dianggap tidak ada, bisa melihat istrinya beraktivitas di depannya sudah membuatnya bahagia, ia tidak usah menelpon ke Bandung demi membujuk Hasna.
Pagi itu suasana rumah kembali ceria seperti tidak terjadi apa, suara Maura kembali memenuhi setiap sudut ruangan.
“Maura… ayo kita berangkat” Hasna turun dari kamar terlihat sudah membawa tas besar. Reza melihatnya tapi tidak berkata apa-apa, ia tahu kalau Hasna tidak akan menjawabnya. Dari tadi ia sudah mencoba mengajaknya bicara tapi tidak mendapatkan respon apapun.
“Papi Mola syekolah dulu sama Bunaaaa” Maura meloncat-loncat ke depan Reza, ia senang karena hari ini berangkat sekolah ditemani ibunya.
“Yaa have fun di sekolahnya..” Maura salim dan langsung berlari menyusul Hasna ke mobil. Reza menatap dari teras rumah, istrinya sudah ada di dalam mobil Maura sibuk melambai-lambaikan tangannya dengan gembira, tapi Hasna tidak sedikitpun melirik ke arahnya. Mau kemana istrinya dengan membawa tas yang besar, Reza merasa penasaran tapi yah sudahlah sekarang ia hanya ingin mereka tidak bertengkar sehingga suasana lebih baik. Ia tidak mungkin memulai percakapan dengan menanyakan apa yang Hasna bawa dalam tas, seperti memulai kembali pertikaian.
Sepanjang hari di kantor Reza memikirkan apa yang dilakukan Hasna, ia tadi menunggu istrinya pulang dari mengantar Maura, tapi ternyata sampai jam 10 Hasna tidak juga pulang sehingga akhirnya dia memutuskan pergi ke kantor. Saat jam 12 siang ia telepon ke rumah, Hasna masih juga belum pulang. Baru jam 2 siang saat ia sedang rapat ia mendapatkan pesan dari Mbak Jumi kalau Hasna sudah pulang dengan Maura, kemana saja istrinya selama hampir 6 jam.
Dan aktivitas seperti itu akhirnya terus berlanjut hingga sudah hampir 4 hari. Hasna terus menutup diri dari Reza, tidak pernah menjawab pertanyaan dari suaminya, selalu menghindari berduaan dalam ruangan yang sama, menutup muka dengan kacamata dan masker, dan selalu pergi bersama Maura mengantar sekolah dan pulang saat Maura pulang dari sekolah. Tidak tahu apa yang dilakukan istrinya membuat Reza semakin penasaran. Tidak mungkin dia pergi ke kampus karena perkuliahan semester awal sudah selesai.
“Kemana kamu kalau siang setelah mengantar Maura ke sekolah?” Reza tidak bisa menahan diri untuk bertanya, saat mereka duduk di ruang keluarga. Hasna sedang menemani Maura mewarnai buku. Hasna tidak menjawab ia seperti sibuk dengan memilihkan pensil warna untuk Maura.
“Buna..Papi tanya sama Buna” ia melihat ke arah Reza dengan tatapan cemas.
“Buna pergi ke sekolah menemani Maura gak kemana-mana” jawab Hasna pada Maura, ia tidak melihat ke arah Reza. Malam itu Hasna tidak lagi mengenakan masker hanya kacamatanya tidak lepas dari mukanya yang kecil.
“Kata Buna gak pelgi kemana-mana sama Mola di sekolah” Maura menjadi juru bicara Hasna, Reza sadar kalau perkatannya membuat putrinya cemas. Telepon Hasna berbunyi ia langsung berdiri dan menjauh ke ruang tamu.
“Assmlkm Kaka… ada dimana” Reza masih bisa mendengar, rupanya Angga yang menelpon. Ada urusan apa kenapa tiba-tiba Hasna menjauh, Reza menjadi penasaran perlahan dia mendekat ke arah ruang tamu dan masuk ke ruang kerjanya, dibukanya pintu sehingga bisa mendengar percakapan Hasna.
“Iya aku sehat, cuma sering gak enak badan aja, biasa kayanya masuk angin gak kuat sama AC” terdengar suara Hasna yang lirih.
“Iya aku perlu uangnya minggu ini, hmmmm sepuluh juta nanti aku kembalikan” untuk apa uang sepuluh juta bukankan setiap bulan ia mengirimkan uang saku duapuluh juta untuk istrinya, Reza mengerutkan dahi.
“Engga ahhh aku mau pinjem kok bukan minta, Kaka juga kan lagi nabung buat beli rumah.. Aku pinjem yaaa” betul artinya Hasna meminjam uang dari Angga.
“Hmmm males nyeritainnya… mendingan minta sama Kaka aja daripada sama dia” Reza mendengus ia menduga kalau dia yang dimaksud oleh Hasna adalah dirinya.
“Iyaa… Kakak juga sehat selalu, jangan lupa makan sama pakai sunblock ntar mukanya makin item… love you” terdengar Hasna mengakhiri percakapan. Reza jadi semakin penasaran untuk apa istrinya meminjam uang pada kakaknya.
Ia keluar dari ruang kerja dan segera mendekati Hasna.
“Untuk apa kamu meminjam uang dari Angga, setiap bulan kamu aku nafkahi kalau kurang jangan meminta ke Angga apa susahnya minta sama aku” Hasna tampak kaget saat tiba-tiba Reza muncul dari ruang kerja. Tangannya dicengkram oleh Reza sehingga ia tidak bisa pergi.
__ADS_1
“Bilang sama aku sekarang buat apa kamu perlu uang sepuluh juta… aku transfer sekarang jangan minta sama Angga, memalukan seperti tidak bisa menafkahi istri sendiri” Reza mengeratkan genggaman tangannya. Hasna berusaha melepaskan tangan tapi genggaman Reza terlalu keras, tatapan mukanya mengeras dan menatap Reza, dibalik kacamata tebal itu Reza bisa melihat tatapan kebencian dari mata Hasna, dan tiba-tiba Reza merasakan tendangan kaki Hasna di tulang keringnya.
“Arghhhhhh…”. Ia langsung membungkuk kesakitan, dari dulu kelemahannya adalah di kaki, dulu ia pernah mengalami patah tulang karena terjatuh dari motor, sehingga terkadang kalau lelah yang paling cepat terasa pegal adalah bagian betis dan cenut-cenut di tulang keringnya.
Hasna langsung berlari ke tangga.
“Maura mewarnainya ditemani Papi yaaa… Buna mau tidur” ia langsung berlari naik ke atas. Maura yang melihat Hasna berlari ke atas langsung menyusul. “Molaaa mau ikut tidul sama Bunaaaaa….” meninggalkan semua kegiatan menggambarnya, hanya tinggal Reza yang sibuk mengusap-usap kakinya. Ia menatap Hasna dan Maura dengan tatapan putus asa, istrinya memang punya kemampuan luar biasa dalam menyakiti kakinya dari dulu.
Karena Maura ingin tidur ditemani, akhirnya Hasna menemani Maura di kamar, banyak yang diceritakan oleh Maura sebelum tidur, mulai dari aktivitasnya seharian dengan temannya sampai cerita Maura tentang binatang yang ia temui di taman sekolah. Hasna mendengarkan sambil terus menepuk-nepuk pantatnya hingga akhirnya anak koala itu tertidur.
Hasna perlahan turun dari tempat tidur, ia sudah merasa lelah beraktivitas seharian di luar. Besok masih banyak yang harus ia selesaikan, ia harus segera tidur. Sikap Reza yang mengintrograsi soal percakapannya dengan Angga membuatnya waspada dan harus segera ke kamar dan mengunci dirinya supaya tidak diganggu lagi.
Saat Hasna ke kamar, ia bingung kemana kunci kamarnya, ia merasa tidak mencopotnya, Hasna langsung mencari-cari… dimana kunci kamarnya. Kemudian ia mencari ke meja belajar, apakah ia sampai pelupa sampai tidak ingat melepaskannya. Saat ia sibuk mencari-cari tiba-tiba ia mendengar pintu terbuka dan Reza masuk Hasna langsung kaget.
“Kamu mencari kunci kamar? Ini aku yang ambil” Reza mengacungkan kunci kamar Hasna memasangkannya kembali dan menguncinya dari dalam. Ternyata Reza yang mencopotnya saat Hasna menemani Maura di kamar, ia tahu kalau Hasna selalu mengunci pintu begitu meninggalkan Maura. Hasna hanya bisa menatap, nafasnya turun naik karena kesal. Tapi ia sudah berjanji dalam hatinya untuk tidak berbicara apapun dengan Reza.
“Kenapa kaget?” Reza tersenyum mendekat Hasna langsung menjauh ia tidak ingin berdekatan dengan suaminya. Reza menarik Hasna, ia merasakan kerinduan yang amat sangat dengan istrinya. Ditariknya Hasna dalam pelukannya. Hasna berontak di dorongnya Reza tapi tenaganya kalah jauh dengan suaminya.
“Jangan menendang kakiku lagi, nanti retakan bekas patah tulangnya bisa kambuh” Reza langsung merapatkan kakinya pada tubuh istrinya sehingga menyulitkan Hasna bergerak. Dipeluknya Hasna dengan sepenuh hati, saat menatap wajah Hasna, ia bisa melihat kalau Hasna membuang mukanya.
“Maafkan aku kemarin, banyak hal yang aku pikirkan jadi tidak mengontrol ucapanku” Reza memegang muka istrinya, ia mencoba mencium Hasna tapi Hasna terus membuang muka, tubuhnya terasa kaku dan menolaknya.
Sudah seminggu lebih ia tidak memeluk tubuh istrinya, rasa kerinduannya terasa begitu memuncak, ia terus mencoba memeluk dan menciumnya, tapi Hasna tetap memalingkan muka dan tidak memberikan respon apapun.
Reza memaksa muka Hasna untuk menatapnya, dilepasnya kacamata yang menghalanginya melihat wajah istrinya. Namun Hasna tetap memalingkan muka tidak mau melihat kearahnya, tangan Reza mengeras saat memegang wajah Hasna untuk menghadapnya, sekarang walaupun muka Hasna menghadap ke arahnya tapi matanya tidak mau melihatnya. Reza mulai kesal.
“Kenapa membuang muka..”
“Kamu selalu tertawa dan terlihat bahagia saat bersama orang lain”
“Kenapa membuang muka saat bersama saya”
Mendengar ucapan itu Hasna mengalihkan matanya menatap suaminya, Reza tersentak, tidak ada lagi tatapan penuh kasih dan jenaka yang selama ini terpancar dari muka istrinya, yang ada hanyalah tatapan penuh kebencian.
“Mengapa saya harus memandang Mas Reza dengan perasaan cinta saat Mas melakukannya tanpa ada perasaan apapun pada saya” suara yang keluar dari mulut Hasna terdengar getir
“Ohh iya saya lupa… laki-laki bisa menjalin hubungan dengan perempuan walaupun tanpa ada rasa cinta seperti Mas bilang” Hasna menjauhkan tubuhnya dari dekapan Reza, ditariknya kancing kemeja bajunya dengan kedua tangan dengan kasar sehingga terlepas, memperlihatkan tubuh yang tidak tertutup pada Reza yang hanya bisa tersentak melihat perilaku istrinya.
“Mas membutuhkan saya sekarang...Lakukan saja… saya hanya objek pemuas kebutuhan bukan...lakukan saja… saya tidak menuntut perasaan cinta atau curahan apapun.. Jangan khawatir mulai sekarang saya tahu diri dimana posisi saya…. Lakukan saja sesuai dengan keinginan mu selama masih bisa….” Hasna kemudian mendekat sambil mendorong-dorongkan tubuh bagian atasnya kepada Reza, tatapannya penuh dengan amarah, air mata mulai mengalir di pipinya
“Jangan khawatir saya tidak akan menuntut apapun mulai dari sekarang…. Lakukan saja selama masih bisa…” ucapnya sambil menegakkan wajahnya penuh menatap Reza dengan tajam. Reza terhenyak ia tidak menyangka tanggapan seperti ini yang akan diterimanya. Hilang sudah sikap istri yang ceria dan selalu membujuk rayu kemarin, yang tampak di depannya adalah seorang perempuan yang terluka.
“Akuuuu….” Reza tercekat… ia mengusap mukanya, untuk pertama kalinya ia bingung harus menjawab apa.
Bingung khaan mau bilang apa....
__ADS_1