
Setelah terjadi bumi gonjang ganjing langit kerlap kerlip, akhirnya Hasna bisa merebahkan dirinya. Walaupun begitu pelukan erat di perutnya sulit ia lepaskan seperti akar yang sudah membelit batu.
“Engap atuh ini jangan terlalu keras meluknya” Hasna berusaha melepaskan belitan tangan Reza.
“Hmmm diaaam aku ngantuk” Reza hanya menjawab pendek tanpa melepaskan pelukannya dari Hasna.
“Mass aku mau beli test pack besok makin kesini aku merasa banyak hal yang aneh sama diri aku, aku takutnya hamil soalnya belum mens aja” Hasna mencoba mengadukan keadaan dirinya.
“Hmmm” hanya itu jawaban Reza. “Aku tuh tadi mual banget nyium parfumnya Mas Reza, untung sekarang nggak, trus sekarang gak kuat makanan yang digoreng sama gak terlalu suka sama yang kuah-kuah coba” Hasna terus mencoba bercerita, tapi Reza tidak menjawab, ia menoleh melihat suaminya ternyata sudah terlelap.
Hasna menatap muka Reza yang tampak damai, tidak terlihat aura kemarahan kalau saat ia tidur, ia kemudian mengganti posisi tidurnya sehingga bisa menatap muka Reza secara seksama. Sudah mulai ada garis-garis kerutan di area mata dan hidung, tidak terlalu jelas tapi muncul karena tidur. Dibagian dahi paling terlihat dengan jelas, mungkin karena suaminya sering berpikir dan mengerutkan dahi.
Bulu matanya pendek tapi lentik, lucu sekali baru ia perhatikan ternyata bulu matanya lentik seperti ini. Ada rambut-rambut halus di area bibir dan dagu, rupanya Reza belum sempat mencukurnya tapi membuatnya terlihat matang dan tampan. Aneh kenapa dia jadi senang menatap suaminya seperti ini Hasna tersenyum membayangkan ekspresi Reza tadi saat masuk ke kamar.
Sejak kapan yaah hatinya menjadi tertambat pada laki-laki ini, jari-jari Hasna menelusuri alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, garis bibir yang tegas dan dagu yang dipenuhi oleh rambut halus. Tiba-tiba tangan Hasna ditangkap oleh Reza, Hasna langsung terlonjak kaget, ia merasa tidak menyentuh Reza terasa keras. Ternyata Reza tengah menatapnya tajam,
“Kenapa kamu? Mau lagi?” Hasna langsung melotot, mukanya langsung memerah.
“Engga...engga aku cuma lagi merhatiin muka Mas Reza aja” Hasna langsung terlihat salah tingkah, sebelumnya ia tidak pernah memperhatikan suaminya begitu intens. Ia langsung merubah posisi tidur kembali lurus tidak miring menghadap Reza.
“Kenapa kamu kangen karena gak tidur bareng selama tiga malam ini?” Reza tersenyum sinis, Hasna langsung melirik tajam. “Beuuuh plis deh aku sih baik-baik aja gak tidur tiga malam sama Mas Reza, mau ditambah sampai seminggu juga kuat… mau nyoba sebulan juga kuat… atau malah setahun gak masalah” Hasna mendengus sambil membalikkan badannya membelakangi suaminya. Reza langsung menariknya
“Kamu gak akan pernah bisa lepas dari saya, jangan pernah coba berpikir sampai menjauh dari saya” dipeluknya istrinya dengan erat, “hihihihi…. Iya-iya gak bisa kemana-mana aku...ampun-ampun jangan gelitikin geli…” Malam itu Reza membayar tuntas semua hutang tiga malam selama mereka tidur terpisah.
Seperti halnya semua pasangan yang baru menikah, masalah komunikasi selalu menjadi pemicu pertikaian, walaupun perang dingin sudah diselesaikan dengan baik di atas tempat tidur. Jiwa posesif Reza pada Hasna tidak berkurang bahkan semakin meningkat, Hasna merasa mungkin karena kesalahannya yang tidak menyebutkan bertemu Arkhan di Mall walaupun niatnya baik supaya tidak membuat suaminya merasa cemburu tapi malah jadi blunder karena Reza memergokinya.
Seperti malam ini Reza kembali meradang saat membaca pesan dari Arkhan yang membahas secara khusus tentang rencana perjalanan dengan Hasna.
“Kenapa dia harus melakukan personal chat membahas rencana selama studi Bandung dengan kamu, tidak di dalam grup bersama dengan yang lain” Reza mengacung-acungkan handphone Hasna saat ia kembali memeriksa semua pesan. Hasna hanya bisa menarik nafas panjang, benar-benar seperti anak SMA yang posesif.
“Mas kami sering membahas rencana studi banding di dalam grup tapi tanggapan dari anggota yang lain malah suka gagal fokus, bukannya membicarakan konten tapi malah soal setelah itu mainnya dimana, ada tempat hiburan apa di sana atau bisa nyari buku komik khusus gak.. Sampai akhirnya Kang Arkhan kesal karena malah jadi membahas hal-hal yang lain”
“Akhirnya aku sebagai perwakilan teman-teman membahas kemungkinan kegiatan dan apa yang harus disiapkan.. Ini kan diskusi yang sifatnya umum bukan hal yang pribadi.. Mas Reza harus bisa membedakan dong, jangan seperti anak kecil terus ah aku jadinya cape” Hasna menunduk sedih.
__ADS_1
“Ini dia membahas soal kemungkinan kamu mesti lebih prepare soal udara dingin selama disana, ini kan khusus membahas masalah pribadi, bawa obat alergi dingin lah, bawa heattech, jaket..apalagi ini.. Ahhh terlalu ikut campur” Reza mendengus kesal. Hasna langsung menatap tajam.
“Mas Reza mikir gak sih, mestinya merasa berterima kasih kalau istrinya diingatkan oleh orang lain kalau kemungkinan pas tiba di sana sudah mulai masuk akhir dari musim gugur mau ke musim dingin jadi cuaca akan lebih dingin dari biasanya jadi aku harus lebih menyiapkan diri” rasa kesal Hasna kembali saat ia harus menderita dingin gara-gara Reza kesal pada Arkhan dulu.
“Kalau sekiranya Mas Reza gak suka aku pergi, lebih baik aku gak usah pergi.. Ngebatin pergi juga kalau selalu di omelin seperti ini… mana sekarang lihat Hp Mas Reza masih suka kirim-kirim pesan kan sama si Medusa” Hasna langsung menyodorkan tangannya meminta hp Reza yang langsung melengos karena tidak ingin dibandingkan.
“Yah wajar lah kalau aku berkirim pesan dengan Arcy karena itu berhubungan dengan pekerjaan di kantor” jawabnya sambil cemberut. “Lalu aku… aku juga berkirim pesan dengan Arkhan karena urusan yang sifatnya resmi juga bukan pesan sayang-sayangan atau cinta-cintaan” Reza langsung melotot dan berdiri dari tempat tidur.
“Bicara sama kamu selalu gak mau kalah” ucapnya sambil beranjak dari tempat tidur. “Bukan soal gak mau kalah tapi logika berpikir yang dipakai, jangan segala sesuatu itu didiskusikan berdasarkan emosi… logika dipakai...logika” ucapan Hasna mengiringi Reza keluar dari kamar, sudah dapat dipastikan malam ini dia akan tidur lagi sendiri.
Hasna merasa heran dua bulan belakangan ini Reza menjadi lebih sensitif dan mudah marah, sifatnya jadi seperti perempuan. Kalau Maura dan Hujan terlalu keras bermain atau menonton dan mendengarkan musik pasti akan marah dan meminta mereka bermain di kamar. Padahal itu adalah malam hari saat keluarga berkumpul dan saling bercerita. Komentar Hujan hanya pendek saja
“Papi mungkin sudah mau puber kedua, teman aku bapaknya ada yang selingkuh dan suka marah-marah awalnya, ternyata dia selingkuh jadi gak suka sama orang-orang di rumah” Hasna langsung melotot mendengar ucapan Hujan.
“Apa itu selingkun Buna” Maura langsung dengan cepat menanggapi. Mereka baru saja berpindah ke kamar atas, karena Reza memarahi mereka melakukan battle dance di televisi di ruang keluarga.
“Kaka kalau bicara itu kamu harus dijaga, tidak boleh seperti itu… ingat ucapan adalah doa. Papi semakin banyak yang harus dikerjakan jadi merasa capek… Buna tahu karena kemarin ikut acara kantor banyak sekali perusahaan asing yang tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan Papi… sampai Papi diminta naik ke atas panggung karena dianggap berjasa besar dalam kemajuan di tahun ini” Hasna mencoba memberikan pengertian kepada Hujan.
“Yaa tapi kan Papi mustinya membagi waktu, masa dari pagi sampai sore sudah bekerja, sekarang masih bekerja juga… makanya otaknya stress jadi marah-marah trus gak ada hiburan hidupnya.. Dulu Papi suka ngajak aku jalan-jalan trus foto-foto” Hujan mengenang saat dulu ia masih bersama Mitha. Hasna mengusap rambut Hujan “Setiap masa itu ada kelebihan dan kekurangannya. Waktu dulu Papi belum punya jabatan seperti sekarang, jadi tanggungjawabnya tidak terlalu besar. Kelebihannya adalah punya banyak waktu kekurangannya uangnya tidak sebanyak sekarang”
Tadi pagi akhirnya ia membeli test pack, sudah dua hari ini ia mudah pusing dan kehilangan keseimbangan. Sekarang kalau anak-anak sudah berangkat sekolah akhirnya Hasna memilih untuk tidur di rumah, ia malas meminta izin untuk pergi ke kampus karena khawatir Reza kembali meradang dan overthinking. Sempat ia bingung membeli alat test pack mana yang cocok karena ada beberapa merk yang ditawarkan akhirnya ia memilih membeli dua produk dengan harga standar dan yang satu lagi lebih mahal dari yang lainnya.
Keesokan paginya karena tidur terlalu malam Hasna kesiangan bangun, ia sampai melupakan untuk melakukan tes kehamilan dengan menggunakan test pack. Yang diingatnya pagi itu adalah Hujan hari itu harus mengikuti ujian praktek sehingga harus membawa bekal yang cukup untuk di sekolah. Saat ia ke kamar anak-anak ternyata baru Hujan yang bangun dan tampak sedang menyiapkan kelengkapan.
“Maura bangun sayang… ayo bersiap ke sekolah” membangun anak koala ini butuh energi yang cukup karena butuh waktu dan pijatan supaya bisa bangun dengan utuh. “Buna aku bekalnya dua, soalnya nanti setelah pulang sekolah aku langsung ke bimbingan belajar” Hujan langsung request bekal.
“Mola juda bekalnya duha, syoalna ada temen yang syuka lupa bawa bekal” anak koala ini langsung mengikuti kakaknya request bekal.
“Beres nona-nona dbuatkan bekalnya masing-masing dua.. Tapi jangan lupa nanti bayar di kasir yaaa” Hasna tersenyum sambil beranjak keluar kamar. Kalau membuat dua bekal harus berbeda antara menu kesatu dan kedua supaya tidak bosan. Sebelum kedapur dihampirinya kamar Reza ternyata memang Reza tidur di kamar, entah jam berapa ia tidur tadi malam karena Hasna memutuskan tidur lebih dulu.
“Mas… bangun sudah mau terbit..solat subuh dulu” Hasna mengguncangkan badan Reza yang hanya menggumam “Hmmmm “ diusapnya perlahan punggung suaminya, dicium pipinya “Bangun duduk dulu biar sadar roh nya” Hasna mencoba membujuk tapi malah ditarik dan dipeluk Reza sambil tidur. Ah ini sih gak bakalan bener, akhirnya Hasna melepaskan pelukan Reza di lehernya, nanti akan ia bangunkan sepuluh menit lagi.
Hasna kemudian menyiapkan semua perbekalan Hujan dan Maura, ia sangat bersyukur memiliki anak-anak yang sangat mudah untuk diurus dan dikondisikan, berbanding terbalik dengan Papinya yang semakin lama semakin susah untuk diurus dan dikondisikan. Mungkin selama tiga tahun kebelakang Reza menekan semua sifatnya itu karena tidak memiliki pasangan dan sekarang saat bersama Hasna semua sifatnya jebol seperti banjir dengan jurus aji mumpung.
__ADS_1
Setelah jam 8 pagi Hasna baru bisa menarik nafas, Reza sudah berangkat jam 7 bersama dengan Maura, ia membawa bekal roti sandwich buatan Hasna permintaan khusus yang baru dimintanya tadi. Hasna tersenyum mengingat permintaan Reza.
“Aku bekal roti sandwich yang dulu kamu buat, jangan lupa kasih sayur yang banyak dan keju dua slice” Hasna bengong rasanya belum pernah membuat bekal sandwich untuk Reza.
“Mau bekal berapa potong?” akhirnya Hasna ingat kalau dia ketinggalan bekal sandwich di mobil yang disebut tidak enak.
“Satu tangkup saja tapi dibagi dua supaya mudah memakannya, seperti dulu kamu bikin saja” jawab Reza sambil menuliskan pesan di hp nya.
“Ternyata gak bikin mati kan sandwichnya?” tanya Hasna sinis sambil membuat sandwich.
“Apa maksudnya?” Reza tidak mengalihkan pandangan dari hp nya
“Sandwich aku yang ketinggalan di mobil dimakan sama Mas Reza kan?, apa susahnya bilang kalau sandwich nya enak, malah nyebut gak enak khawatir bikin mati orang” Hasna mendengus kesal.
“Kamu kamu dipuji nanti makin keras kepala.. Sekarang saja sudah keras kepala” Reza mengambil bekal sarapan sambil mencium kening istrinya dan tersenyum. Hasna sudah malas menjawab ucapan Reza.
“Hari ini kamu gak akan pergi kemana-mana kan?” Reza beranjak keluar.
“Gak… mau kerja di rumah aja ngedit bahan presentasi teman-teman supaya layout nya sama” jawab Hasna malas.
“Jangan kebanyakan kirim pesan sama si Arkhan” Reza berhenti dipintu dan kembali mengingatkan soal ketidaksetujuannya soal personal chat.
“Jangan khawatir, nanti aku langsung hapus pc nya jadi nanti kosong ga akan ada pesan apapun” jawab Hasna kesal. Reza langsung berbalik
‘Kalau nanti semua pesan kosong, aku akan blokir hp kamu” ancamnya. Hasna langsung menjulurkan lidah “Coba aja kalau berani” Reza langsung melotot
“Papiiiiiii tepetaaan aku nanti telambat syekolah...kata teacel kalau telambat nanti halus melapihkan syepatu temen temen” Maura berteriak dari dalam mobil, anak koala ini sekarang paling semangat pergi sekolah.
Hasna tertawa melihat Reza yang bergegas masuk ke mobil, ia melambai-lambaikan tangannya sambil memberikan ciuman jauh kepada Maura saat Reza melihatnya Hasna langsung mencibirkan bibirnya sambil tertawa. Reza hanya melihatnya dengan kesal, benar-benar laki-laki temperamental seperti perempuan lagi mengalami masa PMS gampang emosi pikir Hasna.
Saat menyebutkan soal masa PMS Hasna langsung teringat pada test pack yang dibelinya, ya ampun mustinya tadi pipis yang subuh-subuh ia tampung dulu, tapi gak masalah karena masih pagi dan sebetulnya kadar hormon hCG bisa diukur kapanpun kalau memang seorang perempuan sedang hamil, itu yang Hasna baca saat ia googling. Ia langsung ke kamar dan mengambil alat itu.
Pertama-tama Hasna mengambil alat yang harganya lebih murah, duh rasanya deg-degan, bagaimana kalau dia betul hamil. Di petunjuk penggunaan diminta untuk menunggu 1-2 menit setelah dicelupkan alat pada urin. Bismillah….. Dug dug...dugdug..dugdug rasanya detak jantung terasa berdetak lebih keras. Dan ….. Satu garis pertama terlihat… samar-samar kemudian muncullah garis kedua … warna garisnya tidak setebal garis kedua tapi jelas terlihat. Ya Allah aku positif…. Tenang-tenang Hasna pikirnya…. Mari kita coba dengan alat kedua… bentuknya berbeda seperti cawan.
__ADS_1
Hasna kemudian meneteskan urin ke dalam tes kehamilan yang berbentuk seperti cawan. Di dalam petunjuknya nanti apabila positif makan bulatan tanda positif akan memerah yang mengindikasikan kalau ia hamil. Ternyata alatnya lengkap sampai diberikan pipet untuk mengambil tetesan urin pantesan mahal pikir Hasna. Diteteskan nya 3 tetes urin dan diminta menunggu hingga 3-5 menit… hmmm lebih lama, mungkin lebih akurat. Belum sampai 2 menit bulatan lambang positif sudah berubah warna, Hasna kembali melotot Ohhh My God...Oh My God Oh My God….. Alhamdulillah ternyata hamil. Hasna langsung terduduk di lantai toilet, kakinya langsung lemas.
Sekarang saja sudah jumpalitan… kalau dia hamil sambil kuliah kemungkinan dia akan lebih banyak salto…. Mamaaaaaaa ini gimanaaaaa…..