Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Ganteng Belum Tentu Baik


__ADS_3

“Bunaaa katanya mau celita kula-kula….” Maura terus saja membelit kaki Hasna sejak dari Magrib ia pulang diantar oleh Mama Bertha. Akhirnya Hasna harus membuatkan makan malam dengan tema kura-kura agar mau dimakan. Nasi ia cetak dengan bentuk kura-kura agar menarik, sayur ia sebarkan sehingga tampak seperti hamparan rumput dan ayam disuwir-suwir supaya bisa cepat dimakan.


“Kalau Benny makannya apa sih?” pancing Hasna saat makan bersama.


“Benny laik a fish lille fish” Hasna langsung tertawa, Maura semakin kesini semakin suka berbicara bahasa inggris seperti tantenya. “Fish like this?” Hasna mengacungkan suwiran ayam yang sedang dimakan Maura.


“No… itu bukan fish itu chiken” Maura menggoyang-goyangkan tangannya tanda salah. Hasna tersenyum, “Maura tadi senang bertemu dengan Benny?” Maura mengangguk cepat. “Benny sekarang sudah big boy kata Glanny” Hasna langsung mengerutkan dahi “ Darimana Maura tahu kalau Benny its a boy?”


Maura tampak berpikir kemudian dengan cepat dia menjawab “Kalna Benny looks agly... “ Hasna langsung melotot dan kemudian tertawa..”Hahahaha jadi kalau kelihatan jelek pasti laki-laki… Papi laki-laki tapi tidak ugly” Hasna langsung melirik Reza yang asyik makan sambil tersenyum mendengar cerita Maura.


“Papi looks agly syuka ada tumis tlus syuka malah-malah” jawab Maura sambil tertawa-tawa. Reza langsung melotot main-main kepada Maura. “Papi looks handsome… kalau Papi gak handsome Buna gak akan suka sama Papi” jawab Reza sambil tersenyum bangga. Hasna langsung tersenyum sinis “handsome nya hilang kalau suka marah-marah” jawab Hasna


“Betuuuuul” Hujan langsung nyambung sambil mengacungkan jempol “Kalian tuh sekarang sukanya bersekongkol” Reza langsung cemberut, Hasna langsung tertawa melihatnya ternyata memang benar apa kata Reza kalau sekarang anak-anaknya sudah tidak berpihak pada Papinya.


“Maura tahu gak ada beberapa binatang malahan yang boy nya malah lebih cantik daripada yang girl” Hasna berkata dengan serius. “No way… boy syelalu nakal tlus tidak mau diem dengelin ticel.. Tlus meleka suka teliak-teliak… Mola nda suka teman boy” Maura menjelaskan sambil cemberut. Hasna langsung tertawa mendengar ceritanya, rupanya Maura kesal oleh teman laki-lakinya yang suka bikin ribut sehingga membuat Maura kesal.


“Lihat ini namanya Burung Merak… cantik yaa bulunya seperti Princess” Hasna memperlihatkan foto burung Merak di hapenya. “Woooow beautiful Mola mau lihat..mau liat” Maura langsung mengambilnya. “Ini burung laki-laki loh… its a boy Maura...hehehehe” Hasna tertawa melihat Maura yang mukanya langsung melotot heran.


“Nah ini Burung Merak yang girl…” kemudian Hasna memperlihat burung betina yang terlihat biasa-biasa saja, Maura semakin melotot “Bunaa… kenapa yang boy telihat tantikkk… sepelti plinces” Maura terlihat bingung. “Soalnya mereka pengen terlihat keren sama burung yang girl.. Mereka ingin terlihat handsome… kaya Papi kalau suka bergaya supaya terlihat handsome banyak yang naksir” Hasna langsung teringat  Reza yang bergaya seperti oppa korea di depan teman-temannya. Reza langsung melengos rupanya ia merasa kalau dirinya sengaja bergaya.


“Jadi kita suka kan kalau melihat yang cantik dan cakep yaa, kenapa coba karena manusia itu suka keindahan, indah itu gak musti mahal. Tapi yang penting rapi dan bersih itu sebabnya orang akan menghargai kalau kita berpakaian yang baik. Kaka tau gak ada ungkapan pribahasa Jawa bagus banget”


“Selama ini Buna hanya tahu ungkapan dalam bahasa Inggrisnya “the way you look is the way you are,  penampilan mu menunjukkan siapa dirimu ternyata dalam bahasa jawa juga ada pribahasa yang menyebutkan soal penilaian diri seseorang Ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining raga ana ing busana artinya nilai diri seseorang itu  terletak di mulut, sedangkan nilai fisik terletak pada pakaian” jelas Hasna, Maura tampak bingung “Mola gak ngelti..” uapnya sambil menggelengkan kepala.


Hasna tertawa mendengar ungkapan polos Maura, Reza yang duduk sambil terlihat asyik menonton tv tampak tidak terlalu memperhatikan. “Kita gak bisa menilai seseorang atau sesuatu dari hanya penampilannya saja tapi juga dari ucapan atau sikap dirinya. Cantik gak hanya badannya atau luarnya saja tapi juga harus cantik dalamnya juga” jelas Hasna pelan-pelan, Maura masih terlihat bingung “Mola juda nda ngelti Bunaaa” untuk yang ini Reza tidak bisa menahan senyum, rupanya diam-diam dia memperhatikan.


“Jadiiii… buruk merak kan cantik bulunya jadi seperti princess.. Nah burung merak akan semakin cantik kalau dia juga suka berkata baik.. Tapi ternyata burung merak itu sombong yang suka menghina atau berkata jahat sama binatang lain yang terlihat jelek seperti kura-kura…jadi akhirnya walaupun Burung Merak itu cantik tapi tidak disukai kalau suka berkata jahat” Hasna tanpa sengaja menyebut kura-kura, Maura langsung teringat pada janji Hasna yang mau bercerita soal kura-kura.


“Bunaaa  Mola nda mau celita bulung...aku mau dengelin celita tutlee” Maura kembali merengek. “Mau denger ceritanya sekarang? Gak akan tunggu nanti sebelum bobo?” Hasna menawarkan pilihan supaya Maura nanti bisa cepat tidur dan dia bisa mengerjakan tugas kampus. “Aku balu makan, kata Buna nda boleh makan langsung tidul.. Mola mau dengelin celita”

__ADS_1


“Iyaaa… aku juga mau dengerin cerita aja.. Tadi peer udah dikerjain di sekolah” Hujan langsung ambil posisi enak di sofa. Hasna langsung memanyunkan mulutnya pada Hujan, anak ini suka jadi kompor buat adiknya. Hasna akhirnya mengalah, hadeuuh mana dia sudah lupa juga cerita Sakadang Kuya, ini cerita yang suka diceritakan sama ayah kalau dulu mau tidur.


“Kalian mau cemilan buah gak” Hasna berusaha mengulur-ngulur waktu, supaya ada jeda untuk mengingat-ingat cerita tentang kuya jaman ia kecil, rasa-rasanya hanya kisah pencurian biasa kemudian menipu petani dan dilepaskan lagi. Musti dicari ide cerita yang fantastik out of the box.


“Mola mau glape” Miss Maura langsung mengacungkan tangannya, “Kaka mau apa?” Hujan menatap Hasna dan menggelengkan kepala “ gak usah terima kasih nanti aku ambil sendiri” Hasna langsung mengacungkan jempol. Anak petir ini makin kesini makin santun dan bisa diandalkan menjadi tangan kanannya. Tidak mudah menyuruh-nyuruh orang dan bisa menghargai orang lain.


“Aku mau air jeruk hangat” tiba-tiba tuan besar datang minta bonus juga padahal tadi dia keruang kerja ehh ternyata dibawa ke ruang keluarga laptopnya. Hmm kenapa lagi kerja malah pindah disini, apa mau ikutan dengerin cerita. Hasna hanya bisa memjit-mijit kepalanya sekarang ini dia mudah merasa pusing dan seperti tidak seimbang. Kepalanya seperti berkurang cairan akibat terlalu banyak berpikir. Tiba-tiba Hasna mendapatkan ide tengkorak kepala manusia kan keras seperti tempurung kura-kura...hahahahah ok.


Setelah membuat air jeruk hangat untuk Reza dan semangkuk anggur untuk Maura, kemudian Hasna mengambil posisi nyaman duduk di karpet dekat sofa. Maura yang asalnya duduk dengan Reza langsung pindah dan ikut duduk bersama dengan Hasna. “Hahahahah kenapa duduknya pindah kan suara Buna kedengaran walaupun duduk sama Papi juga”


“Nda mahu..mau duduk sama Buna” ucapnya sambil menatap manja. “Wuiiih anak manja dasar kamu… kalau bisa pengen ditelen sama Buna biar gak hilang bisa dibawa kemana-mana” Hasna langsung bergaya akan menerkam Maura “jangan telen Maura udah aja keluarin ade bayi dari perut Buna biar Maura gak manja lagi” Hujan langsung menggoda adiknya.


“Nda boyeeh… Buna nda boyeh punya bayi…” Maura langsung naik kepangkuan Hasna. Hujan langsung tertawa-tawa melihat adiknya. “Kalau nanti punya ade bayi Maura mau dipanggil apa… gak boleh dipanggil kakak soalnya nanti samaan sama Kakak Hujan” Hujan masih terus saja menggoda adiknya. Maura sudah mau menangis “Buna nda boyeh punya bayiii...uwaaaaawww” dan akhirnya menjadi ricuh.


Reza langsung menatap tajam pada Hujan, “kamu tuh gimana sih udah tahu adiknya cengeng digangguin terus” Hujan tersenyum melihat tatapan Papinya “Ade musti disiapkan dari sekarang bakalan punya adik, jangan nanti tiba-tiba brojol baru dikasih tahu” jawabnya santai. Hasna hanya bisa menggelengkan kepala, semudah itu mempunyai anak main langsung brojol aja gak pake hamil,  dasar anak-anak.


“Sakadang kuya… ini adalah cerita orang sunda tentang dunia binatang, sakadang itu artinya seekor kalau kuya itu sama dengan kura-kura” Hasna memulai ceritanya. Maura yang kepalanya bersender pada paha Hasna memperhatikan dengan seksama.


“Sakadang kuya tinggal di tepi sungai yang dekat dengan kebun Pa Tani, semua binatang tahu kalau Kuya adalah binatang yang paling malas di sungai itu, kerjanya hanya berjemur saja.. Sehingga kulitnya semakin lama semakin hitam sehingga mereka suka mentertawakan kura-kurang yang tampak jelek dan hitam tapi Kuya atau kura-kura keep calm and carry on” Hasna tertawa-tawa sendiri mendengar ceritanya. Hujan menggeleng-gelengkan kepala mendengar ungkapan Hasna untung saja Maura tidak mengerti dan menganggap itu ungkapan biasa.


"Diantara semua binatang yang tinggal di dekat sungai ada seekor burung Merak yang sangat indah bulunya dia adalah binatang yang paling cantik diantara semua binatang yang ada disana. Semua binatang menyukai Merak dan ingin selalu berteman dengannya, karena itu lama-kelamaan Merak menjadi bangga sama dirinya yang memiliki bulu yang indah”


“Banga itu apa Buna” hari ini banyak kata-kata baru yang didengar Maura, “Hmm bangga itu seneng sama yang dimiliki, kaya Papi itu bangga sama mobilnya… jadi kemana-mana senang banget ngeliatin ke orang mobil Papi bagus” Reza langsung mendelik, “aku bukan bangga tapi lebih fungsinya lebih bagus daripada merk yang lain” Hasna langsung tertawa melihat suaminya cemberut “iya iya… Papi memang senang barang yang bagus… Buna terusin yah”


“Karena sering dipuji oleh binatang yang lain akhirnya Burung Merak menjadi sombong dia hanya mau berteman dengan binatang yang terlihat cantik dan tidak mau berteman dengan terlihat jelek dan tidak menarik salah satunya adalah kura-kura. Kalau kura-kura menyapa Burung Merak ia selalu pura-pura tidak mendengar ia hanya terus berjalan sehingga akhirnya kura-kura tidak perduli lagi”


“Suatu hari binatang yang ada ditepi sungai ribut mereka bercerita kalau kebun Pa Tani pagarnya ada yang lepas sehingga mereka bisa mengambil makanan disana. Kebun Pa Tani terkenal banyak makanan, disana mereka bisa memakan buah, sayur-sayuran yang segar, bahkan Pak Tani suka menyimpan makanan untuk kambing peliharaannya disana sehingga mereka bisa mengambilnya juga kalau mau… semua binatang bersemangat untuk pergi ke kebun Pa Tani begitu juga Burung Merak ia ingin memakan pucuk sayuran dan binatang-binatang kecil yang ada di kebun Pa Tani”


“Bulung Melak juga syuka makan sayul? Mola tuma suka makan blokoli sama bayam Mola nda syuka woltel kelas” Maura langsung memotong cerita “ Uwaaaaah Maura gak temenen sama Cici Kelinci dong yang suka makan wortel” Hasna mencoba membujuk lewat cerita “Nda apah apah… Mola mau temenan syama bulung melak aja” dasar anak Pak Reza keras kepala pikir Hasna sambil tersenyum.

__ADS_1


“Kamu tuh motong cerita Buna terus sih De...dengerin aja sampai selesai nanti baru nanya diakhir” Hujan protes, Hasna tersenyum “gak apa-apa Ka… kalau dalam belajar itu ada melatih kecepatan berpikir dengan bertanya langsung membuat ade nanti lebih kritis nah kalau kakak kan dipikirin dulu tuh itu artinya Kakak udah pintar berpikir analisis, kan ade masih kecil jadi yang bisa dilatih sekarang berpikir kritis dulu” Hujan mengangguk-angguk soalnya ia jadi terganggu cerita Hasna yang selalu terpotong oleh adiknya. “Mola nda ngelti klitis klitis” anak koala terlihat bingung. Hasna langsung menyergap “Maura ngertinya klitik-klitik kaya giniiii wiwkwkwiwkwikwik” Hasna langsung menggelitik Maura yang kemudian menjerit-jerit geli.


“Udah terusin lagi Bunaaa ahhh jadi gak rame kepotong terus” Hujan akhirnya protes karena fokus perhatian jadi acara smack down Hasna dan Maura. “Hehehehe iya-iya Tuan Putri ..galak banget sih inih Princes kaya Baginda Raja” Reza hanya melirik dingin sambil menonton TV tidak berkomentar apapun.


“Buna terusin yaaa… saat semua binatang berpesta makan di kebun Pa Tani mereka tidak sadar kalau Pak Tani kemudian datang membetulkan pagar kebunnya. Mereka baru sadar saat Pak Tani datang ke kebun dan berteriak “heeeeeiii kalian berani-beraninya memakan buah-buahan dan sayuran di kebun ku ...aku akan tangkap kalian semua” Semua binatang berlarian… mereka takut ditangkap oleh Pak Tani… kelinci berlari dan menggali tanah di dekat pagar sehingga bisa melarikan diri, melihat lubang yang ditinggalkan oleh kelinci. Kura-kura langsung berpikir cepat.. Ia kemudian menahan kawan pagar berduri dengan cangkang tempurungnya yang keras sehingga lubang menjadi lebih besar”


“Hoooy teman-teman ayo masuk ke lubang ini...ayo cepat… akhirnya semua binatang bisa melarikan diri dari kebun Pak Tani hanya kemudian tinggal Burung Merak yang paling akhir datang, saat ia akan masuk ke lubang ia melihat lubangnya terlalu kecil untuk tubuhnya yang tinggi. Karena Burung Merak selalu sombong ia bukannya minta tolong pada Kura-kura malah menghina kura-kura” Maura langsung bangun dan kembali bertanya “Mola nda ngelti mengina itu apa Buna?” Reza langsung menjawab rupanya ia ingin berpartisipasi bercerita.


“Menghina itu menyebut seseorang dengan kata-kata jahat seperti gini Buna itu badannya pendek nah itu gak boleh walaupun betul badannya Buna itu pendek kita sebut aja kalau Buna badannya gak tinggi” ucap Reza sambil tersenyum. Hasna langsung melengos “aku gak pendek badan aku masih dalam kategori rata-rata perempuan Indonesia” Hasna langsung cemberut “Iya Buna nda pendek...buna tindi… lebih tindi dali Mola” ucap Maura dengan penuh pembelaan. Mendengar pembelaan Maura, Hujan dan Reza langsung cekikikan berdua soalnya logika berpikir Maura tetap saja menyebut Hasna pendek.


“Ya udah gak diterusin ceritanya” Hasna langsung ngambek. “Ehhh jangan Buna diterusin aja biar Papi aku hukum ga boleh dengerin cerita Buna..aku tutup telinganya” Hujan langsung menutup telinga Reza yang langsung bereaksi membuat isyarat kepada Hasna membuat kecupan membujuk. Sambil mulut manyun akhirnya Hasna melanjutkan cerita


“Burung Merak malah menghina Kura-kura… “kamu badannya sih pendek jadi tidak bisa membuat lubang lebih besar, kalau sebesar itu bulu-buluku yang indah nanti kena kawat” mendengar hinaan Burung Merak akhirnya Kura-kura menurunkan tempurung nya yang menahan kawat berduri, kemudian ia masuk ke lubang dibawah pagar dan meninggalkan Burung Merak… Burung Merak langsung panik dan ketakutan Pak Tani sudah sangat dekat akan menangkapnya… Kura-kura...tolong aku...tolong aku tolong tahankan pagar kawat ini...tidak apa-apa buluku yang indah hancur aku tidak mau ditangkap Pak Tani… Kura-kura tidak mendengar ucapan Burung Merak… selama ini Burung Merak memang tidak pernah mau berbicara dengannya kalau ia menyapanya… bagi Kura-kura binatang yang sombong akan mendapatkan balasan atas kesombongannya”


“Akhirnya Burung Merak ditangkap oleh Pak Tani… untung saja karena keindahan bulunya ia tidak dipotong dijadikan santapan tapi ia kemudian dikurung di Kebun untuk dijadikan binatang peliharaan… Burung Merak telah kehilangan kebebasan karena kesombongannya...kalau saja ia tetap menjadi binatang yang ramah dan mau berbicara yang baik kepada semua binatang maka ia tidak akan mengalami nasib seperti itu… Untuk itu walaupun kita memiliki kecantikan dan ketampanan kita tidak boleh sombong harus selalu berkata baik kepada semua orang”


“Begitu dehhh ceritanya...selesai” ucap Hasna legaaa..akhirnya menemukan ide cerita. Maura memandang Hasna dengan dahi berkerut “Ini bukan celita sakadang kuya tapi celita bulung melak… buna katanya mau celita sakadang kuyaaaaa”.... Maura yang mengantuk tetap menuntut cerita Kura-kura sebagai pemeran utama.


Reza tertawa dan sambil mendekat menggendong Maura kemudian berbisik pada istrinya “Makanya kalau cerita jangan kebanyakan unsur edukasinya jadi aja gagal fokus...hahahaha”. Maura yang ada dalam gendongan Reza menolak dibawa ke kamar “Molaaa mau dengel celita sakadang kuyaaaa” hadeuuuuuh lanjutkan aja Hasna…


“Sakadang kuyaaa…..kuuuukk”


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2