Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Hati yang Luka


__ADS_3

Supir taksi melihat Aswin melambai-lambaikan tangannya, ia tidak langsung berjalan.


“Itu bu.. Suaminya manggil” ucapnya sambil menunjuk Aswin yang berlari ke arah taksi.


“Dia bukan suami saya, suami saya sudah kelaut” jawab Hasna singkat tanpa ekspresi. Belum sempat mobil taksi melaju, Aswin sudah sampai dan membuka pintu penumpang depan.


“Haahhaaahh… aduuh Mbak Hasna ini..makanan belum sempat diproses jadi energi sudah harus dipakai buat lari-lari lagi” Aswin tersegal-segal masuk ke dalam taksi. Supir taksi tersenyum melihatnya. “Mohon maaf tujuannya kemana bapak ibu?” ia memasukan kode perjalanan ke dalam alat argometer. Aswin menatap Hasna yang tampak melamun melihat keluar jendela, ia langsung menjawab “Kompleks Lig..” belum sempat Aswin menyelesaikan ucapannya Hasna langsung berkata dengan keras “SETIABUDI Pak..” Aswin langsung terdiam.


Ia ingat kalau Hasna dulu kost di daerah sekitar kantor, jadi sore ini ia pasti bermaksud kembali ke tempat kostnya dulu. “Kost an Mbak Hasna masih on yah? Saya kira pas setelah menikah langsung pindahan” Hasna tidak menjawab matanya memandang keluar jendela tanpa tapi pikiranya seperti melayang tidak fokus. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara, semenjak Hasna tidak menanggapi pembicaraannya Aswin berpikir lebih baik diam saja.


Sesampainya di kost an Hasna dulu Aswin langsung membayar ongkos taksi. Hasna yang sudah mengeluarkan dompet tampak diam termenung. “Terima kasih mas… saya sudah tidak mau lagi mempergunakan uang pemberian dia” Hasna langsung keluar dan diikuti oleh Aswin yang tergopoh gopoh mengikutinya.


“Selamat sore Mbak Hasna ...wah sudah lama sekali gak kesini saya kira sudah gak akan dipakai lagi. Tapi kata mbak yang bersih-bersih barangnya mbak Hasna masih banyak di dalam” Pa Tono penjaga kost an tampak menyambut, ia sedang menyirami tanaman. Hasna sudah memakai kacamata yang dibelikan Aswin, kacamata itu besar dan kotak seperti menenggelamkan muka Hasna di bawahnya.


“Hee iya Pak Tono, maaf lama gak kesini, saya boleh pinjam kunci, lupa gak bawa” Hasna tersenyum lemah, tadi ia tidak berpikir soal kunci rumah, tapi ia yakin Pak Tono pasti punya kunci cadangan.


“Ada-ada… sebentar saya ambilkan” Pak Tono bergegas pergi ke dalam. Hasna berbalik menghadap Aswin, “Mas… saya mau istirahat disini, tolong jangan bilang sama siapa-siapa. Saya tidak mau ketemu sama siapapun. Kalau nanti ada yang datang itu pasti karena diberi tahu Mas Aswin… saya tidak akan pernah percaya lagi sama Mas Aswin kedepan” Aswin tersenyum sedih, muka Hasna walaupun ditutupi dengan kacamata masih terlihat pucat. “Saya tungguin disini Mbak...saya khawatir terjadi apa-apa..jangan khawatir saya tidak akan bilang apa-apa” Aswin menemani Hasna masuk ke ruang tunggu kost-kostan.


“Ini kost an perempuan, Mas Aswin kembali saja ke kantor saya mau istirahat” Hasna langsung berjalan menuju kamar kost nya” Aswin kemudian duduk di sofa tempat ruang tunggu. Dilihatnya penjaga kost an membuka kan pintu kamar dan Hasna masuk, kebetulan kamar Hasna berada di lantai 1 dan terlihat dari ruang tunggu.


“Pa.. maaf punya hape? Saya boleh pinjam nanti saya ganti pulsanya” Aswin langsung mendekati penjaga kost an. Pa Tono langsung meraih saku bajunya. “Hape saya ga canggih Mas tapi kalau wa an masih bisa” ia menyodorkan hapenya ke Aswin. “Wahh terima kasih sekali pak sudah sangat cukup, saya cuma perlu mengirimkan pesan saja” Aswin langsung memasukan nomor telepon Reza ke hape tersebut. Tadi dia bilang tidak akan bilang apa bukan tidak bilang kepada siapa-siapa jadi dia tidak berbohong.


“Pak bisa telepon ke nomor ini… ini saya Aswin memakai hape orang lain, hape saya tertinggal di kantor” Aswin langsung mengetikan pesan kepada Reza.


Tak lama handphone langsung berbunyi, tapi hanya sebentar karena batre hp langsung drop. Aswin terlihat bingung, Pa Tono langsung tertawa. “Wahh hahahah gak bisa dipakai telepon mas suka langsung drop batrei nya… kalau mau telepon musti dicolokin ke listrik” ia langsung menyodorkan charger handphone. “Waah maaf pak saya gak tahu.. Sambil saya charge saja Pak” Dahi Aswin langsung berkerut “bahaya kalau telepon sambil mengisi daya” ia kemudian kembali menghidupkan dan menghubungi Reza.


“Maaf pak batrei hapenya rusak tidak bisa dipakai telepon” ia kembali menuliskan pesan


“Bu Hasna ada di kost an lama sekarang sedang istirahat, tadi sudah makan siang dan makannya banyak jadi bapak tidak usah khawatir”


“Kamu tunggu disana sekarang saya akan kesana” Reza langsung membalas.


“Sebaiknya Bapak jangan kesini, jangankan melihat Bapak, mendengar nama Bapak tadi Bu Hasna langsung histeris. Mohon Pak didengar pendapat saya”


“Tadi Bu Hasna bilang kalau saya menghubungi Bapak dia tidak akan percaya lagi sama saya. Saya takut juga Pak soalnya mukanya tidak main-main dan khawatir nanti ada masalah”


“Saya mengabari khawatir Bapak mencari-cari ibu dan saya tidak ada di kantor dari siang karena harus mengejar Bu Hasna. Tadi drop sekali pak kondisinya, nangis tertawa, marah bersamaan … emosinya sedang tidak stabil”


“Mohon Pak tidak memaksa dulu, nanti saya kabari kalau sudah kondusif”


“Kalau boleh saya minta tolong Pak Agus untuk mengantarkan handphone dan laptop saya ke kost an lama Bu Hasna, supaya saya bisa sambil bekerja di sini, saya tidak berani meninggalkan kost annya takut tiba-tiba Bu Hasna pergi” Aswin mengirimkan serangkaian pesan.


“Ya.. tolong dijaga saja. Nanti saya suruh Pak Agus mengirimkan laptop dan Hp kamu. Kabari nanti kalau sudah diterima” Reza membalas singkat.


Aswin langsung bernafas lega, ia khawatir kalau Reza memaksa datang, bisa-bisa terjadi perang seperti tadi di kantor. Sedangkan ini adalah tempat kost an dan ruangannya pasti tidak kedap suara seperti di kantor. Ia langsung menghampiri Pak Tono “Ini Pak sudah mohon maaf jadi memakai handphone bapak. Ini buat beli baterei handphone Pak… dibawa saja ke tempat servis. Bahaya pak kalau sambil nge charge dipakai telponan.. Khawatir meledak” Aswin menyodorkan sejumlah uang kepada Pak Tono.


“Waaah jangan repot-repot Mas gak apa-apa pakai aja gak usah ngasih uang segala” Pak Tono menolak uang yang disodorkan Aswin. “Gak apa-apa, nanti malah kalau ada handphone yang bisa dipakai di rumah saya carikan buat dipakai bapak, sementara waktu ganti dulu baterei hapenya pa. Gak mahal kok” Aswin memaksa Pak Tono untuk menerima uangnya. Akhirnya dengan muka haru ia menerima, “Wah saya jadi gak enak..terima kasih Mas.. hape saya rusak aus batereinya gegara suka dipakai main game sama cucu saya. Mbak Hasna itu orangnya baik suka ngasih apa saja yang dimakan pasti ngasih sama saya atau mbak Nar… ehh ternyata teman-temannya juga baik semua” Pak Tono tersenyum.

__ADS_1


“Hanya saya tidak tahu siapa suami yang beruntung dapatin Mbak Hasna, baru tiga bulan kerja di Jakarta sudah ada yang lamar. Kata Mbak Nar suaminya atasannya di kantor, rizki memang diatur sama yang di atas. Orang baik cantik dapat rezekinya juga yang bagus” Pak Tono mengomentari hidup Hasna. Aswin hanya tersenyum kecut, kalau saja Pak Tono tahu tadi keributan di kantor mungkin pikirannya tidak akan seperti itu. Jadi memang ada baiknya kalau Reza tidak datang kesini.


Tak lama Pak Agus datang membawa tas kerja, Ia langsung menghampiri Aswin. “Mas Aswin tadi ada apa? Saya pas ke lobby sudah tidak ada Bu Hasna nya ...malah ada Pak Reza datang lari-lari seperti kebingungan” Pak Agus langsung bertanya dengan muka penuh rasa ingin tahu.


“Pak Reza dan Bu Hasna ribut tadi di kantor, entah masalah apa cuma pas keluar ruangan Bu Hasna nangis… saya jadi khawatir soalnya terlihat terpukul” Aswin menjawab sambil berbisik.


“Apa ada hubungan sama Bu Arcy?” Pak Agus berbisik-bisik sambil melihat kekanan dan kekiri.


“Saya tidak tahu, tadi saya sedang ke lantai tiga, pas datang hanya terdengar saja Bu Hasna dan Pak Reza sedang ribut di dalam” Aswin langsung mengeluarkan laptop dan handphonenya dari dalam tas.


“Bu Prita tadi tanya-tanya waktu saya mengambil laptop dan handphone Mas Aswin di meja.. Dia tanya kalau Mas Aswin kemana? Trus tanya-tanya soal Bu Hasna kenapa kesini?” Pak Agus masih dalam kepo mode on. Aswin hanya tersenyum.


“Tadi Pak Reza turun pak ke lobby? Nyariin siapa?” Aswin lebih tertarik mendengar cerita Reza yang berlari menyusul ke Lobby. “Iya Pak.. keliatannya bingung dan cemas, celingukan liat kekiri dan kekanan sampai saya gak keliatan dan kaget waktu saya tanya” Pak Agus memang sudah lama mengabdi pada keluarga Reza sehingga sudah dianggap keluarga sendiri.


“Bu Hasna sekarang ada di kamar?” tanya Pak Agus sambil melongok melihat ke arah deretan kamar di lantai satu.


“Iya Pak..tadinya mau pulang ke Bandung, tapi berhasil saya bujuk. Gak tahunya masih bisa dipakai kostan nya, saya juga gak tahu tadi hanya mengikuti saja, khawatir ada apa-apa” jelas Aswin, ia langsung menghubungi Reza kembali.


“Terima kasih Pak.. Handphone saya sudah dibawakan Pak Agus” tulisnya pesan kepada Reza.


Tak berapa lama langsung handphone berbunyi.


“Kamu masih di kost an Hasna? Bagaimana dia sekarang?” terdengar suara Reza yang tidak sabar.


“Iya Pak saya tidak berani meninggalkan kost an soalnya masih terlihat tidak stabil. Menangis terus pak, kadang kalau saya salah bicara langsung mengamuk marah. Kadang malah bicara sendiri sambil mukul-mukul kepala...saya jadi khawatir Pak” Aswin menarik nafas panjang, Pak Agus duduk di sebelahnya sambil mendengarkan dengan penuh perhatian.


“Saya kesana sekarang” terdengar Reza panik.


 


 


“Nanti saya usahakan supaya mau pulang ke rumah Pak malam ini, tapi mohon Bapak tidak kesini. Nanti saya kabari lagi.. Malam Pak” Aswin langsung menutup telepon khawatir Reza bersikeras untuk datang.


“Ributnya kayanya agak parah yah Mas..kasian Mbak Hasna itu baru nikah sudah musti kena banyak gangguan, Bu Arcy itu kebangetan memang, Pak Reza sudah menikah lagi masih saja mengejar-ngejar heran saya mentang-mentang anak Direksi” Pa Agus tampak kesal.


"Bu Hasna itu baiknya kebangetan sama anak-anak, gadis bisa langsung ngurus anak tiri kaya anak sendiri, nganterin Non Maura ke sekolah, buatin bekal makanan buat Non Hujan. Saya masih suka dikasih dibuatin bekal juga katanya banyak bikin bekal, soalnya Pak Reza gak mau bekal makan" Pa Agus menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa sedih dengan nasib Hasna.


“Iya makanya saya bantu Bu Hasna sekarang, saya belum pernah liat perempuan sedihnya sampai seperti ini. Kakak saya juga suka ribut sama suaminya, tapi gak sampai nangis seperti ini. Biasa memang kalau rumah tangga suka ribut yaa Pak Agus? Saya belum rumah tangga tapi suka ngurusin perempuan ngambek sama suami, kemarin kakak saya sekarang istri bos… nasib jomblo” Aswin tersenyum pada Pak Agus.


“Nanti Mas Aswin pasti dapat jodoh yang baik, laki-laki baik nanti mendapatkan perempuan yang baik juga.. Yakin itu” ucap Pak Agus sambil menepuk-nepuk pundak Aswin.


Reza PoV


Setelah Hasna pergi aku mencoba menenangkan diri, entah kenapa belakangan ini aku merasa sangat mudah terpicu emosi oleh lingkungan, padahal dulu tidak seperti ini, dan selalu saja yang memicu emosi adalah Hasna, heran padahal aku merasa kalau Hasna banyak membantu selama ini, tapi kenapa mudah sekali terpicu marah pada dia, kadang sulit sekarang mengaturnya dia selalu saja memiliki jawaban kalau merasa tidak sesuai.


Kepala terasa pecah, harus didinginkan dulu, akhirnya aku putuskan untuk membasuh muka. Saat bercermin aku melihat noda merah di bawah bibir apa ini, dan apa ini merah di kemeja, aku jadi teringat ucapan Hasna tadi kalau aku disebut berzina apakah karena ia melihat noda ini. Aku muak mendengar ucapannya yang selalu menyudutkanku seakan-akan dia perempuan yang paling suci, padahal dia selalu berbicara dengan laki-laki lain. Darimana noda merah ini? Hmmm tadi Arcy menyentuh mukaku dan bahu saat sebelum Hasna datang.

__ADS_1


Apa mungkin Hasna berpikir aku sedang berselingkuh dengan Arcy saat ia masuk tadi, pantas saja tadi dia bilang kenapa mengunci pintu saat masuk. Itu sebabnya dia mengetuk-ngetuk pintu. Arcy perempuaan itu selalu saja mencari masalah! Bodoh aku ini selalu saja bisa dimanipulir dia...arghhhhhh. Aku akhirnya duduk di sofa mengingat apa yang diucapkan tadi, banyak sekali kebodohan yang aku ucapkan ..arghhhhh…


Dimana dia sekarang? Hasna. Aku segera keluar ruangan mungkin Aswin melihatnya, tapi ternyata Aswin juga tidak ada. Kemana dia, mudah-mudahan dia masih ada di bawah. Saat aku turun ke Lobby dia tidak terlihat, kemana dia apakah langsung pulang atau dia kembali ke lantai tujuh bertemu dengan teman-teman divisinya. Tiba-tiba kudengar suara Pak Agus.


“Pak… Bu Hasna nya kemana yah? Tadi resepsionis menelepon saya dan bilang kalau saya dipanggil Pak Aswin untuk mengantarkan ibu pulang” aku sampai tidak melihatnya. Aku menggeleng, kemudian kutanyakan pada repsesionis yang dari tadi melihat.


“Bapak mencari ibu? Tadi naik taksi pak, gak menunggu Pak Agus tapi tadi saya lihat Pak Aswin naik taksi juga pak” pantas saja Aswin tidak ada. Akhirnya aku telepon Aswin tidak mungkin aku telepon Hasna dia pasti tidak akan mau menerima telepon dariku. Tidak diangkat kemana dia?


Hampir dua jam aku terus mencoba menelepon Aswin tapi masih saja tidak diangkat kemana dia, di rumah juga tidak ada saat aku telpon Mbak Jumi. Saat aku hampir memutuskan untuk menelpon Hasna langsung hape berbunyi, siapa ini nomor tidak dikenal. Awalnya tidak akan ku angkat tapi entah kenapa aku merasa perlu mengangkatnya.


“Halo.. siapa ini?” siapa peduli dengan basa basi disaat seperti ini.


“Maaf ini saya bicara dengan Bapak Reza Ardiansyah GM Great Indonesia?”


“Ya saya sendiri”


“Maaf pak saya diminta oleh teman bapak menyampaikan kalai beliau sedang dengan istri bapak dan tidak bisa menghubungi bapak karena hapenya tertinggal di kantor. Hanya itu pesan beliau” suara perempuan di seberang telepon terdengar masih muda.


“Ini dimana?” paling tidak ada Aswin menemani Hasna


“Qubiq Restro Fine DIning and Coffe Pak” jawab perempuan itu


“Baik terima kasih… ehhh maaf tadi apakah ..” tiba-tiba terpikir untuk menanyakan apakah Hasna baik-baik saja tapi pertanyaan itu terasa bodoh.


“Ya sudah terima kasih” kututup panggilan telpon, pantas saja tadi Aswin tidak menjawab. Hari ini terasa semuanya menjadi kacau. Aku harus bisa mengendalikan diri, jangan sampai membuat keputusan dan sikap yang salah lagi. Terdengar pintu terbuka, Arcy ..Arcy dan Arcy lagi kenapa perempuan ini tidak pernah bisa mengerti ucapan tidak mau diganggu.


“Mau apa kamu?” aku sudah kesal melihat mukanya.


“Kamu jangan sadis seperti itu dong Reza, bukan salah aku kalau tadi istri kamu salah paham” dia tersenyum licik


“Kamu sengaja kan tadi mengoleskan lipstik pada bibir dan kemejaku supaya Hasna salah paham” aku tahu dia memang perempuan licik.


“Aku kan bilang tidak sengaja, lagi pula istri kamu terlalu naif, sudah biasa kan kalau laki-laki dan perempuan cipika cipiki.. Well ini dunia modern jangan terlalu berpikir konservatif dan agamis” perempuan ini memang sudah gila.


“Aku minta kamu keluar dari ruanganku sekarang dan jangan masuk ke dalam ruangan ini. Kalau ada yang mau didiskusikan kita bicarakan di ruang rapat. Aku sudah muak dengan semua salah paham ini” aku langsung membuka pintu dan menyuruhnya keluar.


“Kalau istri kamu nanti menolak dan ingin berpisah dengan kamu, kamu tahu dimana mencari saya” ia masih saja tidak tahu malu meraba dan memegang dadaku.


“In your dream” jawabku sambil mendorongnya keluar dan mengunci pintu. Perempuan itu terlalu percaya diri, jajaran direksi sangat menyukai kinerjanya tapi bukan berarti bisa ikut campur dalam kehidupanku. Hari ini benar-benar sial.. Semua pekerjaan jadi terbengkalai aku sudah tidak lagi mood untuk bekerja.


Terdengar notifikasi pesan masuk, kembali nomor tidak dikenal


“Pak bisa telepon ke nomor ini… ini saya Aswin memakai hape orang lain, hape saya tertinggal di kantor”


Ternyata Hasna pergi ke tempat kostnya yang lama… rupanya kamar kost nya masih bisa dipakai.. Apakah dia tidak akan pulang ke rumah?


Hmmmm ditinggalin mah resah kamu makanya kalau ngomong itu pake otak mikirrrr ! kok aku yang emosi

__ADS_1


 


 


__ADS_2