
Di kamar ibu dan anak sedang asyik mengobrol berdua, anaknya masih tidur telungkup sedangkan Ibu sibuk memukuli pantat.
“Ayoooo buruan cerita ada apa? Gak biasanya kamu murung kaya gini” Mama langsung memukul pantat Hasna lagi.
“Mama iiih, pantat teteh nanti kempes dipukulin terus” Hasna langsung berbalik melihat Mamanya yang tampak khawatir. Akhirnya Hasna duduk, tapi langsung mengjungkir lagi nungging dengan arah kepala di dekat mama, pantatnya harus diamankan dari Bu Kumis, bisa-bisa habis dipukuli.
“Akuuuuuu tuuuh keseeel” Hasna berteriak sambil muka menempel ke kasur.
‘Kesel kenapa? Sama siapa?” Mama mengusap-usap rambut Hasna, anak ini umur mungkin sudah 25 mau 26 tahun sebentar lagi tapi kelakuan masih kaya Maura kalau seperti ini.
“Hufffttt… keselnya tuh sampai pengen nangis tapi aku tuh gak bisa ngomong apa-apa”
“Iyaaa sama siapa? Dan soal apa? Jangan bikin Mama ikutan kesel atuh” Mama langsung memotong.
“Sama Mas Rezaa.. Heuuu dia tuh masih menyimpan foto-foto mbak Mitha di kamarnya Mah” ucap Hasna sambil menutup kepalanya.
“Maksudnya foto gimana? Yah wajar atuh teh kan dia istrinya?” Mama tampak seperti bingung
“Masa mentang-mentang udah nikah sama kamu foto istrinya jadi ga boleh ada”
“Teteh ga boleh egois”
“Iya aku juga gak apa-apa kalau ada foto Mbak Mitha… tapi ini mah fotonya banyak”
“Banyak gimana” mama bingung
“Yah banyak di kamarnya tuh banyak foto istrinya?”
“Lah emang kamu tidur dimana? Kamar kalian misah?” naaaah ini dia akhirnya terbongkarlah semuanya. Hasna akhirnya menunduk dan menarik nafas.
“Teteh tuh belum siap sekamar sama Mas Reza Maa… belum kenal juga sama dia tuh, aselinya gak kenal sama sekali”
“Aku tuh gak kebayang tidur bareng orang yang gak aku kenal, Mas Reza bisa mengerti soal itu jadi dia juga gak maksa”
“Ternyata sekarang aku ngerti kenapa dia gak maksa aku barengan tidur sekamar sama dia”
“Soalnya di kamar dia tuh penuh sama foto Mbak Mitha”
Hasna kemudian kembali membaringkan tubuhnya, menyembunyikan mukanya di pangkuan Mama.
“Aku tuuuh sediiiiihhh, aku kaya orang kedua yang masuk kedalam pernikahan orang lain”
“Orangnya sih gak ada tapi aku tuh ngerasa kaya aku tuh kaya orang luar...wuaaaahahaha” akhirnya Hasna menangis, sesak yang dirasakan dalam hatinya akhirnya keluar.
Mama hanya menatap anaknya dengan sedih, ini adalah hal yang sudah ia perkirakan saat Hasna bilang akan menikah dengan seorang duda yang ditinggal mati oleh istrinya dan memiliki dua orang anak. Tidak akan semudah itu memutuskan jalinan batin antara seorang pria yang sudah memiliki hubungan yang kuat dengan seorang perempuan dan berpindah hati pada perempuan lain. Apalagi setahu Mama kalau Reza sudah memiliki hubungan dengan Mitha sejak SMA.
Mama menarik nafas, diusapnya kepala Hasna.
“Teteh… sebetulnya Mama sudah memperkirakan ini waktu memberitahu Mama akan menikah dengan Reza”
“Itu sebabnya dulu Mama gak setuju karena Mama gak mau kamu merasakan hal seperti ini”
“Mama tahu kalau nanti akan sulit bagi teteh untuk menerima kalau laki-laki yang menjadi pasangan kita memiliki rasa cinta pada perempuan lain”
“Teteh tidak membayangkan itu soalnya belum pernah pacaran dan merasakan kalau keterikatan antara pasangan itu kuat, apalagi sudah pacara lama dan kemudian menikah dan memiliki anak”
“Sekarang gampangnya gini saja, kita bayangkan teteh dalam posisi sebagai istrinya Mas Reza, meninggal saat melahirkan anak, trus tiga tahun kemudian suaminya menikah lagi. Teteh pengennya gimana Mas Reza langsung membuang barang-barang milik teteh sebagai alm istrinya atau tetap mengingat teteh sebagai alm istrinya? Bayangkan posisinya kalau kamu dalam posisi dia” Mama mengajak Hasna berpikir dari sisi yang lain.
Hasna langsung terbangun dan berpikir, sebelumnya ia tidak berpikir sampai kesana.
“Ah… sedih banget”
“Ahhhh Mama…. Aku gak pengen suami aku nikah lagiiiii… aku pengen suami aku tetap mengingat aku aja… ngegedein anak-anak sendiri trus tetap single sampai dia juga mati” jawab Hasna cepat….
“Arghhh… Mama aku sedih…. Aku gak pengen dilema gini…. Aku ngerti sekarang” Hasna kembali menelungkupkan badannya dalam pangkuan Mama.
“Yaah jangan berpikir dari sisi kamu saja, kita harus memahami kondisi seseorang dilihat dari sisi yang berbeda”
“Mama pikir Reza laki-laki yang baik, dia pasti kebingungan harus membesarkan anak dengan kondisi seperti sekarang pasti sulit. Dia mencari istri bukan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya tapi perempuan baik yang mampu merawat dan mengasuh anaknya juga”
“Soal dia masih mengingat istrinya wajar Teh, malah kamu yang sekarang harus bisa mengambil hatinya sehingga dia bisa mulai melupakan istrinya dan melihat kamu sebagai perempuan yang dia cintai”
“Kalau dia serta merta langsung pindah hati ke kamu malah aneh dan mengesalkan bukan. Ini berarti Reza laki-laki yang baik, yang bisa mencintai seseorang sepenuh hati”
“Kamu mau kan dicintai oleh seorang laki-laki yang memandang kamu sebagai perempuan terbaik pilihannya?”
Hasna menarik nafas, dipeluknya perut Mama dan ditenggelamkannya muka dalam perut Mama.
“Memusingkan jadi orang dewasa itu Ma, aku mau masuk ke perut Mama aja lagi, kayaknya gak banyak masalah kalau ada di perut Mama itu. Tinggal makan minum, main tendang-tendangan, jungkir balik trus nungging” Hasna merasakan ketenangan perasaan yang luar biasa. Semua kegundahannya terasa mulai terurai.
__ADS_1
Benar juga kalau Reza semudah itu melupakan Mitha artinya dia laki-laki yang gak punya perasaan. Seandaianya Hasna berada dalam posisi Mitha rasanya ia tidak akan rela membagi laki-laki miliknya dengan orang lain bahkan setelah ia mati.
“Gimana? Kamu bisa mengerti sekarang kalau suami kamu itu lelaki yang sulit dicari di dunia”
“Banyak laki-laki istrinya belum meninggal saja, sudah mencari perempuan lagi dengan banyak alasan yang dibuat-buat”
“Ini mah istrinya sudah meninggal dia masih tetap menjaga cintanya”
“Itu artinya Teteh belum bisa membuat dia merasakan cinta yang besar yang membuat dia merasa mati kalau teteh gak ada”
“Gimana caranya supaya Mas Reza bisa cinta mati sama teteh?” Hasna bingung dia benar-benar orang awam dalam hal percintaan.
“Yah jadi diri teteh sendiri, berikan cinta yang besar pada pasangan, berikan perhatian dan rasa sayang yang membuat dia merasakan kembali indahnya memiliki pasangan hidup maka nanti dengan sendiri Teteh akan merasakan indahnya dicintai oleh pasangan kita”
“Apa ini tuuuh… ngobrolin cinta-cintaan…. Ayah sudah tau kok kalau Mama cuma cinta sama Ayah” tiba-tiba Pak Kumis datang nimbrung ke kamar, saking asyiknya Mama dan Hasna ngobrol sampai tidak sadar kalau Ayah sudah pulang dari kantor.
“Ayaaaaah…. Kangeeen” Hasna langsung berdiri dan memeluk ayah.
“Aduuuuh ini putrinya Ayah meni jadi gembil begini...senang kamu disana?”
“Gembil apanya segitu kurusnya, liat aja mukanya sampai tirus” Mama protes, terlihat kesal melihat putrinya tampak kurus.
“Masa… asa gembil kata ayah sih… cuma bisa dibedain kalau dijembel” Ayah langsung menjembel pipi Hasna
“Awwwww… sakit ayaaah..meni keras” Hasna langsung memukul tangan ayah.
“Hahahahah iya dagingnya jadi tinggal sedikit...kurang empuk di jembelnya” Ayah langsung menjembel kedua pipi putri kesayangannya.
“Kenapa atuh putri ayah teh... “ Ayah langsung duduk ke kasur Hasna, dan tiduran terlihat lelah.
“Galaw yah... Biasanya orang sama istri kedua cemburunya, teteh mah cemburu sama yangudah meninggal, percuma teh. Daripada ngabisin energi sama yang penting mendingan berusaha menjadi istri yang baik aja sekarang mah” ucap Mama sambil mijitin kaki ayah.
“Siapa yang cemburu?” tanya ayah kepo.
“Itu putri kesayanganmu, cemburu gegara Reza masih menyimpan foto Mitha alm”
“Euhh teu kabayang ayah mah kalau si Mama meninggal duluan, jigana dikamar bakalan ada foto Mama segede artis korea kaya gini” ayah menunjuk poster GD Oppa yang segede gaban di kamar Hasna
“Ehhh itu juga ada Ayah, di kamarnya Mas Reza dipasang foto pernikahan sama Mbak Mitha yang segede gaban” kata Hasna sambil cemberut.
“Tah tah mulai lagi… kalau kamu meninggal mau emang foto nikahannya diganti sama istri baru?” Mama langsung tersenyum.
“Eh iya … ih gak kebayang teteh mah… tau ahh… Teteh pussiiiiing” Hasna bingung ada dua pikiran yang bertabrakan di kepalanya.
“Manggaaaa juragan, silahkan langsung menikah lagi… tidak dilarang sama sekali, bahkan Mama saking ridho nya bakalan datang pas Ayahnya nanti malam pengantinan sama istri barunya” Mama langsung memijat kaki ayah dengan keras.
“Aduuuuuh itu mah bukan ridho atau tapi ngajungjurigan” Ayah langsung meringis kesakitan. kalau dalam Bahasa Sunda ngajungjurigan itu menghantui.
“Iya sama Mama ditungguin tiap malam jangan khawatir sambil sesekali di toel kumisna” Mama tersenyum sinis. Ayah semakin meringis karena pijitan Mama semakin keras.
“Ampun..ampun Bu Haji, moal tidak akan berani menikah lagi Ayah mah… Mama itu the one and only buat Ayah” akhirnya Ayah bangun dan mengelus-elus tangan Mama memohon menghentikan penyiksaan di kakinya.
“Mama kalau Ayah meninggal duluan mau menikah lagi gak?” goda Hasna.
“Menikah lagi atuuuh… lebar Mamah masih geulis begini” Mama langsung bangun dan berkaca di meja rias Hasna.
“Eleuh-eleuh eta Nini Nini masih ambis buat nikah lagi, siapa yang mau sama Nini-nini?” Ayah langsung duduk dan memandang Mama dengan senyum sinis.
“Eh… Mas Eddy sekarang sudah jadi duda… kemarin nge wa temen mama trus nanyain kalau Mama dimana katanya, suaminya masih hidup atau engga” jawab Mama sambil memutar-mutar badannya di depan kaca bergaya seperti model.
“Heeeh Mama... si Eddy itu waktu dulu aja nikahnya sampai dua kali, trus istrinya sekarang udah meninggal dua-duanya, indikator mereka berdua teh menderita menikah sama dia. Mama mau hidup menderita kaya mereka?” Ayah langsung emosi mendengar Mama dapat pesan gelap dari mantan saingan berat ayah dulu.
“Lumayan atuh ayah, Mama bisa jadi istri kolonel… Mama bisa jadi ibu-ibu Persit, bosen ah jadi ibu Darma Wanita wae” Mama beranjak pergi dari kamar.
“Ehhh eta awas pokoknya kalau sampai kirim-kirim Wa sama Eddy goreng patut” Ayah langsung bangun.
“Hahahah… Pak Kumis jealous eunggg…. Sini atuh uuuuh sayang-sayang… eta kumis meni langsung rancung kalau cemburu teh” Mama langsung cekikikan melihat muka ayah yang emosi.
“Awas weehh coba-coba kirim pesan sama si Eddy … ku ayah Hp na disita...mana liat Hp Mama?” Ayah Kumis langsung celingukan megang-megang baju Mama.
“Ehhhh…. Tong pegang-pegang… ih cunihin aki-aki teh” Mama langsung belingsatan dipeganingin Ayah.
“Hehhhh cik atuh jangan mesum di depan anak-anak iihhhh ampun punya orangtua teh” Hasna langsung menutup pintu kamar. Kepalanya jadi tambah pusing melihat kelakuan orangtuanya.
Tapi kalau dipikir-pikir memang benar apa yang dibilang oleh Mama, wajar apabila Reza masih menyimpan foto Mitha, tinggal bagaimana caranya agar Reza memandang Hasna sebagai istrinya, yah konsekuensi menikah pria yang sudah menikah mungkin ini salah satunya. Hal yang tidak pernah dipikirkan oleh Hasna sama sekali.
Tak lama terdengar keramaian di ruang tengah, rupanya Emran datang dan langsung menggoda Maura, terdengar jeritan tertawa Maura. Hmm selalu saja bikin ribut itu kedua mahluk.
“Tehhh… tidur wae atuh? Katanya mau beli kaos kelek buat Hujan?” Emran melongokkan kepalanya dari pintu.
__ADS_1
“Udah pulang De?… ayo sekarang aja yuk mumpung belum magrib” Hasna langsung bangun dan bersiap untuk pergi dengan Emran. Anak koala langsung ribut.
“Mola mau ikut Buna….” langsung merentangkan tangannya ingin digendong.
“Iya ikut atuh masa ditinggalin jalan-jalan, pipis dulu yuk, trus ganti baju soalnya naik motor dingin” Hasna langsung menggandeng Maura ke toilet, bahaya kalau pengen pipis di jalan.
Hasna menghabiskan waktu seharian untuk refreshing, otaknya benar-benar terbebaskan saat pulang ke Bandung saat ini. Apalagi Emran sangat bisa menghibur hatinya ternyata memiliki adik yang menyebalkan itu sangat menyenangkan saat kondisi hati sedang terpuruk. Mereka pulang hingga jam 8 malam, rencana untuk pulang ke Jakarta malam ini hilang sudah dari pikiran Hasna.
Ia baru ingat saat hp nya berdering dan nama Manusia Gagal Move On muncul. Hasna langsung tertawa dalam hati, gegara emosi jiwa dia memberikan nama menyebalkan untuk suaminya, ia langsung merasa bersalah.
“Halooow assalamualaikum” suara Hasna kembali jernih.
“Waalaikumsalam… “ lama kemudian tidak terdengar suara, rupanya kegalauan berpindah kepada pihak yang lain.
“Halo Mas… kok diam… hehehe maaf aku lupa ngasih kabar tadi keluar dulu nyariin kaos buat Kaka Hujan, titip beli jersey buat main basket.. Baru pulang barusan”
“Aku kayanya gak akan pulang malam ini yah… kasian Maura keliatannya udah ngantuk cape, takut masuk angin kalau diajak pulang naik kereta api malam-malam” Hasna berpikir dengan menjual nama anak-anaknya dijamin Reza tidak akan marah kalau ia tidak pulang ke Jakarta malam ini.
“Hmmm… ya sudah. Keliatannya kondisimu sudah membaik”
“Sudah hilang PMS nya?” tanya Reza
“Hehehehe iya lumayanlah ternyata pulang itu bikin bahagia” Hasna merasa kaget juga rupanya Reza merasakan perubahan sikapnya.
“Jadi selama kemarin gak bahagia?” tanya Reza pendek.
“Ehhh Mas.. nanti disambung lagi yah ini Maura mau pipis katanya udah ngantuk” Hasna langsung mengalihkan pertanyaan.
“Teh itu Mas Reza? Sini Mama mau bicara” Mama yang sedang menggendong Maura langsung akan mengambil alih.
“Mama awas jangan ngomong aneh-aneh” bisik Hasna ia takut kalau Mama bicara soal pengaduannya.
“Apaan ih suka suudzon” Mama langsung mengambil alih handphone di tangan Hasna.
Entah apa yang dibicarakan Mama karena mereka terdengar mengobrol dengan asyik, dasar emak-emak milenial ada saja yang dibicarakan pikir Hasna. Fokusnya teralihkan pada Maura yang langsung manja karena sudah mengantuk. Malam itu mereka berdua tidur dengan nyenyak, masing-masing tertidur dengan mimpi petualangannya masing-masing. Maura dengan mimpi naik kereta apinya dan Hasna dengan mimpi melanjutkan impiannya sebagai seorang fotographer.
Esok harinya mereka terbangun saat sirene Ibu Merina sudah berdering dengan kerasnya.
“Ya Allah kamu sudah punya anak, bangun subuh masih harus dibangunin, kapan sadarnya… ieuh… kalau sudah punya anak itu bukan hanya mikirin diri sendiri kamu tuh…...trtrtrttrtrttrtrtrtrt” dan suara senapan petuah dan kuliah subuh terdengar mengiringi mata yang sulit terbuka.
“Buna itu kenapa Ewninnya malah-malah” Maura dengan mata mengantuk memandang ke arah Hasna.
“Bukan marah-marah… itu Enin lagi ceramah subuh….jangan khawatir nanti Buna kalau udah tua gak akan ceramah subuh mau tausiah aja buat Maura sama Hujan” Hasna memeluk Maura, dingin dingin begini meluk anak koala terasa hangat.
Pagi itu Hasna menikmati jajan bubur ayam di tukang bubur langganan, ternyata kenikmatan sederhana seperti ini terasa mahal saat ia harus diam di Jakarta, bunyi kentringan sendok dan mangkuk tukang bubur yang memanggil pelanggan terasa indah di telinganya. Sambil menyuapi Maura di pekarangan Hasna menyirami tanaman yang ada di taman.
Saking asyiknya menyiram tanaman sampai tidak sadar ada mobil berhenti di depan rumah, ia baru menyadari ada mobil berhenti di depan rumah saat Maura berteriak.
“Papiiiiii….. Hihihihi demput Mola ke lumah Ewninnn” Maura langsung berlari ke arah mobil Papinya yang berhenti di depan garasi. Hasna langsung kaget masa sih, ternyata memang benar itu mobilnya Reza.
Dan sang pemilik mobil keluar dengan gaya seperti foto model yang keluar dari mobil impian, dengan kacamata hitam dan senyuman yang lebar melihat istri dan anaknya. Hasna langsung panik rambutnya dicepol santai dengan memakai celana panjang ajuma gaya emak-emak korea. Haduhhhh jauh seperti bumi dan langit dengan foto model yang baru turun dari mobil.
“Hehehehe kenapa kaya yang kaget liat aku?” tanya Reza sambil menggendong Maura dan berjalan ke arah Hasna yang tampak bengong melihatnya.
“Kok gak bilang mau ke Bandung?” Hasna langsung merapikan rambutnya.
“Sengaja surprise, pengen tahu aja apa kamu beneran ada di rumah atau lagi main sama temen kamu”
“Ternyata benaran lagi jadi gadis rumahan” Reza menarik cepolan rambut Hasna menclok seperti kondean.
“Apaan sih Mas..” Hasna cemberut antara pikiran senang melihat suaminya dan sisa-sisa kekesalan kemarin bersatu.
“Gak salim sama suami kalau ketemu” Reza langsung menyodorkan tangannya. Hasna langsung menyambut tangan Reza dan menciumnya.
“Yang ini belum?” Reza menyodorkan pipinya ke arah Hasna.
“Apaan sih Mas” Hasna cemberut.
“Papi minta di kiss Bunaaaa… kaya gini” Maura langsung memberikan contoh dengan mencium pipi Papinya dengan cepat, aduuuh ini anak betul-betul gak tahu kalau Bunanya lagi jual mahal mode on.
“Tuhhh anak kecil aja tau… biar aja supaya Bunanya pinteyy Papi aja yang cium pipi Buna yaa” ucap Reza sambil meraih pinggang Hasna agar mendekat padanya dan mencium pipinya dengan cepat.
“Ihhhhh…gimana sih malu” Hasna langsung melepaskan pegangan Reza di pinggangnya dan benar saja si biang kerok sudah kadung melihat.
“Adeeeeuyyyy baru ditinggal sehari aja udah cium ciuman di depan rumah…. Fitfiiiiiwww”
“Emraaaaaaaannnn” Hasna langsung mengambil sandal untuk dilempar ke Emran…
“Piitpiiiiiiw” ucap Maura sambil cekikikan
__ADS_1
“Astagfirullah……..”
Adeuuuuhh… ada yang ngejemput euyyyy…. pitpiiiiiw…..