
Siang itu di Dealer mobil seorang Hasna berlari keluar mengejar Reza.
“Masss… mas… ini serius” Hasna berlari kecil untuk bisa mengejar Reza.
“Memangnya kapan aku tidak serius?” jawab Reza sambil cemberut, niat baiknya malah dipandang main-main oleh Hasna. Hasna menoleh ke belakang, percuma mengejar Reza kalau sudah sibuk dengan pikirannya, ia langsung kembali lagi ke mobil.
“Kalian mau diam di mobil, Papinya mau lihat mobil ayo kita keluar jangan diam di mobil saja” Hasna menggapai Maura, Hujan malas-malas keluar dari mobil, udara Jakarta sudah panas.
“Papi katanya mau beli handphone buat aku” Hujan cemberut dan mengikuti Hasna yang menggendong Maura masuk ke ruangan showroom mobil.
"Iya Buna juga ga ngerti, tadi gak ngomong apa-apa tiba-tiba aja belok kesini" Hasna mengerti kalau Hujan sudah tidak sabar. Saat masuk di ruang showroom Hasna melihat Reza sedang berbicara dengan SPG yang terlihat menarik dengan pakaian pendeknya... temannya nenek sihir ini sih.
“Biar dia memilih mau yang mana” Reza menunjuk Hasna kepada SPG yang tampak luar biasa ramah dengan Reza.
“Saya kira mencari untuk sendiri Pak” SPG tampak berusaha berbasa basi sambil tersenyum manis, Hasna hanya bisa berbicara di dalam hati… “Mba percuma senyum manis sama dia mah.. Orangnya asin”
“Mba suka model yang mana, ada beberapa pilihan yang bisa diambil” SPG mengalihkan pandangan kepada Hasna. Hasna hanya tersenyum, dia tidak pernah membayangkan membeli mobil dalam waktu dekat. Lebih tepatnya belum merencanakan karena belum menjadi kebutuhan prioritasnya saat ini. Sekarang hanya ingin dekat dengan keluarga barunya dan mempersiapkan untuk sekolah S2.
“Sebentar ya Mbak saya tanya suami saya dulu” Hasna tersenyum dan beranjak menuju Reza yang langsung duduk di sofa pengunjung dan asyik bermain hape. Perlu ditekankan kata suami pada SPG supaya tidak menyangka laki-laki yang sedang duduk itu masih single.
“Oww suaminya…” Mbak SPG tampak seperti kecewa, Hasna kembali tersenyum manis langsung merasakan ada aroma kemenangan dalam hatinya..”hahaha ternyata seperti ini rasanya memiliki sesuatu yang diinginkan orang lain” Hasna jadi berpikir perlu dalam waktu dekat ini ke kantor dan bertemu dengan Nenek Sihir dan bertanya "Maaf suami saya ada atau sedang rapat?" Hasna jadi tersenyum sendiri. Didekatinya Reza dan duduk disebelahnya.
“Mas ini seriusan? Mau beli mobil buat aku untuk apa? Mobilitas aku masih di rumah kan palingan kalau perlu keluar barengan sama anak-anak ada Pak Agus” Hasna duduk sambil menghela nafas, ditatapnya Reza yang tampak asyik sendiri. Maura tampak berlari-lari bersembunyi bermain dengan Hujan diantara mobil-mobil yang berjejer. Reza menoleh, perempuan ini pikirannya pendek sekali pikirnya.
“Sebentar lagi kamu kuliah, bulan depan kan?.. kamu akan sering pergi keluar, belum lagi nanti Maura juga sekolah” jelas Reza
“Hmm iya palingan dalam seminggu cuma 2 hari kok kata Kang Arkhan juga” Hasna lupa mengucapkan kata tabu, yang langsung diikuti oleh tatapan tajam Reza.
“Ehhhh… dia kan udah gak kuliah Mas.. sudah tingkat akhir tinggal seminar proposal dan menyusun tesis” Hasna langsung sadar kesalahannya mengucap kata Arkhan saat melihat tatapan Reza yang tajam.
“Meskipun sudah tidak ada kuliah bukan berarti dia gak ke kampus” jawab Reza tanpa melepaskan pandangan dari hp.
“Nanti bikin alasan nganterin kamu lagi” ucapnya datar
“Beuuuh gaya amat ngomongnya kaya punya pacar cemburuan gini...hahahahah” Hasna menertawakan Reza yang masih terlihat datar dalam berbicara. Mendengar Hasna tertawa Reza melihat Hasna dengan tatapan kesal.
"Aku dulu dlianterin karena sibuk organisasi sering pulang malam, sekarang kan sudah menikah dan ga ada oranisasi kalau di level pasca sarjana"
“Saya tuh suami kamu, wajar kalau saya melindungi hak milik saya” jawab Reza cepat.
“Emang aku tanah pake hak milik segala, kalau sertifikat hak guna pakainya aja belum dimanfaatkan, gimana mau jadi hal milik” Hasna langsung cekikikan sendiri membayangkan analogi dirinya seperti surat tanah antara sertifikat hak guna pakai dengan sertifikat hak milik. Reza langsung memalingkan muka dengan cepat.
“Jadi bisa mulai dipakai kapan? Supaya bisa jadi hak milik?” tatap Reza serius.
“Ehh apanya?” Hasna langsung kaget.
“Kamu bisa saya pakai? Supaya jadi milik saya seutuhnya” Reza tersenyum sinis melihat kekagetan Hasna.
__ADS_1
“Mas Reza kapan bisa move on? Kalau sudah move on baru bisa mikir kesana” Hasna langsung menjulurkan lidahnya… senjata yang paling mudah dipakai untuk Reza adalah soal move on dari Mitha. Bodo amat pikirnya, ngapain dipikirin mendingan dibawa happy aja.
“Mari kita memilih mobil … kalau udah ngomongin kaya gini suka kerasa ilfilnya suka jadi semangat buat pelampiasannya” pikir Hasna sambil tersenyum kecut. Yang nawarinnya aja gak pakai mikir kenapa dia mesti berpikir panjang pikirnya lagi. Ini gak pakai uang tabungan yang mesti dikumpulkan rupiah demi rupiah, ini adalah uang yang pemiliknya sendiri tidak tahu jumlah penambahannya berapa.
“Saya mau yang model simple untuk perempuan dan tidak terlalu besar yah mba” Hasna langsung menuju Mbak SPG yang dengan penuh kesabaran menunggunya.
“Ada beberapa pilihan mbak yang paling populer di Indonesia ini cocok untuk perempuan yang model hatchback mazd*2 dan mazd*3 dan small SUV mazd* cx3 dan medium sub mazd*a cx5” Mbak SPG memperlihatkan beberapa pilihan kepada Hasna.
“Kaka kamu suka yang mana?” tanya Hasna, Hujan menoleh dan melihat keempat yang ditawarkan.
“Hmm semuanya bagus, aku gak suka yang kecil itu, terlihat terintimidasi” ucapnya sambil lalu yang kemudian langsung mengalihkan perhatiannya pada handphone, hmmm tidak terlalu banyak membantu. Ternyata terbiasa memakai mobil yg besar menjadikan Hujan menyukai model mobil yang dominan.
“Mass… ada yang tipe hatchback atau SUV.. bagusnya yang mana yah?” tanya Hasna, terasa membingungkan karena dia sudah terbiasa menggunakan mobil sejuta umat milik ayahnya.
“SUV tapi jangan yang small ambil yang large” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari handphone. Hmm ini lebih tidak membantu juga, malah minta yang large, di rumah alphard mau diapain coba.
“Saya ambil yang hatchback kalau begitu” jawab Hasna mengambil yang kebalikan dari Reza, yang langsung mendapat tatapan tajam.
“Untuk apa aku pakai yang SUV kan cuma aku sendiri, palingan sama Maura dan Kaka jadi yang city car saja” jelas Hasna. Reza mengangguk ok masuk akal.
“Jangan yang small minimal yang medium..kaki saya tidak masuk kalau di mobil ukuran small, kemudian yang tenaganya harus yang paling kencang” sambung Reza, Hasna mendelik, kalau banyak maunya kenapa tidak dia sendiri yang memilih.
“Mobilnya mesti ada diantara yang mercedes dan alphard, not too small but not too big also” jelas Reza. Hasna mengangguk-angguk ..yes deh yes.
“Aku pengen sekali-sekali pakai mobil yang biasa barengan jalan sama kamu nanti” jawabnya lagi. Wuaaaah kesombongan yang luar biasa.. Ini benar-benar jiwa prince terperangkap di dalam tubuhnya. Mobil biasa hadeeehh.. Jadi mobil dia sekarang adalah kereta kencana pikir Hasna. Seterah deh….
“Kok warna putih, kenapa tidak hitam atau abu-abu lebih elegan” sambung Reza.
“Yang pakai siapa? Mas Reza atau saya, kalau sampai warna juga diintervensi saya gak usah dibelikan mobil pakai mobil online saja… warnanya bisa ganti-ganti, jenisnya juga bisa beda-beda” Hasna kesal karena ternyata memilih versi Reza hanya sebatas menjadi speaker dari pikiran dan keinginan dia saja.
“Ok..ok.. Medium Hatchback warna putih mbak..fix” ucap Reza.
“Kalau begitu modelnya yang Mazd* 3 yah Bu… ini model terbaru.. Harganya sekelas SUV” sambung SPG dengan senyuman yang manis dan manja ke arah Reza… hmmm perasaan tadi senyum sama biasa aja. Dasarrrrr...kadal perempuan
“Ok..” jawab Reza singkat. Hasna melongo kok gak tanya harganya berapa.
“Automatic ya Pak?” SPG memastikan sambil mencatat.
“Ya tentu saja, di Jakarta harus automatic”
“Atas nama Bapak atau Ibu?” tanya SPG…
“Atas nama saya tentu saja.. Lebih memudahkan untuk urusan legal formalnya kedepan” jawab Reza singkat.
“Iya mba .. karna kemungkinan kesempatan hak guna pakainya tidak akan dimanfaatkan jadi lebih mudah atas nama bapak saja” Hasna tersenyum dengan manis. Sang SPG hanya mengangguk-angguk seakan mengerti konteks pembicaraan keduanya.
“Atas nama istri saya saja mbak” Reza langsung memotong. Hasna tersenyum, rupanya si abang ada keinginan untuk menggunakan hak guna pakai, musti lebih waspada dan dipastikan dulu proses move on terlaksana atau tidak kalau begini.
__ADS_1
“Buna mahu beli mobil yang mana” Maura rupanya sudah lelah berlari-lari.
“Mobil yang bisa dipakai mengantar Maura sama Buna sekolah” jawab Hasna cepat.
“Aku gak dianterin?” tanya Hujan dengan cemberut.
“Hahahahha iya dong Kaka, kiraian lebih suka pulang sama Pa Agus, ok juga nanti Buna antar jemput kalau gak bentrok sama kuliah.. kita bakal sering jalan-jalan deh” jawab Hasna.
“Tapi Buna gak hapal jalan, Buna suka panik kalau salah belok” pikir Hasna tiba-tiba mulai bingung.
“Di Bandung kalau gak hapal jalan, Buna suka ngikutin jalur angkot aja” kenang Hasna saat awal-awal dia belajar mobil.
"Kalau di Jakarta masa Buna ngikutin Busway nanti ditangkap polisi dong masuk jalur busway"
“Pakai map Buna jadi gak akan tersesat” Hujan memberikan saran
“Hmmm susah membagi fokus antara map dan kendaraan yang dijalan bakalan membahayakan.. Jadi kedepan bakalan butuh bantuan asisten yang nunjukin jalan dulu, kalau udah hapal baru deh bisa percaya diri” Hasna berusaha menguatkan mental, setiap hari itu harus ada perkembangan. Kalau bulan ini dia sudah mencapai apa bulan berikutnya harus ada pencapaian yang lain.
Tahun kemarin dia sudah bisa mobil di daerah Bandung, maka tahun ini dia harus bisa membawa kendaraan di Jakarta. Perempuan itu harus segala bisa, jangan bergantung pada orang lain. Tapi kalau di depan laki-laki jangan semuanya diliatin bisa-bisa nanti mereka suka males gak mau ngapa-ngapain....hahaha aliran ogah rugi tenaga.
Setelah selesai memproses admistrasi pembelian mobil, mereka berempat langsung ke appl* store untuk membeli handphone bagi Hujan. Saat Hujan sibuk memilih warna handphone Reza memandang Hasna.
“Kamu gak pengen sekalian beli?” tanya Reza.
“Beli apa? Handphone?” Gak perlu… yang punyaku sekarang masih bagus” jawab Hasna santai, dia bukan tipe orang yang suka pada barang bermerk.
“Tadi katanya minta dibelikan handphone pada Papa?” Reza mendengus.
“Tadi cuma bicara iseng aja Mas… biar Papa seneng punya menantu yang manja-manja gitu sama mertuanya” Hasna tersenyum geli.
“Sama mertua aja manja, kalau sama suami sendiri kerjanya melotot” dengus Reza. Hasna langsung tersenyum, ia mengira kalau Reza tidak akan mempermasalahkan kalau dia suka protes.
“Ow… jadi pengen di manja-manjain juga… kirain kalau orang yang galak lempeng kaya Mas Reza gak suka sama perempuan manja” Hasna langsung menggandeng tangannya.
“Massss… makasih yang udah dibeliin mobill… aku gak usah dibeliin handphone masih bagus kok” ucap Hasna. Reza langsung meringis dan berusaha melepaskan tangannya.
“Kamu apa-apaan sih orang-orang pada melihat” Reza berbisik sambil menarik Hasna.
“Hahahaha… katanya mau dimanja-manjain” Hasna langsung cekikikan melihat sikap kaku Reza.
“Aku nanti tagih manja-manjanya saat menggunakan hak guna pakai” tatap Reza dengan tersenyum tipis.
Ehhhh… ini beneran mau dipakai emang?
**********************
Maaf baru bisa update... kewajiban dunia nyata lebih urgent untuk diselesaikan. Jangan dibiasakan makan gaji buta...suka jadi beban pikiran... untuk itu jangan nambah beban pikiran meminta up di dunia halusinasi ini hehehehe berikan saya kesempatan untuk tenang.... yang penting semuanya bahagia.... Love u ...muachhh
__ADS_1
*********************