
Author POV
Pagi itu Bandung terasa sejuk melihat sepasang suami istri dan anaknya yang gemoy makan bubur ayam.
“Papi aku kemalin naik motol sama Om Emlan mutel-mutel jauuuuuh banet” anak koala mulai laporan sama Komandan.
“Pergi kemana malam kok sampai jauh begitu?” Komandan langsung memandang prajurit yang masih menyiram tanaman.
“Cuma ke outlet, biasalah jauhnya anak-anak. Maura kan ga pernah naik motor. Dari sini keujung kompleks juga dianggap jauh” Hasna menjawab dengan kalem. Masih males ngeliat muka Reza, tapi ia ingat kalau ini masih pagi Reza pasti belum sarapan.
“Sudah sarapan belum? Pasti belum yah? Mau bubur ayam?” Hasna menawarkan bubur ayam saat menyuapi Maura.
“Bubur apa itu?” dahi Reza langsung berkerut ia tidak pernah jajan di kaki lima, terakhir ia makan pecel lele dengan Hasna.
“Bubur Ayam enak lagi, mumpung si Mamang belum pergi, aku pesenin yah” Hasna langsung beranjak mematikan air kran.
“Piringnya jangan pakai dari si Mang” Reza langsung membayangkan ember di tempat pecel lele.
“Iyaa..iya aku bawa mangkuk dari rumah kok jangan khawatir” Hasna tersenyum sudah hapal Reza paling gila kebersihan.
“Ini suapin dulu Mauranya” Hasna menyodorkan mangkuk bubur Maura kepada Reza.
“Ehhh… neng Hasna lagi pulang ke Bandung? Meni sudah lama gak liat” Teh Heni tetangga sebelah menyapa saat Hasna membeli bubur ayam untuk Maura.
“Ehh iya Teh Heni apa kabar?” Hasna langsung menyapa tetangganya yang tinggal berjarak 3 rumah.
“Waduuuh ini dede Ziddan udah bisa jalan lagi, rasanya baru kemarin bayi merah, sekarang udah bisa berdiri dengan kaki sendiri” Hasna menyapa bayi kecil putra tetangganya yang sudah mulai belajar jalan.
“Iyaaa tante.. Ziddan udah gede bisa berdiri dengan kaki sendiri, masa dengan kaki kucing” Hasna menjawab sendiri pertanyaannya dengan suara kecil seperti bayi, mendengar Hasna ramai berbicara dengan bayi, Maura langsung berlari mendekat.
“Syiapa ini Buna… bayi syiapa inih?” Maura koala kepo langsung memegang Hasna yang sedang berjongkok di depan Ziyan.
“Ini bayi Buna yang mau dibawa ke Jakarta supaya Maura gak suka nangis kalau pagi-pagi bangun ditinggalin Buna” Hasna langsung bergaya akan membawa Ziddan yang terlihat senang melihat Hasna, bagus nih bayi bisa diajak kongkowan.
“Gak boyeh...bunda gak boyeh bawa bayik….gaaaaak boyeeeeh” Maura langsung teriak-teriak melihat Hasna sudah menggendong Ziddan.
“Waaaaaaaaaawww...huwaaaaaaaaawww” Maura langsung menangis keras melihat Hasna menggendong Ziddan dan bergaya akan pergi.
“Papiiiiiii Bunanya mau pelgiiiii…. Huwwwaaaaaaaaawwww” Maura langsung berlari ke arah Reza dan menangis meminta dipangku. Hasna tertawa-tawa melihat Maura yang menangis dengan keras. Reza mengggeleng-gelengkan kepalanya melihat Hasna yang mengganggu Maura.
“Aduuuh kasian itu tetehnya, jangan digangguin atuh, kasian sampai nangis gitu, sudah musti punya adik lagi kayanya biar gak ogo” Teh Heni langsung mengambil Ziddan dari gendongan Hasna.
“Ahhh yang ini aja manja banget teh, kalau ditambah adik kebayang pusing….hiiiii” Hasna menggelenggkan kepalanya, membayangkan memiliki bayi membuatnya pusing.
“Sudah jangan nangis, itu bayinya udah dibawa sama mamanya” sambil membawa mangkuk bubur Hasna menyerahkan bubur ayam kepada Reza.
“Sini sama Buna, papinya mau makan” Hasna mencoba mengangkat Maura yang sedang memeluk Reza sambil menangis.
“Nda mau...nda mau Buna jahad.. Mola nda mau” Maura merajuk.
“Beuuuh pundung..pundung.. Ya udah kalau gak mau sama Buna .. Buna mau gendong Taiyo aja” Hasna berjongkok di depan Reza yang sulit melepaskan Maura dari pangkuannya.
“Jelek ih jadi pundungan gitu.. Belajar dari siapa sih jadi suka pundungan” digelitiki punggung Maura yang tidak mau melihat kearahnya.
“Belajar dari Bunanya, kalau marah pundung trus pulang ke Bandung” jawab Reza sambil tersenyum. Hasna langsung melirik tajam ke arah Reza.
“Siapa juga yang pundung, aku pulang soalnya mama pengen ketemu” Hasna langsung menjawab ketus, bibirnya sudah manyun kedepan.
“Makannya di meja aja, susah kalau sambil gendong Maura” Hasna langsung mendahului masuk ke dalam rumah.
Reza menggendong Maura yang masih ngambek masuk ke dalam dan bertemu dengan Mama dipintu.
“Ehhh gening Aa jemput ke Bandung, alhamdulillah Neneng mah kalau gak dijemput suka lama pundungnya” Mama tersenyum menggoda Hasna.
__ADS_1
“Mama! Apaan sih.. Siapa yang pundung, kan Mama kemarin yang bilang pengen ketemu” Hasna langsung manyun, disimpannya mangkuk bubur Reza di meja makan dan pergi kamar untuk diam melanjutkan pundung di kamar.
Reza hanya memandang Hasna yang tampak marah masuk ke kamarnya, masih menggendong Maura yang memeluknya sambil merajuk. Dua perempuan yang dimilikinya sedang ngambek semua. Tapi baru saja masuk ke kamar, Hasna tampak keluar lagi.
“Lupa minumnya…” Hasna membuatkan minum teh untuk Reza, dan langsung mengambil Maura dari gendongan Reza.
“Maura mau denger cerita kucing melahirkan anaknya gak, dia melahirkan banyak ” Maura langsung mengalihkan pandangan dan menatap Hasna.
“Kucing siapa Buna yang lahil baby? Taiyo?” ia langsung merentangkan tangannya untuk pindah ke pohon yang lain.
“Taiyo mah laki-laki gak akan melahirkan… ini ada kucing ibu-ibu yang melahirkan anaknya sampai banyak jadi anaknya gak ogoan”
“Banak ..banak banget Buna?” Maura langsung fokus pada cerita Hasna sampai melupakan kemarahannya tadi. Reza tersenyum perempuan ini selalu mempunyai cara untuk membuat Maura menempel kepadanya.
“Bangeeet… sampai ada 4 anaknya, tapi mandi dulu ah Mauranya bau acem” Hasna mencium leher Maura yang terasa lengket.
“Nda mahu… mau dengelin celitanya sekalang” Maura kembali merajuk mode on.
“Nanti kan kalau sudah mandi sambil minum susu dengerin ceritanya, bisa sambil tiduran di kamar ” Hasna tidak memperdulikan protes Maura, harus segera diselesaikan urusan di pagi hari, makan mandi minum susu bobo.
“Mas Reza nya sarapan dulu, aku mau mandiin Maura sekalian mandi supaya nanti pulang ke Jakartanya gak terlalu siang”
“Lah kenapa buru-buru aku cuti kok hari ini jadi santai aja” Reza beranjak ke meja makan, sudah terasa lapar perutnya, sesekali makan bubur ayam tidak masalah.
“Kenapa cuti? Katanya lagi banyak kerjaan, lagipula ngapain juga pake ngejemput aku segala nanti sore juga mau pulang kok” Hasna menggerutu sambil melipat pakaian kotor Maura.
“Aku cuma khawatir kamu nanti sore ada acara lagi trus pulangnya kemalaman, jadi gak bisa pulang lagi… trus aja seperti itu sampai telor menetas jadi ayam” Reza terkekeh sambil makan bubur, ternyata memang enak buburnya.
“Maksudnya apa! Gak lucu” Hasna langsung cemberut dan menuntut Maura ke kamar mandi.
“Hahahahahah” Reza tertawa senang, melihat Hasna yang terlihat kesal dengan sindiran-sindirannya terasa sangat menghibur setelah seminggu kemarin otaknya terasa penuh dengan kegiatan di kantor.
“Sudah lama Mas?” Tak berapa lama Emran turun dari kamar dengan pakaian lengkap untuk kuliah.
“Iya praktikum kebagian jaga lab sekarang, jemput teteh pulang yah?” tanya Emran sambil mengambil 2 tangkup roti tawar.
“Iya, khawatir gak pulang kalau gak dijemput” Reza tersenyum.
“Iya soalnya tadi malam juga gak mau pulang ke rumah, suntuk katanya pengen muter-muter terus kalau Maura gak ketiduran di motor sih. Bisa-bisa sampai jam 12 malem”
“Awas nanti kalau teteh pengen dibeliin motor jangan dikasih, soalnya dia suka ngelayap jalan kalau lagi kesel”
“Jakarta kan luas, bisa-bisa dia nyampe ke Anyer kalau lagi parusing sama Mas Reza”
“Memang dia cerita apa” Reza jadi ingin tahu, kok Emran bisa hapal kalau Hasna kesel pada dia.
“Wani piro?” Emran tersenyum.
“Hahahahahah kamu tuh yah ternyata laki-laki komersil” Reza tertawa
“Iya soalnya Teteh selalu mengirim subsidi untuk kaum duafa seperti aku” jawabnya sambil melahap 1 tangkup roti dan kemudian membuat lagi roti 1 tangkup.
“Jangan khawatir Mas bisa belikan keinginan kamu kalau informasinya cukup berharga” Reza melakukan penawaran transaksi. Anak seperti ini musti tawar menawar, dia sudah tahu hukum ekonomi.
“Siaaaapp, aku selalu mendukung hubungan suami istri yang romantis, kalau liat tadi teteh sudah mau dicium-cium sih artinya sudah gak ada masalah tinggal dibujuk-bujuk aja tetehnya”
“Perempuan memang suka seperti itu galak di luarnya padahal sebetulnya pengen dipeluk-peluk aja”
“Kalau Mas Reza perlu informasi bagaimana caranya memeluk cewe yang ngambek tanya sama aku paling jago”
“Hahahahhaha memangnya kamu punya pacar berapa orang?” Reza jadi penasaran mendengar informasi dari Emran,
“Aku kalau pacaran bisa sampai maksimal 3 orang, 1 orang yang resmi yang 2 lagi cukup TTM”
__ADS_1
“Hahahahha banyak banget gimana kamu ngaturnya”
“Sttt jangan bilang-bilang teteh nanti aku digampar sama dia, ingat Mas sepertinya halnya kita mengelola perusahaan, kantor pusat itu selalu menjadi yang utama dan kita butuhkan tapi jangan lupa untuk membuat kantor cabang untuk ekspansi usaha”
“Hahahahahha aku baru dengar kalau pacaran bisa seperti itu” Reza langsung mengambil dompet dan memberikan lembaran uang merah kepada Emran.
“Nih buat informasi kamu yang sangat menghibur, pakai untuk memperkuat kantor pusat, jangan membuat cabang dulu kalau kantor pusatnya masih goyah” Reza menyodorkan uang kepada Emran yang langsung disambut dengan gembira.
“Oyeeee… terima kasih Mas… tapi awas jangan sampai berpikir membuat cabang kalau Mas Reza. Kantor pusat bisa langsung bangkrut kalau coba-coba bikin cabang” Emran langsung mengancam.
“WHahahahaha gak akan, bahaya kalau kantor pusat bangkrut saya gak bisa hidup” Reza terkekeh senang, obrolannya dengan Emran benar-benar out of the box.
“Ade ngomongin apa kamu?” Hasna langsung nge-gas melihat Reza dan Emran mengobrol dengan akrab. Jarang-jarang Reza tertawa sampai keras dengan orang, khawatir Emran cerita yang aneh-aneh tentang dia.
“Ahh curiga aja si Teteh mah, ini lagi ngomongin perusahaan gimana cara handlenya, kan suami teteh pimpinan perusahaan”
“Musti belajar juga sama perusahaan kecil kaya aku supaya bisa tetap survive” jawab Emran sambil membungkus roti isinya. Reza hanya melihat bekal Emran sambil tersenyum, setangkup roti yang dimakan ternyata belum cukup.
“Itu bekal buat kantor cabang?” goda Reza.
“Bukan ini untuk supplier di kantor pusat, perlu disupport supaya bisa tetap membuat kantor pusat stabil”
“Informasi dari supplier membantu saya dalam mengambil keputusan untuk perlu berangkat ke cabang atau tidak” Emran menjelaskan dengan penuh keseriusan.
“Hahahahahahah… bagus-bagus kamu sudah paham kekuatan mitra dalam pengembangan usaha” Reza tertawa semakin keras. Hasna semakin curiga tapi dia tidak mengerti, hanya bisa mendengus dan menyiapkan pakaian Maura.
“De kamu mau bekal makan siang ga?” setelah selesai memakaikan baju untuk Maura, kemudian Hasna melihat bekal roti yang dibawa Emran.
“Gak usah, aku udah dikasih uang sama Boz besar jadi bisa makan enak nanti siang”
“Pamit dulu yah teh, bisi gak ketemu lagi nanti".
"Trus kalau galau lagi jangan suka teriak-teriak di motor… malu aku tuh” Emran pamit dan memeluk kakaknya
“Pamit Mas, berangkat dulu. Selamat memperkuat perusahaan pusat, yang sabar aja namanya juga perusahaan baru” Emran salim sambil cengar cengir.
“Apaan sih kamu tuh ngomong gak jelas juga” ditoyornya kepala Emran oleh Hasna.
“Sana pergi kamu suka ngomong gak penting” Hasna menendang pantat Emran dengan pinggir kakinya.
“Eiitsss gak kena….hahahah sudah kehilangan sentuhan si Teteh”
“Bunaaaaaa katanya ndak boleh kasal kasal pukul pukul sama tendan-tendan sama teman” Maura langsung protes melihat Hasna yang sudah mulai berjibaku dengan Emran.
“Engga itu sama Om Emran lagi latihan bela diri” Hasna langsung ngeles
“Mau minum susu dulu yah, kan sudah mandi” Hasna langsung membuatkan susu untuk Maura
“Mola mau minum susu sambil dengelin celita Buna” Maura langsung menagih janji cerita. Hadeuuuh Hasna langsung pusing tadi dia cuma asal saja bicara supaya Maura berhenti merajuk.
“Iya boleh… ayo sambil tiduran di kamar” Hasna menuntut Maura, sambil berjalan ia berpikir tentang cerita kucing beranak. Reza mengikuti keduanya di belakang.
“Mas mau kemana?” Hasna langsung mengeryitkan dahinya.
“Mau ikut dengerin cerita juga lah, aku juga ngantuk tadi bangunnya subuh-subuh supaya gak kena macet” Reza mendahului Hasna ke kamar, ia tidak ingin ditolak karena masuk kamar belakangan.
Hasna hanya bisa menarik nafas, ini ada 2 orang mau dengerin cerita kucing beranak. Mau cerita apa coba… dia sendiri belum pernah beranak…
***************
Hai..hai... maafkan kmarin ga up story karna hayati lelah. Untuk buat cerita halusinasi dbutuhkan mental yang kuat dan jiwa yang sehat. Kuat menanggapi komentar para deterjen hehehhee... Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kekuatan utk menjalani kehidupan di new normal yang gak pernah terasa normal. Sehat selalu dan tetap produktif yaaa. Terima kasih atas semua doa dan dukungannya.. Love u all
******************
__ADS_1