Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Akankah Pungguk Kembali Merindukan Bulan


__ADS_3

Reza merebahkan dirinya disamping Maura sambil menonton video Hasna, ia memperhatikan video yang dibuat Hasna, ia mengerutkan dahinya suasana kamarnya berbeda. Hasna tidak membuat video di kamar yang dirumah.


“Assalamualaikum… Halo sayang lagi apa?” Hasna terlihat menatap layar dengan senyumannya yang lembut. Reza ikut tersenyum melihatnya.


“Hari ini Buna akan bercerita dari buku saja yaa.. Hmmm coba kita liat cerita apa yaaa yang bakalan disuka sama Molaa” Hasna terlihat membuka-buka buku cerita, Reza mengerutkan dahinya kembali. Itu bukan buku yang ia beli bersama Hasna dulu saat ia memintanya membacakan cerita untuk Maura sebelum menikah.


“Cerita Timun Mas hmmmmm… ga ada binatangnya.. Sebentar… Cerita Sangkuriang hmmm terlalu dewasa buat kamu… sebentar ahhhh ini aja Bagai Pungguk Merindukan Bulan ...cerita apa yah ini Buna juga lupa-lupa inget ceritanya” Hasna tampak membaca sebagaian dari cerita sambil kemudian mengerutkan dahinya.. “Ini kok cerita percintaan yang gagal masuk ke cerita anak-anak siy…” Reza tertawa melihat kelakuan istrinya di video. Tampak tidak menjaga image sama sekali.


“Buna ingat dulu sama Aba Kumis suka dinyanyiin lagu ini tentang bulan … Aba Kumis suka nyanyi..Bulantok Bulantok Bulan Segede Batok…. Bulantok Bulantok Hasna Gede Makin Montok hahahahahhaha sekarang lagunya sama Buna diganti jadi Bulantok Bulantok Bulan Sagede Batok….. Bulantok Bulantok Neng Mola Makin Gede Makin Montok hahahahahha” Hasna tampak tertawa-tawa sendiri, Reza hanya meringis melihatnya yang pasti istrinya masih belum terlihat montok masih pucat.


“Udah ahhh Buna jadi ngelantur … hapalin yaa lagunya tadi. Sekarang Buna mau cerita tentang Pungguk Merindukan Bulantok” Hasna kemudian menutup buku ceritanya,Reza menggeleng-gelengkan kepalanya, perempuan ini sudah mulai lagi membuat cerita yang absurd. Percuma membeli buku cerita kalau pada akhirnya yang diceritakan ide dari kepalanya sendiri. Hasna kemudian terlihat mulai bercerita.


“Jaman dulu saat listrik belum masuk ke rumah-rumah, orang-orang jarang keluar rumah malam hari sehingga kalau sudah lewat waktu magrib orang akan diam di rumah dengan menggunakan lampu cempor atau petromaks sehingga jarang sekali orang terlihat berjalan atau berkumpul di luar rumah”


“Tapi mereka akan berkumpul kalau keluar bulan purnama, saat bulan purnama, jalanan akan terang disinari oleh cahaya bulan, anak-anak sebesar Maura akan keluar ditemani orangtuanya menikmati cahaya bulan, mereka bisa melihat suasana yang berbeda di malam hari. Ada yang bermain kejar-kejaran ataupun hanya sekedar mendengarkan orangtuanya atau kakek neneknya bercerita sehingga semua orang menyukai suasana bulan purnama yang terjadi hanya satu kali dalam satu bulan”


“Ternyata suasana itu tidak hanya disukai oleh anak-anak dan orangtua saja, burung-burung pun menyukai suasana keramaian yang terjadi. Salah satunya adalah burung Pungguk, dia adalah burung yang selalu keluar malam hari untuk mencari makan, selama ini ia selalu saja sendirian kalau keluar di malam hari, tapi saat Bulan bersinar penuh saat bulan purnama ia punya teman-teman untuk menemaninya”


“Saat bulan purnama anak-anak akan bernyanyi bersama sambil meloncat-loncat Bulantok Bulantok Bulan Sagede Batok… Bulanting Bulanting Bulan Sagede Piring… Bulan sagede batok itu artinya bulannya gede kaya batok kelapa kalau bulan sagede piring bulannya gede kaya piring. Burung Pungguk sangat senang mendengar nyanyian anak-anak itu ia akan menimpali suara nyanyian anak-anak dengan suara pung-pung...nguk-nguk… pung-pung...nguk-nguk… Semuanya merasa senang dan ikut bernyanyi”


“Tapi makin lama anak-anak dan orangtua yang berkumpul semakin sedikit apalagi semenjak ada listrik masuk ke perkampungan, orang-orang lebih suka berkumpul di dalam rumah dan menonton televisi. Anak-anak juga mereka lebih senang bermain di dalam rumah karena lebih terang dan belajar di dalam rumah. Burung Pungguk pun merasa kesepian dia merasa sedih karena tidak ada lagi yang menemaninya saat bulan purnama datang”


“Akhirnya burung pungguk selalu naik ke atas pohon dan bernyanyi sendiri pung-pung..nguk-nguk...pung-pung … nguk-nguk memanggil anak-anak bernyanyi Bulantok lagi”


“Naaah itu sebabnya mulai sekarang kalau bulan purnama kita harus keluar rumah yaaa… trus nanti kita nanyikan lagu… Bulantok bulantok bulan sagede batok… Bulanting Bulanting Kita Nyanyi Dengan Nyaring…” Hasna tampak tertawa dan kemudian tampak menjadi diam.


“Jadi kalau ada yang bilang Pungguk itu merindukan bulan itu gak benar karena sekarang Pungguk udah gak merindukan Bulan lagi…. Pungguk sekarang cuma merindukan bulantok yaitu Mola yang montok yang bisa bernyanyi untuk Buna” sesaat ekspresi Hasna terlihat serius dan muram.


 “Jangan lupa kalau udah minum susu nanti minum air putih trus kumur-kumur yaaa… Buna sayang sama Mola dan Kaka Hujaan… Bulantok bulantok cintanya Buna buat anak yang suka petok-petok hahahhahaha….muachhhh” Hasna mengakhiri video dengan keceriaan yang dibuatnya.


Reza terdiam, ucapan Hasna yang menyebutkan kalau Pungguk sudah tidak merindukan Bulan lagi terasa seperti menohok hatinya, seperti mengatakan kalau Hasna tidak memperdulikan lagi dirinya.


“Mola udah bisa lagu itu…"tiba-tiba terdengar suara yang masih mengantuk disebelahnya.


"Ehh udah bangun sayang… Maura sudah hapal lagunya Buna yah” Reza langsung memeluk Maura. "Coba papi mau denger lagunya"


"Bulantok bulantok bulan sepelti batok ...bulanting bulanting janan lupa cuci piling….hihihihi” rupanya Maura sudah terbangun dan ikut menonton video itu sambil tidur di sebelah Reza. “Kata Iyang Mola musyti bantuin cuci piling syupaya bisa belsih belsih”


“Buna masih lama pulangna Papi?” Maura menatap Reza dengan penuh harapan. Reza tersenyum berusaha terlihat gembira di depan anaknya.


“Iya masih beberapa malam lagi.. Bunanya masih belajar di Jepang supaya nanti kalau pulang bisa cerita tentang Jepang sama Maura” Reza berusaha menghibur Maura agar tidak terlalu sedih.

__ADS_1


“Buna nanti kata kaka ujan bawa oyeh-oyeh Hello Kity tlus bawa Dolaemon tlus bawa Pokemon tlus bawa Totolo” Maura sudah menghitung semua oleh-oleh yang ingin dibawakan Hasna.


“Waaah banyak banget, nanti Papi gak kebagian” Reza menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Papi nanti dikasih pensil Hello Kitty” Reza langsung tersenyum, baginya lebih baik diberi piyama Hello Kitty yang dipakai Hasna lebih baik dari oleh-oleh apapun.


“Papi juga hapal lagu Bulantok… Bulantok bulantok bulan segede batok… bulantok bulantok Anak Papi makin montok” Reza langsung menggelitiki Maura, sesaat semua kegundahan itu hilang bersama gelak tawa Maura.


Tokyo


“Naaa… bangun. Ayo kita bersiap, kata Ka Arkhan kita harus sudah di statsiun Tokyo jam 9 karena akan memakai kereta Shinkansen jam 10. Perjalanan ke Sendai itu 2 jam dari Tokyo Statsiun karena kita akan diterima dari pihak universitas jam 2” Ammera membangunkan Hasna yang tidur lagi setelah subuh.


“Kamu ngedit video sampai jam berapa?” Ammera melihat Hasna yang masih duduk di sisi tempat tidur dengan tampang mengantuk.


“Sampai jam 1 cuma upload aja, udah ga sanggup ngedit-ngedit lagi cuma bacain cerita aja” Hasna menjawab dengan mata terpejam.


“Kamu kan udah banyak upload video kemarin, masa masih kurang sih?” Ammera tidak mengerti dedikasi Hasna untuk Maura yang sangat tinggi.


“Maura sangat suka dengerin cerita, lagi pula aku gak cuma bacain cerita tapi juga ngajak dia latihan baca iqro khawatir nanti dia lupa” Hasna bicara sambil terus memejamkan mata. Ammera melemparkan bantal yang langsung ditangkap Hasna. “Kamu mandi sanaaa… gak akan bisa buka mata kalau belum mandi” Hasna memeluk bantal sambil menggumam “Aku kangen sama anak-anak” Ammera tersenyum “kalau sama Papinya nggak?” Hasna sambil memeluk menggumam “Iya papinya juga” Ammera langsung tertawa “Hahahahahhah belum juga seminggu udah kangen katanya benci”


“Benci dan Cinta itu cuma dibatasi oleh kertas tipis Ammera, sekarang bisa cinta setengah mati besoknya bisa benci sampai mati” Hasna menggeliatkan badannya. “Semangat aahhh… hidup itu mesti disyukuri bukan disesali” Hasna langsung beranjak ke kamar mandi. Ammera tersenyum melihat sahabatnya yang tampak berusaha untuk move on.


Mereka sampai ke stasiun Tokyo jam 8, dengan mempergunakan JR Pass mereka hanya tinggal menunjukkan kartu itu dan bebas keluar masuk pada setiap line yang tersedia, ada beberapa jalur kereta yang tidak bisa mempergunakan JR Pass tapi untunglah bukan area yang mereka akan kunjungi.


Saat sarapan ternyata teman-teman yang lain sudah siap dan telah mulai makan. Hasna mencari menu yang bisa dimakan, kemarin ia tidak mempersiapkan makanan Indonesia seperti Ferdi yang membawa Rendang dan Abon, pikirannya terlalu fokus pada menyiapkan kondisi dirumah saat ia meninggalkan anak-anak. Dilihatnya menu makanan yang tampak pucat, beberapa jenis ikan yang dibakar, kacang, telur orak arik, telur dadar, salad, acar,  sup miso dan beberapa menu makanan lain khas makanan Jepang.


Hotel yang mereka tempati adalah hotel transit sehingga menu sarapan yang disajikannya simple dan penuh kalori dan protein tapi . Hasna membaca kalau orang Jepang terbiasa sarapan dengan menu penuh dengan protein di pagi hari tapi dengan porsi yang sedikit-sedikit. Hasna memperhatikan orang-orang Jepang yang makan di sekitarnya, tampak serius dan fokus dengan makanannya tidak memperhatikan orang sekitarnya bahkan seperti tidak peduli.


Saat ia mencoba menu makanan yang diambilnya tadi ia langsung merasa mual, telur orak-ariknya sama sekali tidak memakai garam hambar rasanya, begitu pula dengan ikan bakarnya sedikit terasa asin tapi dari kecap asin. Ia tadi tidak bisa mengambil sosis karena menu di hotel tidak dipisahkan antara halal atau haram. Semalam Kang Arkhan mengingatkan kalau sarapan ambil saja menu ikan dan telur sedangkan sup bisa makan sup miso. Ia melarang mengambil olahan daging atau daging.


Hasna berusaha menahan rasa ingin muntah, makanan yang bisa masuk hanya sup miso. Saat sedang berusaha mengendalikan diri tangannya ditepuk.


“Kenapa? Gak bisa makan yah?” Ferdi kembali sedang membuat rekaman di hapenya. Hasna sudah malas mengomentari.


“Disaat seperti inilah Rendang menjadi solusi praktisi” Ferdi menyodorkan Rendang dalam kemasan ke Hasna yang langsung tersenyum gembira.


“Makasih Ferdi, makasih banyak” Hasna langsung tersenyum gembira dan membuka kemasan Rendang. “Sama-sama cantik… makan yang banyak yah biar Bayinya sehat, Rendangnya kamu simpan saja persediaan nanti kalau mesti makan” Hasna tersenyum melihat mendengar perhatian dari Ferdi. Semenjak mereka tahu kalau dia sedang hamil semuanya melarang dia untuk membawa barang berat. Kopernya dibawakan oleh Randi, tas jinjing oleh Ferdi ia tidak menyangka teman-temannya kelompok wekwek bisa menjadi laki-laki yang penuh perhatian.


“Merra mau Rendang?” Hasna langsung menawarkan Rendang yang dimakan nya. Ammera langsung menggelengkan kepala “Enggak ..buat kamu aja, aku masih bisa makan makanan ini, masih dalam batas toleransi aku” Ia langsung menolak Rendang yang ditawarkan dan menyimpannya di sisi Hasna. “Simpan rendangnya baik-baik, kita masih lama disini, kamu mesti makan yang bagus”


“Aku gak nyangka kalau anak laki itu tidak semenyebalkan yang aku kira” Ammera melirik ke arah Ferdi dan Mark yang masih saja bercanda padahal ditempat itu orang-orang tidak ada yang bicara.

__ADS_1


“Merra jangan dibiasakan berbicara kasar pada orang lain walaupun kita sedang marah. Kamu tahu kan kalau aku tersinggung sama suami aku karena dia selalu berbicara  tanpa dipikir terlebih dahulu. Memang dia suka meminta maaf dan memberikan hadiah sebagai tanda penyesalannya tapi bukan begitu caranya” Hasna mengomentari Ammera yang suka berbicara pedas pada orang yang tidak ia sukai.


“Aku ingat waktu dulu ada yang bilang sama aku gegara aku suka ceplas ceplos ngomong kalau perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan orang yang menerimanya. Aku kira kamu lebih tau dari aku soal ayat dalam Al Quran” Ammera tampak dia, beberapa kali Hasna mengingatkan dia untuk tidak berbicara kasar pada teman-teman laki-laki hanya karena terlihat kurang serius dan fokus dalam belajar.


“Iya aku sadar, kalau aku sering bicara kasar, tapi yah kadang suka keceplosan gitu deh. Bawaannya kesel aja ngeliat mereka gak serius dan gak fokus kalau lagi kuliah, gak mikir apa kalau mereka itu bakalan jadi kepala keluarga mustinya fokus kuliahnya, secara kan yang seumuran kita banyak yang udah kerja tidak membebani orang tua. Sedangkan kita masih belum menjadi manusia produktif ditanggung orangtua kita” Ammera menunduk, ia sebetulnya merasa tidak nyaman karena perjalanan ini ditanggung oleh suami Hasna sedangkan ia sendiri merasa kesal dengan sikap Reza terhadap Hasna.


“Aku pengen balikin duit laki lu Na… aku tuh kesel sama dia, tapi sekarang gak bisa bayarinnya soalnya belum punya uang” Ammera menarik nafas kesal. Hasna tersenyum “Tenang aja Merra dijamin dia gak akan merasa kehilangan, justru dengan adanya kamu dia merasa tenang. Yakin gw tuh” Hasna mengacungkan jempolnya pada Ferdi yang menyorotnya dengan kamera sambil mengacungkan Rendang dan memberi isyarat “Rendang enaaaak”


Mereka akhirnya menyelesaikan sarapan jam 7.30 pagi, langsung bersiap untuk check out karena jam 8 sudah harus keluar dari hotel untuk naik kereta menuju station Tokyo. Hotel tempat mereka tinggal di hanya berjalan 10 menit menuju stasiun terdekat, berhubung sekarang masih pagi jadi pasti akan berjubel penumpang untuk itu mereka harus menjaga agar jangan sampai terpisah rombongan.


Dan betul saja saat sampai di stasiun ternyata kereta penuh. Arkhan menghitung ada berapa stasiun yang harus mereka lewati untuk sampai ke stasiun Tokyo.


“Kita berpisah rombongan di bagi dua, berempat-berempat. Tidak mungkin kita bisa masuk langsung berdelapan. Berpisah gerbong saja, kita akan melewati 4 stasiun sebelum sampai ke stasiun Tokyo. Jadi kita akan berhenti di stasiun ke lima. Perempuan dibagi 2, Nana kamu sama aku, Randi dan Mark. Ferdi kamu pernah ke Jepang jadi kamu bawa rombongan kedua barengan sama Ammera, Bian dan Sena” Arkhan langsung membuat langkah taktis. Semua mengikuti perintah Arkhan tanpa banyak protes Hasna langsung mendekat ke arah Arkhan.


“Randi kamu bawa koper Hasna, tas jinjing kamu berikan pada Mark. Di dalam kereta akan berdesak-desakan kamu harus ada di belakang aku pegangan sama jaket” Arkhan memerintahkan Hasna untuk mengikutinya. Kondisi Hasna yang hamil menjadikan dia prioritas utama dalam kelompok. Akhirnya saat kereta ketiga yang lewat Arkhan memberikan kode rombongan untuk masuk karena penumpangnya tidak terlalu berjubel.


Hasna melihat penumpang kebanyakan adalah pekerja, semuanya hampir memakai baju yang sama, beberapa tampak pemuda dengan pakaian yang nyeleneh dengan gaya yang berbeda. Tampaknya mereka mahasiswa, memakai jaket warna terang dan kaos. Sedangkan pekerja rata-rata memakai jaket dan jas di dalamnya dengan warna gelap. Tidak ada yang bicara di dalam kereta semuanya bermuka serius, ada yang asyik melihat hape, ada yang membaca buku kecil, ada yang memejamkan mata dan ada yang hanya menatap kosong entah ke arah mana.


Hasna menghitung mereka sudah melewati empat stasiun ia segera mencengkram jaket Arkhan yang langsung menoleh dan tersenyum “tenang aja gak akan ditinggalin, nanti suami kamu bisa ngamuk kalau kamu sampai hilang” Hasna tersenyum lemah, Arkhan tidak tahu kalau saat ini ia sedang bermasalah, tapi cukuplah permasalahannya antara dia dan suaminya saja yang tahu.


Begitu sampai di stasiun Tokyo semua turun dengan bergegas dan cepat, mereka terbawa oleh arus orang-orang Jepang yang bergerak tanpa jeda. Kalau mereka ingin berhenti menunggu rombongan harus mencari tiang atau minggir ke dinding kalau tidak mereka akan menghalangi orang yang berjalan.


“Hadoooh ini orang jalan kaya robot semua gak pake jeda atau ngobrol dikit” Bian langsung ngosngosan berjalan beriringan mereka akhirnya berkumpul setelah ditunggu beberapa saat.


“Pantesan mereka badannya pada langsing, aku liat jarang ada yang perutnya gemuk pada flat soalnya jalannya pada cepat” Ammera langsung bersender ke dinding. Arkhan tertawa melihat rombongan seperti yang kepayahan padahal baru berjalan beberapa ratus meter saja.


“Shinjuku Stasiun di Tokyo adalah stasiun kereta api tersibuk di dunia, disini ada 200 pintu keluar yang menghubungkan jalur pada pusat bisnis dan daerah di Tokyo jadi wajar kalau jam kerja seperti ini orang pada bergerak cepat” Arkhan memberikan kesempatan bagi rombongan untuk menarik nafas, “Kumpulkan JR Pass nya kita akan menukarkan dengan tiket kereta ke Sendai” semua orang langsung mengumpulkan JR Pass dibantu dengan Ammera.


“Ferdi kamu ikut aku, jadi nanti kalau ada tugas bawa rombongan lagi kamu sudah hapal” Ferdi tanpa banyak bicara langsung mengikuti Arkhan, Hasna menghela nafas dulu saat masih kuliah biasanya dia yang menjadi asisten Arkhan dalam berbagai kegiatan, tapi dengan kondisinya sekarang ia harus sadar diri tidak mungkin bergerak bebas seperti dulu. Ia harus melindungi bayinya agar tidak terlalu capek fisik. Kedepan pun ia tidak mungkin lagi akan membantu kalau sudah punya bayi, ada beberapa takdir yang harus disadari oleh perempuan. Hamil dan menyusui anak adalah fitrah yang harus diterima dan disyukuri sehingga kita harus menyesuaikan diri.


Ternyata mereka masing-masing diberi 2 tiket kereta berukuran sekitar 3x4 cm untuk nanti masuk gate tempat kereta api cepat Shinkansen. Di dalamnya tiket itu disebutkan nama kereta, gerbong dan nomor duduknya. Hasna tersenyum di Jepang sebutan gerbong adalah car menarik sekali. Akhirnya kereta Shinkansen yang mereka tunggu datang, mereka menunggu penumpang turun. Randi terlihat tidak sabar untuk segera masuk.


“Sabar Randi… setelah penumpang turun kereta akan dibersihkan dulu sama Oma-Oma yang sudah siap itu. Baru nanti setelah dikasih aba-aba kita bisa masuk” Arkhan menahan Randi yang sudah maju. Ternyata betul saja, setelah penumpang terakhir masuk petugas yang banyak diantaranya sudah tua tapi masih terlihat segar bugar ada juga yang masih muda membersihkan gerbong dengan membawa plastik, mereka juga menyiapkan kantung plastik saat penumpang kereta turun sehingga penumpang tidak membawa-bawa sampah ke dalam stasiun


Para petugas kebersihan itu bekerja dengan cepat ada yang menjadi komandannya mengawasi dan memberikan aba-aba. Begitu kursi penumpang sudah diganti arahnya mereka mempersilahkan penumpang masuk. Shinkansen yang mereka naiki adalah Hayabusa ini adalah Tohoku Shinkansen yang menghubungkan Tokyo dengan Aomori di Perfekture Aomori dengan panjang rute hinga 647 mil menjadi rute shinkansen terpanjang di Jepang. Sebetulnya ada shinkansen satu lagi yang bisa mereka pakai yaitu Yamabiko tapi shinkansen ini berhenti hampir di semua stasiun sehingga waktunya lebih lama untuk sampai.


Saat mereka berangkat jam 10.10 dan ternyata kereta langsung berangkat pada jam 10.10 tepat, luar biasa nanti mereka akan sampai di Sendai dengan nama Stasiun Aobaku Sendai. Waktu tempuh dengan menggunakan Hayabusa hanya 90 menit jadi mereka nanti akan sampai di Sendai jam 11.40 menit. Hasna sudah tidak sabar untuk bisa sampai di sana, udara di dalam kereta terasa hangat karena memakai pemanas sekarang sudah masuk pada musim dingin.


Tepat jam 11.30 pengumuman di kereta menyatakan bahwa dalam sepuluh menit kedepan mereka akan sampai di Sendai, penumpang yang akan turun di Sendai diminta untuk segera bersiap-siap karena kereta hanya akan akan berhenti tidak lama. Arkhan langsung membangunkan semua rombongan untuk bersiap. Bian yang sedang tidur langsung terbangun rupanya tadi malam ia tidak bisa tidur karena Sean ngorok...heheh ternyata perjalanan membuat mereka lebih mengenal satu sama lain.


Akhirnya pukul 11.20 mereka tiba di stasiun Aobaku Sendai.

__ADS_1


Hasna welcome to Sendai….


__ADS_2