
“Mau kemana?” kembali pertanyaan itu terucap saat Hasna beranjak pergi menuju pintu. “Mau solat di kamar” jawabnya sambil membuka pintu. “Kok gelaaap” Hasna langsung menutup kembali pintu, dia paling takut sama gelap, “iya kayanya Mbak Jumi tadi mematikan semua lampu, Aku yang nyuruh kalau gak ada siapa-siapa di rumah. soalnya Maura suka turun malam-malam ke kamar” jawab Reza pendek.
Hasna menoleh pasrah, “anterin lah ke atas?” ucapnya dengan memelas, ia belum pernah melihat ruang tengah gelap seperti itu. Reza yang duduk di lantai menunduk, berusaha menyembunyikan senyumannya mendengar suara Hasna yang begitu pasrah dan takut. “Aku cape..energinya lemah, katanya kalau manusia energi lemah suka gampang melihat penampakan mahluk halus… di tangga katanya suka ada duduk kata teman aku yang indigo” Reza menahan tawa sambil terus menunduk.
Ia tidak menyangka kalau istrinya yang selalu terlihat berani dan tidak mau kalah ini ternyata takut gelap. Orang yang takut dengan gelap biasanya suka membuat bayangan yang aneh-aneh tentang mahluk gaib. Hasna langsung menghampiri dengan cepat dan kembali duduk di depan Reza. “ahhh bohong yaaah…” ia langsung memegang tangan Reza, rumah ini memang besar sehingga terasa sepi kalau malam.
“Aku cape mau tidur” Reza berdiri tapi langsung ditarik oleh Hasna menjadikan dirinya sebagai tumpuan, ia tidak mau melepaskan tangan Reza. “Aku mau solat …” ucapnya sambil menarik tangan Reza, “yah solat aja, aku juga belum..” Reza berusaha membuat wajahnya sedatar mungkin, baru kali ini ia melihat muka Hasna yang terlihat panik. “temeniiin... “ suaranya sudah jadi perempuan manja dan merajuk lagi.
“Masa ke kamar mandi aja musti ditemani..” Reza menunjukkan pintu kamar mandi. “Aku gak pernah pakai kamar mandi disini...temenin” muka Hasna sudah memelas dengan mukanya yang pucat dan tirus. “Ayoo cepetan aku temani” Reza menolehkan pandangannya ke arah kamar mandi. “Mas… temenin aku ke atas lah… aku mau sholat di kamarku aja” Hasna merasa tidak nyaman dengan kamar Reza ia malah diam mematung.
Reza menarik nafas melihat muka Hasna sekarang terlihat menyedihkan, dampak alergi sudah mulai tampak di pipi dan lehernya, bengkak besar seperti digigit nyamuk dan merah. “Kamu memang sudah kuat kena air?..mukanya sudah mulai bengkak ..kok bisa jadi bengkak seperti itu” Reza jadi prihatin melihat lehernya yang merah diusapnya perlahan. “Iya tangan juga bengkak jarinya ini tiga” Hasna memperlihatkan tangannya yang juga membengkak seperti bayi. “Ya ampun sampai seperti ini” Reza kaget melihat tangan Hasna yang jadi menggemuk sebagian.
“Jangan kena air dulu.. Tayamum aja.. Kerasa sakit gak?” dilihatnya dengan prihatin. “Engga sakit cuma agak perih aja kalau digosok tapi agak gatal..biasanya aku minum obat alergi suka cepat hilangnya” Hasna menggosok-gosok tangannya yang terasa gatal. Reza langsung menahan tangan Hasna “Jangan digaruk nanti luka katanya perih” ia langsung mengambil kayu putih dan diusapnya perlahan sambil ditiup.
Hasna hanya melihat dengan cemberut suaminya “kalau aku sakit aja Mas Reza suka jadi baik” ucapnya kesal. “Masa kamu lagi sakit aku jahatin… lagi pula aku suka baik kok kalau kamu nya juga baik” balasnya. “Udah tua cemburuan kaya anak SMA malu-maluin” sambung Hasna sambil duduk kembali ke tempat tidur.
“Temenin ke kamar lah… plis” Hasna merasa tidak nyaman di kamar itu. “Ayo aku temanin, tapi janji jangan marah lagi sama aku.. Jangan nangis lagi nanti matanya bengkak ..kalau bengkak semua nanti jadi gajah… Maura nanti bingung kenapa Bunanya berubah jadi gajah” Reza meledek sambil mengulurkan tangannya. “Gak lucu…” Hasna cemberut kesal, “Jangan suka cemberut dibilangin… Gajah gak bisa cemberut nanti belalainya gimana kasian berat” Hasna langsung mukanya seperti ingin menangis, Reza jadi kasian antara ingin ketawa dan sedih melihat istrinya.
“Ahahahaha maaf..maaf jangan nangis….. Sayang ya ampun aku tuh sayang banget yaa sama kamu… biarpun keliatan jadi gajah juga gak apa-apa” maksud hati ingin menghibur tapi malah membuat Hasna ingin menangis “Ahaaaaaa...whaaaaaaa “ Hasna jadi menangis menelungkup di tempat tidur, entah kenapa dia menjadi sangat sensitif dan gampang merasa sedih. Reza langsung kaget padahal ia hanya menggoda istrinya.
“Ya ampun kamu kenapa jadi sensitif begini… kalau lagi kondisi drop seperti ini jangan menangis terus nanti alerginya makin nambah” Reza diusap-usapnya punggung Hasna. “Sudah jangan menangis lagi… nanti malah tambah sakit.. Kamu kenapa jadi begini?” Reza terlihat bingung, diusapnya rambutnya dengan perlahan. Ini seperti melihat anak perempuan yang teraniaya perlu dikuatkan karena sering diganggu oleh temannya.
“Solatnya di tempat tidur aja, sini dirapihkan rambutnya, pake hoodie nya supaya menutup kepalanya” Reza akhirnya merapikan rambut Hasna agar tertutup hoodie, “sekarang tayamum saja.. Aku juga belum solat.. Kamu solat ditempat tidur saja” Hasna mengangguk lemah, ia terlalu lelah untuk berargumen. Akhirnya ia mengqosor solat isha karena merasa sangat lemah dan mengantuk. Saat Reza menyelesaikan sholat isha nya ia melihat Hasna sudah meringkuk tidur di kasur.
“Sudah tidur?” Reza membetulkan posisi tidur Hasna, dipeluknya perempuan itu dalam satu kali rengkuhan. “Hmmm….” hanya jawaban pendek dari Hasna yang tampak nyaman dalam pelukan Reza. “Mulai besok kamu mesti banyak makan… aku gak suka perempuan ringkih kaya begini, kaya yang mudah patah” ucapnya sambil mencium rambut Hasna. “Ehmmmm..” Hasna menyembunyikan kepalanya dalam pelukan Reza, malam ini terlalu menguras energi.
__ADS_1
Pagi harinya Hasna terbangun saat tubuhnya diguncangkan oleh Maura. “Bunaaaa… kenapa tidul di bawah… buna kenapa pakai baju Papi” Hasna hanya bisa memicingkan matanya sedikit dan tersenyum lemah.
“Mauraaa…” ucapnya dengan serak. Ditariknya anak koala itu dalam pelukannya. “Buna sakit.. Maura pergi sekolah sama Papi yaa” Hasna masih merasa lemas dan matanya rasanya sangat susah untuk dibuka. “Ini hali Minggu… sekolah libuuul” Maura menarik-narik pipi Hasna.
“Jangan ganggu Buna.. Maura sarapan sama Papi” Reza yang baru terbangun langsung mengangkat Maura yang menempel ke badan Hasna. “Mau tidul sama Bunaaaa” Maura menolak dan berusaha memeluk Hasna. “Sudah gak apa-apa… nanti kalau lapar juga turun sendiri jangan dipaksa” Hasna masih memejamkan matanya yang terasa berat. “Alergi di pipinya sudah menghilang...kalau yang dileher masih merah” Reza menyentuh pipi Hasna perlahan.
“Maura jangan memegang pipi Buna kasihan sakit..lihat merah-merah” Reza memperlihatkan area leher yang terlihat masih merah. “Tangan buna sekarang gendut semuanya” Hasna memperlihatkan jari tangannya yang terasa bengkak. “Ihhhhhh...buna kenapa tangannya besal besal…. Mola mau kasih tau kaka” Maura langsung turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar.
“Mau ke dokter ga?” Reza tampak khawatir melihat tangan Hasna yang tampak bengkak. Hasna menggelengkan kepalanya, “gak apa-apa mungkin karena aku gak minum obat alergi.. Kondisinya suka tambah jelek kalau kondisi badan akunya gak bagus emang...mesti digerakkan badannya biar panas tubuhnya” Hasna mencoba bangun dan menyandarkan tubuhnya ke board di kepala tempat tidur.
“Mendingan kita ke dokter deh… aku jadi khawatir lihat kondisi kamu seperti ini” Reza menjadi tidak tenang, muka Hasna yang pucat ditambah dengan mukanya yang menjadi semakin tirus menjadikan istrinya tampak seperti anak kecil yang kehilangan ibu. Tak lama Hujan datang dengan Maura.
“Kenapa?” Hujan langsung melihat Hasna, “tuuh tuuh liat… tangan Buna gewde gewde kaya monstel” Maura menunjukkan tangan Hasna yang tampak membesar karena alergi. Hasna tertawa sedih mendengar tangannya disebut mirip monster, ia langsung merentangkan jari-jarinya bergaya seperti monster dan kemudian menangkap Maura.
“Malam aku bilang pipinya gendut kaya gajah kamu nangis, ehhh Maura nyebut kaya monster malah ketawa-ketawa… sensitifnya cuma sama aku” Reza memandang Hasna lekat, Hujan langsung menyambar “Papi emang gak sensitif… kalau aku lagi sakit alaergi disebut mirip Gajah pasti kesel juga, daripada disebut gajah mendingan disebut monster lebih lucu” ucapnya pedas. Reza hanya bisa melongo sejak kapan monster kesannya lucu bukankan monster itu mengerikan. Arghh sampai kapan pun laki-laki tidak pernah menang melawan perempuan.
Seusai sarapan Hasna langsung ke kamar, masih banyak tugas kuliah yang harus diselesaikan. Hari sabtu kemarin habis hanya untuk mempersiapkan diri mengikuti acara Private Party yang hasilnya hanya membuatnya sakit. Semester ini perkuliah tinggal satu pertemuan lagi, ini berarti semua tugas-tugas harus selesai, benar-benar seperti mengikuti lomba Marathon dan Halang Rintang secara bersamaan.
Seperti lari maraton karena kuliah dengan sambil memiliki keluarga itu harus menghemat tenaga jangan langsung digeber ingin idealis tapi habis di satu pos saja tapi harus menyimpan tenaga karena masih banyak pos yang harus diurus. Pagi-pagi menyiapkan anak-anak dan suami, siangnya kuliah menyerap energi juga, pulang kuliah sorenya menemani anak-anak. Malam hari kalau dimungkinkan menyicil tugas yang harus diserahkan, dan menjelang tidur menemani suami. Itu sebabnya tidak semua perempuan kuat untuk mengalami ini semua, dan Hasna tahu itu.
Jangan ditanyakan soal halang rintangnya, dimulai dengan anak yang rewel dan maunya dipagi hari, suami yang tidak mau tahu urusan anak-anak. Badan yang terasa seperti remuk habis digebuki, dosen yang sok-sokan idealis menuntut mahasiswa untuk banyak aktif dan membaca. “Konsekwensi anda yang ingin melanjutkan kuliah ke jenjang pascasarjana adalah kemampuan analisis..kalau hanya bisa menjelaskan secara deskriptif itu hanya otak sarjana” uiiihh pedes amat si Ibu mentang-mentang udah profesor, untung yang kena semprot si Ferdy tapi ucapannya membuat Hasna ingin memaksimalkan tugas-tugas yang dibuatnya.
“Aku kira kamu tidur? katanya masih lemes dan pusing” Reza masuk ke kamar sudah tampak segar memakai baju rumah. Hasna meliriknya dan kembali mengetik “masih banyak tugas yang belum diselesaikan..minggu depan ujian akhir semester, masih ada 3 tugas lagi yang belum beres” Hasna langsung menelungkupkan kepalanya di meja belajar.
“Jangan terlalu dipaksakan nanti malah jadi sakit lagi...badan kamu udah kurus gitu” ucap Reza sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur. “Ngomong memang gampang..bantuin kek gimana.. Perempuan sama laki-laki emang beda.. Coba dulu Mas Reza waktu kuliah S2 total waktunya buat kuliah gak dipakai buat ngurus anak istri...lah aku pagi ngurus rumah siang kuliah pulang ngurus rumah lagi” Hasna jadi mengomel seperti ibu-ibu di sinetron.
__ADS_1
“Kan itu keinginan kamu kuliah sambil menikah, kenapa jadi aku yang salah? Kalau gak kuat yah berhenti saja” Reza dengan entengnya memberikan saran. Hasna langsung mendelik “Berhenti yang mana? Kuliah atau menikah?” kali ini Reza yang langsung mendelik. “Kamu tuh kalau bercanda kadang-kadang suka kelewatan” ucapnya sambil melemparkan handphone di tempat tidur.
“Habis bukannya ngasih solusi malah nyuruh berhenti” terus terang dengan kejadian semalam ia merasa lelah menghadapi hari-hari ke depan.
“Kamu kurang memperhatikan diri sendiri, sarapan terlewat pasti makan siang juga suka terlewat sedangkan energi yang kamu butuhkan banyak. Jangan mengambil keputusan penting saat kita sedang dalam kondisi lemah” Reza beranjak dari tempat tidur, dihampirinya istrinya yang tampak sedih di meja belajar. “Lebih baik sekarang kita makan yuk.. Aku sudah suruh Pak Agus beli steak yang enak di restaurant langganan...kemarin aku lihat kamu menikmati sekali makan steak” Reza menarik Hasna berdiri.
“Tugas aku belum selesai…. Masih ada tiga lagi yang belum dikerjakan” Hasna menunjukkan 2 tugas yang sedang dikerjakannya. Satu tugas lagi dikerjakan bareng dengan Ammera sehingga bisa menunggu. Reza melihat tugas yang dikerjakan oleh Hasna, hmmm rupanya management project dan analisa kepuasan pelanggan. “Nanti dikerjakan setelah makan supaya ada tenaga, kamu kurus seperti ini nanti Mama akan marah sama aku” dipaksanya Hasna untuk turun ke bawah.
Sambil menunggu steak datang, mereka berdua menikmati ketenangan hari Minggu sambil menonton tv di sofa, ketenangan yang jarang-jarang mereka dapatkan karena biasanya selalu sibuk dengan anak-anak. Hasna tidur di paha Reza sambil menikmati tontonan variety show Korea yang sudah lama tidak ia tonton. Sedangkan Reza hanya bisa mengalah saat remote tv sudah menjadi milik istrinya, yang terpenting adalah melihat Hasna bisa tertawa-tawa sudah cukup. Kedepan waktunya akan kembali disibukkan oleh tindak lanjut kerjasama dan peningkatan kapasitas produksi di pabrik cabang.
Diusapnya leher istrinya bekas alergi sudah hilang hanya terlihat titik-titik kecil mungkin bekas garukan tangan. Hasna tertawa-tawa melihat variety show sampai tidak memperdulikan pesan yang masuk ke hp nya. Reza membuka pesan dan dibacanya informasi dalam pesan grup istrinya. Kaprodi “Bersama ini kami informasikan bahwa pada akhir semester ini, kami membuka kesempatan bagi mahasiswa yang ingin mengikuti studi banding ke Tohoku University yang akan dilaksanakan pada awal tahun depan. Untuk itu bagi mahasiswa yang berminat untuk dapat segera mendaftarkan diri agar dapat segera diurus visa kunjungannya. Itenary dan biaya perjalanan kami informasikan kemudian. Terima kasih”
Reza menarik nafas, kalau Hasna membaca ini pasti dia akan sangat bersemangat. Ia selalu ingin berangkat melihat suasana belajar di negara maju. Melihat kondisinya sekarang rasanya Reza tidak ingin membiarkan istrinya pergi, tapi kedepan akan semakin sulit bagi Hasna untuk bisa meninggalkan rumah. Apalagi kalau dia nanti hamil dan memiliki bayi, sudah dapat dipastikan ia tidak akan mengijinkan istrinya pergi.
“Kamu benar-benar ingin ikut studi banding ke Jepang” Reza langsung menanyakan inti permasalahan, Hasna yang sedang asyik menonton langsung kaget. “Haah.. studi banding apa ...hahahhahaha” ia kembali mentertawakan aksi lucu Kwan So dan kawan-kawan. “Aku tanya nih serius… kamu betulan ingin ikut studi banding ke Jepang?” kembali Reza mengulangi pertanyaan. Hasna menatap Reza yang memandangnya dengan lekat, sorot muka sedih terpancar di muka Hasna.
“Aku pengen banget bisa pergi kesana, apalagi katanya itu Universitas Kekaisaran ke tiga di Jepang terus masuk daftar 100 universitas terbaik dunia...tapi kalau gak ada teman aku kayanya gak jadi ikut..Mas Reza pasti ngelarang soalnya barengan sama Kang Arkhan” Hasna sudah merasa kalau kejadian tadi malam akan membuatnya semakin sulit mewujudkan impian ditambah dengan Ammera yang kemungkin tidak ikut karena sulit mengumpulkan uang dalam waktu hanya satu bulan.
“Kenapa sih laki-laki itu membenci aku sampai bilang kalau aku pura-pura berakting di panggung kemarin” Reza mendengus kesal. “Ihhh dibilangin aku gak percaya kalau Mas Reza berakting sama dia …tapi gara-gara Mas Reza jahat sama aku tadi malam, dia makin yakin kalau Mas Reza itu betulan akting… lah aku juga mikir yang sama kok jadinya...NYEBELIN” ucap Hasna sambil kembali membalik ke televisi dan cemberut. Reza tersenyum melihat istrinya. “Kamu betulan ngebela aku semalam di depan dia?” Reza merasa senang.
“Iyaa.. nyesel jadinya sekarang” Hasna melanjutkan menonton televisi sambil tidak memperdulikan suaminya. Diciumnya pipi istrinya dengan lembut, “Makasih yaaa… aku tahu kamu memang istri yang terbaik” ucap Reza sambil tersenyum. “Gak...gak akan jadi istri yang baik lagi..mau jadi istri nyebelin aja” Hasna mengosok-gosok pipi yang dicium Reza dengan cemberut. “Bener nihhhh… padahal mau diijinkan untuk ikut studi banding lohhhh…” goda Reza. Hasna langsung menengok ke arah Reza dengan terkejut..”Haaaaaaa…. Beneran Mas...benaran?” ia langsung bangun dan duduk.
“Beneran aku boleh ikut?” Hasna langsung memegang tangan Reza dengan semangat. “Ya boleh asal kamu ditemani sama teman perempuan kamu, supaya ada yang menjaga” sambung Reza. Hasna langsung menunduk lesu, “Tapi Ammera kayanya gak bisa ikuuut… dia gak bisa nyiapin uang dua puluh juta dalam waktu satu bulan ini… terlalu mendadak katanya” Hasna langsung terlihat sedih. “Aku yang bayar.. Asal kamu menjaga jarak sama Arkhan, jangan sampai terbawa sama ucapan dia yang negatif tentang aku”.
“Arghhhhhh…. asyik...asyikkk….aaaarhhh seriussss….hahahhahahahaha ..Mas Reza suami yang terbaik….hahhahahahaha” Hasna langsung meloncat ke pelukan suaminya, “Ahhh kamu tuh begitu dikabulkan aja keinginan bilang aku suami yang terbaik…. Aku iseng nyebut kamu gajah...langsung nangis nyebut aku jahat” Reza tersenyum sinis..”Iiihhh memang jahat kalau nyebut aku gajah mah…..tapiii muachhhh muachhhhhh...jahat tapi baik jugaa...muachhhh muachhhhh” Hasna langsung menghujani Reza dengan ciuman bertubi-tubi, membuat Reza langsung terjengkang ke sofa.
__ADS_1
“Ehhhh...maaf saya kira Tuan dan Bu Hasna tidak sedang pacaran… maaf saya mau menyimpan steak nya sajaa…. Permisi” Pak Agus lewat sambil membungkuk-bungkuk malu.
Hadeuuuuuh Pak Agus...Pak Agus…. Atuh kalau masuk rumah teh ketok-ketok dulu lihat-lihat yang punya rumah lagi ngapain… kalau tahu lagi nanggung lewat pintu pinggir aja...diem-diem...hadeeeuuuuh….suka gak ngerti aja.