
Hasna masuk ke dalam kamar, dilihatnya Reza sudah posisi wuenak di ujung tempat tidur ini alamat umpel-umpelan di kasur.
“Papi mau bobo juga?” Maura langsung mengambil posisi berbaring di sisi Reza. Hasna memberikan bantal yang kecil kepada Maura supaya minum susunya enak.
“Bobo sama Papi aja yah, Papi yang ceritaaa… Buna mau beres-beres baju”
“Ehhhhh aku ga tau cerita kucing beranak” Reza langsung bangun tidak siap membuat cerita.
“Ndaaa mau Papi celitanya nda lameee” Maura langsung protes.
Hasna tertawa melihat reaksi keduanya, bapak dan anak reaksinya sama.. lucu nya pake kebangetan.
“Ya udah atuh geser… ini kaya pindang aja umpel-umpelan penuh di kasur” Hasna membaringkan tubuhnya di kasur dan miring menghadap Maura.
“Minum dulu susunya, buna mau nginget-nginget dulu nama Kucing yang beranak banyaknya siapa” Hasna mengusap-usap perut Maura berharap anak itu segera mengantuk jadi dia tidak usah bercerita. Reza tertawa melihatnya.
“Susah yaaa, menceritakan sesuatu yang belum ada di otak” ia tersenyum sambil mengusap-usap tangan Hasna.
“Sudah tau susah bukannya dibantuin malah ngetawain” Hasna memejamkan matanya mencoba mencari inspirasi.
“Bunanya kok malah tidul?” Maura protes ternyata belum mengantuk dia.
“Ahhhhh ingat sekarang cerita kucingnya... Ini cerita tentang kucing yang bernama Maneki Neko… seekor kucing di Jepang”
“Haaahh kucing di Depang... ” Maura langsung menghentikan minum susunya dan duduk menghadap Hasna. Disenderkannya badan ke Reza dan memandang Hasna yang sedang bercerita.
“Ehhh kenapa bangun? tidur aja…” Hasna langsung mencoba menarik Maura yang bangun.
“Mau banun aja suka keseeyek..” Hmm ini anak sudah mulai bisa ngeles keselek segala. Reza tertawa mendengar anaknya sudah bisa menjawab dengan cepat perintah Hasna.
“Makin pinter kamu, jangan dibiasakan makan dan minum sambil tiduran yah, nanti keselek. Anak Papi makin pinter diajarin sama Buna yah” ucapnya sambil mengusap-usap tangan Hasna.
“Modus nyebut pinter padahal pengen usap-usap” Hasna mengalihkan tangannya yang ada di atas bantal yang diusap-usah Reza. Reza langsung menahan tangan Hasna.
“Ehhh jangan dipindahkan sini dipegang sama Papi nanti Buna nya jatuh” Reza bergaya penuh dengan perhatin. Maura langsung memperhatikan, dipegangnya juga tangan Hasna.
“Awas Buna nanti datoh.. “ dipegangnya tangan Hasna oleh kedua tangannya. Reza langsung tersenyum penuh kemenangan.
“Ga akan jatuh.. Udah lepas tangan Bunanya nanti susunya tumpah ke kasur” Hasna berusaha melepaskan tangannya dari kedua bapak anak itu, anaknya sih lepas soalnya masih pegang gelas susu, tapi bapaknya masih modus pegangin tangan, akhirnya Hasna biarkan.
“Maneki Neko adalah seekor kucing yang tinggal di Jepang, ia memiliki 4 warna di bulunya, warna putih pada sebagian besar bulunya, hitam, kuning dan abu-abu. Ia tinggal bersama seorang penjaga toko perempuan yang sudah tua tinggal seorang diri dan menjual kue dan roti”
“Nenek itu tinggal sendirian di toko hanya ditemani oleh Maneki Neko”
“Maura tau kenapa dia dipanggil Maneki Neko?”
“Nda...mola ga tau… mola cuma tau nama kucing Taiyo” Maura menjawab dengan polos sampai Hasna ingin tertawa. Yaiyalah Maura mana kamu tahu kan baru dengar ceritanya juga.
“Ia diberi nama Maneki Neko karena ia selalu berdiri di depan toko diam seperti patung..seperti ini” Hasna tiba-tiba duduk di kasur dan bergaya seperti kucing yang sedang duduk diam menatap kedepan.
Mata Maura langsung melotot heran.
“Kenapa dia diam sepelti patung?” Reza tersenyum melihat gaya Hasna seperti itu, istrinya tampak lucu dengan hidung kembang kempis dan rambut dicepol kebelakang.
“Dia membantu menjaga toko Oba Chan… itu nama panggilan bibi pemilik toko”
“Ia selalu berdiri di depan jendela toko melihat keluar, sesekali kaki Maneki Neko akan melambai-lambai tangannya ke depan seperti ini” Hasna menirukan gerakan kucing yang melambaikan kakinya kedepan.
“Kalau kaki kiri yang melambai itu berarti dia mengajak penduduk kota membeli roti yang baru dibuat oleh Oba Chan… Mereka akan masuk dan membeli roti karena itu artinya toko telah buka dan mereka akan mendapatkan roti yang harum dan enak”
“Rotinya enak kaya Buna” Maura tersenyum sambil memandang Hasna.
“Iya rotinya enak kaya Buna yaaa… mustinya Buna dipanggil Buna Chan...hehehe” Hasna terkekeh membayangkan dirinya menjadi pembuat roti.
“Terusin lagi yah ceritanya … tapi kalau kaki kanan Maneki Neko yang dilambai-lambaikan artinya Oba Chan sedang membuat roti yang baru dan ia berdoa agar roti yang dibuat Oba Chan membuat orang-orang menjadi kenyang dan Oba Chan selalu bahagia” Hasna berganti melambaikan kakinya ehh… tangan kanannya.
“Kaki kili Neko dipake buwat manggiy olang-olang supaya beli loti Oba Cang kalau kaki kanan Neko dipake buwat beldoa supaya Oba Cang bikin loti yang enyak dang sehat” Maura menirukan gerakan lambaian kaki dari Maneki Neko.
“Itu terjadi selama berbulan-bulan sehingga semua orang sudah hapal jadwal kapan waktunya membeli roti dari Oba Chan… sampai suatuuuu hariiiiii…..” Hasna membuat Maura langsung melotot kaget…
“Suatu hali kenapa Bunaaaa…..” Maura langsung kaget dan mendekat ke Hasna. Reza hanya tersenyum melihat keduanyanya, ia jadi asyik mendengarkan cerita kucing.
__ADS_1
“Tiba-tiba penduduk melihat kedua Maneki Neko melambai keduanya kiri dan kanan… haaaaahhh…. Kenapa kedua kaki kucing itu melambai bersamaan seperti ini” Hasna menirukan lambaikan kaki kucing kiri dan kanan.
“Kenapa Buna… kenapa kakinya melambey-lambey” Maura tidak sanggup lagi menahan penasarannya.
“Ternyata Oba Chan terjatuh di tangga rumahnya, karena Oba Chan tinggal sendirian, tidak ada yang tahu, kalau Oba Chan jatuh sakit… hanya Maneki Neko yang tahu kalau Oba Chan terjatuh…. Itulah sebabnya ia melambai-lambaikan dua kakinya meminta tolong penduduk kota untuk masuk”
“Penduduk kota masuk ke toko Oba Chan, tapi mereka tidak menemukan Oba Chan di tokonya, kemudian mereka memanggilnya”
“Oba Chaaaan…..Oba Chaaaan dimanakah kau…. Apakah kau tidak apa-apa… Kenapa kucingmu Maneki Neko memanggil-manggil kami …”
“Penduduk kota memanggil-manggil Oba Chan ke dalam rumahnya”
“Sayup-sayup terdengar suara Oba Chan…. “Saya disiiniiii dibawah tangga ….saya jatuuuh tolong sayaaa…. Saya jatuh dari kemarin tidak ada yang menolong sayaaa”
“Penduduk kota segera membantu Oba Chan dan membawanya kerumah sakit, ternyata kaki Oba Chan patah karena jatuh dari tangga. Untunglah ada Maneki Neko yang memberitahu penduduk kota tentang Oba Chan”
“Sejak saat itu penduduk kota semakin menyayangi Maneki Neko karena dia kucing yang baik yang bisa menjaga majikannya”
“Mereka selalu membawakan makanan untuk Maneki Neko sebagai bentuk rasa sayangnya pada kucing yang baik itu”
“Begitu ceritanya… “ Hasna mengakhiri cerita tentang kucingnya.
“Kok gak ada unsur beranak-beranaknya..” protes Reza sambil tersenyum.
“Gak bisa beranak soalnya Maneki Neko gak pernah ketemu kucing jantan” potong Hasna dengan ketus, punya suami ternyata menyebalkan, ia sudah tenang melihat Maura yang tampak puas dengan cerita Maneki Neko… eh malah diingatkan soal kucing beranak, ia kan tidak punya ide tentang beranak.
“Kenapa Buna Neko nya nda ketemu sama kucing lagi” Maura jadi penasaran… Hasna langsung mendelik kepada Reza langsung cekikikan di belakang Maura.
“Iya kalau kucingnya mau beranak dia harus punya teman dulu sama kucing jantan kaya Taiyo baru nanti bisa punya anak yang banyak… di desa itu kucingnya cuma ada satu” Hasna mencari alasan yang paling masuk akal untuk anak kecil.
“Nekonya musti bobo dulu sama kucing jantan baru nanti bisa beranak banyak” sambung Reza sambil cekikikan.
“Mas gimana sih malah ngomong gak jelas….” Hasna langsung memukul kaki Reza. Reza semakin senang melihat Maura yang kebingungan dan Hasna yang terlihat kesal karena ceritanya jadi salah arah.
“Kalau Maura pengen punya adik bayi Papi musti bobo dulu sama Buna… supaya nanti bisa punya bayi banyak” Reza semakin menjadi mengganggu Hasna.
“Nda boleh…. Papi nda boleh bobo sama Buna…. Mola ga mau punya ade baby… Buna bobonya sama Mola” Maura langsung memukul Reza, ternyata Maura masih dendam pada bayi yang dianggap akan menjadi saingannya.
“Ahahahahahah …” Hasna langsung tertawa melihat ekspresi Reza yang kaget mendengar larangan Maura.
Maura pun langsung loncat dari tempat tidur saat ditanyakan mau kemana, jawabnya mau mencari Taiyo supaya bisa melambai-lambai seperti Maneki Neko. Terbayang ekspresi Taiyo yang pemalas harus melambaikan kakinya yang gemuk.
Reza hanya memandang Hasna yang tampak sibuk di balik lemarinya.
“Kemarin saya ke kamarmu, kenapa isinya masih kosong seperti tidak pernah ditinggali sama perempuan” tanya Reza pada Hasna yang tampak sibuk dibalik lemari pakaiannya.
“Memangnya kamar perempuan seperti apa? Jangan samakan semua perempuan seperti perempuan yang pernah dikenal oleh Mas Reza” jawab Hasna pendek.
“Saya orangnya simpel, memakai barang sesuai kebutuhan. Tas yang saya pakai akan sama selama berhari-hari mau memakai baju merah, hitam, biru, kuning tetap saja tas yang dipakainya warna cokelat. Sering berganti tas malah sering ketinggalan barang” jelas Hasna.. Ia sedang mencari tas tempat menyimpan kameranya.
“Tapi baju kamu sangat sedikit, aku jadi merasa bersalah seperti kurang memperhatikan kamu” jawab Reza pelan.
“Kenapa merasa bersalah, aku aja biasa-biasa aja kok. Kenyamanan seseorang tidak diukur dari kepemilikan barang” jawab Hasna
“Sebagian barang aku masih ada di kost an, nanti akan dipakai Ghina kalau dia jadi kerja di Jakarta”
“Ya minggu depan aku sudah minta Aswin untuk wawancara Ghina” Reza memang sudah merencanakan agar teman Hasna bisa masuk agar istrinya punya teman untuk bercerita.
“Ada yang mau dibawa sekarang ke Jakarta?” tanya Reza melihat istrinya sibuk mengubek-ubek isi lemari.
“Poster GD Oppa boleh aku bawa?” Hasna langsung menghadap ke arah Reza. Reza langsung melotot.
“Gak… sudah saya bilang kamu itu menyukai dia sebagai laki-laki bukan karena karya musiknya” Reza langsung memotong tajam.
“Lalu kenapa kalau aku tidak boleh melihat poster GD Oppa tapi Mas Reza masih suka memandang foto Mbak Mitha” jawab Hasna keras, ia merasa diperlakukan tidak adil hingga sudah tidak lagi mempertimbangkan ia akan ketahuan telah masuk ke kamar Reza.
“Kemarin kamu masuk ke kamarku?” tanya Reza dengan tenang.
Hasna hanya diam dan menunduk, antara rasa kesal dan sungkan karena ketahuan masuk ke kamar Reza tanpa izin.
Reza menghampiri Hasna dan duduk di depan istrinya yang sedang bersimpuh di depan lemari. Diraihnya pundak Hasna mengharap ke arahnya.
__ADS_1
“Lihat aku… kemarin kamu masuk ke kamarku?” tanya Reza lagi dengan lembut. Hasna mengangguk sambil menunduk ia merasa malu untuk menatap Reza.
Reza memeluk Hasna, ia merasa sangat bersalah telah membuat Hasna melihat apa yang ada di dalam kamarnya.
“Maaf kamu jadi melihat isi kamarku dengan kondisi seperti itu. Kamu pasti kesal dan sakit hati yah” Reza mengelus punggung Hasna, dia merasa malu Hasna melihat isi kamarnya seperti itu.
Hasna mendorong Reza untuk menjauh, rasa sakitnya kembali terasa, matanya sudah berlinang lagi.
“Aku gak mau dipeluk lagi sama Mas Reza” Hasna berusaha mendorong Reza menjauh, tapi Reza tetap memeluk Hasna.
“Aku belum bisa mengeluarkan barang-barang Mitha aku merasa bersalah kalau menyingkirkan semua barang miliknya, aku merasa berkhianat” Reza mengeratkan pelukannya pada Hasna.
“Aku tuh benci sama Mas Reza… jangan suka peluk-peluk aku nanti aku jadi mikir kalau Mas Reza suka sama aku...lepasin...lepasiiin” Hasna terus berusaha melepaskan pelukan dari Reza.
“Aku gak bisa hidup tanpa kamu sekarang, semalaman aku gak bisa tidur memikirkan kamu, kenapa kamu gak mau melihat aku, dan kenapa kamu seperti benci sama aku” Reza akhirnya tersentak dari pelukannya dan melihat Hasna yang berlinangan air mata.
“Aku ngerti kalau Mas Reza gak bisa melupakan Mbak Mitha, itu artinya Mas Reza laki-laki yang baik” Hasna berputar memunggungi Reza ia tidak mau Reza melihat mukanya yang sedih.
“Aku juga kalau punya suami gak mau suami aku ngelupain aku” sambung Hasna
“Lah aku kan sekarang suami kamu Naaa.. “ Reza meraih pundak Hasna
“Bukan … aku masih merasa kalau Mas Reza itu suaminya Mbak Mitha, kalau aku ibu dari anak-anak iyaa…. aku sudah merasakan ikatan bathin dengan anak-anak”
“Tapi aku tidak merasakan ikatan bathin dengan Mas Reza sebagai suami” Hasna mengucap dengan lirih.
“Aku lebih merasa gampang mengadu sama GD Oppa daripada Mas Reza”
“Oppa …. Saranghae” ucap Hasna sambil memandang poster G Draggon. Reza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, suasana sendu langsung buyar saat Hasna mengucapkan saranghae pada poster di depannya.
“Ahhhh iya aku simpan di ransel ini” Hasna mengusap air mata di pipinya. Sudah cukup ia menangisi foto orang lain kemarin sekarang dia tidak ingin terpuruk memikirkan sesuatu yang hanya membuatnya sedih, tidak penting juga untuk dipikirkan.
Hasna menarik ransel berwarna biru. Ternyata di dalamnya ada perlengkapan kamera dan tripod kecil. Reza melirik kamera yang dipegang Hasna itu adalah kamera DSLR yang biasa dipakainya untuk memotret hanya saja beda merk dan punyanya lebih lengkap fiturnya. Ia sudah lama tidak pernah lagi memegang kamera semenjak kesibukannya bekerja menyita waktunya.
“Kamu suka photography rupanya?” tanya Reza.
“Iya aku dulu ikut klub di kampus, tapi udah hampir setahun gak pernah motret lagi”
“Kamu suka objek apa?”
“Aku suka foto yang makro.. Lebih detail, tapi aku juga suka fotoin temen-temen. Kang Arkan yang paling suka hasil foto aku. Dulu waktu wisudaan dia, aku yang fotoin dia. Sampai sekarang katanya hasil foto aku dipakai dia buat jadi profil di sosmed sama Linked dia”
“Mas Reza suka photography juga?” Hasna memandang Reza.
“Engga… aku udah gak suka photography menghabiskan waktu” jawab Reza cepat.
“Owhh… ya sudah, aku nanti cari partner buat nyari objek” Hasna beranjak berdiri meninggalkan Reza yang tampak bengong mendengar jawabannya.
“Partner apa maksud kamu?” ditariknya pakaian Hasna supaya tidak pergi meninggalkan dia dulu.
“Partner buat difoto… ada Maura Hujan dan banyak lagi… Mas Reza memang gak cocok jadi objek foto mukanya gak fotogenik dan gak ekspresif”
“Ekspresinya cuma satu marah, kesal dan emosi”
“Ehhh siapa bilang aku bisa jadi objek yang bagus… banyak yang bilang mukaku fotogenik” Reza berdiri menyusul Hasna, ia tidak mau kalau disebut tidak memiliki muka yang menjual.
“Gak … aku gak suka fotoin Mas Reza… mukanya bikin ilfill”
“Eh… kalau ingat kata ilfill aku jadi inget dulu janji Mas Reza…” Hasna berbalik dan tersenyum melihat Reza.
Reza langsung diam terhenyak melihat senyuman Hasna, senyuman yang penuh dengan tipu daya dan balas dendam.
“Dulu waktu akad kan bilang kalau aku dikasih uang mahar 1 milyar untuk aku bisa pakai kalau aku ilfill sama Mas Reza”
“Sekarang aku merasakannya… jadi aku sudah mulai bisa mencairkan uang itu sekarang”
“Hahahahahha lumayan bisa beli lensa kamera baru yang mahal” Hasna langsung meloncat
“Yessss…. Aku bisa beli lensa makro...hahahahha”
Reza hanya menatap lemah… anything for you lah… mau disebut jelek juga gak apa-apa yang penting mau ketawa lagi dan pulang bareng.
__ADS_1