Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Maharnya saya kembalikan !


__ADS_3

Reza PoV


Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat perempuan itu lari terbirit-birit saat kusinggung soal membuka ikat pinggang. Berani-beraninya kemarin menyinggung soal membuka ikat pinggang laki-laki saat aku sakit tidak berdaya, tersenyum seperti mentertawakan aku yang lemah sampai tidak kuat untuk berganti pakaian.


Melihatnya bisa merawat dan sabar membuatkan makanan membuat aku teringat pada Mitha, ia selalu bisa membuatku nyaman saat sakit. Ternyata Hasna walaupun masih muda tapi bisa memberikan kenyamanan yang sama, sikapnya selalu bebas dan sering iseng. Bisa-bisanya  bergaya keracunan kunyit saat suami sedang terkapar, kadang membuatku bingung aku menikahi perempuan atau komedian.


Melihat tangannya kuning karena noda kunyit membuatku terharu, ia sepertinya tidak memperdulikan penampilan karena tangannya jadi berwarna. Dan ternyata meminum ramuan itu membuatku cepat pulih hanya butuh 3 kali minum dan perih serta diareku langsung berhenti. Rupanya perempuan ini memiliki kemampuan menjadi dukun empon-empon.


Saat tidur di kamar menemaniku bersama Maura ia terlihat gelisah, beberapa kali merubah posisi tidur sehingga membuatku merasa terganggu. Aku jadi teringat perkataannya, ia merasa bersalah seperti tidur dengan suami perempuan lain katanya, aku jadi miris mendengarnya ini berarti kedekatan perasaan dia lebih besar kepada Mitha daripada kepada suaminya sendiri.


Melihat fotonya saat tidur dengan Maura menyadarkanku kalau selama ini aku tidak pernah memiliki foto khusus dengannya. Tapi dia juga seperti tidak memperdulikan apakah aku memiliki foto bersama dengannya atau tidak. Saat kulihat profil foto dia, semakin kusadari betapa beruntungnya aku dengan mendapatkan seorang perempuan yang muda tapi dewasa.


Hari ini saat mendengar kalau dia sudah selesai menemani anak-anak membuat paspor, muncul suatu perasaan untuk bertemu dan berkumpul bersama mereka, membayangkan dia dan anak-anak sedang berjalan bertiga di Mall membuatku ingin datang dan merasakan kebersamaan yang sudah lama hanya kulihat pada keluarga lain. Aku ingin melihat bagaimana reaksinya kalau aku merubah penampilanku seperti pria Korea idamannya.


Aku ingat beberapa teman Korea saat kuliah dulu senang memakai blazer dan celana slim dengan dalaman kaos polos, aku tidak mungkin memakai kaos saat ke kantor sehingga kuputuskan pagi ini untuk memakai kemeja putih polos. Saat datang ke Mall sengaja aku melepaskan dasi dan kaos kaki sehingga terlihat lebih casual look. Ternyata pancingku berhasil, dia tampak terpana saat melihatku di restaurant. Hahahhahaha mudah sekali memperdaya perempuan ini.


Ternyata keberaniannya untuk membuka ikat pinggang memang hanya sebatas omongan dan khayalan saja, tidak terbayang kalau aku menawarkan ini kepada Arcy mungkin sudah berakhir dengan desakan melakukan hal yang lain.  Saat aku keluar kamar, kulihat dia sedang asyik mengutak atik kamera dan mengambil beberapa foto Maura yang sedang menonton. Rupanya dia benar-benar suka photography, seperti yang dulu aku lakukan pada Mitha dan Hujan.


“Papi… Mola lagi jadi model foto Buna… kata Buna nanti mau dimasukin ke insaglam” anak ini benar-benar mengagumi perempuan itu.


“In… sta...grrraam” dia mengeja kata dengan perlahan, dan langsung diikuti Maura. “In..sa..glam…. Aku mau liat futunyaaaa” Maura selalu saja ingin melihat hasil foto kalau dia menjadi model, sejak kecil ia selalu aku biasakan memperlihatkan hasil foto yang kuambil kepadanya sehingga dia terbiasa mengecek hasil foto orang lain.


“Cantik nyaaa… anak siapa sih ini...cantik bangetttt…. Buna minta kecantikannya Maura sedikit boleh?” dia memang paling merayu orang lain dengan berbagai cara. “Boyeeeh… banak juda boyeehh… Mola puna banak tantikkkk ...Buna boyeh ambiy” dia terlihat tertawa-tawa senang dengan Maura, kuambil kamera yang dipakainya untuk melihat kualitas gambarnya. Ternyata dia memang bisa mengambil gambar dari sudut yang bagus. Maura terlihat sangat natural dalam foto ini, kulihat lensa yang ia pakai ternyata lensa khusus untuk pengambilan jarak dekat.


“Kamu suka pakai lensa ini?” tanyaku, lensa ini memiliki harga yang cukup mahal, hanya orang yang suka photography yang khusus membeli lensa ini.


“Iya salah satu lensa favorit aku, soalnya bokehnya dapet banget, hanya saja cuma bisa fokus sama satu objek” kuambil beberapa gambar pada Maura dan kemudian pada Hasna.


“Eh eh… aku gak suka difoto” dia langsung menutupi mukanya, ternyata memang orang yang suka dibelakang kamera tidak suka dia menjadi objek foto. Kupaksa mengambil beberapa foto lagi sampai dia marah.


“Massss… aku gak suka difoto… sini ah” dia langsung memaksa mengambil kamera.”sebentar aku mau lihat dulu hasilnya” aku berhasil melepaskan tangannya dari kamera, ternyata memang hasilnya blur karena Hasna tidak mau diam, berbeda dengan hasil foto Maura tampak lebih natural dan stabil. Ehh… apa nih foto wisuda siapa…


Ternyata memang benar apa yang dia katakan, dia mengabadikan foto wisuda  anak songong itu, ada banyak foto saat wisuda dia dan teman-temannya, laki-laki dan perempuan. Yang mengesalkan banyak foto anak itu, terlihat gembira dan sangat ekspresif di foto. Kegembiraan saat wisuda terpancar di wajahnya. Apa ini… kenapa dia mau difoto dengan dipiting lehernya oleh anak songong… mukanya sangat gembira...menyebalkan…. Aku langsung menghapus foto-foto yang ada di kamera. Untuk apa menyimpan foto laki-laki lain, sudah cukup poster G Dragon yang terpampang di dinding kamar.


“Ehhhhh lagi apa Mas…. ehhhhh kok hapus foto…. Arghhhhh itu foto-foto wisuda” dia langsung menarik kamera dari genggamanku.. “Masss aku belum sempat mindahin foto-foto ini ke laptop” dia langsung berteriak melihat memori foto telah kosong karena aku hapus.


“Jangan suka menyimpan foto laki-laki.. Kamu perempuan yang sudah menikah” kataku cepat, terlalu banyak memori yang berkesan dengan laki-laki itu.”Ini adalah foto-foto yang aku ambil saat wisuda teman-teman aku, gak cuma satu dua orang, tapi banyaaak… aku aku belum kenal sama Mas Reza dulu… kenapa menghapus kenangan yang aku miliki sama teman-teman aku” dia berteriak keras… perempuan ini berani berteriak di depan anakku.


“Kamuuuuu sudah berapa kali saya bilang jangan suka berteriak” ucapku keras… Maura tampak kaget dan melihat kearahku. Perempuan itu berdiri dan menunduk, mukanya tampak seperti ingin mengucapkan sumpah serapah tapi dia melihat Maura. Ia langsung berbalik dan naik ke kamar.


“Bunaaaaa…..” Maura langsung berlari untuk mengejar. “Maura…. Sini duduk sama Papi kita menonton film Barney” aku langsung meraih Maura, bisa kudengar dia membantingkan pintu dan menguncinya. “Mola maaau ke Bunaaa….” anak ini benar-benar sudah berada dibawah pengaruhnya.


“Buna sedang sholat magrib dulu.. Nanti setelah sholat Maura bisa main lagi” aku tahu kalau Maura pasti akan memaksa masuk ke kamarnya, aku takut kalau dia akan menjadi pelampiasan amarah Hasna. Sebetulnya kenapa juga aku menghapus semua foto di memori kamera itu, aku kan bisa saja hanya menghapus foto dia dengan anak songong itu, shitss.. Terkadang dengan perempuan itu  membuat pikiranku jadi pendek dan hilang akal sehat.


Sampai waktu makan malam Hasna tidak turun untuk makan, Maura terus merengek ingin naik ke kamar, aku pikir dia pasti akan turun juga pada akhirnya, pasti dia akan lapar. Tapi ternyata sampai jam 8 malam dia masih bertahan di dalam kamar, saat kulihat Maura asyik menonton TV aku pikir dia sudah lupa sehingga bisa aku tinggalkan untuk membawa hape di kamar dan mengecek beberapa pesan yang masuk. Ternyata karena harus mengalihkan perhatian Maura,  banyak telepon yang tidak terjawab masuk dan pesan-pesan dari kantor yang harus aku balas. Membuatku sibuk membalas pesan dan memberikan instruksi pada Aswin sekaitan dengan pesan yang dikirim. Sampai kudengar tangisan Maura dan teriakan Hujan.

__ADS_1


“Bunaaaaa whooaaawwwww……..Bunaaaaaaa” Maura terlihat menangis di depan pintu kamarnya, sejak kapan dia naik ke atas, tadi waktu ditinggalkan dia sedang asyik menonton. “Bunaa...bunaa… sudah tidur? Ini ade mau tidur sama Buna” Hujan mengetok-ketok pintu kamar.


“Woaaaaawww….. Bunanya dimalahin papiiiiii” arghhh anak itu malah mengadu pada kakaknya. Hujan langsung menatapku dengan tajam, dia selalu menyalahkan aku kalau berurusan dengan Hasna.


“Bunaa...Buna” aku melihat keduanya sibuk mengetuk pintu kamar Hasna, hufftt sampai semarah itu dia hanya gara-gara fotonya aku hapus. Saat aku memutuskan untuk naik dan mengetuk pintu kamarnya, tiba-tiba pintu terbuka.


“Maaf… Buna ketiduran…. Maura sudah makan? Kenapa sayang mengantuk yaaah” rambutnya terlihat acak-acakan dan matanya sembab, rupanya dia menangis hanya karena foto jepretannya dengan orang songong itu hilang. “Molaaa ngantukk mau bobo sama Bunaa…. Waaaaaaaaaa” anak ini semakin manja saja, sekilas kulihat dia melirik keberadaanku di anak tangga.


“Maura sudah makan? Buna ketiduran maaf” dia langsung menggendong dan membawanya masuk ke dalam kamar. Hujan tidak tampak mengikuti dia, ia berbalik dan hanya menatapku tajam tanpa mengatakan apa-apa. Aku tahu dari tatapannya kalau dia akan menyalahkan aku atas kejadian malam ini walaupun dia tidak tau apa yang menjadi permasalahan. Akhirnya aku putuskan untuk membiarkan saja masalah ini reda dengan sendirinya, terlalu banyak meminta maaf bisa membuat perempuan itu besar kepala.


Sampai kudengar dia turun dari tangga dan membuat susu untuk Maura di meja makan, dia tidak menyapa atau sekedar melihat ke arahku, mukanya lurus terfokus pada kaleng susu dan gelas minum.


“Maaf…” arghhhh kenapa malah meminta maaf, padahal sudah kuputuskan tadi untuk tidak meminta maaf, kenapa mulut ini tidak berkompromi hanya dengan melihat mukanya yang kusut dan dingin. Kalau didiamkan besok juga pasti dia akan membaik, perempuan ini kan paling mudah melupakan dan kembali lagi ceria.


Dia hanya terdiam, dan kemudian kembali mengaduk susu Maura, tidak terdengar jawaban apapun dari mulutnya. “Tadi aku sebetulnya hanya ingin menghapus beberapa foto saja tapi jadi kebablasan menghapus semuanya” ucapku lagi mencoba mencari alasan yang masuk akal, tapi tetap saja terasa memalukan untuk didengar.


Dia seperti tidak memperdulikan dan berjalan melewati aku, seakan-akan apa yang aku ucapkan hanya suara angin yang berhembus tanpa makna, shitssss…. Dia tidak tahu apa kalau aku harus merendahkan harga diriku untuk kembali meminta maaf kepadanya.


“Hasna… kalau aku bicara kamu harus mendengar dan menjawab” ucapku keras. Dia akhirnya berhenti dan berbalik. “Foto itu mungkin tidak berarti apa-apa untuk Mas Reza, tapi untuk aku foto-foto itu menjadi bukti kalau aku pernah memiliki orang-orang yang terbaik yang pernah ada dalam kehidupan aku”


“Aku baru tahu kalau menikah itu berarti harus menghapus hubungan pertemanan baik yang pernah saya miliki, membuat aku bertanya sehebat apakah pernikahan ini sampai bisa menggantikan dan menghapus semua hubungan itu” aku kaget mendengar ucapannya, aku sama sekali tidak berniat membuat dia berpikir seperti itu. Menghapus foto bukan berarti menghapus pertemanan kan… aku hanya bilang supaya dia tidak menyimpan foto laki-laki lain.


Ahhh kenapa jadi salah pengertian seperti ini, perempuan itu memang suka mendramatisir segala sesuatu, makanya memang jangan mengajak bicara perempuan yang emosi malah jadi semakin kacau. Akhirnya aku biarkan dia naik ke atas tanpa menjawab perkataannya, aku putuskan untuk tidur dan melihat kondisi esok hari.


Saat jam menunjukkan 10 malam terdengar ketukan di pintu siapa itu, Maura? Biasanya dia tidak pernah mengetuk pintu tapi langsung masuk dan menangis minta ikut tidur atau ditemani tidur di kamarnya. “Masuk…” ternyata Hasna..


“Saya memang tidak pernah memiliki uang sebanyak itu… uang yang paling banyak saya miliki hanya sampai 7 juta, itu uang yang saya tabung supaya saya bisa kuliah S2 tanpa membebani Ayah, berapa banyak lembaran uang 1 milyar tidak pernah saya bayangkan ada berapa tas kalau saya pegang”


“Tapi saya tidak mau uang ini, kalau demi uang ini saya harus menghapus semua yang saya miliki dengan teman-teman saya dulu, saya tidak mau kalau pernikahan ini membuat saya harus menuruti perkataan Mas Reza sebagai suami dan membuat saya tidak lagi memiliki hak untuk mengatur kehidupan saya sendiri”


Aku terperangah melihat kedatangannya yang tiba-tiba sambil mengacung-acungkan kertas deposito yang aku jadikan mahar pernikahan. Rupanya dia membongkar deposito dalam bingkai foto yang disimpan di kamarnya.


“Ini silahkan ambil, hidup saya adalah milik saya sendiri, saya sudah bisa membedakan mana yang baik mana yang salah. Saya tahu kalau soal tangungjawab dan kewajiban seorang perempuan yang menikah. Orangtua saya sudah mendidik saya dengan benar” dia menggunakan kata ganti saya, formal sekali untuk menekankan posisi kalau dia merasa tersinggung.


Dia meletakan dokumen deposito di atas kaki kasur dan meninggalkan kamar dengan cepat. Perempuan ini memang susah sekali diatur. Hufft aku tidak menyangka kalau urusan menghapus foto sampai menjadi masalah yang besar untuk dia.


Ok.. aku salah, tidak seharusnya tadi menghapus foto-foto yang ada di kameranya, ini seperti kelakuan Mama mengambil foto-foto Mitha dari kamar, bedanya foto Mitha hanya pindah posisi rumah sedangkan foto di kamera hilang dan tidak bisa dilihat lagi. Baiklah aku harus meminta maaf secara resmi dan berjanji tidak akan mengulanginya. Perempuan memang mahluk emosional.


Kuambil kertas deposito dan naik ke kamar atas, saat kucoba membuka pintu kamar ternyata terkunci. “Naaa… Hasna… buka pintunya aku mau bicara”...tok...tok…. “Hasnaa buka pintunya aku mau bicara…” tok..tok...shitssss. Perempuan ini benar-benar keras kepala… aku berulang kali mengetuk pintu dengan suara yang kubuat serendah mungkin supaya tidak membangunkan anak. Sampai akhirnya terdengar pintu terbuka, tapi bukan pintu kamar Hasna tapi Hujan yang keluar dan kamar dengan tatapan yang kesal.


“Makanya Papi jangan suka marah-marah… sudah dua kali masih saja seperti itu. Aku sudah biasa dimarahin Papi… jangan disamain sama Buna… dia kan baru kenal sama Papi” rupanya suara ketukan pintu ke kamar Hasna sampai ke kamar dia.


“Buna buka pintunya, aku gak bisa tidur ngedenger Papi ngetok-ngetok pintu terus.. Besok aku ada ujian” tok tok…. “Bunaa buka pintunya nanti ade bangun lagi”... tok tok… hanya dua kali pintu kamar Hasna langsung terbuka, menyebalkan...rupanya titik lemah perempuan ini hanya ada pada anak-anak. Khawatir mengganggu Hujan dan Maura membuat dia langsung membuka pintu. Hujan langsung masuk kembali ke kamarnya, entah harus berterima kasih atau menjewer telinganya atas ucapan pedasnya barusan tapi aku tidak ambil pusing yang terpenting pintu sudah terbuka.


Dia tampak sudah bergulung lagi di dalam selimut dan tidur menghadap ke dinding. Ternyata gaya perempuan marah selalu seperti itu. Membelakangi dan menutupi diri dengan selimut seperti menutup kesempatan untuk bicara. Kututup pintu kamar dan kuhampiri dia  dan duduk di sisi tempat tidur.

__ADS_1


“Bangun aku mau bicara” walaupun aku tau dia belum tidur tapi aneh rasanya bicara dengan punggung. Ternyata masih diam dan kudengar dia menarik ingus pelan-pelan, rupanya dia masih menangis karena kesal. Huffttt…. Reza kenapa jarimu tidak punya mata sih, coba kalau yang dihapusnya satu foto tidak akan ketahuan seperti ini...bodoh.


“Maaf… aku sama sekali tidak bermaksud menghapus apapun dari kehidupan kamu, tadi hanya ketidaksengajaan karena aku tidak berpikir panjang sebelum bertindak”


“Aku memberi kamu mahar 1 milyar bukan untuk menebus kebebasan kamu sayang, itu adalah uang yang ingin aku berikan kepada perempuan yang mau menerima seorang laki-laki yang sudah memiliki anak” Hmm… apakah akan berpengaruh kalau aku memanggilnya sayang, kalau dipikir-pikir aku belum pernah memanggilnya sayang. Ternyata badannya langsung bergerak tapi masih membelakangiku.


“Aku minta maaf, aku janji kedepan tidak akan melakukan hal seperti ini lagi, kamu boleh berteman dengan siapapun termasuk dengan anak song...Aaarkhaan” hampir saja aku menyebutnya dengan songong, pasti dia akan semakin marah.


“Aku tahu kamu bisa menjaga diri dan kehormatan sebagai perempuan yang bersuami, jadi jangan secepat itu memutuskan mengembalikan semua hak yang aku berikan kepadamu sebagai istriku” aku putuskan untuk mengusap-usap pundaknya, dan malah semakin membuatnya menangis..duuuh ya ampuun.. Reza mulut kamu kenapa gak bisa punya otak sih selalu terlambat kalau berpikir kalau memakai otak pusat.


“Sudah.. Sudah jangan menangis… aku jadi makin merasa bersalah… maaf yah.. Walaupun aku tahu tidak bisa membuat foto-foto kembali… aku benar-benar minta maaf” kali ini aku benar-benar merasa bersalah melihatnya menangis tersedu-sedu di bantal sambil membelakangiku” Arghhh perempuan ini selalu terlihat menyedihkan kalau menangis.


“Aku tetap mau berteman sama Kang Arkhan dan teman-teman yang lain” akhirnya dia bersuara.


“Ya tentu saja boleh.. Aku tidak melarang.. Boleh berteman dengan laki-laki lain asal kamu bisa menjaga diri” aku harus mulai belajar untuk bisa menahan diri mulai sekarang, perempuan ini memang berbeda dengan Mitha, dia sangat mudah bergaul dan berteman dengan lawan jenis. Masalahnya laki-laki sulit untuk tidak tertarik dengan dia, terlalu menyenangkan untuk hanya sekedar dijadikan teman.


Aku memeluknya dengan erat, ia masih saja tersedu-sedu, aduhh sampai sesedih itu rupanya. “Aku kesal pada anak itu” akhirnya aku tidak tahan untuk tidak mengaku kalau aku kesal dengan anak songong itu, supaya Hasna bisa mengerti.


“Dia suka memanggilmu dengan nama kecil Nana...Nana.. seakan panggilan spesial dia buat kamu” ucapku kesal.


“Kenapa kesal setiap orang kan berhak memanggil temannya dengan panggilan yang dia suka.. Aku suka manggil Aurel dengan panggilan Borel trus manggil Ghina dengan Ginong” ahhh dia memang perempuan tidak peka beda sekali panggilan Nana, dengan Borel atau Ginong… Nana itu seperti panggilan spesial.


“Aku...aku sebetulnya sudah punya nama panggilan buat kamu” ucapku ragu. Dia langsung menengadah mukanya masih basah dengan airmata. “Haaah.. Pasti nama yang jelek” ucapnya sambil cemberut… wah jangan-jangan dia sudah melihat nama panggilannya dihape sebelum aku ganti kemarin.


“Kamu tuh selalu saja berpikir buruk tentang aku ..sama seperti Hujan” aku menghela nafas, punya anak perempuan ternyata lebih berkiblat pada ibu sambung daripada Papinya sendiri. “Apa nama panggilannya” rupanya dia penasaran juga. “Hmmm tapi janji dulu buat maafin aku” ucapku… dia langsung melengos rupanya masih marah. “Ya sudah kalau masih marah gak akan aku kasih tau” dia itu paling tidak tahan kalau ada rahasia.


‘Ya udah aku maafin dikit..” jawabnya sambil kembali membelakangiku.


“Kalau seperti itu masih marahnya banyak dong.. Kalau marah jangan suka berpikir untuk mengembalikan semua pemberianku… jangan dilakukan lagi yah” ucapku sambil mengusap pundaknya.. Samar kulihat dia mengangguk. “Dokumen deposito aku simpan di meja belajar, simpan baik-baik itu milik kamu sepenuhnya”  ia membalik dan menatapku, rupanya dengan ucapan lembut lebih mudah untuk berbicara dengannya.


“Kamu mau tahu nama panggilan kamu?” tanyaku sambil tersenyum. Dia mengangguk, ku acungkan handphone ku “coba lihat sendiri” dia kemudian scrolling hape “gak nemu…” ucapnya bingung… waah dasar perempuan setengah otak padahal tinggal liat foto profil pasti ketemu. “Ya sudah kamu telepon saja nanti akan keluar nama kamu” usulku. Kemudian dia memijit hape dan keluarlah namanya.


“Apaan ini Pelipur Rara” dia langsung berkerut.. Dasar tidak peka..”Kan kamu itu itu pelipur lara aku” jawabku sambil tersenyum, dia langsung mencebik “Pelipur Lara bukan Pelipur Rara” ia berusaha mengkoreksi kesalahan yang aku sengaja “ kan nama kamu Hasna Humaira … kalau orang sunda katanya suka diulang namanya Humaira jadi Rara...hehehehhe” aku mengingat cerita dia tentang Oon Suroon.


“Gak lucu…” dia langsung tersenyum dan membalik membelakangiku, hmmm sudah membaik rupanya. Ok ini bisa dipeluk kalau seperti ini, aku sandarkan daguku di pundaknya. “Hmmm kalau memorinya kita bawa ke servis data mungkin bisa diambil lagi foto-foto yang tadi aku hapus” aku berusaha memperbaiki kesalahan tadi.


“Gak usah… tadi aku udah telepon Kang Arkhan, katanya foto-foto dari kamera udah dia save di laptop dia, nanti dia kirim link nya di drive”.... Shitsss… anak songong itu selalu ada di depan.


Kemudian aku melihat handphonenya. Aku jadi ingin tahu nama panggilan aku di hapenya sekarang apa? apakah masih Darth Vader.. diam-diam ku pijit namanya dan melakukan panggilan. Aku langsung melotot.


"Jurig"... apa itu ?


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2