Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Dejavu


__ADS_3

Siang ini aku kembali ke Jakarta. Mama memberikan dukungan moril dengan membisikkan akan selalu mendoakan kebahagiaan sedangkan dengan Ayah karena masih di kantor aku  hanya pamit lewat telepon saja, beliau berjanji akan menengok ke Jakarta kalau libur, kaya anak kecil saja ditengokin pikirku.


Meninggalkan rumah untuk kembali ke Jakarta seperti akan berjuang, berjuang untuk bisa bertahan pada keluarga baru. Terasa berbeda perjuangan dengan bekerja di kantor dulu rasanya tidak seberat sekarang, kalau di kantor ada teman kerja yang bisa mengarahkan dan membantu pekerjaan, tapi berjuang di rumah tangga yang baru ini, seperti masuk ke perahu yang sudah berlayar di tengah lautan, saat yang lain sudah tahu cara mendayung aku yang masih kebingungan mendayungnya bagaimana.


“Kenapa senyum-senyum sendiri” Mas Reza langsung curiga melihat aku yang senyam senyum gak jelas.


“Engga cuma lagi mikirin diri aku aja dalam pernikahan ini” jawabku, ku lirik Maura yang sudah tertidur di kursi belakang. Dia itu kaya aku gak sampai 5 menit di dalam mobil sudah tidur dengan pulas.


“Kalau pernikahan kan suka dianalogikan seperti mengarungi lautan dan pasangan suami istri mendayung bersama”


“Kalau pasangan single mereka memulai mengayuh perahu sejak dari dermaga, nah aku tuh takdirnya masuk ke perahunya pas udah di tengah lautan”


“Aku masih gak tahu gimana caranya mendayung di perahu ini, aku cuma bertahan supaya aku gak tenggelam aja”


“Kadang-kadang aku suka ngeliatin Mas Reza ikut ngedayung bareng ...hehe tapi Mas Reza nya cuma ngeliat aku sebagai penyeimbang perahu aja… supaya perahunya gak berat sebelah”


“Hahaha… miris banget aku” aku ketawa sedih tapi lucu, Mas Reza cuma diam.


“Mbak Mitha sudah tenggelam, tidak bertahan di perahu ini, Mas Reza butuh aku supaya bisa menyeimbangkan perahu dan anak-anak gak ikut tenggelam”


“Aku kan sudah bilang tadi kalau aku gak bisa hidup tanpa kamu, kemarin aku gak bisa tidur, di rumah terasa sepi” Mas Reza langsung menungkas.


“Hahaha iya gak bisa hidup tanpa aku soalnya aku berhasil menyeimbangkan perahu, asalnya Mas Reza musti menyeimbangkan sisi kiri dan kanan sendiri, sekarang dengan adanya aku bisa tenang, bisa duduk di perahu gak khawatir tenggelam”


“Bisa kerja ke kantor gak usah khawatir memikirkan Maura dan Hujan, rumah bisa diurus dengan baik”


“Kemarin aku tuh salah mengira dengan segala sikap dan sentuhan yang Mas Reza lakukan,  aku mengira sudah dianggap sebagai partner, padahal sampai sekarang aku cuman menjadi penyeimbang saja”


“Sudah aku bilang aku cuma butuh waktu”


“Sudah takdir aku musti masuk dan duduk di perahu ini… seperti dulu Mas Reza cerita soal ramalan garis tangan kalau garis takdir aku kuat banget… ternyata memang aku ditakdirkan harus bisa jadi penyeimbang setelah Mbak Mitha pergi”


“Kalau ini memang perahu Allah gariskan untuk aku naiki, aku akan mencoba bertahan dengan cara aku sendiri, tapi karena perahu ini milik Mas Reza, jadi mau tidak mau aku akan ikut kemana perahu ini pergi, sampai aku meyakini kalau kita  menuju arah yang sama” aku memandang laki-laki yang tampak serius menembus teriknya siang di Kota Bandung.


“Dan mulai sekarang aku tidak akan berharap apapun, tidak akan berharap kalau Mas Reza sudah melihat aku sebagai partner, aku cuma mau bertahan supaya bisa menjadi penyeimbang yang baik. Tidak akan lagi banyak berharap pada manusia supaya gak kecewa”.


“Don’t worry aku bukan tipe orang yang suka melow yellow. Kebahagiaan itu tidak dicari tapi diciptakan, siapa yang menciptakan ya diri aku sendiri, jangan mengharapkan kebahagian dari orang lain. Kita lahir sendiri dan mati juga sendiri” Mas Reza masih diam tidak menanggapi omonganku.


“Udah gitu aja, jadi jangan khawatir kalau aku bakalan pundungan lagi dan pulang ke rumah seperti kemarin. Aku akan bisa bahagia dengan cara aku sendiri… termasuk sekarang aku mau tidur ngantuk” ucapku sambil mulai mengambil posisi tidur.


“Oya cuman Mas Reza jangan kelamaan ngeliatin yang tenggelam soalnya kalau nanti ada yang ngajakin aku nyebrang pakai speedboat  jangan salahkan kalau tahu-tahu aku udah pindah...hehehehhe” sambungku sambil membungkus bahu yang terasa dingin oleh udara AC di dalam mobil.


“Kamu gak akan pernah bisa pindah ke speedboat, perahu yang kamu naiki sama aku ini kapal pesiar” jawabnya ketus.


“Titanic juga kapal pesiar Mas… tapi tetap aja jatuh tersungkur menabrak gunung es”


“Aku cuma minta waktu Hasna, kasih aku waktu untuk bisa melupakan semua rasa bersalah jadi aku bisa melihat kamu lebih baik” sambungnya.

__ADS_1


“Iya aku ngerti kok.. Cuma terus terang sulit untuk bersama dengan orang yang pikiran dan hatinya aku gak  tahu karena saat aku masuk ke kamar itu, aku baru sadar kalau aku gak mengenal Mas Reza…. Kedepan aku cuma ingin mastiin aja kalau aku gak membuang waktu aku sama orang yang gak semestinya aku temani” ucapanku tidak mendapatkan tanggapan apapun darinya. Sampai akhirnya aku tertidur selama sisa perjalanan.


Dan itu adalah pembicaraan terakhir yang kami lakukan sebagai manusia dewasa. Hari-hari berikutnya adalah kegiatan sehari-hari di rumah, mendaftar untuk kuliah dan mencari sekolah untuk Maura. Semuanya berjalan dengan normal, Mas Reza tampak mencoba menjaga jarak tidak lagi melakukan modus untuk memeluk atau melakukan aktivitas lain. Mungkin dia sadar tidak ingin membuatku menjadi menaruh harapan lagi seperti kemarin, sebelum dia sendiri yakin dengan perasaannya.


Kedekatanku dengan anak-anak semakin terasa menyenangkan, seperti menemukan teman baru yang lebih kecil dan bisa diisengin. Kadang aku merasa mungkin seperti ini kalau punya saudara perempuan. Dengan Hujan aku  punya teman untuk diskusi soal fashion dan makeup, dan dengan Maura aku punya boneka kecil yang akan menuruti apapun yang aku minta ia lakukan.


Hanya saja terkadang mereka suka berebut perhatian dariku, seperti malam ini saat Maura ingin ditemani untuk membuat playdough. Hujan bersikukuh agar aku menemaninya memakaikan kuteks yang baru aku belikan karena dia sudah menamatkan juz 20. Sudah lama dia ingin memakai kuteks itu tapi aku selalu melarang karena nanti akan menghalangi saat ia solat. Sampai akhirnya kemarin dia menstruasi dan malam ini menagih janji untuk memakaikan kuteks.


“Buna, aku kan cuma minta pakaikan kuteks sebentar saja gak lama, dari tadi bikin playdough terus sama ade”


“Iya sebentar kalau playdough nya gak diaduk dengan benar nanti malah jadi pecah-pecah gak bagus hasilnya” aku berusaha bicara dengan baik-baik. Anak ini memang gak sabaran kalau ada maunya, dari sejak magrib terus saja merengek ingin memakai kuteks di kaki. Padahal kan besok hari sekolah bagaimana kalau kaos kakinya diperiksa oleh gurunya, pasti akan dihukum karena memakai kuteks.


Aku mencoba membuat playdough dari bahan makanan sehingga tidak berbahaya kalau dimainkan oleh Maura, tapi ampun deh, kakaknya gak sabaran banget.


“Bunaaa … aku mau ngerjain tugas nih, playdough kan bisa diterusin nanti, aku keburu ngantuk” dan dia kembali merengek.


“Kaka ngerjain PR dulu nanti setelah PR selesai baru kita pakai kuteks di kaki” ucapku sambil menyabarkan diri, ini lagi adiknya malah terus menumpahkan pewarna sehingga jadi acak-acakan.


“Kalau kuteksnya dipakaikan nanti aku keburu ngantuk,  malah  kebawa tidur jadi hasilnya jelek ...aahhhh gimana sih” dan kembali anak petir ini memaksa sambil membanting-banting buku PR nya.


“Kakak kenapa sih gak sabar banget, Buna kan juga ini mencoba cepet bikin playdoughnya… sabar atuh tangan Buna kan cuma dua… jangan marah-marah gitu ah jelek” ucapku dengan nada lebih tinggi, mendengarnya membanting-bantingkan buku membuatku kesal.


“Bunaaa emang gak sayang sama aku…. Sayangnya cuma sama adeee…. Braaaaak” dia melemparkan buku dan kemudian diam kepinggir lemari dan menangis dengan menungkupkan kepalanya diantara kaki.


Melihat itu aku merasa seperti dejavu, kenapa aku merasa pernah melihat anak yang menangis dengan sedih di pinggir lemari dengan menelungkupkan kakinya seperti itu.


“Raa… rainaaaa….. Rainaaa” ucapku perlahan seperti panggilan Mbak Mitha pada Hujan yang berusaha menggapainya. Kenapa lagi perasaan sedih ini muncul lagi.


“Rainaa… jangan menangis seperti itu….. Kasihan Mami Mitha nanti menangis lagi melihat kamu menangis seperti itu” aku jadi menangis kenapa rasanya seperti mengulangi lagi mimpi itu tapi aku bisa menyentuh anak ini sekarang.


Hujan melihat kearahku dengan bingung, mukanya penuh dengan air mata.


“Buunaa ke..kenapa manggil aku Raina… cuma mami yang suka manggil aku itu…” ucapnya sambil terus menangis.


“Kamu kenapa menangis segala… kenapa kamu selalu menangis disitu…. Nanti kamu bikin Mami Mitha menangis lagi melihat kamu menangis seperti itu…” ucapku sambil mengusap air mata.


“Kamu duluu kenapa menangis di lemariii…. Disitu di pojokan itu dipinggir lemari ketutup sama tirai…. Kenapa kamu menangis disitu sendiri….” aku menunjuk pojokan lemari yang sekarang sudah diisi oleh rak buku.


“Buna tau dari mana aku menangis disitu… waktu dulu waktu Mami meninggal….whaaaaaaaa” dan anak petir itu kembali menangis keras sambil memelukku, akhirnya aku jadi semakin sedih dan menangis sesegukan bersamanya.


Maura tampak bingung melihat kami menangis berdua, ia mendekat dan matanya sudah menggenang dengan air mata.


“Bunaaaaaa napaaaa naniiis… kaka danan nanissss…. Mola nda akan main peydoh…kaka aja main sama Bunaaa” rupanya ia merasa bersalah merasa kakaknya menangis karena dia.


“Gak apa-apa Buna lupa mau cerita sama Kakak Hujan...kalau Buna sudah pernah ketemu sama Mami Mitha dalam mimpi” ucapku sambil memeluk dua anak perempuan ini.


“Buna ketemu sama Mami gimana, mami cerita apa?” Hujan memandangku sambil segukan akibat menangis tadi. Aku mengusap air mata di matanya, anak ini sudah besar, sudah berbeda dengan anak yang kulihat menangis dalam mimpi

__ADS_1


“Buna bermimpi 3 kali dengan Mami Mitha, yang pertama Buna melihat Mami Mitha bermain dengan kalian di taman, Maura masih bayi digendong oleh Mami dan Kaka sudah sebesar Maura sekarang”


“Tapi waktu mami meninggal aku kelas 5 SD aaa--aaku sudah besar” Hujan menjawab sambil segukan.


“Gak tau tapi mungkin dalam memori Mami Mitha kaka dikenang saat seusia Maura sekarang, mimpi yang kedua Buna bisa melihat lebih dekat dan Buna naik perahu, Mami memberikan Maura yang masih bayi untuk dibawa Buna, trus Mami mencari-cari kaka dan mengejar Buna supaya membawa Kaka”


“Buna ingat ucapan Mami dulu sama Buna… “Tolong Raina…. Tolong Raina sambil menyorongkan Kaka agar dibawa Buna untuk naik ke perahu… Buna membawa kaka ke dalam gendongan padahal Buna harus membawa perahu dan memegang dua orang anak, tapi perahu itu bisa meluncur dan meninggalkan Mami Mitha di tepian” aku berusaha mengenang mimpi itu.


“Kenapa Mami tidak ikut dalam perahu” Hujan menatapku dengan penuh harap, pikiran anak kecilnya memenuhi harapan akan kebersamaan dengan ibunya.


“Mungkin karena memang usia Mami Mitha hanya sampai disana Ka… dia tidak bisa menyebrang bersama kalian… perahu itu mungkin yang memisahkan kalian untuk terus hidup di dunia dan Mami Mitha sudah berada di alam keabadian”


“Molaaa ga tau Mami Mitha” Maura memandangku dengan pandangannya yang polos. Duhh hati ini kaya menclos sedih mendengarnya. Aku langsung memeluk bayi besar yang aku sayangi ini.


“Tapi Mami Mitha tau Maura soalnya Maura kan ada di perut Mami selama 9 bulan, makan disuapin sama Mami diperut, dipeluk sama Mami supaya Mauranya hangat” ucapku sambil memeluk anak koala.


“Tapi yang membuat Buna yakin untuk menjadi ibu kalian adalah saat mimpi yang ketiga yang membuat Buna selalu sedih untuk mengingatnya”


“Bun...buna masih bermimpi lagiii..”...sroookks… Hujan sudah mulai berhenti menangis tapi ingusnya masih meluncur di hidungnya.


“Mimpi yang ketiga itu yang Buna lihat lagi sekarang… kamu menangis di dekat lemari… tapi di pojokan situ… kamu nangis sendiri … kenapaaaaa” ucapku sambil mengucurkan airmata.


“Buna dalam mimpi melihat Mami Mitha menangis dan berusaha memegang kamu tapi tidak bisa… dia terus memanggil kaka… Rainaaaa….Rainaaaaa….tapi Mami tidak bisa memegang Kaka…. Kenapa kaka menangis disana sendiri” ucapku sambil kembali mengucurkan air mata.


“Mami ngeliat aku nangiiiis…. Buna… Mami ngeliat aku… kenapa aku gak melihat Mami megang aku…. Whaaaaaa…. Mami udah gak bergerak… aku goyang-goyang tapi Mami gak bergeraak Bunaaaaa…. Mami matanya merem kaya yang mati…. Aku panggil-panggil Mami tapi Mami diem ajaaaaaa….. Kenapa Mami bisa liat aku tapi aku gak liat Mami…. Bunaaaa….whaaaaaaa” Hujan kembali menangis sambil memeluk aku. Rupanya itu adalah saat dia melihat Mbak Mitha jatuh pingsan di kamarnya, mungkin saat itu Mbak Mitha telah koma.


“Kenapa kaka bersembunyi di belakang lemari?” aku sedih mengingat dia bersembunyi di belakang lemari dan menangis tersedu-sedu.


“Aku takut lihat Mami kaya orang mati… dan ternyata Mami memang matiiiii… Bunaaaaa whaaaaaaa”


“Kalau aaaakuu pulang sekoolah lebih cepat Mamiii gak akan matiiii…. Bunaaaaa whaaaa” ternyatanya anak ini menyimpan rasa bersalah.


“Ahhhh sayaaang bukan karena Kaka… Mami memang lagi sakitt… bukan karena Kaka … Kaka gak salah apa-apa…” Owhhh Ya Allah anak ini menyimpan rasa bersalah dalam hatinya selama bertahun-tahun.


Braaaaaakk… Mas Reza masuk dengan tergesa dan seperti bingung melihat kami sedang menangis bertiga.


“Kenapaaa… ada apa ini… kenapa menangiss” ia tampak bingung melihat kami.


“Papiiiiiiiii….. Aku gak bisa lihat Mamiiiiiiii….. Aku gak tauuuuuu….whaaaaaaaaa” Hujan berlari kearah Mas Reza dan menangis dipelukannya.


Aku cuma bisa menangis…. Tidak terbayang perasaan seorang anak yang harus melihat ibunya meninggal di depan matanya… terlalu berat untuk dirasakan…. Anak yang hebat.


**************************


Edisi banjir air mata kembali terjadi... heheheh maapkan soalnya memang musti dikasih tahu biar gak galak-galak anak petirnya... deterjen juga jangan suka galak kalau belum up... aku tuh sibuk banyak kerjaan. Yang sabar yah.. kalau sabar dan baik nanti dikasih double up...hehehhehe terima kasih atas komentar yang menyemangati untuk menulis saya sangat senang kalau tulisannya memberikan semangat dan inspirasi. Semoga kita semua bisa saling menginspirasi... Love u all


**************************

__ADS_1


__ADS_2