Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Supir Tembak


__ADS_3

Seminggu berlalu dengan cepat, dimulai dari menyiapkan kelengkapan paspor dan mendaftar untuk membuat dan ganti paspor. Ternyata surat dokumen kepindahan dan kartu keluarga belum sempat diurus selama ini, sehingga karena membuat paspor Hasna harus memindahkan alamat tinggal dan kartu keluarga menjadi bagian dari keluarga Reza. Saat dokumen kartu keluarga telah selesai dibuat Hasna termenung melihatnya, sekarang dia sudah hitam putih meninggalkan kerajaan air dan tinggal di negara api.


“Hasna Humaira Putri …. Istri” Hasna bergumam saat membaca Kartu Keluarga yang dikirimkan lewat ekspedisi ke rumah. Tinggal dengan keluarga Reza semua urusan telah ada yang menangani, ia hanya menyiapkan  dokumen lama, untuk urusan ke kantor pemerintah sudah ada yang handle. Besok ia dan anak-anak tinggal membuat paspor, segalanya begitu mudah.


Keesokannya Hasna langsung ke kantor imigrasi bersama anak-anak, disana telah ada staf Reza yang sudah menunggunya dan mengarahkan Hasna dan anak-anak untuk menjalani pemeriksaan dokumen dan pengambilan foto paspor. Tidak memakan waktu sampai 2 jam semuanya sudah selesai, sangat terencana rapi. Money talk, memang uang tidak menjamin kebahagian seseorang tapi untuk bahagia memang dibutuhkan uang hehehehehe.


“Kaka… ternyata cepat yaa..tau gitu kamu gak usah izin seharian sama sekolah” Hasna langsung menggamit tangan Hujan untuk segera keluar dari kantor Imigrasi


“Please deh Bun.. give me a break...sesekali libur gak apa-apa dong” Hujan langsung cemberut.


“Hahahaha… iya iya gak apa-apa..masih lama juga ke ITB nyah bolos sehari dua hari gak bikin kamu gagal ujian.. Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan dengan belanjaaa buat persiapan” Hasna langsung memilih untuk belanja keperluan berangkat ke Singapura. Sebetulnya ia hanya membutuhkan beberapa pakaian casual untuk bisa dipakai.


“Kamu butuh sesuatu buat dibeli Ka… Buna mau beli koper kecil buat Maura supaya belajar membawa keperluan traveling.” Maura belum pernah perjalanan keluar negeri, perlu disiapkan perlengkapan supaya ia tidak bosan.


“Hmmm gak lah palingan nanti aku mau beli barang kalau sudah di Sin..” Hujan memang anak pencinta fashion dan Hasna sangat mensyukuri itu.


“Aunty selalu mengajak belanja kalau aku kesana sama Grandma” Hasna langsung tersenyum, pasti Syana akan mengajak Hujan belanja supaya bisa ikut belanja bersama ibunya. Adik ipar yang cerdik, mirip sama Emran mungkin memang kalau bawaan adik selalu manja dengan kakaknya.


“Maura beli ransel kecil yang ada rodanya yah biar bisa dipakai buat sekolah juga” Hasna tersenyum pada anak koala yang sudah terlihat mengantuk, anak ini bangun dari subuh karena bersemangat untuk membuat paspor. Selama ini Maura tidak pernah diajak Granny ke Singapura karena belum memiliki paspor, tidak ada yang sempat menemani Maura membuat dokumen itu.


“Maura buat sekolah mau pakai tas gambar apa?” tanya Hasna, ia bingung melihat banyak pilihan tas.


“Mola mau tas beloda miney” waduuuh ternyata anak ini betul-betul pecinta Minnie Mouse.


“Wahhh ada gak yah… kalau Minnie Mouse agak susah juga” Hasna bingung.


“Kalau tasnya beroda tapi bukan Minnie gimana? Nanti kalau di Singapura nyari sama Aunty yang Minnienya yah” usul Hasna, Maura mengangguk setuju, anak ini memang mudah untuk diajak kompromi. Paling tidak kalau nanti Maura mau membawa kelengkapan permainan setiap orang akan membawa koper dan ia akan merasakan jiwa petualangan.


Tingting… terdengar notifikasi pesan.


“Sudah selesai paspor nya?” rupanya Paduka Raja selalu memantau dari kejauhan, Hasna merasa senang juga memiliki suami yang selalu memantau keberadaan diri dan anak-anaknya. “Sudah, lagi di Mall beli tas untuk Maura” setelah selesai membeli tas akhirnya ia memutuskan untuk mencari tempat makan bersama anak-anak.


“Sekarang kita mau makan dulu.. Mas sudah makan siang?” terpikir oleh Hasna tadi dia tidak sempat membuatkan bekal apapun. “Jangan lupa makan siang..nanti magh nya kambuh lagi ...fighting”


“Makan siang dimana aku menyusul kesana” ehhh ternyata ada yang jealous pengen ikutan main. Hasna jadi ingin ketawa sendiri, tumben-tumbenan mau kabur dari kantor. Dikirimnya lokasi restoran melalui pesan. “Aku pesankan yah makanannya jadi nanti Mas pas datang tinggal makan” Hasna langsung memesan makanan untuk Reza, gampang cari saja makanan yang mengandung kuah seperti dirinya.


“Papiiii” teriak Maura saat melihat Reza di pintu restaurant. Hari ini mereka makan di tempat dulu Hasna dan Reza pertama kali makan malam setelah bertemu di toko buku. Suara Maura yang cempreng langsung membuat Reza menoleh dan berjalan kearah mereka.


Hasna memang harus mengakui kalau suaminya terlihat tampan dan gagah dengan memakai jas tanpa dasi dan sepatu pantofel tanpa kaos kaki. Perasaan dia tadi sudah menyimpan kaos kaki di dalam sepatu yang akan dipakai suaminya. Reza mendekat sambil tersenyum pada Maura, hmm dasar anak kesayangan pasti didekati paling awal.

__ADS_1


“Maura beli apa? Katanya dapat tas baru” Reza mengusap-usap Maura yang langsung meminta digendong. “Jangan digendong sama Papi dong kamu tuh manja banget sih kan lagi makan” Hujan langsung mengecam saat Maura merentangkan kedua tangannya.


“Galak banget sih ka..” Hasna tertawa melihat ekspresi Hujan yang terlihat dingin, mirip bapaknya kalau lagi kesel. “Duduk Mas.. “ Hasna mengosongkan kursi disebelahnya, kemudian memberikan tanda kepada waiters untuk membawakan makanan Reza. “Maura makannya dihabiskan dulu sayang, baru nanti digendong sama Papi” Hasna memberikan tanda pada Maura untuk duduk kembali.


“Mola mau disyuapi sama Papi” ucap Maura yang tidak mau turun dari gendongan Reza, sudah mengantuk memang terlihat. “Tumben kok sekarang manja banget sama Papinya… kan mau sekolah sudah beli tas masih suka digendong-gendong” Hasna mengacung-acungkan tas baru milik Maura.


“Papi mola punya tas balu..kata Buna nanti bisa dipake syekolah sama jalan-jalan ketemu aonti” Maura langsung mengambil tasnya dan menunjukkan kepada Reza. Reza tersenyum dan langsung mengambil tas koper. “Wah bagus mau dipakai kemana? Kenapa gak beli yang Mickey?” ucap Reza sambil menatap Hasna, owh rupanya dari sini sumber fanatisme mickey dan minnie.


“Gak ada lah, mesti ke toko Disney khusus, nanti aja kalau di Singapura beli sama Aunty nya” jawab Hasna santai, dilihatnya kemudian Reza yang sibuk menyuapi makan Maura. Rupanya kenapa Reza menyusul mereka dia merindukan berkumpul dengan anak-anaknya disiang hari seperti ini.


“Gak penuh jadwal di kantor Mas?” melihat gaya Reza yang santai tampaknya tidak ada agenda yang penting di kantor.


“Hmm gak ada jadwal meeting, hanya memeriksa berkas dan surat saja sudah aku deliver sama Aswin” jawab Reza pendek.


“Perasaan tadi aku simpen kaos kaki di sepatu Mas” Hasna melirik pada kaki Reza di bawah meja.


‘Korean style ga usah pakai kaos kaki, celana slim, jas slim… cocok banget kan” ucap Reza sambil menarik blazernya kedepan.. Terlihat bangga pada penampilannya.


“Hahahahah Papi pengen bergaya kaya oppa korea Bunaaa” Hujan langsung cekikikan melihat Papinya. Reza tersenyum sinis “Kamu jangan kaget kalau nanti banyak teman kamu yang kagum liat Papi masih muda”


“Ajushii…. Papi itu umurannya udah cukup disebut ajushiii” Hujan masih mentertawakan Papinya. “Om Emran juga yang umurnya masil 20 an dipanggil ajushiii sama kamu” Reza langsung memelintir kepala Hujan sambil diuyel-uyel… Hasna tersenyum melihat interaksi keduanya. Semakin kesini hubungan keduanya semakin dekat, Hasna sangat bersyukur kalau Hujan bisa dekat dengan Reza.


Hasna ingat ia selalu memiliki Mama yang bisa menjadi teman bercerita, dan ayah yang selalu memantau keberadaannya dan memeriksa aktivitasnya saat mencuci mobil, ada Ka Angga yang selalu memantau dan menemaninya kalau ia pergi, dan Emran yang selalu menempel dan mengikutinya dengan alasan ingin ditraktir. Kalau dipikir-pikir memang menjadikan Ia tidak membutuhkan lawan jenis untuk bisa menjadi teman ngobrol.


Mungkin ini yang menyebabkan ia tidak punya teman khusus dari dulu, karena sebetulnya aktivitas berpacaran yaitu juru bicara, juru bayar, juru antar dan juru angkut sudah dipenuhi semua oleh keluarga. Mama jadi jadi bicara, ayah jadi juru bayar, Ka Angga jadi juru antar dan Erman jadi juru angkut. Lengkap sudah pikir Hasna, ia berpikir untuk bisa memenuhi kebutuhan Hujan sehingga tidak lagi mencari kedekatan dengan lawan jenis sebelum waktunya.


“Tuhhh lihat Bunamu itu dari tadi ngeliatin Papi sambil senyam senyum, pasti dalam hati kagum berat” Reza tersenyum sombong pada Hujan, sambil melirik Hasna. Hasna langsung tersentak lamunannya rupanya membuat mukanya penuh pandangan kekaguman pada Reza.


“Apaan sih..” Hasna langsung cemberut, dilihatnya makan Maura sudah habis disuapi oleh Reza, ternyata memang Ia ingin berkumpul dengan anak-anaknya. “Mas mau ada yang dibeli gak untuk nanti ke Singapura?” Reza menggelengkan kepala, “aku nanti hanya akan jadi pengawal saja, tidak butuh antribut BigBang” ucapnya. Ucapan Reza membuat Hasna langsung membulatkan matanya.. Kenapa tidak terpikir dari dulu. Hasna langsung mengambil hp dan berselancar mencari barang yang sangat penting untuk pergi konser BigBang.


“Kenapa kok seperti yang kaget” Reza penasaran melihat Hasna yang terlihat langsung sibuk dengan handphone begitu mendengar perkataannya. “Terima kasih sudah mengingatkan aku buat beli barang yang paling penting buat nonton konser” Hasna langsung menangkup pipi Reza dengan gemas. Ia sangat bersemangat saat melihat barang yang dicarinya ada dan bisa langsung dikirim sebelum waktu konser.


Hujan langsung tertawa “Buna pasti beli stick lamp VIP…..hahahhahahaha” Hasna langsung mengacungkan jempol. “Penting Ka… tanpa itu kita akan mati gaya” Reza hanya menggelengkan kepalanya, memiliki istri pencinta KPop menjadikan dirinya memahami beberapa hal tentang budaya mereka. Sampai akhirnya dia melakukan penelusuran gaya lelaki Korea dan berakhir memakai sepatu tanpa kaos kaki dan memakai baju slim fit.


“Ayo kita pulang, hari ini Papi bisa pulang lebih cepat” Reza langsung menggendong Maura. Semenjak menikah dengan Hasna, Maura tidak lagi mengikutinya ke kantor sehingga ia merindukan saat harus membagi waktunya dikantor antara pekerjaan dan merawat Maura untuk makan dan tidur siang saat harus ikut dengannya di kantor.


“Papi ga ngantol lagi?” Maura langsung memeluk Reza dengan erat, rupanya Papi dan anaknya saling merindukan tanpa mereka sadari. Hasna menatap lekat Reza yang tampak sangat kompeten menjadi seorang ayah, menggendong Maura di satu tangan dan membawa paper bag yang berisi tas sekolah Maura.


Sekali lagi ia teringat ucapan Mbak Jumi yang bersikeras kalau Reza adalah laki-laki baik yang tidak mungkin berselingkuh. Yah mungkin saja tapinya saat Mbak Mitha hamil ia mengalami khilaf apabila ada Ikan asin yang terus berkeliaran di depannya. Hasna mengingat betapa baju Arcy yang selalu seksi saat di kantor. “Makanya suami harus dibuat dulu kenyang saat dirumah jadi kalau disodori ikan dia gak akan tertarik paling cuma dimainin atau digigit saja bukan untuk dimakan” Hadeuuuh rasanya ucapan Mbak Jumi terngiang di telinganya.

__ADS_1


“Tadi dealer telepon besok mobil akan dikirim ke rumah, sudah datang sesuai dengan pesanan” Reza berbalik melihat ke arah Hasna yang mengikutinya dari belakang. “Haaah Mas tapi aku gak hapal jalan di Jakarta gimana kalau nanti aku tersesat” Hasna menunduk bayangan harus membawa mobil di jalanan Jakarta terlalu menakutkan baginya.


“Sekarang pulang kamu yang bawa mobil jadi kita latihan” Reza memberikan kunci mobil kepada Hasna. “Hahaahahah….nononono…. Buah naga dimakan bareng rambutan .. Abang tega kalau ade jadi supir cabutan” Hasna langsung menolak, bayangan membawa mobil mahal membuatnya gemeteran.


“Tenang aja, semua mobil di asuransikan jadi gak akan terjadi apa-apa” Reza langsung memberikan kunci mobilnya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Hasna yang langsung pucat. “Tolong nanti jangan ngebut-ngebut yah Mbak… Patuhi aturan lalu lintas” ledek Hujan yang berjalan menyusul Papinya dengan tertawa-tawa puas. Anak itu memang musti dikasih kesemek biar jadi bisa diemek emek.


Hasna menarik nafas panjang saat duduk di posisi pengemudi, disebelahnya Reza duduk dengan memangku Maura yang sudah tidur saat digendong oleh Papinya menuju ke mobil. Hufft syukurlah jadi tidak ada yang akan mengganggu konsentrasinya saat menyetir.


“Sebentar aku musti pasang seatbealt dulu meskipun di belakang, jaga-jaga nanti ada kekacauan di jalan” Hujan meledek Hasna yang terlihat nervous. “Kaka...kamu tuh bukanya mendoakan malah ngeledek terus sih dari tadi” Hasna langsung ngambek


“Hahahahah Buna Gambateeeee” Hujan memberikan semangat sambil terus memberikan ekspresi yang mentertawan. “Kalau sekarang kita semua selamat sampai ke rumah, besok Buna bisa nganterin aku ke sekolah” seakan-akan mengantar princes menjadi hadiah terhebat untuk Hasna.


“Gak mau enak aja nganterin Kakak ke sekolah...jauh itu, bukannya datang tepat waktu malah telat nanti gegara salah jalan...atau nanti pulangnya Buna gak bisa sampai ke rumah, ga tau jalan pulang” Hasna membayangkan betapa mengerikannya jalanan Jakarta yang banyak motor dan pengemudi mobilnya tidak sabaran disertai polisi yang beringas pada kesalahan marka jalan.


“Diam jangan berisik nanti Buna panik” Hasna mencoba memajukan mobil perlahan, mobil Reza yang Mercy ini adalah mobil matik sehingga lebih mudah dipergunakan. Tiba-tiba alarm mobil hidup mengingatkan Hasna terlalu dekat dengan trotoar parkiran. “Arghhhh bunyi apa itu” Hasna langsung panik.


“Kamu terlalu dekat dengan trotoar, mobil ini canggih memberikan warning kalau kamu terlalu dekat dengan trotoar” Reza menunjukkan di layar mobil kalau Hasna sudah melewati garis kuning dan mendekati garis merah. “Aaaahhh terlalu canggih mobilnya bikin panik ahhh… suruh nyetir aja mobilnya sendiri” Hasna langsung berhenti, belum juga keluar dari parkiran ia sudah keringatan.


“Jangan panik tenang aja” Reza mengusap keringat Hasna dengan sapu tangannya, ia kasihan juga melihat Hasna yang terlihat panik. “DIbutuhkan waktu untuk mengenal mobil.. Aku juga kalau ganti mobil perlu waktu untuk mengenal posisi mobil dengan jalan...ayo lanjutkan” Reza mendorong pipi Hasna untuk kembali melihat ke jalan.


Ternyata benar apa yang dikatakan Reza, Hasna membutuhkan waktu 10 menit untuk bisa membawa mobil dengan lancar menyeimbangkan antara rem dan gas mobil, setelah 10 menit berlalu Hasna bisa membawa mobil dengan lancar.


“Whahahaah Daebakk Bunaaa.. Jagoan ok aku suka cara Buna bawa mobil… besok Pa Agus bisa pensiun… Buna bisa nganterin aku ke sekolah” Hujan menepuk-nepuk pundak Hasna saat mereka memasuki rumah. Hasna langsung mendelik pada anak petir itu. “Kaka gak lihat baju Buna sampai basah saking tegangnya” Hasna memeluk kemudi saat mobil sudah berhenti, ternyata memang punggung Hasna sampai basah, Reza tertawa melihatnya.


“Kamu jagoan juga bawa mobilnya, sudah halus… ok tinggal nanti ngapalin jalur jalanan” Reza keluar sambil membawa Maura untuk ditidurkan, selama di perjalanan anak koala ini tertidur dengan nyenyak indikator pengemudi telah membawa mobil dengan baik.


“Massss aku gak mau bawa mobil ahhh” Hasna mengejar Reza ke dalam rumah.. Ia merasa sangat lelah membawa mobil. “Aku pake mobil online ajaaa” Hasna berusaha membujuk Reza supaya mengijinkannya tidak usah membawa mobil”


“Aku sudah belikan kamu mobil.. Katanya kamu pengen jadi subjek bukan jadi objek… sekarang aku memberikan kamu kesempatan untuk menjadi subjek” Reza tersenyum sambil menaiki tangga. “Massss atulah aku tuh orangnya banyak omong...jangan suka didengerin kalau aku banyak omong tuhhhh” Hasna terus mengikuti Reza yang menidurkan Maura di kamar. Sambil mengikuti Hasna masih ingat melepaskan sepatu Maura dan membenahi kasur agar nyaman ditiduri Maura.


“Massss..” Hasna kembali mengeluh..”Stttsss…” Reza melotot sambil mengarahkan kepalanya mengajak Hasna keluar kamar anak-anak. Hasna langsung diam dan mengikuti Reza keluar kamar. “Masssss…..” Hasna menarik tangan Reza ...Reza terus berjalan dengan santai seperti menikmati keputusasaan Hasna.


“Masssss….” Hasna mengikuti Reza ke dalam kamar… ia melihat Reza membuka sepatu. “Massss…” Reza membuka ikat pinggangnya. “Kamu mau terus disini….aku mau ganti baju..katanya kemarin nyobain buka ikat pinggang” Reza langsung maju ke depan Hasna.


“Ehhhhhh….. Arghhhh gak mauuuuu” Hasna langsung lari keluar.


 


 

__ADS_1


__ADS_2