
“Pihak Wedding Organizer sudah menunggu dari 15 menit yang lalu, sekarang saya minta kepada Nona Hasna yang sangat sibuk untuk meluangkan waktunya datang ke ruangan saya di Lt 9 untuk mendiskusikan mengenai rencana dan apa yang harus disiapkan untuk acara pernikahan nanti”
“Bagaimana cukup jelas untuk bisa datang ke ruangan saya” tutttttt… Reza langsung memutuskan hubungan telepon tanpa mendengar balasan Hasna
“Kutukuprettttttt”
“Astagfirullahalaziem… sabar ya Allah”
“Berilah hambamu ketenangan dan kesabaran dalam jiwa ini” Hasna mengela nafas, dia tidak boleh memperpanjang polemik ini. Reza adalah tipe laki-laki yang tidak mau kalah dan mengalah pada saat berdebat. Karakternya hampir seperti Kak Angga kalau sudah berdebat akan sulit untuk mengalah, lebih baik mundur untuk melakukan serangan balik saja nanti.
Biasanya orang kalau sudah marah-marah indikator sudah kurang gula dalam tubuhnya, diambilnya beberapa potongan kue brownies yang dibuatnya kemarin untuk dibawa ke lantai 9. Ada Pak Aswin, Pak Reza dan tamu dari WO 6 potong kue tampaknya cukup, bisa mengganjal sebelum jam makan siang.
Waktu sudah menunjukkan jam 11.30 belum jam makan siang, jadi ia pamit dulu pada Bu Rika khawatir nanti dicari. Mbak Maytha dan Mas Arya hari ini sedang ikut meeting dengan divisi lain.
Sampai di lantai 9 Hasna bertemu dengan Prita, gayanya sudah seperti Nenek Sihir saja langsung pasang muka asem.
“Mau ketemu sama Bu Arcy? Gak ada dalam agenda tuh” ucapnya sambil ketus.
“Bukan mau ketemu langsung sama Bos GM… gak pake lewat sekretaris dulu, Gw sih langsung dapat telepon… maklum staf kesayangan bos” ucap Hasna langsung. Nanggung digibahin mendingan langsung bikin kesel orang ini.
Prita langsung mendelik melihat Hasna melenggang berjalan masuk ke ruangan Pak Reza, tatapannya kalau dipasangin laser kayanya bisa langsung nembus ke lantai bawah.
“Siang Pak Aswin, saya diminta Pak Reza untuk ke ruangannya” Hasna langsung menyapa Aswin yang tampak sibuk dengan laptopnya.
“Ahhhh…. Mba Hasna dari tadi ditungguin sama Pak Reza sampai sudah marah-marah dan meminta saya untuk mengecek CCTV menanyakan posisi Mbak Hasna ada dimana”
Ya Ampun si Boz sampai meminta mengecek CCTV untuk mencari posisinya dimana. Pantesan tadi dia langsung nge gas.
“Lain kali kalau Pak Reza meminta untuk ke ruangannya segera lakukan yah, soalnya agenda hari ini penuh jadi beliau lebih tidak sabaran” ucap Aswin sambil berbisik-bisik, tampaknya Pak Aswin sudah kena”tembakan” Pak Reza.
Begitu Hasna masuk ke ruangan Reza tampak seorang perempuan cantik yang memakai setelan rok pendek dan laki-laki yang tampak macho memakai pakaian yang slim fit rambut klimis oleh pomade
“Ini kayanya pomade habis seperempat cup ngeliat rambutnya sampai mengkilat gitu” pikir Hasna, fokusnya pada laki-laki yang terlihat tersenyum dengan sangat lebar dan diplomatis, senyum basa basi yang sangat bagus. Kalau saja senyumannya dikurangi sedikit lebarnya terlihat lebih natural.
“Yah inikah calonnya Mas” ucap perempuan yang memakai terusan putih pendek. Hadeuuuh suaranya mengalun seperti piano.
“Ya perkenalkan ini Hasna, calon istri saya” ucap Reza tanpa melihat ke Hasna.
“Hadeuuuh si Om masih ngambek aja” pikir Hasna yang hanya bisa menarik nafas panjang.
“Maaf saya tidak tahu sudah ada tamu yang menunggu, karena tadi hanya diminta naik ke atas, tanpa penjelasan. Kebetulan saya sedang mengerjakan laporan jadi tadi pikirnya nanggung setelah laporan selesai baru saya menghadap Bapak” ucap Hasna mencoba menjelaskan alasan keterlambatannya.
“Saya tadi membawa brownies, sebentar saya tempatkan dulu dalam wadah, belum dibuatkan minum juga yah, kalau sudah mendekati makan siang kita suka kekurangan gula di dalam tubuh, bawaannya suka emosi hehehehehhe…” Hasna tersenyum sambil melirik Reza. Yang dilirik kalem saja tidak merasa.
“Biar saya buatkan Mbak Hasna” ucap Aswin cepat-cepat ia tadi lupa memesan minuman untuk tamu kepada office girl yang biasa membuatkan minuman.
“Gak apa-apa, sambil saya buatkan minuman, MBak bisa disiapkan bahan apa saja yang harus saya baca untuk pernikahan yah… eh maaf saya belum tau namanya… saya suka nyerocos terus”
‘Saya Angel.. Dan ini Anton”
“Ya silahkan Mbak Angel dan Mas Anton di siapkan bahannya sambil saya menyiapkan minum”
Hasna langsung membuat minum di mini kitchen yang diruangan Pak Reza, sewaktu terakhir kemarin dengan Maura dia melihat banyak perlengkapan tea setnya. Reza tampak diam masih cemberut, tapi sibuk dengan pad nya.
Begitu Hasna duduk ia melihat banyak sekali brosur yang harus ia baca.
“Mbak Hasna sudah set tempatnya dimana?
“Belum, tapi saya akan menikah di Bandung”
“Kami akan menikah di Bandung” Reza menyambung cepat
“Eh iya hehehehe menikah itu berdua yang bukan sendiri… kirain Pak Reza gak akan ikutan nikah...heheh” ucap Hasna sambil menjulurkan lidah.
“Dimakan Pak browniesnya.. Biar gula tubuhnya naik” ucap Hasna
Angel dan Anton tampak senyam senyum berdua, mentertawakan Hasna dan Reza.
__ADS_1
“Mbak Hasna lucu yah orangnya pantesan Mas Reza takluk, saya sudah lama menunggu-nunggu kapan Mas Reza mau membuka hati, padahal waiting listnya sudah banyak loh” ucap Angel pada Reza yang tampak lempeng saja sambil memakan brownies yang dibawa Hasna.
Belum sempat Hasna menjawab terdengar pintu terbuka dengan keras. Masuklah Arcy yang diikuti Aswin dari belakang dengan tergesa-gesa.
“Maaf Pak, Bu Arcy memaksa masuk”
“Ini Wedding Organizer untuk siapa Pak?’ tanya Arcy tanpa mengindahkan orang-orang yang duduk dengan Reza.
Reza menatap dingin dan berkata
“Sebelum masuk ruangan pimpinan itu paling tidak mengetuk pintu, kalau tidak mau mengikuti prosedur”
“Siapa yang akan menikah Pak” tanya Arcy tidak perduli dengan sindiran Reza.
“Saya yang akan menikah”
“Dengan Hasna” ucapnya sambil menarik tangan Hasna supaya berdiri.
Hasna langsung tersenyum dan mengangkat piring brownies
“Bu Arcy mau brownies… enak loh manis… biar hidupnya gak pahit” ... Uhuuuuuuuuk”
Hasna jadi ingat lebah gede yang suka nginterin kalau lagi kecil… trus kita teriakin “Pait...Pait... Pait. Dia benar-benar merasa meliat Arcy seperti lebah hitam yang selalu mengintari Pak Reza, daripada disengat mendingan teriakin…. “Pait...pait….pait”
“Kamu main-main ya Za... “
“Masa menikah sama perempuan kaya dia” Arcy langsung menunjuk Hasna tanpa tahu malu.
“Yang sopan kalau berbicara, dia calon istri saya, tunjukkan rasa hormat. Bulan depan dia akan menjadi istri dari GM disini dan menantu dari pemegang saham terbesar di perusahaan ini.”
“Walaupun ayahmu adalah pemegang saham yang besar tapi tetap saja kalah besar dengan yang dimiliki oleh keluarga kami” Reza langsung bersuara keras dan dingin.
Hasna langsung merasa tidak nyaman, adanya tamu dari luar membuat suasana di ruangan menjadi canggung.
“Mbak Angel dan Mas Anton kita lanjutkan diskusinya sambil makan siang bagaimana, mungkin Pak Reza ada yang perlu didiskusikan dulu dengan Bu Arcy” Hasna mencoba menengahi suasana tidak nyaman ini.
“Aswin tolong sampaikan kepada para manager kalau rapat siang ini diundur menjadi jam 3 saya harus menyelesaikan dulu urusan rencana pernikahan supaya bisa dibuat rancangannya minggu ini”
“Ayo Angel Anton kita makan siang di Restoran di Lantai 2 Gedung ini, makanannya enak” ucapnya sambil menatap Angel dan Anton.
Hasna tercekat melihat kearah Arcy yang tampak geram dan menahan marah kepadanya.
“Kamu menunggu apa lagi? Apa harus aku gendong?” tanya Reza pada Hasna.
“Ehh iya Pak.. saya ikut” Hasna langsung berdiri dan mengikuti Reza, hal yang paling tidak ingin ia alami saat ini adalah diam satu ruangan bersama Arcy. Dia sudah malas melakukan kontak fisik dengan Nenek Sihir itu, apalagi sekarang tampaknya ia dalam kondisi yang paling murka, khawatir mengeluarkan mantra jahat atau ramuan yang sulit untuk dilumpuhkan.
Reza mendahului berjalan menuju lift, Hasna terpaksa mengikutinya karena Angel dan Anton ditemani Aswin. Mereka bertiga seperti sodara kembar A semua pikir Hasna. Mereka masih membereskan brosur dan kelengkapan yang harus dibahas dengan Hasna.
“Pak saya gak bawa dompet” bisik Hasna
“Memangnya kamu nanti yang akan bayar makan siangnya, mencemaskan soal dompet” Reza masih cemberut.
“Kalau tadi kamu langsung datang saat saya telepon saya tidak usah memundurkan rapat siang ini” sambungnya lagi.
“Iya maaf, Bapak sih gak bilang ada orang dari WO nya, kan saya gak tahu”
“Bapak bapak katanya mau diganti panggilan mulai dari hari ini” sambung Reza
“Iya ini kan di kantor masa saya bilang Mas sama GM”jawab Hasna
“Makanya saya suruh berhenti bekerja, gak nurut juga”Reza menatap Hasna dengan kesal.
“Eh… memangnya berhenti kerja itu kaya berhenti seperti kuli di pasar. Gak mau kerja langsung pulang” Hasna langsung kesal karena Reza masih membahas hal yang sama.
“Bapak baca Company Code of Conduct gak sih, untuk berhenti harus mengajukan permohonan pengunduran diri secara tertulis selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal mulai pengunduran diri”
“Itu berarti saya baru berhenti bekerja beberapa hari sebelum Hari H Pernikahan Pak”
__ADS_1
"Makanya kenapa Bapak pengen menikah bulan depan kan bisa tahun depan atau 2 tahun lagi kalau bisa" ucap Hasna asal.
“Tidak bisa itu, aturan dari mana itu baru bisa berhenti bekerja setelah satu bulan pengajuan surat pengunduran diri. Saya akan rubah aturan itu”
“Ehh… mentang-mentang perusahaan punya sendiri, bikin aturan sendiri… ngeselin” Hasna langsung kesal.
Argumentasi mereka langsung terhenti karena 3A sudah datang,
“Bu Arcy nya gak ikut kan Pak Aswin supaya Quartet A?”
Reza langsung melayangkan pandangan kesal kepada Hasna.
“Heheheheh ya maaf Pak hanya bercanda kok… sampe segitunya mukanya, nanti tambah tua loh” Hasna berusaha mencairkan suasana.
“Besok saya buatkan brownies lagi yah, supaya gak kekurangan gula”
“Enak loh Mbak Hasna browniesnya... beli dimana? Kok beda sama yang suka dijual di outlet” ucap Anton saat mereka sudah masuk di dalam lift.
“Efek lapar kali Mas Anton heheheh.. Saya bikin sendiri Mas, gampang kok cuma pakai tepung yang sudah jadi, tapi saya kasih choco chips, kismis, telurnya tambahin, kasih susu dan supaya gak terlalu manis saya kasih havermut 1 cup selain lebih berserat juga lebih awet karena jadi banyak...hehehe ogah rugi saya orangnya”
“Wah itu sih jadi resep baru bukan kemasan instan lagi” ucap Anton
“Heheh segala sesuatu yang dibuat memakai hati selalu enak” ucap Hasna.
“Bapak mau lagi?” Hasna mengambil sesuatu dari saku bajunya.
“Apa?” ucap Reza sambil melihat ke arah Hasna. Masa Hasna membawa-bawa brownies ke dalam saku bajunya.
“Sarang” ucap Hasna sambil mendesah dan mengacungkan ibu jari dan telunjuknya membentuk hati seperti dalam drama-drama korea.
“Receh…” ucap Reza sambil keluar dari lift.
“Hahahahahahaha” Hasna tertawa terbahak bahak diikuti oleh Angel dan Anton serta Aswin.
“Hahahaha Pak Reza gak pernah digituin Mbak Hasna… hahahaha” Aswin tertawa-tawa senang, sejak tadi pagi dia kebagian kena marah terus karena mood Reza yang jelek.
“Kok kepikir sih ngasih lambang itu saat dia lagi marah seperti itu” Anton cekikikan melihat muka Pak Reza yang speachless melihat lambang cinta dari Hasna.
“Habis mukanya marah-marah terus, aku dari pagi udah kena marah terus, cape deh” ucap Hasna.
“Ayo cepatan nanti marah lagi bahaya” Hasna bergegas mengikuti Pak Reza.
Di meja restaurant Hasna langsung duduk disebelah Aswin seberang Pak Reza, dan langsung kena pelototan lagi.
“Hah kenapa lagi?” tanya Hasna sambil memandang Reza dengan tidak mengerti.
Reza mengarahkan pandangannya sambil melotot ke arah kursi di sebelahnya.
“Hah..” Hasna masih bingung, kursinya masih sama kenapa musti pindah.
“Maaf Mbak Hasna diminta duduk sebelah Pak Reza supaya mudah dalam berdiskusi” ucap Aswin sopan sambil menahan senyum, dalam hati Aswin sudah ingin ketawa melihat pandangan Reza yang kesal dan muka Hasna yang bingung tidak mengerti.
“Bukannya kalau pasangan itu berhadap-hadapan kalau duduk? Saya kira musti sebrang-sebrangan kalau duduknya” ucap Hasna sambil pindah duduk ke sebelah Reza.
“Itu kalau berdua Mbak Hasna, tapi kalau lagi banyakan, yang berpasangan biasanya akan duduk bersebelahan” jawab Angel sambil tersenyum. Ia melihat kalau Hasna sangat polos dan tidak banyak berpura-pura.
“Hehehehe maaf pengalaman hidup saya masih sangat awam dalam hal duduk berpasangan, terlalu lama hidup sendiri membuat saya berpikir semua kursi itu sama saja fungsinya untuk diduduki. Ternyata saat kita berpasangan kursi pun memiliki identitas” ucap Hasna bijak
“Lain kali bilang saja Pak kalau meminta saya duduk di sebelah Bapak, saya kan bukan paranormal yang bisa membaca pikiran orang” ucap Hasna
Reza hanya diam, hari ini dia merasa gampang terbawa emosi. Perempuan yang duduk disebelahnya ini benar-benar berbeda dengan Mitha. Selalu memiliki pemikiran sendiri dan jawaban untuk membalas semua perlakuan Reza kepadanya.
Hidupnya tidak akan sesederhana saat ia menikah dengan Mitha.
**********************************
Seperti saya bilang niatnya mau 1 episode tapi kepanjangan jadi lama direview, hingga saya potong jadi 2 episode. Ini bukan karena keraksukan menulis anggap saja tabungan. Jadi esok hari kalau saya sibuk dan gak bisa update anggaplah punya cadangan hehehehe. Stay safe and Keep productive yaaa... LoVe u All... Dont forget to vote, koment and like yaaaaaa...
__ADS_1
***********************************