
Reza PoV
Kegiatan hari ini dikantor lumayan memakan energi, setelah kegiatan merger disepakati dan ditandatangani rupanya semakin banyak hal yang harus dikoordinasikan dengan internal perusahaan agar mampu mengimbangi permintaan dari perusahaan di cabang luar. Lewat jam 7 baru akhirnya bisa pulang ke rumah, kemacetan di jalan sudah mulai terurai sehingga hanya memakan waktunya hanya 40 menit untuk sampai ke rumah.
Seminggu belakangan ini aku merasakan Hasna lebih banyak menghindari interaksi yang sifatnya personal. Dia tetap berusaha untuk memenuhi kewajiban sebagai istri dalam batasan yang dia bisa seperti menyiapkan sarapan dan makan malam. Tapi karena kesempatan bertemu hanya saat sarapan ia selalu membuatkan roti gandum kesukaan ku dan kopi di pagi hari.
Setiap hari melaporkan aktivitas anak-anak saat di kantor, dan pamit untuk ijin keluar rumah saat ia harus pergi untuk mendaftar kuliah. Akhirnya aku memberikan kebebasan untuknya memilih jurusan sesuai keinginannya, rasanya terlalu besar rasa bersalahku padanya setelah mendengar apa yang ia ungkapkan kemarin saat pulang ke Jakarta.
Aku merasa menjadi orang yang paling egois dengan memintanya untuk terikat dalam pernikahan tapi tidak memberikan hak yang seharusnya ia miliki bersama pasangan. Saat menggodanya dan melakukan kontak fisik dengannya aku sering lupa diri dan menikmati saat berdekatan dengannya, dia terlihat lucu dan lugu. Tapi aku langsung sering merasa bersalah sesudahnya..apakah aku masih berhak untuk menikmati kebersamaan dengan perempuan lain setelah apa yang aku lakukan pada Mitha.
Kalau sekiranya diberikan kesempatan untuk bisa bertemu kembali dengan Mitha aku cuma ingin meminta maaf, atas semua kebodohan dan keegoisan yang dulu kulakukan kepadanya. Keegoisan untuk memintanya melupakan semua mimpi-mimpinya dan mengikuti mimpi milikku, kebodohan untuk tidak mendengarkan keinginannya menghabiskan waktu bersama lagi saat ia hamil Maura, kebodohan tidak mendengarkan ceritanya saat ia menangis di telepon, kebodohan mematikan telepon saat rapat dan semua kebodohan itu harus dibayar dengan penyesalan seumur hidup yang tidak pernah habisnya.
Setiap minggu di makam Mitha aku hanya bisa meminta maaf berulang kali, tapi entah kenapa tidak pernah merasa menemukan kedamaian dalam hati. Kenapa tidak pernah merasa dimaafkan dan bisa melanjutkan kehidupan lagi.
Sesampainya di rumah tidak aktivitas apapun di ruang keluarga, tampaknya anak-anak sudah beraktivitas di kamar. Sayup-sayup ku dengar suara Hujan menangis keras, ditimpali suara Hasna dan isakan Maura. Kenapa ini mengapa mereka semua menangis dengan keras.
“Papiiiiiiiii….. Aku gak bisa lihat Mamiiiiiiii….. Aku gak tauuuuuu….whaaaaaaaaa” Hujan berlari kearahku dan menangis saat aku membuka pintu dan masuk ke kamar.
Aku bingung kulihat Hasna juga menangis sambil memeluk Maura.
“Kenapa … ada apa? Apa yang terjadi”
“Mam..mami ternyata melihat aku waktu aku datang dari se..seekolaaahh...mamiii mang..manggil akuuuuu… taaapiii aaaakuu nya gaaak liaaat Mamiiiiiii…. Mamiiiiinya uuudah meninggal whaaaaaaaa” Hujan terus menangis sambil tersedu di pelukanku… Apa ini kenapa dia malah mengingat lagi kejadian itu.
“Kenapa kamu jadi ingat lagi kejadian itu...Papi kan sudah bilang Kakak gak salah apa-apa mustinya Papi yang ada di rumah waktu Mami sakit, tapi Papi malah pergi bekerja” aku jadi merasa sakiiit sekali melihat dia menangis lagi seperti itu.
“Whaaaaaaa….Mamiiiiiiiiiii….. Aku mustinya puuuupuulang cepaaaat” Hujan menangis semakin keras. Hasna tampak kaget melihat Hujan menangis semakin keras.
“Kakaaa….. Sudah jangaaan nangis seperti itu kasiiian Maminya… nanti semakin sedih kalau Kaka nangis seperti ituuu” Hasna berusaha menyadarkan Hujan yang terus menangis keras.
“Papiiiiiiiiii whaaaaaaa…… molaaa ga taaau mamiiiii” Maura jadi ikutan menangis memeluk kakiku.
“Kakak… istigfar… hayooo istigfar…. “ Hasna menarik Hujan dari pelukanku dan memegang mukanya untuk menatap dia.
“Istigfar…. Tarik nafas… jangan seperti ini… kasian sama Maminya”
“Tarik nafas sekarang…. Tarik nafass lagiii…… istigfar….. “ Hasna terus menuntut Hujan untuk menarik nafas. Maura menangis tersedu di gendonganku, terus terang aku bingung harus bagaimana menghadapi keduanya.
Hujan tampak mulai tenang, Hasna mengambil air minum dan menyuruhnya minum.
“Mami makanya datang ke mimpi Buna supaya Buna bisa menemani kaka sama ade disini”
“Sekarang Mami Mitha sudah tenang disana, tugasnya Kaka adalah mendoakan Mami setelah selesai sholat dan mengaji karena doa dari anak yang sholehah seperti Kaka dan Ade yang akan sampai dan membuat Mami Mitha bahagia”
“Ngerti gak Kaka?” dia memegang pipi Hujan, suaranya seperti menghipnotis Hujan untuk mendengarkan dan meyakinkan Hujan.
"Mola sukak soyat sama ngaji ikkklo" anak kecil ini menatapku dengan mata penuh dengan air mata, betapa aku sangat mencintainya.
“Kenapa Mami masih melihat Kaka menangis dulu?” sambil tersedu Hujan bertanya dan melihat Hasna, rupanya dia menceritakan soal mimpinya kepada Hujan, apa perlunya coba dia menceritakan soal mimpi itu kepada mereka, aku jadi merasa kesal.
“Buna gak tau Kak, mungkin saat itu Mama Mitha belum meninggal arwahnya masih ada di dunia tapi sudah tidak bisa berinteraksi dengan Kaka. Itu sebabnya ada hadist yang menyatakan larangan bagi orang yang masih hidup untuk menangisi atau meratapi orang yang meninggal karena itu menjadikan mereka menderita”
“Jadi Kaka jangan menangisi Mami, kita doakan saja. Kaka tau gak kalau perempuan yang meninggal saat dia melahirkan maka ia mati syahid”
“Kakak tau mati syahid itu apa?” Hasna masih terus mengajak bicara pada Hujan, Maura tampak mulai tenang dan memperhatikan mereka berdua.
“Hmm orang yang meninggal kemudian mendapatkan pahala yang besar sehingga bisa masuk syurga” Hujan sudah bisa menjawab dengan tenang.
__ADS_1
“Iya betul Mama Mitha melahirkan Maura dengan perjuangan hingga meninggal dalam keadaan syahid… indah betul hidupnya husnul khotimah”
“Seorang perempuan yang baik, yang menjadi Mama dari Raina dan Maura, berakhir dengan kehidupan yang baik husnul khotimah” ucapan perempuan itu terasa menusuk pada perasaanku. Semakin membuatku merasa seperti laki-laki yang tidak berguna yang sudah menyia-nyiakan istri yang sudah mengorbankan masa mudanya untuk aku.
“Molaa...molaaa ga tau Mami…” Maura turun dari gendonganku dan mendekati Hasna.
“Iya tapi Mami kan tau Maura, Mami pengen Maura hidup menjadi perempuan yang cantik, suka menari dan bernyanyi”
“Besok kita ke makam Mami yah… kita nanti cerita sama Mami kalau Kaka Raina dan Maura sekarang sudah besar, sudah semakin cantik, semakin pinter”
“Semua pengorbanan Mami tidak sia-sia karena kalian sudah menjadi anak yang hebat” dia masih terus meyakinkan anak-anak.
“Sini peluk Bunanya” dia terus memeluk anak-anak bersamaan.
“Papi sinih peyuk” Maura menatapku meminta untuk memeluk mereka semua. Akhirnya aku mendekat dan memeluk mereka. Kerengkuh mereka semua dan satu persatu kucium dahinya, terakhir kurengkuh pundak Hasna dan kucium pelipisnya.
“Terima kasih sudah menemani dan merawat anak-anak dengan baik” ucapku sambil merengkuh dirinya dan kemudian mencium kepalanya, ada perasaan damai yang kurasakan setelah seminggu ini perasaanku diombang ambing oleh perasaan bersalah.
“Ayoo katanya mau main kuteks” Hasna tiba-tiba berdiri dan melepaskan pelukan dariku. Ia kemudian meraih peralatan makeup yang ada di meja.
“Mola juda mau dikultek..” Maura langsung melepaskan pelukan dariku dan menghampiri Hasna.
“Kamu main playdough sana, ini kuteks punya kaka…”srotsss… Hujan masih beringus setelah menangis keras tadi.
“Mola nda mau main peydoh mau dikultekin” kembali anak ini muncul keras kepalanya.
“Sudah-sudah jangan ribut lagi atuuuh… kalau kalian ribut Buna mau tidur di kamar aja sendiri” perempuan itu langsung berdiri, ternyata dia sudah punya kemampuan tawar menawar dengan anak-anak.
“Jangan-jangan…”srotsss” Buna tidur sama aku malam ini, ade boleh dikutekin setelah aku” Hujan langsung memegang tangan Hasna yang sudah berdiri.
“Buna bobonya sama molaaa….” dan kembali anak kecil ini selalu menginginkan apa yang diinginkan kakaknya.
“Mola tidul sama Papi nda apa-apa …” hahahaha ternyata sekarang hanya jadi pilihan kedua.
Malam itu mereka bertiga menghabiskan waktu dengan bermain kuteks setelah acara tangisan yang membuat aku melihat Hasna dengan pandangan yang berbeda. Dia memang masih berusia 25 tahun tapi kedewasaan berpikirnya melebihi usianya bahkan mungkin melewati aku. Akhirnya aku meninggalkan mereka karena hanya menjadi nyamuk.
Jam menunjukkan hampir jam 10 malam saat Hasna turun dan mengisi wadah air minum anak. Dia hanya melirikku dan tidak mengucapkan kata apapun, biasanya dia selalu menyapa dan menanyakan keinginanku.
“Anak-anak sudah tidur?” tanyaku
“Sudah, tinggal Maura menunggu tidur dengan papinya” Ia beranjak meninggalkanku
“Kenapa tadi kamu menceritakan soal mimpimu dengan Mitha, cukup lama bagi dia untuk bisa melupakan trauma itu” perempuan itu langsung berhenti di ujung tangga, kemudian dia berbalik menghadapku dan menghampiri, tatapan matanya menjadi tajam dan serius.
“Aku tidak berniat untuk menceritakan mimpi itu kepada anak-anak. Tadi dia merajuk dan menangis seperti yang kulihat di dalam mimpi, sama persis hanya beda ukuran tubuh saja. Sampai aku kaget dan ingat pertanyaan yang ada dalam pikiranku saat mimpi itu”
“Kenapa dia menangis di pojok lemari sendiri? Aku tanyakan itu kepadanya ternyata itu adalah saat Hujan melihat Mbak Mitha mengalami koma”
Aku hanya terdiam mendengar jawaban dia. Kemudian dia berbalik lagi saat telah beranjak pergi.
“Aku lupa mau ngasih tahu, Papa Ardy mengajak kita untuk ikut acara Reuni dengan teman-teman kuliahnya, katanya setiap alumnus harus membawa anak dan cucunya”.
“Aku sibuk weekend ini ada banyak acara pertemuan dengan mitra” jawabku
“Ok kalau begitu aku berangkat dengan anak-anak saja” jawabnya cepat
“Kenapa juga tumben Papa mau ikutan reuni segala” aku menggerutu
__ADS_1
“Katanya ada teman kuliah yang sudah lama tidak ketemu hampir 20 tahun lebih, siapa yaa namanya mirip tokoh kartun…. hmmmm Om Felix yah itu yang anaknya teman kuliah aku” dia langsung naik ke tangga.
“Heeeh… siapa anak laki-laki songong kemarin itu….” aku langsung terbangun, mengingat laki-laki yang datang ke acara nikahan dengan gaya sombong dan ngeyel.
“Dia gak songong … Kang Arkan orangnya sopan… sudah ah aku mau tidur sama Raina”
“Maura menunggu ditemani tidur..jangan lupa” Maura memang selalu ingin ditemani aku tidur, tapi dia tidak pernah menginginkan aku menemaninya.
Author PoV
Sejak informasi tentang Reuni Angkatan yang digagas oleh ayahnya,Reza berusaha memindahkan jadwal pertemuan dengan klien pada hari Sabtu. Untung saja masih tersisa tiga hari sehingga mereka bisa membatalkan tiket dan melakukan reschedule untuk pertemuan itu, tapi tetap saja agenda persiapan harus dilakukan sehingga ia harus kekantor dulu.
Sampai akhirnya di hari Sabtu Papa Ardy datang dengan Mama Bertha ke rumah Reza. Anak-anak langsung heboh karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu dengan kakek dan neneknya.
“Babab….. Tambah duduuuuut” Maura langsung memeluk kakeknya.
“Whaahahaha iya-iya Babab sekarang makan terus, Granny sekarang jadi suka memasak. Babab musti nyobain makanan Granny” Papa Ardy menepuk-nepuk perutnya yang terlihat mulai membuncit.
“Gak apa-apa kalau kata aku sih… Papa tetap terlihat ganteng dari kejauhan” Hasna langsung senyam senyum menggoda mertuanya.
“Kalau dari kedeketan gimana emang jelek?” Papa Ardy kalau cemberut seperti Maura.
“Kalau dari kedekatan itu gantengnya kebangetan...hehehhe” bisik Hasna.
“Whahahahahah… punya menantu cerdas begini pantesan Mamamu gak bisa lepas dari Papa, nempel terus”
“Hmmm kebalik Hasna .. dia yang nempel terus sama Mama” jawab Mama
“Ayo kita berangkat sekarang Reza mana?” Mama langsung celingukan mencari Reza.
“Nanti katanya akan menyusul harus mengecek dokumen kerjasama dulu di kantor” Hasna merapihkan pakaiannya, dia merasa tidak nyaman dengan rok selutut yang dipakainya. Kemarin dia lupa harus menyiapkan pakaian untuk ikut Reuni dengan mertuanya, tidak mungkin dia memakai baju yang biasa dipakai sehari-hari. Sekarang ia menjadi keluarga Bratadireja jangan sampai tampilannya memalukan.
Untung Hujan mengingatkan kalau ada baju yang dibelikan oleh Isyana untuk seserahan, dan ternyata bajunya sangat cantik, hanya saja bukan baju yang biasa dipakai oleh Hasna. Warnanya memang Hasna suka, baju model terusan dengan tangan yang pendek dan panjang rok selutut, tidak seksi tapi tidak terbiasa saja.
“Kamu cantik sekali dengan baju model itu terlihat semakin segar dan menarik” Mama tersenyum menatap Hasna dengan tatapan lembut.
“Aku gak nyaman roknya terasa pendek kaki aku kaya keliatan semua” Hasna melihat kakinya yang terekspose ...walaupun hanya betis tapi karena jarang terlihat jadi tidak nyaman.
“Gak apa-apa orang lain malah diatas lutut.. Masih terlihat normal kok” Mama berusaha menenangkan Hasna.
“Ya sudah mau gimana lagi, yang penting tidak terlihat aneh kan Ma?” Hasna berusaha mencari pembenaran
“Buna keliatan tantiiiik…. Nanti Mola mau beyi baju kaya Buna” Maura langsung memeluk kaki Hasna.
“Hahahahha iya nanti kita minta sama Tante Syana yaaa” Anak koala ini selalu saja memberikannya rasa tenang.
Ternyata Reuninya di laksanakan di hotel di Jakarta Pusat… hmm memang kalau alumninya sudah jadi orang-orang berhasil, reuni bisa dilakukan di tempat mahal dan ditanggung oleh mereka sendiri.
Hujan awalnya tidak mau ikut, tapi saat Bababnya menelepon khusus dan memintanya untuk ikut akhirnya dia mau. Ternyata Papa Ardy mau menyombongkan kalau dia sudah memiliki cucu yang besar dan cantik. Kalau cucunya yang cantik tidak datang percuma dong menjadi panitia itu bujukannya. Dan tentu saja ada kesepakatan rahasia diantara mereka berdua sehingga Hujan tampak bersemangat untuk pergi.
Sesampainya di Hotel tampak teman-teman Papa Ardy menyambut mereka dengan antusias. Maklum diantara teman seangkatannya, Papa Ardy yang paling berhasil sehingga biaya Reuni ini ditanggung olehnya.
Diantara semua tamu undangan Hasna hanya mengenali satu orang yang tampak bete diantara semuanya… Hahahahahah mukanya tidak berubah kalau bete.
“Kang Arkan…..hahahahahhaha” Hasna langsung akan menghampiri Arkan, tapi sebelum dia melangkah tangannya sudah ditarik dari belakang.
“Mau kemana kamu…..” Reza yang baru datang belakang menarik tangan Hasna….
__ADS_1
Hahahahah… Reza selamat bertemu kembali dengan orang songong yang akan menghantui hidup kamu kedepan.