Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Pelanggaran Wilayah Perbatasan


__ADS_3

Hasna PoV


Melihat mukanya yang bingung mendengar nama Samsul dan Udin, membuatku berusaha menahan tawa,  masih ada perasaan kesal tapi kasian melihatnya menangis tadi. Dia memang harus dikasih pelajaran kalau tidak akan selalu mengulangi lagi terus kesalahan yang sama. Sebetulnya menamakan janin dalam perutku Samsul dan Udin tiba-tiba saja muncul dalam pikiranku gegara melihat postingan di instagr*m dua kucing yang tidak mau diam, tapi melihat ekspresi Mas Reza yang ingin protes tapi tidak kuasa membuat menjadi terhibur.


“Beli ayam dulu” ucapku saat melewati restorant cepat saji yang buka 24 jam. Mas Reza langsung tersentak, restaurant itu sudah terlewati.


“Mau makan sekarang jam segini..” dia terlihat bingung.


“Engga besok… ya iyalah sekarang.. Sekalian buat besok bekal kaka ke sekolah tinggal dihangatkan di fryer” dia tampak mengangguk-angguk, senang rasanya melihatnya tidak banyak protes dan mengeluh seperti dulu.


“Burger 3, ayam satu bucket…. Eh ice cone nya 1” ucapku. Mas Reza tampak mengangguk angguk patuh. Nikmat sekali rasanya memiliki pasangan yang penurut seperti ini. Karena sudah malam tidak banyak pengunjung yang datang, tak lama Mas Reza datang membawa pesanan. Weiisss ice cone nya selalu enak, aku langsung makan dengan penuh semangat, “Mau Mas?” ia menoleh dan menggelengkan kepala. Hanya sesekali melihat ke arahku. “Kenapa ngeliatin terus kalau pengen bilang aja, masih ada kok nih?” aku langsung menyodorkan ice cone yang hanya tinggal setengah kepadanya. Ia menggeleng dan tersenyum


“Gak…. aku gak terlalu suka ice cream.. Itu kamu belepotan” dia langsung mengambil tissue dengan sebelah tangan dan mengusapkan pada bibirku. Padahal bilang aja  ada ice cream di mulut, gak usah liat-liat segala ... aku tahu ia pura-pura aja gak pengen, cuma gengsi untuk mengakui. Aku langsung mengambil tissue di tangannya dan menghabiskan ice cone dengan cepat karena sudah mulai lumer.


Hmmmm ayam gorengnya tercium harum begini, rasanya perut masih bisa diisi sepotong ayam goreng. Aku langsung membuka bucket yang berisi ayam, wuiiih mengepul sedap begini.


“Masih lapar?” ia cuma melirik melihatku makan paha ayam dengan nikmat. Aku langsung ingat dia paling tidak suka orang makan di dalam mobilnya ini.


“Kenapa gak boleh makan di mobil? Aku turun dulu aja kalau begitu” menghilangkan selera makan saja. Dia langsung kaget “Engga aku gak bilang begitu...kamu tuh sensitif banget sih.. Aku kan cuma tanya masih lapar?” dia seperti yang panik.


“Yah emang kenapa kalau lapar lagi, yang makannya kan bertiga. Aku kelihatan gendut yah?” aku langsung merasa tidak tenang, kemarin saat ditimbang di dokter berat badan memang naik 2 kg, yah wajar sih kalau hamil pasti akan mengalami kenaikan.


“Gak sama sekali gak keliatan gemuk, kelihatan sehat...cantik... lebih bercahaya, aku suka ngeliat kamu yang sekarang” ia tampak berusaha meyakinkan sampai pakai gerak tangan segala. Hehehehe bucin kau sekarang. Ayamnya enak sekali bumbunya terasa meresap sampai ke dalam daging.


“Artinya gak suka ngeliat penampilan aku yang dulu,  kalau lebih suka ngeliat aku yang sekarang” sambungku. Dia seperti melongo mendengar ucapanku, langsung menghentikan kendaraan. Kenapa lagi berhenti segala?.


“Kamu tuuuh… aduh” dia langsung menelungkupkan kepalanya di stir mobil, kenapa lagi pake bergaya seperti itu. “Kenapa sih selalu berpikir negatif sama aku” hmmm mulai bergaya jadi "korban".


“Gak kebalik Mas .. yang suka negative thinking kan situ” jawabku santai, dia langsung melengos. Pasti ngerasa makanya diem.


“Mau jalan gak nih? udah ngantuk” ucapku sambil membetulkan posisi duduk, perut terasa kenyang walaupun hanya memakan 1 ice cone dan1 potong paha ayam. Betul kata dokter kalau terasa lapar cukup makan sedikit-sedikit tapi sering. Mas Reza langsung melajukan kendaraan tanpa banyak bicara sekarang, hanya suara alunan lagu di radio yang terdengar di mobil.


Weiiis lagu siapa ini kok enak, aku langsung membetulkan posisi duduk. “Lagu siapa yaa ini” aku langsung mencari aplikasi pencari lagu Shezam untuk mengetahui judul lagu dan penyanyi, belum sempat aku dapatkan Mas Reza langsung menjawab “Heaven… Bryan Adam” ucapnya pendek, tumben hapal lagu.


“Kok tumben hapal lagu pop bukannya sukanya dengar lagu instrumen” dia langsung mendengus. “Aku suka lagu Pop Rock.. Bryan Adam.. Sting” jawabnya lagi pendek.


“Coba nyanyiin lagu ini kalau hapal” pengen tahu kalau bener ngefans mustinya hapal syairnya. Dia tampak diam ...huh banyak gaya emang, ngaku fans tapi gak hapal syair, aku langsung ganti posisi membaringkan diri lagi.


“Oh once in your life you find someone


Who will turn your world around

__ADS_1


Bring you up when you're feelin' down


Yeah nothin' can change what you mean to me


Oh there's lots that I could say


But just hold me now


'Cause our love will light the way


Eh ... nyanyi juga dia, aku langsung terperangah, suaranya ternyata dalam, tapi terdengar ragu-ragu dalam bernyanyi. Aku langsung memperhatikan dia bernyanyi, ia melirik dan terlihat ragu-ragu. Aku langsung memberinya semangat. “Terusin..terusin enak kedengarannya” dia terlihat menarik nafas.


Baby you're all that I want


When you're lyin' here in my arms


I'm findin' it hard to believe


We're in heaven


And love is all that I need


And I found it there in your heart


We're in heaven


Aku langsung tersenyum mendengarnya bernyanyi, ternyata suaranya bagus tapi kenapa sama sekali tidak pernah terdengar bernyanyi sama sekali di rumah. Nyanyiannya berhenti saat lagu di radio selesai


“Suaranya bagus kenapa gak pernah nyanyi” ucapku sambil membaringkan lagi tubuh di kursi membelakanginya.


“Raa… jangan tidur sebentar lagi sampai...kamu kalau ketiduran suka susah bangunnya” aku langsung duduk lagi, betul saja sudah mau masuk ke jalan masuk apartemen. Mata ini seperti sudah seperti menempel atas dan bawah.


“Jangan terburu-buru kalau turun dari mobil dan jalan, ingat sekarang kamu lagi hamil bayi kembar.. Harus lebih berhati-hati” dia jadi laki-laki cerewet sekarang, padahal aku cuma ingin segera turun dan tidur saja. Hmmmm sekarang yang bergerak Udin seperti air bergerak di dalam perut, aku langsung mengusap-usap perut.


“Kenapa?” dia langsung panik mukanya, aku memandangnya dengan santai “Udin yang sekarang bergerak” jawabku sambil tersenyum, mukanya langsung terlihat bodoh mendengar kata Udin, sungguh sangat menghibur melihat reaksinya mendengar nama yang aku sebutkan. Nama Udin biasanya menjadi nama panggilan sayang untuk nama Syarifudin, Hasanudin ataupun Saefudin hehehe lucu sekali. Sedangkan nama Samsul biasanya dipakai oleh orang dari suku Sumatera, cocok sebetulnya bukankan Mama Bertha orang Sumatera dan aku dari suku Sunda perpaduan yang pas.


“Bilang sama Udin, Papinya akan menjadi orang yang lebih sabar mendengar apapun perkataan Bunanya, bilang juga sama Samsul  kalau Papi akan mengikuti apapun yang ingin dimakan Bunanya” kalau saja kami tidak baru bertengkar mungkin aku sudah memeluk dia karena ucapannya, tapi tidak semudah itu Fulgoso bisa mendapatkan pelukan dariku.


Aku langsung berjalan menuju apartemen, sejak hamil aku jadi sering pipis. Dia langsung berlari mengejarku. Tangannya tampak sibuk membawa tas dan kantong plastik berisi ayam, pantesan lama keluar dari mobilnya. Aku sampai lupa pada ayam yang tadi dibeli, pasti dia tidak mau mobilnya jadi bau ayam goreng.


“Dibilangin jangan lari-lari gimana sih” aku langsung melotot kesal, gak tau apah orang pengen pipis.

__ADS_1


“Pengen pipis… ini bukan lari tapi jalan cepet iiihhh banyak protes” aku langsung masuk ke lift, ampun deh kebayang kalau Kak Angga dan Mas Reza nyatu tinggal satu rumah, kayaknya bakalan makan hati banyak larangan. Aku langsung masuk ke dalam unit tanpa melihat kebelakang, seterah dehhh daripada pipis di celana. Hadeuuuh lega…


Saat keluar dari kamar mandi kulihat Mas Reza sibuk membaca tab, mukanya sudah berkerut saja, kalau sudah seperti ini terlihat dia sudah sepuluh tahun lebih tua apalagi dengan kumis dan rambut-rambut halus yang ada di rahang dan dagunya. Aku belum pernah melihat dia sampai seberantakan itu penampilannya, tapi ia terlihat lebih laki-laki dengan penampilannya sekarang.


“Aku mau tidur sekarang, Mas bisa pulang” ucapku sambil membuka kerudung, kepala terasa panas padahal cuma satu jam saja tadi pakai kerudung.


“Aku tidur disini, khawatir nanti kamu sakit lagi perut” aku langsung melotot kasur cuma satu, enaknya saja pengen langsung tidur bareng.


“Aku gak akan ngapa-ngapain.. Aku sudah janji tidak akan mengganggu kamu, tapi tolong jangan usir aku pulang, aku gak akan bisa tidur kalau membayangkan kamu tidur disini sendiri, aku khawatir nanti terjadi apa-apa” mukanya terlihat menyedihkan begitu, aku paling benci melihat muka sedih seperti itu, mirip Maura saat bercerita tentang Mbak Mitha.


Aku hanya bisa menarik nafas, akan jadi manusia yang tidak berperasaan kalau menyuruhnya pulang sekarang, menghabiskan waktu satu jam perjalanan untuk kembali lagi ke rumah, artinya jam 12 malam. Tadi saja Mas Reza sudah menguap sepanjang perjalanan, ya sudahlah mau bagaimana lagi. Asalkan dia mau memegang janjinya, karena aku tetap harus memberi jarak terlebih dahulu sampai aku yakin dia akan merubah sikapnya yang posesif tanpa alasan.


Setelah membersihkan muka dan merawat kulit muka aku berganti pakaian, daripada menarik perhatian aku memilih ganti pakaian di kamar mandi. Dia hanya melirik dan tidak berkomentar apapun. Smart… too much talk will kill you, dia sudah tahu kalau aku masih membuat garis batas dalam hubungan kami.


Ok… mari kita tidur, aku membaringkan tubuh di kasur, kubuat batasan dengan menyimpan guling di tengah-tengah tempat tidur, dia masih duduk dan membaca tab mukanya sudah terlihat lelah. Aku memejamkan mata dan mulai merasakan kantuk yang amat sangat, kulihat lagi dengan setengah mata terpejam Mas Reza menangkupkan tab ke dadanya dan memejamkan mata di sofa.


“Kenapa tidur di sofa?” tanyaku, dia langsung membuka mata dan menatapku bingung.


“Aku tahu kamu tidak mau tidur denganku” jawabnya ragu. Aku mendengus


“Syukurlah kalau Mas Reza tahu, tapi aku bukan orang yang tidak berperasaan. Kalau Mas Reza tidur di sofa besok tidak akan bisa bangun subuh dengan benar” dia terlihat ragu-ragu.


“Sudah jangan banyak pikiran. Sini tidur saja dikasur… gak akan aku tendang lagi. Awas jangan ngelewatin batas guling..JAGA JARAK” aku langsung membalikkan tubuh membelakanginya dan menghadap ke dinding.


Terasa ada gerakan di tempat tidur dia sudah duduk, aku dengar-dengar dia seperti membuka celana panjang, aku langsung membalik.


“Ngapain pake buka celana segala?” tanyaku dengan kesal. Dia langsung terlihat nelangsa dan menghentikan gerakannya. “Aku gak bisa tidur kalau memakai celana jeans Ra… ini pake celana pendek kok” kulihat dia memang memakai celana pendek tipis. Terserah deh.. Yang penting dia tidak mengganggu ku nanti malam. “Awas aja kalau macam-macam… Gak akan aku maafkan” dia hanya diam.


Samar kudengar dia menggumam. “Rambut kamu kenapa dipendekin gitu sih Ra… muka kamu jadi makin kaya remaja… trus jadi makin galak kaya polwan” pikiran antara ingin tertawa dan rasa ngantuk berbaur menjadi satu hingga akhirnya aku terbang ke langit ketujuh.


Saat alarm di hape berbunyi nyawaku masih di belum berkumpul penuh, tapi terasa ada usapan di kepala.


“Ra… sudah adzan subuh… katanya mau langsung pulang supaya anak-anak bisa ditemani sarapan sebelum sekolah” samar-samar kedengar suara di telingaku.


“Hmmm iyaa.. Bentar lima menit lagi” terasa hangat dan nyaman, aku menyelusupkan kepala dan memeluknya… butuh sekitar dua menit sampai kemudian otakku langsung sadar bahwa benda yang aku peluk ini bukan guling.


Aku langsung membuka mata, muka Mas Reza ada tepat di hadapanku dan menatapku dengan putus asa.


“Aku bilang jaga jarak kenapa sih…. Gak bisa memegang kata-kata” aku langsung bangun dan mendorongnya. Mukanya terlihat muram dan kesal.


“Yang gak bisa jaga jarak itu kamu…. Dari malam kamu yang udah nyelusup-nyelusup meluk-meluk aku…. Kamu pikir aku gak menderita. Udah satu bulan lebih aku gak pernah tidur sama kamu, sepanjang malam kamu menggesek gesek sama aku… bikin aku frustasi… arfgggg…” Mas Reza bangun dan pergi ke kamar mandi, terlihat kalau yang bangun bukan cuma dia saja.

__ADS_1


Aku langsung menunduk menahan senyum… Ini bukan salah aku.. Udin sama Samsul yang pengen nempel sama Papinya… namanya juga gak sadar


__ADS_2