
Author PoV
Malam itu semuanya tertidur lewat dari jam 1, sehingga tak heran sulit bagi Hasna untuk bangun saat alarm di hapenya berbunyi, hingga ia harus meraba-raba ke sisi tempat tidur.. Entah kenapa terasa sempit. Butuh waktu bagi Hasna untuk mencerna kenapa kasur ini terasa sempit, dimulai dari badannya yang terasa terhimpit ke dinding.
“Arghhhh…. Kenapa ini meluknya nempel semua, kemana guling yang tadi malam memisahkan” Hasna berusaha melepaskan dirinya dari jeratan tangan yang memeluk dirinya dari belakang.
“Hmmmm….” bukannya lepas malah tambah erat.
“Aku mau solat subuh” jawab Hasna
“5 menit lagii..” Reza malah mendusel-dusen hidungnya ke rambut Hasna, hadeuuh ini gimana bahaya kalau kelamaan pikir Hasna.
“Sudah siang… sebentar lagi terbit” Hasna langsung merubah posisi menjadi duduk, ia tidak mau melihat ke arah Reza khawatir ditarik disuruh tidur lagi. Pagi itu mereka akan menjemput Maura. Sesuai dengan perjanjian dengan Mama yang menelepon pagi-pagi yang mengingatkan untuk menjemput Maura karena dari malam Maura merengek ingin pulang.
Pagi itu semua berangkat dengan perasaan yang ringan dan riang. Hujan bersemangat karena akan mendapatkan hadiah handphone baru yang dijanjikan Babab, sedangkan Hasna yang senang akan bertemu Maura, sedangkan Reza tidak ada yang tahu dibalik muka serius dan dinginnya.
Bagi Hasna ini adalah kali pertama berkunjung ke rumah mertuanya, kalau statusnya masih pacaran sangat wajar karena ia baru tiga bulan mengenal keluarga ini. Tapi dengan statusnya yang sudah menjadi istri dari Reza lumayan agak aneh juga, tapi memang pernikahan dia lain dari yang lain.
Rumah keluarga Reza ternyata berada di daerah Jakarta Barat, lumayan jauh juga dari rumah kalau macet bisa memakan waktu satu setengah jam. Untung saja mereka berangkat jam 8 pagi jadi suasana Jakarta masih belum seramai biasanya, lebih banyak orang berjalan-jalan dengan menggunakan sepeda dalam kelompok-kelompok kecil.
Rumah Mama Bertha ternyata memang besar, berada di dalam kompleks perumahan yang seperti tidak ada penghuninya tapi memiliki gerbang kompleks yang cukup tertutup. Hasna hanya tersenyum dalam hati, pantas saja mereka memiliki gaya yang berbeda dengan keluarganya ternyata latar belakang keluarga mereka cukup berbeda jauh.
Gerbang dibuka otomatis saat Reza membunyikan klakson, rupanya ada penjaga yang telah siap di depan. Saat Hasna melihat Reza kembali ke rumahnya ia kembali melihat pribadi yang berbeda dengan laki-laki yang tadi malam menangis di kamarnya. Sekarang yang muncul adalah laki-laki arogan yang telah kembali ke daerah kekuasaannya, berjalan dengan langkah panjang dan tidak mengingat bahwa di belakangnya ada istri yang belum pernah ia ajak datang ke rumah ini sebelumnya.
Untung ada Hujan yang menemaninya, dia tersenyum-senyum gembira sambil memegang tangan Hasna dan digoyang-goyang kedepan belakang.
“Seneng yah mau dapat hape baru?” tanya Hasna sambil tersenyum
“Buna tau aja, hape aku udah jadul banget gak kekinian, temen-temen aku udah dari dulu pakai iphone kayanya cuma aku di kelas yang pakai android biasa” Hasna tersenyum rupanya Reza juga tidak suka memanjakan anaknya dengan kemudahan membeli barang.
“Justru itu kenikmatannya Kaka, kalau kita terlalu mudah mendapatkan sesuatu, jadi nilai kesenangannya sedikit dan kita jadi suka menganggap remeh sesuatu yang mungkin bagi orang lain berharga” Hasna mengusap kepala Hujan, semakin sini semakin terasa sayangnya, seperti punya adik yang suka gampang ngambek tapi manja dan tergantung.
Mama Bertha yang menyambut kedatangan Hasna melihat interaksi keduanya dan tersenyum, hatinya bahagia kalau menantunya terlihat sangat menyayangi cucunya, bukan karena mencari muka di depannya.
“Granny! Babab mana?” Hujan langsung mencari kakeknya untuk menagih janji.
“Hushh.. Kalau ketemu itu salam dulu, sapa dulu Grannynya… coba kalau kaka lama gak ketemu temen, trus gak ditanyain kabar kan suka ilfil.. Asas manfaat..hehehe” Hasna langsung menarik Hujan.
“Heheheh iya ini juga aku mau salim Buna… suka protes melulu… Babab mana Gran?” Hujan langsung menjulurkan lidahnya kepada Hasna dan dibalas sama oleh Hasna sambil cemberut.
“Itu dikolam ikan barengan Maura.. Lagi mancing ikan.. Coba gara-gara pengen mancing ikan, tadi si bibi disuruh beli ikan hidup trus dimasukin ke kolam kura-kura… untung aja gak dimasukin ke kolam renang” Mama Bertha menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah lama Maura tidak menginap, jadi semalaman ia jadi kurang tidur.
“Kenapa Ma.. seperti yang kurang tidur?” Hasna melihat Mama Bertha seperti yang agak pucat dan lemas.
“Iya tadi malam Maura banyak maunya sebelum tidur, Mama musti cerita dulu ..udah gitu ceritanya gak boleh salah .. salah dikit dibilangin gak rame trus minta ganti cerita”
“Mama suruh tidur malah nangis trus minta pulang mau ke Buna… Mama udah pusing kepalanya… untung Bababnya mau gantiin cerita… ternyata sukanya cerita yang aneh-aneh gak masuk akal” Mama Bertha menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kejadian tadi malam. Hasna sudah berusaha menahan ketawa mendengar aduan Mama Bertha tentang tingkah laku Maura.
“Dia mau cerita tentang Kura-kura yang bisa akrobat.. Mungkin gara-gara lihat kura-kura peliharaannya yang diam saja di kolam, pikirnya pengen jungkir balik… mana ada kura-kura bisa akrobat” Hasna langsung cekikikan, ternyata cerita out of the box sudah mulai tertanam pada diri Maura, segala hal itu mungkin kalau kita bayangkan dan imaginasikan.
“Setelah itu pas dia sudah tidur gak bisa tidur tenang ternyata pengen pipis tapi ditahan karena sudah mengantuk, ehh ujung-ujungnya nangis sambil tidur dan pegang-pegang momi seperti menahan pipis”
“Mama sudah terlalu lama tidak mengurus anak kecil, sampai lupa” Mama Bertha memegang kepalanya yang terasa pusing.
“Sini aku pijit kepalanya Ma biar lancar darah mengalir ke kepala, setelah itu Mama tidur supaya gak naik tekanannya” Hasna membimbing ibu mertuanya ke sofa. Dimana-mana kalau orangtua kurang tidur pasti naik tekanan darah dan kepalanya keleyeng-keleyeng. Mirip Mama di rumah kalau sudah pusing sama Emran.
“Kamu tuh kok segala bisa sih Hasna, bisa ngurus anak, bisa ngurus orangtua juga” Mama Bertha merasa sangat bersyukur.
__ADS_1
“Aku gak bisa mengurus anak Mama tapinya...heheheh gampang marah dan emosi jiwa” Hasna terkekeh terbayang kalau dia harus menceritakan soal kejadian Reza menangis kepada Mama Bertha dijamin dia akan kena semprotan suaminya. Hasna mengedarkan pandangannya tidak terlihat Reza di sana, rumah ini luasnya hampir dua kali luas rumah Reza.
“Kamu harus bisa sabar sama dia, sifatnya memang keras, tapi dia anak yang bertanggung jawab. Dia mengorbankan keinginannya dalam rancang bangun dan mengambil jurusan ekonomi untuk membantu Papanya dan berhasil dengan baik. Tapi memang dia jarang bicara” Mama Bertha menarik nafas, sebetulnya ia ingin menceritakan soal foto-foto di kamar Reza yang ia ambil tapi ia menyangka kalau Hasna belum mengetahuinya.
“Kamu bisa mengambil hati Hujan gimana caranya, sekarang dia keliatan deket banget sama kamu, manggil Bunanya dengan sepenuh hati” Mama Bertha mulai merasa kepalanya terasa ringan.
“Yah jadi teman dia saja Ma.. usia Hujan kan usia remaja kita gak bisa mendekati Hujan seperti mendekati Maura”
“Kalau sama Hujan kita musti tahu kesukaan dia apa, yang dia butuhkan apa trus masuk deh dari situ.. Kemarin kan dia membutuhkan makeup remaja.. Nah dari situ aku masuk”
“Aku juga kaget ternyata banyak hal yang aku gak tau tentang kaka Hujan, semakin kesini semakin tau kesukaan dia apa selera musiknya dia, makanan kesukaannya, barang kesukaan dia”
“Aku lebih suka ngobrol sama dia daripada ngasih nasehat, aku cerita kalau waktu seumur dia ngapain aja… aku inget soalnya pas seumuran Hujan aku gak suka banget dinasehatin. Soalnya aku juga udah tahu benar dan salah cuma kadang males dan bawaannya pengen ngelawan aja sama orangtua hehehhehe...masa-masa ababil Ma… pengen eksis tapi gak tau gimana caranya”
“Sama Kaka Hujan juga aku sekarang gitu Ma, daripada ngelarang dia makeup an mendingan barengan sama dia belajar makeup, mana yang pas buat ke sekolah, mana yang boleh buat sehari-hari.. Dilarang tapi gak dikasih solusi kan membuat anak jadi mencuri-curi di belakang, pas lagi seumuran Hujan kan rasa penasarannya tinggi”
Mama Bertha tersenyum mendengarnya, ia tidak menyangka secepat itu Hujan akan jatuh pada pengaruh Hasna dengan cepat.
“Aku mau lihat Maura dulu di belakang ya Ma… gimana Mama udah enakan?” Hasna melihat Mama Bertha yang terlihat lebih baik.
“Iya Mama mau ke kamar dulu, temanin dulu anak-anak, kasian Papa mungkin sudah cape” Mama Bertha berdiri dan beranjak ke kamarnya. Saat Mama Bertha masuk ke kamar ia kaget rupanya ada Reza disana sedang berdiri di jendela yang menghadap ke balkon, rupaya semenjak kedatangannya ia telah menunggu untuk berbicara dengan ibunya.
“Abang sudah lama di kamar Mama?” Mama Bertha langsung paham kalau anaknya ingin menanyakan soal barang-barang yang ia bawa kemarin malam.
“Kenapa Mama mengambil semua barang dari kamarku tanpa izin” Reza langsung pada inti permasalahan.
“Kamu tidak berpikir apa yang dirasakan oleh Hasna kalau dia tahu kamu masih menyimpan foto-foto dan barang-barang milik Mitha seakan-akan Mitha masih ada di rumah itu?” Mama Bertha mendekat pada Reza, kepalanya yang baru saja terasa ringat mulai memberat lagi.
“Kamu memperlakukan dia seakan-akan dia itu seperti baby sitter buat anak-anakmu… keterlaluan kamu Reza”
“Menghormati apanya… kamu tidak tahu betapa menyakitnya kalau berada dalam posisi dia.. Sekarang lebih mudahnya bayangkan kamu rela kalau adik kamu Syana menikah dengan seorang laki-laki dan laki-laki itu masih menyimpan foto dan pakaian istrinya di kamarnya… kamu rela?”
“Atau mau lebih ekstrimnya kalau Hujan anakmu menikah dengan laki-laki dan dia menyimpan semua foto dan barang milik mantannya… kamu rela haaaaa?” Mama Bertha bertanya dengan penuh emosi.
“Mama tidak bisa membayangkan kalau keluarganya Hasna sampai tahu.. Mama tidak punya muka untuk bertemu dengan mereka” Mama Bertha menatap tajam pada Reza. Reza hanya diam dan menunduk.
“Kamu harus merelakan Mitha … dia sudah tidak ada di dunia ini, kamu harus menghargai apa yang sekarang kamu miliki Abang… kamu harus bertanggungjawab dengan janji yang sudah kamu ucapkan dalam pernikahan” Mama Bertha mengusap punggung anaknya. Tiba-tiba dia ingat akan ucapan Hasna yang baru didengarnya, jangan menasehati tapi menjadi temannya.
“Setiap orang memiliki ujiannya masing-masing, ada yang diuji oleh ekonomi dia tidak memiliki penghasilan yang cukup.. Alhamdulillah kamu tidak mengalaminya, ada lagi orang yang kesulitan dalam pekerjaan ..alhamdulillah kamu tidak mengalaminya… ada orang yang kesulitan dengan pasangan hidup seperti yang kamu alami sekarang… untungnya pasangan hidup kamu baik, tinggal kamu belajar melupakan Mitha dan menerima Hasna sebagai istri kamu yang harus kamu bimbing kedepan”. Reza menghela nafas, ia tahu itu semua dan mulai belajar menerimanya.
“Mama simpan dimana foto dan pakaian Mitha?.. Kenapa tidak Mama simpan di kamarku di atas?” rupanya Reza menyangka semua barang Mitha akan disimpan dikamarnya dulu.
“Kamar kamu nanti juga akan ditempati bersama Hasna kalau dia menginap disini, mama tidak mungkin menyimpannya disana… Mama simpan di kamar tamu di belakang untuk sementara waktu. Nanti foto-foto akan mama keluarkan dari framenya dan Mama masukan kedalam album foto. Pakaian Mitha akan Mama simpan sebagian dan disumbangkan sebagian… Anak-anak kalau sudah besar tetap memiliki hak untuk mengenang dan tahu pakaian ibunya” ucap Mama Bertha dengan bijak.
“Terima kasih… maaf jadi merepotkan Mama” Reza memeluk Mamanya lama dan dalam seperti meminta kekuatan untuk bisa melangkah ke depan. Mama Bertha tersenyum dan memeluk anaknya dengan hangat, sudah lama Reza tidak pernah memeluknya seperti ini.
“Kamu harus sering-sering memeluk Mama seperti ini, kalau nanti Mama sudah meninggal, kamu akan kangen memeluk Mama, seperti kamu kangen sama Mitha” ucap Mama Bertha tersedu, sedih membayangkan perjuangan hati anaknya melupakan istri yang sudah meninggalkannya.
“Ya nanti aku akan sering datang dan main ke rumah seperti dulu” Reza menjawab pendek.
“Sudah sana temani anak-anak dan istrimu dari tadi dia seperti mencari-cari kamu. Kamu harus dibiasakan menemani dia, dia masih canggung di rumah ini. Dia kan baru pertama kali datang kesini” Mama Bertha mendorong Reza keluar, ternyata yang namanya anak walaupun umurnya sudah 35 tahun tetap saja terasa seperti anak kecil yang harus disemangati saat bingung.
Reza melihat Hasna dan Maura sedang sibuk memancing di kolam ikan kecil yang dibuat oleh orangtuanya agar anak-anaknya merasa nyaman dan betah kalau datang ke rumah ini. Hujan tampak sibuk menujukkan sesuatu di handphonenya, rupanya ia sedang menagih janji dari kakeknya.
“Aku juga kemarin nyanyi kan Pap… mustinya jangan cuma Hujan yang dikasih hadiah handphone tapi aku juga… udah gak dikasih voucher belanja lagi” Hasna cemberut sambil menggulung alat pancing yang dipakai bersama Maura… dari tadi dia gak tega memancing ikan-ikan kecil lucu dan kasian kalau kena kaitan pancing. Untung saja Maura mau dialihkan perhatiannya sehingga mau berhenti memancing.
“Kamu minta voucher belanja sama suami kamu, minta dibelikan hape juga sama dia.. Uang dia banyak tuh” Papa menunjuk kepada Reza.. Hasna hanya melirik dan langsung berbisik
__ADS_1
“Dia mah pelit.. Gak suka ngajak jalan-jalan… kalau pulang dari luar juga gak pernah bawa oleh-oleh” Hasna mengadukan Reza kepada ayah mertuanya.
“Bang… istrimu bilang kamu pelit gak pernah ngajak jalan-jalan sama gak pernah ngasih hadiah… kalau gitu terus dia mau jalan sama orang aja” Papa Ardy menambahkan keterangan terakhir dengan tertawa.
“Jalan sama siapa?” Reza menatap Hasna.
“Engga...aku gak bilang mau jalan sama orang… itu Papa aja nambah-nambahin… Papa iiih apaan sih” Hasna langsung takut Reza kembali emosi seperti kemarin.
“Yah sama yang kemarin duet sama Hasna siapa lagi….” Papa Ardy tertawa dengan puas.
“Papa iiiihh.. Udah dong ah… “ Hasna langsung menarik tangan mertuanya dengan kesal.
“Hahahahahha kan kemarin kamu duet sama si Kaka...hahahahahha kepancing semuanya...hahahahhaha” Papa Ardy tampak tertawa puas.. Ia beranjak pergi dan meninggalkan keluarga kecil itu.
Hasna cemberut kesal, ia tadi keburu panik saat Papa Ardy menggodanya, tidak terpikir kalau yang duet dengannya bukan hanya Arkhan tapi juga dengan Hujan. Gara-gara panik takut Reza marah ia sampai tidak berpikir panjang.
“Papi udah ga malah malah sama Buna?” Maura langsung melihat ke arah Reza yang mendekat kearahnya.
“Papi gak marah kok sama Buna… Papi marah sama yang naik motor kemarin” Hmmm bisa aja ngeles si Abang pikir Hasna… kalau bisa dijeburin ingin rasanya mendorong suaminya ke kolam ikan.
“Ga boyeh malah malah nanti nda puna teman kata Buna juda” Maura langsung berkacak pinggang di depan Reza.
“Pinterrrr… anak Buna… uwuw banget” Hasna langsung memeluk Maura yang membelanya di depan Reza, yang hanya bisa mendengus mendengar pembelaan anaknya.
“Kita pulang sekarang, kalian bukannya mau main ke Mall… mau battle lagi ketemu cecunguk” Reza tersenyum sinis.
“Ayo aja, kapan lagi ketemu sama berondong, mungkin aja yang sekarang bisa ketemu kadal” jawab Hasna sambil beranjak pergi.
‘Buna kemalin ketemuk nunuk ? Mola ga syuka sama nunuk… tapi mola mau liat dadal” Maura berjalan beriringan dengan Hasna. Anak ini segala jenis binatang pasti pengen dilihat bentuknya.
“Ayo kita beli handphone baru.. Papi belikan” Reza mengulurkan tangannya kepada Hujan, harus dimulai gencatan senjata supaya anaknya tidak terus membencinya.
“Serius Pi...asyiiiikkkk…. Nunggu dari Babab lama” Hujan langsung menyambut uluran tangan Reza dan menggandengnya menyusul Hasna dan Maura. Sangat mudah memang mengambil hati remaja… belikan gadget…. Traktir makanan…. Atau ajak traveling dijamin langsung luluh dan menjadi ramah.
Akhirnya keluarga kecil itu meluncur ke jalanan Jakarta dengan cerita dan tawa setelah badai yang terjadi di hari kemarin. Tak lama di daerah Jakarta Pusat Reza masuk ke Dealer Mobil Maz*a yang tampak megah dengan jejeran mobil terbaru. Hasna heran kenapa malah belok ke dealer mobil.
“Mas… kenapa kesini? Mau beli mobil baru?” tanya Hasna bingung
“Ya…” jawab Reza pendek
“Ganti mobil? Ini kan masih bagus” Hasna heran rasanya mobil ini masih terlihat keren dan bagus dilihatnya.
“Enak saja… ngapaian ganti ini mobil keluaran terbaru… belum ada mobil yang terbaru untuk Mercedez” Reza menyombongkan mobil miliknya. Hasna hanya tersenyum kecut, tidak aneh kalau Reza menyombongkan miliknya.. Memang bagus dan terlihat mahal.
“Lalu beli mobil buat siapa?” tanya Hasna bingung, dirumah sudah ada mobil Alphard untuk dipakai perjalanan keluar kota.
“Buat kamu … biar gak usah dianterin sama orang lain” Reza keluar dari mobil.
“Haaaah…. Aku gak bisa bawa mobil di Jakarta… aku gak hapal jalaaaan” Hasna langsung keluar sambil teriak. Hujan dan Maura tertawa-tawa di mobil melihat Hasna yang tampak panik saat tahu dibelikan mobil.
Ayaaaaahhhh…. Kenapa dulu keseringan nyuci mobilnya…. Sekarang beneran dapat mobil baruuuuu
****************
Nungguin yaaah... maaf malam-malam up-nya... sudah mulai lelah nih nulisnya... sampai 5 jam baru beres... heheh otaknya udah loading kerja seharian dilanjut nulis story itu sesuatu banget.. yah demikian curhat sesaat hehehhe.. met bobo semuanya
****************
__ADS_1